Work Text:
"Kazuha!"
Seorang pelayan lelaki muda berapron hijau gelap duduk bersandar di breakfast bar setelah cafe tutup. Barista di belakang meja yang sedang bersih-bersih pun menyahutinya, sambil tetap membersihkan semua equipment.
"Ada apa, Scara?" Pemuda berambut putih gading yang berdiri di balik meja bar itu menyahuti sang pelayan lelaki. Sorot matanya hangat dan ia tersenyum ramah. "Oh, kau kelihatan sebal. Apa ada customer yang mengganggumu lagi?"
"Kalau maksudmu mengganggu itu meminta nomor teleponku dan alamatku—meh!" Scara menjulurkan lidah dengan jijik. "Aku tinggal abaikan mereka dan tendang mereka kalau masih ngotot!"
"Tolong jangan tendang customer sembarangan." Barista bernama Kazuha itu membalas dengan wajah prihatin.
"Aku tidak melakukannya dengan seragam ataupun di area cafe."
Senyum di wajah Kazuha sedikit memudar. "Penguntit lagi?"
"Sudah aku atasi." Scara mengibaskan tangan dengan remeh. "Masalahnya tidak sedalam itu, tapi tetap saja mengganggu!"
"Oh, masalah apa kiranya itu?" Kazuha bertanya dengan gaya puitis yang agak-agak ketinggalan jaman.
Scara sekali lagi mencebik, tidak suka pada gaya puitis Kazuha. Sebuah respons yang hanya dibalas Kazuha dengan senyum ramah. Setidaknya usahanya berhasil mencairkan suasana yang tadi sempat tegang.
"Janji tidak tertawa?" Scara melirik ragu ke arah Kazuha. Tampak waspada.
Kazuha menggambar tanda silang di dadanya. "Janji."
Diam sejenak. Scara mengamati cafe yang telah tutup dan sepi. Meja dan kursi sudah ditata rapih dan sebentar lagi jam pulang mereka. Kazuha menanti dengan sabar sembari meletakkan gelas-gelas dan membersihkan botol sirup.
"Ada customer yang bilang aku tidak cantik."
Muncul kesunyian panjang setelahnya. Scara melirik ke belakang ke arah Kazuha, setengah menduga Kazuha sedang berusaha menahan tawa di belakang punggungnya, tapi barista itu hanya terdiam. Ekspresinya tenang seperti biasa, tapi jelas ada rona kebingungan di wajahnya.
"Itu…." Kazuha mencoba menemukan kata-kata. Tidak menyinggung Scara maupun terdengar meremehkan masalah. "Tidak biasa … Kau kenal siapa customer itu?"
Scara menggeleng. "Aku belum pernah melihatnya. Aku juga belum pernah melihatnya di sekitar sini, jadi mungkin rumahnya tidak di dekat sini." Pemuda itu memasang tampang jijik. "Makanya dia berani bicara songong seperti itu. Tidak heran."
"Kau tidak bertengkar dengannya, kan?" Kazuha bertanya hati-hati berharap tidak menyinggung perasaan Scara.
"Bagaimana bisa? Aku terlalu syok dengan hardikannya sampai-sampai tidak bisa berkomentar."
Kedua alis Kazuha bertemu. "Dia menghardikmu?"
Agaknya Scara menyadari perubahan nada bicara Kazuha. Ia melirik ke arah sang barista yang kini diam mematung dan tampak agak kaku.
Dengan gaya main-main, Scara menyentil pelan tepat di tengah kerutan dahi Kazuha.
"Berhenti pasang tampang menakutkan begitu. Tidak enak dilihat." Scara menghela napas, lalu kembali memandang ke depan. "Perempuan yang sepertinya sedang ada masalah. Aku melayaninya seperti biasa dan saat aku kembali mengantarkan bill kepadanya, tahu-tahu saja dia bilang menurutnya, aku tidak cantik. Dan senyumku seram."
Untuk yang terakhir itu, Kazuha kelepasan tertawa. Scara langsung memelototinya. Kepergok, Kazuha segera memperbaiki posturnya dan berdeham.
"Penolakan pertamamu, ya." Kazuha berkomentar. "Akhirnya ada yang kebal pada pesonamu."
"Ya, sulit dipercaya, bukan?" Scara menyahut, tidak tersinggung. "Padahal biasanya semua orang akan langsung terpana padaku meski aku tidak tebar pesona."
"Kau tidak perlu tebar pesona untuk jadi cantik." Kazuha berbalik dan mematikan lampu meja bar. Sebelum pergi ke ruang pegawai, Kazuha menolehkan separuh wajahnya ke arah Scara untuk kali terakhir. "Dan kau sudah bekerja dengan baik untuk tidak terprovokasi."
Kata-kata itu sukses membuat Scara mematung.
"Aku tunggu di parkiran. Kalau sudah selesai, langsung susul saja." Kazuha pamit, melambaikan tangan dan segera berlalu ke ruang pegawai, meninggalkan Scara yang terdiam di tempat dengan rona merah di pipi.
Pelayan lelaki itu langsung menyugar rambut frustrasi setelah langkah Kazuha tidak lagi terdengar. Ia menggeram kesal dan bergumam pelan di tengah sunyi:
"Dasar licik."
***
Sekembalinya ke apartemen, Kazuha yang berdiri paling depan langsung membuka pintu dan mengganti password. Sudah saatnya mereka mengganti kata sandi apartemen ini. Setelah penyetelan selesai, Kazuha membuka pintu. Ruangan masih gelap. Ia menyalakan lampu dan melihat segalanya masih rapih. Masih aman, sejauh ini.
"Berhentilah paranoid dan segera masuk!" Seseorang langsung mengeluh di belakang Kazuha.
"Ah, ya, maaf. Silakan." Kazuha buru-buru minggir, mempersilakan pemuda yang berdiri di belakangnya untuk masuk duluan ke apartemen sementara Kazuha masuk belakangan, mengawasi lorong dan memastikan tidak ada yang mengikuti atau mengintip mereka.
Di belakang, terdengar suara kantung belanja yang terjatuh. Kazuha yakin salah satu kantung belanja bulanan itu telah tergeletak di atas meja dapur mereka seperti biasa. Kazuha pun menutup dan mengunci pintu, mengaktifkan sistem keamanan.
TUK!
Kantung belanjaan Kazuha terjatuh ke lantai saat tiba-tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Scara?" Kazuha menoleh, melihat pemuda berambut gelap itu kini ada di belakangnya. Dengan tubuh rapat ke punggungnya dan wajah tenggelam dalam jaket denimnya. Kazuha menyentuh lengan kecil Scara di pinggangnya. "Maaf, apa aku membuatmu menunggu lama?"
"Mana pujianku?"
Pertanyaan Kazuha tidak dijawab, malah disahuti dengan pertanyaan lain.
Kazuha terdiam dan mungkin karena tidak sabar, Scara sedikit mengangkat kepala memperlihatkan tatapan memohon-anti-ditolak andalannya.
"Aku berhasil menahan diri dan tidak membuat masalah walaupun customer tadi menjengkelkan sekali." Pelukan di pinggang Kazuha semakin erat. "Tapi kau belum memujiku."
Mendengar nada manja itu, Kazuha mengelus puncak kepala Scara—kekasihnya. "Karena itu kau begitu tidak sabar tad—mmhn!"
Tidak menunggu Kazuha menyelesaikan kata-katanya, Scara langsung membungkam bibir Kazuha dengan ciuman. Lembur pada awalnya, tapi berubah menuntut tatkala pemuda cantik itu meraih wajah Kazuha dan memperdalam ciuman mereka. Kazuha tidak menolak perlakuan itu. Ia malah balas memeluk kekasihnya kini, sama eratnya. Hanya ketika Scara menarik diri lebih dulu, Kazuha ikut berhenti.
"Kelihatannya ada yang tidak sabar malam ini." Kazuha mendekatkan wajahnya sampai dahi mereka bertemu.
Tepat di depan wajah Kazuha, Scara bersungut kesal. "Apa kau menghitung berapa hari kita tidak bisa bermesraan begini?"
Kazuha pura-pura berpikir. "Hm … baru tiga hari?"
"Sudah tiga hari!" Scara mengoreksi dengan tegas. Ia langsung mengalungi leher Kazuha. Bergelayut manja padanya. "Kau sudah tidak sibuk hari ini, kita pulang cepat dan akhirnya bisa bersama. Aku juga menyelesaikan masalahku sendiri tanpa masalah lain. Bukannya aku layak dapat pujian untuk itu?"
Mendengar semua itu, Kazuha merasa agak malu pada dirinya sendiri. Scara benar. Sudah tiga hari ia sibuk dengan urusan cafe karena hari libur panjang yang kemarin terjadi dan cafe sedang ramai-ramainya. Ia juga harus membeli bahan baku kemarin sehingga tidak ada waktu. Memang, ini bukan kali pertama ini terjadi. Rutin, malah, setiap bulan.
Tapi mungkin karena kejadian siang tadi, Scara jadi lebih ingin dimanjakan malam ini. Dan Kazuha tidak keberatan untuk itu.
"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik." Kazuha menepuk punggung Scara, mengelusnya. Lalu mengecup penuh sayang kening kekasihnya. "You've done well … My Love."
Sejenak, mereka bertukar pandang. Cahaya terang dari ruang tamu flat mereka tidak cukup untuk meredakan gelora yang tersulut di antara keduanya. Tidak lama, Kazuha mengecup pelan kekasihnya. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Menikmati momen yang ada, Kazuha menumpahkan semua kerinduan yang juga telah dipendamnya akan kehangatan sang kekasih. Momen mereka bersama menghabiskan malam berdua.
"Ka-Kazuha…." Di sela ciuman mereka, Scara mencuri napas, membisikkan nama Kazuha tepat ke bibirnya. Kazuha mengira itu permintaan untuk berhenti karena ia merasa tubuh Scara mulai lunglai dalam dekapannya.
Tapi ternyata ia salah.
Karena di detik ia lengah, saat itu juga Scara berubah semakin liar. Ciuman mereka semakin dalam. Tubuh Scara mendesaknya, lalu mendorongnya. Pinggang Kazuha membentur kepala sofa di belakang mereka. Kazuha melepaskan diri dengan lembut: sesuatu yang sulit karena Scara terus menerus mendekatinya seperti seseorang yang putus asa mencoba menggapai udara untuk bernapas.
"Scara … besok masih hari kerja." Kazuha mengingatkan dengan napas terengah. Ia mencium pipi Scara. "Kau tidak boleh terlalu lelah."
"Kalau hanya sekali, aku tidak akan lelah. Pekerjaan besok juga tidak terganggu." Tidak menyerah, Scara justru semakin merapatkan tubuh mereka. Begitu rapat sampai Kazuha bisa merasakan bukti gairah mereka saling bersambut. Saling menginginkan. "Ya? Boleh, kan, Kazuha? Aku sudah menunggu malam ini. Janji tidak akan meminta lebih."
Mendengar kata-kata penuh permohonan begitu, Kazuha tidak tega. Ia mungkin senang mempermainkan Scara, tapi melihatnya memohon, siapa juga yang tega?
"Aku yakin pada janjimu," Kazuha tersenyum penuh rasa bersalah. "Aku hanya tidak yakin pada pengendalian diriku."
Kazuha memegang pundak Scara dan mengecup bibirnya untuk kali terakhir, sebelum mengangkat tubuh kekasihnya dengan mudah ke dalam gendongan. Scara dengan senang hati mengalungkan lengannya ke pundak Kazuha. Bergelung manja dalam dekapan kekasihnya.
"Jadi apa pun aku nanti, aku minta maaf lebih dulu sekarang, ya. Takut tidak sempat."
"Kau serius? Kita sudah melakukannya berulang kali dan kau masih khawatir?" Scara menyahut tidak percaya. Tapi kata-kata itu kelihatannya tidak cukup meyakinkan Kazuha, sehingga Scara pun menyapukan jadinya di sepanjang tulang rahang Kazuha yang mulus. "Kau sudah sadar tubuhku tidak serapuh kelihatannya, Kazuha."
Dengan sengaja, Scara mendekat dan berbisik tepat ke telinga kekasihnya.
"Just. Do. Your. Worst." Ia membisikkan setiap kata itu dengan suara yang sengaja dibuat sensual dan menggoda. Jari jemarinya turun, menuruni garis leher Kazuha sampai jauh turun di kancing pertama kemejanya. Melepas kancing itu tanpa perlu banyak usaha. "Honey."
Mendengar restu itu, Kazuha tampak sedikit lebih tenang.
"As you wish, My Love."
Selangkah demi selangkah Kazuha berjalan ke dalam kamar tidur. Pintu kamar tertutup kemudian dan apa yang terjadi malam itu sampai pagi, adalah rahasia mereka berdua.
***
"Satu Moccacino hangat, silakan." Kazuha menyerahkan secangkir moccacino hangat ke arah customer wanita yang memilih duduk di breakfast bar di dekat meja barista. Hari ini ia merangkap sebagai waiter di belakang meja karena salah satu rekan kerjanya tidak masuk.
Di depannya, seorang perempuan berkucir dua duduk dengan wajah yang … seperti sedang mengamatinya dengan seksama. Kazuha menyadari tatapan tajam sang wanita, tapi ia lebih memilih untuk tidak menanggapinya dan lebih baik langsung kembali ke belakang meja pelayanan.
Namun sepertinya takdir tidak mengizinkan.
"Kakak … cukup akrab pelayan menyeramkan di belakang sana, ya?"
Kazuha nyaris tidak memercayai pendengarannya, tapi gadis tidak dikenal itu menunjuk tepat ke arah Scara yang sedang mengantarkan pesanan ke salah satu meja pelanggan. Sekarang Kazuha ikut tidak percaya pada penglihatannya.
"Maaf, Nona, tapi…." Kazuha berdeham, mencoba menjaga sikap profesional. Dia yakin telah memastikan tidak ada jejak-jejak percintaan semalam yang ada di bagian terlihat di tubuhnya dan dirinya serta Scara sudah sepakat untuk bersikap profesional selama di tempat kerja, jadi seharusnya tidak masalah. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Belum, tentu saja belum. Ini pertama kalinya kita bicara." Wanita muda itu meminum kopinya dengan khidmat. "Kakak pandai membuat kopi yang nikmat."
"Terima kasih pujiannya." Kazuha mengangguk sopan.
Kemudian tidak ada lagi kata-kata. Suasana canggung langsung merebak saat Kazuha sadar, dirinya berdiri mematung tanpa diajak bicara. Mungkin seharusnya ia pergi. Tapi ia begitu penasaran. Bagaimana perempuan ini bisa tahu hubungannya dan Scara? Dan bagaimana ia bisa menunjuk Scara dengan tepat tanpa menoleh ke belakang?
"Kalau Kakak bertanya-tanya, saya yang membuat dia kesal kemarin." Wanita itu berujar sembari bersungut kesal sekarang.
"Oh." Kazuha mengingatnya. Tidak merasa ada gunanya mengalihkan topik, ia pun memutuskan untuk jujur. "Anda yang kemarin bilang dia tidak cantik?"
Perempuan itu menggerutu kesal. "Orang yang terlalu sombong kadang perlu ditampar kenyataan sedikit!"
Kazuha tersenyum pelan menanggapi keluhan itu. Setidaknya bukan keluhan ke kafe ataupun pelayanannya.
"Tapi Kakak ini," Wanita itu mendongak menatap Kazuha. Pandangannya lurus, tanpa takut maupun ragu, padahal menurut sang wanita tadi, ini kali pertama mereka saling bicara. Tapi wanita ini sama sekali tidak sungkan menatapnya. Seperti … sudah mengenalnya atau … sudah menduga ini akan terjadi. "Apa Kakak yakin memilih bersamanya?"
"Hm? Apa maksud Nona?" Kazuha mengerjap bingung.
"Laki-laki yang bersama Kakak itu, Kakak mengenalnya dengan baik, kan?"
Pertanyaan itu seketika membuat Kazuha terdiam. Sang wanita menyesap kopinya lagi sampai hanya tersisa separuh.
"Saya tidak punya masalah dengan seseorang yang memasang senyum palsu setiap saat, tapi dia … agak berbeda." Sang wanita mencuri pandang ke arahnya lagi. Tapi kali ini disertai senyum tenang. "Melihat reaksi Kakak, sepertinya kalian sudah mengenal satu sama lain."
"Dibilang kenal … saya tidak berani berasumsi seperti itu. Tapi satu hal yang berani saya katakan…" Kazuha menyentuh dadanya yang terasa hangat. Setiap kali mengingat Scara, mengingat hari berhujan saat mereka pertama bertemu, semuanya yang telah mereka lalui untuk sampai ke titik ini, tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Kazuha lebih dari: kedamaian.
Kazuha memberikan senyum terbaiknya kepada sang wanita. "Saya sama sekali tidak menyesal memilihnya."
Mendengar jawaban tanpa ragu itu, sang wanita berkucir tersenyum puas. Ia meneguk kopinya sampai tandas.
"Ah, senangnya mendengar semangat itu dari orang lain di pagi hari!" Wanita itu tersenyum ramah. Ia lantas mengeluarkan selembar kartu nama yang ia tunjukkan kepada Kazuha. Tidak diberikan. "Mona Megistus. Kolumnis di berita harian Steambird. Salam kenal, Kazuha!"
Inginnya Kazuha terheran-heran, tapi ia sudah melihat beberapa hal unik di dunia ini. Butuh usaha lebih jika ingin membuatnya terbengong-bengong lagi.
"Tidak hanya tahu kebijakan kami dalam menerima kartu nama, Anda juga tahu nama saya, Nona Megistus." Kazuha memuji. "Anda punya kemampuan yang cukup unik."
Mona mendebas. "Unik, tapi tidak bisa memberiku uang lebih."
Mona meraih sesuatu dari tasnya. Selembar uang yang ia tinggalkan di bawah cangkir. Wanita itu mengedip.
"Sedikit tip karena kemarin tulisanku jadi headline utama!" Ia lantas pergi berlalu. "Aku akan mampir lagi!"
Kazuha menerima tip itu dan membereskan meja. Ia mengantungi uang itu dengan senyum membayang. Tanpa disadarinya, seorang pelayan lelaki berambut gelap memandang tajam ke arah dirinya.
***
"Wanita menyebalkan tadi pagi bicara denganmu, apa saja yang kalian bicarakan?"
Sepulangnya ke flat mereka, Kazuha sama sekali tidak dibiarkan sendiri oleh kekasihnya yang mengikuti dan setia memeluknya tanpa pernah melepasnya sedetik pun.
"Scara—Sayang, bukankah malam ini jatahku memasak makan malam?" Kazuha berdiri diam di depan kompor, tidak berani menyalakannya. "Anu, boleh lepas aku sebentar? Janji aku tidak akan ke mana-mana."
Malang bagi Kazuha, kekasih yang cemburu tidak semudah itu dibujuk rayu.
"Kalian berkenalan? Dia memberimu namanya? Apa kau juga mengenalkan dirimu?"
Bagai anak kucing yang sedang merajuk, Scara terus mencecari Kazuha dengan segudang pertanyaan.
"Kazuha. Hei, Ka-zu-ha!" Scara terus menggelayutinya manja.
Kazuha hanya bisa menenangkan Scara dengan elusan pelan di kepalanya, tapi Scara tidak pernah membiarkan kekasihnya itu sendirian sampai jam makan malam telah lama lewat.
"Ayolah, Scara, makan malam tidak akan selesai kalau begini caranya…."
***
