Actions

Work Header

Jar of Cookies

Work Text:

3 years ago

"Jeno, kita sebentar lagi menikah."

Jeno menoleh, menatap Mark yang duduk di sofa, merangkul pundaknya erat.

Mereka ada di ruang tamu rumah orang tua Jeno. Seperti biasa, Mark mampir sepulang bekerja untuk melepas penatnya dengan menatap wajah Jeno barang sejenak.

"Iya, 'kan kamu udah lamar aku, kenapa?"

Mark menghela nafas sebentar, menegakkan duduknya. Dia mengelus pipi Jeno, mengecup hidung lelaki itu sebentar.

"Aku mau ngobrolin beberapa hal sebelum kita menikah," ujar Mark. Dalam seluruh kalimatnya ditekankan bahwa kali ini pembicaraan mereka mengangkat topik yang sedikit berat.

"Seperti?"

"Banyak, Jeno." Mark mengelus rambut Jeno. "Setelah menikah nanti, aku nggak akan bisa selalu sama kamu karena pekerjaanku, kamu juga belum selesai skripsian pastinya." Mark menjeda kalimatnya.

"Karena itu, aku mau kita ngobrolin semuanya. Tentang apa yang nggak kamu pengen dan kamu impikan dalam pernikahan kita nanti, aku bakalan bilang juga mana yang aku sanggupin dan mana yang aku gak bisa aku penuhin."

"Gimana, mau?"

Jeno anggukan kepalanya, lalu menggenggam tangan Mark.

"Kak Mark mau bahas apa dulu?"

Mark menggeleng. "Kamu duluan, Jeno."

Jeno mengangguk.

"Aku nggak banyak mau, aku cuma pengen pernikahanku sama Kak Mark nanti kurang lebih sama seperti pas kita pacaran. Nggak banyak berantem, nggak berubah. Lagi, aku bakalan lulus tahun depan juga, jadi skripsiku nggak bakal banyak mengganggu."

"Aku mau pernikahan kita nanti jadi sesuatu yang berharga, Kak. Walaupun kakak sibuk, tolong usahain buat kasih kabar ke aku, ya? Seperti yang biasanya kakak lakuin."

"Terus, kalau kakak pergi-pergi… akunya jangan ditinggal lama-lama, hehe."

Jeno tutup pernyataannya dengan senyum yang begitu manis. Mark mengeratkan genggam tangan mereka.

"Aku usahain, ya, Sayang? Setidaknya aku bakal kabarin kamu sekurang-kurangnya satu kali sehari."

"Iya, makasih, Kak Mark."

Jeno memberikan kecup kecil di pipi Mark. Lelaki itu mendusalkan kepalanya ke leher kekasihnya, membaui aroma yang menguar dari parfum kekasihnya.

"Jeno," panggilnya.

Jeno langsung menegapkan duduk, menatap Mark.

"Iya?"

"Aku mau bahas soal anak."

Atmosfer ruangan itu seketika mendingin. Jeno tau seberapa sensitifnya topik yang Mark bawa kepadanya, kepada Mark sendiri. Begitu Mark berkata, Jeno memberikan seluruh atensinya kepada sang kekasih.

"Kalau nanti kita nggak usah punya anak, kamu gimana?"

"Maksudnya—"

"Maaf, Jeno. Kamu pasti kaget, ya? Tapi aku udah kepikiran ini dari lama. Dengan pekerjaanku yang pasti bakalan banyak banget, kalau kita punya anak, kamu pasti keteteran sendiri. Kamu juga nggak suka sesuatu milikmu disentuh sama orang lain, jadi nggak mungkin kita nyewa baby sitters."

"Aku emang bakalan pulang setiap malem, mungkin jam 7, jam 3 pagi kalau emang aku lembur."

"Dengan pekerjaanku yang begitu, aku nggak akan ada waktu buat anak kita nanti, ataupun membantu kamu buat mengurus dia."

"Jadi, Jeno, menurut kamu gimana?"

Jeno tercenung. Dia tidak bergerak dari tempatnya. Jujur, pernyataan Mark membuatnya sangat terkejut. Jantungnya seakan berhenti selama beberapa saat. Kalimat panjang yang baru saka Mark katakan buat hatinya semakin dilema.

"Kak, jujur, aku emang sempet kaget tadi. Tapi setelah denger penjelasan, Kakak, aku mengerti."

"Untuk saat ini, ayo berkomitmen untuk nggak punya anak. Lagi, mungkin kehadiran anak nanti bisa buat hubungan kita berbeda, apalagi aku maunya pernikahan kita nggak jauh beda ketika kita pacaran."

"Kalau Kak Mark mau begitu, aku ikut."

 

"KAK MARK! AYO CEPET SIAP-SIAPNYA!"

Teriakan Jeno melengking memenuhi setiap sudut rumah dua lantai tersebut. Mark tergopoh-gopoh turun dari tangga, dasinya masih berantakan, rambutnya pun awut-awutan, bahkan kancingnya tak terpasang dengan benar.

Jeno berkacak pinggang melihat suaminya yang seakan satwa liar. Dia mendekati Mark, merapikan kancing kemejanya, memasangkan dasi, dan membalurkan gel rambut ke rambut suaminya.

"Sisirin sendiri, aku mau lanjut masak."

Mark mengangguk, mengikuti perintah suami manisnya.

Tiga tahun sudah mereka menjalani pernikahan. Selalu mulus, lurus. Jeno dan Mark mengerti satu sama lain, apalagi dengan hubungan mereka sebelumnya yang bertahan hampir 4 tahun, Mark maupun Jeno tau sisi buruk masing-masing individu.

Di tahun pertama pernikahan, Mark berhasil mendapatkan peningkatan dalam pekerjaannya. Dia membeli rumah mereka sendiri, dengan jerih payah Mark selama beberapa tahun bekerja.

Jeno tidak tau tentang rumah yang Mark beli sebelum hari kelulusannya. Setelah Jeno merampungkan kuliah, Mark segera membawa Jeno kabur, menuju rumah yang sudah dia siapkan segalanya.

Jeno yang kala itu dibawa ke alamat asing pun bertanya-tanya. Namun ketika Mark menunjukkan rumah mereka, Jeno menangis.

Hingga kini, Jeno lah yang merawat rumah ini agar selalu bersih dan hangat.

"Sayang, udah selesai, belum? Renjun udah nelpon kamu berkali-kali nih."

"UDAAHH! Bentaarr, aku lagi masukin makanannya ke tas aja."

Sembari menunggu Jeno selesai, Mark berjalan ke teras rumah. Dia kemudian masuk ke mobil, ke kursi pengemudi, memanaskan mobilnya.

"Kak! Udah selesai nih!"

Jeno berlari kecil ke arah mobil setelah mengunci pintu. Mark keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Jeno.

"Silahkan, Prince," goda Mark.

"Kak, stop!" protes Jeno sambil tersenyum malu-malu.

Mark mengusap rambut tebal Jeno, mengecup keningnya sejenak.

"I love you, Sayang."

"Love you more, Kak Mark."

 

Mark memberhentikan mobilnya di depan taman tempat Jeno dan Renjun memiliki janji temu. Jeno mengambil keranjang piknik yang telah disiapkannya, kemudian hendak membuka pintu. Namun,

"Sayang."

Mark memanggil. Jeno menoleh, Mark menatapnya serius.

"Aku belum dapet goodbye kiss," ujarnya kemudian.

Jeno mendengus lucu. Dia memberikan kecupan di bibir Mark, kemudian menuju pipi, kemudian berakhir di kening suaminya.

Tertawa puas, Mark mengamit kedua tangan Jeno, menggenggam jemari suaminya, lalu mengecup punggung tangannya.

"I love you, Prince."

"Love you more, Kak Mark."

Mereka bertatapan selama beberapa saat. Namun momen romantis itu dihancurkan dengan suara ketukan brutal yang berasal dari jendela. Jeno segera mengucapkan sampai jumpa, dan membuka pintu.

Jeno memberikan cengiran tidak bersalah kepala temannya. Kemudian Renjun berucap, "Mark, pacar lo sama gue dulu."

"Jagain baik-baik, ya, Jun!" balas Mark.

Mereka menarik diri. Jeno mengikuti Renjun yang telah menggelar tikar untuk piknik mereka hari ini. Tikar kotak-kotak itu digelar di bawah pohon rindang, cukup sejuk untuk mereka.

Tak jauh dari sana, banyak orang-orang yang melakukan hal kurang lebih sama dengan mereka. Piknik.

Jeno meletakkan keranjang pikniknya ke atas tikar, lalu mengeluarkan isinya. Jeno pun mendudukkan diri, lalu menarik nafas, merasakan udara bersih di sekitarnya.

"Gimana kabar lo?"

Renjun membuka percakapan. Jeno menoleh, tersenyum.

"Baik, nggak ada hal buruk yang terjadi sih sejauh ini." Jeno menjeda, mengambil kaleng soda dan membukanya. "Kalau lo? Gimana tinggal di Jerman?"

"Seru sih, tapi ya gitu, harus adaptasi dulu," balas Renjun.

"Yangyang gimana?"

"Masih di China, paling sore nanti landing di Indo."

Jeno hanya mengangguk-anggukan kepala. Dia menatap lurus pada sekitaran taman. Matanya melirik ke sekelompok keluarga, mereka bermain dengan anak kecil dengan umur sekitar 5 tahun. Hati Jeno menghangat.

"Kenapa lo liatin anak kecil?"

Jeno menoleh, mengendikkan bahu.

"Nggak apa-apa."

Renjun merasa tak ada yang salah, maka iya hanya berlalu, membahas topik lain.

Jeno menanggapi seadanya. Dia memikirkan tentang memiliki anak. Namun mengingat perjanjiannya dengan Mark… entahlah, Jeno ragu.

"Eh, Besok gue mau ke—"

"Auh! Maaf-maafkan saya—"

Suara seorang anak kecil menginterupsi perkataan Renjun. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Terlihat anak kecil terududuk di tanah, seperti baru saja terjatuh. Seorang pria berdiri di depannya, tak bergeming, seakan tidak ingin menolong seorang anak kecil. Pria itu berlalu begitu saja, membuat Jeno dengan spontan berlari ke arah anak tersebut, kemudian membantunya berdiri, dan duduk di tikarnya.

"Adek? Nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Jeno memperhatikan kondisi anak kecil itu. Tubuhnya kurus, bajunya kebesaran dan terlihat sangat lusuh. Rambutnya mulai memanjang; sangat berantakan. Serta bau badan yang sedikit menyengat masuk ke lubang hidung Jeno.

"N-nggak apa-apa. Saya baik-baik aja," balas anak tersebut sambil tetap menunduk.

"Adek, namanya siapa? Biar saya bantu cari orang tuanya." Renjun memberi penawaran.

Tanpa disangka, tubuh anak itu bergetar hebat. Air matanya membasahi kaos lusuhnya. Isakan-isakan mulai terdengar. Anak itu menangis dengan sangat pilu.

"Gak mau– gak mau pulang, gak mau ketemu Ibu– huks… Ibu jahat– jangan pulang, Jisung gak mau—"

"Sshh… Gak apa-apa, Jisung gak mau pulang? Gak apa-apa Jisung… Udah, jangan nangis lagi, ya?"

Jeno bergegas mendekap anak itu, mengusap-usap punggungnya.

"Jisung, mau cookies?"

Pelan sekali, anak itu mengangguk. Jeno memberikan satu toples cookies buatannya kepada Jisung. Dia menerima dengan kedua tangan kecilnya, kemudian memakannya dengan terburu-buru.

"Jisung, pelan-pelan aja makan nya, nggak apa-apa…." Jeno mengusap punggung Jisung, khawatir anak itu akan tersedak.

Jisung menurut. Dia makan dengan pelan– masih sedikit cepat, tapi tidak terlalu terburu-buru seperti tadi.

Ting!

Jeno menerima sebuah notifikasi dari ponselnya. Melihat kontak Renjun yang mengiriminya pesan, alisnya menukik. Dia menoleh ke Renjun yang melihat sekitar, seakan tidak terjadi apa-apa.

Maka dibukanya pesan teks yang Renjun kirim.

Renjun
Jen, u ga mngkin kan mau bawa tu anak plg?

Jeno pun mengetikkan pesan balasan.

Jeno
Gue harus gmn, jun? kasian

Ting!

Sebuah pesan masuk lagi. Kali ini bukan dari Renjun, tapi Mark, suaminya.

Mark
Honey, i'm already outside, where r u?

Jeno
I'll go there, i need to talk abt smthing

Mark
Okay

Lalu, Jeno berdiri. "Renjun, gue samperin Mark dulu, jagain Jisung, oke?"

Renjun hanya mengangguk pasrah.

Jisung menatap Jeno yang berjalan menjauhi mereka. Roti kering di toplesnya tersisa sedikit.

"Jisung mau lagi?"

Renjun menawarinya. Jisung pun mengangguk.

 

Jeno bergegas mendekati mobil suaminya, dia masuk dan duduk di kursi penumpang. Mark terkejut, kemudian tersenyum, mengambil jemari Jeno dan mengusapnya pelan.

"Hei, calm down, Sweetie. Ada apa?"

"Kak, I need you to be serious." Jeno menatap Mark tepat pada matanya. Raut wajahnya begitu Serius.

"Okay then, what's wrong?"

Jeno menghela nafas sejenak.

"Kalau ada anak kecil di rumah kita, apa Kak Mark mau?"

"Maksudnya?"

Mark mengangkat sebelah alisnya bingung.

Jeno pun menceritakan seluruh kejadian hari ini, tentang pertemuannya dengan Jisung, dan niatnya untuk membawa Jisung pulang sementara.

"Jen, I know kamu kasihan sama anak itu, but absolutely not."

Jeno sontak membuat wajah kebingungan. "What?"

"Jeno, kamu baru ketemu dia hari ini, gimana kalau dia gak baik?"

"What do you mean, Mark?"

"Yaa, bisa aja dia pencuri—"

"I swear to God, Mark! Dia cuma anak kecil? Gimana dia bisa tau tentang hal-hal kriminal kayak gitu?!"

"Babe—" Mark mencoba menyanggah, namun Jeno menghentikan kalimatnya terlebih dahulu.

"Gak! Don't Babe me in a situation like this!"

"Jeno, bukan gitu maksud kakak."

Mark mencoba menjelaskan. Namun Jeno selalu memberi sanggahan. Udara di dalam mobil itu memanas atas pertikaian mereka. Jeno yang keras kepala, dan Mark yany mencoba memberi pengertian.

"Okay! Kalau kamu gak mau bawa dia pulang, aku yang bawa! Aku pulang ke apartemen aku sendiri hari ini, naik taksi!"

Jeno bergegas keluar. Dia berharap Mark ikut keluar untuk mengejarnya dan setuju kepadanya. Namun harapannya pupus, karena hingga dia kembali ke tempat Renjun dan Jisung berada, Mark didn't show up. It makes Jeno feel more and more angry at him.

 

Apartemen Jeno tak jauh dari kantor Mark. Dulu, dia dan Mark sering menghabiskan waktu disini. Sekarang, hanya Jeno, dan seorang anak kecil yang dibawanya dari taman.

Jeno memandangi lemari yang hampir kosong. Hanya ada beberapa bajunya disini. Dan syukurlah, dia menemukan baju keponakannya yang sempat tertinggal disini. Jeno pikir, ini cukup untuk Jisung.

Cklek

Jisung keluar dari kamar mandi. Handuk menutupi seluruh tubuhnya.

"Udah selesai? Bajunya kak Jeno taruh di kasur, ya, Jisung bisa pakai."

Jisung mengangguk. Jeno pun keluar kamar untuk memberi Jisung privasi.

Tujuannya adalah dapur. Renjun terlihat sudah sibuk dengan panci dan kompor. Jeno datang untuk membantu.

Sebelum Jeno sempat menawarkan bantuan, dering ponsel Renjun terdengar.

Bergegas Renjun mengangkat panggilan.

"Oh, kamu udah sampai? Iya, aku jemput."

Setelah Renjun mematikan sambungan, Jeno mengambil alih dapur.

"Pamit ya, Jen, ntar gue balik kesini."

Jeno mengiyakan. Lalu kembali sibuk dengan masakannya.

Makan malam yang Jeno buat cujup simpel. Dia menggoreng bakwan jagung yang adonannya telah Renjun buat, dan sayur bening yang sudah hampir Renjun selesaikan. Serta, Jeno memasak hidangan ayam goreng, cocok dengan sayur bening.

"Kak Jeno."

Jisung menarik-narik bagian bawah bajunya. Dia pun menoleh, menemukan Jisung yang sudah rapi dengan baju keponakannya. Rambutnya masih terlihat basah. Maka dari itu Jeno berkata,

"Jisung, kamu duduk di sofa dulu, ya? Nanti Kak Jeno keringin rambut Jisung."

Jisung menurut. Dia berjalan ke arah sofa. Kemudian berdiam diri disana.

Jeno segera menyelesaikan masakannya. Lalu dia berjalan ke kamar untuk mengambil hair dryer.

Setelag menyalakan televisi, Dia duduk di samping Jisung. Anak itu terlihat kaku. Segera Jeno menyalakan hair dryer di tangannya, kemudian diarahkan ke rambut Jisung yang terlihat tebal dan panjang. Dengan telaten lelaki itu mengusap-usap rambut Jisung, memberi pijatan nyaman agar anak itu merasa aman.

Setelah kering, Jeno mematikan hair dryer-nya. Dia menatap Jisung lekat. Jisung masih terlihat kaku dan kikuk.

"Jisung, kenapa kamu diem aja?"

Jisung kemudian menggeleng. Jeno lihat Jisung memainkan jemarinya.

"Jisung, kamu bisa cerita apa aja ke kakak." Jeno mengelus bahu Jisung, membuat anak itu tersentak. Jeno mengernyit bingung.

"Kenapa?"

"Maaf, Jisung nyusahin kak Jeno," ujarnya dengan nada penuh rasa bersalah.

Jeno menggeleng, dia menepuk-nepuk kepala Jisung.

"Kak Jeno nggak merasa direpotin, Jisung."

Kemudian hening. Hanya suara televisi yang mengisi ruangan ini. Jeno enggan bertanya terlalu jauh dan Jisung terlalu larut dalam pikirannya.

Cklek

"JENOO!!"

Seseorang memekik membuat Jeno dan Jisung tersentak. Yangyang datang dengan Renjun yang mengikuti dibelakangnya.

"Heboh banget sih lo." Jeno menyambut mereka tanpa berdiri, hanya menoleh ke arah pintu.

Yangyang memberikan tatapan mencerca. "Ngaca."

"Oh, hai! Kamu kaget ya? Maaf-maaf, emang heboh temennya Jeno."

Yangyang menekuk kaki, menatap Jisung.

"Kamu Jisung 'kan? Tadi Renjun udah cerita. Aku Yangyang, ayo salaman!"

Yangyang mengulurkan tangannya, mengajak Jisung berjabat tangan. Jisung menerimanya dengan kaku.

"A-aku Jisung."

"Lucu banget Jisung!"

Yangyang menggapai pundak Jisung, lalu menepuk-nepuknya karena gemas.

"Aduh!"

Pekikan Jisung membuat Yangyang sontak berhenti bergerak. Dia dengan wajah panik berkata,

"Jisung?! Kenapa?!"

Dengan wajah setengah pucat, Jisung menjawab, "Enggak apa-apa, Kak."

Mereka terdiam.

 

"Pasti ada yang gak beres."

Jeno berjalan kearah Renjun dan Yangyang yang sedang duduk di sofa. Renjun mengamit tangan Yangyang, mencoba menenangkan lelaki itu.

"Gue ngerti! Tapi, apa? Masa ibunya dulu abusive?"

Jeno mengangguk.

"Bisa jadi."

Jeno duduk di sofa single, menenangkan dirinya sendiri. Ketika gelisah begini, pikirannya langsung tertuju kepada Mark, biasanya lelaki itu tak segan memeluknya kala gelisah.

Dia rindu dengan eksistensi Mark disekitarnya. Melirik jam dinding, Jeno menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. Biasanya pada jam-jam ini, Mark sudah ada disekitarnya, memanggil-manggil namanya, mengelus kepalanya.

"Jeno, are you hungry, Sayang?"

"Babe, Jeno, wanna go out tonight?"

"Jeno."

"Jeno."

"Jeno!"

Hingga suara Renjun buatnya tersentak. Jeno segera menoleh kearahnya, memberikan wajah bingung.

"Gue sama Yangyang mau pulang dulu, lo gak apa-apa sendiri?"

Jeno memberikan anggukan, begitu pula dengan Renjun. Yangyang mengucapkan selamat tinggal, dan mereka pun menghilang dari jarak pandang Jeno.

Menit demi menit berlalu, Jeno masih menempelkan bokongnya di sofa. Enggan untuk beranjak. Biasanya, dia menunggu pesan Mark yang bilang kalau dia lembur. Namun malam ini, Jeno bahkan tidak tau dimana ponselnya ia tinggalkan.

Menghela nafas sejenak, Jeno tidak tau apa yang dia tunggu. Lelaki itu pun beranjak ke dapur, berniat membuat susu untuk menenangkan kepalanya.

Di counter, sadar atau tidak, Jeno mengambil dua cangkir serupa. Memasukkan bubuk kopi instan di salah satunya, kemudian mengambil panci kecil. Jeno memasukkan susu UHT ke dalam panci itu, merebusnya hingga menghangat. Pelan-pelan, Jeno memasukkan susu panas itu ke cangkirnya yang kosong dan satu cangkir yang sudah diberi bubuk kopi, lalu mengaduknya sejenak.

Setelah membersihkan panci kecil dan mengembalikannya di tempat semula. Jeno tertegun.

Keberadaan Mark memang sangat berpengaruh di hidupnya. Biasanya, di jam-jam ini, Mark akan meminta kopi susu buatannya. Tanda bahwa Mark akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya.

"Jeno?"

Suara yang sangat dikenalnya masuk ke gendang telinga. Jeno menoleh, mendapati Mark dengan setelan jas kerjanya, berdiri di dekat kulkas, menatapnya.

"Kamu bikin kopi buat aku?"

Ragu, Jeno mengangguk. Dia membawa dua cangkir itu ke ruang tamu, menaruhnya disana, lalu duduk di sofa dibarengi dengan Mark yang duduk di sampingnya.

Kesunyian menelan mereka. Namun sunyi ini tidak dingin, malah hangat dan menyenangkan. Seolah keberadaan satu sama lain sudah menghangatkan hati yang telah terikat.

"Sayang," panggil Mark. Suara sendu itu membuat Jeno menoleh.

"Aku tadi agak lama di kantor, soalnya aku suruh asistenku buat cari tahu tentang Park Jisung." Mark mulai menjelaskan.

"Hah?"

Mark tersenyum, memberikan usapan di belakang kepala Jeno, kebiasaannya.

"Aku di kasih Renjun fotonya, Renjun juga kasih tau nama panggilannya. Aku sama asistenku cari identitas anak itu, berakhir aku nemu namanya, Park Jisung."

"Ibunya tidak pernah menikah, tapi dia memiliki Jisung. Aku asumsikan Jisung gak diinginkan di keluarganya. Profil Jisung gak aku temukan, karena memang gak pernah di daftarkan di negara. Tapi, ibunya ini hidupnya berkecukupan."

"Salah satu kerabat ibunya Jisung kerja di kantorku, aku langsung tanya ke dia, apa dia kenal Jisung dan ibunya. Fortunately, dia bilang iya. Dia bilang ibu Jisung memang mentally unstable, dia sering teriak-teriak sendiri dan mungkin aja depresi."

"Aku enggak tau gimana Jisung, tapi Renjun tadi bilang kalau Jisung takut sama ibunya, bahkan enggak mau pulang 'kan? Aku asumsikan bahwa Jisung pernah dikasari sama ibunya, dan mungkin itu bikin Jisung takut."

"Katanya, Jisung juga gak dibolehkan ibunya buat keluar rumah kecuali emang harus. Jadi selama beberapa tahun hidupnya, Jisung habiskan di dalam rumah, bersama ibunya."

Jeno menyela, "Mungkin itu salah satu faktor kenapa dia takut lihat wajahku pas berkomunikasi."

"Oh, Jisung begitu?"

Jeno mengangguk.

"Mark, Jisung boleh disini dulu 'kan? Kalau dia di panti, aku nggak rela, Mark. Aku nggak yakin…."

Mark menghela nafas sejenak.

"Iya, nggak apa-apa selama dia gak buat kamu keteteran."

Jeno memberikan senyum sabitnya, menggeser duduknya agar lebih dekat suaminya, lalu memeluk Mark.

"I love you."

"I love you too, Puppy."

 

Jeno dan Mark berbagi hangat di sofa semalam. Apartemen Jeno cukup kecil, hanya memiliki satu kamar, dapur, dan ruang tamu. Beruntung Mark dan Jeno sudah sering berbagi hangat di sofa ruang tamu yang cukup besar.

Pagi ini, Jeno dikejutkan dengan suara berisik dari dapur. Ketika dia membuka mata, Jeno tidak menemukan Mark disampingnya. Maka, Jeno—dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna berjalan ke dapur.

Didapatinya Mark sedang berkutat dengan masakan diatas kompor. Dari baunya, Jeno yakin Mark membuat nasi goreng.

"Kak Mark."

Mark menoleh. Dia tersenyum, mematikan kompor, kemudian bergerak untuk memeluk suaminya.

"Good morning, Sugar."

"Good morning."

"Aku masak nasi goreng."

Jeno hanya menggumam. Menenggelamkan kepalanya di bahu Mark. Suaminya tersenyum gemas, mengeratkan pelukannya di pinggang Jeno.

"Kamu bersih-bersih aja, terus bantu Jisung buat beradaptasi disini."

Jeno mengangguk. Dia melepaskan pelukan mereka, lalu berjalan ke arah kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, Jeno menapakkan kakinya ke kamar. Membuka pintu kamar itu, menemukan Jisung masih tertidur pulas. Jeno tidak heran, ini mssih cukup pagi untuk anak seusia Jisung bangun.

Wajah anak itu sangat polos. Jeno mengangkat tangannya, mengelus rambut Jisung pelan-pelan, takut melukai anak itu. Jeno bahkan hampir menganggap bahwa Jisunf adalah sebuah paket spesial dengan tempelan Fragile di boksnya.

Hampir satu menit Jeno memandangi Jisung. Dia pun memilih untuk membangunkan anak itu sebelum semakin siang.

"Jisung?"

Pelan-pelan Jeno mengelus lengan Jisung, menggoyangkannya sedikit. Jisung terusik dengan sedikit pergerakannya. Anak itu langsung terduduk, mengucek mata dengan kedua tangan kecilnya. Jeno langsung memegang kedua tangan Jisung.

"Matanya jangan dikucek, nanti merah."

Dan reflek Jisung adalah menarik tangan. Anak itu seperti ketakutan, masih di bawah alam sadar. Nyawanya belum terkumpul benar, Jisung menggumamkan kata maaf.

Hati Jeno teriris. Entah apa yang anak ini lalui, namun hanya dengan seluruh reflek yang Jisung miliki, Jeno pikir Jisung telah melalui banyak hal.

"Jisung, nggak usah minta maaf. Ini kak Jeno."

Jeno meraih jemari Jisung, mengelusnya pelan. Jisung seakan sadar, tubuhnya yang tadi sedikit kaku sekarang mulai rileks.

"Kak Jeno…"

Jisung menggumam. Jeno mengangguk.

Jisung merasa nyaman. Kesadarannya jatuh lagi. Jisung terlelap kembali dalam posisi duduk.

Jeno tersenyum, dia membenarkan posisi Jisung, menidurkan anak itu, kemudian memasangkan selimutnya hingga ke leher.

"I'll wake you up later."

Jeno mengusap sejenak rambut Jisung, lalu membalikkan badan.

Lelaki itu hampir berteriak kala melihat suaminya menyenderkan badan di pintu, menataonya intens. Mark berjalan ke dalam, kemudian duduk di sampign Jeno.

"Dia kayak bener-bener trauma."

"I know, i'm so worried actually."

"Kita bakalan dapet kebenarannya nanti, Jen."

Jeno mengangguk. Mark merangkul pundak suaminya, lalu mengecup pipi Jeno.

"Let's have breakfast first, shall we?"

Jeno tersenyum, mengangguk.

 

Tiga hari setelah Jisung menginap di apartemen, mereka memilih untuk pindah ke rumah. Selain karena lebih nyaman, juga karena Mark lelah terus-terusan tidur di sofa. Jika di rumah, setidaknya Mereka memiliki tiga kamar tidur, sehingga Mark dan Jeno tidak perlu tidur di sofa lagi.

Mark semakin sering berkomunikasi dengan Jisung. Jeno pun begitu, dia selalu berada di samping anak berumur 7 tahun itu. Mereka mencoba membangun hubungan dengan Jisung, mencoba membuat ikatan pelan-pelan. Hanya agar Jisung tau bahwa anak itu tidak sendirian.

Jisung masih sama, hanya lebih baik kondisinya. Jisung sudah berani menatap Jeno ketika mengobrol, namun untuk Mark, Jisung masih malu-malu.

Jisung juga sudah bisa tersenyum dan tertawa. Ketika Jeno mengajaknya menonton kartun di televisi, Jisung bisa tersenyum, dan sering bertanya. Jeno dengan sabar menjawabnya. Sesekali Jeno mencoba bertanya tentang Jisung juga, namun berakhir Jisung mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain.

Jisung sudah terlelap di kamarnya, sedangkan Jeno dan Mark masih berada di ruang tamu.

"Kak, gimana kalo kita minta tolong kak Diana buat cari tau kondisi Jisung? Aku udah berusaha cari tahu sendiri, tapi Jisung sudah pintar mengalihkan topik."

Mark mendekap pinggang suaminya, mengecup pelipis lelaki yang dicintainya.

"Kita bakal dapet jalan keluarnya, Sayang. Besok aku bakal bilang kak Diana buat kesini pagi-pagi."

Jeno mengangguk. Dia melekatkan tubuh mereka, menenggelamkan kepalanya di dada suaminya, menyenderkan diri.

"Ayo pindah ke kamar, you need some rest," ujar Mark.

 

Semakin lama, semakin buruk juga situasi yang mereka hadapi. Diana mendekatkan diri dengan Jisung. Dua minggu, empat pertemuan yang sudah mereka capai. Diana telah memberikan hasil rekaman konselingnya kepada Mark dan Jeno.

Benar saja, Ibunya Jisung adalah perempuan yang tidak cukup baik. Jisung bilang bahwa beberapa kali dia dipukul, tapi tidak sering. Jisung juga mengatakan bahwa Ibunya seringkali mengatakan hal-hal buruk kepadanya.

Di umur 5 tahun, Jisung diasingkan ke panti asuhan. Jisung awalnya berpikir bahwa disini akan lebih baik daripada tinggal bersama ibunya. Namun, Jisung salah. Bahkan di panti lebih buruk daripada di rumah ibunya. Ibu panti tak segan-segan memukulnya dengan rotan, memarahinya, ataupun tidak memberinya makan jikalau Jisung melakukan kesalahan.

Dan titik terparah dari hal itu adalah di umurnya yang hampir menginjak tujuh tahun, Jisung di perdagangkan. Entah berakhir dimana Jisung sekarang jika malam itu Jisung tidak berontak dan nekat keluar dari mobil yang berjalan cukup cepat. Tubuh Jisung serasa remuk, namun beruntung ada seseorang yang menolongnya dan membawa Jisung ke rumah sakit.

Tak sanggup membayar biaya, apalagi Jisung hanya sebatang kara, Jisung memilih kabur dari rumah sakit. Di umurnya yang ke 7, Jisung sudah terlontang-lantung di jalanan.

Jeno yang mendengar itu semua menangis di pelukan suaminya. Sungguh berat beban yang Jisung panggul. Mark pun begitu, dia menahan air mata, mencoba mencerna apa yant terjadi pada anak berumur 7 tahun yang kini tidur di salah satu kamar rumahnya.

Tangisan Jeno yang pilu tak sadar membangunkan Jisung yang terlelap. Anak itu penasaran dan berjalan ke ruang tamu, menemukan Jeno dan Mark berpelukan sambil menangis.

"Kak Jeno?"

Mendengar suara itu, sontak Jeno melepas pelukan Mark. Dia bergegas memeluk Jisung, mengucapkan kata maaf beribu-ribu kali. Jisung kebingungan, dia tidak mengerti mebgapa Jeno menangis, maka Jisung hanya terdiam, sambil menatap Mark yang berusaha menahan isakan.

"Jisung… jangan sembunyiin apa-apa lagi, ya? Kak Jeno sama Kak Mark nggak jahat, sayang," bisik Jeno. Isakannya masih melengkapi, namun ucapannya masih cukup dimengerti.

"Jisung, sayang. Kamu nggak perlu takut lagi, ya? We will protect you all cost."

Mark mendekat, mengusap kepala Jisung.

Jisung kini mengerti. Mereka sudah tau apa yang Jisung jalani. Maka dari itu, Jisung tak ragu lagi. Air matanya tumpah, dia memeluk Jeno erat, mengeluarkan tangisannya yang sudah dia simpan selama bertahun-tahun.

Mark menyusul. Dia memeluk erat Jeno dan Jisung. Membiarkan dua orang yang sudah mengisi hatinya itu menangis sepuas mereka.

 

3 years later

Jisung tumbuh menjadi anak yang ceria. Kepribadiannya mulai muncul seiring Mark dan Jeno membimbing Jisung bersama-sama. Anak itu menjadi lebih sering tersenyum, berbicara, dan tertawa. Meskipun masih takut untuk menatap mata orang lain ketika berbincang, namun Jisung sudsh dapat menjawab pertanyaan tanpa terbata.

Jisung juga sudah dapat membaca dengan lancar, mengingat 7 tahun terakhir Jisung tidak pernah diajari membaca maupun menulis. Untuk anak umur 10 tahun, tulisan Jisung cukup hancur–bahkan beberapa tak dapat dibaca. Namun, Jeno dan Mark dengan sabar membimbing Jisung untuk menuju hal-hal yang seharinya anak umur 10 tahun sudah mengerti.

Seharusnya, Jisung sudah masuk sekolah dasar kelas 5, namun karena insiden yang terjadi satu tahun lalu—Jisung dibully oleh teman sekelasnya, menyebabkan Jisung jatuh dari sepeda, dan pulang menangis—kini anak itu homeschooling sampai kelas 6 nanti.

Jeno sudah mencatat SMP mana saja yang ia rekomendasikan untuk Jisung. Ketika Jisung memilih, maka Jeno akan membawa Jisung ke sekolah itu, melihat suasananya, agar Jisung dapat memantapkan pilihan.

Mark juga sudah siap membiayai kebutuhan sekolah Jisung mendatang. Akhir-akhir ini lelaki itu terlalu giat bekerja hingga menimbulkan sedikit cekcok dengan Jeno karena Mark terkadang pulang terlalu larut.

Namun setiap hujan pasti mendapat terang. Mark, Jeno, dan Jisung berbahagia. Mereka berbagi hangat setiap malam, berbagi cerita.

Satu minggu yang akan datang adalah perayaan ulang tahun pernikahan Jeno dan Mark. Jisung mengingatnya, karena setiap tahun, mereka akan merayakannya kecil-kecilan. Entah membuat kue, bermain ke danau, ataupun menghabiskan waktu ke taman. Di tanggal 25 Desember, mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan di tahun ini, Jisung ingin mereka mendapatkan hadiah darinya.

Dua bulan lalu, Jisung diberi Jeno fasilitas berupa laptop. Sebagai anak yang cepat belajar, hanya dalam 2 minggu Jisung bisa mengoperasikan benda itu dengan baik.

Diam-diam Jisung membuat puisi untuk mereka. Dia mengetiknya, dan berencana mengirimkan puisi itu lewat file daripada membacakannya langsung. Tulisan Jisung masih kaku, tangannya tidak bisa memegang pulpen dengan baik ketika menulis.

Jisung juga melukis di sebuah kanvas kecil supaya mudah disembunyikan dari Mark dan Jeno. Dia melukis mereka bertiga, duduk diatas atap mobil, dan memandangi matahari terbenam. Jisung masih ingat waktu pertama kali Jeno dan Mark mengajaknya ke danau itu untuk melihat matahari tenggelam di antara gunung tinggi. Dan Jisung menyukai sensasinya. Jeno dan Mark duduk mengapitnya, menggenggam tanganya. Jeno juga sesekali mengelus kepala Jisung, mengecup rambutnya sayang.

Hari demi hari berlalu. Puisi Jisung sudah selesai, lukisannya yang tak terlalu bagus itu juga sudah rampung. Jisung tinggal memberikan dua benda itu tepat pada perayaan ulang tahun pernikahan Jeno dan Mark. Dadanya berdentum, takut mereka tidak menyukai hadiah yang dia buat dengan tangannya sendiri.

"Jisung! Bantuin kakak bikin kue sini!"

Mendengar panggilan Jeno, Jisung yang sedari tadi memandangi lukisannya pun langsung menyembunyikan benda itu di bawah kasur, kemudian berlari ke bawah, menuju dimana Jeno berada.

Jeno sibuk mengaduk-aduk adonan di dalam mangkuk. Ketika melihat Jisung muncul di dapur, Jeno tersenyum.

"Jisung, tolong potong coklatnya kecil-kecil, bisa?"

Jisung mengangguk. Dia mengambil pisau dan talenan, meletakkan coklatnya, kemudian pelan-pelan memotong coklat itu.

"Kak Jeno mau bikin apa sih?" tanya Jisung ingin tau.

Jeno tersenyum.

"Hari ini kita bikin cookies!"

"YEAYY!"

Jisung memekik. Dia melompat kecil. Cookies adalah salah satu hal yang dia sukai, dan buatan Jeno adalah cookies yang paling dia suka.

Berjam-jam mereka bercanda sambil memanggang kue kering. Jisung dan Jeno juga sibuk membersihkan alat-alat yang telah mereka pakai, Jeno mencuci, dan Jisung mengelapnya serta meletakkannya kembali di tempatnya dengan hati-hati. Mereka bahkan tak sadar bahwa Mark memandangi mereka sambil tersenyum.

"Kak Mark!"

Jisung tersenyum ketika melihat Mark di ambang antara ruang tamu dan dapur. Dia meninggalkan mangkuk yang sedang dia lap, berlari dan menjemput pelukan Mark.

"Hai, telat ya aku?"

Jeno menggeleng. Dia menyelesaikan cucian terakhirnya, mengelap nya, lalu mengembalikan benda itu. Dia pun berjalan ke arah Mark, memeluk suaminya.

"Kak Mark dateng tepat waktu! Aku sama kak Jeno udah selesai bikin cookies! Kak Mark harus coba cookies buatanku sama kak Jeno!" ujar Jisung antusias.

"Alright, little boy. Kakak bakal nyobain cookies buatanmu sama kak Jeno. Sekarang, kamu tunggu kak Mark sama kak Jeno di ruang tamu, ya? Nanti kakak datang bawa setoples cookies buatan kalian."

Setelah mengiyakan, Jisung berlari ke ruang tamu dengan riang.

Kini tinggal Mark dan Jeno di dapur. Mark mengelus pinggang Jeno, membubuhkan kecupan kecil di bibir lelaki kesayangannya.

"I miss you."

Jeno menampakkan sabitnya. "I miss you too, Kak."

"I'm jealous, kamu lebih sering ngabisin waktu sama Jisung sekarang," ujar Mark sambil mengerucutkan bibirnya.

Jeno terkekeh. Dia mengecup sudut bibir Mark, kemudian menjawab, "Why are you jealous of a 10 years old boy sih, Kak?"

Mark tertawa. Dia mengecup seluruh wajah Jeno dengan sayang. Berakhir di bibirnya, yang kemudian di sesap hangat sebentar, lalu dilepaskan.

"I'm always jealous of him, but deep down in my heart, I love Jisung too."

Jeno menunjukkan senyumnya.

"Jeno?" Mark memanggil suaminya.

Jeno memiringkan kepala. "Apa?"

"Ready?"

"I'm always ready."

 

Malam semakin larut. Jeno, Mark, dan Jisung menghabiskan waktu di ruang tamu dengan setoples cookies sambil menonton film. Mark dan Jeno mengapitnya, dan Jeno tidak keberatan. Dia lebih keberatan ketika Mark tiba-tiba mengeluarkan suara, mengomentari film yang telah dia pilih untuk ditonton.

Jisung akan berkata, "Kak Mark tadi bilang aku boleh pilih filmnya, pas aku udah pilih, Kak Mark kenapa banyak komentar?!" Sambil mengerucutkan bibir.

Mark hanya membalasnya dengan tawa renyah, kemudian mengecup pelipis Jisung.

Tak lama, film yang mereka tonton habis. Jeno menoleh ke arah Mark. Mata mereka bertabrakan, kemudian mereka saling melempar senyum. Mata Jeno berkaca.

"Jisung."

Jisung kemudian menoleh ke arah Mark yang memanggilnya. "Iya?"

"Jisung pernah berpikir buat punya orang tua?"

Alis Jisung mengernyit. Dia menggeleng.

"Jisung, kita punya hadiah buat Jisung."

Jisung menatap bingung. "Sebentar, aku juga ada."

Anak itu beranjak. Dia berlari ke kamarnya, mengambil lukisan dan laptopnya. Segera Jisung membuka file puisinya, menunjukkannya kepada mereka.

"Aku bikin puisi, dan… ini."

Jisung menyodorkan lukisannya. Jeno menerima lukisan itu, matanya semakin berair. Dia mengelus lukisan kecil yang penuh arti itu. Gambarannya tak seberapa bagus, namun benda ini… tangan Jisung sendiri yang membuatnya. Jeno memeluk Jisung. Lukisan ini sudah membuatnya terharu, dia tak sanggup membaca puisi milik Jisung. Biarlah Mark yang membacanya–lagipula Jeno juga tak sebegitu suka membaca.

Mark tersenyum bangga. "I know we have raised you well," ujarnya sambil mengelus rambut Jisung.

"Oh, iya, hadiahnya Jisung."

Jeno mengambil sebuah map yang entah kapan berada disana, memberikan map itu untuk Jisung.

Jisung memiringkan kepalanya bingung.

"Buka aja, Jisung."

Dia menuruti perkataan Mark. Membuka Map itu, menemukan sebuah berkas asing.

Beberapa saat membaca isi berkas itu. Jisung tertegun sejenak. Berkas itu… berkas adopsi. Jisung diadopsi, oleh Jeno dan Mark.

"Muali sekarang, you're Lee Jisung, Sayang."

Tangis Jisung pecah. Dia menerjang Mark dan Jeno dengan pelukan. Mengucapkan banyak terimakasih sambil terisak. Tubuhnya lemas, merasa keterlaluan bahagia. Jisung masih sibuk dengan tangisnya, sedangkan Jeno menitikkan air mata bahagia.

Jisung sudah jadi bagian dari keluarga.

"Terimakasih, Kak Mark, Kak Jeno… Terimakasih banyak–huks…."

"Jisung, kamu sudah jadi bagian dari kami sekarang. Kamu bisa panggil kak Mark Papa, dan kak Jeno Papi."

Dan Jisung tidak pernah merasa lebih bahagia dari ini. Maka dengan mulut bergetar, dia memanggil mereka.

"Papa… Papi…. Papa Jeno, Papi Mark…."

Jisung mengucapkannya berkali-kali. Dia tersenyum bahagia, air matanya masih menganak sungai, namun senyummu tak jua luntur.

From now on, Jeno and Mark are his parents. His Fathers. Jisung's Fathers.