Actions

Work Header

there’s no way (it’s love)

Summary:

Beomgyu mengenal Soobin nyaris seumur hidupnya. Dan ia, mengalami banyak hal-hal baru bersama Soobin.

Termasuk jatuh cinta.

Notes:

It’s my first time I wrote high school AU setelah sekian purnama jadi kayaknya ini bakalan kerasa cringe tapi tanpa cringe gak akan ada kisah klasik masa SMA, kan? (ngeles) Semoga semuanya enjoy! Maaf kalau ada banyak typo (I don't do proofread karena aku sedikit... sibuk) hehe.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Elementary Days.

3rd grade.

 

Teriakan riang anak-anak ketika lonceng istirahat berbunyi dengan nyaring menggema di sepasang telinga milik anak laki-laki yang tingginya melebihi beberapa kawan seumurannya. Membuat anak laki-laki dengan kacamata bertengger di hidungnya segera bangkit dari bangku dan bergerak menuju kelas sebelah untuk menghampiri teman dekat sekaligus tetangga samping rumahnya agar mereka berdua dapat menikmati waktu istirahat bersama-sama seperti hari-hari sebelumnya.

“Eits, Beomgyu lagi sibuk kamu gak boleh samperin Beomgyu sekarang.” hadang anak laki-laki yang ia ketahui namanya adalah Jonghoon di depan kelas, mengatakan bahwa ia tidak dapat menghabiskan waktu dengan Beomgyu, sang sahabat, hari ini.

Baru saja dirinya akan bertanya tentang sang kawan sedang sibuk apa, sebuah suara dari dalam ruang kelas sudah terdengar dengan nyaring. Suara yang sudah ia kenal dengan baik karena keduanya telah mengenal satu sama lain sejak mereka berusia lima tahun, atau mungkin keduanya sudah bertemu sejak saat bayi karena mereka tetangga (rumahnya benar-benar dekat, bersebelahan) dan kedua orangtua mereka sangat dekat.

“Gak usah ngarang!” seru Beomgyu dari dalam kelas seraya menepuk pelan kepala belakang Jonghoon dengan tangannya, membuat Jonghoon mengaduh kesakitan dan membalas perlakuan Beomgyu. Gerakan keduanya masih termasuk ke dalam konteks bercanda, baik Jonghoon maupun Beomgyu tidak ada yang menaruh rasa sebal dalam hati. “ayo kita ke kantin bareng, itu Jonghoon cuma ngibul karena cemburu aku makan sama kamu terus.” lanjutnya sembari menarik lengan Soobin, si anak kelas sebelah yang menjemput, dengan riang. Membawanya menuju kantin.

Soobin tertawa mendengar kalimat Beomgyu. “Kamu tahu kata cemburu itu dari siapa?” tanya Soobin penasaran. “dari Abang, ‘kah?” tanyanya lagi sebelum Beomgyu menjawab pertanyaannya.

“Dari sinetron yang ditonton Ibun,” ujar Beomgyu kemudian nyengir. Matanya ikut tersenyum, membuatnya terlihat menggemaskan. “kamu memang tau cemburu itu apa?” kali ini giliran Beomgyu yang bertanya, membuat Soobin mengangguk pelan.

“Tau dong, aku sering denger Kakak sama Teteh ngomongin ini terus setiap mereka nonton seri bareng di depan TV. Habis itu aku tanya deh ke Mama,” jelas Soobin merasa bangga kalau bukan hanya Beomgyu saja yang mengetahui hal-hal yang biasa diketahui oleh orang dewasa.

Beomgyu tertawa nyaring ketika melihat ekspresi wajah Soobin yang terlihat jelas bahwa ia bangga, membuat dirinya bergerak untuk mencubit anak laki-laki yang lebih tua beberapa bulan darinya itu satu cubitan di pipi ketika mereka berdua sudah sampai di depan kantin sekolah yang cukup jauh dari kelas keduanya.

“Kamu kenapa deh cubit-cubit kayak gitu?” ujar Soobin setelah mengaduh kesakitan sampai-sampai dilihat oleh para murid yang saat ini berada di kantin. “semua orang jadi liatin kita berdua, tau,” dengusnya merasa malu.

“Habis kamu lucu banget!” pekik Beomgyu tidak dapat menahan rasa gemasnya. “mukamu kayak orang dewasa padahal kita berdua baru sembilan tahun,”

Soobin memutar kedua matanya malas, kali ini fokusnya tertuju pada rak-rak jajanan yang akan ia beli hari ini; memilah beberapa jajanan kesukaannya untuk ia bawa pulang dan ia cemili ketika mengerjakan pekerjaan rumah dari para guru. “Umur aku udah sepuluh tahun, kamu aja yang lahirnya telat makanya masih sembilan tahun.”

Beomgyu mendengus, dirinya sedikit sebal kalau Soobin sudah membawa-bawa fakta kalau Beomgyu lebih muda darinya walau hanya tiga bulan. Terkadang Soobin akan menyuruh Beomgyu untuk memanggilnya dengan sebutan Kakak karena menurut Soobin seharusnya memang seperti itu namun sebagai teman satu angkatan, Beomgyu menolak keras-keras karena mereka teman satu sekolah dan bahkan pernah berada di kelas yang sama ketika TK dahulu. Salahkan saja Soobin yang masuk sekolahnya telat satu tahun, begitu katanya.

“Ih, kamu tuh ya!” Beomgyu mengeluh, namun bibirnya tetap tersenyum ketika matanya melihat Soobin yang terdiam memperhatikan sesuatu yang ia juga tidak tahu apa, Beomgyu tak dapat melihatnya. “kamu lihatin apa sih, Soobie?” tanya Beomgyu seraya menghampiri Soobin yang masih tidak bergerak.

“Ada kucing,” ujar Soobin pelan, seperti mengingatkan Beomgyu untuk memelankan suaranya agar sang kucing tidak merasa terganggu. “lucu, ya?” kali ini Soobin bertanya sembari melihat ke arah Beomgyu, dibarengi kedua tangan yang penuh dengan jajanan yang belum ia bayar.

Beomgyu mengangguk, “Iya, lucu banget!” serunya senang. “kalau nanti pas pulang sekolah dia masih ada, kita bawa pulang yuk!” seru Beomgyu lagi, kali ini ia segera menarik Soobin agar selesai bayar karena takut jam istirahat mereka habis dan keduanya tak dapat memakan makanan mereka bersama.

 

 

 

Mereka berdua pulang dengan satu anak kucing berwarna abu-abu di gendongan Soobin, berjalan kaki sembari berbincang-bincang tentang bagaimana mereka akan merawat sang kucing dan mencari nama yang pas untuk peliharaan baru mereka.

“Karena kamu yang nemuin dia, dia boleh deh kamu yang rawat. Tapi kamu harus janji kalau aku boleh main sama dia setiap aku mampir, atau enggak bolehin dia kalau dia mau ke rumahku,” ujar Beomgyu seraya menunjuk ke arah kucing yang berada di gendongan Soobin ketika mereka berdua sudah memasuki komplek perumahan yang sudah menjadi rumah keduanya sejak lahir. Soobin mengangguk, mengiyakan permintaan Beomgyu tanpa membalas perkataannya. “Selamat siang, Pak Hoonie!” sapa Beomgyu kepada sang satpam komplek.

“Selamat siang, Beomgyu dan Soobin! Tumben sekali jam segini sudah pulang?” balas sang satpam yang akrab disapa Hoonie oleh para anak-anak—karena nama beliau adalah Hoon—dengan ramah.

Soobin mengangguk, “Iya nih, Pak! Aku sama Beomgyu hari ini gak ada les apa-apa jadi kita bisa pulang siang-siang deh!” jawabnya dengan senang.

“Iya, walaupun kita harus jalan kaki panas-panasan kayak gini,” sambung Beomgyu menyetujui, mengipasi wajahnya menggunakan satu tangan.

Jarak perumahan dan sekolah tidak begitu jauh, maka dari itu keduanya selalu berjalan kaki setiap pulang sekolah (jarak komplek dan sekolah sangat dekat) karena Bunda selalu berkata kalau jalan kaki itu baik, hitung-hitung olahraga karena keduanya begitu malas ketika Bunda dan Mama suruh untuk ikut lari pagi setiap hari Minggu. Keduanya benar-benar malas berolahraga.

“Lain kali, Beomgyu dan Soobin pakai saja payungnya kalau pulang tengah hari kayak sekarang ini. Fungsi payung bukan cuma buat melindungi dari hujan, loh,” ujar Pak Hoon memberitahu dengan lembut, matanya ikut tersenyum.

Kedua mata Beomgyu melotot, “Iya, ‘kah? Tau gitu dari sekolah kita pake payung, Soob!” serunya tak percaya, membuka tasnya dan mengeluarkan payung kecil dari dalam sana. “Ih, harusnya Pak Hoonie kasih info ini dari kemarin-kemarin jadi kitanya nggak kepanasan!” lanjut Beomgyu pada Pak Hoon dan entah mengapa dirinya merasa sebal karena baru tahu kalau tidak apa-apa memakai payung ketika cuaca terik. Beomgyu kira dirinya akan dipandang dengan aneh jika menggunakan payung siang hari.

Pak Hoon tertawa. “Kalau gitu sekarang saja pakainya, dari gerbang sampai rumah kalian berdua jaraknya lumayan lho. Atau kalian mau Pak Hoon antar sampai rumah pakai motor aja?”

“Mau!” ini Beomgyu.

“Tapi nanti yang jaga gerbang siapa, Pak?” dan yang ini Soobin.

Pak Hoon tertawa mendengar dua reaksi yang berbeda dari anak-anak yang telah ia kenal sejak kecil. “Di dalam ada Kak Hoseok lagi nungguin temannya untuk jemput, Kak Hoseok bisa bantu Bapak buat jaga gerbang,”

Beomgyu tersenyum dengan lebar. “Kalau gitu ayo antar aku, Soobin dan Memi—kucing kita berdua pulang ke rumah!” serunya dengan semangat karena tak harus berjalan kaki lagi.

 


 

5th grade.

 

“Soobin kamu aku panggilin daritadi kenapa nggak nyaut-nyaut, sih!” gerutu Beomgyu ketika tangannya berhasil membuka pintu kamar Soobin dan menemukan sohibnya tengah merebahkan diri di atas kasurnya yang tidak terlalu besar namun mampu untuk menampung mereka berdua—Soobin dan Beomgyu—itu dengan alunan musik bervolume besar membuat telinga Beomgyu terkejut bukan main. “pantesan kamu gak nyaut!” seru Beomgyu kemudian mematikan sebuah speaker kecil darinya yang menjadi kado ulang tahun Soobin tahun lalu.

“Aku udah makan empat slice puding buatan Mama terus aku juga sempet ngobrol juga sama Kakak dan Teteh yang baru pulang sekolah habis itu aku juga udah main lama sama Memi dan kamu disini kenapa dengerin lagu kenceng banget sambil natap langit-langit kamar kayak orang abis putus cinta aja,” cerocos Beomgyu mendekatkan diri menuju kasur milik Soobin dan mengambil posisi duduk di sisinya, matanya menatap ke arah Soobin yang terlihat lesu. “kamu sakit?” tanya Beomgyu, kali ini nadanya terdengar khawatir, tidak seperti dua menit sebelumnya.

Soobin menggeleng, ia menggeser tubuhnya dan menepuk sisi kasurnya yang masih kosong agar dapat Beomgyu tiduri. Anak laki-laki itu menurut, mengambil posisi tiduran di kasur nyaman Soobin tanpa suara, menunggu sang empunya kamar memutus hening.

“Kemarin ada anak kelas enam yang kasih aku coklat,” celetuk Soobin tiba-tiba membuat Beomgyu segera terduduk karena terkejut. “kamu kenapa deh kok kaget gitu?”

“Habis aku kaget ternyata kamu dapet coklat di hari valentine! Itu tandanya dia suka sama kamu, Soobin!” seru Beomgyu dengan nyaring sampai-sampai Soobin harus membekap mulutnya karena takut suaranya terdengar oleh Mama, Papa atau kedua kakaknya. “maaf aku betulan kaget, mulai sekarang kita ngobrolnya bisik-bisik aja,” lanjut Beomgyu pelan.

Soobin mengangguk, melepaskan tangannya dari wajah Beomgyu dan mulai menceritakan bagaimana bisa ia mendapat satu batang coklat (yang ia tahu dengan jelas kalau ini tidak murah untuk kantong anak sekolah dasar seperti mereka) dan pengakuan perasaan dari kakak kelas mereka yang terkenal galak ketika Soobin pulang sekolah sendirian karena Beomgyu memiliki jadwal ekstrakurikuler yang wajib dihadiri olehnya.

“Jadi kamu tuh gak suka sama Kak Eunbi dan kamu sekarang bingung mau gimana kalau ketemu Kak Eunbi?” tanya Beomgyu memastikan setelah mendengar semua ceritanya. Soobin mengangguk. “aku bisa jelasin semuanya ke Kak Eunbi kalau kamu mau dan kamu izinin,”

Soobin menggeleng. “Gak usah,” ujarnya pelan, “nanti malah jadi kamu yang diomongin sama anak kelas enam, nanti biar aku aja yang bilang langsung. Aku cuma lagi mikir aja gimana caranya aku bilang kalau aku gak bisa terima rasa sukanya tapi masih dalam kategori sopan,” lanjut Soobin dengan bingung.

Beomgyu menatap Soobin dan memberinya pelukan hangat. “Aku juga gak tahu tapi nanti kamu aku temenin deh, kalau nanti kamu diapa-apain sama dia atau temen-temennya, mereka bisa aku pukul,” ujar Beomgyu seraya mengusap-usap punggung Soobin yang lesu dengan pelan, membuatnya merasa tenang. “kamu masih punya aku. Nggak usah takut, oke? Aku bisa berantem.”

Soobin terkekeh, mengangguk pelan mendengar kalimat Beomgyu yang benar-benar terdengar percaya diri kalau dirinya dapat bertengkar. Ya … kalau tentang itu sepertinya Beomgyu tidak salah juga karena dia mengikuti ekstrakulikuler pencak silat sejak mereka berada di kelas empat—alasan awal Beomgyu tiba-tiba ingin mengikutinya karena ia melihat sebuah pertandingan bersama sang Ayah dan Beomgyu merasa kalau itu keren sekali. Dan ketika Soobin tanya kenapa Beomgyu lebih memilih untuk mengikuti pencak silat dan tidak bela diri lain seperti taekwondo, karate atau apapun itu, Beomgyu menjawabnya dengan tawa nyaring dan berujar seperti orang dewasa: kita harus cinta produk lokal, begitu katanya.

“Ngomong-ngomong, tumben banget kamu mampir ke rumah,” ujar Soobin sembari melepaskan pelukan mereka dan kembali kepada posisi awal, merebahkan diri dan menatap langit-langit kamarnya.

Beomgyu mengikutinya, berbaring di samping Soobin namun ia tidak menatap langit-langit seperti Soobin, ia menatap ke arah Soobin yang sudah lama tak ia temui—tidak juga, hanya satu hari lamanya. “Aku kangen kamu,”

“Kemarin kita sempet papasan di koridor!”

Beomgyu mendengus. “Itu cuma beberapa detik doang! Biasanya kan kita ngobrol berjam-jam, makan bareng, pelukan juga di depan rumah setiap pulang. Terus kemarin kita cuma ketemu beberapa detik doang jadi wajar dong kalau aku kangen?!” kali ini ia kembali mengomel, mengerutkan hidungnya dengan sedikit emosi.

Soobin tertawa terbahak-bahak melihat Beomgyu yang mengomel, tubuhnya ia dekatkan dengan milik Beomgyu dan memeluknya. “Aku juga kangen, kangennya ada seribu,”

“Masih menang aku berarti, aku kangennya satu milyar,” balas Beomgyu tidak mau kalah. Kali ini matanya memejam, tiba-tiba merasa lelah.

Keduanya berbincang tentang apa yang akan mereka lakukan hari esok di sekolah dengan hati-hati dan rasa semangat sampai-sampai energi keduanya habis dan tertidur dengan posisi berpelukan.

 


 

6th grade.

 

Beomgyu menatap punggung Soobin di depannya dengan sedih, kedua matanya berkaca-kaca ketika Soobin menarik tangannya dari riuh suara orang-orang di acara pesta kelulusan mereka dan membawanya ke daerah gedung UKS sekolah mereka yang tergolong sepi.

“Kamu betulan mau … pindah?” tanya Beomgyu terbata, otaknya masih tidak percaya sejak mendengar informasi yang tiba-tiba Soobin beritahu kepadanya ketika selesai bersalam-salaman dengan para guru.

Soobin mengangguk, meyakinkan Beomgyu kalau apa yang ia dengar itu benar adanya. Ia akan pindah jauh. “Iya, aku gak bisa gak pindah rumah karena pekerjaan Papa mengharuskan aku dan Mama ikut sama Papa,” jelas Soobin dengan sedih, ia juga sebetulnya tidak ingin meninggalkan rumah tersayangnya dan tidak ingin meninggalkan Beomgyu, satu-satunya teman dekatnya.

“Terus nanti rumah kamu yang ini siapa yang nempatin kalau gitu?”

“Kakak sama Teteh gak akan ikut pindah karena Mama bilang kalau mereka berdua udah besar dan kalau pindah sekolah tanggung juga karena mereka tahun ini mereka bakal naik jadi kelas dua belas dan kelas sebelas,” jawab Soobin menjelaskan sejauh apa yang ia tahu. “tadinya aku minta Mama buat aku juga tinggal sama mereka berdua disini. Gak ikut pindah dan daftar sekolah bareng kamu, tapi Mama bilang aku masih terlalu kecil jadinya … gitu, aku ikut Mama sama Papa sendirian,”

Air mata Beomgyu jatuh begitu saja ketika mendengar penjelasan Soobin, membuat yang lebih jangkung—Soobin sudah bertumbuh menjadi lebih tinggi dari Beomgyu selama satu tahun ini—terkejut. Ia mengusap pipi Beomgyu yang basah karena air mata menggunakan ibu jarinya.

“Jangan nangis,” ujar Soobin berusaha menenangkan Beomgyu. “nanti setiap liburan aku bakal bilang Mama buat pulang kesini terus nanti kita bisa main bareng-bareng,”

Beomgyu mengusap pipinya dengan kasar, membayangkan tidak dapat bertemu dengan Soobin setiap hari membuat air matanya terus menerus turun tanpa ia perintahkan. “Kalau aku nanti kangen kue atau puding bikinan Mama gimana? Terus kalau aku pengen main badminton sama Papa gimana? Abis itu kalau aku mau main sama Memi gimana?”

“Aku sekarang gak tau solusi buat yang pertama dan yang kedua tapi buat Memi, kamu boleh bawa Memi biar ada yang nemenin kamu terus, kalau kamu mau.” Soobin bergerak mendekat, memberi Beomgyu satu pelukan hangat dan menenangkan.

Beomgyu menggeleng. “Kalau nanti Memi aku yang bawa, nanti kamu disana bener-bener sendirian … aku disini masih punya Abang, Kakak sama Teteh yang bisa aku ajak main terus,” ujar Beomgyu dengan cepat, sedikit tak setuju dengan ide tentang sang kucing yang dicetuskan Soobin.

“Gak apa-apa,” balas Soobin dengan satu usapan di kepala. “biar nanti setiap aku pulang, aku bisa lihat kamu dan Memi yang sama-sama udah besar.”

Pada akhirnya Beomgyu mengangguk, berusaha mengerti dan rela kalau Soobin benar-benar akan pergi jauh darinya. Soobin menemani Beomgyu menangis, mengatakan banyak hal-hal menyenangkan seperti mereka masih memiliki satu minggu untuk bermain bersama dan sehabis acara perpisahan ini mereka berdua akan memakan es krim di toko dekat perumahan mereka. Hanya berdua.

 

 

 

Di hari kepergian Soobin, Beomgyu benar-benar menangis. Bahkan tangisannya melebihi kedua kakak Soobin yang akan berpisah dengan adik dan kedua orangtuanya.

Mama menghibur Beomgyu ketika anak laki-laki itu memeluknya dan mengatakan kalau ia akan merindukan kue-kue serta puding miliknya. Cara bagaimana Mama memeluk Beomgyu itu sama seperti cara Soobin memeluknya. “Nanti Bami boleh telpon Soobin pakai ponsel Bunda atau punya Kak Jungkook dan Teh Arin, Mama juga janji kalau nanti Mama pulang, Mama bakal bikinin Bami banyak kue!”

Beomgyu mengangguk mengerti. Ia melepaskan pelukannya dengan Mama dan melambaikan satu tangannya seraya mengucapkan hati-hati kepada mereka bertiga. Beomgyu sudah tidak ingin melihat wajah Soobin karena ia tahu kalau ia melihat wajah sahabat karibnya itu, ia akan menangis kembali.

“Kak,” panggil Beomgyu pada kakak laki-laki Soobin, Jungkook, yang berada disampingnya. Anak SMA itu terkekeh melihat wajah Beomgyu yang sudah terlihat berantakan karena air mata. “Memi boleh aku bawa sekarang, nggak?”

Jungkook mengangguk, membiarkan Memi jatuh ke dalam pangkuan Beomgyu. Satu tangannya bergerak mengusap surai pendek Beomgyu dengan gemas. “Nanti kalau Bami kangen Soobie dateng ke rumah aja ya, kita telpon terus Soobie sampai dia ngerengek pengen pulang kesini.” katanya kemudian kembali menatap ke arah mobil Papa yang sudah melenggang pergi.

 


 

Middle School days.

 

Satu tahun sejak Soobin pindah ketika liburan kenaikan kelas sudah terjadi dan Soobin benar-benar pulang. Berlibur dan bertemu kembali dengan Beomgyu dan Memi, menghabiskan banyak waktu dengan keduanya selama dua minggu liburan mereka berdua.

Dan setelahnya, Soobin tidak pernah pulang. Kegiatan sekolah benar-benar membuatnya tidak memiliki waktu istirahat walaupun mereka libur. Ya … Beomgyu sama sekali tidak marah karena ia juga tahu bagaimana rasanya. Sejak menjadi murid SMP, Beomgyu juga mengikuti kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler yang menyita waktu.

Soobin pasti lelah dan ingin menghabiskan waktu liburnya untuk beristirahat, sama seperti dirinya yang memanfaatkan waktu libur dengan maksimal.

Mereka tetap berhubungan, melalui telepon singkat (milik orangtua masing-masing tentu saja, mereka belum dibolehkan untuk memiliki barang tersebut) setiap malam minggu dan menceritakan tentang kehidupan sekolah mereka yang menyenangkan juga melelahkan.

Sejauh yang Beomgyu tahu, Soobin saat ini merupakan ketua OSIS, memiliki banyak penggemar baik rahasia maupun tidak dan ia juga seorang atlet sekolah. Beomgyu tidak tahu klub apa yang Soobin ikuti akan tetapi fakta yang satu ini sukses membuatnya terkejut karena yang mereka bicarakan ini adalah Soobin, si anak tetangga yang super malas berolahraga. Soobin, sahabatnya.

 


 

High School days.

1st grade.

 

Beomgyu menuruni bus dengan tas ransel berwarna abu-abu miliknya yang dengan sengaja ia sampirkan pada satu bahu. Kedua telinganya tersumpal oleh earphone bervolume kecil dan bilah bibirnya bersenandung pelan mengikuti alunan lagu yang saat ini tengah ia dengarkan.

“Yo, Beomgyu!”

Pekikan nyaring yang mulai terdengar familiar di telinga Beomgyu membuat sang empunya nama segera melepas salah satu earphone yang menyumpal telinganya dan ia menolehkan kepala, menemukan Ryujin dan Kai—teman sekelasnya—tengah berjalan, nyaris berlari, kearahnya seakan-akan mereka berdua sedang berlomba-lomba untuk menghampiri Beomgyu paling awal.

“Lo udah denger belum, Gyu?” tanya Kai ketika dirinya berhasil merangkul bahu Beomgyu. Matanya mengerling kearah Ryujin yang merengut lucu karena pagi ini dirinya lah yang kalah. Beomgyu menggeleng, tidak tahu apa yang Kai maksud. “gue bilang juga apa, Ryu! Beomgyu kagak tau rumor-rumor yang ada di sekolah ini,”

Ryujin yang berjalan di sebelah Beomgyu (dirinya diapit oleh dua temannya) menolehkan kepala ke arah Beomgyu. “Lo gak baca grup kelas?” tanya Ryujin tak percaya.

Beomgyu menggeleng. “Belum sempet soalnya semalem gue balik sparing malem banget. Langsung tidur dan tadi pagi juga bangunnya agak telat, kalau bukan karena Memi yang bangunin mungkin gue bakal kesiangan.” jawab Beomgyu seadanya. Ia masih mengikuti ekstrakulikuler bela diri yang sudah ia tekuni sejak SD, omong-omong. “emang ada apaan sih? Ada gosip seru, ya?”

Kai mengangguk semangat. “Jadi kemarin Chaeryeong bilang kalau kelas kita bakalan kedatangan murid baru! Katanya anak laki-laki, dan itu artinya lo gak akan duduk sendirian lagi!” jelasnya berapi-api, penuh ekspresi.

“Buset itu anak dapet aja gosipnya,” komentar Beomgyu dibalas gelak tawa oleh kedua kawannya. “itu udah fix banget, ‘kah, kalau bakal masuk kelas kita? Maksud gue ini kita juga baru banget mulai jadi anak SMA yang beneran tuh baru selama satu minggu anjir, kok udah ada murid pindahan lagi? Gak betah, ‘kah, di sekolahnya?” tanya Beomgyu bertubi-tubi, sedikit penasaran dengan informasi murid baru yang terlalu mendadak dan terlalu dini baginya karena mereka saja baru memulai kisah menjadi anak SMA satu pekan yang lalu.

“Menurut info dari Chaeryeong lagi—gue juga gak ngerti kenapa bisa itu anak dapet info kayak gini, katanya anak baru ini tuh emang dari awal tuh emang anak kelas kita makanya udah fix banget. Tapi dia gak sempet ikut sesi perkenalan dan baru bisa masuk sekarang karena masalah pindahan keluarganya yang agak ribet itu, gue juga gak paham.” kali ini giliran Ryujin yang menerangkan. “gue denger dia anak basket gitu jaman SMP-nya, pentolan sekolah. Namanya dia juga udah dikenal banyak orang, anak-anak basket pasti langsung pada kenal.”

Beomgyu ber-oh ria, tungkainya memasuki ruang kelas yang masih tergolong sepi—nyaris kosong—itu dengan rasa semangat yang masih belum terkumpul karena lelahnya hasil latihan kemarin. “He must be tall, then.” komentar Beomgyu setelah duduk di bangkunya; di barisan paling belakang, dekat jendela.

 

 

 

“Beom, bangun anjir!” bisik Kai setengah memekik di di telinga Beomgyu. “Bu Chanmi udah mau ngenalin anak barunya! Itu anak barunya udah ada di depan, lu jangan tidur aja!”

Beomgyu membuka matanya dan bangun dengan malas, menatap ke arah depan kelas dengan ekspetasi menemukan anak laki-laki berwajah asing dengan tinggi badan di atas rata-rata yang akan menjadi teman sebangkunya selama satu tahun ini.

Dan ketika matanya terbuka dengan sempurna, fokusnya tertuju pada anak laki-laki jangkung di depan kelas yang tidak asing tengah menatap kearahnya dengan senyuman pada bilah bibir.

Jauh dari ekspetasinya.

Beomgyu pusing. Apa saat ini ia sedang bermimpi?

Beomgyu dapat melihat bahwa Bu Chanmi menyuruhnya untuk memperkenalkan diri. Beomgyu tidak butuh perkenalan tersebut. Ia sudah kenal.

“Selamat pagi, semuanya. Nama saya Soobin, mohon bantuannya.”

Tepuk tangan dan seruan dari teman-teman sekelasnya tak terdengar oleh Beomgyu, yang ia lihat saat ini laki-laki jangkung itu tengah berjalan ke arahnya sesuai arahan Bu Chanmi yang tidak sempat Beomgyu dengar karena fokusnya hanya tertuju pada laki-laki jangkung yang menjadi jauh lebih tinggi darinya.

Itu Soobin. Soobinnya.

 

 

 

“Lu kok gak bilang-bilang sih kalau SMA balik ke sini?” pekik Beomgyu tak percaya ketika jam istirahat sudah berbunyi dengan nyaring dan saat ini mereka berdua sedang berada di kantin.

Kai dan Taehyun yang kebetulan ke kantin bersama dan duduk di depan keduanya menatap ke arah Beomgyu dan Soobin dengan heran karena keduanya terlihat begitu akrab. Saat ini Beomgyu tengah menangkup kedua pipi Soobin dengan wajah yang ia dekatkan seakan-akan tak percaya bahwa Soobin berada di depan matanya, sedangkan Soobin hanya membiarkan Beomgyu melakukan apa saja kepadanya, tidak ada kalimat protes yang terdengar. Tingkah laku keduanya ini terlihat begitu aneh di mata Kai dan Taehyun.

“Nanti gak surprise dong kalau bilang-bilang,”

Beomgyu mendengus, melepaskan kedua tangannya dari wajah Soobin dan tatapannya kali ini beralih kepada kedua teman dekatnya. “Ngapain lu berdua liatinnya begitu banget?” tanya Beomgyu sedikit galak karena tatapan Taehyun dan Kai saat ini terlihat aneh.

“Kalian berdua udah kenal?” tanya Kai menunjuk keduanya menggunakan ibu jari.

Soobin mengangguk, merangkul Beomgyu dan menaruh satu tangannya tepat di atas kepala Beomgyu untuk ia usak surainya. “Iya, kita tetanggaan dan dulu satu SD juga. Kemana-mana berdua mulu,” jelasnya seraya mengusak surai Beomgyu yang sudah acak-acakan menjadi semakin tak beraturan.

“Tapi jahatnya dia ninggalin gue, anaknya malah pindah rumah. Gue waktu itu nangisin anak ini selama satu minggu lamanya udah kayak orang patah hati aja,” ujar Beomgyu meraih gelas es teh milik Soobin yang masih penuh dan menyeruputnya seakan itu adalah miliknya.

Mata besar milik Taehyun memicing, memperhatikan gerak-gerik Beomgyu dan Soobin dengan gelengan di kepala. “Tingkah laku kalian berdua udah kayak orang pacaran yang baru aja ketemu lagi setelah LDR,” komentarnya dengan gamblang, tipikal Taehyun sekali. “eh ngomong-ngomong, Soob, lo mau lanjut ikut klub basket?”

Soobin menggeleng. “Nope,”

Beomgyu menoleh dengan cepat ke arah Soobin kala mendengar jawaban yang baru saja keluar dari bilah bibir Soobin, tatapannya seakan menanyakan kenapa pada pemuda yang berada di sebelahnya. Tatapan kedua kawan barunya yang dihadapannya juga sama, mempertanyakan jawaban Soobin yang singkat dan terdengar pasti.

“Meskipun mereka memohon ke lo, keputusan lo beneran udah fix?” kali ini giliran Beomgyu yang bertanya, merasa penasaran.

Soobin mengangguk, “Akhir tahun kemarin gue sempet cedera dan gak dibolehin buat main dulu jadi ya, gue mutusin buat berhenti aja dan mau join klub musik,” jelasnya setelah melihat tatapan tanya yang ditujukan kepadanya.

“Oh!” Kai memekik. “nanti barengan sama kita bertiga, dong!”

Soobin terkekeh, merasa takjub dengan kebetulan-kebetulan yang ia temui hari ini. “Hooo, kalau gitu mohon bantuannya, senior,” ujar Soobin menggoda ketiganya. Kepalanya kini bergerak ke arah Beomgyu. “gue gak tau kalau lo sekarang jadi anak musik,”

Beomgyu menjauhkan wajah Soobin dari wajahnya. “Gue udah pernah bilang ya ke lo,” ujar Beomgyu merasa tak terima karena dirinya seperti baru saja ketahuan berbohong. “gue pernah bilang kalau Bang Yeonjun ngajarin gue main gitar!”

Kai dan Taehyun saling menatap satu sama lain, menonton pertengkaran antara Soobin dan Beomgyu yang benar-benar menarik. Seperti pasangan yang sudah menikah dengan lama.

 

 

 

 

Setelah hari di mana Soobin menjadi teman sebangkunya, Beomgyu selalu datang ke sekolah bersama Soobin. Menaiki bus kota bersama setiap pagi atau naik mobil milik Jungkook ketika Abang dari Soobin itu sedang senggang dan ingin mengantar keduanya menuju sekolah.

Semenjak kedatangan Soobin, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya itu menjadi begitu populer. Ada banyak anak laki-laki dan perempuan yang mengaguminya, terlebih ketika mengetahui kalau Soobin mengikuti klub musik dan tergabung dalam suatu band sekolah. Beomgyu dapat membuat satu daftar panjang berisi tentang siapa saja yang sudah menanyakan perihal Soobin kepadanya seperti statusnya, makanan apa yang disukainya, apakah ia mempunyai alergi dan semacamnya.

Beomgyu juga sering melihat para senior yang tergabung dalam ekstrakurikuler basket terus menerus mengikuti Soobin kemanapun dan memohon agar Soobin bergabung dengan mereka. Beomgyu pernah menguping ketika Wooseok, ketua basket sekaligus seniornya, memohon kepada Soobin dan mengatakan bahwa tim basket sekolah akan menjadi menyeramkan jika Soobin bergabung dengan mereka. Beomgyu jadi berpikir, apakah Soobin benar-benar berpengaruh sebesar itu? Soobin ketika SMP sangat terkenal? Beomgyu sama sekali tidak paham karena dirinya tidak menaruh minat sedikitpun kepada basket.

“Pagi, Beomgyu!” sapa Ryujin dari depan pintu kelas dengan senyum riang ciri khas si gadis tomboy. “tumben banget lo gak dateng bareng Soobin,” lanjutnya ketika mata kucingnya tak menemukan sosok jangkung yang selalu mengekori Beomgyu kemanapun ia pergi.

Beomgyu menoleh sedikit ke belakang, “Lagi di cegat anak kelas tiga dia,” balas Beomgyu menghilangkan rasa penasaran Ryujin. “biasa lah, paling dapet another love confession,”

Ryujin tergelak mendengar ucapan Beomgyu. Sudah menjadi rahasia umum kalau Soobin sering mendapat ungkapan perasaan dari para murid. Anak kelasnya menjuluki Soobin sebagai Mr. Popular dan Heartbreaker, julukan ini diberikan oleh Kai juga Ryujin sendiri, tentu saja. Mereka berdua adalah happy virus kelas dengan seribu ide menarik.

“Oh, orangnya dateng,” ujar Ryujin melirik ke arah belakang Beomgyu. Muncul Soobin dengan seragamnya yang sedikit berantakan (membuat Beomgyu mengerutkan keningnya karena Soobin tidak pernah memakai seragam secara berantakan. Lima belas menit yang lalu Soobin masih terlihat rapi), terlihat terburu-buru berlarian ke arah mereka. “Lu kenapa buset lari-larian kayak gitu, bel masuk masih lama,”

Soobin mengatur napasnya yang terdengar tersendat karena berlarian. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Soobin berolahraga dengan benar, berlari sedikit saja sudah membuatnya lelah. “Gue takut banget, anjing,” ujarnya di sela-sela napas, wajahnya memerah. Beomgyu dan Ryujin menyatukan alis mereka dengan heran mendengar Soobin mengumpat. Soobin jarang sekali mengumpat, bahkan nyaris tidak pernah.

“Lo kenapa?” Beomgyu menatapnya dengan khawatir, membawa tas Soobin yang nyaris terjatuh menuju tangannya tak peduli dengan bahu yang masih membawa tas miliknya sendiri. “Soobin? Hey?”

Satu-satunya anak perempuan diantara mereka jadi ikut khawatir, membawa keduanya untuk masuk ke kelas yang masih sepi (hanya ada mereka bertiga, Sungchan, Chaeryeong dan Kai di dalam), ketiganya merupakan tipe murid yang selalu datang terlalu pagi dari yang lainnya.

Beomgyu menatap Soobin masih dengan tatapan khawatir dan juga menyesal. Seharusnya ia tidak meninggalkan Soobin menuju kelas terlebih dahulu, seharusnya Beomgyu menemaninya.

Kai yang duduk di depan keduanya menatap Beomgyu dengan tatapan bingung, kursi kosong di sebelahnya kini telah di isi oleh Ryujin yang ikut datang bersama keduanya. Kepala milik Kai kini menoleh ke arah Ryujin, bertanya. Ryujin menggeleng, ia juga tidak tahu.

“Soobin? Boleh gue pegang tangan lo?” tanya Beomgyu pelan, menatap Soobin dengan lembut. Soobin mengangguk dan Beomgyu membawa satu tangan besar milik Beomgyu kedalam genggamannya. Ia tahu kalau tangannya tidak sehangat tangan milik Kai atau Ryujin yang ada di depan mereka, tetapi Beomgyu tahu kalau Soobin menyukai tangannya. “Gak apa-apa, I’m here. Ryujin here, Kai here too,”

a trigger warning: they’ll talked about minor sexual harassment and violences you can skip this one. This paragraphs (about the issues) will be written in all italic.

“Gue nyaris dipukulin,” ujar Soobin membuka mulutnya setelah sekian lama hening menyelimuti keempatnya. Matanya mencari Beomgyu yang dengan sabar mengusap punggung tangan milik Soobin, memberinya rasa aman. “gue juga nyaris di cium, dipaksa,”

Ketiga kawannya membola dengan kaget. Terutama Ryujin, mata gadis itu kini terlihat begitu marah. Ia tidak menyukai hal-hal seperti ini terjadi kepada teman dekatnya, ia tidak suka hal tersebut terjadi. Ia membenci hal itu melebihi apapun, terlebih setelah ketika salah satu orang dekatnya dahulu pernah menjadi korban dan sang pelaku tak mendapat hukuman apapun. Gadis itu akan melakukan apapun agar membuat orang-orang menyebalkan itu jera seumur hidup.

Rahang milik Beomgyu mengeras. “Sama anak kelas tiga?” tanya Beomgyu memastikan, Soobin mengangguk. “Oh, Tuhan. Maaf aku tadi tinggalin kamu. Maaf,”

Soobin menggeleng, memberitahu Beomgyu bahwa itu bukan salahnya. “Bukan salah kamu, tadi kan emang aku yang nyuruh kamu duluan ke kelas,” kata Soobin dengan senyum tipis. “jangan nyalahin diri kamu sendiri gitu,”

“Siapa orangnya? Biar gue laporin ke guru,” Ryujin bertanya, amarahnya terlihat begitu jelas melebihi amarah Beomgyu membuat Kai yang duduk disampingnya menenangkan sang gadis dengan pelan. “Ada berapa orang?”

“Lima orang, kayaknya tadi di tempat kejadiannya juga ada CCTV,” balas Soobin dengan sedikit ragu. Ryujin mengangguk dengan tenang, menatap ke arah Beomgyu untuk kembali menenangkan kawan mereka. “udah mau lulus masih aja bertingkah anjing gue bikin lu dikeluarin dari sekolah tau rasa lu gak bisa kuliah lu,” gerutunya tak berhenti.

Menurut cerita Soobin, salah satu dari lima orang itu menyatakan perasaannya kepada Soobin sama seperti hari-hari sebelumnya. Soobin menjawabnya dengan satu kalimat tolak dengan penuh kehati-hatian dan juga sopan santun, jawabannya selalu sama: maaf dan menjelaskan bahwa ia tak dapat membalas perasaan mereka. Selalu seperti itu, sudah seperti templat yang digunakan. Dan sang senior, Minjoon, merasa tidak terima karena Soobin tidak menerima kalimat cintanya dan mendorong Soobin ke arah tembok dan berusaha untuk menempelkan tubuhnya—lebih tepatnya bibir—pada tubuh Soobin (saat ini keduanya tengah berada di parkiran belakang sekolah). Soobin melawan, tentu saja. Ia mendorong tubuh sang senior tepat sebelum bibirnya menyentuh salah satu tubuh Soobin. Walaupun terlihat seperti ini, Soobin tidak terlalu bodoh ketika sahabatnya merupakan pentolan sekolah untuk salah satu cabang olahraga bela diri. Soobin memiliki dasar untuk membela dirinya.

Dan pagi ini memang bukan pagi milik Soobin. Keberuntungan tidak bersamanya. Minjoon memanggil empat orang temannya yang entah sejak kapan sudah menunggu di sana. Mengerubungi Soobin dan sudah sangat ingin memukulinya, mata mereka begitu tajam hingga Soobin merasa takut dan kecil. Ia hanya sendirian. Otaknya berpikir begitu keras, mencari cara yang paling mudah untuk kabur dari lima senior tingkat atas yang sudah mengelilinginya. Soobin melirik, menemukan sebuah kamera pengawas yang ia tidak tahu berfungsi atau tidak namun Soobin tidak peduli. Ia mendorong salah satu seniornya sekuat tenaga, melupakan fakta bahwa kakinya masih berada dalam proses pemulihan yang membuat Soobin tidak boleh berlari begitu kencang atau terlalu lama.

Beomgyu mendengar ceritanya dengan marah, Ryujin sudah siap menarik Kai untuk melapor ketika sudah ada banyak murid yang masuk—tandanya sudah ada banyak guru yang datang dan kemungkinan Bu Chanmi, wali kelas mereka, sudah datang.

 

Setelah laporan Ryujin menghebohkan ruang guru mengenai Soobin dua hari yang lalu, Soobin mendengar kabar bahwa kelima orang yang mengeroyoknya sudah mendapat sanksi yang setimpal. Sesuai dengan keinginan Ryujin tempo hari, dikeluarkan.

Dan masalah ini diselesaikan secara diam-diam, tidak ada yang tahu siapa korban dari kelima orang itu atas permintaan Beomgyu. Ia tidak ingin semua orang menatap Soobin dengan tatapan iba atau semacamnya, dan para guru mengabuli permintaan Beomgyu dengan senang hati. Hanya mengatakan kasus kelimanya tanpa menyebut siapa yang menjadi korban.

Thanks,” ujar Soobin kepada Ryujin sebagai orang pertama yang bertindak; yang mengurusi segalanya sampai menarik seragam sang senior di depan banyak orang. Gadis ini benar-benar sesuatu, tak memiliki rasa takut. Sangat sesuai dengan imej garang dari ekskul yang digelutinya selain musik; taekwondo.

Ryujin menepuk punggung Soobin dengan pelan. “Sama-sama, gue gak mau keadilan diambil paksa dari temen gue,” katanya dengan senyum, memperlihatkan lesung kucingnya yang cantik. “jangan lupa kalau lo itu keren. Oh ya, nanti latihan band dulu oke ganteng,” katanya dengan santai, meninggalkan Soobin menuju bangkunya yang terletak di ujung.

“Keren ya, temen kita,” ujar Beomgyu tiba-tiba dari belakang Soobin. Soobin menoleh, tertawa melihat wajah Beomgyu yang menatapnya dengan riang.

“Temen gue semuanya keren,” ujar Soobin mengusak surai yang sudah ditata dengan rapi milik Beomgyu dengan gembira. “kecuali Beomgyu,”

Beomgyu mendengus, menendang salah satu kaki Soobin dan membuatnya mengaduh kesakitan. Saat ini kaki milik Soobin benar-benar sering sekali terasa linu, dan reaksi yang Beomgyu dapatkan membuat laki-laki itu berjongkok menatap kaki panjang Soobin dan meminta maaf kepada kakinya, bukan kepada wajah Soobin.

“Minta maaf tuh ke guenya langsung,” komentar Soobin dengan malas. Beomgyu berdecak sebal.

“Yang sakit kaki lo, jadi gue minta maaf ke kaki lo,” katanya dengan santai, meninggalkan Soobin menuju bangku mereka yang berada di paling belakang. “Oh iya, hari ini gue ada sparing jadi gak bisa dateng ke klub musik dan liat lo latihan band,”

Walaupun mereka berada di dalam klub musik yang sama, Beomgyu tidak mengikuti sebuah band sekolah seperti yang Soobin lakukan. Beomgyu hanya belajar gitar dan belajar cara membuat lagu sendiri dan beberapa hal mendalam tentang musik lainnya, akhir-akhir ini Beomgyu lebih sibuk menghabiskan waktu bersama ekskul pencak silat miliknya karena ada beberapa pertandingan sebentar lagi.

“Nanti gue juga ada rapat OSIS dulu sehabis latihan band,” ujar Soobin memberitahu. “kalau rapat gue selesai duluan nanti gue tonton lo latihan,”

Beomgyu mengangguk mengerti. Sudah seperti biasanya mereka akan saling menunggu kegiatan masing-masing untuk pulang bersama karena pulang berdua lebih baik daripada sendirian. Beomgyu dan Soobin sama-sama menyukai presensi satu sama lain, berbincang sepanjang perjalanan pulang; membicarakan tentang pelajaran, musik, teman-teman bahkan acara televisi juga publik figur mereka bicarakan.

“Memi bawa pulang juga nanti, kayaknya dia kangen banget sama lo deh,” ujar Beomgyu kala mengingat kucing mereka berdua pagi (ketika Soobin menjemput Beomgyu) tadi menghampiri Soobin terus-menerus. “tau aja dia sama yang nemuin pertama kali padahal yang ngurus nonstop tuh gue,”

Soobin tersenyum jahil. “Memi tau mana yang ikhlas ngurus dia sama mana yang enggak,”

Beomgyu menyentil kening Soobin dengan cukup kencang. Suaranya sentilan tangannya sukses membuat beberapa kepala menoleh kearah mereka berdua, penasaran dengan apa yang terjadi.

“Kening lu … merah banget,” komentar Taehyun kemudian tergelak menatap Soobin dengan bekas merah (yang terlihat terlalu merah) di keningnya karena jemari Beomgyu.

 


 

 

2nd grade.

 

Ketika tahun ajaran baru dimulai, Soobin semakin populer.

Beomgyu membencinya.

Para anak baru sering sekali melewati kelasnya hanya untuk melihat Soobin (juga Kai dan Ryujin, sebagai anggota band sekolah lainnya) dan hal tersebut membuat Beomgyu naik darah. Ia tidak ingin Soobin mendapat terlalu banyak atensi hanya karena band sekolah menampilkan satu lagu ketika demo ekstrakurikuler pada pekan perkenalan sekolah empat bulan lalu.

Loker milik Soobin juga selalu penuh dengan surat cinta dan berbagai hadiah-hadiah lain sampai Soobin tidak dapat menaruh barang-barangnya pada loker miliknya sendiri dan berakhir menitipkan barang yang ia simpan pada loker milik Beomgyu yang tak jauh dari tempatnya.

Dan ketika mereka makan berdua di kantin, atau bersama Kai juga Taehyun, atau Chaeryeong, atau Ryujin dan Gaeul, dan segala teman sekelas lainnya, mereka semua tak ada hentinya menatap ke arah Soobin sampai-sampai telinga Soobin memerah dan Beomgyu benar-benar sebal karena Soobin hanya diam dan senyum saja.

Yang lebih menyebalkan untuknya, kaki Soobin sudah sembuh dari cederanya dengan sempurna dan si sial Choi Soobin mendadak menjadi seribu kali lipat lebih keren di setiap mata pelajaran olahraga dan Beomgyu membencinya. Terlebih ketika topik yang mereka pelajari adalah tentang bola basket, Beomgyu benar-benar benci. Soobin benar-benar keren ketika menyentuh bola dan berlarian bersama beberapa kawannya yang tak menarik itu. Dan lagi, Soobin juga sering bermain basket ketika jam istirahat atau ketika bel pulang sudah berdering dengan nyaring; hal yang selalu ia lakukan meskipun bukan anggota basket—Soobin masih tak ingin bergabung sebagai atlet sekolah—membuat gerombolan siswa dan siswi itu semakin banyak saja dan lagi-lagi, Beomgyu merasa gerah.

“Ayo pulang,” ujar Soobin sembari berlarian kecil ke arah Beomgyu yang masih memakai baju pangsi dan celana komprang kebanggaannya dengan senyum lebar terlihat di wajah tampannya, membuat kedua lesung pipi milik Soobin terlihat begitu jelas.

Beomgyu mengangguk, berjalan beriringan dengan Soobin yang sudah tak memakai kemeja sekolahnya, hanya memakai kaos berwarna putih bersih dan rambutnya terlihat badah karena entahlah, Beomgyu tidak paham. Mungkin kawannya itu sempat mandi setelah bercucuran keringat kala menunggunya selesai latihan, atau hanya membasahi rambutnya agar terlihat begitu keren. Beomgyu tidak peduli.

Perjalanan mereka menuju rumah dan sekolah saat ini sudah tidak menggunakan bus. Soobin sudah mendapat surat izin mengemudinya beberapa bulan yang lalu dan mereka berdua akan berboncengan setiap hari (dengan catatan kalau salah satu dari keduanya tidak ada hal penting yang harus mereka urus) dan semua orang tahu tentang hal ini.

Manager band sekolah itu siapa deh,” tanya Beomgyu sembari memakai helmetnya dengan sempurna. Soobin menoleh, menatap Beomgyu yang juga menatapnya karena tidak mau kalah.

“Minjung? Yang anak kelas sepuluh itu, bukan?”

Beomgyu mengangguk. Tahun ini Beomgyu tidak mengikuti ekstrakulikuler musik seperti tahun lalu, Beomgyu hanya fokus pada satu saja karena ada banyak latihan yang harus ia lalui dan ada banyak juga kompetisi yang harus ia datangi dan raih kemenangannya. Ia tidak mengenal siapa-siapa saja anggota baru klub musik yang amat sangat banyak, terimakasih kepada salah satu drummer terbaik sekolah mereka Choi Soobin.

“Iya yang itu,” ujar Beomgyu seraya menaiki motor Soobin ketika Soobin mengatakan untuk Beomgyu segera naik. “dia suka sama lo, ya?”

“Gak lah, kayaknya dia suka sama Kai deh,”

“Kai udah punya pacar!”

“Iya sih, tapi nggak mungkin dia suka sama gue,”

Beomgyu mendengus mendengar kalimatnya. Gak mungkin suka sama gue, ulang Beomgyu dalam hati dengan nada penuh ejekan. Soobin benar-benar tidak pernah peduli dengan orang-orang disekelilingnya, Soobin tidak sadar kalau ada banyak orang yang menyukainya dan Soobin juga tidak sadar kalau dirinya mudah dicintai. Pribadinya yang menyenangkan, rupanya yang menawan, keahliannya dalam berbagai hal—untuk poin terakhir Beomgyu juga benar-benar terkejut karena Soobin ternyata pandai dalam berbagai macam bidang termasuk olahraga, hal yang dulu sangat Soobin benci.

Tetapi, dengan segala kesempurnaan Soobin di mata orang-orang, Beomgyu tidak menyukainya dalam konteks seperti itu. Beomgyu hanya menyukainya sebagai teman masa kecil yang menghabiskan nyaris seluruh hidupnya bersama-sama.

Beomgyu selalu yakin kalau ia tidak akan pernah menyukai temannya sampai ketika siang tadi kala Chaeryeong mengatakan sesuatu yang membuat Beomgyu berpikir dua kali.

 

(Istirahat siang ini Beomgyu habiskan bersama Chaeryeong pada salah satu meja di kantin dengan dua mangkuk putih berisi bakso milik Chaeryeong dan mi ayam milik Beomgyu di atas meja. Keduanya menghabiskan waktu bersama karena teman dekat mereka, Soobin dan Ryujin tidak dapat menemani sesi makan siang seperti biasanya karena ada latihan mendadak untuk acara lomba dua pekan mendatang.

Beomgyu melahap mi miliknya dengan keluhan mengenai ujian matematika dadakan yang baru saja mereka berdua alami beberapa menit yang lalu dan keluhannya juga disahuti oleh Chaeryeong yang mengeluhkan bahwa ia hanya bisa menjawab dua soal dengan benar dari total sepuluh soal.

Keluhan mereka terhenti begitu saja ketika salah seorang senior dengan paras cantik mendatangi meja mereka dengan sepucuk surat berwarna merah muda tersimpan di atas meja makan mereka berdua, membuat Beomgyu dan Chaeryeong menatap sang senior dengan tatapan kebingungan.

“Titip ini buat Soobin, ya,” katanya lalu pergi begitu saja.

Beomgyu mendengus dengan keras, Chaeryeong membuka mulutnya dengan tak percaya. Tidak berbasa-basi dan tiba-tiba menyuruhnya untuk memberi surat sialan ini kepada Soobin yang sedang sibuk berlatih? Keduanya tidak ingin melakukan hal tersebut.

“Buset itu orang gak ada basa basinya,” komentar Chaeryeong setelah kembali kepada kesadarannya. Mata cantik milik sang gadis kini jatuh kepada sorot Beomgyu yang masih terlihat begitu sebal menatap punggung sang senior. “lu pasti sebel ya ngadepin semua ini,”

Beomgyu menolehkan kepalanya ke arah Chaeryeong dan mengangguk dengan raut wajah kelihatan sebal terlukis dengan sempurna di wajahnya. “Gue sebel banget with the fact he’s extremely popular,”

“Gue bisa paham sih gimana rasanya,” gumam Chaeryeong dengan anggukan kecil dari kepalanya. “gue paham perasaan ‘muak banget crush gue dikejar satu sekolah’ punya lo,”

Beomgyu menatap Chaeryeong dengan kaget. “Gue gak suka sama dia, cuma sedikit muak aja sama orang-orang,”

Chaeryeong kini menyeringai jahil, alisnya naik turun dan jemari cantiknya menjawil ujung hidung milik Beomgyu. “Serius lo nggak naksir The Choi Soobin?” tanyanya sambil tersenyum sampai-sampai matanya hilang. “kalau gue bilang gue suka sama dia, lo beneran oke?”

Beomgyu mengernyitkan hidungnya. “Lo udah punya pacar,”

Chaeryeong mengangguk, benar juga. “Kalau gitu gue ganti contohnya,” kata sang gadis dengan alis yang menyatu karena berpikir dengan keras. “kalau misalnya manajer baru band itu, yang selalu cari Soobin sampai ke kelas suka sama Soobin dan ternyata Soobin juga suka sama dia, lo gak apa-apa?”

Beomgyu terdiam untuk beberapa detik. Chaeryeong tertawa melihat apa yang baru saja Beomgyu lakukan, diam tak berkutik.

“Lo suka sama dia!”

“Kalau gue gak suka sama dia gue gak bakal stuck temenan sama dia sampai sekarang,” ujar Beomgyu masih tetap dengan pendiriannya.

Chaeryeong memutar kedua matanya dengan malas. “My dear,” raut wajahnya kini terlihat serius. “lo benci ide kalau Soobin itu cokiber sekolah, lo benci bayangin kalau Soobin punya pacar. Coba deh lo inget-inget lagi momen lo sama Soobin. Gue tau pasti lo merasa dumbfounded while figuring things karena Soobin itu sobat abadi lo tapi menurut gue, jatuh cinta sama sahabat lo sendiri itu gak seklise dan menggelikan itu, kok,”

Beomgyu merenung, memikirkan kalimat Chaeryeong.)

“Beomgyu,”

Suara berat milik Soobin menariknya kembali menuju dunia nyata. Beomgyu mengerjap beberapa kali, menatap Soobin yang sudah menatapnya dengan bingung dan juga khawatir karena Beomgyu melamun begitu lama sekali.

“Kita udah sampe rumah,” ujar Soobin seraya melirik ke arah rumah Beomgyu yang tertutup, selalu seperti itu. “lo kenapa deh ngelamun terus? Ada yang ngeganggu lo?”

Beomgyu menggelengkan kepalanya, menuruni sepeda motor Soobin dan melepaskan helm yang ia gunakan. “Gak ada, cuma lagi mikir aja bentar lagi gue mau tanding,” katanya dengan senyum tipis, terlihat begitu palsu. “lo balik dulu aja nanti Memi gue anterin ke rumah,”

Soobin mengangguk, melajukan motornya ke arah rumah miliknya yang tidak terlalu jauh dari kediaman milik keluarga Beomgyu.

 

 

Sudah satu minggu Soobin tidak pulang bersama Beomgyu. Sudah lima hari juga Soobin tidak melihat Beomgyu karena pemuda itu sedang mendapat dispensasi dari sekolah untuk bertanding di luar kota mewakili sekolah juga kota mereka pada pertandingan tingkat provinsi.

Soobin menatap bangku kosong disampingnya dengan kosong. Selama satu minggu ini juga Beomgyu tidak mengabarinya, jujur saja Soobin benar-benar khawatir. Ia takut sesuatu terjadi pada Beomgyu namun ketika ia bertanya kepada Yeonjun—kakak laki-laki Beomgyu—kemarin sore, Yeonjun mengatakan kalau Beomgyu baik-baik saja dan membalas pesannya seperti biasa.

Soobin tahu kalau Beomgyu sedang menghindarinya. Tetapi ia tidak tahu alasan utama kenapa Beomgyu menghindarinya.

“Galau bener lu ditinggal Beomgyu lima hari,” Kai memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah bangku milik Beomgyu dan Soobin yang berada dibelakangnya, diikuti oleh Taehyun sang kawan sebangku. “lu waktu pisah tiga tahun segalau ini juga, gak?”

Soobin mendongak, menatap kedua temannya yang bertanya dengan penasaran. Soobin terkekeh, memori lama tentang masa-masa awal SMP-nya terlintas di benaknya selayaknya film pendek.

“Waktu awal-awal pindah gue gak nafsu makan,” ujar Soobin sembari mengulas satu senyum bodoh yang selalu terlihat ketika dirinya berada di sekitar Beomgyu. “tapi lama-lama gue biasa sih, tiap weekend gue selalu ngobrol sama dia soalnya,”

“Eh gue penasaran deh,” Taehyun membuka suara, menyimpan kedua tangannya pada senderan kursi miliknya dan menjatuhkan dagu miliknya pada kedua tangan yang terlipat sembari menatap ke arah Soobin dihadapannya. “kalau misalnya salah satu dari kalian—gak deh, kalau Beomgyu suka sama lo dalam konteks naksir, tanggapan lo bakal gimana?”

“Hoo menarik,” komentar Kai juga ikut menunggu jawaban yang akan Soobin berikan.

“Dia gak akan pernah naksir gue,”

“Kalau, Soobin, kalau,” Taehyun memutar matanya. “What if, big what if,”

Soobin menatap kedua kawannya dengan serius, menggeleng pelan. “Gue sama sekali gak pernah kepikiran dia bakal naksir gue atau gue naksir dia, gue gak tau mau kasih tanggapan kayak gimana,” Soobin tak kuasa membayangkan bagaimana jika dirinya atau Beomgyu sama-sama memiliki perasaan selain pertemanan.

Pure platonic berarti ya hubungan lo berdua,” komentar Kai yang diberi anggukan oleh Soobin dengan cepat.

“Ngomongin Beomgyu,” Taehyun kembali bersuara, Soobin menatap kearahnya dengan bingung; satu alisnya terangkat, tak menyangka Taehyun akan menjadi banyak bicara hari ini. “anak klub musik ada yang naksir Beomgyu, anak kelas sepuluh,”

Keduanya membola dengan sempurna ketika mendengar informasi yang baru mereka ketahui dari Taehyun. Mereka bertiga sama-sama anggota klub musik, tetapi mengapa hanya Taehyun saja yang mengetahui tentang anak-klub-musik-naksir-Beomgyu.

“Kaget ya lu berdua,” ujar Taehyun tertawa ketika melihat reaksi yang diberikan Kai juga Soobin. “gue juga kaget awalnya, dia masuk klub musik karena Beomgyu. Dia kira Beomgyu anak musik karena gaulnya bareng sama kita terus,”

Kai menyandarkan tubuhnya pada tembok dibelakangnya. “Ini kali pertama gue denger ada orang terang-terangan naksir Beomgyu,” ujarnya. Taehyun mengangguk. “soalnya nyaris semua orang ngira kalau Beomgyu tuh naksir Soobin, gak, sih, makanya gak ada banyak orang yang terang-terangan ngeliatin kalau mereka suka sama Beomgyu?”

“Hah? Seriusan orang-orang ngira kayak gitu?”

Kai mengangguk, “Lo gak tau?” tanya Kai, Soobin menggeleng. “Beomgyu itu sebetulnya populer; lagian siapa gak mau sama atlet sekolah yang sering dapet emas l, ganteng, tinggi, jago main gitar dan wangi kayak Beomgyu. Orang-orang sering ngomongin dia—kata Chaeryeong—tapi mereka pada takut buat approach Beomgyu duluan karena dia gak terbuka sama orang lain dan matanya cuma liat lo doang. Makanya semua orang ngira kalau Beomgyu naksir lo,”

“Makanya tadi gue nyinggung itu,” sambung Taehyun. “yang what if,”

Soobin belum pernah mendengar desas-desus tentang pemikiran nyaris seluruh sekolah tentang Beomgyu yang menaruh rasa kepadanya dan karena Soobin yang selalu menempel kepada Beomgyu kapanpun dan di manapun. Kalau boleh ia bilang, Soobin merasa sedikit bersalah karena dirinya orang-orang menganggap Beomgyu merupakan orang yang cukup sulit didekati. Pantas saja Soobin belum pernah melihat Beomgyu didekati siswa lain atau Beomgyu bercerita bahwa dirinya tengah kasmaran.

Ia jadi berpikir.

Bagaimana jika andai-andai yang disebutkan Taehyun barusan benar-benar terjadi, apa yang akan ia lakukan?

 

 

 

 

“Oh, lo udah pulang,” Soobin berujar ketika melihat Beomgyu tengah berada di ruang tamunya dengan Memi di atas pahanya yang hanya memakai celana pendek di atas lutut. Mulutnya penuh dengan kukis buatan Mama—terlihat dari tumpukan kukis di atas meja.

Beomgyu tersenyum dengan lebar, melambaikan tangannya kepada Soobin dengan riang. “Welcome home, adik kecil.”

Soobin mendengus. “Lu yang adik kecil,”

Beomgyu tertawa, memindahkan Memi dari atas pangkuannya menuju atas sofa dan membiarkan kucing abu-abu yang sudah cukup berumur itu kembali tertidur. “Gimana di sekolah, hari ini ada ulangan dadakan, gak?”

Soobin menggeleng, menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Beomgyu. “Gak ada,” jawabnya dengan santai. “gimana hasil pertandingannya?”

Beomgyu tersenyum dengan riang, satu tangannya menyelusup ke arah belakang tubuhnya yang menyender kepada kepala sofa. Memperlihatkan satu medali berwarna emas tepat dihadapan mata Soobin. “Si keren ini dapet emas lagi, dong!” ujarnya dengan senyum lebar memperlihatkan gigi rapi miliknya.

Soobin ikut tersenyum lebar, menarik tubuh Beomgyu ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung Beomgyu dengan penuh rasa bangga. Sudah sering sekali Soobin mendengar kabar kalau Beomgyu mendapat hasil yang baik dalam segala pertandingannya, namun setiap mendengar hasil tersebut, Soobin tetap saja merasa bangga dan terharu karena pencapaian Beomgyu yang begitu keren. Beomgyunya, menjadi pemuda paling keren satu semesta.

“Udah, ih, peluknya!” ujar Beomgyu meronta. “lu bau keringet banget. Abis main basket, ya?” tanyanya dengan mata yang memicing. Sebetulnya, bagian terakhir ini Beomgyu sedikit berbohong. Soobin sama sekali tidak tercium bau-bau tidak enak, Soobin masih tercium seperti parfumnya.

Soobin menjauhkan dirinya dari Beomgyu dan mencium aroma tubuhnya sendiri, merasa tidak ada yang aneh dari dirinya. “Gak juga, ah?” katanya lalu kembali membawa tasnya menuju bahu. “tadi gue emang mampir ke lapang dulu buat main basket sebentar waktu liat Abang lagi main sama temen-temennya,”

“Oh?” Beomgyu memiringkan kepalanya, “gak main basket di sekolah?”

Soobin tertawa, mengusak surai Beomgyu seraya berdiri. “Gue udah gak mau main lagi di sekolah kecuali emang jam olahraga,” ujar Soobin kemudian menunjuk ke arah lantai atas rumahnya. “gue ganti baju dulu nanti balik lagi oke, jangan pulang dulu!” lanjutnya kemudian berlari menuju dalam, menyapa sang Mama dan melesat pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.

Beomgyu menunggu selama dua puluh menit, saat ini posisinya sudah berada di ruang tengah milik keluarga Soobin dengan menghadap televisi yang menampilkan suatu acara musik kesukaannya. Soobin menuruni anak tangga dengan gaduh, membuat Beomgyu mau tak mau menoleh dan memperhatikan Soobin yang tengah diteriaki oleh Mama untuk berhati-hati agar tidak terjatuh lagi.

Soobin datang dengan kaos berwarna hitam berukuran pas membalut tubuhnya. Ia juga memakai celana pendek selutut dan dengan cepat mengambil posisi disebelah Beomgyu agar ia dapat memeluknya secara leluasa.

“Lo udah pensiun, ‘kah, tebar pesonanya?” tanya Beomgyu tiba-tiba. Soobin mengangkat satu alisnya dengan bingung, tak mengerti ke mana arah obrolan yang Beomgyu bawa. “itu, tadi lo bilang kalau lo udah gak mau main basket lagi di sekolah,”

Soobin tertawa mendengar kalimat yang baru saja ia dengar. “Menurut lo itu tebar pesona?” tanyanya dengan seringai tipis terlihat dari bibir. Beomgyu mengangguk, menyetujui. “menurut lo tebar pesona gue berhasil, gak?”

Raut wajah Beomgyu terlihat sedikit masam, bibirnya mengerucut sedikit ketika dirinya memikirkan apakah tebar pesona yang Soobin lakukan berhasil atau tidak. Beomgyu menolehkan kepalanya dan mendongak sedikit, menyamakan wajah mereka berdua dan menatap Soobin tepat di matanya, berusaha memberi Soobin tatapan paling sebal yang pernah ia perlihatkan kepada si jangkung.

“Menurut gue itu berhasil dan gue bener-bener sebel sama keberhasilan lo itu,” balas Beomgyu bersungguh-sungguh. “semenjak lo semakin tebar pesona, ada banyak orang yang nyamperin gue buat nanyain hal-hal tentang lo dan nitipin hadiah-hadiah mereka ke gue. Abis itu, semenjak lo jadi wakil ketua OSIS, jadi makin ada baaaanyak banget orang yang nanya apa lo jomlo atau enggak,”

Soobin mengangguk mendengar keluhan Beomgyu yang sepertinya sudah ia tahan sejak awal tahun ajaran sejak keduanya naik tingkat. Soobin mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Beomgyu, membuat yang lebih kecil terlonjak kaget dan memundurkan tubuhnya sedikit.

“Lo sebel? Se-sebel itu?”

Beomgyu mengangguk.

“Lo cemburu, ya?”

Beomgyu mendengus.

“Enggak lah, ngapain juga gue cemburu!” hardik Beomgyu dengan mata yang membulat dengan sempurna. “ih, jauh-jauh! Nanti kalau Mama atau Teteh atau Kakak liat gimana,”

Soobin terkekeh, mencubit pipi Beomgyu yang terlihat lebih tirus dengan gemas. “Padahal cemburu juga gak apa-apa,” katanya dengan kedua mata yang menghilang karena senyum.

Beomgyu memalingkan matanya, menarik kedua kaki panjang miliknya ke arah dadanya dan menyembunyikan wajah miliknya diantara lutut. Lengannya memeluk kedua kakinya dengan erat, menyembunyikan rasa malu yang begitu terlihat dari dirinya.

 


 

3rd grade.

 

Tahun berganti dan keduanya masih sama-sama nyaman dengan status mereka yang begitu-begitu saja.

Tetapi ada sedikit perubahan diantara mereka.

Soobin masih mendapati surat-surat dari pada adik kelas juga beberapa hadiah seperti biasanya, Beomgyu juga masih sibuk dengan kompetisi-kompetisi miliknya dan masih menjadi murid penuh prestasi seperti yang sudah ia lakukan selama tiga tahun ini.

Mereka masih berada di kelas yang sama, tentu saja, dan tingkah laku mereka berdua (lebih tepatnya tingkah Soobin) membuat nyaris anak kelas sebal karena Soobin senang sekali menempeli Beomgyu, benar-benar menempel. Ketika jam kosong, Soobin akan bermain dengan jemari milik Beomgyu dan menceritakan ribuan cerita tentang sekolah ketika Beomgyu sedang mendapat dispensasi. Soobin juga tidak peduli bagaimana pikiran orang banyak dan memberi Beomgyu banyak sentuhan fisik di depan publik.

Dan diantara para adik kelas, terutama kelas sepuluh, hubungan mereka menjadi penuh tanda tanya. Separuh dari mereka mengira kalau Soobin dan Beomgyu merupakan sepasang kekasih, dan separuh dari mereka tetap percaya bahwa keduanya hanya teman saja.

“Hey,” sapa Soobin setelah kembali dari rapat OSIS panjang miliknya, mendekati Beomgyu yang saat ini sedang duduk dengan santai pada salah satu bangku di koridor sekolah. “udah selesai latihannya?”

Beomgyu mengangguk, menyimpan botol minumnya yang sudah nyaris kosong. “Lo udah selesai rapatnya?”

“Udah, tinggal ambil tas aja di kelas,”

Beomgyu kembali mengangguk, satu tangannya memberi Soobin satu bungkus cokelat yang sempat ia beli di koperasi selesai latihannya selesai.

“Oh, lo ngasih gue ini?”

Beomgyu mengangguk. “Kenapa?”

“Sekarang hari kasih sayang,”

“Hah?”

“Gak percaya?”

Beomgyu dengan cepat merogoh tasnya dan membuka ponselnya. Beomgyu benar-benar membuka mulutnya ketika melihat tanggal di ponselnya. Soobin benar, hari ini tanggal 14 Pebruari, hari kasih sayang.

“Gue beneran gak tau, sumpah!” Beomgyu bergerak menjauh dengan kedua tangan yang bergerak dengan tak beraturan berusaha untuk memberitahu Soobin kalau ia memang tidak sengaja memberinya cokelat di hari spesial.

Soobin tertawa, menarik Beomgyu untuk bergerak mendekat kearahnya. “Lo nyesel ngasih ini ke gue?” tanya Soobin menatap Beomgyu dengan lurus, membuat Beomgyu merasa panik dan juga malu; ia dapat merasakan pipi dan telinganya menghangat.

“Gak gitu,” ujar Beomgyu berusaha menjelaskan maksudnya. “gue cuma gak mau lo mikir yang aneh-aneh,”

Soobin menyunggingkan satu senyum simpul, tatapannya terlihat begitu ceria. “Aneh-aneh? Yang kayak gimana?”

“Ya … yang kayak I do have a feeling for you like the others?”

Soobin menatap Beomgyu dengan tatapan terkejut yang dibuat-buat, mulutnya terbuka dan kedua tangannya dengan sengaja ia taruh di depan mulutnya. Memberi reaksi yang amat sangat dramatis, sebuah hal yang paling bisa Soobin lakukan. Soobin paling jago ketika menjadi manusia paling dramatis di dunia ini.

You don’t?” Soobin bertanya dengan nada yang cukup memuakkan. Beomgyu mendorong bahu Soobin dengan pelan, membuatnya sedikit menjauh.

I do,” ujar Beomgyu setelah berpikir beberapa detik. “tapi nggak kayak gitu maksudnya,”

Bibir milik Soobin mengerucut, matanya turun sedikit karena sedih. Terlihat seperti dibuat-buat namun terlihat juga kalau dirinya memang sedih mendengar apa yang baru saja Beomgyu katakan untuknya.

Beomgyu memperhatikan bagaimana Soobin yang menjadi semakin aneh detik ini. Baginya, Soobin memang aneh; benar-benar sangat aneh. Tingkahnya betulan berada diluar perkiraannya, ada banyak kejutan-kejutan dari diri Soobin yang selalu berhasil membuat Beomgyu terkejut walau mereka berdua nyaris bersamaan setiap hari dalam satu tahun. Mereka bisa menghitung kapan-kapan saja ketika mereka sedang tidak bersama, ketika sibuk dengan acara keluarga atau lomba-lomba di luar kota yang tidak bisa mereka datangi untuk memberi semangat. Beomgyu memiringkan kepalanya, menelisik raut wajah Soobin yang masih terlihat sedih dan bibirnya masih mengerucut dengan lucu, rasa-rasanya Beomgyu ingin sekali mencubit bibir milik Soobin menggunakan jemarinya.

“Sayang banget,”

Beomgyu semakin tidak mengerti dengan apa yang akan Soobin lakukan saat ini. Kepalanya masih berada dalam posisinya, sedikit miring dengan mata yang menatap lurus ke arah Soobin yang sudah membuka suaranya, memecah hening diantara keduanya. Beomgyu dapat melihat bahwa Soobin memperhatikan bagaimana situasi dan kondisi sekolah mereka sore ini, masih begitu ramai; masih ada tim futsal sekolah yang bermain di lapangan, masih ada banyak juga anak-anak dari klub lain yang berlalu-lalang di koridor dan bahkan melewati keduanya dengan malu-malu. Ketika sudah merasa sedikit sepi, Soobin kembali menatap Beomgyu. Kali ini tatapannya terlihat begitu teduh dan menenangkan, membuat Beomgyu mau tidak mau mengulas senyumnya karena merasa hangat.

I do have a feeling for you,” Soobin mengaku secara tiba-tiba. “kalau lo mau tau, di tas gue itu ada satu box cokelat buat lo,”

“Rapat bikin otak lo geser sedikit, ya?”

Soobin menyentil kening Beomgyu pelan. “Yee ini anak malah bercanda,” ujarnya kemudian menyentuh pergelangan tangan milik Beomgyu dan menariknya menuju kelas mereka yang berada di gedung paling belakang dan paling ujung. Jejeran kelas untuk anak kelas dua belas yang terlihat seperti diasingkan. “lo liat sendiri aja deh,”

Mereka berdua berlarian menyusuri koridor sekolah yang sudah tergolong sepi dengan tangan besar Soobin mengalungi pergelangan tangan milik Beomgyu dan menariknya, mengajak laki-laki yang membawa tas dengan berantakan itu berlari menuju kelas mereka. Kegiatan mereka berdua tentu saja begitu mencolok, menjadi pusat perhatian karena langkah kaki menggema di seluruh koridor dengan teriakan dari bibir Beomgyu menyerukan nama Soobin dan berhenti mengiringi kegiatan keduanya.

Setelah sampai kelas dan ternyata masih ada Sunwoo si pawang kelas, sobat Soobin dalam kegiatan mencintai karakter dua dimensi, dan Eric yang masih berdebat tentang siapa yang akan mengerjakan bagian tiga. Masih mengerjakan tugas kelompok untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Jiah, rajin amat lu berdua kerja kelompok di kelas,” komentar Soobin ketika memasuki kelasnya dan meraih tasnya.

Eric menggerutu, “Lagi kagak punya duit dia, semua uang jajannya dia beliin cokelat,” katanya sembari menunjuk Sunwoo yang juga menggerutu sebal.

“Lah, punya gebetan lu Woo?” tanya Soobin masih penasaran dengan kisah sohibnya itu.

Eric mendengus kesal, menatap Soobin dan Sunwoo bergantian. Ujung matanya juga kini menemukan Beomgyu yang penasaran dengan obrolan ketiganya yang terdengar sampai luar kelas.

“Cokelatnya buat Sawako, anjing,” ujar Eric memberitahu, membuat Soobin terbahak sampai-sampai ia menangis sedikit karena menurutnya hal tersebut benar-benar lucu dan juga sedikit miris. “anjing, Sunwoo lu diketawain sobat wibu lu. Lu lebih parah dari Soobin berarti,”

“Mending lu diem anjing terus bantuin gue ngerjain ini,”

Keduanya kembali bertengkar, melupakan Soobin yang masih berusaha menghentikan tawanya dan mengangguk seraya mengatakan hati-hati ketika Soobin berpamitan untuk pulang terlebih dahulu bersama Beomgyu.

“Nih, buat lo,” ujar Soobin sembari memberikan satu kotak cokelat dengan pita berwarna merah muda—sudah dari sananya—ke hadapan Beomgyu.

“Lo serius?”

“Iya. Emang sejak kapan gue anaknya gak serius?”

Beomgyu mengehela nafas panjang. Soobin memang selalu serius.

 

 

 

Beomgyu pulang dengan wajah yang memerah dengan sempurna sampai-sampai abangnya, Choi Yeonjun, menatap Beomgyu dengan khawatir dan menghampirinya untuk mengecek suhu tubuh Beomgyu.

“Lo merah banget, demam?” tanya Yeonjun khawatir, tangannya berusaha untuk meraih tas Beomgyu dan membantunya untuk membawa tas penuh buku (dan juga cokelat dari Soobin) milik Beomgyu namun adik laki-lakinya itu mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. “Bunda sama Ayah belum pulang, lo kalau mau mandi pakai air hangat bilang ke gue aja, nanti gue siapin, oke?”

Yeonjun ini merupakan tipe abang yang protektif terutama kepada adik satu-satunya yang sering tiba-tiba demam tanpa alasan seperti Beomgyu. Rasa panik segera muncul ketika ia melihat wajah adiknya yang memerah dengan sempurna, matanya terlihat lesu, kalau Yeonjun perhatikan lagi, kedua telinganya juga memerah.

“Gue nanti mandinya sehabis Maghrib aja, mau agak lama soalnya latihan hari ini bikin gue capek,” kata Beomgyu yang diberi anggukan dari kepala Yeonjun. “Abang tenang aja, gue sama sekali gak demam kok, cuma sedikit capek aja,”

Yeonjun menepuk dan meremas bahu adiknya dengan lembut, memberikan semangat. “Abang tau kalau lo pengen banget dapet hasil yang baik tapi lo jangan bikin tubuh lo terlalu capek juga, oke? Sekarang istirahat dulu, kalau udah siap mau mandi bilang aja ke Abang,”

Beomgyu mengangguk, mengulas senyum tipis kepada Yeonjun dan mengucapkan kata terimakasih tanpa suara sebelum kembali melangkahkan tungkainya menuju kamar miliknya yang terletak tak jauh dari kamar mandi rumahnya. Tungkainya tiba-tiba merasa lemas kerika memori tentang apa yang baru saja terjadi dalam kehidupannya kembali terputar tanpa Beomgyu minta, dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa kecil yang sengaja disimpan di kamarnya dengan kedua tangan menutupi wajah. Beomgyu malu.

 

(Sialnya, pagi tadi Soobin dan Beomgyu sama-sama sedang tidak dalam mood untuk membawa kendaraan pribadi dan mereka memutuskan untuk berangkat menggunakan kendaraan umum dan disinilah mereka berdua, duduk bersebelahan pada bis kota dengan tangan saling menyatu, saling menggenggam.

“Tahun lalu waktu lo dispen, Taehyun pernah nanya tentang gimana reaksi gue kalau misalnya lo naksir gue,” ujar Soobin memulai ceritanya secara tiba-tiba, Beomgyu menolehkan kepalanya. Memberi sedikit kode kepada Soobin agar ia kembali melanjutkan ceritanya, Beomgyu malas berbicara. “terus gue bingung mau jawab gimana soalnya gue juga gatau,” katanya lalu tertawa dengan renyah. “habis itu gue, Taehyun sama Kai malah jadi ngomongin lo—tunggu, jangan ngomel dulu dengerin gue. Nah, setelah sekian obrolan tentang lo yang bikin gue makin kangen karena lo gak bales chat gue seminggu, akhirnya gue sadar kalau yang bisa kemungkinan besar bisa naksir itu gue, bukan lo. Jadi gue jawab aja kalau gue suka sama lo dan gue gak bisa bayangin,”

“Oh … waktu gue diemin lo itu, ya,” Beomgyu menggumam dengan pelan. “kalau lo mau tau, gue diemin lo itu karena gue sadar kalau gue naksir lo,”

Soobin tergelak. “Kocak banget,” responnya setelah tawa terhenti. “sampai-sampai sadarnya aja barengan,” lanjut Soobin dengan senyum tipis. “besok lo ada waktu luang, gak?”

Baru saja Beomgyu ingin menjawab pertanyaan Soobin, bis mereka sudah berhenti pada halte tempat dimana keduanya harus turun. Keduanya turun beriringan, masih dengan tangan yang saling menggenggam dan berjalan menuju komplek rumah mereka yang terletak tak jauh dari halte bis.

“Gimana, ada waktu luang?”

Beomgyu mengangguk kecil, sebetulnya esok hari merupakan jadwalnya untuk beristirahat di rumah seharian karena jadwal sehari-harinya yang begitu padat. Namun ia tidak ingin mengatakan hal tersebut karena Beomgyu takut Soobin merasa kecewa dengan jawabannya.

“Bagus kalau gitu, ayo kita jalan-jalan!” serunya riang. “gak jalan-jalan kayak biasa sih, sekarang maksudnya a date,”

Beomgyu mengangguk lagi. Ia benar-benar kehabisan kata-kata karena Soobin. Beomgyu yang biasanya menjadi manusia dengan seribu topik jika bersama Soobin berubah menjadi manusia setengah patung karena sejak tadi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia balas pada kalimat-kalimat Soobin.

Keduanya berjalan kaki dengan sunyi menyelimuti, melangkahkan kaki menuju blok tempat dimana hunian mereka berdua berada, hanya membutuhkan beberapa langkah lagi.

“Beomgyu,”

“Hm?”

Soobin menghentikan langkahnya ketika mereka berdua sudah berada di depan rumah Beomgyu. Ia menghadap kepada yang lebih muda dan menyejajarkan wajah keduanya. Senyum terlihat di wajah Soobin, membuat satu pasang lesung pipi manis miliknya terlihat begitu atraktif.

“Sampai ketemu besok pagi, jam sembilan.”

Soobin mengusak surai milik Beomgyu, kemudian merapikan beberapa helainya kembali. Membuat efek yang begitu besar untuk Beomgyu. Dan pada sekon berikutnya, Beomgyu dapat merasakan bahwa Soobin mendekat dan memberinya satu kecupan di pipi.

“Choi Soobin!”

Soobin memperlihatkan senyumnya, kemudian melambaikan tangan kanannya pada Beomgyu. “I’ll see you soon, my pretty dear,” katanya kemudian memutar tubuhnya ke arah rumahnya.

Beomgyu tidak mau kalah, menahan pergelangan tangan Soobin dan berjinjit sedikit untuk memberi satu kecupan pada bibir Soobin. Hanya satu detik.

Satu detik.

Di depan umum.

Di depan rumahnya.

Dan di dekat rumah Soobin.

Beomgyu kemudian segera berlari meninggalkan Soobin yang masih mematung karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya.

Beomgyu mengecupnya.)

 

Beomgyu menahan senyumnya, melepaskan tangannya dari wajah memerah seperti kepiting rebus miliknya.

Hal ini benar-benar terdengar mustahil namun ini benar terjadi.

 

Choi Beomgyu jatuh cinta,

jatuh kepada Choi Soobin. Sahabatnya.

Notes:

Feel free to leave your thoughts and comments! Or hit me up on Twitter too, my handle is: @wrrrites (with triple R)!

Series this work belongs to: