Actions

Work Header

The Bitter Taste of Betrayal

Summary:

"Driftmark telah bertekuk lutut kepada Raja Aegon."

Isinya singkat namun sudah cukup untuk membuat dunia Lucerys berantakan. Omega itu menatap kakaknya, wajahnya memucat. Jacaerys berjalan mondar-mandir, kedua tangannya terkepal.

"Mereka meninggalkan kita, aku masih bisa menerimanya. Tetapi bertekuk lutut? Menerima paman kita yang pemabuk itu menjadi raja? Mereka menghianati sumpah mereka kepada ibu kita dan menghianati wasiat terakhir kakek!"

Lucerys melirik Aegon yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang selagi Jacaerys mengutuk dan memaki Putri Rhaenys beserta pendukung-pendukung lama mereka. Mereka tidak siap untuk semua ini.

Work Text:

Suara tangisan bayi membuat Lucerys tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menoleh dan mendapati adiknya itu baru saja terbangun dari tidurnya. Lucerys bangkit dari kursinya, berjalan ke tempat tidur kecil Viserys kemudian menggendongnya.

Tidak ada siapapun yang berjaga di sini menemaninya. Pelayan yang bertugas menyusui Viserys dan Aegon telah pergi menyelamatkan diri ke Driftmark mengikuti Putri Rhaenys. Yang tersisa di Dragonstone hanyalah Ser Arryk beserta dua puluh bawahannya yang paling setia dan sepuluh pelayan wanita tua yang telah bertugas semenjak ibunya masih kecil.

Hampir semua orang pergi setelah pemakaman Rhaenyra dua minggu yang lalu. Lebih tepatnya, setelah Daemon membakar dirinya di depan mayat istrinya dan putri mereka yang lahir prematur, Visenya. Tidak ada yang menyangka alpha itu akan membunuh dirinya mengikuti kematian omeganya. Tidak ada yang sempat mencegahnya ataupun menyelamatkannya ketika api Caraxes membakarnya.

Dengan kematian pemimpin terakhir mereka, semangat para pendukung perlahan menghilang. Tidak sampai tiga hari, setengah dari pengawal dan pelayan telah kabur entah ke mana. Rhaenys membawa Rhaena dan Baela kembali ke Driftmark meninggalkan Lucerys, Jacaerys, Joffrey, dan kedua adik kembar mereka di sini. Beta itu bahkan sama sekali tidak mengucapkan selamat tinggal atau berbasa-basi.

Setelah ditinggalkan oleh keluarga terakhir mereka, Jacaerys menjadi lebih dingin. Kakaknya tidak mau berbicara sama sekali kepadanya, menghabiskan waktunya dengan berlatih keras dari pagi sampai malam sementara Lucerys menjaga adik-adiknya. Tidak ada pelayan susuan menjadi kendala karena Viserys dan Aegon masih memerlukan susu, umur mereka bahkan tidak sampai setahun. Hampir tiap malam kedua anak itu menangis kelaparan dan mencari-cari keberadaan ibu mereka. Lucerys hanya bisa menenangkan mereka dengan feromonnya sambil ikut menangis pula.

Seminggu sebelumnya, di malam buta ketika ia sedang menimang Aegon, Lucerys mendapati dadanya mulai mengeluarkan susu. Sebagai omega perempuan, ia mengenali bau kedua adiknya dan tubuhnya menganggap mereka adalah anaknya. Lucerys tidak pernah menikah atau melahirkan sebelumnya. Ia hanya bisa mengandalkan ajaran dari pelayan-pelayan tua tentang cara menyusui dan membiarkan adiknya menyusu kepadanya. Ketika Jacaerys mengetahui ini, dia menghancurkan meja dan kursi untuk melampiaskan kemarahannya atas situasi mereka yang sedemikian menyedihkan.

Kembali di saat sekarang, Viserys menyerusukkan wajahnya di dada Lucerys, mencoba mencari-cari susu. Lucerys membuka kerah bajunya dan mengeluarkan putingnya lalu memberikannya ke mulut adiknya. Selama beberapa saat yang terdengar hanyalah suara isapan kuat dari Viserys. Lucerys sudah mulai terbiasa dengan perasaan aneh ketika menyusui, ia mencoba tidak terlalu memikirkannya. Tangannya mengelus rambut putih Viserys, teringat dengan ibunya sendiri. 

Mereka hampir tidak memiliki waktu untuk berduka dengan semua kejadian yang tiba-tiba ini. Betapa waktu berjalan begitu cepat. Sebulan yang lalu Lucerys masih bisa sarapan bersama ibunya dan Daemon. Tidak berpikir begitu berat dengan perang di depan mata namun sekarang semuanya hanyalah kenangan.

Pintu kamarnya diketuk, tanpa menunggu jawaban, Jacaerys menyerbu masuk. Alpha itu terlihat penuh amarah dan siap untuk meledak kapan saja. Ia membawa sebuah surat yang sudah dibuka dan memberikannya ke Lucerys.

"Baca itu." Perintahnya. Dengan satu tangan Lucerys mengambilnya dan membacanya.

"Driftmark telah bertekuk lutut kepada Raja Aegon." 

Isinya singkat namun sudah cukup untuk membuat dunia Lucerys berantakan. Omega itu menatap kakaknya, wajahnya memucat. Jacaerys berjalan mondar-mandir, kedua tangannya terkepal.

"Mereka meninggalkan kita, aku masih bisa menerimanya. Tetapi bertekuk lutut? Menerima paman kita yang pemabuk itu menjadi raja? Mereka menghianati sumpah mereka kepada ibu kita dan menghianati wasiat terakhir kakek!"

Lucerys melirik Aegon yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang selagi Jacaerys mengutuk dan memaki Putri Rhaenys beserta pendukung-pendukung lama mereka. Mereka tidak siap untuk semua ini.

"Aku akan membakar mereka dengan Vermax dan membunuh mereka yang berhianat. Aku bersumpah-"

"Jace," Lucerys menyelanya. "Duduklah dahulu. Aku ingin berbicara kepadamu."

Jacaerys mengambil kursi dan duduk di depannya. Lucerys mencium kepala Viserys, menghirup aroma bayinya yang lembut dan menenangkan kemudian melihat kakaknya. Lucerys tahu Jacaerys pasti akan murka jika dia mengatakan ini tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain.

"Kurasa kita juga harus bertekuk lutut."

"Apa kau sudah gila?" Benar saja, Jacaerys menatapnya seakan dia sudah kehilangan akal. "Bertekuk lutut? Lucerys, kau ingin membuat ibu kita bangkit dari kuburnya?"

"Aku serius, Jace. Lihatlah keadaan kita sekarang. Kita tidak memiliki cukup pelayan dan penjaga apalagi pendukung. Sekutu-sekutu kita sudah meninggalkan kita untuk mengakui Aegon sebagai raja ketika Daemon membunuh dirinya. Kita tidak akan bisa bertahan jika mereka datang menyerang, apalagi mengambil kembali kekuasaan."

Faktanya memang begitu. Mereka tidak memiliki siapapun. Jika Aegon mengirimkan pasukannya, tidak, bahkan Vhagar dan Aemond sudah cukup untuk meratakan mereka semua di Dragonstone. Lucerys hanya mengatakan apa adanya. Mustahil untuk membalikkan keadaan dengan situasi saat ini.

Jacaerys tidak bisa membantah kata-katanya. Ia membuang muka, membuat Lucerys tidak bisa menilai ekspresinya namun cukup memberitahunya bahwa Jacaerys sebenarnya juga memikirkan kemungkinan itu. Viserys sudah tidak lagi menghisap putingnya, Lucerys membawa adiknya kembali ke ranjang kemudian merapikan bajunya lalu berjalan ke depan Jacaerys. Ia menarik alpha itu ke pelukannya.

"Tidak apa jika kau tidak mau bertekuk lutut. Kita bisa kabur dari sini dan meminta semua orang yang ada untuk bubar. Vermax dan Arrax cukup kuat untuk membawa kita pergi," lengan Jacaerys melingkari pinggangnya, kepalanya bersandar di perut Lucerys. Gadis itu mengeluarkan feromonnya untuk menenangkan kakaknya. Beberapa saat kemudian tubuh Jacaerys tidak lagi kaku dan ia sudah lebih tenang.

Setelah itu mereka tidak lagi berbicara, hanya saling berpelukan.

-oOo-

Keesokan paginya Jacaerys mengumpulkan semua orang di aula pertemuan. Lucerys menggendong kedua adik kembarnya dan berjalan ke sana bersama Joffrey diikuti pelayannya yang tersisa. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan saudaranya itu ataupun keputusan apa yang diambilnya, Lucerys hanya bisa berharap semoga itu adalah yang terbaik.

Ser Arryk membukakan pintu, Lucerys mengucapkan terima kasih kemudian mendudukkan diri di kursi sambil melihat Jacaerys yang sedang menatap keluar jendela. Kini semua orang sudah berkumpul, siap mendengarkannya.

"Aku berterima kasih atas kesetiaan kalian semua, sampai mati pun aku tidak akan melupakan jasa-jasa kalian," kata Jacaerys. Ia berbalik, menatap semua orang. "Tetapi aku sudah memutuskan untuk bertekuk lutut kepada pamanku, Aegon, dan mengakuinya sebagai raja."

Terdengar kesiap dan gumaman kaget dari semua orang yang ada. Beberapa bahkan sudah mulai protes tetapi Jacaerys melanjutkan. "Aku mendapat kabar bahwa Aegon sudah mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Dragonstone beserta armada dari Driftmark. Jika mereka sampai di sini, kita semua pasti akan terbunuh. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menyerah dan meminta agar nyawa kalian semua diampuni."

"Anda tidak perlu memikirkan tentang kami, Your Grace. Kami siap mati sebagai pendukung anda." Ser Arryk menolak keputusan Jacaerys. "Kami sudah bersumpah setia untuk melayani Ratu Rhaenyra dan penerusnya, Raja Jacaerys. Kami juga akan mati sebagai pelayan anda."

Pria itu berlutut diikuti bawahannya dan pelayan yang lain. Jacaerys terdiam, kehilangan kata-katanya. Lucerys merasakan air matanya menggenang. Ia bangkit, memberikan Viserys dan Aegon ke Jacaerys dan Joffrey lalu berdiri di depan Ser Arryk.

"Berdirilah, Ser Arryk." Ia menjulurkan tangan, membantu pria itu berdiri. "Kalian semua juga berdirilah. Kami menghargai nyawa dan dukungan kalian. Kalian juga harus sama. Aku tidak menginginkan kalian mati, aku tidak bisa membayangkannya. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri." Lucerys berkata sambil memandang semua orang. "Pengorbanan kalian sudah begitu banyak dan aku tidak mau merepotkan kalian lagi."

Para pelayannya mulai menangis. Lucerys memeluk mereka satu persatu sambil mengucapkan terima kasihnya secara pribadi. Hatinya terasa begitu berat tetapi ini untuk yang terbaik. Pelayan dan pengawalnya kemudian dibubarkan, hanya menyisakan Ser Arryk sendirian di aula itu.

Jacaerys memberikan surat yang sudah ditulisnya ke pengawal itu.

"Aku masih memiliki satu permintaan, Ser Arryk. Bawalah surat ini bersamamu ke King's Landing dan berikan kepada paman kami. Kembalilah bersama Ser Erryk menjadi Kingsguard. Aku yakin mereka pasti mau menerima ksatria berbakat sepertimu lagi."

Ser Arryk menerima surat itu dengan mata berair. Ia kembali berlutut. "Tuanku satu-satunya hanyalah Ratu Rhaenyra dan keturunannya. Jika suatu hari anda memerlukanku, aku siap untuk menyerahkan nyawaku."

Di siang hari itu, Lucerys berdiri bersampingan dengan Arrax sambil menyaksikan kapal-kapal yang membawa pendukung terakhirnya pergi meninggalkan Dragonstone. Viserys dan Aegon diikatkan ke dada dan punggungnya, siap untuk dibawa bepergian. Lucerys menuruni menara, untuk terakhir kalinya menjelajahi bangunan kastil tempatnya tinggal sambil bernostalgia.

Ada begitu banyak kenangan menyenangkan dan menyakitkan di sini. Lucerys tidak tahu kapan dia akan bisa menjejakkan kakinya kembali. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Ia berduka untuk adik-adiknya yang tidak akan mengingat tempat ini serta kedua orang tua mereka. 

Tempat terakhir yang didatanginya adalah kamar tidur ibunya. Ia tidak sendirian, ada Jacaerys di sana. Kakaknya tidak menoleh ketika Lucerys masuk dan berjalan ke sebelahnya, memandang balkon yang menghadap ke lautan lepas. Rhaenyra sering berdiri di sini sambil mengelus-elus perutnya atau membacakan sajak-sajak puisi dalam bahasa Valyria.

Untuk beberapa saat hanya ada suara angin di sekeliling mereka. Jacaerys mengambil tangan kanannya, mengenggamnya erat.

"Ke mana kita akan pergi, Jace?" Tanya Lucerys, memalingkan wajah ke arah alpha itu.

"Kupikir Braavos cukup jauh dari sini. Mungkin dari sana kita bisa mengelilingi Essos." Jawab Jacaerys. Ia kemudian berbalik dan maju selangkah, mencium Lucerys. "Kita akan kembali ke sini suatu saat nanti. Aku berjanji."

Lucerys tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku menantikannya."

Ia dan Jacaerys kembali ke menara sambil bergandengan tangan, Joffrey telah menunggu ditemani Syrax dan Caraxes, naga peninggalan orang tua mereka. Jacaerys membantunya menaiki Arrax kemudian dia sendiri menaiki Vermax dengan Joffrey di belakangnya.

"Sōvēs, Arrax!"

" Sōvēs, Vermax!"

Arrax, Vermax, Syrax, dan Caraxes terbang berdampingan menghiasi langit biru siang itu di Dragonstone. Kelima anak Rhaenyra Targaryen pergi meninggalkan rumah mereka, menjauhi tanah kelahiran ibunya. Tidak ada yang tahu kapan waktu mengizinkan anak-anak itu pulang, yang jelas adalah mereka akan tetap berusaha bertahan bersama-sama mempertahankan peninggalan yang tersisa dari orang tuanya.

Series this work belongs to: