Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of my ex
Stats:
Published:
2022-02-21
Words:
1,640
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
224

your ex is tsundere

Summary:

Eren hanya ingin berkencan dengan orang lain selain Levi.

Sayangnya Levi tidak ingin itu terjadi

Work Text:

"Kita akhiri ini, Eren."

Mata Eren menyipit. Tidak suka dengan pembicaraan ini. Apa yang salah? Semua pria yang datang padanya selalu mengaku jatuh cinta. Rela saja diinjak asal bisa bersamanya. Rela saja jadi substitusi.

Tapi mereka juga selalu pergi di akhir. Meninggalkan dirinya.

Eren berusaha terlihat normal, tapi tidak bisa. Bukan karena ada rasa di hati, tapi semata-mata karena harga diri. Dia bukan orang yang bisa dijatuhkan dengan cara apa pun. Termasuk dengan kata putus.

Seharusnya Eren yang bilang begitu. Bukan mantannya yang pertama, kedua, ketiga, keempat sampai yang kali ini.

Jean Kirstein tampak getir ketika menatap matanya. Bola kekuningan itu Eren sukai. Dan dia yakin Jean juga suka matanya.

Matamu itu sihir. Hipnotis kekal yang membuatku terus mengejarmu.

"Kenapa?"

Dialog itu kembali Eren lantunkan. Untuk kesekian kalinya.

"Sepertinya kita sudah tidak cocok."

Eren tertawa sarkastik. Bola mata kehijauan itu berkilat, berbahaya. Jean dapat melihat kekesalan bercampur amarah di dalamnya. Bahkan dalam keadaan terburuk pun, dia tetap punya pesona.

"Apa ini karena dia? Si bajingan itu mengancammu?"

Jean tersentak, tidak menjawab. Eren mendengus. Beranjak dari kafe. Beberapa langkah, ia berbalik. Menatap Jean sekali lagi.

Mungkin hanya ilusi saja. Atau matanya yang mendadak buram. Mata hijau itu menatap kecewa. Jean mencelos.

"Kupikir kau beda. Ternyata sama saja."

Eren pergi. Meninggalkan Jean sendiri. Bersama hatinya yang tertawan untuk si cantik.


Hujan di hari sabtu setelah hubungan asmara berakhir. Perpaduan sempurna untuk akhir pekan. Eren ingin menjerit. Kesal. Marah, tentu saja. Apalagi ketika mengingat dirinya tidak membawa payung.

"Bajingan kau, Levi."

Matanya menangkap payung lipat yang diletakkan di samping pintu cafe. Bukan itu yang membuat Eren menghampirinya. Tapi karena ada setangkai mawar merah yang terselip di dalamnya.

Eren ingin tertawa. Hal lucu ini selalu terjadi tiap kali momen putusnya dengan mantan. Setangkai mawar juga selembar kertas kecil seukuran kartu nama. Eren sampai hafal di luar kepala isi kalimatnya.

Lihat Eren, semua orang meninggalkanmu. Hanya aku yang tetap bersamamu

LA

Kertas diremas ganas. Dibuang sembarangan. Eren sedang ingin mengabaikan peraturan remeh macam membuang sampah pada tempatnya.

Eren harus membuat perhitungan. Pada dia yang selalu mengganggu hidupnya.


Dia adalah pecinta kebersihan. Obsesif-kompulsif pada debu dan segala hal yang kotor. Clean freak jadi nama tengah tidak resminya.

Tapi entah sejak kapan dia selalu toleran pada bocah yang selalu mendobrak apartemennya tiap akhir bulan.

Levi clean freak Ackerman selalu toleran pada Eren Yeager. Tidak peduli seberapa kotor bocah itu datang padanya. Levi dengan senang hati akan membersihkannya.

Bahkan ketika bocah itu datang ke apartemennya hari ini. Di hari berhujan. Tepat akhir bulan. Saat akhir pekan. Malam minggu.

Eren masuk tanpa melepas sepatu. Langsung berjalan menuju ruang tamu. Matanya membara, menantang tuan rumah yang sedang santai dengan segelas wine di tangan. Pemuda itu menggeram. Membanting payung hitam beserta mawar merah pemberian.

"Hentikan ini Levi! Jangan ganggu aku, lagi."

Alis Levi naik semili. Gelas wine diletakkan. Ia bersedekap, menatap Yeager muda penuh keangkuhan. "Sungguh perbuatan tidak sopan Eren Yeager. Masuk tanpa kupersilahkan, mengotori lantai. Jangan harap kau bisa keluar tanpa izinku."

Eren mendengus. Dagunya naik, balas menantang. "Hentikan omong kosong ini! Jangan ganggu hidupku!"

"Mengganggu hidupmu?" Levi mengulang kalem, namun Eren dibuat ketar-ketir ketika pria pendek itu berdiri. "Justru kaulah yang jangan ganggu hidupku. Jangan datang ke mimpiku. Jangan muncul di pikiranku. Jangan buat aku harus bersusah payah hanya karena seorang bocah dekil sepertimu,"

Satu langkah lagi, dan kini mereka berhadapan. Bahkan meski Eren lebih tinggi, Levi tetap terlihat menjulang. Pria itu tetap jadi predator.

"I-Itu bukan salahku! Aku tidak memintamu memikirkanku!"

"Terserah, aku tak peduli ini salah siapa. Yang jelas, kau tahu peraturannya."

Eren meneguk ludah. Berjalan mundur ke belakang perlahan. Seharusnya Eren lebih bisa mengendalikan emosinya ketimbang melakukan hal konyol seperti masuk ke kandang singa. Tidak pernah ada kejadian baik jika Eren berkunjung ke tempat Levi. Terakhir kali kunjungannya, Levi telah menyedot habis semangatnya. Membangkitkan amarahnya ke ubun-ubun, dan yang paling parah, membuatnya harus berjalan terseok selama beberapa hari.

"Aku bisa melakukan apa pun yang kumau di tempatku, ingat Eren?"

Eren menggeram. Semakin berjalan mundur. Tapi Levi semakin dekat. Setiap langkah kakinya membuat sekujur badan Eren bergetar. "Levi, hentikan. Kita hanya MANTAN!"

Kata mantan ditekankan. Tapi tak ada perubahan. Levi justru menyeringai, tampan. Eren membeku tatkala Levi merapatkan jarak. Mengurungnya dengan tangan berotot.

Sialnya, Eren malah terpesona. Mata kelabu itu menjebaknya. Meningkatkan detak jantung hanya sedetik ketika bertemu.

Sialnya, Eren malah menahan nafas. Menunjukkan kegugupan ketika nafas Levi menerpa wajahnya. Eren menggigit bibir, berusaha untuk tidak mengerang.

Sialnya, dia tidak bisa kabur. Selamat datang di kungkungan Levi Ackerman. Terbuat dari tulang kuat dibalut otot kekar nan seksi dari tangan, badan, hingga kaki. Oh, tak lupa di bawah. Si junior Levi yang jadi favorit Eren-maksudnya mereka yang menyukai si lelaki. Lalu sentuhan terakhir jadi pelengkap, tembok.

Your dinner ready to serve, Mr. Ackerman. A special boy with a plump ass in your bed.

"Dan mantan macam apa Eren, yang rela-rela saja ditiduri selama dirinya masih memiliki kekasih?"

Bukan Eren. Dia bukan Eren. Dia dipaksa, ingat?

"Levi," Eren memohon, "Menyingkir dariku."

"Berusahalah." Levi membalas, suaranya serak. Kedengaran indah di telinga Eren.

Kemudian bibir mereka bersatu. Eren tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membuat suara aneh yang disukai Levi. Ia benci Levi. Tapi Eren lebih benci dirinya sendiri. Ia benci tubuhnya yang langsung bereaksi seolah mengingat apa saja yang pernah dilakukan jemari dingin itu di tubuhnya.

"L-Levi," Eren mendesah. Bibir Levi menyusuri lehernya. Menggigit kecil mengirim geli. "Jangan di sini."

Tak ada jawaban. Eren hanya merasakan tarikan di bahunya. Ia dibanting ke sofa dengan kasar. Serta merta, Levi langsung menindih. Mencium kembali bibir Eren dengan ganas.

Pikiran Eren kosong. Sentuhan-sentuhan Levi membuat lupa diri. Eren membiarkan dirinya dikuasai. Seperti yang pernah ia lakukan dulu. Ketika semuanya masih baik-baik saja. Kembali pada waktu di mana Levi dan Eren masih serasi untuk bersama.

Eren, kau datang kemari untuk memberi pelajaran, bukan diberi pelajaran!

Eren tersentak kaget. Tak sadar menggigit bibir Levi, membuat pria itu menjauh. Kesempatan itu dimanfaatkan Eren untuk mendorong Levi. Nafas terengah-engah tak menyurutkan tekad Eren untuk berdiri dan menatap Levi garang.

Sayangnya, Levi menangkapnya sebagai tatapan 'kucing kecil tsundere yang sedang horny'.

"Jangan ganggu aku Levi, atau kekasihku lagi. Tidakkah kau lelah aku melabrakmu tiap bulan, hah?"

"Sebenarnya, kau tidak lagi punya kekasih." Levi menyeringai, membuat Eren mendecih.

"Oh benar, dan perlukah kuingatakan kalau semua itu terjadi karena kau mengancam mereka untuk putus denganku?!"

"Mereka akan tetap setia kalau mereka memang menyukaimu," pria itu menghela nafas kasar, menyisir poninya. Sialan untuk Levi Ackerman dan pesonanya yang tidak dapat ditolak, "Dan aku sangat tidak keberatan memakanmu tiap bulan, nak."

Eren. Benci. Levi. Juga seringainya. Eren benci dirinya yang merona. Demi apa, dia baru saja dilecehkan!

"Terserah. Aku mau pulang." Eren berbalik, Levi mencegah. Ia menarik pergelangan tangan Eren. Membuat pemuda itu kembali berhadapan dengan Levi.

"Tidak." Gelas anggur yang terisi hampir penuh digenggam. Cairan keunguan itu tumpah-lebih tepatnya disiramkan. Tepat ke kemeja Eren, menciprat ke wajah. Menciptakan tetes-tetes liquid yang membuat dahaga. Levi tidak sabar untuk menjilatnya.

Eren menganga. Levi merapatkan jarak, berbisik tepat di telinganya. "Apa kau masih mau pulang dengan baju basah, bocah nakal?"

"K-Kau..." Eren tergagap. Benar-benar tak menyangka.

Memanfaatkan kesempatan, Levi mengangkat Eren bagai karung beras menuju kamarnya. Eren memekik, ia menggeram tatkala merasakan sebuah tamparan kencang pada bokongnya.

"LEVIIII!!!!"


Eren melakukannya lagi. Tidur dengan Levi untuk kesekian kali. Yang dia maksud 'tidur' dalam arti menutup mata untuk istirahat, tidak. Tapi dalam arti yang lain.

Eren melambaikan tangan di depan wajah Levi. Ia diam, berarti aman. Eren bergerak pelan, takut membangunkan. Mantannya itu sensitif, sedikit suara dapat membangunkannya. Apalagi untuk seorang yang mengidap insomnia seperti Levi.

Meringis, Eren menahan suaranya agar tidak keluar. Pinggangnya pegal, bokongnya nyeri. Levi membabat habis dirinya. Menyedot darah, menghisap sana-sini, memberi bekas yang tak hilang dalam hitungan hari.

Eren berhasil duduk, bagus. Tinggal bagaimana caranya ia keluar dari apartemen terkutuk ini. Kemejanya kotor, celananya entah kemana. Mungkin tergeletak dengan naas di keranjang kotor. Terima kasih pada Levi dan sifatnya. Kini Eren tidak punya sesuatu untuk dipakai. Menunggu pakaiannya kering ekuivalen mengumpankan diri pada buaya kelaparan.

Eren baru akan mengendap ke lemari pakaian Levi, meminjam sesuatu untuk dipakai kabur ketika ia merasa ada sebuah tangan menariknya. Ia jatuh, di atas dada telanjang. Matanya membelalak.

Levi sudah bangun. Berita buruk.

"Kau mau kemana?"

"Tentu saja pulang. Aku tidak mau terus berada di sarang drakula, ingat?" Eren berkata, penuh sarkasme.

Levi menyeringai, ingin melingkarkan tangan ke pinggang Eren kalau saja tidak ditepis duluan oleh Eren. "Tolong jaga sikapmu, Tuan Ackerman yang terhormat. Kau tidak mau kulaporkan atas tindakan pencabulan dan tindakan pemerkosaan kan?"

"Tak ada korban pencabulan yang excited saat aku masuki dan masih minta tambah, benar Dik Eren?" balas Levi telak.

Eren tidak dengar. Tadi ada ia hanya mendengar suara anjing menggonggong.

"Ada apa? Kehabisan kata-kata?" Levi bertanya, datar. Tapi demi dosennya yang botak, Eren tahu Levi menikmatinya.

"Tidak." Ia menggertakkan gigi. Menatap garang. Berusaha mempertahankan wajah stoic. Sayangnya, Eren memang tidak diciptakan untuk memiliki wajah tenang. Hanya sang mantanlah, pemegang tropi wajah datar seumur hidup yang mampu melakukannya. Alih-alih kelihatan tenang, Eren Yeager malah merona.

"Dasar masokis. Kembalilah padaku, biar semuanya jadi lebih mudah, bocah."

Tsundere. Eren Yeager barangkali punya bakat alami untuk memiliki sifat tsundere yang dikawinkan dengan masokis. Terciptalah galur murni, perpaduan sempurna antara sifat malu-malu mau suka disiksa. Cocok sekali dengan Levi yang punya genotip SSSS. Sadis-sadis seksi sekali.

Eren Yeager, pemuda yang terjajah bayangan mantannya. Levi Ackerman, pria yang menyingkirkan tiap kekasih dari mantannya. Mereka berdua rumit. Sepanjang apapun cerita ini ditulis, tak pernah cukup untuk mengungkapkan tentang kisah mereka.

Eren, hanya ingin melupakan Levi. Karena Levi, tidak boleh jadi orang yang dia sukai lagi.

Levi, hanya ingin Eren kembali. Karena Eren, adalah orang berbeda yang tidak mau tinggal begitu saja dari otaknya. Bahkan setelah 17 bulan 26 hari, tak ada hari tanpa memikirkan Eren.

Mereka rumit. Terlalu rumit untuk jadi sederhana. Tapi mereka sederhana. Karena dalam lubuk hati masing-masing, mereka hanya ingin bersama. Meskipun, tidak tahu caranya.

Series this work belongs to: