Work Text:
Osamu kaget saat melihat Nana duduk di sofa apartemennya. Ia baru saja pulang dari reuni voli dengan teman-temannya, dan mendapati Nana sudah terduduk manis sambil menonton televisi di dalam apartemennya. Dari raut wajah Nana yang datar, pasti ia berbuat kesalahan hingga pacarnya seperti ini.
“Eh, kok ngabarin kalo mau ke apart, beb?” tanya Osamu hati-hati, takut memancing amarah Nana.
“Oh, nggak boleh ya?”
Glek. Dengan susah payah Osamu menelan liurnya. Ia mencoba mengingat-ingat dosa apa yang ia perbuat.
“Boleh kok beb, tapi tumben aja nggak ngabarin.”
Tatapan datar nana beralih dari layar televisi ke Osamu yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
“Takut ganggu kamu, tadi kan lagi reunian bareng yang lain.”
Tangan Nana menepuk-nepuk sofa menyuruh Osamu untuk segera duduk di sampingnya. Yang disuruh pun berjalan pelan-pelan, seolah satu langkah saja bisa membuat lantai runtuh.
Setelah Osamu duduk, Nana pun bertanya,
“Gimana tadi foto-fotonya? Pasti seru dong, kan bareng temen-temen.”
Shit. Darimana Nana tahu soal foto tadi? Bahkan belum ada lima jam dari acara mereka.
“Saking serunya sampe buka baju bareng cewe seksi ya.”
Osamu tergagap saat akan menjawab pertanyaan Nana. Ia tidak bermaksud untuk menduakan pacarnya itu, hanya saja kembarannya, si Atsumu memancingnya untuk foto bersama kakak Tanaka.
“Beb, sumpah itu tadi diajak Tsumu! Aku nggak bohong beb, kamu boleh tanya ke kak Kita deh kalo nggak percaya.”
Nana masih menatap datar televisi yang menampilkan acara talkshow, menghindari kontak mata dengan Osamu. Ia dongkol saat melihat story instagram Bokuto, memperlihatkan kembar Miya foto memperlihatkan punggung mereka dengan satu wanita seksi. Setahu Nana, sebelum berpacaran dengannya, kembar Miya sempat rebutan wanita yang ia tahu bernama Saeko. Melihat mereka berfoto bersama lagi membuat darah Nana mendidih.
“Hm.” Nana hanya menjawab pembelaan Osamu dengan gumaman.
“Beb please percaya sama aku, aku udah nggak ada rasa sama kak Saeko. Tadi cuma buat seru-seruan aja.” Osamu masih membela diri.
“Dulu waktu kamu deketin aku, di saat yang sama kamu juga masih sering godain kak Saeko kan? Aku tahu kok.”
Nana berusaha mati-matian menahan air matanya yang mulai berkumpul di pelupuk mata.
“Beb, aku akui aku salah. Aku nggak mikirin perasaan kamu. Tolong maafin aku beb, please.”
Kini tangan Osamu mencoba memegang tangan Nana, mencoba meyakinkannya.
“Pasti gara-gara aku gendutan kan, terus aku udah nggak cantik lagi, makanya kamu balik sama si Saeko itu.”
Suara Nana mulai bergetar menahan tangis. Osamu pun panik melihat Nana yang hampir menangis.
“Demi tuhan beb, aku sayang kamu apa adanya. Aku nggak peduli kamu mau gendut ato kurus, yang penting kamu ya kamu. Lagian selama ini kan yang bikin kamu gendutan ya aku.”
“Iya, tapi tetep aja semua cowo pasti bakal lebih milih yang lebih cantik dan seksi. Aku mah apa, udah jelek, gendut pula.”
Osamu yang melihat Nana mulai menjelek-jelekkan dirinya sendiri akhirnya tidak tahan.
“Beb, jangan pernah kamu mandang rendah diri kamu lagi. Kamu itu cantik, baik, dan banyak cowo yang bakal rebutin kamu. Bahkan si Suna aja masih sering ndeketin kamu, padahal dia tahu kalo aku pacar kamu. Jadi tolong sekali lagi, jangan mikir kayak gitu.” Ucap Osamu dengan nada serius.
Tangis Nana tidak dapat dibendung lagi. Air mata mulai turun dari pelupuk matanya. Tapi Nana masih diam dan memandang ke arah televisi, tidak peduli dengan Osamu yang ada di sampingnya.
Osamu yang melihat itu pun mendesah. Ia tidak tahu kalau yang ia lakukan tadi bisa berdampak seperti ini. Besok ingatkan Osamu untuk menghajar pantat Atsumu karena telah menyeretnya ke dalam masalah rumit ini.
“Nana, aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi please percaya sama aku. Atau kita perlu telfon Atsumu? Biar-“
“Nggak usah.” Potong Nana.
“Terus kamu maunya gimana, sayang?”
Nana memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Osamu.
“Oke, aku paham kamu cemburu sama kak Saeko, perasaan kamu itu wajar. Aku salah karena nggak bisa membaca situasi dan kondisi, bahkan sampe foto kayak tadi. Nggak seharusnya aku foto sampe pamer punggung kayak gitu, apalagi aku udah punya pacar. Aku akui kalo dulu aku sempet ngejar kak Saeko karena tertarik sama dia, tapi kak Saeko nggak pernah nganggep aku dan Tsumu sebagai seorang pria. Bagi kak Saeko, kami hanyalah adik-adiknya. Dan setelah itu aku ketemu kamu, dan sejak itu aku tahu kalo aku cuma mau kamu, dan bukan orang lain. Nggak papa kalo kamu masih marah ato kesel sama aku, tapi please maafin aku.”
Mendengar penjelasan Osamu, akhirnya Nana luluh juga. Ia pun langsung memeluk pacarnya erat-erat.
“Janji jangan pernah kayak gitu lagi. Kalo sampe kejadian lagi, aku bakal marah besar.”
Osamu mengelus-elus punggung Nana yang masih memeluknya.
“Iya, aku janji.”
