Work Text:
Malam panjang di sisi kota. Bagai tak bertuan hingga senyaplah yang menguasai ruang. Yang tersisa dan yang tengah meratapi gemintang dalam bisu hanya tinggal lampu-lampu jalanan beserta mereka—Kaveh dan Cyno.
Di sana, Kaveh mendapati waktu yang terus merangkak naik dan mereka yang masih menjadi abstraksi. Gamang dan tanpa aksi. Kaveh selalu berpikir tentang sensasi yang sama ketika diri Mahamatra itu berada di dekatnya; debaran yang asing waktu mata mereka saling menyapa atau ketika Kaveh tak sengaja menangkap Cyno sedikit lengah dan nyaris terlelap saat terjaga. Kaveh ingin sekali mendekap tubuh tersebut dan melindunginya dari prahara dunia.
Tapi Kaveh mengetahui jika ia berani mengambil langkah, maka tandanya ia pun tak akan bisa kembali. Ia tidak akan bisa melepaskan Cyno dan tidak akan pernah bisa.
Bulan datang sempurna malam ini dan semakin tinggi merajai langit. Cahaya di sekitar keduanya juga semakin menguat. Sumeru di penghujung hari selalu punya cara untuk menyadarkan Kaveh; ilham yang turun dari ilahi atau sekadar tafsir-tafsir tersembunyi dari garis rasi bintang. Kaveh tahu kalau lebih baik menyesal daripada tidak sama sekali. Maka ia menarik napas dalam-dalam, dengan tujuan sederhana guna menenangkan saraf-sarafnya sebelum bertutur memecah sunyi.
“Maukah kau berdansa denganku malam ini?”
Ajakannya disambut tatapan seribu tanya tapi Kaveh menunjukkan intensinya bukan kelakar belaka.
“Aku tidak bisa berdansa,” Kata Cyno sambil membuang muka untuk menutupi rona tipis pada pipinya.
“Aku bisa mengajarimu,” Kaveh tidak akan membiarkan kesempatan ini sirna karena tidak akan pernah ada lagi malam yang sempurna.
Cyno terhenyak untuk beberapa saat dan kembali pada realita dengan menerima uluran tangan Kaveh.
Kaveh tersenyum dan menarik pasangan dansanya mendekat dengan mengeratkan lengan pada pinggang minimalis Sang Mahamatra Umum.
Kaki langit beludru mengundang mereka untuk naik ke atas panggung. Malam menurunkan sihir kecilnya; membiarkan kupu-kupu dan kunang-kunang bersaksi lalu ikut menari. Melodi kesunyian terlantun di tengah gulita bersama angin yang mendesaukan risalah semesta atas renjana.
Cyno mengikuti ke mana Kaveh membawanya. Mengayun ke kiri dan ke kanan, menyelaraskan ketukan. Surai kelabu Cyno lantas tersibak membelah udara tiap kali dansa mereka menuntuk gerakan berputar dan Kaveh akan menangkapnya kembali. Begitu seterusnya dan seterusnya.
Di tiap langkah yang menjejaki bumi, di tiap deru napas yang terhela, Kaveh menemukan perasaannya kian menjelma nyata. Ia tidak bisa lagi mengabaikan tuntutan hatinya untuk memiliki Cyno. Lantas demikianlah dansa ini kemudian terasa lebih berarti. Ketika akhirnya keduanya saling berhadapan, bertukar kata tanpa suara, dan mencari makna dari sepasang bola mata yang bergelegak.
Ada hal yang tak mampu mereka ungkapkan lewat aksara. Kaveh juga sudah terlalu lelah bersembunyi dan membiarkan Cyno mengetahui segalanya tanpa terkecuali. Ia semakin jatuh dan terperangkap dalam kilau mata ambar Cyno, sampai tanpa disadari bibir mereka saling bertemu.
Malam panjang di sisi kota telah mencapai batasnya tatkala angan mereka berpadu satu dalam tautan jemari dan kecupan sederhana. Mereka pulang pada kenyataan. Tapi bukan lagi sebagai abstraksi. Melainkan sesuatu yang pasti.
.
.
[]
