Actions

Work Header

A Tiny Visitor

Summary:

Pada hari libur, CCTV kafe mendapatkan pergerakan tidak terduga dari kafe yang seharusnya sudah tutup.

Apa ada penyusup?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di kala hari sedang tidak sibuk dan baik Kazuha maupun Scara memiliki waktu bersama lebih banyak, mereka akan menghabiskan waktu untuk bersantai di ruang utama. Seperti pagi ini, ketika hari ini adalah hari libur nasional dan kafe mereka buka lebih siang, mereka menghabiskan waktu santai di sofa ruang utama setelah mandi di pagi hari.

"Kazuha?" Sosok cantik yang duduk dengan kaki melintang di atas pangkuan Kazuha bicara. Namun pandangannya masih terarah ke buku yang ia baca.

"Ya, Scara?"

"Aku yakin bilang yang sakit itu betisku."

"Benar."

"Aku tidak bilang yang sakit itu paha, kan?"

"Hmm…." Kazuha bergumam menanggapi, tapi sama sekali tidak menggubris nada peringatan dari Scara. "Pertanyaan bagus. Beruntung, aku punya jawaban yang bagus untuk itu."

Tanpa tahu kata mundur, tangan pemuda berambut putih gading itu malah semakin naik, pelan memijat paha putih mulus kekasihnya.

"Kau merasakan itu? Ototmu tegang sekali di bagian ini." Kazuha manggut-manggut seolah mendadak menjadi ahli otot dan orthopedi dalam semalam. "Hmm, hmm, ini tidak boleh dibiarkan. Kalau dibiarkan bisa gawat."

Scara tidak merasakan niatan aneh dari Kazuha. Pijatan itu jelas memang menyentuh urat dan ototnya yang pegal, tapi senyum polos Kazuha yang terlalu sempurna, dibarengi dengan tidak serasinya cara lelaki itu menekan terlalu lama di titik-titik bekas cumbuan mereka semalam … Scara tidak sebodoh itu.

Telapak kaki Scara langsung mendarat di pipi Kazuha. "Aku berubah pikiran!"

Kazuha bahkan tidak merasa kesakitan. Tentu saja, itu karena Scara tidak serius menendang wajahnya. Kalau serius, sekarang Kazuha sudah akan terlempar sampai terjungkal dari sofa.

Scara segera menarik kakinya dari pangkuan Kazuha.

"Aww, padahal yang kiri belum selesai."

Scara mendecih, kakinya menendang pundak Kazuha kali ini. "Kalau kau mau menjalankan rencana kotor, paling tidak, atur mukamu itu! Sok polos seperti itu, anak kecil juga tahu kau punya niat jahat!"

Mendengar kejahatannya terbongkar, Kazuha segera meminta maaf. Dengan tenang, Kazuha menyingkirkan kaki Scara dari pundaknya dan mulai memijat jari jemarinya. Kali ini Scara tidak menolak. Bahkan ia menyingkirkan bukunya untuk berbaring sepenuhnya di sofa, menikmati pelayanan dari Kazuha sepenuhnya. Melihat pasangannya tenang, Kazuha tersenyum dalam diam.

Sampai alarm di ponsel Kazuha berbunyi mengganggu mereka. Kazuha melirik ponselnya dan melihat notifikasi aktifitas pergerakan terlacak di CCTV depan kafe.
Kazuha mengerutkan kening. Jelas pintu depan kafe masih terkunci. Jalanan di depan kafe pun tampak sepi.

Bukan dari luar, kalau begitu?

"Ada apa?" Sadar perhatian Kazuha berpindah, Scara melongok ke balik pundak kekasihnya, ikut mengamati CCTV yang langsung dipindahkan Kazuha secara real time ke laptopnya. Scara langsung berubah serius. "Kafe?"

"Ada pergerakan terdeteksi CCTV." Kazuha mengangguk. "Tapi … tidak ada siapa pun yang terlihat masuk "

Penyusup?
Satu pertanyaan itu bergema tanpa suara di antara mereka. Penyusupan bukan hal baru bagi bisnis kecil mereka. Sudah beberapa kali terjadi untuk beberapa motif berbeda. Ada yang saingan bisnis dan ada juga … karena ulah penguntit.

"Sebaiknya aku cek dulu ke sana." Kazuha menutup laptop dan berdiri.

"Aku ikut." Scara langsung ikut berdiri dan mengambil jaketnya, sementara Kazuha mengambil kunci mobil.

"Aku yang mengemudi." Kazuha lalu membuka kunci apartemen dan pergi.

***

Ketika mereka sampai di cafe, mereka segera membuka pintu samping dan menyalakan lampu. Tentu saja, mereka menjadi satu-satunya orang yang ada di sana. Yang pertama tiba di hari libur yang seharusnya menjadi jadwal mereka mengambil waktu buka lebih siang dari biasa.

"Aku akan mengecek bagian belakang." Scara berkata.

Kazuha mengangguk. "Hati-hati."

Mereka berpencar dan Kazuha mulai memeriksa berdasarkan ingatannya. Dari meja dan kursi, semuanya masih ada di tempat. Bahkan tidak ada yang bergeser. Kazuha melihat semua CCTV. Semua lampunya masih menyala dan kameranya bergerak ketika ia melambaikan tangan. Masih sensitif dan tersambung.

Lalu apa yang kiranya menyebabkan gerakan itu? Kazuha susah menyetel CCTV di sini agar tidak terlalu sensitif pada gerakan yang kurang dari seekor mamalia kecil. Jadi apa….?

"Kazuha, sebaiknya kau lihat ini!"
Suara Scara memanggil dari belakang. Tidak terdengar darurat, tapi cukup kencang untuk menarik perhatian.

Berlari, Kazuha segera mencapai bagian dapur dengan cepat dan melihat Scara sudah membawa satu kucing hitam yang mengamuk dan kesal luar biasa di tangannya. Ia membawa sang kucing dalam posisi seolah siap mendepaknya dalam satu kedipan mata.

"Buang ke mana?"

"Eh?" Kazuha mengerjap kaget. Scara memberi isyarat lirikan dan Kazuha mengintip ke balik bahu kekasihnya itu, melihat beberapa jejak kaki penuh tanah memenuhi counter freezer berisi daging tuna beku dan ayam beku untuk bahan pastry.

Mendongak, Kazuha melihat pintu panel saluran udara jebol dan jatuh menimpa konter di bawahnya. Mengotori seluruh area.

"Dia masuk dari sana?" Kazuha melirik kucing hitam itu, tersenyum padanya. "Rupanya anak nakal ini tangguh juga."

"Kenapa kau malah memuji penyusup ini?" Scara memandangnya aneh. "Ah, sudahlah, aku akan buang ke depan."

Diam-diam Kazuha melirik kucing itu dan Scara bergantian. Saat memandang Kazuha, kucing hitam yang agak kotor itu sedikit lebih tenang, bahkan mengeong dengan nada memelas. Berbeda dari saat ia dibawa oleh Scara seperti kucing buangan. Kucing itu mendesis dan hendak mencakar Scara.

"Kalau dilihat dia agak mirip dirimu."

"Dari mana?!" Scara langsung senewen. "Kurasa bukan aku yang butuh kacamata!"

Kazuha tertawa. "Dibawa ke luar saja. Agak jauh. Tolong, ya."

Sembari mendengus, Scara membawa kucing itu keluar. Binatang mungil itu masih mendesis saat Scara bawa dan Scara dengan lucunya pun ikut mendesis mirip kucing saking kesalnya.

Kazuha hanya bisa memerhatikan tingkah mereka berdua dengan senyum di wajah.

"Jangan dilempar." Ia mengingatkan, lalu mulai mengambil sapu dan siap membersihkan kekacauan.

Tepat saat itu ponselnya berbunyi. Panggilan dari Nahida.

"Halo, Tante?"

[Kazuha?]

"Ya."

[Apa kabarmu? Scara ada di sana juga?]

Kazuha menghela napas pelan. Ia memastikan tidak ada yang mengawasi di kanan kiri. Jika ada Scara tersebut dalam satu kalimat dengan dirinya, itu kode baginya untuk tidak memperdengarkan percakapan ini ke Scara juga.

Sekitarnya aman. Scara tidak ada bersamanya dan tidak ada dalam jarak dengar.

"Ada," Kazuha menjawab santai. "Sedang bermain bersama kucing."

[Kucing? Di kafe-mu? Atau di flat?]

"Ada penyusup di kafe. Ternyata kucing itu pelakunya. Sepertinya jatuh dari atap." Kazuha bercerita. "Mumpung libur, aku rasa memperbaiki atap bukan aktivitas yang buruk juga."

Nahida terkikik geli. [Mau aku bawakan manisan spesialku? Oh, dan aku akan bawakan teh hijau kesukaan Scara!]

"Terima kasih. Ah, dan ngomong-ngomong soal teh, saya sudah mencoba resepnya. Mungkin bisa saya kombinasikan dan kreasikan untuk menu baru," Kazuha tertawa canggung. Ia sudah meminta izin, tapi tetap saj, mengatakannya langsung adalah hal lain. "Tapi … Scara tidak berkomentar apa-apa saat aku memberikannya."

[Dia meminumnya sampai habis?]

"Tanpa sisa."

[Itu artinya aman.]

"Tapi wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Aku jadi khawatir." Kazuha mengeluh sedikit.

Nahida tertawa di seberang sambungan. Mungkin Kazuha dan Nahida tidak sebegitu sering bertemu, tapi mereka bisa akrab dengan mudah berkat Scara. Seringnya selera mereka agak berbeda. Nahida dengan semangatnya yang meski terlihat kekanakan pada pandangan pertama, akan membuatmu nyaman untuk seterusnya. Sementara Kazuha yang selalu menjaga seleranya tetap simple dan casual. Awalnya pun Kazuha berpikir mungkin dia dan Nahida tidak akan begitu akrab melihat perbedaan mereka.

Tapi ternyata perbedaan itu bisa saling melengkapi.

Kazuha merasakan pipinya menghangat.

[Kau sedang memikirkan dia?]

Kazuha langsung salah tingkah. "Saya sebegitunya terbaca?"

[Aku hanya selalu teringat ekspresimu ketika kau sedang diam seperti ini.] Suara hangar Nahida terdengar persis orang yang sedang tersenyum jahil. Mungkin di seberang sambungan sana, Beliau memang sedang tersenyum. [Jangan lupa kalau kau tidak hanya ada di sisinya. Tapi juga Scara ada di sisimu.]

Kazuha tersenyum penuh arti. "Sungguh, Tante, saya tidak akan lupa."

[Kau mungkin sanggup mengatasi berbagai masalah, tapi Scara pun pasti ingin dirimu berbagi masalah dengannya. Agar bisa kalian berdua selesaikan dan cari solusinya bersama.] Meski sudah diyakinkan, rupanya Nahida tidak begitu saja berhenti menasihati Kazuha. [Kalian berdua agak mirip di sisi yang itu, jadi aku agak sedikit khawatir.]

"Terima kasih sudah menjaga Scara sampai sekarang, Tante."

Terdengar tawa riang dari Nahida. [Tentu, karena aku juga menitipkanmu pada Scara.]

Kazuha tertawa gugup. Ia bertanya-tanya, apa Scara tahu ini? Ah, tentunya pasti ia tahu. Kalau tidak, mana mungkin Scara bisa seprotektif itu ada dirinya, kan?

[Itu tidak berlebihan.] Nahida bahkan sudah menebak omongan Kazuha sebelum ia mengucapkannya. Kazuha langsung menutup mulut rapat-rapat. [Dan tolong jangan anggap masalah sekelilingmu tidak akan naik ke level yang berbahaya sewaktu-waktu, Kaedehara Kazuha.]

Senyum Kazuha memudar saat nama lengkapnya dipanggil. Bukan Kazuha si pemilik kedai kopi. Bukan pula oleh orang asing yang tidak mengenal siapa itu Kaedehara.

"Sepertinya harga kepala saya naik lagi di pasar."

Ada jeda yang panjang sebelum Nahida melanjutkan. [Keturunan terakhir Kaedehara. Semua info yang ada di kepalamu dan tubuhmu berharga lebih tinggi dari intan permata. Seni pembuatan senjata milik keluarga Isshin hampir punah dan mencoba menggunakan seni itu untuk memberinya hak paten kepada orang serakah, ada banyak yang merencanakan itu di luar sana ]

"Ya, saya mendengar update terbaru dari Heizou soal itu." Kazuha hanya bisa tersenyum sedih. "Saya pasti akan mengabari jika ada apa pun."

[Itu janji yang akan aku pegang.]

"Dan jika … hanya jika, masalah naik ke tingkat ketika aku tidak lagi bisa mundur, aku sudah menyiapkan rencana untuk itu."

Terdengar suara tidak senang dari Nahida. Tentu, siapa pun tidak akan senang dengan ide ini. Termasuk Scara. Karena itulah mereka tidak pernah membicarakannya terlalu jauh.

[Meski aku memperingatkanmu untuk waspada, sepertinya dengan ironis harus aku akui … aku mungkin jadi yang paling berharap masa itu tidak akan tiba.]

"Tentu saja." Kazuha menjawab dengan semangat, mencoba mengembalikan mood percakapan kembali ke mode ringan dan santai. "Saya sudah menghabiskan semua uang saya untuk mendirikan kafe ini dan membeli flat. Tidak mungkin saya akan membiarkan semua ini pergi begitu saja."

Terdengar tawa pelan dari Nahida. Tawa yang terdengar sedikit lega. [Sesekali mainlah ke sini di akhir pekan. Aku akan masakkan makanan favoritmu.]

Kazuha mengiyakan dengan penuh syukur. "Ya, akan saya sampaikan pada Scara."

***

Kazuha mencari-cari di mana kiranya Scara berada ketika ia mendapati sosok kekasihnya itu sedang ada di pintu samping, terdengar menggerutu. Terdengar suara kucing mengeong keras seperti sedang protes. Kazuha menghampiri Scara dan melongok ke balik bahunya.

Tepat di depan pintu kafe, kucing yang tadi menyusup, masih ada di sana rupanya.

"Tidak jadi dibuang?" Kazuha melirik Scara penuh arti.

"Apa? Aku sudah membuangnya, tapi dia kembali terus!" Scara protes, ia menyipit ke arah kucing hitam yang kini malah mengeong manja setelah Kazuha datang itu. "Aku benar-benar tidak suka padanya."

Kazuha memerhatikan kucing yang tidak henti mengeong manja kepadanya itu, seperti berusaha menarik perhatiannya.

Dilihat lama-lama begitu, rasanya jadi agak tidak tega. "Mungkin … kita bisa membawanya ke flat?"

"HAH?!" Scara meninggikan suaranya tanpa sengaja. "Kau serius? Memangnya kau mau mengurusnya?"

"Karena dia kucing kampung, aku rasa perawatannya tidak akan mahal."

"Kazuha … kita berdua bekerja di sini, siapa yang akan menjaganya saat siang?"

"Benar juga. Dia kucing liar jadi kalau dipelihara mungkin, hmm…." Kazuha berpikir serius. "Tapi kalau dia mau … jika dia memang tinggal di dekat sini, kita bisa saja memberinya makan, kan?"

"Satu kucing akan membawa banyak kucing." Scara berkacak pinggang. "Kucing liar itu akan datang kepadamu terus dan meminta semakin banyak kalau diperlakukan dengan baik."

"Jadi … kau punya ide?"

"Biarkan saja dia." Scara menjawab tanpa keraguan. "Sebaiknya jangan pelihara kucing yang sudah terbiasa hidup bebas."

"Yah, kadang ada beberapa kucing yang tidak bisa hidup diam di satu tempat saja.

"Dan tentunya kau tidak bisa mengharapkan kesetiaan mereka."

Mendengar ucapan itu, Kazuha melirik Scara. Kekasihnya itu kini tersenyum sinis.

"Kucing liar … akan menjilat kaki siapa pun untuk bisa mendapat makan. Kadang meski sudah kenyang, mereka bisa saja mencari perhatian ke orang yang cukup bodoh untuk peduli," ujarnya seraya mencibir. "Murni hanya untuk memanjakan diri dan mempermainkan semua orang. Mendapatkan apa yang ia mau sambil memanfaatkan orang lain. Lalu pergi begitu saja dan hinggap ke orang lainnya lagi saat sudah bosan."

Kazuha diam mendengarkan sampai Scara melirik ke arahnya dan memberinya senyum masam.

"Ada apa? Teringat seseorang?"

Kazuha mengangguk. "Dirimu."

Scara mendengkus. Sama sekali tidak merasa canggung atau malu. "Tumben sekali otakmu lancar."

"Ini tempat kita pertama bertemu, kan?"

Yang satu itu kelihatannya ada di luar dugaan Scara sampai sosok cantik itu membelalakkan mata. Kazuha dan Scara saling bertatapan. Tidak butuh waktu lama bagi Scara memutus kontak mata mereka lebih dulu sementara Kazuha hanya mengerjap dengan wajah polos. Scara memijat pelipisnya sambil menggeram frustrasi.

"Dari semua yang aku katakan, justru itu yang kau simpulkan?" geramnya kesal. "Kau itu dengar kata-kataku, tidak, sih?!"

Tangan Kazuha terulur, menyentuh puncak kepala Scara dan mengelusnya. "Dengar, kok," ujarnya lembut. "Kau bersikap keras pada dirimu lagi."

Mendengar kata-kata itu, Scara mendengkus sebal, tapi tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar sampai telinganya.

"Aku hanya mengatakan kenyataannya."

Kazuha mengiyakan seadanya ucapan itu, lalu mencium puncak kepala kekasihnya. Kemudian ia berlutut di ambang pintu, tepat di depan kucing hitam yang masih mengeong manja itu. Jari Kazuha kosong, jadi kucing itu hanya mengendusnya.

"Aku tidak punya hak untuk menghakimi jalan hidup seseorang. Karena aku sendiri hidup seenaknya. Aku hanya berharap dengan sikapku ini, orang juga tidak akan mengganggu pilihan hidupku," ungkap Kazuha dengan senyum tipis di wajah. Tangannya mengelus kepala kucing hitam itu. "Dan jika aku yang hidup seenaknya seperti ini, masih bisa membuat orang lain merasa tenang ada di sisiku, sampai mereka datang menghampiri berkali-kali, bukankah itu bagus? Mungkin … pertemuan kita bukan sekadar hubungan menggunakan dan digunakan?"

Dari bawah, Kazuha mengintip wajah kekasihnya, tapi Scara memalingkan muka sekali lagi. Kazuha tertawa. Bahkan dengan sikap seperti itu, Scara tidak bisa menyembunyikan rona merah wajahnya yang semakin membara.

Kazuha lantas mendongak, melihat langit yang masih merintikkan gerimis.

Bukan hujan deras.

Mendung memayungi. Seperti hari itu. Ketika untuk pertama kalinya, ketika Kazuha hendak berisitirahat dan merokok sejenak sebelum menutup kafe, justru melihat seorang sosok rupawan yang dikiranya roh hujan saking cantiknya, berdiri di tengah gang samping kafe yang sempit. Mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans, tubuh sosok itu basah kuyup oleh hujan. Tubuhnya bersih, tapi Kazuha bisa melihat bercak merah di berbagai titik di bajunya perlahan meluntur terkena guyuran air.

Hujan menyamarkan aroma apa pun, jadi Kazuha tidak bisa memastikan. Instingnya berteriak waspada, tapi matanya tidak melihat senjata. Sementara sosok itu tidak jua mengalihkan pandang darinya.

Saat itu, Kazuha berada dalam situasi tarung atau lari. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Setelah ia memutuskan untuk tinggal di sisi kota Inazuma bagian ini dan memilih hidup menetap pada akhirnya, membuka kafe kecil yang ia bangun dan kelola sendiri.

"Apa kau pemilik kafe ini?"

Kazuha sudah siap jika saja sosok di hadapannya ini mengeluarkan senjata dan datang dengan niat membunuh. Ini bukan percobaan pembunuhan pertama untuknya dan bukan jadi yang terakhir, ia yakin itu.

"Aku butuh tempat berteduh. Berapa harga sewa kafe ini per jamnya?"

Kata-kata yang berani, tapi sopan. Sangat tidak terduga untuk Kazuha yang sudah siap menerima todongan pisau di leher. Dan apa yang terjadi di momen-momen selanjutnya benar-benar di luar dugaan.

"Melirik sekali lagi, aku tidak percaya kita bisa ada di posisi ini sekarang, ya, kan, Sca-ra….?"

Kata-kata Kazuha memudar seiring kehangatan yang ia rasa di punggung dan pelukan yang perlahan melingkari pinggangnya dari belakang.

"Scara?"

Scara tidak menjawab. Kekasihnya itu justru menenggelamkan diri semakin dalam ke dalam punggung kemeja Kazuha, menggelayut seperti kucing manja. Kazuha yang sudah hapal tingkah Scara hanya bisa berkesimpulan, Scara juga memikirkan hal yang sama. Mungkin karena lokasi dan cuacanya yang lumayan mirip. Serta suasana nostalgia yang ia bawa dari pertanyaannya tadi.

"Dingin." Secara singkat, Scara berbisik. "Ayo … kembali ke flat-mu."

"Itu sudah jadi rumahmu juga, kau tahu itu." Kazuha menggenggam tangan Scara, lalu sekali lagi mengelus rambut kekasihnya itu. "Itu flat kita, Sayang."

Pelukan di pinggang Kazuha semakin erat.
Perlahan, Kazuha memutuskan untuk duduk dan membiarkan Scara menyelimutinya dengan pelukan, sementara ingatannya mengembara sekali lagi ke masa lampau saat mereka baru pertama bertemu.

"Kau mau dibayar dengan uang? Hanya itu?" Suara Scara yang mencoba menggodanya saat itu masih terngiang jelas. "Kau tidak butuh yang lain? Misalnya … seseorang untuk menghangatkan ranjangmu?"

Itu kisah untuk lain hari.

"Baiklah, ayo kita pulang. Setelah kita urus si kecil ini dulu," Kazuha mengangguk dan memberikan satu kecupan singkat di puncak kepala kekasihnya sebelum kembali kepada si kucing kecil yang kini terdiam, menyaksikan segalanya. "Tunggu sebentar, ya. Aku sepertinya masih punya sisa salmon di dapur."

***

Notes:

Settingnya mungkin dark, tapi akan aku tegaskan, ini bukan kisah angst. Ada beberapa skenario angst yang akan aku masukkan tapi tidak akan olah lebih jauh.

Series this work belongs to: