Work Text:
[i.]
Bahwa sesungguhnya, pertemuan Mark dengan Jeno pun sudah merupakan sebuah keajaiban.
Jeno. Nama itu sudah sejak lama kerap mampir di indera pendengaran Mark. Sejak berteman dengan Yeonjun, si kupu-kupu sosial yang memiliki banyak kenalan dari seluruh penjuru sekolah saat kelas sepuluh dulu, Mark menjadi sering mendengar nama-nama asing yang ternyata berada di lingkup yang sama dengannya. Dan, Jeno adalah salah satu nama yang intensitasnya cukup sering disebut oleh bibir temannya itu setiap mereka sedang berbincang. Hingga lambat laun, akhirnya mau tak mau ia menyimpan nama itu di ingatannya.
Awalnya, setiap mendengar nama Jeno, Mark bertanya-tanya siapakah dan bagaimanakah sosok pemilik nama tersebut. Meskipun lama-kelamaan, ia jadi mengerti jika Jeno yang sering ia dengar adalah adik Yeonjun. Remaja—yang saat kali pertama Mark mendengar namanya—merupakan seorang murid SMP tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuknya dengan persiapan ujian nasional.
“Wah, pensi SMANSA bakal undang The Overtunes? Boleh deh, gue beli tiketnya. Ajak Jeno enggak ya? Dia suka The Overtunes juga, tapi kalau diajak pasti percuma, soalnya Jeno tuh anak rumahan banget. Kayaknya dia cuma keluar rumah buat pergi sekolah atau temenin mama belanja aja.”
“Jangan kerja kelompok hari Sabtu ini, plis. Gue sama Jeno mau pergi ke Timezone, ngerayain dia ultah kelima belas. Ini tuh kesempatan langka, kapan lagi coba adek gue mau main keluar rumah?!”
“Jeno suka banget sama susu, apalagi yang rasa pisang. Agak kayak bocah sih, tapi yaa… memang beneran masih bocah.”
“Aduuuh, selera musik lo kenapa mirip banget sama Jeno sih?! Gue udah gumoh dengerin lagu si Harry Styles diputer mulu di rumah setiap hari setiap jam, eh sekarang lo malah pasang juga di kelas!”
“Gue sedih, alergi Jeno lagi kambuh. Dia batu sih, udah dibilang kalau lagi mainin kucing enggak boleh lama-lama, eh cuma karena gemas, dia sampai ketiduran bareng kucingnya. Lagian aneh ya, udah tau alergi bulu kucing, tapi malah pelihara kucing. Tiga lagi! Memang ada-ada aja adek gue tuh!”
Dialog-dialog mengenai Jeno yang dilontarkan Yeonjun selalu dicatat begitu apik di dalam kepala Mark, sampai rasanya ia seperti sudah mengenal remaja itu meski hanya melalui obrolan sepintas dari orang lain. Waktu demi waktu, informasi-informasi itu kian menumpuk di seisi pikirannya sembari sibuk menerka-nerka, kapankah kesempatan untuk bertemu dan berkenalan dengan Jeno akan tiba.
Rabu itu, sinar matahari pagi menyorot lembut pada kelas 11 IPS 3 yang letaknya di ujung koridor. Mengayunkan kaki sehabis dari toilet, dari kejauhan Mark melihat sebuah punggung dengan tas ransel biru tua berdiri di depan kelasnya. Berbalut setelan seragam yang masih tampak baru dibandingkan miliknya sendiri.
“Permisi, di sini ada yang namanya Mark?” Suara Jeno terdengar begitu pelan. Beruntung, saat itu manusia yang dicari justru baru saja melintas.
“Aku! Aku Mark.” Tanpa sadar, Mark berseru penuh semangat. Kakinya dibawa masuk ke dalam kelas, kini berdiri menghadap yang lebih muda. “Ada apa ya, Dek?” lanjutnya. Dalam hati bertanya-tanya, siapakah remaja di hadapannya? Karena seingatnya tidak ada wajah rupawan seperti ini di angkatannya atau angkatan di atasnya. Terheran dengan wajah yang tampak asing, Mark tidak sadar bahwa nada akhir kalimat yang keluar dari bibirnya berakhir terdengar tidak jelas.
“Oh…,” Sejenak, Mark mampu melihat sirat lega di raut wajah remaja itu, “ini, surat sakit punya kak Yeonjun, kak Mark. Kak Yeonjun lagi demam, jadi enggak bisa masuk sekolah. Mama bikin surat, terus kata kak Yeonjun, aku harus kasih ke kakak yang namanya Mark.”
Penjelasan panjang dari remaja di hadapan Mark membuat kedua matanya mengawang, mencoba mengingat pesan terakhir yang Yeonjun kirimkan kepada dirinya, tepat sebelum ia tiba di sekolah dan remaja ini datang ke kelasnya dengan membawa surat beramplop putih nan rapi tanpa ada kerut sedikitpun.
“Kamu Jeno, adiknya Yeonjun?” tanya Mark.
“Eh…?” Jeno tersentak kecil, meski cepat-cepat memberi jawaban. “Hehe iya, kak Mark. Aku Jeno, adiknya kak Yeonjun.” Remaja itu membasahi bibir. Tangannya bergerak canggung, berulang kali hendak menyodorkan amplop berisi surat kepada dirinya, tapi diurungkan. Hingga tak lama, amplop itu pun sampai di tangan Mark. “Eum… ini suratnya ya, kak. Makasih banyak,” ucap Jeno, lalu cepat-cepat memundurkan tubuh setelah memberikan satu senyum tipis kepada dirinya. Meninggalkan Mark di pintu kelas yang menatap amplop di tangannya juga punggung berbalut seragam itu berjalan menjauh, dengan bibir yang terbuka—hampir menjawab ucapan Jeno yang berakhir tak dibalas.
Maniknya masih mengekori profil belakang Jeno yang kini menghilang di balik tembok. Mark menipiskan bibir, mencoba meraba perasaan asing yang hinggap sejenak di dadanya. Ia termenung di pintu kelas, mengabaikan sapaan dari salah satu temannya di kelas sebelah yang kebetulan lewat.
Yang tadi itu Jeno. Jeno yang selama ini ia nantikan untuk bertemu. Ternyata Jeno seperti itu.
Pertemuan pertama mereka adalah keajaiban, yang terasa ringan dan menyenangkan. Jeno datang ke dalam hidup Mark bagai serpihan bunga-bunga dandelion yang terbang dan mampir dengan malu-malu di tanah lapang hatinya. Bunga-bunga itu tiba dan menetap begitu saja, lalu tanpa ia sadari tumbuh dan mekar dengan indah—memenuhi seisi hati Mark dengan segala hal kecil tentang Jeno.
[ii.]
Sejak pertemuan pertama mereka, alih-alih hilang rasa penasaran, Mark justru semakin dibuat ingin tahu tentang Jeno.
Lagipula, tidak sulit untuk merasa nyaman dan menjadi dekat dengan Jeno. Remaja, yang beranjak dewasa seiring dengan bertambah erat pertemanan di antara mereka, itu selalu beri laku sehangat sinar matahari pagi. Meski cukup canggung dan penuh pertimbangan, berinteraksi dengan Jeno selalu menyenangkan, bagi Mark. Bukan hanya karena Jeno memang manusia yang selalu memberikan respon baik, pun ternyata mereka memiliki banyak kesamaan. Informasi mengenai Jeno dari Yeonjun yang tersimpan di ingatan Mark juga menjadi salah satu alasan dirinya mudah mengakrabkan diri dengan yang lebih muda.
“Masa ya, Jen, kata kak Ten, kompor listrik tuh bahaya buat kucing dibanding kompor biasa yang pakai gas. Kenapa bahaya deh? Kompor di rumah kamu bukan kompor listrik kan? Kalau pakai kompor listrik, nanti bahaya buat Bonsai, Jen.” Ujaran itu terlontar seiring dengan desis pelan panggangan daging dan bising konversasi pengunjung lain di meja dekat mereka.
“Tiba-tiba banget jadi bahas kucing?” Jeno tergelak, sementara fokusnya beralih sejenak pada pelayan yang datang membawakan dua gelas minuman bersoda pesanan mereka dan melafalkan terima kasih. Remaja itu kemudian kembali menatap Mark, setelah menaruh salah satu gelas di dekat dirinya.
“Iya, bahaya soalnya bisa aja kompor listriknya nyala pas kucing lagi main-main di dapur. Kakak tau sendiri kan, kalau kucing tuh suka naik-naik meja, manjat rak, yaa… macam-macam deh kelakuannya. Di rumah aku pakai kompor biasa kok, Kak, jadi aman buat kucing-kucing aku,” lanjut Jeno sembari tangannya bergerak merapikan letak piring-piring berisi makanan di atas meja restoran.
Anggukan paham Mark berikan sebagai balasan. "Bonsai, terus… Naga," lima detik ia terdiam, berusaha mengingat nama kucing-kucing Jeno yang sering remaja itu ceritakan sebagai bagian dari kesehariannya, “satu lagi….”
"Soleram, Kak,” sahut Jeno.
"Oh, iya iya. Bonsai, Soleram, sama Naga."
Jeno memiringkan kepala. Jari telunjuknya terangkat, menggaruk pipi bulatnya. Bibir itu pun mengerucut maju. Setelah cukup lama mengenal Jeno, Mark jadi paham jika itu merupakan kebiasaan yang dimiliki sang remaja setiap tengah berpikir. "Memangnya nama kucing aku susah dihafal ya? Masa kak Yeonjun selalu salah sebut, padahal kan kucing-kucing aku udah lama tinggal sama dia,” adunya kemudian.
"Enggak susah kok.” Ia sontak menggelengkan kepala, sedikit tak tega saat melihat wajah cemberut yang lebih muda, lalu kembali menaruh fokus membalik-balikkan kumpulan daging sapi di panggangan yang sebentar lagi matang. “Mungkin aku harus sering-sering main bareng, biar lebih cepat familier sama nama mereka."
"Ya udah, habis ini kak Mark main ke rumah aja."
“Hehe boleh, Jen. Nih.” Mark menaruh empat potong daging panggang ke atas mangkuk berisi nasi milik Jeno, sebelum memanggang daging lainnya.
“Thank you.”
“Hm,” dengungnya singkat. Matanya melempar lirikan pada yang lebih muda. Senyum tipis terukir di wajah Mark saat Jeno mulai mengangkat sendok dan hendak menyantap daging hasil panggangannya. “Tiup dulu, masih panas.”
[iii.]
Pertama kali Mark menyadari bahwa ia mungkin memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar suka pada Jeno adalah ketika ia menemukan sang pemuda tengah berdiri di depan papan pengumuman, menatap poster acara pentas seni sekolah yang sudah diadakan satu bulan lalu, tapi entah mengapa kertas besar tersebut masih tertempel di beberapa ruang dan sudut bangunan. Pemuda yang kini berada di kelas sebelas itu tidak tampil mencolok, hanya memakai seragam sekolah mereka layaknya murid biasa. Meskipun hari itu, ada kardigan abu muda yang melapisi kemeja putihnya. Jeno hanya diam, berdiri dengan tenang, lalu menoleh kepada Mark, mengulas senyum manis, dan terlihat begitu indah. Di antara kersik dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh cukup tinggi di halaman bangunan sekolah mereka, semilir angin yang menyisir helaian anak rambut Jeno, sinar matahari yang menyorot lembut sisi samping profil sang remaja, dan suara aktivitas dari deretan kelas di dekat mereka yang terdengar sayup-sayup, sosok Jeno yang terpotret begitu menawan di mata Mark.
Namun, setelah itu, ia berusaha untuk tidak memikirkan lebih jauh. Menurut Mark, perasaan itu hanya perasaan yang melintas sekilas, di saat ia tengah mencari distraksi dari kelas akuntansi yang memusingkan dengan berbohong ingin pergi ke toilet dan tanpa sengaja justru berakhir bertemu dengan Jeno. Mungkin saja, perasaan itu hadir akibat kesalahan Mark yang kemarin malam memilih untuk larut dalam drama romansa yang dipasang mama di televisi, sampai-sampai ia seolah melihat ada efek lembut dan hangat yang menghiasi koridor—tempat ia dan Jeno berada. Mungkin juga, ini kesalahan Yeonjun yang selalu merecoki Mark dengan segala informasi tidak penting tentang hubungan mesranya dengan Soobin, kekasih temannya, sehingga tanpa sadar Mark rindu akan perasaan tergelitik karena mencintai seseorang dan berharap agar rasa itu kembali menerpa dirinya. Mungkin ini kesalahan suasana di sekitar mereka yang seakan mendukung Mark untuk jatuh kepada Jeno. Atau mungkin ini semua memang kesalahan Mark yang selama beberapa waktu belakangan membuat pusat dunianya berputar di sekeliling Jeno.
Hanya saja, hingga hari-hari berikutnya, suara yang mampu ia dengar hanyalah irama jantungnya yang berdebar kencang setiap bertemu dengan Jeno. Mark pun kerap berakhir datang ke sekolah dengan kantung hitam di bawah mata dan kantuk yang terus menyerang karena kesulitan untuk tidur—lantaran rupa Jeno dan senyuman manis pemuda itu terus tercetak di ingatannya.
Bahkan saat Mark sudah lulus sekolah dan berkuliah, ia selalu berusaha untuk menyempatkan diri datang ke rumah Yeonjun setiap akhir minggu. Mencari alasan-alasan yang menurutnya terkadang tak masuk akal agar Yeonjun tak curiga, lantaran rumah temannya itu adalah satu-satunya tempat di mana ia dapat bertemu dengan Jeno. Walaupun kunjungan Mark di hari ulang tahun Jeno dengan sekotak hadiah berukuran besar akhirnya membawa Yeonjun pada kesimpulan bahwa dirinya memiliki rasa pada adik temannya itu.
Siang itu, ia dan Jeno berjalan beriringan. Ada jarak kecil yang memisahkan, meski rasa ingin menggenggam tangan hangat pemuda di sampingnya terus mendera hati Mark.
“Makan siang ketoprak Bude aja kali ya, Kak? Aku belum sarapan sih, tadi telat bangun hehe," kekeh Jeno. Keduanya bertemu di taman kampus sehabis mata kuliah siang itu berakhir. Walaupun berbeda fakultas, kebetulan hari itu kelas mereka selesai di jam yang sama.
Seiring dengan dua pasang kaki yang dibawa melangkah menuju warung Bude di kantin Teknik, Mark pun bertanya, “Kenapa bisa telat bangun?”
Cengiran malu terlukis di wajah sang pemuda. “Biasa, Kak. Habis begadang kerjain tugas hehehe. Susah soalnya."
“Lain kali, kalau ada tugas yang susah, kasih tau aku aja, Jen. Aku kakak tingkat kamu, yaa walaupun kita beda fakultas, tapi sebisa mungkin aku bantu kok.”
“Aku enggak mau bikin repot kak Mark.”
Mark memaku langkah. Tangannya meraih lengan Jeno dan memutar badan pemuda itu untuk berhadapan. Netra badam yang selalu ia sukai menatap tepat di maniknya dan gelitik menyenangkan kembali hadir di perutnya. “Mana pernah sih, kamu repotin aku.” Kedua sudut bibir Mark terangkat, membuat lengkungan sirat ketenangan hadir di wajahnya. “Tapi, kalau kamu anggap minta tolong ke aku bakal bikin repot… kalau gitu, aku senang direpotin kamu.”
Jeno tidak menjawab ucapannya, hanya diam sebelum tersenyum manis dan memberi dua anggukan kepala. Namun, lagi-lagi Mark merasakan wajah dan hatinya menghangat. Keduanya pun melanjutkan perjalanan, meski bersamaan dengan pergerakan kakinya, Mark berusaha menggali apa yang membuat ia melihat Jeno dengan perasaan cinta di dalam dada. Pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan itu terus datang silih berganti. Mark tidak pernah tahu alasan apa yang membuat dirinya mencintai Jeno. Apakah karena pemuda itu adalah adik Yeonjun? Apakah karena Jeno selalu bersikap baik? Mark tidak tahu atas alasan apa ia mencintai pemuda itu. Namun, di antara semua itu, Mark mengetahui satu fakta: Jeno selalu bersikap apa adanya, dan ia tetap jatuh cinta.
[iv.]
“Good morning, Jeno! Yuk, bangun, yuk!” Melongok dari pintu kamar, Mark pun kemudian melangkah masuk. Senyum gemas terbit di wajahnya begitu melihat gumpalan selimut di atas kasur dengan Jeno tergulung di dalamnya. Ia duduk di tepi, lalu menepuk-nepuk bahu yang lebih muda. “Jenoo, bangun, yuk! Aku beli nasi uduk lho. Aku udah makan, tinggal punya kamu.”
“Maleees. Masih ngantuuuk,” rajuk pemuda itu. Satu kekehan lepas dengan lancar dari bibirnya, menatap dalam sang pemuda yang semakin menelusupkan kepala ke bantal. Wajar, mereka berdua baru jatuh tidur jam empat pagi karena sibuk bertarung FIFA di ruang tengah apartemen miliknya sebagai selebrasi berakhirnya ujian akhir semester. “Sepuluh menit lagi, tolong,” tambah Jeno setelah memutar badan membelakangi dirinya.
“Makan dulu, ayoo. Nanti boleh tidur lagi deh, janji,” kelakarnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Jeno, hingga mau tak mau pemuda yang merasa terganggu itu membuka mata. Ia menarik kedua lengan Jeno agar segera bangkit dari posisi tidur. Walaupun wajah rupawan itu tertekuk dan gerutuan kesal tak berhenti diucapkan, Jeno tetap saja mengikuti langkah Mark yang membawanya menuju ruang makan.
“Nih.” Nasi uduk serta lauk-pauk yang semula ada di dalam kertas nasi, Mark taruh ke atas piring. Ia kemudian duduk di kursi, memangku dagu sembari memusatkan atensi pada yang lebih muda. Dagunya menganjur, memberi gestur agar pemuda itu segera menyantap makanan di atas meja. “Mumpung masih hangat nasi uduknya kan.”
“Iya iya. Makasih.” Jawaban ketus dari Jeno mengundang gelak kencang Mark. Kendati di detik berikutnya, ia menutup mulut dan ruang makan itu mendadak diisi keheningan. Hanya ada suara denting sendok dengan piring, juga garing kerupuk yang Jeno kunyah.
Oh?
Mark tertegun. Kedua maniknya memandang dalam figur Jeno yang duduk tepat di depannya. Dari surai hitam halus yang tidak tertata rapi seperti biasanya. Jatuh dengan lembut hingga menutupi dahi, meski ada beberapa anak rambut mencuat keluar. Lalu, netra badam yang dibingkai helaian bulu mata lentik, yang terus berkedip lambat lantaran masih ada kantuk yang tertinggal. Lalu, turun pada hidung dan pipi Jeno yang berkilau ditimpa sinar matahari pagi dari jendela di samping mereka. Dan, bibir tipis sewarna mawar merah muda yang mekar dengan ranum, bergerak pelan menyantap nasi uduk dan telur dari sendok. Di mata Mark, Jeno memang selalu tampak menawan, tapi melihat sang pemuda yang baru saja bangun tidur dan tampil apa adanya di depan dirinya, membuat jantung Mark berdebar tak karuan.
Oh.
“Cantik.” Kata yang sejak tadi terlintas di kepalanya, tanpa sadar terlontar begitu saja dari belah bibir Mark. Ia terkesiap, sontak mengatupkan bibir dan menggelengkan kepala heboh. “Eh, maaf maaf! Maaf, aku keceplosan bilang kamu cantik—maksudnya, kata itu dari tadi ada di kepala aku, jadi aku enggak sadar malah ngomong. Eh! Maksudnya… aduh!” kilahnya penuh kepanikan.
Jeno hanya diam, mengedipkan mata berulang kali seakan masih berusaha mencerna seluruh perkataannya, meski Mark sadar jika kunyahan pemuda itu pada nasi uduk di mulutnya bergerak melambat dan akhirnya berhenti. Ringisan pelan terdengar. Sekejap, Mark memejamkan mata lalu menghela napas kecil. Sudah terlanjur, walaupun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hati, sepertinya akan lebih baik jika ia jelaskan saja semuanya.
“Aku cuma mau kamu tau, kalau kamu cantik."
[v.]
Beberapa hari berlalu sejak insiden kata ‘cantik’ yang membuat Mark seperti tidak mempunyai muka untuk bertemu dan berhadapan dengan Jeno lagi. Awalnya, ia sudah memantapkan diri untuk menjauh dari Jeno sementara waktu sampai rasa malu dalam dirinya berkurang. Hanya saja, pesan dari sang pemuda juga notifikasi kalender yang ia nyalakan tepat di tanggal 10 Juli membuat jantungnya mendadak ricuh. Ricuh karena ia harus bertemu Jeno setelah kejadian memalukan yang diakibatkan oleh mulutnya yang hilang kontrol, juga ricuh yang selalu hadir saat wajah Jeno terpatri di kepalanya.
Jadi kan, Kak, temenin aku nonton kak Yeonjun tampil? Begitu pesan Jeno yang menyadarkan Mark bahwa ia sempat melupakan janji yang sudah mereka rencanakan sejak berminggu-minggu lalu. Setelah membalas bahwa ia akan menjemput sang pemuda, Mark pun segera bersiap-siap.
Festival diadakan di lapangan sepak bola kampus. Cukup jauh dari posisi Mark dan Jeno berada kini: di gerbang masuk kampus yang ternyata lenggang dan hanya diisi beberapa orang tengah berlalu-lalang. Lirikan kecil ia lemparkan pada yang lebih muda, berniat memastikan bahwa Jeno baik-baik saja. Jeno tidak pernah senang dengan keramaian. Pemuda di sampingnya itu sering mengatakan jika hiruk-pikuk dan hingar-bingar manusia selalu membuat dirinya kelelahan. Namun, permintaan Yeonjun yang berharap agar adiknya datang untuk menonton pertunjukan band-nya di festival kampus membuat pemuda itu berusaha untuk menghalau sisi introvernya.
Jeno menatap jam di layar ponselnya. “Sekarang jam tujuh lewat sepuluh. Masih ada dua puluh menit sebelum band kak Yeonjun tampil. Kata Soobin, ada banyak jajanan. Dia beli takoyaki. Rasanya enak, terus isinya banyak, katanya. Wah, kita beli takoyaki yuk, Kak?!”
“Boleh boleh.” Anggukan kepala Mark berikan. Lagipula, ia tidak memiliki tujuan spesifik yang ingin dikunjungi. Alasannya datang ke acara ini adalah selain untuk menemani Jeno, juga untuk memberi dukungan pada Yeonjun—yang memaksa dirinya agar berdiri sebagai penonton di barisan paling depan, jadi sebaiknya ia mengikuti ke mana yang lebih muda ingin pergi saja.
Kepadatan manusia menyapa begitu mereka tiba di dekat lapangan. Jalan panjang menuju lapangan yang biasanya agak temaram karena letak lampu jalan yang berjauhan, kini tampak terang-benderang karena banyaknya stand-stand makanan, minuman, serta merchandise acara yang berdiri berurutan di sepanjang tepi jalanan. Mark mampu merasakan ada perubahan di wajah sang pemuda—yang semula tenang, kini menahan napas dan seperti ingin pulang. Pun, pergerakan kaki Jeno mendadak berhenti, yang membuat sontak dirinya ikut memaku langkah dan diam menanti.
“Mau balik aja?”
“Jangan, Kak. Kak Yeonjun sama Soobin pasti udah nungguin.”
Jeno dengan hati baiknya. Jeno dengan sikap penuh pengertiannya. Mark tahu ini bukan saat yang tepat, tapi lagi-lagi ia dibuat semakin jatuh cinta. Dan, ia semakin ingin menjaga pemuda itu agar tetap baik-baik saja. Karena itu, dengan perlahan, Mark meraih tangan Jeno, dan menyelipkan jari-jemarinya di antara kekosongan yang ada. Menggenggam tangan itu erat untuk memberi kekuatan. "Supaya enggak hilang,” ucapnya kemudian.
Ada sedikit khawatir saat melihat air muka sang pemuda yang terlihat tak nyaman. Khawatir lantaran ia takut Jeno kelelahan karena padatnya keadaan di sekeliling mereka, juga khawatir karena tautan tangan yang ia lakukan tiba-tiba. Namun, begitu Mark merasakan Jeno balas menggenggam erat tangannya, semua kekhawatiran itu hilang seketika.
“Makasih banyak ya, Kak.”
“Tenang aja, aku bakal temenin kamu. Kalau merasa capek, kasih tau ya? Biar kamu bisa istirahat sebentar.”
Pemuda itu mengangguk. Keduanya kembali melanjutkan langkah. Mark berusaha untuk tidak salah tingkah, tapi tangan Jeno benar-benar terasa lembut dan hangat. Mengisi setiap sela di antara jarinya dengan begitu tepat seolah tangan mereka memang ditakdirkan untuk saling bertautan. Tarikan di kedua sudut bibir Mark meninggi, sembari diam-diam ia mencari kesempatan agar bahu keduanya terus bersinggungan.
[vi.]
Dua minggu berlalu sejak keduanya datang ke festival kampus dan selama itu pula, ia dan Jeno tidak memiliki kesempatan untuk bertemu. Jangankan bertemu, saat tengah mengirim pesan atau menelepon satu sama lain pun tak jarang keduanya berakhir tertidur karena kelelahan akan kegiatan kuliah juga kepanitiaan.
Menjelang hari ulang tahunnya, diam-diam ada harapan yang melambung tinggi dalam hati Mark bahwa Jeno akan datang, menyempatkan diri untuk merayakan hari spesial baginya bersama-sama. Puluhan unggahan foto dan kalimat-kalimat panjang dari orang lain seolah tak menorehkan kesan mendalam, karena tidak ada satupun notifikasi atau ucapan datang dari Jeno, pemuda yang ia tunggu. Rasa sedih sedikit menggerogoti dada Mark. Sejak mengenal Jeno dan membagi hari kelahirannya bersama pemuda itu setiap tahunnya, Mark seperti menjadi terbiasa dengan kehadiran Jeno di hari ulang tahunnya. Biasanya ada Jeno yang ikut meniup lilin. Biasanya ada Jeno yang ikut menyantap kue miliknya. Biasanya ada Jeno yang menyambut dirinya dengan senyuman setiap ia membuka mata sehabis membuat permintaan. Sehingga, ketika datang waktu di mana pemuda itu tidak ada di sisinya saat ia bertambah usia, sesuatu yang asing hinggap dan mengusik hati juga pikiran Mark.
Di pertengahan malam, tepat menuju jam dua belas adalah pergantian hari baru: tanda berakhirnya perayaan kedua puluh satu tahun Mark menginjakkan kaki di bumi. Ia tidak berharap banyak, memutuskan untuk menyalakan televisi di ruang tengah apartemennya guna menghapus hening, karena hari ulang tahun yang seharusnya spesial justru terasa membosankan tanpa ada Jeno bersamanya.
Ting tong!
Decakan malas menjadi respon pertama Mark tatkala suara bel terdengar. Sembari menggerutu dengan dahi berkerut dalam, ia berjalan menuju pintu, hendak menemui siapapun tamu tak diundang yang mengunjungi apartemennya. “Iyaa, sebentar!”
“Woooo happy birthday, kak Mark!” Saat pintu terbuka dan rupa Jeno muncul dalam ruang pandangnya, Mark tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekap pemuda itu erat. Sesungguhnya, Mark tidak memiliki permintaan yang muluk-muluk. Ia hanya berharap agar dapat terus berada di antara kebahagiaan yang ia sudah miliki saat ini, termasuk Jeno. Sampai tiba-tiba, Jeno datang, di saat kerinduannya sudah teramat memuncak. Jeno datang, seperti sebuah keajaiban.
“Kak? Sebentar—aduh, lepas dulu. Lilinnya meleleh, nanti kena cupcake-nya.”
Walaupun sedikit tidak rela, Mark akhirnya melepaskan pelukan mereka lalu menarik Jeno masuk ke dalam apartemen. Pemuda itu tampak lelah meski tetap ada senyum yang bertengger di wajah, dengan rambut yang cukup berantakan habis tersapu angin, sepertinya buru-buru datang ke sini setelah menyelesaikan banyak kesibukannya. Jeno pun duduk di sofa, diikuti Mark yang mendaratkan tubuh tepat di sebelah yang lebih muda.
“Maaf, karena aku baru ucapin selamat ulang tahun ke Kakak. Persiapan event akademik jurusan aku lagi agak kacau, jadi semua panitia harus kerja dua kali. Maaf juga karena kue ultahnya cuma cupcake. Aku juga enggak bisa kasih kado, karena uang aku udah habis buat bayar iuran sama kaus panitia…,” sesal pemuda itu. Suara Jeno terdengar pelan, dan terasa sedih. Tangannya mengangkat cupcake di atas meja ruang tengah, lalu menyodorkannya ke hadapan Mark. Dagu yang lebih muda kemudian mengajur, memberi isyarat agar ia segera meniup api yang menyala terang.
Kedua manik Mark masih terpaku pada rupa Jeno. Tidak ingin membuat sang pemuda semakin sedih, ia pun segera mengembuskan napas hingga lilin di atas kue ulang tahunnya tak lagi bersinar. “Jangan minta maaf. Kamu enggak punya salah apa-apa, Jeno,” ucapnya, menenangkan. Menaruh cupcake kembali ke atas meja, Mark menarik Jeno ke dalam dekapan. “Aku senang ada kamu, Jen. Lagian hadiah aku ada di sini, baru aja datang.”
“Baju aku kotor,” lirih Jeno. Pun, tangannya masih terkulai lemas di kedua sisi tubuh mereka. Walau kepalanya kini jatuh tepat di persimpangan leher Mark, hingga ia mampu merasakan deru napas yang begitu lembut dari hidung sang pemuda di sekitar tengkuknya. “Nanti baju tidur Kakak ikutan kotor.”
Seulas senyum tipis terukir di wajah Mark. “Enggak masalah. Aku cuma mau sama kamu, selamanya.”
[vii.]
Sepertinya ada jarak yang sengaja Jeno bentang dengan dirinya semenjak malam hari ulang tahunnya kemarin. Pemikiran itu datang menghantui kepala Mark setelah pesan-pesan yang ia kirimkan di hari berikutnya hanya berakhir dibaca tanpa ada balasan. Atau bisa saja, penolakan dari Jeno perihal perasaannya sebentar lagi datang menghampiri dirinya. Ketakutan akan penolakan atau lebih parah, Jeno mungkin membenci dirinya, serta kemungkinan-kemungkinan negatif lainnya memenusi isi kepalanya, terlebih saat Mark mendapati Jeno tiba-tiba menghampiri dirinya yang sedang duduk menyantap nasi goreng ayam di meja kantin, dengan raut wajah serius dan tanpa senyum terukir sedikit pun.
“Omongan Kakak yang waktu itu, tentang mau sama aku selamanya.” Persimpangan tipis hadir di dahi Jeno. “Maksudnya, Kakak suka sama aku?”
Sendok di tangan Mark, pelan-pelan ia taruh kembali ke atas piring. Sudahlah, tidak peduli dengan respon yang akan Jeno berikan, ia memutuskan untuk mengakui semuanya. Penolakan atau penerimaan saat ini sudah ada di depan mata, ia hanya perlu bicara sejujurnya dan menerima semua keputusan yang datang dari sang pemuda.
Menghela napas, Mark kini mulai bicara. “Iya. Aku suka—cinta, sayang juga sama kamu. Perasaan ini udah lama ada, sejak kita masih SMA. Awalnya, aku enggak tau kenapa perasaan ini ada, sampai sekarang juga aku belum tau. Aku selalu suka setiap kamu ada di samping aku, setiap kamu senyum dan ketawa. Aku suka dengar cerita tentang kucing kamu, teman-teman kamu, tugas yang bikin kamu pusing, dan semua cerita keseharian kamu. Aku suka setiap kamu minta tolong ke aku, dan aku suka setiap aku bisa jadi orang yang kamu percaya untuk bantuin kamu. Aku selalu suka perasaan nyaman dan senang yang muncul di hati aku setiap kamu ada.”
Jeno mendengarkan semua penjelasannya dengan saksama, tidak menginterupsi ataupun memberikan respon penolakan seperti yang sebelumnya ia sangka. Jantung Mark berdegup tak karuan, walau kelegaan ikut hadir di dalam benaknya. Detik-detik terlewat, dengusan pendek diiringi senyum menjadi respon pertama yang akhirnya Mark dapatkan dari Jeno.
“Aku juga…,” Ada jeda setelah dua kata tersebut keluar dari mulut yang lebih muda. Jeno membasahi bibir dan melirik dirinya, “sayang sama Kakak.”
“Hah… apa?” Rahang Mark jatuh diikuti mata bulat yang mengerjap lambat. Pikirannya masih bekerja, berusaha mencerna ucapan Jeno. Sementara itu, kata-kata yang sudah ia susun apabila mendapat penolakan kini buyar berantakan. “Berarti… sekarang kita pacar? Pacaran?” cicitnya hati-hati.
“Hm.” Pemuda itu mengangguk kecil. “Aku maunya gitu. Kak Mark… maunya apa?”
“Pacaran,” jawabnya diiringi kurva yang muncul malu-malu.
Perasaan hangat tumbuh di dalam hati Mark dan Jeno, bersamaan dengan dua pasang mata yang kini berpendar bahagia menatap satu sama lain. Latar suara berupa konversasi mahasiswa lain juga kesibukan para penjual makanan di kantin yang ramai tidak mengubah atmosfer penuh cinta yang melingkupi kedua pemuda tersebut.
Sejak awal, Mark selalu menganggap Jeno sebagai keajaiban. Keajaiban yang datang ke dalam hidupnya dan mengisi setiap hari-harinya dengan perasaan penuh suka cita. Perasaan yang ia tidak pernah tahu bahwa pada saatnya akan terbalas. Oleh karena itu, ia kembali menarik kesimpulan: bahwa di antara semua keajaiban dalam hidupnya, dicintai Jeno pun adalah keajaiban.
[viii.]
“Kenapa kamu selalu nolak setiap aku ajak main basket bareng? Enggak bosen nontonin doang?” Ia melontarkan pertanyaan tatkala maniknya menangkap Jeno masih duduk nyaman di tepi lapangan dengan sebotol air minum miliknya di pangkuan. Tangannya tetap bergerak, memantulkan bola basket ke alas beton lapangan.
Jeno menggeleng, memberi senyum kecil. “Enggak kok, lagian aku takut.”
“Takut karena?” Mark tergelak, merasa tidak percaya sekaligus tidak menyangka dengan jawaban yang pemuda itu berikan. “Memangnya aku nyeremin yaa?”
“Ih, bukan takut karena Kakak seram atau gimana. Takut karena…,” Jeno menggaruk pipi bersamaan dengan raut wajah kebingungan, “yaa takut aja, soalnya kak Mark kelihatan tambah cakep pas lagi main basket.”
Kekehan panjang menguar seiring dengan pergerakan Mark yang ikut duduk di tepi lapangan, meneguk air putih yang sudah Jeno siapkan lalu menyandarkan kepala pada bahu berbalut kaus biru sang kekasih. Menikmati hening menyenangkan dengan tiupan angin malam yang berembus lembut. Walaupun sedikit dingin, kehadiran Jeno di sampingnya membuat Mark merasa hangat.
"Omong-omong, hari ini bintangnya cantik ya."
"Masa sih?” Jeno bergumam bingung. Kepalanya dibawa mendongak ke atas, menatap hamparan langit malam yang tampak gelap tanpa ada satupun titik-titik cahaya menghiasi. “Enggak ada bintang tuh.”
"Bintangnya cantik, soalnya ada di mata kamu."
Kernyitan di dahi menjadi balasan yang Mark dapatkan dari Jeno. Keduanya tergelak bersama, diam-diam menyelipkan lirikan malu-malu penuh rasa pada satu sama lain. Cukup sadar jika suasana kikuk yang hadir terlalu kentara di antara mereka lantaran merasa salah tingkah di hari pertama sebagai sepasang kekasih. Namun, Mark tidak berbohong. Malam ini, langit tampak begitu cantik seakan-akan ada gemerlap-gemerlap yang menyinari tempat mereka kini berada: duduk berdua di tepi lapangan basket dengan sinar jingga lampu jalan menghiasi. Mungkin saja semuanya terasa indah karena ia sedang bahagia, atau mungkin seluruh keindahan itu berasal dari Jeno yang ada di sisinya.
“Aku bersyukur.”
“Buat?”
Kamu. “Semuanya.”
Jeno adalah segalanya bagi Mark. Keajaiban yang datang dalam bentuk seorang pemuda. Keajaiban yang membuat dirinya merasakan cinta juga bahagia. Dan, jika hanya ada tujuh keajaiban di dunia, maka mencintai Jeno adalah keajaiban baru yang Mark ciptakan.
(ix.)
Bahwa sesungguhnya, segala hal mengenai Mark kerap membawa sekumpulan pertanyaan dalam benak Jeno.
Menjadi seseorang yang terlahir pendiam, Jeno memang tidak pernah banyak bicara, terlebih pada orang yang baru ia kenal. Namun, semuanya bermula ketika hari itu ia bertemu Mark. Yang lalu, di hari-hari berikutnya Mark kerap hadir, berbicara tentang berbagai hal, bersikap seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama, mengisi kehidupannya, dan Jeno nyaman. Jeno merasa nyaman dengan sosok Mark yang sebenarnya ia kenal tanpa sengaja. Jeno merasa tenang setiap kali Mark ada di sampingnya. Kenyamanan dan ketenangan itu kemudian menghadirkan tanya dalam benak Jeno. Apakah Mark merasakan yang sama? Atau apakah di mata Mark, ia membosankan? Apakah Mark memang sebaik itu? Apakah Mark senang berteman dengannya? Apakah Mark pernah risih dengan sikapnya? Namun, seiring berlalunya hari, pertanyaan-pertanyaan itu larut dalam bertumbuh besarnya perasaan Jeno kepada Mark. Yang akhirnya membuat ia memutuskan untuk menyimpan rasa ingin tahunya dalam-dalam dan memilih untuk menikmati hari-harinya bersama Mark sebagai teman dengan bahagia.
Sudah lama Jeno menyimpan rasa kepada Mark. Teman Yeonjun itu hangat, lebih hangat dibandingkan susu cokelat yang sering bunda buatkan saat ia habis pulang sekolah. Teman Yeonjun itu ramah, lebih ramah dari matahari pagi yang sinarnya muncul malu-malu di balik gumpalan awan saat ia berangkat sekolah.
Sebagai remaja yang baru memasuki sekolah menengah atas, selalu ada euforia yang hadir—perasaan semangat untuk mencoba dan merasakan banyak hal baru. Oleh karena itu, sesaat setelah mengenal dan menjadi dekat dengan teman Yeonjun tersebut, Jeno beranggapan bahwa kembang api yang meledak di perutnya setiap Mark ada di sisi adalah sebuah euforia sesaat belaka. Euforia karena ada orang baru yang mampu membuatnya merasakan nyaman, euforia karena mengenal seorang kakak kelas tampan yang baik hati, euforia karena memiliki kesempatan untuk berteman akrab dengan Mark, dan euforia karena Mark selalu memperlakukannya dengan manis.
“Jun, jangan diisengin terus Jenonya. Jeno lagi belajar, besok dia ada ulangan kimia.”
“Susu pisang buat Jeno! Tadi aku ke kantin, terus lihat ada susu pisang sisa satu. Aku ingat kamu, jadi susunya langsung aku beli sebelum keduluan. Diminum ya!”
“Sini, tasnya aku bawain. Semangat yaa nanti tes dramanya! Pasti lucu, kamu main jadi Ken Arok. Mukanya jangan tegang gitu…. Tenang, Jeno. Tenang. Aku yakin, kamu pasti bisa.”
“Cieee, yang sekarang udah resmi jadi anak kuliah hehehe! Makan pizza yuk, aku traktir buat perayaan.”
“Temanku punya catatan buat mata kuliah yang kemarin kamu bilang susah, Aku izin ke dia supaya boleh pinjam sebentar. Nih, buat kamu. Semangat kelasnya!”
“Kamu lucu banget di foto ini! Matanya hilang hehehe. Lucuuu, kayak anjing samoyed peliharaan kak Jaehyun.”
Mark selalu bersikap baik kepada semua orang. Sejak sadar bahwa dirinya menyimpan perasaan lebih kepada yang lebih tua, Jeno menjadi semakin mengamati tingkah pemuda itu dan ia sadar, Mark adalah seseorang yang amat baik hati. Teman sekelas, rekan kepanitiaan yang tak terlalu dekat, bahkan manusia yang sekadar berpapasan, Mark pasti bersikap baik kepada semuanya dan semuanya pun menyukai Mark. Semuanya, termasuk Jeno. Karena itu, ia tidak ingin bersikap terlalu percaya diri dan berpikir bahwa pemuda itu menyukainya, setelah semua perlakuan manis yang selama ini selalu ia dapatkan.
“Sepengamatan aku ya, pokoknya aku yakin kalau kak Mark tuh suka sama kamu, Jen.” Percakapan sore hari itu kembali dibuka dengan pernyataan dari mulut Soobin yang mendadak membuat Jeno diam-diam termenung dan berpikir dalam. Soobin mengayunkan sayap ayam di tangannya, lalu mengambil satu buah lagi dan menaruhnya di atas piring Jeno. “Akhirnya bersambut ya.”
Ia memicingkan mata, menatap Soobin yang kini mulai menyantap makanannya dengan perasaan tak yakin. “Masa sih?”
“Iya.” Sahabatnya itu mengangguk kencang. “Kenapa enggak tanya ke kak Yeonjun aja sih, Jen? Kak Mark kan sahabatan sama dia, pasti ada dong curhat-curhat sedikit soal cinta gitu.”
“Enggak mau, malu tau,” tolaknya cepat sambil menggelengkan kepala.
“Atau aku aja yang tanya ke kak Yeonjun, gimana? Mumpung nanti sore, aku kan mau jalan sama dia.”
“Biiin.” Jeno merajuk. “Jangan dong.”
“Iya iyaaa. Enggak kok, aku cuma bercandaaa. Tapi omongan aku yang sebelumnya serius lho, Jen. Aku yakin seribu triliun persen kalau kak Mark suka sama kamu.”
Jeno menggelengkan kepala. “Hm… enggak tau deh, Bin. Aku pusing.”
“Hm, enggak apa-apa. Cinta-cintaan itu urusan belakangan, yang penting kita makan dulu.”
Nyatanya, pusing yang mendera kepala Jeno bukan sekadar pusing lantaran perasaan Mark kepada dirinya. Ia demam. Tubuhnya panas, tapi entah mengapa udara di sekitarnya justru terasa teramat dingin. Helaian rambutnya menempel di dahi, terkena keringat yang terus meluncur turun. Pandangannya kabur seolah dunia berputar lebih cepat dan lebih kencang dari biasanya. Dengan seluruh sisa kekuatan yang ada, Jeno memutuskan untuk segera pulang ke apartemen setelah agenda makan siangnya dengan Soobin berakhir, juga setelah meminta sang sahabat untuk merahasiakan keadaan dirinya kepada Mark juga Yeonjun.
….
Jeno memiringkan kepala, maniknya mengekori pergerakan Mark di dalam apartemennya. Ia tidak tahu sudah berapa lama pemuda itu ada. Seingatnya, Mark tiba-tiba datang dengan wajah khawatir. Seperti biasa, ia membukakan pintu dan membiarkan yang lebih tua untuk masuk ke dalam, lalu sepertinya tanpa sengaja ia justru tertidur di sofa. Pemuda itu kini sibuk mondar-mandir dari dapur, lalu kamar mandi, lalu ke ruang tengah tempat dirinya berada untuk menempelkan punggung tangan ke dahinya, lalu kembali ke dapur. Tak lama, Mark datang menghampiri Jeno dengan sebuah baskom plastik, satu handuk yang masih kering, satu bungkus parasetamol, dan segelas air di tangan.
Sadar dengan semua bawaan pemuda itu, Jeno cepat-cepat menggelengkan kepala, menolak apapun yang akan Mark perintahkan kepada dirinya. “Aku cuma pusing sedikit, Kak.”
“Kamu demam, Jeno. Badan kamu panas banget. Kamu tadi udah makan kan sama Soobin? Sekarang minum obat dulu, habis itu istirahat lagi ya? Sambil kepalanya aku kompres.”
Kompres air hangat di kepala membuat tidur Jeno terasa sedikit lebih nyaman, sampai rasanya ia jatuh terlelap lebih lama dari yang diperkirakan. Satu hal penting: Jeno tidak menyangka bahwa saat kedua matanya terbuka, sosok Mark yang duduk di sofa menjadi pemandangan pertama dalam ruang pandangnya. Pemuda itu tampak fokus mengerjakan sesuatu di laptop, dengan kacamata baca yang membingkai hidung tegasnya. Menolehkan kepala, keduanya pun bertatapan. Mark bangkit berdiri, segera mengecek keadaannya dan menghela napas lega saat menyadari suhu tubuhnya sudah sedikit lebih baik dibanding sebelumnya.
“Oh iya, tadi ibu laundry telepon kamu, katanya cucian kamu udah selesai. Kamu tidurnya pulas banget. Aku enggak mau ganggu, jadi aku yang ambil ke sana. Enggak apa-apa kan?"
Jeno terdiam, sementara kedua tangannya meremas kuat permukaan selimut. Pernyataan Soobin tadi siang dan kepalanya yang masih sedikit pusing sepertinya membuat akal sehatnya bekerja dengan tidak tepat, lantaran sebuah ide tentang Mark yang menyukai dirinya tiba-tiba bermunculan. Tenang, Jeno, tenang. Kak Mark memang baik hati.
“Jeno? Hei, ada apa?”
“Hah…? Ah enggak, bukan apa-apa.” Pada akhirnya, ia lebih memilih untuk kembali menidurkan diri. Menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi wajah dan mengabaikan seruan dari yang lebih tua karena takut dirinya kesulitan bernapas.
Jeno memiliki seribu perumpamaan tentang seorang Mark, dan yang menurutnya paling tepat ialah Mark serupa segala perasaan di hatinya yang tak tahu akan terbalas atau tidak.
….
“Kayaknya aku ditembak.”
Yeonjun yang sedang meraup segenggam camilan jadi yang pertama merespon, sementara Soobin di sampingnya hanya melemparkan pandangan penuh tanya. Kakaknya itu mengerutkan dahi, memasang air muka kebingungan. “Kok kayaknya?” tanyanya heran, lalu bergerak mengunyah keripik berbumbu jagung bakar dari tangannya tersebut. Riuh garing keripik kentang kemudian mengisi ruang keluarga rumah Yeonjun dan Jeno.
“Ya… karena kayaknya? Aku enggak yakin, omongan dia punya maksud suka sama aku atau enggak. Dia bilang, dia mau aku ada di hidupnya, selamanya. Gitu.” Ingatan Jeno melayang pada perkataan Mark saat hari ulang tahun pemuda itu. Wajah Mark yang tampak begitu serius, suasana hening dan temaram di ruang tengah apartemen sang pemuda, dan perkataan yang lebih seperti pernyataan yang diucapkan kepada dirinya. Semua itu masih terpatri dalam ingatan Jeno, dan setiap kali memori itu tanpa sengaja terlintas di kepalanya, pipi yang memanas dan perut yang tergelitik selalu ia rasakan.
“Itu artinya aku ditembak kan?” lanjutnya.
Soobin kini angkat bicara. “Iya. Kamu ditembak, Jen,” jawabnya sembari melukiskan senyum jahil.
“Aneh kamu. Mana pipinya merah gitu lagi. Aduh aduh, Adeknya Kakak udah gede ya sekarang. Tapi, siapa sih memangnya? Kok Kakak enggak tau ada yang deketin kamu?” Yeonjun bertanya penasaran. Di saat seperti ini, Jeno jadi sedikit meragukan apa benar Yeonjun adalah kakaknya karena tampaknya pemuda itu seperti tidak menaruh minat sedikitpun pada kehidupan adiknya.
“Kan,” Sahabat dirinya sekaligus kekasih kakaknya itu berdecak, “suka dodol nih. Siapa lagi sih yang dekat sama Jeno selain kak Mark, kak Jun!”
“Oh iya iya, kirain lain lagi. Udah udah, terima aja kali, Dek. Lagian aneh deh. Di mata aku, kalian tuh padahal kelihatan udah saling suka dari lama, cuma kok betah banget jadi teman doang.”
Perkataan Yeonjun pun Jeno balas dengan dengusan sebal. Seandainya memang semudah itu untuk menjadi lebih dari teman dengan Mark, pasti Jeno sudah melakukannya sejak lama.
“Kalau bingung, kenapa enggak minta penjelasan langsung aja ke Mark?” Setelah diam sejenak, kakaknya itu pun memberikan saran. “Pendapat aku sama Soobin sih, Mark suka sama kamu dan dia nembak kamu, Dek. Tapi yang lebih tau tentang perasaannya ke kamu kan Mark sendiri.”
Perkataan Yeonjun membuat Jeno tertegun. Ditemani tepukan lembut di bahu oleh tangan Soobin, ia berpikir dalam-dalam. Apa benar ia harus bergerak lebih dulu dan bertanya kepada Mark?
(x.)
Dulu, setiap Mark memberi perlakuan lembut kepada dirinya, Jeno lebih sering memberi tawa sebagai balasan, atau tak jarang, memilih untuk mengunci bibir rapat-rapat. Takut jika dirinya terlalu percaya diri, sementara Mark hanya bersikap baik hati. Namun, sekarang dengan status mereka sebagai sepasang kekasih, rasanya yang Jeno ingin lakukan hanyalah berteriak kencang agar seluruh dunia mendengar bahwa Mark adalah kekasihnya, bahwa Mark juga mencintainya, bahwa perasaannya terbalaskan.
“Aku sayang kamu, Jeno.” Di sela-sela tontonan layar kaca yang menampilkan serial Marvel dan efek suara penuh semangat, Mark melontarkan kalimat tersebut.
“...oh.” Jeno melipat bibir, berusaha menahan senyum yang justru semakin meminta untuk dilukiskan. Pernyataan cinta dari Mark datang terlalu mendadak di saat ia belum mempersiapkan diri. Pun, suasana di sekitar mereka bukanlah keadaan yang tepat untuk bicara sesuatu yang romantis. Namun, bersama Mark, setiap detik adalah waktu untuk jatuh cinta. “Aku juga sayang kak Mark,” balasnya lalu cepat-cepat menyuapkan tiga buah berondong jagung ke dalam mulut.
“Hehe lucu.” Pemuda itu justru terkekeh. Meski di detik berikutnya, ia merasakan ada embusan napas yang menerpa pipi kanannya. Perlahan, ia menolehkan kepala. Tanpa sadar sontak memundurkan wajah saat rupa tampan yang lebih tua memenuhi seisi ruang pandangnya. “Boleh?”
Anggukan kecil Jeno berikan. Salah tingkah, kedua maniknya mengelilingi seisi ruangan—televisi yang masih menyala, meja ruang tengah dengan dua kaleng minuman berkarbonasi, juga tempelan stiker bergambar gitar di pintu kamar sang pemuda. Ia menatap apa saja, asalkan bukan sang pemuda yang kini semakin mendekatkan wajah. Mark kemudian mengecup Jeno di bawah mata, tempat di mana titik cantik konstelasinya berada. Dan, Jeno bahagia.
Di dalam dekapan pemuda itu, ia melukiskan senyum bersamaan dengan jutaan bunga mekar yang memenuhi dada. Jeno memiliki seribu perumpamaan tentang seorang Mark, dan sekarang yang menurutnya paling tepat ialah Mark adalah segala kebahagiaan di hidupnya yang tak akan mampu dikonversi dengan benda mahal apapun di dunia.
