Actions

Work Header

Idia dan Kucing Transparan

Summary:

Disaat Idia hendak menjernihkan kepalanya dari layar monitor, dia justru dipertemukan dengan penyusup jahil yang memantikkan hasrat Idia untuk melanjutkan proyeknya yang stagnan... yakni helm transparannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dari keseharian sekolahnya yang selalu di huni keheningan kamar tidurnya, dengan suara bising yang rendah keluar dari kipas yang berputar optimal di dalam cpunya, Idia selalu menyempatkan dirinya untuk keluar dari kamarnya dalam malam hari untuk menyegarkan pikirannya dengan angin malam. Inilah waktu terbaiknya, karena sewaktu selain malam ia tak akan bisa kuat dari desakan orang-orang yang mampu bersosialisasi.

Malam ini agak mendung, maka hawanya terasa sedikit panas. Idia tetap mengenakan jaketnya, untuk antisipasi apabila ada orang lain yang lewat. Ia mengenakan hoodienya dan melewati cermin portal yang menghubung kearah sekolah Night Raven College.

Hari ini dia memutuskan untuk jalan-jalan santai ke halaman sekolah sambil memikirkan soal proyeknya selanjutnya. Sejujurnya dia ingin memberi fitur baru untuk Ortho, tapi untuk sekarang beberapa fitur keren yang ia bisa pikirkan di kepala rasanya masih jauh terlalu berbahaya, bisa-bisa Ortho dipulangkan paksa gara-gara fitur-fitur canggih tersebut. Idia pingin sekali Ortho punya body suit khusus untuk tempur, sebenarnya juga bukan buat perang sih, tapi Ortho pasti bakal kelihatan keren. Ok, sejujurnya, body tempurnya sudah 45% jadi. Idia mungkin akan melanjutkan proyek itu setelah naik kelas.

“Apa mungkin, aku lanjutin proyek helmku itu ya…”

Proyek Idia yang super ambisius dan sampai sekarang masih belum selesai: Invisibility helmet. Dengan helm itu, Idia bisa keluar dari kamarnya tanpa terlihat. Tentu dia tak akan menggunakan helm itu setiap kelas; dia masih lebih nyaman mengambil kelas dengan tabletnya saja. Tapi bisa jadi untuk keadaan darurat dia harus benar-benar keluar dari kamar. Idia sudah berhasil membuat dirinya transparan namun dari mata telanjang bayang tubuhnya masih bisa terlihat mendistorsi cahaya dan visual di sekitarnya, sehingga dia tidak begitu transparan seutuhnya. Targetnya ialah:

“Harus benar, benar, benar benar benar transparan. Kalau nggak, masih produk gagal.”

Idia menghela napas panjang. “Aaah… Entahlah, males mikir. Kepalaku hari ini overheat gara-gara turnamen tadi.” Turnamen game maksudnya.

Di halaman sekolah, di bawah pohon apel, Idia memutuskan untuk duduk sebentar dan menyisakan sedikit pikiran di kepalanya. Mata kekuningannya menembak bebas ke angkasa, melihat bintang-bintang dan membayangkan garis-garis konstelasi. Sayangnya hari ini tidak begitu cerah. Idia kemudian memakai headsetnya dan memejamkan matanya dan mendengarkan lagu-lagu dari idol favoritnya.

Tiba-tiba, Idia kejatuhan apel di atas kepalanya. Seraya ia meraba kepalanya, otaknya tiba-tiba menekan saklar berpikirnya lagi.

“Huh… Gravitasi.” Gumamnya rendah. Dia memakan apel itu dengan satu gigitan tajam. “Sihir bisa memanipulasi gravitasi, ya.”

Jelas. Ortho bisa terbang karena sihir. Pixie dust bisa membuat manusia biasa terbang. Sihir benar-benar membantu perkembangan teknologi karena sifatnya yang bisa membengkokkan sains. Murid-murid Ignihyde mempunyai spesialisasi dalam menggabungkan penemuan-penemuan dengan sihir sehingga mampu mengoptimalkan beberapa mekanisme. Tapi untuk membengkokkan sinar cahaya untuk menyerupai efek transparan sungguh sulit karena dia harus mengkoordinasikan titik-titik cahaya agar menyerupai sisi yang tertutup dari tubuhnya, dari berbagai arah, dan harus benar-benar tidak hablur, tidak kasat mata. Dia bisa saja minta saran dengan Malleus, tapi, ya, Malleus itu Malleus. Mengingat kemampuan sihir Malleus yang luar biasa, Idia jadi frustasi sendiri.

“Gimana ya caranya sihir memanipulasi cahaya??” Seru Idia sambal menarik-narik rambutnya. Dia tidak jadi bersantai ria.

Pada akhirnya, dia mengeluarkan tabletnya. Dia sangat focus terhadap coretan-coretannya, berkali-kali dia undo redo hitungan-hitungannya. Ia begitu asyik menghitung sampai-sampai dia tidak memerdulikan sekitarnya dan waktu berjalan panjang menuju tengah malam, hingga dia mendengar seseorang menghela napas. Ia mendongak sebentar, melacak kilat hanya dengan bola matanya, berharap itu bukan Malleus di tengah tamasya malamnya. Namun terlihat sesuatu yang lain: Sebuah ekor ungu tebal muncul dari atas pohon di kejauhan. Ekor tersebut bergerak melingkar-lingkar, menandakan kehidupan.

“Kucing!!” Seru Idia dalam hati. Dia segera bangkit dari tempat ia duduk, hendak mengelus. Sampai ‘kucing’ itu menguap keras-keras. Idia dengan cekatan memutar kakinya dan sembunyi sebentar, berlindung di balik pohon apel.

Ekor tersebut turun dari pohon. Hanya ekor. Tidak ada apa-apa selain ekor. Perlahan-lahan tidak hanya ekor yang muncul, seakan opacity dinaikkan dari 0 ke 100. Pemilik ekor tersebut ialah lelaki muda sepantaran, kemungkinan adik kelas. Ia mengolet lepas, merapikan rambut ungunya dan menggaruk kuping kucingnya.

“Hmm… aku malah ketiduran.” Katanya sambil tersenyum. “Aku mesti pulang, nanti aku diomel-“ Si kucing berhenti berbicara setelah ia berbalik badan.

Terdapat sosok kebiruan berdiri membungkuk sambal memeluk tablet dari belakang. Matanya terbelalak, dan rambut apinya membara biru. Ekspresinya susah di tebak, di karenakan kegugupannya dan keingin-tahuannya menggebu-gebu menjadi satu. Mulutnya yang terbuka sedikit menunjukkan giginya yang tajam-tajam, karena ia ingin mengucapkan sesuatu tapi tak satupun suara keluar dari pita suaranya. Saat ini, Idia terlihat sangat menyeramkan.

“Ah… Uh…” Ujar Idia.

Si kucing juga diam membeku. “Eh…”

“Uhh…. Uh…”

“Oke… Selamat tinggal…” Seru si kucing. Badannya menghilang.

“STOOOP!!!!”

Idia melompat dan menangkap kepala si kucing. “Se-se-se-se---…..”

“Heeiii, um, kamu orang aneh. Bisa lepaskan tanganmu?” Mulutnya tersenyum lebar.

Idia membelalak. Seketika dia mundur lima Langkah. “To-tolong jangan kabur ya? Plis? Jangankaburyakumohonakujujurgakmauaneh-anehsumpah!”

“Wowowow, santai. Aku gak kemana-mana, kecuali…”

Kucing itu menghilangkan seluruh tubuhnya. Idia mendengking keras. Kucing itu memunculkan matanya saja tepat di depan Idia. Idia mendengking lebih keras.
“…kalau kamu mau kenalan.”

Idia menelan ludah keras-keras, tenggorokannya sangat kering. “Aku… Idia.”

Kucing itu memunculkan seluruh tubuhnya lagi, “Artemiy Artemiyevich Pinker, tapi panggil saja Che’nya.” Kali ini tangannya ia ulurkan. Saat Idia hendak mengulurkan tangannya untuk menjabat, tiba-tiba Che’nya menghilangkan tangannya. Wajah Idia menjadi sangat ekspresif. Che’nya terkekeh-kekeh sendiri. “Mukamu kocak.”

“Mukaku biasa-biasa aja.” Balas Idia cemberut. Dia langsung menjabat tangan. Sekarang giliran Che’nya yang mendelik. Moodswing Idia memang terkadang bikin dia jadi susah dibaca. “Aku mau bicara soal kemampuanmu yang bisa menghilangkan bagian tubuhmu.”

“Ah… Itu?” Senyumnya melebar. “Kamu mau tahu?”

“Ya. Itu memang kemampuan khusus tubuhmu, atau sihir?”

“Kamu juga mau seperti aku? Menghilang? Untuk apa?”

Idia menarik nafas keras-keras. “T-tolong jawab.”

“Untuk apa?”

“Untuk helmku-“

“Helm apa?”

“Helm… yang bisa membuat aku transparan.”

“Buat apa?”

Idia tidak merasa malu lagi. “Itu bukan urusanmu! Dengar, Che’nya, aku bener-bener butuh jawaban soal kemampuanmu karena aku stuck dalam proses pembuatan helm ini.”

“Hmm… kamu beneran ‘butuh’ kah?”

Idia menarik nafas yang sangat Panjang. Dia berusaha menenangkan diri. “Che’nya. Jawab. Pertanyaan. Ku.”

“…”

“Jadi? Caranya gimana?”

“Rambutmu bagus Idia.”

Rambut Idia berkobar kemerahan. “ORANG STRESS!!”

Volume rambut Idia menjadi memuai, merambat ke angkasa dan sekitarnya, memberi rana oranye ke dedaunan. Che’nya mundur selangkah lebih jauh agar tidak terkena percikan apinya.

“Et, et, et, jangan marah. Biarpun aku kasih tahu, kamu juga nggak akan bisa tiru.”

Rambut Idia perlahan mereda “Signature spell?”

Che’nya mengangguk. Kali ini Idia rubuh ke tanah dan menghela napas Panjang untuk kesekian kalinya. Dia berusaha keras untuk menenangkan diri agar apinya tidak kemana-mana. “Waktuku habis cuman buat main-main sama kamu.”

“Tapi… Kalau kamu penasaran, aku bisa tanya temanku.”

“Temanmu bisa??”

“Teman baikku…. Namanya…”

Idia membuka kuping lebar-lebar.

“Idia…”

“AAAAGRRGH BANGSAAT!!!!” Idia benar-benar marah sekarang.

“Sssst!! Jangan keras-keras! Nanti aku ketahuan kalau aku masuk tanpa izin ke sekolah ini-“

“Kamu… Kamu bukan murid NRC!!??”

Che’nya nyengir, menunjukkan giginya yang datar rapi, di bandingkan Idia yang memeringiskan giginya yang tajam. “Kamu pasti bisa Idia! Semangat!” Setelah itu, Che’nya benar-benar menghilang.

“Kak Idia?” Seru sebuah suara dari seberang halaman. Idia berbalik badan masih dalam keadaan emosi. Ialah seseorang yang memang murid NRC, mengenakan seragam NRC dengan vest hijau neon. Rambutnya yang keperakan memantulkan cahaya bulan. “Aku kira ada orang lain…”

“Silver!” Seru Idia setengah membengok. “Kamu patroli?”

“Iya, sekarang jadwalku.”

“Ada penyusup! Ekor ungu, rambut ungu, kuping kucing!”

“Kucing?”

“Nggaaaak!! Orang! Kuping kucing- ah!”

Che’nya belum pulang. Bahkan, sekarang dia sedang sembunyi di belakang Silver, hanya menunjukkan senyumannya yang sangat lebar. Che’nya mengedipkan mata ke Idia.

“ITU!! DI BELAKANGMU!!”

Silver melempar badannya ke belakang hanya untuk melihat tembok sekolah. Kali ini kepala Che’nya ada di punggung Silver. Tertawa yang tidak terdengar. “SILVER!! DI PUNGGUNG!!” Jerit Idia. Silver meraih punggungnya dengan tangannya, tapi lagi-lagi Che’nya pindah ke atas kepala Silver. “AAH! AAH DI ATAS!!”

Kali ini Silver tidak mendengar perintah Idia. Dia memutuskan untuk mendekati Idia.

“Kak, kayaknya udah ngantuk deh kamu.”

“YA AMPUN.” Idia menggosok-gosok wajahnya keras-keras. “Gak!! Itu ada beneran! Dia dari tadi ngobrol sama aku!”

“Tapi dari tadi aku nggak lihat orangnya.”

“YA JELAS KARENA KEKUATANNYA BISA NGILANGIN BADAN.”

Silver hanya mengernyitkan jidatnya. Che’nya tertawa hening. Silver menepuk Pundak Idia dengan ekspresi seakan mengasihani Idia. “Kak, tidur itu lumayan penting biar gak halusinasi. Aku ngomong gini karena aku pernah begadang karena kebanyakan ngopi.”

Idia hanya melongo. Dia melihat Che’nya di belakang, melambai-lambai dan memberi kiss bye. Kali ini, dia benar-benar pergi. Mata Idia menjadi berat akibat emosinya yang keluar menggebu-gebu sehingga energinya sekarang habis. “Ya, Mestinya aku langsung tidur.”

Idia bersumpah akan menyelesaikan helmnya.

Notes:

Idia sama Che'nya kayaknya bakal lucu sih klo interaksi jadi ku bikin cerita ttg mereka berdua