Work Text:
Amorevolous
(adj.) loving.
Saat pertama bertemu sejak edisi aku masih marah ya sama kamu! beberapa hari terakhir, Mingyu tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Wonwoo saat itu juga. Didepan gerbang rumah Wonwoo. Dilihat Pak Hasan yang pura-pura tidak tau.
Wonwoo membalas dengan pukulan dipundak Mingyu, namun jelas telinganya berubah merah karena malu. Walau tidak terlihat, tapi sebenarnya Wonwoo juga rindu. Rindu rambut cokelat yang lengket karena diusap gel. Aroma parfum sandalwood yang menguar dari pergelangan tangan Mingyu. Aroma menthol pasta gigi yang masih terasa dari bibirnya.
Intinya, Wonwoo rindu.
"Aku kangen kamu,"
Mingyu tertawa pelan, tangannya menyentil dahi Wonwoo hingga pacarnya itu mengaduh dan cemberut, "baru berapa menit pacaran, udah bucin aja."
Wonwoo tersenyum, menempelkan wajahnya pada hoodie hitam Mingyu dan dan bergumam pelan "Kalo gitu kamu jangan harap bisa lepas dari aku."
"Dirumah kamu aja, yuk?" Wonwoo semakin mendalamkan wajahnya pada hoodie Mingyu. Dirumahnya saja dia bilang? Memangnya apa yang bisa mereka lakukan dirumah Wonwoo selain itu?
"Aku bawa satu bungkus di tas."
"Rese.."
"Hehe.. mau nggak?"
"Mingyu!"
Samar terdengar suara tawa Pak Hasan dari dalam pos satpam, dan jika lebih teliti dilihat lagi, sebenarnya ada dua pasang mata yang melihat interaksi mereka dari balik kaca jendela, yang satu tertawa pelan sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala dan tersenyum teduh. Wonwoo jadi semakin sayang Mama dan Papa nya.
"Dirumah ada Mama Papa," Wonwoo memberi tau, wajahnya sudah tidak menempel dengan hoodie milik Mingyu, namun rasanya aroma parfum pacarnya itu seperti menempel di hidungnya. Candu.
“Aku males banget ke kampus, pengen peluk kamu aja sampe besok,” Mingyu berkata pelan, helm yang masih dipakai sedikit membuatnya kesulitan untuk mencium aroma shampoo dirambut Wonwoo. Walau begitu, Mingyu tetap melakukannya. Mencuri banyak hirupan aroma segar daun mint yang sudah lama tidak dia rasakan. “Kira-kira Jeonghan bakalan bunuh kita, gak?”
“Iya. Seratus persen.”
“Oke..”
“Jeonghan tau?”
“Iya. Minghao juga tau, ya?”
“Iya. Si kampret nggak sopan banget bukain hp orang sembarangan.” Wonwoo menjawab sambil menggerutu. Dia jadi ingat waktu itu, saat Minghao melihat wajahnya bingung sembari menunjukkan layar ponsel Wonwoo yang terpajang foto Mingyu. “Tapi aku nggak marah, rasanya enak bisa ngasih tau orang lain kalo kamu itu pacar aku.”
Alis mingyu memincing, “Diajarin siapa kamu? Kok sekarang pinter gombal gini?”
“Khusus buat pacar aku aja kok, hehe.”
Mingyu gemas, bibirnya terkatup rapat menahan senyum yang rasanya mau terbuka kapan saja. “Otak kamu goyang ini pasti, kan? Kepentok stang motor?”
“Bukan. Coba tebak, kepentok apa?” Wonwoo tersenyum jahil, menatap Mingyu yang memincingkan matanya. “Kepentok cinta kamu,”
“Jijik,”
“Kok jijik, sih!”
Mingyu sedikit menggerakkan bahunya, memberi gestur merinding sambil menghidupkan Motor. “Udah cepetan dipake itu helm nya, katanya tadi mau beli pentol.”
“Ih jawab dulu! Masa aku gombal dibilang jijik,”
“Oh kamu tadi gombal? Aku kira kerasukan setan.”
“Mingyu! Rese, dasar!”
“Cepetan naik, atau mau kutinggal?”
“Jangan,” Wonwoo langsung membawa tubuhnya menaiki jok belakang motor matic Mingyu. Seperti biasa, kedua tangannya dia masukkan kedalam kantung hoodie Mingyu.
“Awas aja ya kalo duit aku dikantong ada yang ilang.”
“Pelit..”
