Actions

Work Header

A Sudden Visit

Summary:

Seseorang yang tidak terduga dari masa lalu Scara datang menyapa Kazuha di jam sibuk. Kira-kira apa maunya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Oh, jadi kau partnernya yang baru?"

Pertanyaan itu menghampiri Kazuha ketika ia sedang menyeduh satu espresso mocha. Kazuha mendongak, menatap sang pengaju pertanyaan yang rupanya seorang pemuda dengan tinggi di atas rata-rata orang lokal. Rambutnya sewarna tembaga dengan mata biru yang tampak seperti pantulan air laut.

Ya, pantulan air laut yang bersih tanpa satu pun ikan berenang di dalamnya.
Kosong dan hampa, kontras dengan senyum cerah di bibirnya. Mata itu … tidak tampak tersenyum.

Tak dinyana, Kazuha tetap memberikan senyum pelayanan kepada pemuda itu.

"Maaf, apa Tuan sedang bicara dengan saya?"

"Ya." Pemuda itu mengangguk. "Anda Kazuha, pemilik cafe ini, kan?"

"Benar." Kebingungan tidak lantas begitu saja pudar dari benak Kazuha. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Jika ingatannya tidak menipu dan jika memang ia tidak salah melewatkan orang yang pernah bicara dengannya. Hanya ada satu kemungkinan bagi orang asing untuk bisa mengenalnya tanpa nama belakang seperti itu.

Orang ini tidak sengaja melihatnya di jalan. Mungkin tidak dengan intensitas yang aneh sampai bisa disadari. Menarik kesimpulan itu, Kazuha langsung waspada.

Dari ekor mata, ia menghitung pelanggan yang ada di kafe siang ini. Jam ramai. Ini tidak bagus.

"Tidak, kita tidak pernah bertemu. Tapi siapa yang tidak kenal Maple Cafe?" Pemuda itu mengedip, mengangkat satu cangkir double espresso miliknya seakan mengajak bersulang. "Popularitas kopi di kafe ini sudah melejit ke mana-mana. Dan harus saya akui, minuman yang Anda sajikan sejalan dengan reputasi itu, Barista Kazuha."

"Saya tersanjung." Kazuha mengangguk hormat, membersihkan mesin pembuat kopinya dan langsung menekan bel. Satu pelayan wanita menghampiri meja pesanan. Kazuha menempelkan struk pembelian ke atas nampan, berikut dengan satu Almond Croissant di atas piring yang masih mengepulkan aroma mentega hangat. "Pesanan nomor tiga."

"Siap!"

Setelah pelayan itu pergi, Kazuha melanjutkan.

"Saya tidak menyangka kafe kecil saya sudah seterkenal itu," Kazuha mengingat. "Padahal seingat saya, saya tidak punya staf khusus untuk promosi dan media sosial maupun web."

Melalui kontak mata yang terjalin antara sepasang mata merah maple dan biru laut itu, Kazuha setidaknya menyadari orang di depannya ini bukan orang biasa.

"Informan Tuan pastinya sangat kompeten." Kazuha memuji dengan tulus.

Dengan kata-kata itu, sang pemuda tertawa terbahak-bahak.

"Anda jauh lebih berani dari kabar yang beredar. Boleh juga." Ketika pemuda itu bertopang dagu di meja, anting merah Ruby nya bergemericing mencolok keluar dari helai-helai rambutnya yang tampak tidak beraturan. "I like it."

Saat itu juga, Kazuha merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia sedikit bergidik.

"Tidak, saya sudah ada yang punya." Kazuha langsung mundur teratur, menyiapkan pesanan selanjutnya. Satu pesanan mudah.

Sial.

Artinya dia masih harus mengobrol dengan pemuda itu.

Kazuha langsung menyiapkan catatan untuk mengusir pemuda ini jika masih saja berulah.

"Ah, tidak, Anda kelihatannya salah paham." Pemuda itu mengibaskan tangan, berusaha menahan sang barista dari pergi segera dari belakang breakfast bar. "Anda lupa apa pertanyaan pertama saya tadi?"

Rupanya ia masih belum akan dilepaskan. Kazuha menghela napas. Ekspresinya menjadi kosong dari emosi apa pun. Tidak tampak terlihat dari luar, tapi orang yang mengenal Kazuha akan mengetahui, ekspresi seperti ini jauh lebih menakutkan dibanding ekspresi marah.

"Partner … kan?"

"Ya, itu!" Pemuda itu menjentikkan jari. "Maksud saya—

"Pesanan meja nomor dua belas apa masih belum juga?" Tiba-tiba Scara datang. Mengejutkan baik Kazuha maupun sang pemuda yang duduk di meja breakfast bar. Sosok cantik itu datang dengan cepat, tanpa suara, dan Kazuha bisa melihat dengan jelas kalau ia sedang marah.

Ekspresi itu hanya membuat kekeruhan yang ada di benak Kazuha mengental dan semakin keruh

Catatan untuk dirinya sendiri, di jam istirahat ia perlu rehat sejenak.

Mencoba tetap profesional, Kazuha menyajikan pesanan, lalu menyerahkan satu papercup yang tertutup.

"Satu hot choco. With extra cream." Ia lalu mengambil sepotong kue Red Velvet dari dalam counter. "Dan satu red Velvet cake."

Scara segera mengambil pesanan itu dan berlalu pergi. Ia tidak menoleh, tidak melirik atau memberi kesan yang tidak perlu. Tetap profesional, tapi amarah di matanya itu agaknya sulit ditutupi sepenuhnya. Dan biasanya Scara hanya seperti itu untuk satu hal.

"Dia masih secantik yang saya ingat dulu. Apa Anda juga setuju?" Pemuda itu melirik Kazuha. Dari sorot matanya, sepertinya dia menunggu reaksi dari Kazuha. Semacam … menantikan pertunjukan yang menarik.

"Pada apa?"

"Pelayan Anda cantik." Pemuda itu mengulangi tanpa masalah.

Kazuha tidak akan membiarkan orang asing ini mendapatkan kesenangan itu. Tidak dengan tindakan tidak menyenangkan tadi pada salah satu pegawainya.

"Ya, banyak pelanggan yang memuji begitu." Kazuha mengakui dengan jujur.

"Sesuatu yang cantik, hidupnya biasanya tidak tenang." Pemuda itu berkomentar. "Pun dengan orang-orang yang terlibat dengannya."

Dengan tenang, Kazuha mengangguk mengiyakan. "Saya anggap itu nasihat."

Pemuda itu menerima tanggapan Kazuha dengan ramah.

Ramah, tidak sama dengan baik.

"Satu hal yang saya selalu tidak akan ragu soal dia adalah kemampuannya memilih pasangan." Pemuda itu meminum espressonya lagi. "Dia selalu punya selera yang bagus dan selalu menarik orang-orang yang sama menawannya, baik itu dari segi tampang, kekayaan, maupun pengaruh."

Dari balik cangkir espressonya, pemuda itu mengintip Kazuha. Sekali lagi mengamati reaksinya.

"Makanya saya agak terkejut melihat Anda."

Kazuha memutuskan untuk separuh mengabaikan pemuda itu dan melanjutkan pekerjaannya. Meski tidak bisa dipungkiri, ia berfirasat jika ia sampai mengabaikan sepenuhnya pemuda itu, ia akan berbuat nekat dan membawa masalah.

"Apa ada masalah dengan saya?"

"Tidak, hanya berbeda dari seleranya yang biasa," Pemuda itu menjawab. "Jadi saya penasaran dan langsung mampir, saya harap Anda tidak keberatan."

Selepas ini, Kazuha harus mengecek apakah ada orang yang mengakses data soal dirinya di luar sana. Lagi.

"Tapi setelah melihat dia baik-baik saja, saya rasa saya bisa pergi dengan tenang." Pemuda itu meninggalkan uang tip di atas meja. "Burung yang memutuskan untuk terbang bebas memang sebaiknya jangan diikat. Anda setuju?"

"Ya." Kazuha menjawab seadanya. "Dan para pemburu yang tetap mengejar seharusnya lebih tahu diri."

Mendengar balasan Kazuha, pemuda itu justru tertawa lagi.

"Saya benar-benar suka sifat berani di balik topeng tenang itu. Anda punya bakat. Jika saja Anda berminat…." Pemuda itu menggeleng. "Sayang sekali…."

Kazuha tidak mau tahu apa maksud pemuda itu tadi.

Kemudian tanpa sepatah kata lagi, pemuda itu pun pergi. Bahkan tanpa memperkenalkan namanya. Kazuha segera menganggap lalu kejadian itu dan menerima uang tip. Segera membereskan cangkir double espresso milik pemuda itu yang ternyata tandas tidak bersisa.

***

Sayangnya saat di luar kafe, hanya beberapa langkah dari sana, pemuda dengan jas putih itu langsung dihantam ke gang sempit di belakang sebuah toko bunga. Tubuhnya didesak ke dinding dan tanpa peringatan, sebilah belati ditodongkan ke lehernya.

"Aw, aw, sambutan meriah macam apa ini?" Pemuda itu mengangkat kedua tangan ke udara. "Apa kau sebegitunya cemburu aku mengganggu partner barumu, Scaramouche?"

Sosok cantik nan berbahaya itu berdiri diam seperti boneka. Tidak terpengaruh, tidak juga terlihat ingin mundur. Wajahnya yang ramah hilang. Sisi dirinya yang bisa bersikap lembut ditelan jauh-jauh. Menyisakan hanya sisi dirinya yang mengancam dan mematikan.

"Kalau sampai atasanku kehilangan sesuatu, kau tahu tidak akan ada tempat aman bagimu untuk bernapas, Tartaglia."

"Atasan?" Tartaglia menyahut dengan nada mengejek. "Apa dia lebih penting dari mantan sex buddy-mu yang bisa diandalkan ini, Partner?"

"Dia memberiku uang."

"Begitu pula aku." Mendengar sahutan tidak kenal takut itu, Scara semakin murka. Ia menekan pisaunya ke leher Tartaglia lebih dalam. Tapi itu tidak cukup. Malahan, Tartaglia tertawa di tengah cekikan itu. Nyaris seperti ia menikmatinya. "Ouch, ternyata dia begitu berbeda, ya? Aku sama sekali tidak tahu."

Situasi di antara mereka semakin tegang. Entah sumbu siapa yang lebih pendek, tidak ada yang mau tahu kelanjutannya.

"Apa dia sudah tahu masa lalumu, Scara?" Tartaglia menyeringai. "Masa lalu yang pastinya tidak akan begitu saja melepasmu yang sudah memberi mereka begitu banyak dan menyimpan sangat banyak rahasia."

Itu fakta, Scara tidak bisa mengelak dari itu. Tapi menghadapinya di depan mata bukan dan tidak akan pernah menjadi perkara mudah baginya sekarang.
Bagi dirinya yang sekali lagi memiliki seseorang yang berharga.

"Kau tahu? Jika masa lalumu sekadar jejak kaki yang bisa dihapus, menerima saja mungkin akan cukup. Tapi, mantan partnerku tersayang…." Tartaglia balas menggenggam pergelangan tangan Scara. "Masa lalumu membentang sangat tebal di belakang sampai sekadar menerima saja tidak akan cukup."

Scara tidak perlu diberi nasihat soal itu. Ia sudah tahu. Ia paham betul. Masa lalunya bukan sekadar yang bisa hilang dengan penerimaan. Yang akan tuntas dengan saling berbagi. Jika Kazuha ingin ada di sisinya dan ia ada di sisi Kazuha untuk seterusnya, Kazuha harus memiliki tekad dan kekuatan yang cukup untuk menerima semua risikonya. Menanggungnya bersama.

Tapi Scara tidak sanggup membayangkan itu. Kazuha memiliki masalahnya sendiri. Masalah yang sendirian ditanggung tubuh kuat itu. Masalah yang tidak ia bagi kepada siapa pun bahkan dirinya. Membuatnya terluka dalam diam, saat sadar dirinya belum dipercayai sepenuhnya.

Tapi ia biarkan luka itu terbuka dan bernanah. Ia tidak pantas mendapat kepercayaan itu. Tidak ketika ia sendiri meragukan dirinya. Tidak ketika ia sendiri memiliki masalah yang belum jelas titik terangnya. Scara tidak akan membebani Kazuha dengan beban tidak perlu semacam itu.

"Oh, apa akhirnya kau sadar? Apa yang aku katakan tadi, semuanya benar, kan? Semuanya, termasuk risiko…." Tangan Tartaglia yang bebas meraih anak rambut Scara, membelainya. Sentuhan itu dihindari Scara dengan gerakan mudah. Sosok cantik itu kini berjengit jijik. Tartaglia kelihatannya mendapatkan reaksi yang ia inginkan. Pada akhirnya. "Kau yang bisa saja mengkhianatinya ketika sudah bosan."

Scara menggerakkan gigi. Ia ingin menyangkal ucapan itu. Ia tidak akan mengkhianati Kazuha. Tidak akan pernah. Tapi jika ia mengungkapkan itu, Tartaglia akan semakin senang. Artinya Scara sudah memberikan informasi betapa berharga Kazuha bagi dirinya secara cuma-cuma.

"Tidak akan."

Oh, persetan. Scara melawan dirinya sendiri sedetik sebelumnya.

Toh mereka akan tahu cepat atau lambat.
Tidak mungkin orang yang menganggap Kazuha tidak penting, akan bereaksi seperti ini.

Scara mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Tartaglia sembari menekan pisau itu semakin dalam ke lehernya, menarik setetes darah pertama.

"Maaf saja, standarku tidak lagi serendah itu. Dia jauh lebih baik dari kalian." Scara melepas Tartaglia. "Dan sesuatu yang semenarik itu, tidak mungkin aku lepas begitu saja."

Selepas cekikan di lehernya lepas, Tartaglia segera berdiri tegak, merapihkan kemeja putihnya dan sedikit melonggarkan kerah kemeja merah wine-nya yang kini sedikit bernoda merah. Darah di lehernya terus menetes.

"Karena kau sudah keluar dari Harbinger, aku rasa memang tidak ada lagi alasan kami untuk mengganggumu, selain mungkin kunjungan rutin," Tartaglia terkekeh. "Kau berada dalam perlindungan Lord Kusanali, tidak akan ada yang berani mengkonfrontasimu secara langsung, tapi Kazuha milikmu itu mungkin…."

Scara mencibir. "Kau meremehkannya." Ia bersedekap. "Dia lebih kompeten daripada sepuluh orang dirimu dijadikan satu."

Kazuha memiliki perlindungannya sendiri, Scara percaya itu. Ia ingin percaya itu.

"Baiklah, kalau kau memang sebegitu yakin. Jangan tiba-tiba datang ke kediamanku dan protes, ya. Aku sudah memberi peringatan dengan baik di sini. Demi masa lalu."

"Itu hanya satu malam." Scara mengingatkan dengan kesal. "Dan itu karena kau mabuk."

"Tapi kau menikmatinya." Tartaglia tersenyum percaya diri. Tapi melihat Scara siap meledak lagi, pemuda itu langsung mengangkat tangan ke udara lagi. Menyerah dan tidak mau cari ribut lebih jauh. "Sampaikan saja salamku pada partner barumu itu. Pintuku masih terbuka kalau kau berubah pikiran dan membuangnya."

Scara mendecih. Tidak mungkin ia membuang Kazuha untuk seseorang selevel Tartaglia.

"Ah, ngomong-ngomong, kedatanganku, kau tahu artinya, kan?" Untuk kali terakhir, Tartaglia menoleh. Senyum main-mainnya hilang, berganti dengan wajah serius. "Dia masih belum bisa melepaskanmu seutuhnya. Kau sebaiknya bersiap."

Scara mengumpat. Tentu saja.
Tentu saja kedatangan Tartaglia adalah sebuah peringatan dari datangnya badai yang lebih besar. Mungkin malah yang paling besar. Masa lalunya, yang biasanya datang dalam wujud hujan deras dan badai, kini datang dalam bentuk tsunami.

Dalam keremangan gang sepi itu, Scara berjongkok. Pisau di tangannya sudah kembali ia sembunyikan di balik apron. Dalam kesendirian, ia menyugar rambut gelapnya dengan frustrasi.

Semua ini tidak akan jadi serumit ini jika ia tidak terlibat terlalu jauh dengan Kazuha.

Dicintai, bagi orang dengan paras seperti dirinya, dicintai dan dikagumi adalah hal biasa.
Tapi mencintai … sebelum bertemu Kazuha ia merasa jatuh cinta adalah hal konyol dan tidak pantas dilakukan siapa pun.

Sekarang … ia mencintai seseorang. Jatuh cinta sedalam-dalamnya sampai diselimuti ketakutan dan kegelisahan setiap malam. Takut Kazuha akan disakiti. Takut kedamaian mereka akan berakhir dalam sekejap mata.

Ini siksaan. Ini hukuman bagi dirinya karena berani menyentuh perasaan semurni cinta.
Tapi apa Kazuha pantas dihukum bersamanya?

Scara sudah tahu jawabannya dari jauh-jauh hari.

"Kazuha…." Di dalam gang sepi itu, suara Scara yang pelan, tertelan deru lalu lintas yang hidup di sebelahnya. "Apa pun asal jangan dirimu, Kazuha."

Setelah ini, ia akan menceritakan Tartaglia kepada Kazuha. Menceritakan semuanya. Apa pun reaksi Kazuha nanti, apa pun yang akan terjadi, Scara siap menerimanya.

***

Notes:

Aku bertanya2 apa aku bisa bikin Scara bitchy era dan yes, this is my trial.
Semoga kalian suka

Series this work belongs to: