Work Text:
“Terima kasih banyak karena hari ini pun mau menuruti mauku, Amamiya-kun.”
“Ya, bukan masalah. Aku juga sedang luang, kok.”
Bagaimana pun juga, bohong kalau Ren tidak senang tiap Akechi mengajak bertemu begini. Malah selalu ditunggu. Untung saja ia punya banyak kegiatan, jadi tidak perlu pundung sendiri kala tidak menerima pesan baru dari si detektif. Untuk kali ini, kafe yang sedang banyak dibicarakan semua muda-mudi menjadi tujuan lagi. Sedikit tergelitik mengingat kejadian di kafe sebelumnya pernah dikunjungi mereka. Apa kali ini perlu begitu pula? Mungkin sekalian bisa dipakaikan blazernya ini.
Tatapan heran dari sampingnya sampai tidak disadari. Tak lain dan tak bukan karena Ren tersenyum sendiri disertai kekehan kecil. Tentu tahu betul gelagat tersebut bermakna bahwa ada yang direncanakan. Namun, Akechi memilih untuk mengabaikan saja. Mengingat perilaku serta tingkah si rival sering di luar dugaan kalau-kalau berani berucap barang hanya sepatah kata.
Meski memakan waktu cukup lama untuk sampai, ketertarikan keduanya tetap bertahan hingga memasuki kafe tersebut. Seisi tempat ini menyuguhkan suasana klasik ditambah dekorasi cenderung antik, beberapa grafiti pun turut menghias dinding. Tempat yang tepat untuk mengambil foto dengan kesan estetik agar bisa diunggah ataupun hanya sebagai pengalaman.
“Sayang sekali kita telat datang jadi cheesecake-nya cuma cukup untuk satu orang.”
Sedikit komentar terlontar kala mereka sudah memesan dan menerima makanan serta minuman mereka. Dengkusan kecil menjadi balasan pertama sebelum Ren membuka suara. “Yang mengincar menu best seller-nya bukannya kau, Akechi-san? Kalau aku, apa saja tak masalah. Hmm… mochi ice cream-nya enak.”
Tawa pelan lolos menjadi tanda Akechi sudah tidak memikirkan hal sepele itu lagi. Cheesecake pesanannya langsung dipotong dengan sendok dan disantap. Diam sejenak untuk mempertimbangkan bagaimana rasanya.
“Hm, ini juga enak. Mereka tidak melebih-lebihkan rupanya. Tak heran ini bisa jadi best seller.”
“Berarti makanannya enak, yah. Cukup menolong rasa kopinya yang agak kurang.”
“Sepertinya barista memang tidak bisa diberi sembarang kopi, yah.” Sedikit candaan dilontarkan. Sudah dipastikan tak akan berefek ‘buruk’, jadi lebih mudah terucap. “Sayang sekali ini belum bisa memuaskanmu.”
Senyum kecil terukir mendengar respons tersebut. Ren belum selihai itu, tetapi lidahnya sudah termanjakan kenikmatan kopi seduhan Sojiro. Jadi kemungkinan besar karena itu seleranya sulit cocok ke sembarang kopi.
Akechi melanjutkan santapannya hingga tersisa setengah. Kue itu tak tersentuh lagi selama si empunya menyibukkan diri dengan minum dan membahas hal lain dengan Ren. Cukup mengherankan. Biasanya makanan yang dipesan akan dihabiskan terlebih dahulu sebelum berbincang lebih banyak. Apa sebenarnya tak seenak itu?
“Oh, aku sampai lupa.” Baru saja dibingungkan, Akechi menyodorkan kuenya pada Ren–mengundang kebingungan lain. “Ini, Amamiya-kun. Karena tempatnya jauh, jadi kemungkinan kecil akan kembali ke sini dalam waktu dekat, ‘kan? Jadi kupikir coba makan sekarang saja. Aku juga mau dengar pendapatmu.”
“Aku benar-benar tak masalah, Akechi-san. Habiskan saja.”
“Aku sudah puas dan aku akan lebih puas lagi kalau bisa mendengar komentarmu.”
Tidak ada penolakan lebih jauh, hanya hela napas singkat sebagai bentuk awal menerima. Memang Ren adalah tipe yang senang mengalah. Namun pada Akechi, ia memiliki kemampuan untuk keras kepala dan menolak pula. Kali ini, dipilih tak melakukan hal tersebut. Sedang dalam suasana hati untuk menurut saja.
Satu potongan kecil sudah disantap. Lawan bicara kini turut diam selama ia memproses rasa di lidah. Intinya, memang benar-benar enak. Tentu untuk memuaskan si pencicip handal ini harus memberi pendapat lebih dari itu.
“Rasanya seperti lumer di lidahku, manisnya juga pas ditambah ada rasa asin khas keju. Teksturnya juga tidak terlalu empuk atau terlalu padat. Benar-benar enak.”
Mengerjap, Akechi seperti berusaha memproses apa yang barusan didengar sampai akhirnya tawa pecah. Si kacamata awalnya kebingungan, tetapi kemudian berubah cemberut melihat reaksi ini. “Deskripsiku salah, yah? Maaf, aku tak sepintar dirimu soal ini, Akechi-san.”
“Haha, Amamiya-kun… Astaga, aku hanya tak menyangka saja kalau kamu akan berkomentar detail begitu.” Tarikan dan hembusan napas cukup panjang membuatnya dapat mengatur rasa geli. Walau sedikit tawa masih tersisa. “Kamu selalu benar-benar di luar dugaanku.”
“Begitu, ya...”
“Tapi terima kasih. Itu cukup menghibur, Amamiya-kun. Jadi tak sia-sia pula aku membagi kueku ini.”
“Jadi tak tulus memberiku kuenya?”
“Bukan begitu. Tapi kamu pasti sudah tahu maksudku, ‘kan Amamiya-kun?”
Hanya senyum miring dengan diiringi, “Heh,” singkat menjadi balasan. Tentu ia sudah tahu betul. Ingin sedikit mengisengi Akechi saja. Selalu menarik melihat reaksinya yang kali ini belum bisa dilihat. Mungkin lain waktu.
Untuk sekarang, mari nikmati momen ‘biasa’ tapi hangat serta nyaman ini.
