Actions

Work Header

Two Mothers

Summary:

Kazuha mendapat kunjungan dadakan dari tamu tidak terduga. Siapakah mereka?

Work Text:

Setelah kunjungan pria aneh berambut jingga itu, Kazuha merasa Scara sedikit menjaga jarak dengannya.

Bukan dalam artian memusuhi atau marah. Jika ya, Kazuha tidak akan mendapati pakaiannya disetrika rapih, sarapan selalu tersaji di meja setiap pagi, dan tempat tidur yang selalu bersih.

Tidak, ini alasan yang lain.

Dan mereka sudah mengalami ini beberapa kali sampai Kazuha paham, di saat seperti ini, Scara hanya ingin menyendiri. Setiap kali serpihan masa lalunya datang meneror, Scara selalu memberi dirinya jarak untuk berpikir dan menenangkan diri, sembari masih melakukan beberapa kepedulian sebagai tanda bahwa mereka dalam keadaan baik. Scara tidak marah padanya.

Scara marah kepada diri sendiri.

Dan jika sudah seperti itu, Kazuha akan terus mendekat, mengambil inisiatif dengan melakukan obrolan lebih dulu.
Sebuah obrolan singkat dan sederhana seperti:

"Kau sudah makan?"

"Mau mandi duluan?"

"Kau tidak mau istirahat tambahan?"

Awalnya Scara menjawab pertanyaan itu dengan mudah, singkat, dan tanpa emosi. Semakin sering Kazuha bertanya, semakin ketus jawabannya:

"Tanpa makan pun aku masih bisa tahan!"

"Kau saja yang mandi duluan! Aku masih mau kerja!"

"Kau mau memotong gajiku semena-mena, ya?"

Meski pedas, omongan itu tidak disertai tindakan keras apa pun, jadi Kazuha lega. Setidaknya ia tidak melanggar batas teritori yang sudah mereka tetapkan dalam situasi seperti ini.

Tapi ia tidak bisa memungkiri….
Tidur tanpa memeluk Scara itu siksaan.

***

Hari itu, tamu tidak terduga masuk melewati pintu depan. Dengan bangga, wanita berambut gelap itu berderap masuk dan langsung menghampiri kasir, tempat Kazuha langsung menyambutnya dengan senyum yang tidak biasa.

Sepuluh kali lebih cerah dibandingkan senyum profesionalnya.

Beruntung, tamu itu datang di saat kafe hampir tutup. Ketika tidak banyak lagi tamu yang hadir

"Aku harap aku tidak terlalu terlambat untuk segelas rum."

"Maaf, tapi kami tidak menjual rum," Kazuha menolak dengan halus. "Apalagi merek yang kau sukai, Beidou."

Wanita itu langsung tergelak.

"Kau masih saja memerhatikan selera orang sampai ke detailnya, Kazuha." Beidou bersandar ke breakfast bar. "Satu gelas Espresso Secret."

Kazuha tertawa renyah. "Darimana kau tahu menu rahasia itu, Beidou?"

"Hei, jangan meremehkan jaringan informasiku." Beidou menyahut santai. "Ningguang bisa mengakses setiap menu rahasia setiap orang jika ia memang mau."

"Seperti yang diharapkan dari Qixing." Kazuha langsung menyalakan mesin espresso-nya dan menyiapkan cold brew coffee. Tidak lupa, mengambil shaker dan liquor dari lemari pendingin. "Kalau kau masih mengkonsumsi Martini setelah bekerja, aku asumsikan semuanya baik-baik saja?"

"Semua baik dan lancar." Beidou menghela napas, sebelum mengintip Kazuha dengan sorot mata jahil. "Tempat yang bagus dan damai. Cocok untukmu, harus aku akui … setidaknya dengan imej yang berusaha kau tampilkan."

"Seseorang bisa punya selera yang beragam, tidak hanya satu," Kazuha berujar. "Hanya punya satu sisi, bukankah orang seperti itu membosankan, Beidou?"

Mendengar pernyataan itu, Beidou tertawa lepas. "Kau masih belum berubah, Kazuha. Senang melihatnya tetap begitu." Senyum wanita itu menyentuh matanya yang tajam yang mengingatkan Kazuha selalu pada badai yang mengamuk di lautan yang jauh. "Kau masih bisa menyahutiku dengan percaya diri begini, artinya bisnismu berjalan lancar?"

"Seperti yang kau lihat."

Beidou menengok ke belakang, ke arah jajaran kursi dan meja yang kosong. Hanya tersisa satu orang di dalam kafe: seorang pelajar wanita yang membuka laptopnya dan tidak henti mengetik sesuatu di sana dengan wajah serius sejak dua jam lalu. Latte hangatnya sudah habis dan dia belum mengisi ulang kembali. Kazuha mengira dia mahasiswi yang sedang dikejar tenggara tugas.

"Karena kau datang di jam hampir tutup." Kazuha menyahut. "Kalau kau mau tahu betapa ramainya kafe ini, aku sarankan kau datang di jam makan siang atau dinner."

"Ah, ya, akan aku ingat itu," Beidou mengiyakan, lalu menoleh ke arah pintu yang tertutup. Kazuha menyadari Beidou memandang pintu depan dan jalanan di depan kafe agak lama. "Berkumpul dengan orang-orang asing bukan seleraku, tapi jika mereka diterima di kafemu, pasti aku akan betah mengobrol dengan mereka."

"Aku harap juga begitu." Kazuha mengiyakan. "Ngomong-ngomong, kau menunggu seseorang?"

"Ya," Beidou sama sekali tidak mencoba menutupi. "Kami janjian di sini. Aku harap kau tidak keberatan."

"Sama sekali tidak."

Kazuha menjawab tanpa ragu, memutuskan untuk menyembunyikan agendanya nanti saja. Mungkin meski sedikit agak malam, akan ada toko bunga yang buka? Kazuha hanya bisa berharap. Sebentar lagi summer akan segera tiba dan ia masih belum bulat memikirkan menu seasonal summer yang akan ia pajang sebagai limited time edition cafe ini. Dia juga belum selesai melakukan penutupan buku bulanan padahal sekarang sudah tiga hari berjalan di bulan selanjutnya.

Kadang Kazuha ingin menyewa konsultan saja.

Di tengah pikiran itu, Kazuha melihat Scara mematung di dekat salah satu meja. Gesturnya aneh dan membuat Kazuha terheran-heran. Sempat mengira ada masalah, Kazuha langsung tertawa geli ketika sadar, karena siapa Scara jadi kaget begitu.

Sosok seorang wanita dengan rambut putih seperti salju dan dress hijau anggun melambaikan tangan ke arah Scara dari balik jendela. Sosok itu dengan santai melangkah memasuki kafe dan langsung menghampiri Scara, merangkulnya seperti ibu yang merangkul anaknya dengan rindu.

Sayang, sang anak, alih-alih menyambut pelukan itu, malah tampak misuh-misuh. Meski, yah, tidak ada perlawanan juga dari Scara, terutama saat Nahida mengelus kepalanya dengan sayang.

Kazuha menyajikan Espresso Secret ke hadapan Beidou. "Dia teman janjianmu, Beidou?"

"Ya, katanya dia sudah kangen kalian berdua." Beidou menyahut, menyesap kopinya dengan nikmat. Ia bersiul. "Wow, liquor mahal memang beda. Aku tidak boleh menyia-nyiakan ini."

"Meski bukan rum yang kau sukai."

"Meh, aku bukan pemilih." Beidou menaikkan gelas espressonya ke udara, ke arah wanita di seberang ruangan sana yang kini merangkul pundak Scara seperti seorang sahabat.

Kazuha memahami gestur itu. Beidou yang akan membayar malam ini.

"Kalian berdua hidup dengan sehat dan damai, aku turut lega." Beidou menghela napas lega.

“Sebelumnya aku harus menginterupsi itu.” Kazuha berdeham.

“Hah? kenapa?”

“Kami sedang memberi jarak satu sama lain.”

"APA?!"

Pekikan keras itu langsung membuat semua mata tertuju pada Beidou. Bahkan sang mahasiswi malang yang tidak sengaja terjebak dalam situasi ini langsung terbirit-birit pulang dan mengemas barangnya dengan terburu-buru. Mungkin ia merasa akan terjebak dalam konflik aneh jika terus berada di sini dan memilih jalur aman. Sementara di sisi lain ruangan, Scara melemparkan pandangan menuduh pada Kazuha.

Pandangan yang langsung dibalas Kazuha dengan tatapan penyesalan. Nahida tampaknya mengerti tatapan itu dan langsung menghadapkan Scara ke depan wajahnya, semnetara di breakfast bar, Beidou meraih pundak Kazuha.

“Kita harus bicara. Sekarang.”

***

Segera setelahnya plang tanda bahwa cafe telah dititup pun terpasang. Lampu cafe diredupkan, menyisakan hanya beberapa lampu menyala, di satu sudut ruangan tempat Nahida dan Scara mengobrol berdua di salah satu meja yang dibiarkan tidak dibereskan, sementara Kazuha dan Beidou naik ke lantai atas, tepat di ruang tamu.

“Kalian bertengkar? Masalah apa? Apa tidak ada solusi lain selain pertengkaran?”

“Beidou, tolong tenang, pertama aku harus mengoreksi itu.” Kazuha berkata. “Aku tidak bilang aku dan Scara bertengkar. Kami hanya—


“Aku hanya merasa butuh jarak sedikit untuk berpikir dan mengatur ulang emosiku.” Scara berkata disertai gerutuan yang jelas tidak suka. “Atau kau lebih suka aku terlibat masalah karena meluapkan emosi ke tempat yang salah lagi?”

Di samping Scara, Nahida mengangguk, tersenyum hangat seperti biasa. Ide bahwa Scara akan membuat masalah mungkin pernah mengganggunya dulu, tapi sekarang, Scara bahkan tidak bisa membuat Nahida khawatir. Seolah Nahida sudah tahu semua lelucon dan permainannya bahkan sebelum ia sempat mengatakan apa-apa.

Jadi terbaca kadang memang merepotkan.

“Kau bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.”

“Kau bicara seolah kau mengenalku.”

“Dulu aku memang tidak mengenalmu, tapi bukankah sekarang aku mengenalmu?” Nahida menjawab. “Seperti kau yang juga mengenalku, aku bisa yakin dan percaya sepenuhnya, Scara yang sekarang tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan.”

Mendengar kata-kata penuh kepercayaan itu keluar dari mulut Nahida dengan tulus, Scara merasa lemah. Dia memaki dalam hati, memaki kenapa dia bisa begitu lemah pada Nahida dan kenapa Nahida sellau tahu titik lemahnya saat pembicaraan sengaja ia alihkan ke tembok emosi yang sudah ia bangun susah payah agar tidak terlihat begitu rapuh dan … lemah.

“Ini soal—


“Masa lalu Scara, aku rasa.” Kazuha berpikir, tampak merenung. “Salah satu dari mereka datang ke kafe beberapa hari lalu. Dan sejak saat itulah Scara jadi agak lebih pendiam dari biasa. Dia memberi jarak. Aku mengira itu untuk menenangkan diri.”

“Mengira? Kau tidak bertanya langsung?” Beidou membelalak tidak percaya.

“Aku berusaha menghargai privasinya.” Kazuha menjawab seolah itu adalah pertanyaan paling dasar yang seharusnya tidak butuh jawaban.

“Kadang aku merasa kau butuh dipukul satu-dua kali agar semua bunga dari mulutmu itu keluar dan digantikan oleh akal sehat.” Beidou menghela napas lelah. “Katakan padaku kau tidak benar-benar membiarkannya sendiri.”


“Dia tidak pernah membiarkanku sendirian.” Scara menghela napas. “Padahal aku sudah menunjukkan padanya bahwa aku baik-baik saja.”

“Benarkah? Dengan cara apa?”

“Seperti biasanya saja.” Menjawab seperti itu, Scara memalingkan muka, menyembunyikan semu merah di pipi yang tentu saja, tidak luput dari pengamatan sang Lord Kusanali. “Menyiapkan sarapan, pakaian, dan membersihkan flat kami. Lantai atas sini juga.”

Mendengar jawaban jujur itu, Nahida tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan dan mengelus kepala Scara dengan penuh kasih sayang. Sesuatu yang disambut sentak kaget dari sang lawan bicara, tapi menyadari Nahida melakukan tindakan itu sepenuhnya karena terdorong afeksi, Scara tidak melakukan apa pun untuk melawannya. Meski tidak pula menerimanya terang-terangan.

“Sudah aku bilang, berhenti perlakukan aku seperti anak kecil, kan?”

“Tapi menurut dokumen kau memang adalah—

“Itu hanya dokumen.” Scara menukas dengan wajah semakin merah membara.

“Benar. Itu hanya dokumen untuk validasi. Tanpa dokumen itu pun kau tetap—

“Tolong berhenti mengerjaiku di sini!” Scara lagi-lagi menukas. Kali ini tampak kesal.Tapi kekesalannya malah dibahas tawa ringan dari Nahida. Dan sebelum Scara sempat berkata apa-apa lagi, Nahida memeluknya. Tangan wanita itu mengelus rambut indigo gelap Scara dengan lembut.

“Aku hanya senang kau baik-baik saja dan tetap kuat.” Tangan Nahida yang lain menepuk-nepuk punggung Scara. “Kau sudah berjuang dengan sangat baik. Kau berhak disemangati dan dapat pelukan seperti ini.”

“Berhenti perlakukan aku seperti anakmu.” Protes itu berubah menjadi bisikan. “Setidaknya … jangan sering-sering….”

Nahida tertawa di dekat telinga Scara.

“Tidak apa-apa sesekali tampak lemah, kan? Toh, aku sudah memastikan tidak ada orang lain di sekitar sini. Kau aman jika ingin memperlihatkan sedikit emosimu di sini.”

Merasa lemah dan letih tiba-tiba, Scara menjatuhkan kepalanya di pundak sang wanita. Sepenuhnya terbuai oleh kelembutan penuh cinta yang diberikan kepadanya. Cinta ini berbeda dari yang diberikan oleh Kazuha. Pun berbeda dari yang selama ini diterima Scara. JIka Nahida tidak ada, ia mungkin tidak akan tahu cinta seperti ini ada di dunia. Pun tidak akan tahu … betapa ia sangat membutuhkan cinta ini ketika dia berada di titik terendah.

“Tidak boleh terlalu sering.”

Nahida tertawa. “Apa kau mengkhawatirkanku? Padahal sudah aku bilang aku akan baik-baik saja.”

Scara mendengkus. “Siapa juga yang mengkhawatirkanmu?”

“Benar, justru aku yang mengkhawatirkanmu.” Nahida menepuk-nepuk punggung Scara. “Begitu pula Kazuha. Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu. Sama seperti kau yang khawatir padanya.”

“Tidak,” Scara mengelak. “Si bodoh itu mungkin jauh lebih khawatir daripada aku.”

Meski seharusnya ia tidak perlu melakukannya, Scara membatin.

“Kedengaran merepotkan, ya? Nahida bergumam. Ia melepas pelukannya pada Scara, lalu mengelus pipinya dengan lembut. “Tapi justru karena itulah, ia mencintaimu. Dan kau tahu betapa ia sangat menyayangimu dan menganggapmu partner yang berharga. Bukan sekadar alat dan bukan jelas bukan barang yang tidak berharga.”

“Di saat ia seharusnya berpikir begitu.” Scara tersenyum masam. “Seharusnya ia terpesona saja dengan tubuh dan wajahku, seperti yang lain. Itu akan sangat mudah. Baginya dan … bagiku.”

Scara menyentuh dadanya, merasakan degup cepat yang sesak dan menyakitkan dari jantungnya di dalam sana. Tangannya meremas kemeja yang ia kenakan.

“Itu jauh lebih mudah, tapi … tapi aku sudah terlambat. Aku tidak bisa kembali.” Ekspresi Scara sarat akan kesakitan saat dadanya terasa remuk sekali lagi. “Aku … aku sudah terlalu mencintainya. Aku tidak mau ia terluka. Aku tidak mau—benar-benar tidak akan membiarkan, dia terlibat dalam masa laluku lebih dari ini.”

Perlahan, Scara menatap Nahida. Kesakitan tampak di mata gelap itu. Ketakutan yang ia pendam sejak pertemuannya dengan Tartaglia, kegelisahan yang menghantui dan bayangan kalau suatu hari nanti kedamaian ini akan berakhir, serta serpihan-serpihan dari apa yang dulu menjadi bagian dari dirinya dan baru saja pulih, kini terancam untuk hancur kembali.

“Jika sampai ia terluka—jika sesuatu terjadi padanya seperti yang terjadi pada….” Scara tidak bisa melanjutkan. “Aku—aku tidak akan bisa memaafkan lagi. Aku mungkin akan membenci segalanya. Aku….”

“Akan ada banyak orang yang tidak akan membiarkan Kazuha terluka.” Nahida menyentuh pipi Scara, menaikkan wajah yang sempat kuyu itu dan menatap ke kedua bola matanya lekat-lekat. “Aku juga tidak akan membiarkan kalian berdua terluka. Jadi kau bisa tenang. Kau dan Kazuha sekarang hanya tinggal hidup berbahagia dalam kedamaian dan menikmati waktu kalian bersama.”

Ibu jari Nahida mengusap air mata yang tidak pernah ada di pipi Scara. Nahida tersenyum menenangkan.

“Kau ketakutan dan kau cemas. Kau sudah memiliki sesuatu yang berharga untuk dilindungi. Itu sebuah kemajuan yang bagus, kan?” Nahida menggenggam tangan Scara, mengangkatnya dan membelai telapak tangannya, menelusuri garis-garis yang tergurat di sana. “Dan tangan ini kini tidak lagi menggenggam udara kosong. Kau tidak lagi sendirian. Kau harus ingat itu dan panggil Kazuha setiap kali kau merasa sendirian. Kalian sudah punya satu sama lain sekarang.”

Meski sudah ditenangkan, kesedihan masih tampak di mata Scara. Kesedihan dari luka yang tidak bisa hilang. Nahida mengelus pelupuk mata itu.

“Kenangan dan orang-orang yang tidak bisa kembali memang menyakitkan. Tapi rasa sakit itu adalah bukti kita menyimpan mereka dalam kenangan yang paling berharga. Denganmu masih mengingat mereka, dan menitikkan air mata, aku yakin mereka pun bahagia. Bisa diingat olehmu, menjadi kenangan yang berharga yang selalu ada di hatimu."
Suara Nahida bagaikan melodi Nina Bobo.

"Aku tidak bisa bilang ini untuk siapa pun. Semua ini hanya asumsiku, tapi jika … jika aku dikenang seperti ini oleh seseorang … oleh dirimu, itu saja sudah menjadi bukti,” Nahida kembali merangkul Scara. “Bahwa kau ini benar-benar … anak yang baik dan berjiwa lembut, Scaramouche.”

Dalam kebersamaan yang teduh dan hangat itu, keduanya berbagi. Selayaknya ibu dan anak yang terikat emosi, terikat dalam ikatan batin, keduanya duduk bersisian di kursi yang dijejer menyamping. Nahida merangkul Scara yang kini tidak tampak angkuh atau terlalu percaya diri. Hanya seorang anak yang sudah terlalu lama terluka dan menyalahkan diri sendiri.

"Dan aku bangga sekali padamu."

Dalam hati, Scaramouche mengucapkan satu kata terima kasih. Satu lagi terima kasih yang ia sampaikan setiap kali ia bertemu dengan Nahida. Setiap kali, di pelukan sang ibu asuh, ia selalu menemukan kedamaian. Seakan seluruh masalahnya telah selesai.


Beidou menghela napas. "Setidaknya kau tidak begitu bodoh dalam masalah ini, meski … yah, aku tidak tahu rekam jejak mu soal hubungan intim."

"Tidak banyak catatan soal itu, aku khawatir." Kazuha berkata jujur. "Tidak banyak juga yang bisa aku banggakan soal itu."

"Dan itulah alasanku khawatir." Beidou menuding Kazuha, menikam pundaknya dengan satu jari. "Aku tidak tahu kekasihmu itu tipe yang bagaimana ketika ada masalah. Tapi membiarkan dia sendirian adalah solusi paling payah dalam memberi jarak. Seseorang yang bermasalah memang kadang butuh waktu sendirian, tapi bukan untuk ditinggalkan sendirian."

"Aku akan berusaha tidak melakukannya, meski tidak bisa memberi janji." Pandangan Kazuha menerawang ke lantai bawah, mendengar Isak pelan dari sana. "Selama aku hidup, aku akan berusaha memberikannya kedamaian."

Terdengar dengkusan tawa dan Beidou menarik jarinya dari Kazuha.

"Hatimu yang hampa karena terlalu lama mengembara itu, tampaknya kini sudah terisi penuh." Beidou tersenyum bangga. "Tidak buruk juga, Bocah Maple."

Kazuha meletakkan tangan di atas dada. Sebuah dalam penghormatan. "Selalu bangga mendapat pujian darimu, Anegimi."

"Nah, baiklah, ayo kita ke bawah!" ajak Beidou. "Aku harap mereka sudah selesai, dan kau sudah mempersiapkan kata-kata permintaan maaf untuk anak itu nanti."

***

Saat Kazuha turun, lampu kafe telah kembali dinyalakan, membiarkan Kazuha melihat sosok Scara yang meski tampak kacau dengan mata basah dan hidung yang memerah, tampak jauh lebih baik dari siang tadi ketika mereka masih memberi jarak. Kazuha melambaikan tangan ke arah kekasihnya, yang tentu saja enggan disambut oleh Scara yang malu karena kepergok habis menangis.

Saat itu tiba-tiba saja ada tepukan keras di punggung Kazuha yang disusul sebuah dorongan. Kazuha yang lengah pun tidak siap dan terjerembab ke depan. Bersamaan dengan itu, terdengar pekikan pelan dan rupanya, Scara juga didorong oleh Nahida.

Mereka berdua lantas bertemu di tengah-tengah kafe. Dengan tangan Kazuha langsung menggapai pinggang Scara.

"K-Kazuha?!"

"Aku sudah memberimu kesempatan tiga hari. Maksimal batas kesabaranku. Apa kau tega meminta perpanjangan waktu lagi?" Kazuha berbisik, nyaris terdengar putus asa. Pemuda itu langsung mengeluarkan wajah memelas. Wajah yang ia tahu tidak pernah bisa ditolak Scaramouche.

"Aku—Aku tidak—Hei!" Belum sempat Scara selesai bicara, Kazuha mendekat dengan wajah dan sikap yang sudah jelas hendak mencium kekasihnya. Scara langsung menaruh tangan di depan mulut Kazuha, menghentikannya. langsung melemparkan pelototan tajam pada Beidou dan Nahida yang menyaksikan sambil bertukar jempol dan senyum kemenangan. "Kalian berdua tidak akan lolos dari ini!"

"Scara….?" Kazuha mengeratkan pelukannya. Suaranya semakin lemah dan memelas, memancing sebanyak mungkin rasa tidak tega dari diri Scara. "Tidak boleh…?"

"Kau—dasar rubah licik!" Scara terasa bergetar saat Kazuha meniup telapak tangannya tanpa sengaja saat mengucap namanya, memberikan gelengar antisipasi pada Kazuha bahwa Scara juga sama butuhnya seperti dia saat ini. Sama merindu. Sama mendamba. Sudah terlalu lama mereka tidak bersama lagi. Perasaan yang mengganjal sudah tidak ada lagi dan rasa bersalah sudah diatasi. Kenapa lagi mereka harus menahan diri?

Kazuha bahkan tidak masalah dan tak acuh saat ada dua suara tawa cekikikan di dekat mereka, jelas tidak malu dan malah menikmati situasi

"Hei, kalian berdua tanggung jawablah! Ini salah kalian juga?" Scara menoleh bergantian pada Beidou dan Nahida.

"Oh, berani juga bocah ini meminta pertanggung jawaban." Beidou menyeringai. "Pertanggung jawaban macam apa, heh?"

"Segera keluar dari sini sebelum aku yang mengusir kalian!"

"Oh?" Nahida dan Beidou saling bertukar pandang. Kemudian mereka tersenyum penuh arti dan mengangguk ke arah Kazuha.

"Aku serahkan anakku padamu!" Nahida mengacungkan jempol.

"Kau hanya orang tua asuh dalam dokumen!" Scara membantah terang-terangan.

"Kalau Kazuha membuatmu kesal, kau bisa melaporkannya padaku!" Beidou gantian menyahut.

"Kalau bisa membuatnya patuh, kenapa tidak jinakkan dia sekalian saj—Kazuha!" Scara mengomel tanpa henti dan jadi lengah. Hal itu segera dimanfaatkan Kazuha dengan memberikan satu kecupan kejutan di pipi kekasihnya itu. "Aku belum selesai bicara dan kau—ugh, apa kau sekarang mulai kurang ajar juga?"

"Sampai jumpa kalian berdua!" Beidou berkata, meloloskan Nahida dari pintu depan dan segera kabur. "Pastikan jangan mengganggu tetangga!"

Kemudian pintu depan kafe pun tertutup, meninggalkan Kazuha berdua saja dengan Scara yang tidak berkutik dalam pelukannya.

"Ah, aku tahan tiga hari tidak bertemu denganmu, tapi kalau tiga hari diam-diaman begini, aku tidak akan kuat lagi." Kazuha menggeleng, sembari menggumam sendiri. "Tidak lagi, pokoknya tidak bisa seperti ini lagi. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lebih dari satu hari tanpa kabar. Sesibuk-sibuknya aku, pasti aku akan kabari dan mampir ke rumah kalau sempat—

"Hei, lepas!" Scara memberontak. "Bicara panjang lebarnya nanti saja! Kita masih ada di depan—lampu belum mati! Seseorang—seseorang bisa saja melihat kita, Bodoh!"

"Sshh…." Di depan protes itu, Kazuha langsung menempelkan jarinya ke depan bibir Scara sebelum keluar hinaan lain dari bibir cantik itu. "Kurangi berteriak, banyak-banyak bicara."

"H-hah?" Scara terkesiap, tapi binar di mata dan semu merah di pipi memberi Kazuha petunjuk bahwa Scara tidak bodoh dan tahu persis ke mana arah pembicaraan mereka.

"Kau akan butuh banyak suara untuk nanti, oke? Jadi simpan suaramu untuk saat kita bicara." Kazuha berbisik, lalu menyentuh dagu Scara, mengarahkan wajah cantik itu ke depan wajahnya.

Ah, Kazuha benar-benar merasa siap melahap makhluk rupawan di depan matanya ini. Sekaligus, jika memang memungkinkan.

"Dan tolong simpan staminamu." Kazuha mengecup bibir Scara pelan. "Kau akan sangat membutuhkannya saat kita tidak bicara nanti."

Mendengar janji itu, Scara tidak berkutik. Sosok itu hanya bisa pasrah kemudian ketika Kazuha menepati janjinya, sepanjang malam.

***

"Darah muda benar-benar menggemaskan!" Beidou berujar dengan gelak tawa di dalam mobil milik mereka yang melintas di keramaian kota Inazuma. Dia menoleh ke kursi penumpang, tempat Nahida duduk dengan tenang. Tampak menikmati hologram di depannya. "Sudah kau urus semuanya, Lord Kusanali?"

"Ya, jamming sinyalnya sudah beres. Seharusnya tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka berdua dari jauh. Kecuali … mereka datang sendiri." Nahida menutup layar hologram di depannya dan memejamkan mata. "Aku harus mengawasinya lebih teliti lagi."

"Kita mengawasinya lebih teliti." Beidou mengoreksi. "Biar aku hubungi Ningguang. Mungkin koneksinya bisa membantu memberi dua orang itu ruang damai lebih aman dari ini."

"Aku senang kalau itu bisa dilakukan." Nahida berujar dengan rasa terima kasih yang tidak sedikit. "Meski … aku juga tidak menolak jika salah satu Harbinger bergerak dengan lebih frontal."

Kali ini senyum yang muncul di wajah Nahida bukan senyum keibuan atau hangat yang ia tunjukkan pada Scara. Senyum itu adalah senyum dingin seseorang yang berkuasa.

"Jika salah satu Harbinger ceroboh, aku akhirnya akan bisa mengirim keluhan resmi kepada Tsaritsa." Nahida berkata. "Sudah saatnya kelompok berbahaya itu tahu diri."

***

Series this work belongs to: