Actions

Work Header

Semangka, Kucing, dan Tugas dari Profesor Adi

Work Text:

‘Lain kali santai aja makan semangkanya ya, Madya wkwkwkwk minggu kemarin sampai kesedek gitu. Minggu ini spesial dua porsi semangka kuning, tapi meskipun semangka kuning, dijamin manis kok! Semanis senyummu yang mengalahkan manisnya biang gula es kelapa muda gula jawa bikinan Mbak Anggun kantin, hehehehehe.’

l~
Madya betulan seperti orang sinting senyam senyum sendiri dengan dua kotak semangka kuning yang sudah dipotong di tangan kanan dan sepucuk catatan kecil di tangan kirinya. Pun isi surat yang dibacakan dengan lantang tersebut mendapat cibiran dari teman satu UKM-nya yang kebetulan juga sedang berada di ruang loker, hanya bisa menggeleng maklum sambil mendecih pelan.

“Heran gue. Yang namanya secret admirer tuh kalo ngasih-ngasih gitu biasanya coklat kek, bunga kek, atau apa gitu yang bau-bau romantis. Lah, ini semangka cok?! Masih mending dua minggu belakangan dikasih semangka yang potongan kayak gitu. Pas pertama kali tuh secret admirer-nya si Mamat beraksi, naruh semangka utuh segedhe gaban di loker anjir. Apa gak lawak banget itu orang?”

Setelah meletakkan catatan kecil yang habis dibacanya itu ke kotak khusus yang berisi catatan-catatan lainnya -dari pengirim yang sama tentu saja-, Madya menutup lokernya pelan, sambil berbalik menghadap Helmi yang masih terheran-heran, duduk di bangku loker yang memang disediakan. Kekehan mengudara yang berasal dari laki-laki yang barusan dipuji, yang senyum manisnya mengalahkan manis biang gula, katanya.

“Justru itu, Hel, itu poin pentingnya! Doi nggak ikut-ikutan yang biasanya, soalnya doi tau gue suka semangka pake banget banget banget daripada coklat atau bunga-bunga apalah itu, makanya dikasih semangka aja. Jelas kemakan, jadi duit dia buat beli semangka nggak sia-sia. Jelas guenya juga seneng banget tiap abis latihan dapet semangka. Jelas doi pasti juga seneng liat semangka pemberiannya gue abisin, bermanfaat banget gitu effortnya doi buat gue. Udah mana kata-kata yang sering ditulisin gitu lucu-lucu lagi, WoA gue kadang suka meronta-ronta kalo udah baca hahaha.”

“Najis, pede betul. Jangan-jangan yang suka ngasih tuh emang Mbak Anggun, soalnya sering banget doi-mu itu bawa-bawa nama beliau kalo nulis surat.”

Yahya berceletuk, membuat Madya menatapnya penuh kengerian. Aduh, Mbak Anggun itu sebenarnya tidak buruk. Beliau bahkan berparas amat cantik, baik, ramah pula dengan para mahasiswa yang datang ke stand kantinnya, entah yang memang anak fakultas sini atau anak fakultas lain yang sekadar berkunjung. Minus terkadang beliau memang agak centil sih. Pun beliau adalah seorang janda paruh baya yang usianya terpaut jauh dari mahasiswa semester-semester awal seperti Madya dan kawan-kawannya ini.

Yang benar saja, bisa-bisanya Yahya berceletuk demikian? Mana mungkin Mbak Anggun mau repot-repot menjadi secret admirernya saat orderan kantin sangat membludak? Kalaupun betulan tertarik, Madya yakin Mbak Anggun memilih untuk menggodanya secara langsung daripada ribet menjadi sok-sok an pengagum rahasia.

“Ngawur banget deh, Yak. Mana mungkin beneran Mbak Anggun. Kemaren gue liat Mbak Anggun masih demen sama Janu.”

Yahya hanya mengangkat bahu, tidak mau memusingkan lagi perkara Madya dan Mbak Anggun.

“Janu? Anjirlah hahahahaha langganan Mbak Anggun dia makanya deket sama beliau. Kakaknya dulu temen SD sama Mbak Anggun makanya kenal dah tuh.”

Helmi menimpali dengan sedikit informasi yang terlalu banyak, tapi tidak ada pula yangmemermasalahkan.

“Oh? Deket sama Janu ya lo keknya tau banyak soal dia? Temen SMA kan ya? Anjir kadang gue heran juga kok bisa modelan Janu temenan sama Helmi, secara gitu, dia kan anaknya kalem, pendiem, pinter, kesayangan dosen gitu masa temenannya sama Helmi yang urakan gini sih, wah kacau.”

“Asu!”

Yahya hanya bisa terbahak mendengar pertengkaran verbal kedua kawannya. Di ruang loker tersisa ketiganya yang masih asyik mengobrol sambil sesekali membereskan barang-barang pribadi yang memang diletakkan di loker.

Ketiganya tergabung dalam satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama, bola voli. Setiap hari selasa, kamis, dan sabtu sore biasa mereka habiskan bersama dengan teman-temannya yang lain untuk latihan rutin. Setiap latihan itu pula Madya selalu mendapatkan satu porsi semangka bersamaan dengan catatan-catatan lucu selama tiga bulan belakangan (well, minus satu buah semangka utuh di hari pertama). Si secret admirer selalu meletakkannya di dalam loker pribadi di markas UKM-nya. Sejujurnya menurut Madya, ini bisa menjadi kasus pelanggaran privasi, karena bagaimana bisa Si L -penanda yang selalu ditinggalkan untuk mengidentifikasi bahwa ia adalah orang yang sama- memiliki akses pada loker pribadinya yang selalu ia kunci?

Tapi kalau dipikir-pikir tidak ada ruginya pula untuk Madya. Ia tidak pernah meninggalkan barang-barang penting di loker, bahkan lokernya lebih sering kosong dan hanya akan ia gunakan ketika ada jadwal latihan. Semoga si L ini akan selamanya menjadi orang baik yang gemar memberinya semangka. Kalau tiba-tiba ia mengiriminya tanah kuburan kan tidak lucu?

“Tapi Mat, lo emang gak kepo apa si L ini siapa? Udah tiga bulan anjir, lo ngerti makan semangkanya doang yang ngirim kagak digubris. Anak orang noh, demen ama lo eh lo-nya manfaatin doang.”

Madya menarik kunci lokernya dan menyimpan dengan aman dalam saku kecil ranselnya, sambil melirik sinis pada Helmi yang ia rasa sedang menghakiminya. “Nyett, gue dari kemaren-kemaren juga nyari-nyari. Tapi anaknya emang kayak belut, licin coy gampang banget dah kaburnya. Gue juga nggak mungkin nanyain sefakultas satu-satu
yang inisialnya L.”

“Gini, Mat. Lo kira-kira tau nggak yang sekiranya naksir lo siapa?”, Yahya menimpali.

“Ya mana gue tau? Yang keliatannya naksir gue banyak ye, sorry sorry.”

“Songong bener lo anjir, kesel gue lama-lama!”

Yahya menghentakkan kakinya kesal sembari beranjak dari duduknya, menginisiasi kedua kawannya untuk beranjak juga. Malam semakin larut dan sudah waktunya lapangan indoor kepunyaan fakultas mereka itu untuk tutup. Yahya tidak mau lagi terkena omelan dari satpam fakultas yang mengusir ketiganya dari lapangan itu seperti dua minggu yang lalu.

“Hahahahah tapi yang keliatan naksir Mamat emang banyak anjir. Lo tau sendiri kalo turnamen orang-orang pada dateng teriak-terikain si Mamat. Justru menurut gue bisa jadi si L ini yang gak keliatan naksir Mamat, wong dia aja ngasih semangka diem-diem masa di sisi lain mau terang-terangan kalo naksir?”

“Loh, bisa aja itu justru kamuflase, biar si Mamat bingung ini siapa di antara yang naksir dia yang ngasih semangkanya, jadi gak ketahuan soalnya Mamat gak tau pasti siapa yang ngasih.”

Madya hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah teman-temannya yang sibuk mengurusi perkara siapa si L yang menjadi secret admirer-nya itu. Padahal kalau Madya pikir, mungkin si L ini memang tak ingin benar-benar berinteraksi dengannya. Tapi ia juga berpikir apa untungnya pula si L menjadi secret admirernya jika menunjukkan eksistensinya saja ia sudah enggan? Setiap ia cari keberadaannya, hanya gagal yang menjadi jawaban.

Madya sendiri juga tidak habis pikir. Jikalau ia tau siapa si L, setidaknya ia bisa sedikitnya memberi apresiasi secara langsung. Atau mungkin belajar membalas perasaannya? Madya seringkali jatuh cinta pada untaian kata yang selalu L tujukan padanya, kadang sederhana, kadang penuh makna tersirat, kadang penuh puja, kadang membuatnya tertawa, dan semuanya. Mungkin, ia bisa lebih jatuh cinta dengan orangnya nanti. Beberapa kali Madya memberikan surat balasan yang ia tinggalkan di lokernya setelah menerima semangka dan pesan dari si secret admirer, kurang lebih mengucapkan terimakasih dan ajakan untuk bertatap muka. Tapi nihil. Si L dengan percaya diri menyerahkan pada semesta, supaya ia saja yang memertemukan mereka. Baiklah, Madya hanya mengikuti bagaimana alurnya saja. Meskipun penasaran bukan kepalang dan berbagai cara tetap ia lakukan untuk menemukan celah pertemuan, sepertinya semesta memang masih ingin menahan keduanya.

“Lo bener mau jalan aja, Mat? Boulevard belakang gelap lho? Udah sini aja kita boti sampe kosan lo.”

Madya menatap motor Satria FU milik Helmi itu dengan sangsi, “Yang bener aja boti pake motor gituan?! Ogah. Mending gue jalan sambil nyebar dry food dah.”

“Yaudah kalo gitu gue sama Helmi duluan ya, Mat. Ti ati ntar kalo lewat perempatan FK, biasanya mbak K suka nongki di situ jam-jam segini. Ntar mbak K ikutan naksir lagi sama lo, HAHAHA.”

Setelah tawa menggelegar Yahya mengudara, Helmi langsung tancap gas meninggalkan Madya sendirian diparkiran belakang, tepat mengarah ke perempatan FK yang dimaksud. Madya tidak takut memang, tapi tetap saja hasrat untuk misuh-misuh itu tetap ada. Akhirnya pemuda itu tetap berjalan melewati perempatan itu. Bau melati sih, mungkin mbak K memang benar-benar ada di sekitarnya. Tapi selama itu tidak menganggu perjalanannya ya bukan masalah untuk Madya. Motornya memang sedang bermalam di bengkel langganannya setelah ia bawa nekat menerjang banjir kemarin lusa, membuatnya harus memanfaatkan kendaraan umum atau kakinya sendiri untuk berkegiatan di kampus. Kadang juga nebeng temannya yang jok belakangnya kosong.

Sepanjang perjalanan Madya sesekali mengeluarkan dry food yang selalu ia bawa ke mana-mana, aman berada di saku ranselnya. Memberi makan kucing-kucing liar yang berkeliaran di kampusnya. Ada yang sudah langganan, ada yang memang kebetulan berjumpa. Sampai saat ia hendak memberi makan Puspita (kucing langganan yang sejauh ini paling Madya sukai karena tingkahnya yang manis dan selalu menunggunya di gazebo gerbang belakang) ia terlebih dulu mendapati kucing manis itu hendak menggulat seseorang yang terus menghindar, padahal di tangannya juga masih ada segenggam dry food.

Itu Janu.

“Eh Puspita lu jangan deket-deket donggg! Hatchihhh~ Ini makannya kutaruh sini aja terus buruan di makan gausah deket-deket gue, hatchihhh~”

“Miaaaww~”

Madya yang mendapati pemuda itu nampak kesulitan berinisiatif untuk mendekat pada kucing betina yang masih berusaha untuk mendusal di kaki jenjang Janu, mengangkatnya perlahan dan memastikan Puspita anteng dalam gendongannya. Janu yang rupanya belum menyadari kehadiran Madya tersentak ketika mendapati sang pemuda sudah berada di dekatnya, kemudian sedikit menjauh bersama Puspita yang digendongnya.

“Lo alergi bulu kucing, Nu?”

“Eh? Hatchihh!”

Madya membawa Puspita lebih menjauh lagi dari jangkauan Janu. Diletakkannya kucing betina itu di atas gazebo bersamaan dengan dry food miliknya yang sudah ia siapkan. Ia elus pelan si kucing yang kini atensinya teralih pada makanan kering langganannya. Madya mengeluarkan handuk yang biawa ia bawa saat latihan, membersihkan pakaiannya dari sisa-sisa bulu Puspita yang menempel, sebelum kembali pada Janu yang terlihat baru saja menelan beberapa butir pil yang selalu dikantonginya ke mana-mana.

“Lah, lo gapapa, Nu?

“Eh? Enggak kok, gapapa.”

“Seriusan?”

“Iya.”

“Jam segini kok masih di sini, ngapain?”

“Abis nugas di perpus.”

“Wah nugas sampe perpus tutup ya lo sekalian jaga perpusnya, hahaha.”

“Iya, hahaha.”

‘Ni anak dingin banget buset. Gue harus ngobrol gimana ini biar nggak canggung-canggung amat?’

“Kalo gitu gue duluan ya, Nu.”

“Iya, hati-hati.”

Dan begitulah, pertemuan singkat itu berlalu begitu saja. Keduanya memang teman satu program studi satu angkatan pula, tapi tidak terlalu dekat karena seperti percakapan sebelumnya, Janu akan selalu menjawab obrolan-obrolan yang berusaha diciptakan dengan singkat dan seperlunya. Tidak ada yang benar-benar berteman dengannya, kecuali Helmi. Itu pun mereka juga tidak yang sangat dekat, berbeda program studi pula meskipun masih di fakultas yang sama, bisa berteman pun karena memang berasal dari SMA yang sama sebelumnya.

Di antara teman-teman satu angkatannya mungkin hanya Madya yang benar-benar mau berurusan dengannya. Yah, meskipun tidak intens juga, tapi jika dipikir-pikir memang hanya Madya yang betah berbasa-basi dengan pemuda yang berkesan misterius itu. Tidak tau saja jika perlakuannya itu diam-diam membuat Janu memberikan atensi lebih.

***

Madya datang terlambat pagi ini. Ah tidak lebih tepatnya ia memang tidak mengikuti kelas pagi ini. Kelas Prof. Adi memang kelas pertama yang harus ia hadiri hari ini. Ia hanya tidak menyangka karena dosennya yang harus segera dinas ke luar kota itu mengganti jam kelas secara mendadak, kelas yang mulanya dijadwalkan pukul 09.20 itu dimajukan menjadi pukul 07.30. Madya yang baru tertidur pukul tiga dini hari itu tentu saja kelabakan ketika bangun pukul delapan dan melihat notifikasi dari koordinator kelasnya yang mengatakan jadwal kelas dimajukan.

Ketika sampai di kelas, Madya sudah tidak mendapati sang dosen di kelas, hanya teman-teman kelasnya yang ribut memilih kelompok dan berdiskusi untuk tugas yang ditinggalkan Prof. Adi. Madya yang masih linglung mendekati sang koordinator kelas untuk menanyakan tugas apa yang diberikan oleh Prof. Adi.

“Tugas kelompok, Mat. Tapi ya sekelompok cuma dua orang. Semuanya udah pada dapet pasangan kelompoknya sih, kalo lo kayaknya kedapetan sama Janu soalnya dia dari tadi ga ngajuin mau kelompokan sama siapa. Jadinya yang tersisa aja sekelompok sama dia, dan itu lo. Oh sama kalo mau presensi ntar ngisi aja di ruang transit ya.”

Begitu Cintia menjelaskan selaku koordinator kelas. Madya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala setelah mengucap terimakasih. Netranya bergulir mencari keberadaan sosok yang akan menjadi partner kelompoknya untuk tugas kali ini. Tapi nihil. Tiada eksistensi pemuda itu di dalam kelas.

“Terus ini anaknya mana, Cin? Si Janu maksudnya.”

“Mana gue tau. Itu anak kayak lo gatau aja emang suka kayak setan tiba-tiba ngilang.”

“Huss kalo ngomong!”

“Ya bener kan? Dari kita-kita mana ada yang tau apa-apa soal Janu? Orang anaknya suka ngilang terus ga pernah kumpul-kumpul sama temen-temen yang lain, misterius banget gue curiga dia aslinya anggota BSSN.”

“Yang bener aja lu Cin hahaha. Yaudah entar gue chat aja anaknya.”

“Yakin dibales?”

Madya hanya mengangkat bahu, “Ya kan bisa dicoba dulu.”

“Terserah deh. Gue cabut duluan kalo gitu. Bye, Mamat.”

Madya kemudian menyadari jika satu persatu teman-temannya telah beranjak dari kelas, menyisakan dirinya dan beberapa teman kelasnya yang memang hobi mendekam di kelas untuk menunggu kelas selanjutnya. Karena ia sudah tidak ada kelas lagi selain kelas Prof. Adi yang dimajukan itu, Madya memutuskan untuk beranjak pula dari ruang kelas.

Langkah kakinya membawa pada bangungan yang baru tahun kemarin diresmikan menjadi bagian dari fakultasnya, perpustakaan. Madya sedikitnya yakin jika Janu berada di sana karena ia cukup sering berkunjung dan cukup sering pula mendapati Janu di sana, berada di spot yang sama tiap harinya. Dan benar dugaannya, lagi-lagi ia melihat Janu di tempat yang sama, tepat di pojok spot baca, sejajar dengan rak yang berisi khusus buku-buku hukum perdata.

“Hai.”

Janu tersentak ketika mendapati Madya yang menyapanya sembari menarik kursi di depannya dan duduk di sana. Kegiatannya menyiapkan laptop dan buku-buku yang dibutuhkan terjeda sejenak sebelum akhirnya ia membalas sapaan sang teman sekelompok.

“Ya.”

“Tugas dari Prof. Adi ngapain aja sih? Gue gak join kelas tadi jadi gak tau. Mau ngerjain sekarang langsung?”

“Sebentar, nanti gue kirim kalo laptop gue udah siap.”

Akhirnya Madya juga ikut menyiapkan peralatan mengerjakan tugas layaknya yang telah Janu lakukan sebelumnya dalam diam. Terkadang berinteraksi dengan Janu bisa menjadi agak canggung bagi Madya. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana ia hanya merasa jika Janu tidak benar-benar tertarik untuk berinteraksi dengannya meskipun Madya juga sudah cukup sering menginisiasi. Well, sebenarnya memang anak itu selalu nampak tidak tertarik dengan segala hal yang ada di sekitarnya, Madya tidak heran, Janu memang memiliki citra misterius yang melekat dalam dirinya.

Hanya saja Madya terkadang merasa, berbeda.

Ia yakin meskipun Janu tipikal orang yang tidak akan nampak tertarik dengan segala bentuk interaksi apalagi jika itu harus mengeluarkan suaranya, setidaknya ia masih menghargai sang lawan bicara dengan mendengarkan secara seksama dan memertahankan kontak mata. Tapi jika dengannya mana ada Janu mendengarkan secara seksama dan menjaga kontak mata, yang ada malah tidak fokus dan terus-terusan mengalihkan pandangan. Seperti enggan, seperti menutupi sesuatu. Padahal Madya juga tidak tau apa itu. Interaksi keduanya memang tidak sesering itu, tapi dibandingkan teman-temannya yang lain, Madya cukup sering berinteraksi dengan Janu. Mengingat dari tujuh mata kuliah yang harus mereka ambil, enam di antaranya ia berada di kelas yang sama dengan Janu. Tapi entahlah, mungkin hanya Madya yang terlalu berlebihan memikirkannya.

Tidak terasa waktu tiga jam sudah mereka habiskan untuk mengerjakan tugas dari Prof. Adi. Belum selesai sih, tapi kalau sudah capek rasa-rasanya wajar. Tiga jam menurut Madya waktu yang cukup banyak untuk mengerjakan tugas tanpa istirahat maupun distraksi. Tidak tau kalau Janu, dari tadi masih fokus saja dengan laptop di depannya, kadang Madya sampai merasa tak dihiraukan.

“Janu, break dulu bentar aja yuk. Lo gak capek apa dari tadi mantengin laptop mulu?”

“Oh, ya lumayan sih sebenernya. Tapi kalau break juga mau ngapain.”

“Ke kantin mau nggak? Laper nih, udah mau jam maksi juga.”

Terdapat jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Janu mengiyakan, ”Okedeh.”

“Kantin FISIP aja gimana?”

“Hah?”

“Iya kita ke kantin FISIP aja, belum pernah nyoba di sana soalnya.”

“Emang kita boleh makan di kantin fakultas lain?”

Madya tiba-tiba tertawa membuat Janu memiringkan kepalanya bingung, tidak merasa ada yang lucu dengan pertanyaannya.

“Aduh Janu, lo itu emang polos apa kurang pergaulan aja sih hahahaha. Ya boleh lah kalo cuma makan di kantin fakultas lain mah, yang penting bayar, kecuali kalo makanannya ga dibayar itu baru yang nggak boleh.”

“Ya sorry, gue nggak pernah keluar fakultas soalnya.”

“Yaudah abis ini lo gue bawa keliling makan ke kantin tiap fakultas deh, besok-besok kalo maksi di kampus sama gue aja, kebetulan semua kantin fakultas udah gue coba, tinggal kanti FISIP doang ini yang belom. Jadi ayo! Ke sana aja buat hari ini.”

Entah perasaan Madya saja atau memang Janu terlihat tersipu? Semburat merah muda muncul begitu saja di pipi si pemuda sebelum kembali pada raut wajah yang biasanya memang selalu dingin itu.

“Oke.”

Dan kegiatan mereka di perpustakaan hari itu ditutup dengan sekata kalimat jawaban dari Janu.

***

Janu berjengit kaget ketika seonggok buntelan bulu tiba-tiba bergelung di kakinya. Bersinnya tidak bisa lagi dihindari. Hidungnya sudah meler dan titik-titik air mata mulai menggenang di kantung matanya. Madya yang duduk di depannya jadi ikutan panik! Mana keadaan kantin yang cukup ramai membuat keduanya cukup menjadi perhatian. Tapi dengan sigap Madya segera mengambil dry food yang selalu dibawanya dan membawa kucing yang tadi menghampiri keduanya secara diam-diam keluar dari kantin dan meletakkannya bersama sebungkus dry food agar kucing tersebut fokus dengan makanannya dan tidak kembali ke tempat mereka. Sebelum masuk ke kantin lagi ia sempatkan untuk cuci tangan di wastafel yang tersedia.

Ketika kembali ke meja tempat ia dan Janu makan, Madya mendapati keadaan orang-orang disekitar mereka yang sudah mulai kondusif dan Janu yang sibuk dengan bungkusan obat seperti yang ia lihat semalam saat bertemu dijalan, mungkin memang obat untuk alerginya saat kambuh. Pemuda itu sudah tidak bersin-bersin lagi, tapi jejak-jejaknya masih terlihat dengan jelas. Hidung memerah dengan air mata yang masih sedikit menggenang.

Lucu.

“Lo oke?”

Hanya anggukan yang menjadi jawaban. Sekarang Janu sibuk dengan tissue meja yang disediakan di meja, membersihkan sisa-sisa ingus pasca bersin-bersin tadi dan juga setitik air mata yang masih tersisa. Keadaannya sudah cukup membaik daripada saat kucing itu masih di dalam ruangan yang sama dengan mereka. Dan Madya terkekeh dengan suara khasnya, membuat Janu mengalihkan atensinya pada si pemuda penggemar semangka itu.

“Lo lucu deh. Udah tau alergi kucing juga, masih demen aja ngasih makan kucing. Giliran didusel kabur soalnya alerginya kambuh. Kalo udah kambuh jadi repot dan tersiksa sendiri juga.”

Janu balas terkekeh kecil dan Madya bersumpah jika Janu terlihat jauh lebih atraktif ketika kikikan jenaka itu keluar dari mulut yang biasanya hanya distel dalam mode datar itu.

“Udah biasa sih, ga masalah juga. Abisan kucing tuh lucu, gue kadang suka gemes aja. Apalagi kucing kampus, gemuk-gemuk hahaha.”

“Lo tuh juga gemes tau. Sering-sering lah senyum ato ketawa kayak pas lo lagi liat kucingatau bahas kucing kayak gini.”

Janu terdiam, dan telinganya perlahan memerah yang menjalar ke seluruh bagian wajahnya. Menyadari Janu yang memerah, lagi-lagi Madya panik.

“Anjir Janu lo kenapa memerah gitu sih? Marah ya lo sama gue? Sorry aduh gue gak bermasud.”

“Gak. Gue gak marah. Mending kita buruan cabut, dah selesai kan lo makannya. Lo juga ada latian voli kan nanti sore. Mending pulang lo siap-siap sana tidur siang dulu gitu kek. Tapi kalo lo mau di sini dulu gapapa, gue cabut duluan kalo gitu. Bye, Madya.”

Belum sempat Madya menjawab, Janu sudah kabur duluan. Meninggalkan Madya dengan raut kebingungan yang ketara. Dari mana pula Janu tau jika hari ini ia ada jadwal latihan padahal latihan hari ini tidak sesuai dengan jadwal reguler yang biasa mereka lakukan karena menyesuakan jadwal dengan mayoritas anggota yang hadir. Dan lagi, anak itu meninggalkan buku catatan yang tadi sempat dikeluarkannya untuk mencatatan tambahan ide tugas yang tiba-tiba terlintas ketika sedang makan. ‘Dasar teledor!’ Madya menggelengkan kepalanya heran.

Iseng membuka lembar pertama, Madya mendapati catatan rapi untuk jadwal kelas Janu yang sebagian besar sama dengan miliknya. Karena terlampau penasaran, kegiatannya membuka-buka buku catatan Janu itu berlangsung hampir di semua halaman. Nampak tidak ada hal-hal bersifat privasi yang tidak boleh sembarang orang tau tentang Janu dalam buku catatan itu, semua tulisan yang ada hanyalah catatan-catatan kuliah penjelasan dari dosen. Tipikal anak rajin memang, Madya kadang-kadang juga begitu.

Semakin ia membalik lembar demi lembar buku catatan milik Janu, Madya mengernyitkan dahinya dalam. Ia merasa cukup familiar dengan tulisan-tulisan seperti itu. Tapi di mana?

Tapi siapa? Ia berusaha keras untuk mengingat perasaan familiar yang perlahan melandanya tersebut. Sampai pada lembar terakhir yang ia balikkan, Janu mendapati sebuah lembaran memo dengan ciri khas yang ia hafal di luar kepala.

‘Oooooo… Laksmana Janu~’

Seringai tipis Madya tampilkan sebelum kakinya melangkah ringan dengan membawa buku catatan milik Janu yang ia simpan dalam ranselnya, nanti akan ia kembalikan pada yang punya hak milik. Senyumnya tidak luntur bahkan ketika berhadapan dengan tukang parkir yang kebingungan sendiri melihat Madya yang senyam-senyum tidak jelas sembari menaiki motornya.

Dengan kecepatan sedang Madya melajukan motor kesayangannya menuju indekos yang ia huni, yang sesampainya di sana ia rebahkan tubuh dengan jiwa bahagianya di kasur yang mulai menipis. Masih tersenyum konyol dan tidak habis pikir. Biarlah setan-setan di pojokan kamarnya menganggapnya gila. Madya hanya sedang bahagia, karena akhirnya ia temukan jawaban dari semesta yang ia nanti-nantikan.

***

Pukul delapan malam dan Janu masih asyik dengan tugas kelompok lanjutan dari tadi siang di dalam sebuah kafe di dekat kampusnya. Ia dan Madya kembali memutuskan untuk mengerjakan tugas dari Prof. Adi di malam harinya atas ajakan dari Madya dengan alibi agar cepat selesai karena masih banyak tanggungan tugas lain dan juga tugas di luar perkuliahan yang Madya tanggung.

Mulanya Janu ragu untuk mengiyakan karena pukul delapan berarti pas sekali Madya selesai dengan latihan volinya. Jika langsung mengerjakan tugas yang cukup berat ini apa tidak semakin lelah? Sementara Madya berkelit, mumpung sekalian masih di luar katanya, toh Madya juga melewati kafe yang dijadikan tempat janjian jika akan pulang ke indekosnya. Dan sudah cukup sering pula ia mengerjakan tugas sampai larut di luar. Bukan contoh yang baik memang tapi sudah amat biasa dijalani mahasiswa-mahasiswa budak tugas yang seperti tidak ada habisnya.

Delapan lebih limabelas menit dan Madya baru menampakkan batang hidungnya di tempat keduanya janjian. Menghadirkan tatapan sungkan dari Madya karena ia sendiri yang mengusulkan waktu dan tempatnya tapi ia sendiri pula yang datang terlambat.

“Nggak papa. Gue emang udah dari jam 7 di sini sambil nyicil tugas-tugas yang lain.”

Dan setelah itu keduanya fokus pada tugas kelompok mereka, sambil sesekali menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Sampai waktu yang menunjukkan pukul setengah dua belas dan sudah ada sign jika kafe tempat mereka mengerjakan tugas akan tutup, Madya menyarankan untuk menyudahi diskusi keduanya dan segera pulang sebelum pelayan kafe yang benar-benar mengusir keduanya secara terang-terangan.

“Bisa lanjut besok atau kapan-kapan lagi ya buat ngerjain tugasnya, toh deadline masih empat hari lagi.”

Keduanya sama-sama di parkiran motor yang kebetulan letak motor mereka hanya berselang satu motor yang entah milik siapa. Janu bersiap duluan karena memang jarak indekosnya sedikit lebih jauh jika dibandingkan dengan Madya.

“Gue duluan ya, Madya.”

“Oke, hati-hati di jalan ya, Nu. Makasih buat hari ini. OH, sama makasih buat semangka sama kata-kata penyemangatnya ya. Lain kali lo bisa kok, ngasih langsung ke gue.” balasan Madya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Janu yang saat ini terlihat shock. Yang tidak Madya sadari adalah perlahan wajah tampan yang berlindung dibalik visor helm itu pelahan memerah dengan jantungnya yang berdetak semakin kencang.

Tidak sanggup membalas godaan sang lawan bicara, Janu mengalihkan pandangan dan segera tancap gas meninggalkan Madya di parkiran kafe tanpa kata. Sedangkan Madya yang merasa seperti mendapatkan jackpot hanya bisa tertawa lebar melihat tingkah laku Janu yang benar menggemaskan di matanya.

‘Besok sebelum kelas Miss Diaz, ketemu gue dulu yuk di Taman Justicia. Kita perlu ngobrol banyak nggak sih selain bahas tugasnya Prof. Adi?’

Begitulah pesan yang Madya kirimkan pada Janu, tepat saat eksistensi pemuda yang kabur duluan itu menghilang ditelan belokan. Kekehan gemas keluar dari belah bibirnya saat ia kembali menyimpan ponselnya di saku ransel dan melajukan motornya dari parkiran kafe yang sepi. Laju pelan ditemani sepoi-sepoi angin malam, ahh sepertinya Madya akan tidur nyenyak dan bermimpi indah malam ini.

Fin.