Work Text:
Twitterpated
(adj.) love-struck.
Sudah empat tahun, beberapa bulan lagi menuju 5 tahun. Jika ditanya bosan atau tidak, bagaimana Wonwoo bisa bosan dengan Mingyu yang seperti itu?
Perhatian. Lucu. Asik. Pintar. Tegas. Suka beliin dia makanan.
Jangan lupa, ganteng. Banget.
Lagi deh, banget banget banget.
Kalau boleh membantah, Wonwoo justru semakin sayang. Ini bukan bucin, karena dia tau mana yang rasional dan mana yang tidak, dan Wonwoo akan tetap memukul kepala Mingyu dengan gagang pintuーbukannya melihat dengan mata berbunga-bungaーkalau saja sifat absurd Mingyu timbul lagi.
Mingyu adalah orang kedua yang pernah Wonwoo simpan dihatinya. Cringe? Tapi memang gitu nyatanya.
Orang pertama yang Wonwoo sayang adalah mantan pacar pertamanya, perempuan manis teman sebangku semasa SMP. Aulia Ayu, biasa dipanggil Lia. Tapi khusus Wonwoo, dia lebih sering memanggilnya Ayu.
Sekedar info, Ayu itu cantik dalam bahasa jawa. Iya, Wonwoo dulu sebucin itu.
Saat Ayu menerima ajakannya untuk berpacaran, Wonwoo pulang sekolah dengan senyum lebar diwajah. Pamer dengan kedua orang tuanya saat makan malam bersama, 'Mama, Wonwoo punya pacar loh,' yang dibalas dengan senyum malu dari Mama dan tawa dari Papa.
Setiap hari, mereka berdua selalu bersama, kalau kata teman sekelasnya dulu, sudah seperti mainan magnet dan pintu kulkas. Nempel terus tidak kenal tempat. Ke kantin bersama, mengerjakan tugas matematika bersama, pokoknya semua bersama kecuali masuk toilet saja.
Istilah lainnya, terlalu diumbar. Terlalu dipamerkan. Terlalu banyak yang tau, hingga semuanya menjadi sebuah kebiasaan dan hapal dengan kehadiran mereka berdua yang sudah seperti paket lengkap bakso dan teh botol.
Sampai akhirnya, fase bosan itu datang. Bukan pada Wonwoo, tapi Ayu. Sedih memang, padahal sudah 29 hari, sebentar lagi happy monthsary, begitu fikir Wonwoo.
Tapi sedih itu tidak sampai menangis atau mengurung diri dalam kamar. Tidak ada juga yang berubah, kecuali saat keesokkan harinya, mereka tidak lagi duduk bersama. Namun, lagi, Wonwoo tidak protes. Toh kalau mereka tetap duduk bersampingan, pasti akan canggung, kan?
Setelah putus, Wonwoo mengira jika hari-hari setelahnya akan berjalan seperti biasa. Nyatanya tidak. Setiap dia pergi ke kantin atau sekitar sekolah, selalu ditanya;
"loh, nggak bareng pacar?",
"pacar kamu mana, Won?",
"kok sendirian?",
"tumben nih gak ada yang nemenin?",
serta pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat Wonwoo risih, kesal, dan nostalgia(?)
Semakin lama, semakin banyak yang bertanya. Wonwoo sudah berulang kali menjawab, kalau mereka sudah putus. Tapi tetap saja, karena terlalu banyak yang tau tentang hubungan mereka, pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung mereda. Hingga sampai pada tahap Wonwoo tidak mau lagi menjawab. Dia bosan menjawab, dia bosan harus mengingat kalau mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Dan mindset seperti itu Wonwoo bawa sampai dia bertemu dengan Mingyu dibangku SMA.
Awal pertemuan mereka terjadi karena Mingyu lupa membawa dompet, padahal sudah makan dua mangkuk soto dan dua gelas es teh dikantin sekolah. Kebetulan saat itu sedang jam pelajaran penjas dikelasnya, Wonwoo izin untuk membeli minum. Sedangkan Mingyu? Ya apalagi kalau tidak bolos jam pelajaran teori.
"Aku itu bukan bolos, abis dari kamar mandi liat ibu kantin jualan soto, masih ngepul gitu kuahnya. Ya sayang dong kalo nggak mampir, iya kan?" bela Mingyu disuatu hari setelah mereka resmi berpacaran, dan Wonwoo hanya menjawab dengan tarikan pelan dirambut sang pacar.
Karena Wonwoo sedang membawa dompet saat itu, jadi dia tawarkan Mingyu untuk memakai uangnya terlebih dulu. Kisah selanjutnya, alasan mau ganti uang kamu Mingyu manfaatkan untuk mendekati Wonwoo.
Hingga 5 bulan kemudian, Wonwoo pulang kerumah diantar motor matic putih oleh Mingyu, dengan sebungkus pentol goreng ditangan dan sebuah deklarasi cinta yang diterima.
Ada banyak perbedaan antara hubungannya yang sekarang dengan yang dulu. Salah satunya adalah;
‘Aku belum siap, Gyu. Jangan bilang siapa-siapa dulu, ya?’ dan Mingyu hanya mengangguk sembari memasangkan helm ke kepala Wonwoo.
Dimulailah hubungan mereka yang disimpan dibalik bakwan itu. Kalau ada yang bertanya tentang kedekatan mereka, keduanya pasti akan menjawab;
‘Berteman itu bebas, bos. Sama siapa aja bisa.’ jawaban yang dibuat oleh Wonwoo dan disetujui Mingyu.
Tahun pertama.
"Masih belum siap ya, Won?" Wonwoo hanya mengangguk, satu tangan menyodorkan pisang cokelat kedepan mulut Mingyu yang diterima dengan senyuman.
Tahun kedua.
"Won, aku mau kenalan sama mama papa kamu, boleh nggak?" Wonwoo kembali mengangguk, dan Mingyu tidak sadar kalau dia terus tersenyum bahkan saat dilampu merah dekat rumah Wonwoo.
Kelulusan SMA.
"Aku tadinya mau beli bunga, tapi mahal banget gila. Jadi aku beli gantungan kunci Naruto. Kamu mau yang kodok atau rubah?"
"Nanti aja ya Mingyu, dirumah aja. Rame banget nih, takut diliat yang lain."
"Oh.. Oke, aku tunggu di parkiran belakang ya kalo udah kelar acaranya?"
Masuk kuliah.
"Pijetin kepala aku dong, Won. Hampir gila nih belajar SBM."
Wonwoo tersenyum, jarinya memijat kepala Mingyu yang bersandar diatas bantal dekat kakinya. "Susah, ya?"
"Banget. Bersyukur deh kamu jebol SNM."
Satu kecupan Wonwoo tempelkan pada rambut Mingyu, memberi semangat secara tersirat.
"Bibirnya juga dong, Won."
Semester 2
"Mau dijemput dimana?"
"Perpustakaan kampus aja, Gyu."
"Di rektorat aja mau, nggak? Kasian kamu jalan kaki dari sipil ke rektor jauh banget."
"Jangan, masih banyak anak teknik disini. Rektor kan sampingan sama FT."
"Oh.. Okedeh, aku otw perpus ya?"
"Oke,"
Iya, sudah hampir lima tahun, dan selama itu Wonwoo merasa hubungan mereka baik-baik saja. Ya karena memang baik-baik saja. Tidak ada kata bosan, justru Wonwoo jadi semakin sayang.
Dulu saat berpacaran dengan Ayu, Wonwoo tidak pernah memiliki foto perempuan itu dalam galeri ponselnya. Karna fikirnya ‘Buat apa? Kan besok ketemu lagi.'
Tapi saat berpacaran dengan Mingyu, alurnya berbeda. Lockscreen nya foto sang pacar saat tidur, homescreen foto mereka berdua saat liburan bersama, bahkan Wonwoo memasang foto Mingyu saat baru berumur 5 tahun didalam dompetnya;
"Kamu dapet foto ini darimana, Won?"
"Dikasih Ibu."
"Ibu aku?"
"Iya,"
"Kok aku gak tau kalo kamu deket sama Ibu aku?"
"Liburan kemarin kan kamu sibuk main sama temen SD kamu. Sampe aku dianggurin dirumah kamu bareng Ibu."
"Hehe, ya maap atuh.."
Langgengnya hubungan mereka itu Wonwoo artikan sebagai hasil dari tidak mengumbar kemesraan seperti pengalamannya dengan Ayu. Maka dari itu, sampai sekarang saat Mingyu mengajaknya PDA, Wonwoo selalu marah, selalu menolak.
Kenapa? Karena dia sayang Mingyu, karena dia tidak mau hubungannya dengan Mingyu berakhir seperti cinta pertamanya.
Wonwoo sadar kalau dia egois. Sangat sadar.
Tidak hanya Mingyu, Wonwoo juga ingin pamer pacar. Ingin berkata ‘Nih kenalin, pacar aku, namanya Mingyu. Ganteng, kan?’ setiap dia kumpul dengan anak-anak kampus.
Tapi sekali lagi, Wonwoo tidak ingin hubungan yang hampir 5 tahun ini harus selesai karena terlalu dipamerkan. Wonwoo tidak mau kehilangan Mingyu. Dia belum siap kalau nantinya Mingyu mencapai fase bosan seperti Ayu.
Intinya, dia tidak mau hubungannya yang sekarang gagal seperti dulu.
Wonwoo tidak salah, kan?
