Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of my ex
Stats:
Published:
2022-11-10
Words:
4,392
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
10
Bookmarks:
1
Hits:
193

your ex is liar

Summary:

Levi terlalu keras kepala ketika Eren hanya ingin menjauh darinya.

Mungkin, ini saatnya Eren menjatuhkan bom yang akan membuat Levi menjauh darinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dulu cuek sekarang perhatian, bisa berarti dua hal; pacar atau mantan.

Untuk Eren, ia mengalami kasus kedua.

Dulu, ia yang pertama mengirim chat. Bertanya apa dan di mana gerangan sang kekasih. Meski ia tahu jelas jawabnya. Ah, abaikan. Eren hanya terlalu excited dan terus mengirim pesan yang sama tiap hari. Tidak salah 'kan mengirim pesan ke pacar sendiri?

Dulu, ia yang sering ke rumah sang kekasih. Karena dia sibuk, dan Eren hanya mahasiswa kura-kura. Ia pergi ke rumah kekasih, memasakkannya makanan kelewat sederhana. Tentu si kekasih mencela, mengatakan makanannya sekelas sampah rumah tangga. Namun, piring itu tetap tandas. Tak peduli celaan dari si kekasih.

Kalau diingat-ingat lagi, Eren-lah yang selalu melakukan langkah pertama. Pengecualian untuk urusan ranjang tentu saja. Bahkan, si kekasih (sekarang MANTAN) tidak pernah mengatakan "Aku mencintaimu."

Apa kabar dunia dengan segala keajaibannya. Levi Ackerman—sang mantan memang spesies unik yang patut dilestarikan. Disisi lain—Eren Yeager, si masokis kini sudah banyak pembudidayaan.

Eren tahu Levi populer. Yang ia tidak tahu, alasan mengapa Levi suka mengusiknya. Apalagi dengan jumlah stok wanita dan pria yang mengantri untuknya. Sekadar informasi, laju pertumbuhan manusia masokis itu eksponen. Mereka meningkat tajam, apalagi semenjak bermunculan novel tema bad boy, CEO, dan psychopath boyfriend di situs jingga.

"Mengapa?" Eren bertanya.

Alis lawan bicara naik sedikit, "Mengapa apa?"

Eren menghembuskan nafas keras, "Mengapa kau di sini?"

"Karena aku tahu kau membutuhkanku."

Ia ingin tertawa. Sungguh. Eren tidak percaya Levi mengatakannya begitu mudah. Begitu percaya diri. Padahal dulu dia tidak pernah jadi kekasih yang perhatian. Dan ketika mereka sudah tak punya hubungan apa-apa, mendadak jadi overprotective. Parahnya, stalker.

Wajah percaya dirinya memuakkan. Si datar ini selalu menyebalkan. Kalau menjambak rambut kinclongnya bisa dilakukan di mana saja dan tak terbatas di ranjang, Eren pasti sudah membuatnya kusut sekarang.

Eren butuh dia katanya? Bagaimana bisa Levi mengatakan semua itu? Bagaimana... dia tahu?

"Sok tahu."

"Aku memang tahu," Levi menjawab cepat. Tangannya menarik kerah baju tidur Eren, membawanya dalam sebuah ciuman ringan.

"Aku tahu, Eren."

Eren terdiam. Matanya membelalak kaget. Tanpa ia sadari, Levi telah masuk ke kosannya.

"Sialan," Eren memaki. Tangan memegang pipi yang merah, "Menyebalkan."


Eren sering menebak, jangan-jangan Levi itu cenayang.

Sering kali apa yang ia pikirkan, Levi mengetahuinya begitu saja. Bahkan di pertemuan pertama mereka. Levi seolah sudah mengenalnya lama. Tiap kali Eren bertanya, ia menjawab kalau itu hanya tebakan.

Serius, Eren tak yakin seorang manusia punya kemampuan menebak begitu jitu. Bahkan untuk urusan paling privat sekalipun. Teringat Eren (ehem) malam pertama mereka. Sedang panas-panasnya foreplay, Levi berkomentar, "Ternyata memang xx senti."

Setidaknya  dua digit. Dua digit. Tolong di underline, bold, atau apalah yang membuatnya tampak mencolok.

Tapi, mari lupakan tentang itu. Intinya, Levi entah kenapa serba tahu tentang dirinya. Eren curiga, jangan-jangan Levi memasang CCTV di kosannya. Siapa tahu, dia pria sama yang membuat semua mantan kekasihnya minta putus.

"Kau memata-mataiku ya?" Eren bertanya penuh selidik.

Pria yang duduk di sebelahnya tak mengalihkan pandangan dari TV, "Sok tahu. Kau bisa kena pasal pencemaran nama baik kalau menuduh tanpa bukti."

Eren memutar bola mata. Ia lupa. Levi seorang pengacara. Eren tidak akan menang debat hukum dengannya.

"Lalu kenapa kau datang?"

Levi mengalihkan wajahnya dari layar TV. Mata kelabunya menusuk Eren. Selalu seperti ini. Cara menatapnya membuat Eren gugup, padahal itu memang default setting wajahnya.

"Kau sedang butuh aku 'kan?"

Hening. Eren tidak berani menjawab, ia takut. Ia takut suara yang keluar dari mulutnya terputus-putus, seperti orang gagap.

"Sok tahu." 

"Kau bilang itu dua kali."

Wajah Eren memanas, "Kan kenyataannya memang begitu."'

"Pembohong."

" Stalker!"

"Tsundere."

"Mesuuum!"

"Tapi kau suka, kan?"

Levi menyeringai membuat Eren menggertakkan gigi. Ia membuang muka. Memilih mengganti channel. Berita olahraga berganti drama korea.

Eren menggigit pipi bagian dalam. Menahan seringai. Ia tahu Levi tak suka drama, apalagi yang menye-menye . Ia melirik. Pria itu tak protes. Ia hanya diam. Tapi diamnya menyaratkan ketidaksukaan.

Menit-menit berikutnya diisi suara TV. Levi mendecih, tak tahu mengapa Eren suka drama macam ini. Apalagi ini drama korea. Bahasanya kedengaran sangat aneh di telinga. Alurnya juga tak Levi pahami.

"Bagaimana kau bisa suka drama seperti ini, Eren? Aku tidak tahu putus dariku membuatmu lembek."

"Menonton drama tidak membuatku lembek," Eren mendesis, "Lagipula Armin yang merekomendasikannya. Kau juga belum pernah menonton, jadi jangan sembarangan menilai."

Eren serius ketika mengatakannya. Alisnya sampai berkerut-kerut.

Keduanya menonton lagi. Tapi mungkin Levi memang senang mengganggu Eren, ia kembali berkomentar, "Kau suka karena tokoh utamanya masokis, sama sepertimu?"

Lirikan tajam Eren layangkan, sayangnya Levi tidak gentar. Seperti apapun ekspresi Eren, justru kelihatan imut. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, "Aku tidak suka karena itu. Lagipula Permaisuri bukan masokis. Dia tertipu dengan kaisar yang jahat itu!"

"Bodoh. Permaisuri tahu kaisar selingkuh dengan asistennya, tapi masih meyakinkan diri kalau itu tidak terjadi. Apalagi kalau bukan masokis? Kau tahu itu menyiksamu tapi diam. Kau tahu ada jalan lain," Levi menatapnya tajam hingga Eren tak kuasa membalas.

Eren tidak yakin kalimat terakhir terkait drama di TV. Entah mengapa, Eren merasa Levi sedang menyinggungnya.

"Kau tidak tahu," Eren bicara pelan, seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri, "Kau tidak tahu apa pun. Jangan memutuskan kalau kau tidak tahu yang sebenarnya."

Levi menggenggam bahu Eren erat, ia sampai meringis karena tekanannya.

"Kalau begitu jelaskan. Jangan lari dan jadi pengecut. Apa putus dariku membuatmu jadi begini menyedihkan, Eren?"

Eren gemetar. Levi pernah berteriak padanya, sering kali karena kesalahan kecil yang ia buat. Seperti menumpahkan jus di lantai, atau tidak membersihkan sesuai dengan standar yang Levi inginkan. Tapi cara pria itu bicara padanya kini membuatnya takut.

Bukan takut karena Eren membuat kesalahan. Tapi Eren takut kalau ia harus terus terang tentang segalanya. Mengapa ia menjauhi Levi meski ia masih mencintainya.

Eren takut. Kalau Levi harus pergi dari sisinya. Hal terakhir yang Eren inginkan adalah kepergiannya. Ia meyakinkan diri kalau begini tidak apa-apa. Ia baik meski Levi bukan lagi miliknya. Ia tak apa asal Levi tetap melihatnya. Ia tak apa menderita, asal Levi tetap bersamanya.

"Menyedihkan kau bilang Levi?" Eren menelan ludah susah payah, suaranya terbata-bata, seolah menahan sesuatu. Entah itu kecewa, atau keputusasaan, "Siapa yang lebih menyedihkan? Aku atau kau? Bukan aku yang memaksa tetap bersama. Kau yang selalu datang padaku saat aku berusaha melupakanmu!"

"Eren—"

"Hentikan ini Levi!" Eren menyentak tangan Levi, dadanya naik turun tak terkontrol. Levi merasa lemah ketika Eren dalam keadaan seperti ini. Ia bisa menerima teriakan Eren, amarahnya karena menggoda bocah itu. Tapi ia tidak bisa melihatnya menangis, apalagi karena dirinya.

Itu menyakitkan. Levi tidak pernah ingin melihat Eren bersedih.

"Aku berusaha melupakanmu. Tapi kau selalu datang merusak semuanya." Mata kehijauannya berkaca-kaca. Eren yang ia kenal kini bertransformasi menjadi seorang yang lain. Bukan Eren yang kuat dan penuh dengan ambisi, tapi seseorang yang rapuh.

"Kalau begitu jangan lupakan aku," tangan Eren ditarik, wajahnya teramat dekat dengan Levi. Mata kelabunya menatap pasti, meski sorot bosan itu tak pernah meninggalkan. Tapi Eren tahu, Levi sedang serius.

"Bahkan anak TK-pun tahu kapan harus menyerah. Kau masuk kuliah lewat jalur belakang ya?"

Eren mendelik, "Begini-begini aku belajar keras untuk masuk kuliah, tahu!"

Levi mengelus pipi Eren. Tak ada senyum. Yang ada hanya sepasang bola mata yang menatap lembut, "Aku tahu, dasar bocah."

"Kau menyebalkan."

"Kau mengatakannya dua kali."

Eren muak. Niat ingin mendorong Levi. Namun dia malah mendekatkan bibirnya pada bibir yang lain. Awalnya tidak ada respon. Namun kelamaan Eren tidak menolak, ia diam saat Levi memperdalam ciumannya. 

Seandainya menyerah memang semudah itu.


 

Sudah terkenal di keluarganya, kalau cara tidur Eren tidak tertata rapi apalagi elegan. Carla Yeager kerap mengomeli Eren karena di usianya sekarang, ia masih sering jatuh dari ranjang.

Tapi sejak bertemu Levi, hidupnya lebih tertata rapi. Pria itu memeluknya saat tidur, memastikannya tidak terjatuh dari ranjang. Pria itu yang membuat makanannya tetap sehat, karena Levi benci makanan instan dan junk food. Mereka berakhir memasak makanan bersama, dulu, saat masih sepasang kekasih.

Begitu mereka putus, semua kembali lagi menjadi hari-hari  'Eren Yeager yang ceroboh'. Kali ini lebih buruk. Dulu semuanya biasa saja. Tapi begitu menjalani kehidupan sendiri setelah bersama Levi, bahkan terkadang bernafas saja sulit.

Jadi, ketika Eren membuka mata dan menemukan Levi berbaring di sampingnya, ia merasa sangat bersyukur. Pria itu tampak damai dalam tidur. Tidak ada kerutan di dahi. Tidak ada tatapan intimidasi permanen dari matanya. Tidak ada bibir yang mengerucut ke bawah. Ia hanya Levi Ackerman yang tenang.

Jemari Eren menyentuh pipinya. Hati-hati seolah sedikit sentuhan saja bisa membangunkannya. Matanya jatuh pada belahan bibir tipis yang tertutup rapat. Wajah Eren memanas saat mengingat kejadian kemarin. Levi pernah menciumnya sangat bergairah, sampai ia kehilangan nafas dan gemetar. Tapi sekadar tempelan bibir saja bisa membuat jantungnya berdegup kencang. Eren jadi ingin tertawa.  Ya, tertawa untuk kenyataan bahwa ia selalu lemah di hadapan Levi.

Jempol berpindah ke bibir. Eren menekan ujung bibir Levi pelan. Tiba-tiba, Levi membuka mata. Irisnya langsung fokus pada orang di depannya. Eren membeku. Berusaha menarik tangan tapi Levi menahan.

"P-Pagi," Eren meringis, tertawa canggung.

Levi diam.

Eren masih tertawa canggung.

Levi menatapnya, tanpa kedip.

"Bisa lepaskan tanganku? Aku harus pergi ke kampus."

"Kalau kau ingin bertemu dosen botakmu untuk tanggung jawab, aku bisa mengantarmu."

Raut muka Eren berubah kecut. Teringat kembali kejadian kemarin, saat ia membuat kecelakaan di laboratorium, "Ukh... itu bukan salahku sepenuhnya. Semua gara-gara Jean! Kalau saja—tunggu!"

Membelalak, Eren langsung bangun, tak peduli tangannya yang masih tersandera.

"Bagaimana kau tahu aku ada masalah dengan Sir Keith? Kau memata-matai aku ya?! Kau menyewa detektif 'kan? Atau jangan-jangan kau pasang CCTV di sini?!"

Levi mendengus, ikut bangun. Ia menampilkan seringai yang membikin bulu kuduk merinding. Berbisik tepat di telinga Eren, pria itu berhasil membuat gemetar sekujur badan.

"Jangankan tahu kau membakar setengah laboratorium, aku juga tahu hal-hal yang tidak orang lain tahu, bahkan ibu dan ayahmu. Di mana saja bekas lukamu, ah," tangan Levi merayap ke leher Eren, jari dingin itu berhenti di satu titik, "Bahkan yang paling baru pun aku tahu."

Levi bangkit, mungkin menuju kamar mandi. Eren tergagap meraba bagian leher. Ia berlari menuju cermin yang tertempel di lemari baju. Matanya membulat tatkala melihat lebam di leher. Tidak hanya satu, tapi melingkar seperti manik-manik ungu yang ditempel di leher.

"LEVIIII!!!!"


 

Jalanan pagi hari masih sepi. Orang-orang malas beranjak dari kasur saat ini. Tapi Eren sudah terlatih untuk bangun pagi. Bukan karena ia anak rajin, tapi karena keadaan yang memaksa. Begini-begini, ia asisten dosen.

Hanji Zoe, dosennya yang nyentrik membutuhkan asisten yang cekatan. Berkat pengalaman hidup dengan Levi, Eren memiliki semua kualifikasi yang membuat dosennya masih hidup tanpa mengalami kecelakaan berarti.

Tapi kejadian kemarin mengubah image- nya. Eren Yeager—asisten dosen Hanji Zoe membakar hampir setengah laboratorium karena bertengkar dengan temannya. Tiap mengingatnya membuat kepalanya pusing.

Itu sungguh kecelakaan.

Awalnya hanya adu mulut dengan Jean. Semua teman-temannya sudah terbiasa dengan rutinitas kecil itu. Mereka jadi abai dan memilih pada aktivitas masing-masing daripada menonton dua sejoli adu argumen.

Yang mereka tidak tahu, rutinitas kecil itu berubah menjadi bencana ketika Eren tak sengaja menyenggol sesuatu dekat wastafel. Sesuatu itu adalah logam yang mudah terbakar saat terkena air. Sebutlah dia, natrium.

Si kuning lunak mudah meledak.

Kejadian itu begitu cepat. Eren hanya melongo bodoh bersama Jean. Mereka menyaksikan dengan syok api yang merambat gorden hijau laboratorium. Keith Shadis—yang diduga mantan tiran di militer—langsung sigap mengambil alat pemadam kebakaran.

Namun sesingkat-singkatnya kebakaran, tetap meninggalkan bekas. Bau hangus menyebar ke seisi ruangan. Tembok putih kini ternoda hitam. Beberapa alat laboratorium rusak, termasuk bahan untuk praktikum mereka hari itu.

Keadaannya diperparah dengan fakta yang begitu kejam, ia melakukannya di kelas Keith Shadis. Kalau saja Profesor Hanji tidak membelanya, bisa jadi ia kena sanksi lebih berat.

Untuk saat ini, yang harus ia lakukan hanya membayar biaya kerusakan (setengah-setengah bersama Jean) dan membantu sebagai babu di laboratorium. Perutnya langsung bergemuruh protes tatkala mengingatnya. Bertemu Keith Shadis sudah jadi mimpi buruk, apalagi menjadi babunya selama sebulan.

Levi bisa merasakan rasa cemas Eren. Sedari tadi pemuda itu menatap ke jendela samping mobil. Tak mencuri lirik seperti yang biasa ia lakukan ketika Levi mengantarnya.

"Kau bertingkah seperti habis membakar jenggot Keith Shadis," Levi berkomentar.

Eren yang menatap jendela tersenyum samar mendengar kelakar itu. Ia mendengus, "Aku mati kalau membakar jenggotnya."

"Kalau terjadi, kurasa itu yang disebut kebakaran jenggot versi real."

Eren tertawa. Leluconnya tidak lucu, sungguh. Hanya saja cara Levi mengucapkannya dengan wajah serius dan nada monoton membuatnya kedengaran menggelikan.

"Pffft... kebakaran jenggot," Eren berdehem, "Mungkin akan menarik kalau itu terjadi."

Mobil diisi keheningan. Kali ini bukan canggung, tapi sesuatu lain. Mungkin nyaman. Eren menatap ke depan, bibir tertarik ke atas. Membentuk senyum kecil.

Perjalanan hening mengingatkan pada memori lama. Dulu, Levi sering mengantarnya. Mobil diisi keheningan seperti saat ini. Katanya, Levi tidak suka memutar radio. Eren terima saja, meski itu bertentangan dengan kebiasaan. Jujur, ia tidak bisa berdiam diri terlalu lama kalau bersama seseorang. Musik adalah pelarian yang sempurna.

Apalagi kalau dia Levi. Eren takut ia mendengar degup jantung yang bertalu ketika ia menggenggam tangannya. Eren kesal ketika mengejeknya karena gugup. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa mengendalikan diri kalau dekat Levi.

Lagipula, bukankah itu bukti kalau Eren memang mencintainya?

Mengingatnya membuat Eren meletakan tangannya di sisi tubuh. Ia melirik pria di samping. Sebelah tangan memegang setir, yang lain bersandar di sisi tubuh.

Eren mengalihkan pandangan saat Levi balas melirik. Bersiul-siul sebagai alibi. Tapi Levi sudah menangkap maksud tersembunyi. Kasual, ia menggenggam tangan Eren. Pemuda itu melonjak sejenak, ada rona kemerahan di pipinya. Tapi Eren tetap diam. Kedua telapak tangannya berkeringat.

Ia menggigit bibir ketika Levi mengelus pelan. Terkutuklah pria itu. Pasti ia sedang menyeringai licik.

Dan yang omong-omong itu memang fakta.

Tapi Eren senang. Meski tidak mau mengakui, Levi adalah semua obat yang ia butuhkan. Ketika gelisah, ia hanya butuh Levi menenangkan. Ketika putus asa, ia hanya butuh Levi menyemangati—meski bukan dengan kata-kata indah, tapi Eren selalu merasa lebih baik. Ketika sedih, ia hanya butuh pelukannya. Ketika ia ingin melupakan sesuatu yang menyebalkan atau menyedihkan, Levi hanya perlu menciumnya.

Sesederhana itu.

Tapi mengapa semuanya bisa kacau seperti ini?

Eren bertanya-tanya. Mungkin karena ia yang kekanakan. Mungkin karena Levi kurang pengertian. Atau mungkin, karena orang ketiga.

"Levi, berhenti." Eren melepas genggaman tangan.

"Ck, kau mau aku apa?"

"Kumohon, berhenti. Sekarang!"

Mobil berhenti diiringi suara decitan. Suara klakson terdengar berikutnya. Beberapa pengendara di belakang mengumpat.

"Sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk ini, Eren."

Eren tak menjawab. Wajahnya malah memucat seperti melihat hantu. Saat mengikuti arah pandangan Eren, Levi melihat sekumpulan mahasiswa. Mereka sedang masuk gerbang kampus, hanya itu.

"Oi, ada apa?"

Eren menelan ludah, "D-Dia ada di sini Levi."

"Dia siapa? Jangan buat kesabaranku menipis, bocah."

"Isabel. Dia di sini."

Pandangan Levi langsung kembali pada gerbang. Di sana berdiri seorang wanita bermantel coklat. Ia mengenakan topi lebar seolah ingin pergi ke pantai. Kacamata hitam besar, menutup sebagian pipi. Ia mondar-mandir seperti sedang mencari seseorang.

"Memangnya kenapa kalau saudaramu ada di sana?"

Eren memutar badannya, menghadap Levi, "Kau tanya kenapa? Tunggu—kau kenal Isabel?"

"Tentu saja," Levi mendengus, "Kalian mirip, bagaimana mungkin aku tidak sadar."

Eren tercekat, hati-hati ia bertanya, "Kau tahu dia saudaraku sejak pertama kita bertemu?"

"Ya. Dan jangan berasumsi aku menyukaimu karena kau mirip Isabel. Kau adalah kau. Isabel ya Isabel. Yang kusukai bocah rebel di depanku. Bukan kakaknya. Bukan pula orang lain. Jadi berhenti melarikan diri dan serahkan dirimu padaku saja."

Kalau di situasi yang lain, mungkin Eren akan tertawa. Menyerahkan diri katanya? Memang Eren buronan?

"Tapi dia mantan pacarmu!"

"Dulu. Apa perlu kuhentak dulu baru kau sadar?"

"Kau tidak mengerti! Isabel masih menyukaimu, Levi."

"Tapi yang kusukai bukan dia. Berhenti berpura-pura, kau pikir dia akan bahagia kalau kau melakukan ini?"

"Aku tidak bisa," Eren menggeleng, badannya bergetar, "Isabel, dia..."

Levi memegang bahunya, membuat Eren menatap matanya secara langsung, "Tingkahmu membuatku muak," Levi mendengkus, "Kau terus lari dariku karena Isabel?"

"Aku tidak bisa," Eren menjawab, hampa. Tangannya yang bergetar meraih kerah Levi. Ia menggeleng kencang, "Aku tidak bisa. Isabel mencintaimu, dari dulu. Dia hanya mencintaimu."

Levi menghela nafas. Ia menepis tangan Eren, "Tapi aku tidak mencintainya. Kenapa kau tidak mengerti, bocah dungu? Kau suka membuat drama, heh?" Levi berucap sinis.

Eren meremas celananya. Ia tidak siap kehilangan Levi secepat ini, "Drama kau bilang," ia tertawa, bukan karena bahagia, tapi karena pahit, "Bagaimana kalau kubilang Isabel terkena kanker? Apa itu masih kurang drama bagimu, Levi?"

Eren bergetar. Kali ini, tidak ada Levi yang memegang tangannya. Ia ingin menangis, tapi tidak ada satupun air mata yang keluar. Seolah semua perasaan negatif ini ingin menyiksanya. Eren butuh pelarian, tapi bahkan air mata pun enggan keluar.

Karma, pikir Eren. Karena ia telah merebut Levi dari sisi Isabel. Karena ia bermain dengan nyawa saudaranya sendiri.

"Apa kau tahu Levi? Isabel tidak mau melakukan kemoterapi karena ia ikhlas menerima kematiannya. Kemudian dia bertemu denganmu," suara Eren bergetar hebat, ia menghela nafas, "Karena kau, dia mau melakukan pengobatan. Karenamu, dia rela menyakiti dirinya agar bisa sembuh dari kanker. Apa kau tahu? Ia menangis karena rambutnya rontok. Dia bilang ingin terlihat cantik di depanmu, tapi rambutnya rontok. Dan ia menangis karena itu."

Mata hijau favorit Levi berkaca-kaca. Tapi tidak ada kebahagiaan, yang terasa justru kesedihan. Levi terdiam ketika Eren mengentak-entak pundaknya.

"Dan sekarang kau ingin aku mengorban saudaraku demi perasaanku padamu? Aku memang mencintaimu. Aku sangat mencintaimu sampai aku tersiksa karenanya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membiarkan perasaanku membunuh Isabel."

Genggaman Eren mengendur. Ia berusaha tersenyum, meski sulit. Dan Levi benci melihatnya. Karena ia persis seperti orang konstipasi. Ia gemetar hingga Levi ingin memeluknya. Namun sesuatu menghalanginya. Tak peduli betapa Levi mencoba, tubuhnya membatu. Bahkan ketika Eren menggenggam tangannya. Meremasnya lemah, menatap Levi seolah dirinya harapan terakhirnya.

"Kumohon buat Isabel bahagia, Levi. Aku tahu itu sulit. Aku tahu kau tidak suka. Tapi, kumohon! Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Aku tidak bisa kehilangan kalian!"

Levi melepas tangan Eren. Wajahnya kaku, semua informasi yang baru ia dengar membuat kepalanya ingin meledak, "Memangnya seberapa kaya kau sampai menyuruhku menjaga orang lain, bocah kurang ajar?"

"Aku akan memberikan segalanya yang kupunya. Asalkan kau bisa menjaga hanya Isabel."

Hanya Isabel. Eren tidak termasuk.

Dan untuk yang terakhir, Eren melihat Levi sebagai miliknya. Ralat, mereka sudah putus beberapa bulan lalu. Setidaknya Levi yang di depannya bukan milik siapa-siapa. Jarinya menyentuh wajah pria itu, Levi tidak menolak. Ia terdiam seperti patung tatkala Eren mendekatkan wajah.

Bagus, karena itu hal yang Eren butuhkan.

Sebuah kecupan perpisahan yang anehnya terasa asin di lidah Levi. Ketika menjauhkan wajahnya, yang Levi lihat adalah seorang bocah memuakkan. Dia yang tersenyum palsu dan selalu berbohong.

Sisi lain dari Eren Yeager yang Levi benci.

"Terima kasih atas semuanya, Levi."

Begitu saja. Levi tidak mencegah ketika Eren pergi dari mobilnya. Tidak, setelah apa yang Eren ucapkan setelah kecupan itu.

Selamat tinggal, Levi.

END


 

OMAKE

 

Jean Kirstein. Penampilan rapi, jaket keren terpasang di badan. Rambut licin hasil perawatan sendiri. Ia melangkah pelan tapi penuh percaya diri menuju bar stool.

Senyum tak lepas dari bibirnya. Beberapa gadis terkikik melihatnya. Ada yang menganggapnya keren, ada pula komentar nyeleneh macam, "Mirip kuda."

Abaikan komentar terakhir, pasti itu datangnya dari yang iri. Ia melirik jam tangan, seharusnya sebentar lagi seorang 'teman' datang. Demi membunuh waktu, ia memesan segelas bir. Menyesapnya perlahan, Jean teringat sang kekasih—Eren. Dulu teman-temannya selalu mewanti-wanti kalau dekat-dekat dengan Eren Yeager.

Katanya sih, Eren punya penjaga. Jean mendengus, rumor itu membuat seolah Eren berteman dengan mahluk halus. Sebagai salah satu kaum intelektual zaman sekarang, Jean tidak begitu saja percaya. Toh, sekeras apa pun teman-temannya meyakinkan Jean, Eren tetap jadi kekasihnya.

Yeah, meski awalnya benar-benar tidak lancar. Mereka lebih sering berdebat dibanding akurnya. Tapi perjuangan berbuah manis. Akhirnya (setelah sekian usaha) ia berhasil mendapatkan hati Eren.

Memang jahat kalau mengingat alasan pertama Jean mendekati Eren. Tapi bagi penghuni kampus Sina, Eren Yeager bagai piala bergilir. Bisa bersamanya adalah keistimewaan. Jean tidak menyangkal. Ketika melihat wajahnya, bisa dikatakan Eren adalah perpaduan sempurna antara pria dan wanita. Dia bisa kelihatan manis, namun bisa kelihatan tampan di saat yang sama. Dan di saat-saat tertentu, dia kelihatan menggairahkan.

Khayalan indah saat Eren mengenakan kemejanya buyar saat didengarnya keributan kecil. Para gadis berseru ribut. Dengan alami gerombolan para gadis berpakaian minim membelah menjadi dua. Mereka memberi jalan pada seseorang.

Pria itu maju mantap. Seolah tak peduli dengan puji-puji yang dielukan para gadis. Ia cuek dan berjalan ke arah Jean. Ia mengenakan celana hitam dengan kemeja putih yang digulung sesiku. Tapi harus diakui, dengan pakaian yang sederhana itu ia tampak memukau. Mata kelabunya tajam, menusuk tepat ke Jean. Di tempat ia menelan ludah gugup.

"Jean Kirstein?" suaranya dalam, rendah hingga membuat Jean gemetar.

"Ya, Anda Levi Ackerman?"

Ia tidak menjawab. Tapi yang jelas, Jean merasa kecil ditatap begini intens. Levi memeriksanya, lekat. Seolah memeriksa apa saja kecacatan dalam diri Jean. Senjata yang akan Levi gunakan untuk menjatuhkannya.

Akhirnya setelah pemeriksaan yang serasa setahun, Levi duduk di sampingnya. Bartender tampaknya mengenal Levi, karena begitu ia duduk segelas whiskey disodorkan ke arahnya.

"Jadi ini mangsamu kali ini?"

Jean mengangkat sebelah alis. Mangsa?

Levi tertawa pelan. Bukan jenis tawa yang ingin kau dengar. Karena ia kedengaran, jahat , "Yeah, kita akan bicara banyak hal, bukan begitu Kirstein?"

Jean mengangguk. Menelan ludah gugup ketika Levi meminum whiskey tanpa mengalihkan pandangan darinya.

Mata itu, seolah mengatakan, 'Bersiaplah, kau akan segera menemui ajal'. Dan ini pertama kalinya ia menyesal tidak mendengar nasihat teman-temannya. Kini ia sadar siapa penjaga Eren yang dimaksud. Penjaganya bukan mahluk halus, tapi dia iblis mini bertubuh manusia. Dan namanya, Levi Ackerman.

Levi meletakkan gelas dengan menyentakkan gelas. Jean berjengit kaget.

"Kau tahu aku siapa?" ia berkata, tenang. Setenang danau yang menyimpan monster di dalamnya.

"Kau," Jean ragu, "mantannya Eren."

"Benar. Kau tahu apa maksudku mengajakmu kemari?"

Jean menggertakkan gigi, "Kau ingin bilang padaku untuk putus dari Eren?"

"Benar. Ternyata bocah itu sudah memberitahumu cukup banyak tentang aku," Levi menyeringai kejam.

Sejujurnya, Jean ingin kabur dari tempat ini. Levi, dengan tubuh kecilnya mampu mengeluarkan aura yang mematikan makhluk hidup di sekelilingnya. Jean mulai ragu kalau Levi itu pengacara, dari caranya bersikap, mantan Eren itu lebih mirip gangster.

"Kalau begitu. Putus dengan Eren. Besok."

" Sir, aku tahu Anda mantan kekasihnya Eren. Tapi bukan hak Anda untuk memutuskan hubungan kami seperti itu," ujar Jean layaknya kekasih yang bertanggung jawab. Yang sebenarnya memang benar. Bahkan Eren mengakuinya sendiri, meski lebih sering ributnya, Jean selalu menjaga Eren.

Si bartender tertawa pelan di belakang, ia berbisik ke telinga Jean, "Nak, kalau kau ingin tetap sehat, turuti saja kemauannya."

"Dia tidak berani menghajarku di tempat ramai. Lagipula aku sabuk hitam karate," ujar Jean tak mau kalah.

Eld Jinn—sang bartender tersenyum misterius. Bisikan berikutnya benar-benar membuat rona wajah Jean hilang.

"Dia memang tidak akan menghajarmu, tapi Levi itu ahli cuci otak."

Eren pernah bilang, untuk tidak dekat-dekat dengannya. Katanya ia tidak mau Jean terluka karena dirinya. Seandainya saja ia menurut, mungkin sekarang ia tidak akan menghadapi Levi. Pria itu memang tidak akan melukai secara fisik, tapi dengan cara lain.

Dan kata-kata 'cuci otak' sudah meracuni benaknya.

"Sudah dapat contekan, Kirstein?"

Eld menyela, "Serius, Levi. Kau harus berhenti mengganggu kekasih mantanmu."

Jean, ingin memberi pelukan hangat pada Eld. Senang rasanya ada teman di saat-saat seperti ini.

"Bagaimana kalau dia tidak mau datang kemari lagi?"

Oh, Jean tarik lagi kalimatnya lagi. Terkutuklah semua orang yang berelasi dengan Levi Ackerman.

"Peduli setan. Lagipula aku yang mengundangnya kemari. Sebaiknya kau diam saja dan jadilah bartender yang tidak punya mata dan telinga. Atau kau mau ikut dicuci otak, Eld Jinn?"

Sang bartender mundur satu langkah, tersenyum lebar, ia menggeleng, "Tidak, terima kasih. Kalau begitu, permisi. Nikmati perbincangan kalian."

Kepergian Eld Jinn membuat ketakutan Jean semakin besar. Tunggu dulu—tidak mungkin Levi bisa cuci otak kan? Itu bohongan kan? Siapapun tolong katakan iya!

"Kau sudah buat keputusan?"

Eren bilang, ia percaya padanya. Ia mengandalkan Jean. Jadi meskipun ia tidak tahu apa ada jalan untuk mempertahankan kewarasannya—dari cuci otak Levi—ia menjawab mantap.

"Ya, dan aku tidak akan memutuskan Eren."

"Ho," Levi menekan jarinya, hingga membuat bunyi 'klik' yang keras. Bunyi yang cukup membuat Jean mundur dari kursinya, "Pilihan buruk bocah, kau tidak tahu siapa yang kau hadapi."

Jean menelan ludah. Ia sudah tidak mungkin mundur lagi. Lagipula cuci otak? Konyol, apa pria di depannya ini akan menghipnotisnya? Memasangkan helm aneh dan menyetrumnya?

"Aku tidak tahu mengapa Anda bersikeras soal Eren. Dia bilang padaku kalau dia tidak ingin bersama Anda."

"Kau percaya pembohong itu?" Levi terkekeh pelan, dan tetap saja masih ada aura jahat, "Dia menerimamu karena kasihan dan ingin kabur dariku."

"Pasti bersama Anda begitu menyiksa sampai dia kabur dari Anda."

Alih-alih merasa tersinggung dengan sindiran Jean, Levi malah menyeringai. matanya terarah pada kerumunan yang bergumul di lantai dansa, "Ya, aku memang suka menyiksanya sampai dia menjerit nikmat."

Bulu kuduk meremang. Tiba-tiba saja Jean merasa kedinginan. Ia tidak tahu bagaimana Eren bisa bertemu dengan Levi, tapi yang jelas, Levi jahat. Bukan sekadar iblis, dia rajanya.

"Katanya, saat kuliah Levi dijuluki king of mean oleh teman-temannya. Aku sampai saat ini masih penasaran kenapa."

Oh, Jean kini tahu mengapa. King of Mean. Raja kejahatan. Levi memang jahat. Seenaknya memainkan orang lain, memanipulasi hingga mereka percaya pada omongannya. Pantas saja dia jadi pengacara. Dengan mulut dan kecerdasannya tak heran banyak kasus yang dimenangkannya.

Terkutuklah Eren dan kepolosannya yang bahkan masih polos pikirannya hingga tak sadar kalau dirinya sedang dipermainkan. Eh, tunggu—Eren bukan polos, dia masokis. Benar, pantas mereka dulu bisa bersama.

"Dengar, Kirstein. Carilah orang yang lain. Jangan Eren," dia milikku, "Dia bocah ceroboh yang pernah meniup spiritus hingga membuat poninya terbakar. Dia tidak becus menuang perak nitrat hingga mengotori tangan dan bibirnya. Tidurnya berantakan, hanya bisa masak beberapa resep sederhana, pemarah, tidak sabaran, keras kepala. Belum lagi dia tidak pernah menyukaimu. Dan kau masih mau bertahan dengannya?"

Hening.

" Sir?"

"Hm."

"Anda sebenarnya menyukainya atau membencinya?"

Kali ini, Levi tersenyum. Tipis sekali. Mata kelabunya melembut, "Aku menyukainya. Tidak, aku mencintainya sampai aku menerima segala kekurangannya."

Malam itu, Jean Kirstein pulang dengan pandangan baru. Memang benar yang dikatakan Eld Jinn, semua kata-kata Levi membuat Jean seperti dicuci otak.


 

Eld Jinn kembali ke posisi awal. Dimana Levi duduk sedang menyesap whiskey.

"Itu korbanmu yang keberapa? Aku lupa hitungannya saking banyaknya kau mengganggu Eren."

"Sepuluh."

Eld bersiul, "Satu orang lagi dan kau bisa membuat tim sepakbola dengan anggota para mantan Eren."

"Mereka menjulukiku king of mean bukan tanpa alasan kan?" Levi menjawab kemudian menyesap minuman kerasnya lagi.

Sisa malam itu dilalui Levi dengan sukacita yang tak terpancar dari wajahnya. Apapun keadaannya, seperti kata Hanji, "Datar adalah mode default Levi. Sangat disayangkan kalau dia tidak bisa tertawa atau tersenyum lebar. Tapi mari anggap dia memang begitu."

Esok adalah hari yang dinanti Levi. Ia melirik ke payung lipat hitam di nakas. Tinggal setangkai bunga mawar merah dan wine. Menikmati Eren Yeager yang terguyur wine kedengaran sungguh tidak buruk.

Levi sungguh menantikan besok.

 

Notes:

terima kasih sudah membaca. fanfic ini pernah dipublish di wattpad, tapi aku pindah ke sini.

Series this work belongs to: