Work Text:
Tidak ada banyak yang berubah sejak hubungan Beomgyu dan Soobin berubah menjadi sepasang kekasih selain para penggemar Soobin yang sudah tahu tempat; tidak memberi Soobin surat cinta atau menyelipkan makanan ringan pada loker milik sang pemuda. Ryujin dan Kai selalu meledek mereka berdua serta Taehyun juga Chaeryeong yang sama sekali tidak kaget ketika Beomgyu memberitahu teman-teman satu kelas mereka kalau mereka berkencan. Kalau mengutip kalimat Chaeryeong, hubungan Beomgyu dan Soobin sejak awal tahun pertama mereka kenal pun sudah terlihat seperti sepasang kekasih. Tidak, hubungan mereka lebih pantas disebut dengan old marriage couple.
Beomgyu tidak menyangka kalau perasaan Soobin dan perasaannya akan berubah menjadi cinta—memang masih terlalu dini untuk Beomgyu sebut sebagai cinta, akan tetapi, jika bukan perasaan cinta yang menyelimuti dinamika mereka berdua, apa lagi? Tidak mungkin jika hanya sebatas suka saja karena Beomgyu sudah menyukai Soobin sejak mereka berdua masih menjadi murid sekolah dasar dahulu.
“Kamu ngelamun aja,” ujar Soobin menarik Beomgyu dari lamunan panjang di siang bolongnya. Kali ini mereka sedang di sekolah, seperti biasanya, dan Beomgyu sudah melamun sejak bel istirahat belum terdengar. “lamunin apa, Sayang?” kali ini sebuah pertanyaan dilontarkan Soobin kepada Beomgyu. Ia memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Beomgyu yang duduk di kursi miliknya di dekat tembok; lebih tepatnya mengunci Beomgyu agar laki-laki itu tidak bisa pergi dan tak menjawab pertanyaannya.
Kedua telinga Beomgyu mulai memperlihatkan semburat merah muda kala mendengar panggilan sayang yang disebutkan Soobin untuknya. Ia masih belum terbiasa dengan sebutan manis meskipun sejak dulu pun Soobin sering memanggilnya dengan seperti itu. Panggilan sayang ketika dulu dan sekarang memiliki makna yang berbeda untuk mereka; dulu Soobin akan mengatakannya sebagai sebuah ejekan atau jika ia sudah muak dengan omelan Beomgyu dan kini panggilan itu berubah menjadi suatu panggilan yang dapat menggelitik perut Beomgyu sampai-sampai seluruh tubuhnya bereaksi. Membuat kedua telinga dan pipinya memerah karena malu. Juga senang.
“Kemarin habis selesai ekskul aku dipanggil sama Kak Minsu,” ujar Beomgyu membuka ceritanya sembari menatap Soobin lurus. Ia tak memberitahu alasan utama mengapa ia melamun karena Beomgyu merasa malu jika Soobin tahu kalau Beomgyu sedang melamunkan Soobin sendiri. “kata Kak Minsu aku dapet tawaran buat masuk ke pelatnas,” ujar Beomgyu mengeluarkan sebuah alasan yang sebetulnya tengah ia pikirkan juga sejak kemarin. Beomgyu tidak sepenuhnya berbohong kepada sang kekasih, ‘kan?
Kedua mata Soobin yang dari sananya sudah terlihat bulat kini semakin bulat; membola penuh. Ia begitu terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Beomgyu tentang bela diri yang sedang ia tekuni. “Kamu … dipanggil ke pelatnas?” tanya Soobin dengan muka terkejutnya yang lucu. Kedua matanya menatap Beomgyu dengan binar; matanya kini mengerjap lucu dengan kedua tangan bergerak membawa tangan Beomgyu ke dalam genggaman erat tangan besarnya.
Beomgyu mengangguk. “Iya, aku dapat offer buat masuk pelatnas dan latihan di sana juga. Tapi aku masih bingung deh Soob,” ujar pemuda itu seraya menyandarkan tubuhnya pada tembok di samping tubuhnya. Soobin memiringkan kepala, bertanya tanpa suara. Beomgyu sudah hapal sekali dengan tingkah laku si jangkung. “aku bingung karena aku gak bisa langsung buat lanjut kuliah kalau aku ambil offer dari pelatnas karena kita udah harus siapin buat kompetisi nasional dan internasional. I’ll have my debut really soon dari hari kelulusan kita,” lanjut Beomgyu menjelaskan perasaan bingungnya kepada Soobin.
Soobin membawa Beomgyu ke dalam pelukan, tak memperdulikan mereka berdua masih berada di dalam kelas. “Kamu memang mau serius jadi atlet pencak silat, Sayang?” tanya Soobin begitu lembut, tangannya mengusap kepala Beomgyu yang sudah ia taruh di atas bahu lebarnya.
Soobin dapat melihat bagaimana cara Beomgyu mengangkat kepala dan menatapnya begitu lurus. Dengan satu tatapan saja Soobin sudah tahu kalau Beomgyu sebenarnya ingin. Kali ini ia mengulas senyum lalu mengusap bahu yang ia rengkuh dengan hangat. “Gak perlu jawab sekarang, nanti kita bicarain lagi di rumah, ya,” ujar Soobin menenangkan Beomgyu dengan kalimatnya.
Beomgyu menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Soobin. Tidak mudah baginya untuk mengambil keputusan ketika ia ingin melanjutkan kegiatan yang ia mulai sebagai hobi ke jenjang yang begitu serius. Ia sudah pernah ditawari untuk masuk ke pelatnas ketika ia masih menjadi murid kelas sebelas akan tetapi ia memberitahu sang pelatih kalau ia ingin fokus terlebih dahulu dengan studinya dan pelatihnya, Minsu, mengatakan tidak apa-apa untuk Beomgyu memikirkan jenjang karirnya sampai ia merasa yakin dan siap. Beomgyu begitu menyukai seni bela diri yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun ini; bertemu dengan banyak orang lain, membuat keluarganya bangga ketika mendapat medali—meskipun sebuah perunggu atau sebagai juara harapan, dan membuat Soobin tersenyum ketika ia memberitahu tentang progres kejuaraannya. Ia senang menjadi seorang atlet. Jika saja sang Bunda tidak berkata kalau akan lebih baik jika Beomgyu melanjutkan kuliah saja ketimbang menjadi seorang atlet; terlebih, ketika cabang olahraga yang Beomgyu inginkan bukanlah olahraga yang begitu diminati.
“Kamu betul, lebih baik kita bicarakan di rumah bareng Bunda juga,” ujar Beomgyu setelah mendesah mengeluarkan seluruh pikirannya pada deru napas. “kalau kamu betulan gak mau balik main basket?” ia bertanya dengan kepala mendongak memperhatikan Soobin yang melihat lurus ke arah papan tulis.
Soobin menolehkan kepalanya ke arah Beomgyu dan membuat kedua mata mereka saling bertubrukan. “Hm? Aku belum kepikiran buat balik lagi main basket. Kalau mau balik juga udah telat banget, gak, sih?” balas Soobin diiringi dengan tawa nyaring di telinga Beomgyu.
Beomgyu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Soobin dan memperhatikan laki-laki jangkung itu dengan wajah yang begitu serius. “Gak ada yang telat! Kamu sendiri kan tahu sampai minggu kemarin aja Chaemin sama Pak Minhee terus-terusan tawarin kamu buat masuk klub,” ujar Beomgyu menggebu.
Kalau boleh jujur, Beomgyu ingin sekali melihat Soobin sebagai seorang atlet seperti dahulu. Ia memang tidak melihat masa kejayaan Soobin sebagai atlet sekolah ketika SMP, akan tetapi ia tahu kalau Soobin begitu menyukai olahraga bola besar tersebut. Beomgyu dapat melihat dan mengetahui bagaimana kedua mata Soobin berbinar kala dokter memberitahu Soobin kalau ia sudah diperbolehkan untuk kembali turun ke lapang. Ketika jam pelajaran olahraga dan mendapat materi tentang bola basket, Beomgyu dapat melihat bagaimana Soobin-nya terlihat begitu keren.
Soobin tertawa kecil, kepalanya menggeleng. “ I’m not going to be an athlete lagi, deh,” ujar sang pemuda dengan senyum tipisnya yang begitu memikat; dibarengi dengan dua lesung pipi. “aku mau terus bermusik bareng klub kecil kita. Kalau memang mau terus berhubungan sama dunia basket aku pikir aku mau ambil langkah jadi pelatih aja. Pelatih anak-anak,” lanjut Soobin begitu yakin dengan jawabannya.
Soobin telah mengetahui apa yang ia inginkan. Mama pun tidak membuat Soobin merasa tertekan karena pilihan tentang masa depan Soobin sudah Mama serahkan sepenuhnya kepada putra bungsunya.
“Terus nanti kamu, ‘kan, mau kuliah,” ujar Beomgyu yang diberikan anggukan dari kepala Soobin; meminta Beomgyu melanjutkan kalimatnya. “kamu mau kuliah apa?” tanya Beomgyu dengan posisi yang terlihat begitu nyaman; bersandar pada tembok dan menghadap ke arah Soobin, membiarkan Soobin mengunci tubuhnya.
Soobin tersenyum miring, wajahnya mendekat ke arah wajah Beomgyu; tingkah Soobin membuat Beomgyu panik dan melihat sekeliling—kepada teman-temannya—takut mereka menyangka Soobin dan Beomgyu melakukan hal tidak senonoh. Soobin menyentuh puncak hidung Beomgyu menggunakan tangannya. “Pendidikan Olahraga,” jawabnya yang lagi-lagi terdengar yakin.
“Bukan bermaksud nguping tapi topik obrolan lu berdua menarik banget,” suara Taehyun dari meja depan Beomgyu membuat mereka berdua segera menjauh dari satu sama lain. Ia memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Beomgyu dan Soobin. “kalau menurut gue lu mending jadi atlet,” ujarnya secara tiba-tiba.
Beomgyu menatap Taehyun dengan mata yang memicing. “Kenapa lu memberi opini kayak begitu? Emangnya gue keliatan cocok jadi atlet?” tanya Beomgyu yang membuat Soobin segera memalingkan wajah; menatap Beomgyu dan merasa sedikit tak suka dengan kalimat yang dibawa oleh Beomgyu.
Taehyun menyentil kening Beomgyu sedikit kencang. Selain sang kekasih sekaligus sahabat, Taehyun satu-satunya orang yang berani menyentil Beomgyu tanpa rasa bersalah. “Menurut lu aja kocak,” ia bersuara dengan mengikuti cara berbicara seorang streamer yang sering ia tonton. “medali emas lu ada delapan, medali perak lu ada sepuluh. Itu udah cocok banget jadi atlet kalau menurut gue, bahkan lu udah cocok buat tanding di SEA Games tahun berikutnya,” lanjut pemuda dengan kacamata bulat bertengger di atas hidung bangirnya.
Beomgyu menganggukkan kepalanya ketika mendengar kalimat Taehyun, setiap kata yang ia gunakan sama persis dengan apa yang Minsu katakan kepadanya. “Kalau lu mau lanjut ke mana nanti, Tae?” tanya Beomgyu yang sedikit penasaran dengan jawaban sang juara kelas.
Taehyun terlihat berpikir. “Belum tau gue, kayaknya mau lanjut ambil musik aja,” jawab sang tuan kemudian tersenyum; memperlihatkan gigi taringnya kepada Soobin dan Beomgyu.
Beomgyu bertengkar hebat dengan Bunda ketika ia memutuskan untuk memilih meneruskan untuk menjadi seorang atlet profesional; sudah bukan kompetisi nasional antar provinsi saja yang menjadi fokus utamanya. Abangnya, Yeonjun, selalu mendukung apapun keputusan Beomgyu. Ia menepuk bahu Beomgyu dan menyemangatinya ketika Beomgyu memberitahunya perihal pilihan yang ia ambil jauh sebelum Bunda tahu. Ayahnya pun mendukung Beomgyu—ia yang mengenalkan Beomgyu dengan seni bela diri ini dan ia pun tidak begitu mempermasalahkan tentang masa depan Beomgyu karena ia tahu kalau Beomgyu akan selalu berhasil apapun jenjang karir yang ia pilih.
Beomgyu mengetuk pintu rumah Soobin dengan kedua mata sembab terlihat begitu jelas di wajahnya. Yang membuka pintu ketika itu adalah si sulung Jungkook, ia terlihat begitu terkejut ketika melihat Beomgyu dengan kedua mata bengkak, hidung merah, dan napas pendek-pendek berada di depan pintu rumahnya.
“Lu kenapa, Beomgyu?” tanya Jungkook panik, ia segera membawa Beomgyu untuk masuk dan menariknya menuju ruang keluarga mereka. Ia mempersilakan Beomgyu untuk duduk sebelum kembali berujar kepada sang pemuda. “gua panggil Soobin dulu bentar, oke? Atau lu mau naik aja ke kamarnya langsung?” tawar Jungkook ketika melihat Beomgyu yang tiba-tiba terisak.
Sejak keluarga mereka berdua tahu kalau Beomgyu dan Soobin berkencan, mereka tidak diperbolehkan untuk berduaan di kamar—keduanya tidak bebas untuk keluar masuk kamar masing-masing seperti biasanya karena hubungan mereka sudah jauh dari kata platonik; menghindari hal yang tidak-tidak, terlebih Beomgyu dan Soobin masih remaja. Remaja adalah remaja ada banyak hal yang ingin mereka tahu.
Dengan suara terputus-putus, Beomgyu menjawab, “Lu aja yang panggil, Kak,” ujar Beomgyu sesenggukan. “tolong ya,” lanjutnya sebelum Jungkook benar-benar pergi meninggalkan Beomgyu di atas sofa. Ia dapat melihat bagaimana Jungkook mengangguk sebelum ia menghilang dari balik tangga untuk memanggil Soobin di lantai dua sana.
Selama ia menunggu Soobin datang, Beomgyu memperhatikan rumah Soobin yang terasa begitu sepi. Ia tahu kalau anak tengah keluarga mereka, Arin, masih melanjutkan kuliahnya di kota lain, jadinya Arin tidak ada di rumah, sedikit aneh ketika melihat rumah hanya berisi Jungkook dan Soobin saja. Tidak ada Papa dan Mama. Matanya kini bertemu dengan Memi yang mengambil posisi di atas pangkuannya tepat sebelum Soobin muncul dengan langkah terburu-buru; Beomgyu seratus persen yakin kalau Soobin berlarian dari kamarnya ketika mendapat informasi dari Jungkook.
“Kamu kenapa kok nangis gini?” Soobin langsung melayangkan pertanyaan. Tubuhnya ia bawa duduk tepat di samping Beomgyu yang menggendong kucing tua itu. Ibu jarinya bergerak mengusap pipi Beomgyu yang masih basah karena air mata jatuh tanpa henti. “habis berantem sama Bunda?” tanya Soobin—ia berhasil menebak alasan Beomgyu menangis kencang tanpa Beomgyu berikan clue apapun kepadanya.
Beomgyu mengangguk kecil. “Bunda tetep gak kasih izin,” bisik Beomgyu pelan, begitu pelan. Ia mendekat ke arah Soobin dan mengistirahatkan kepalanya di atas bahu lebar Soobin; suara napasnya terputus-putus karena tangis yang tak kunjung berhenti. “menurut kamu aku harus apa, Soobin?” ia mengangkat kepalanya untuk menatap Soobin dari jarak dekat, meminta saran dari Soobin yang selalu lebih rasional dari dirinya sendiri.
Soobin mengusap wajah Beomgyu begitu lembut menggunakan ibu jari miliknya. “Ayah sama Abang setuju tapinya?” tanya Soobin memastikan sebelum ia memberikan saran kepada Beomgyu yang saat ini sedang kalut dengan perasaan sedihnya. Beomgyu mengangguk kecil menjawab pertanyaan Soobin. “kalau menurutku, kamu boleh ambil aja tawaran dari pelatnas. Kenapa? Karena Ayah, Abang Yeonjun, dan aku juga percaya kalau kamu bisa sukses jadi atlet,” ujar Soobin begitu lembut. Kalimatnya ditemani oleh satu senyum yang dapat membuat hatinya terasa hangat. “aku yakin kalau Ayah sama Abang sekarang lagi berusaha buat bujuk Bunda kalau anak bungsunya pasti sukses sama pilihannya sendiri,”
Memiliki seorang Choi Soobin disampingnya benar-benar sebuah keajaiban. Kepribadian mereka berdua sangat bertolak belakang dan Soobin tidak ingin lepas dari Beomgyu meskipun ia begitu cengeng dan menyebalkan. Ia memeluk tubuh Soobin dengan erat dari samping, tidak ingin membuat Memi merasa sesak karena pelukan mereka berdua.
Soobin membalas pelukannya dengan hangat. Sudahkah Beomgyu bilang kalau pelukan Soobin terasa seperti pelukan yang sering diberikan Bunda kepadanya? Peluk yang terasa seperti rumah; membuat Beomgyu merasa aman di dalam rengkuhnya. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang Soobin jelaskan kepadanya. Untuk sekali ia menghela napas dalam-dalam sebelum melepaskan pelukan mereka berdua dan tersenyum kepada Soobin yang menatapnya dengan penuh cinta.
“Terima kasih sudah selalu dengerin ceritaku,” ujar Beomgyu tiba-tiba. Puncak hidungnya yang berwarna merah karena tangis membuatnya terlihat begitu lucu—menggemaskan. Soobin tergelak mendengarnya. “kamu kenapa malah ketawa begitu, Soobin?” ia kembali melanjutkan kalimatnya, kali ini ia bertanya karena kebingungan dengan respon yang diberikan Soobin kepadanya.
Soobin masih tertawa melihat Beomgyu yang kebingungan bukan main. Ia menggeleng, tangannya mengusap puncak kepala Beomgyu sebelum berpindah pada puncak hidung bulat Beomgyu. “Kamu lucu aja,” ujar Soobin begitu tulus. “aku bakalan selalu dengerin keluh kesah kamu sampai kapanpun; sampai kita berdua udah jadi orang sukses, kita berdua udah jadi sepasang kakek-kakek, atau sampai aku di alam baka pun aku bakal selalu dengerin keluh kesah kamu,” ujarnya lagi, Soobin terdengar begitu dewasa untuk anak seumurnya. “kamu juga harus inget kalau Bunda itu sayang kamu. Bunda begitu karena beliau khawatir sama kamu, bukan karena beliau nggak sayang sama kamu, ya?”
Beomgyu mengangguk kecil mendengar kalimat yang diucapkan oleh Soobin. Ia benar, bukan tanpa alasan Bunda melarangnya mati-matian. Ia pun tahu persis dengan apa yang akan dirinya alami jika ia tidak dapat mencapai tujuan utamanya: menjadi seorang atlet dengan karir gemilang. Ia mungkin akan berakhir sebagai mahasiswa biasa-biasa saja seperti yang diinginkan oleh Bunda atau bisa saja kehidupannya akan jatuh lebih parah. Belum lagi jika ia mengalami cedera—Beomgyu sangat paham jika hal ini yang membuat sang Bunda setengah hati mendukung Beomgyu sebagai atlet jika mengingat ia pernah melukai kakinya ketika Beomgyu kelas sebelas pada waktu itu; kakinya perlu dibopong dengan alat bantu karena sang lawan yang tidak satu level dengan dirinya.
Memi melompat dari pangkuan Beomgyu ketika Jungkook datang dengan tiga gelas jus mangga dan camilan ringan buatan Mama di atas piring besar. Laki-laki itu mengambil posisi duduk di depan samping Beomgyu, membuatnya terhimpit kedua adik-kakak yang sudah seperti keluarga untuknya itu. Memi kemudian kembali mendekat, kaki kecilnya melompat ke atas pangkuan Jungkook kali ini.
“Dasar,” omel Beomgyu ketika ia melihat bagaimana kucing abu-abu itu mengistirahatkan tubuhnya di atas paha Jungkook. “Kakak tumben banget repot-repot bikin jus mangga,” komentar Beomgyu ketika Jungkook sudah melihat ke arah mereka berdua dengan mata memicing.
“Maklumin aja, dia lagi jadi pengangguran,”
Komentar dari mulut Soobin mengundang satu pukulan di bagian belakang kepala dari tangan Jungkook. “Mata lu pengangguran,” gerutunya merasa tidak terima dengan apa yang disebutkan oleh sang adik. “gue itu cuma freelancer aja, bukan pengangguran,” lanjutnya mengoreksi statusnya sebagai pekerja lepas.
“Gak ada bedanya, sama-sama diem di rumah terus,” cibir Soobin kemudian membawa Beomgyu agar semakin mendekat ke arahnya; menjauhkan tubuh Beomgyu dari Jungkook yang juga terus-terusan mendekat. “jangan deket-deket Beomgyu!” seru Soobin ketika Jungkook terus menerus bergerak kala Soobin menarik tubuh Beomgyu.
Jungkook tertawa melihat reaksi yang diberikan oleh sang adik. “Posesif banget,” komentarnya lalu melihat ke arah Beomgyu yang juga tertawa melihat tingkah laku dua saudara di antara tubuhnya ini. “lu kenapa dateng-dateng nangis begitu kayak tadi?” kali ini pertanyaan ia berikan kepada Beomgyu.
Beomgyu menjelaskan seluruhnya kepada Jungkook sama seperti dengan yang ia ceritakan kepada Soobin; tentang resahnya dalam memilih jenjang karir ketika ia sudah berada di puncak masa sekolah menengah atas. Ia pun membicarakan tentang kekhawatiran Bunda dengan keputusan yang ingin ia ambil setelah berpikir panjang—Beomgyu pun berkata jujur kalau ia sedikit goyah ketika Bunda mengatakan kata tidak karena menurutnya, restu Bunda adalah hal paling penting di dunia.
Jungkook mendengarkan cerita Beomgyu dengan perhatian penuh, sesekali menyuruh Beomgyu untuk meminum jus buatannya. Kepalanya mengangguk-angguk paham ketika Beomgyu selesai menjelaskan ceritanya kepada Jungkook. “Gue bisa paham banget sama concern Bunda terlebih dulu lu itu pernah cedera parah. Concern-nya Bunda gak jauh beda sama punya Mama kayak waktu si bontot cedera juga pas SMP,” ujar Jungkook sembari menunjuk Soobin dengan jari telunjuknya. Laki-laki yang mengaku sebagai pekerja lepas itu kini mengubah posisi duduknya menjadi duduk menghadap ke arah Beomgyu dengan wajah super serius miliknya. Jarang sekali Jungkook memperlihatkan ekspresinya yang ini di depan Beomgyu dan Soobin. “tapi, orang yang support karir lu sekarang nambah satu sama gue. Kalau lu ada apa-apa di tengah perjalanan lu jadi atlet keren, lu boleh langsung kontak gue, oke?” ujar Jungkook menenangkan Beomgyu di akhir, ia memberikan senyumnya kepada dua insan yang sedang memperhatikannya dengan serius, seperti sedang Jungkook marahi saja.
Soobin tertawa ketika melihat sang kakak berusaha keras untuk menghibur Beomgyu. Ia tahu kalau tadi Jungkook begitu panik ketika memberitahunya kalau Beomgyu datang dengan hidung merah dan mata bengkak karena menangis. Ia pun berusaha keras membuat jus mangga dan cemilan rumahan—Soobin mengetahuinya kalau itu buatan Jungkook karena jika Mama yang memasak, penampilannya tak akan memprihatinkan seperti apa yang tersaji saat ini. Sang pemuda mengusap punggung Beomgyu sebelum berbisik, “ Told ya , ada banyak orang di belakang kamu. Kita semua selalu dukung kamu apapun jalan yang kamu pilih,” ujar Soobin lalu mengacak surai Beomgyu gemas.
Setelah melalui debat panjang, pada akhirnya Bunda memberi Beomgyu izin dengan Yeonjun merayunya tanpa henti selama satu minggu lamanya. Kali ini ia sudah menjadi salah satu atlet resmi negara; seorang pemula yang akan memulai debut -nya sebagai anggota tim inti pada acara olahraga nasional, PON yang akan dilaksanakan pada pertengahan tahun, ketika Beomgyu sudah lulus SMA.
Ia pun tinggal di sebuah asrama bersama rekan-rekannya yang lain, kembali tinggal jauh dari Soobin setelah tiga tahun kembali bersama-sama. Jadwalnya pun jauh lebih padat dari yang ia bayangkan; tidak seperti latihan biasanya bersama Minsu di sekolah dan juga padepokan tempatnya belajar terdahulu. Ia hanya dapat menghubungi Soobin di sela-sela waktu istirahat atau ketika proses latihan ketat sudah selesai dan ia sudah kembali ke dalam kamarnya.
Soobin pun sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ia diterima menjadi salah satu mahasiswa di salah satu universitas negeri dengan jurusan pilihannya. Soobin pun sama seperti dirinya, meninggalkan rumah demi menempuh studi. Keduanya tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk berduaan, tetapi mereka berdua selalu berjanji untuk berbicara dalam telepon atau telepon berbasis video dua minggu sekali. Terkadang mereka berdua selalu bernostalgia bagaimana keduanya juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan saat ini.
Kala itu keduanya masih belia, tidak begitu tahu kalau jarak benar-benar menyiksa; tak dapat bersentuhan, tak dapat menghabiskan banyak waktu, tak dapat bertemu tatap kini bagaikan neraka untuk Beomgyu dan Soobin.
Pesan-pesan yang mereka kirim selalu saja disisipkan dengan kalimat rindu, memperlihatkan kalau mereka berdua saling merindukan satu sama lain. Malam ini jadwalnya mereka berdua untuk melakukan video call setelah Beomgyu selesai dengan latihan malamnya.
Ketika ia sudah selesai membasuh tubuhnya dan membersihkan seluruh keringat mengalir di tubuh, Beomgyu segera memberi pesan kepada Soobin kalau ia sudah siap untuk bertemu dengan Soobin dan melepas rindu dengannya. Tak butuh waktu lama, hanya berjarak lima menit, Soobin sudah menghubunginya terlebih dahulu; membuat Beomgyu kelabakan dan merapikan diri satu kali lagi dihadapan cermin sebelum ia bertemu dengan Soobin.
“Hai,” sapa Soobin dari seberang sana. Ia terlihat begitu tampan dengan kaos putih kebesarannya—Beomgyu mengenali kaos besar yang saat ini sedang Soobin kenakan; kaos tersebut merupakan hadiah perpisahannya kepada Soobin ketika ia pergi untuk tinggal bersama para atlet lain di asrama. “baru selesai mandi banget?” Soobin bertanya dari sana, memperhatikan Beomgyu dengan seksama dari depan layar.
Beomgyu mengangguk pelan, mengakui kalau ia baru saja selesai mandi karena rambut basahnya terlihat jelas. Ia malas menggunakan pengering rambut sebelum berbicara panjang lebar dengan Soobin. “Aku habis mandi langsung chat kamu, gak nyangka kalau kamu bakalan langsung telepon aku,” ujar Beomgyu yang dibalas kekehan dari ujung sana. “kamu sudah mandi? Atau baru pulang juga?” tanya Beomgyu kemudian.
Soobin membetulkan letak kacamata yang bertengger pada hidungnya lalu mengangguk. “Aku sudah mandi,” jawab Soobin lalu menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar indekos yang sudah ia tempati selama dua bulan lamanya. “kalau pulang, sih, aku udah pulang dari tadi sore. Hari ini ada kelas yang batal jadinya aku lanjut beres-beres kamar aja,” lanjutnya menceritakan bagaimana harinya berlangsung. “kalau kamu gimana latihannya hari ini?”
Beomgyu tersenyum melihat bagaimana Soobin menyandarkan tubuh besarnya yang entah mengapa terlihat semakin besar—mungkin karena ia lihat di depan layar kamera—dan mengikuti tingkah sang kekasih; menyandarkan tubuhnya pada tembok. “Aku tadi pagi lari kayak biasanya terus beres-beres dulu juga kayak kamu, bedanya hari ini tuh laundry day dan malamnya aku baru latihan,” kali ini giliran Beomgyu yang menjelaskan tentang kegiatan yang dilaluinya selama satu hari. “pekan olahraganya sebentar lagi,” ujar Beomgyu begitu pelan tetapi dapat Soobin dengar.
“Kamu pasti bisa, Sayang,” ujar Soobin begitu lembut dari seberang sana. Suara laki-laki itu pun terdengar lebih berat dari terakhir kali Beomgyu mendengarnya. “kamu jangan lupa sama makan. Inget, ‘kan, kalau berat badan kamu turun lagi, nanti kamu nggak bisa tanding?” Soobin kembali mengingatkan Beomgyu kepada memori masa lalu ketika ia kehilangan berat badan ketika ia akan bertanding yang berakhir ia harus mundur karena tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan.
Beomgyu mengangguk-angguk, rambutnya yang setengah kering terlihat lucu di mata Soobin. “Mana mungkin aku lupa sama makan,” ujar Beomgyu lalu tertawa nyaring. “di sini makanku selalu diperhatikan meskipun bukan sama pemerintah,” lanjutnya lalu kembali tertawa; lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri karena merasa miris ketika mengingat cabang olahraga yang ia tekuni tidak begitu populer meskipun sering meraih prestasi di kancah nasional maupun internasional—yang berarti tidak memiliki dana yang cukup juga untuk memfasilitasi seluruh atlet dan sarana di padepokan.
Soobin mendesah pelan mendengarnya. Ia tahu bagaimana sulitnya Beomgyu dan kawan-kawan seperjuangannya untuk mendapatkan dana lebih. “Kalau bisa, aku udah kirim makanan buat kamu setiap hari,” ujar Soobin dengan nada sedih di setiap kata yang ia ucapkan.
Beomgyu kembali tertawa, kali ini ia merasa gemas karena melihat Soobin memajukan bibirnya dan memasang ekspresi sedih memperlihatkan perasaannya kepada Beomgyu. “Uang kamu lebih baik kamu simpen aja, Sayang,” ujar Beomgyu lembut, ia memajukan wajahnya ke dekat kamera lalu berbisik, “anak kos harus banyak hemat,”
Lagi-lagi Soobin mengeluarkan desah dari mulutnya; kali ini desahnya bukan desah prihatin melainkan khawatir ketika ia ingat kalau isi dompetnya sudah menipis mengingat sekarang sudah akhir bulan. “Iya juga. Pengeluaranku akhir-akhir ini lagi banyak banget deh heran,” gerutu Soobin lalu membawa dompetnya dari atas meja sana. Memperlihatkan seluruh isinya kepada Beomgyu; hanya tersisa satu lembar uang berwarna merah, satu lembar uang berwarna biru, dan dua lembar uang berwarna ungu. “uang cash aku di dompet tinggal segini. Kalau aku minta Mama atau Papa mereka pasti ngomel,”
Beomgyu terkikik mendengarnya. Keluhan-keluhan yang diberikan Soobin itu selalu terdengar lucu dan menggemaskan. “Kamu bisa minta ke Teteh,” ujar Beomgyu memberitahu Soobin yang tiba-tiba terlihat berbinar. “Teteh, ‘kan, manjain kamu banget,” lanjut Beomgyu yang langsung dapat anggukkan dari kepala Soobin di ujung sana. “atau aku juga bisa kirim kalau kamu kepepet. Aku tau banget kamu paling benci kalau aku kasih uang,”
Soobin menggoyangkan jari telunjuknya di depan kamera menandakan tidak setuju dengan kalimat terakhir Beomgyu. “Gak boleh. Pokoknya kamu gak boleh kirimin aku uang,” ujar Soobin dengan serius. Meskipun keduanya dipisahkan oleh jarak, Beomgyu dapat merasakan bagaimana hangat tatapan Soobin; ia merasa sedang dipeluk oleh kekasih sekaligus sahabatnya dari dekat. Ia dapat merasa seluruh beban yang sejak tadi menggerogoti tubuhnya kini terbang jauh menghilang dari tubuh Beomgyu.
Semuanya karena berbincang dengan Soobin, karena Soobin.
“Aku sayang kamu,” ujar Beomgyu tiba-tiba setelah hening menyelimuti mereka berdua. Air mata sudah nyaris jatuh di ujung mata ketika lidahnya ia gigit dengan gigi-giginya; menahan agar bulir-bulir kristal tidak jatuh dihadapan Soobin saat ini. “kamu kok gak jawab?” tanya Beomgyu ketika tidak ada jawaban dari ujung sambungan sana; Soobin terpaku di tempat duduknya.
Soobin mengerjap ketika mendengar pertanyaan Beomgyu. “Maaf, aku kaget. Tiba-tiba banget kamu bilang sayang?” Soobin dari ujung sana kini menatapnya penuh rasa khawatir; ia mendekat ke arah kamera, meneliti raut wajah Beomgyu dari jauh sana. “kamu gak apa-apa, Sayang?” tanya Soobin begitu khawatir dengan perubahan yang diperlihatkan oleh Beomgyu.
Beomgyu mengangguk kecil. “I’m okay, Sayang,” balas Beomgyu dengan senyum tipis menghiasi wajah rupawannya. “aku cuma seneng aja bisa bareng sama kamu sampai sekarang; didukung sama kamu dan dicintai sama kamu sebanyak ini,” ujar Beomgyu dengan senyum kembali menghiasi wajahnya.
Bukannya Beomgyu yang menangis karena sudah mengutarakan perasaannya, melainkan di sudut sana, Soobin menangis mendengar perasaan Beomgyu yang jarang sekali ia utarakan secara gamblang—karena menurut Beomgyu, Soobin akan langsung tahu dengan perasaannya hanya dengan melihat kedua matanya tanpa ia perlu mengatakannya dengan kata-kata yang menurutnya akan terdengar seperti bualan semata.
“Kamu kenapa nangis gitu?” Beomgyu bertanya dengan panik; matanya memperhatikan bagaimana Soobin telah berubah seperti anak kecil tersesat di pusat belanja—atau anak kecil kehilangan mainan kesukaannya. “Hei, Choi Soobin,” panggil Beomgyu satu kali lagi, menunggu jawaban dari Soobin yang tak kunjung datang karena ia terus menangis.
Soobin menggelengkan kepala lalu tertawa setelahnya, menertawakan diri sendiri. “Hahaha gak apa-apa,” ujar Soobin pada akhirnya menjawab suara panggilan dari Beomgyu yang tak kunjung berhenti. “aku cuma seneng aja denger gimana kamu ekspresikan perasaan kamu. Tumben banget kamu bilang gitu habisnya,” ujar Soobin setelahnya, melanjutkan kalimatnya yang pendek. “pasti susah, ya, di sana, sayang?” tanya Soobin di akhir kalimat yang ia tuturkan, tangannya mengusap pipinya yang sudah basah karena air mata.
Beomgyu tertawa melihat bagaimana Soobin berusaha keras untuk tidak menangis lagi. Ia mengangguk kecil menjawab pertanyaan Soobin; lagipula, tak ada gunanya juga jika ia berbohong di depan Soobin. Laki-laki itu dapat mengetahui Beomgyu bohong atau tidak hanya dari raut wajahnya saja. “Susah banget,” ujar Beomgyu lalu mengeluarkan desah pelan; ia pelan-pelan membuang beban yang terus menghantuinya akhir-akhir ini. “kita bukan cabor yang dapat subsidi besar dari pemerintah jadinya mau gak mau kita sendiri harus gocek kantong sendiri meskipun kamu tahu sendiri, ‘kan, kalau cabor ini udah nyumbang apa aja buat negara,” lanjut Beomgyu kembali mengeluarkan unek-uneknya kepada Soobin. “belum lagi beban yang ada di pundakku rasanya semakin berat; aku waktu sekolah sering nyabet emas dengan gampangnya tapi di sini udah beda lagi. Bahkan sekarang aku takut kalau skill aku sama sekali gak berkembang dan tersingkir di babak awal,” Beomgyu menutup wajahnya ketika ia menyelesaikan ceritanya kepada Soobin. Rasanya ia ingin menangis kencang sekarang juga.
“Kalau kamu mau nangis, nangis aja, Sayang. Aku temenin, kita nangis bareng-bareng,”
Kala sang kekasih menyelesaikan kalimatnya dari ujung sana, Beomgyu sudah tidak dapat berpura-pura dan menampung air matanya lagi. Ia berakhir dengan isak tangis memenuhi seluruh ruangan yang ia sebut sebagai kamar; ada untungnya hari ini teman satu kama Beomgyu berkata kalau ia akan izin untuk pulang ke rumah untuk mendatangi suatu acara. Beomgyu menangis sejadi-jadinya ditemani dengan Soobin yang terus-terusan memberikan kalimat afirmasi untuk Beomgyu. Hal yang Soobin lakukan kepadanya berhasil membuat Beomgyu jauh merasa tenang dan lega, kali ini ia sudah terlihat seperti makaron dengan dua mata bengkaknya.
“Harusnya kita gak video call hari ini,” ujar Beomgyu setelah ia merasa puas dengan tangisnya. “kamu jadi lihat aku nangis jelek kayak gini,” lanjut Beomgyu merasa malu karena sudah menangis di hadapan Soobin. Kalau boleh jujur, Beomgyu sangat tidak ingin Soobin melihat dirinya menangis—terlebih jika tangisannya bukanlah sebuah tangisan bahagia.
Soobin tergelak mendengarnya. “Pilihan bagus buat video call malam ini, ” ujar Soobin lalu mengusap layar menggunakan ibu jarinya. “aku seneng bisa lihat kamu keluarin semua unek-unek kamu,” lanjut Soobin tak lama kemudian. Ia dapat melihat bagaimana ekspresi Beomgyu yang terlihat lebih tenang, seperti Beomgyu yang ia kenal selama ini. “aku gak mau bikin waktu tidur kamu jadi berantakan lagi jadi kita udahin aja, ya, teleponnya? Besok kamu ada latihan siang, ‘kan?” Soobin tersenyum ketika selesai berbicara. Kepalanya sedikit ia miringkan, sebuah tanda jika ia merasa tidak pasti.
Beomgyu mengangguk kecil. “Besok aku ada latihan siang,” ucapnya mengulang kalimat Soobin, memberi konfirmasi kepada kekasihnya bahwa benar informasi yang Soobin dapatkan tentang jadwal latihannya. “minggu ini aku kebagian jadwal pulang. Kamu pulang juga, gak?”
Di seberang sana, Soobin memajukan bibirnya lalu menggeleng menjawab pertanyaan Beomgyu. “Minggu ini aku sibuk sama beberapa tugas kelompok, maaf kita belum bisa ketemu dulu,” balas Soobin menjawab pertanyaan Beomgyu yang juga terlihat sedikit kecewa.
Beomgyu tersenyum tipis, kemudian tertawa. “Jangan cemberut gitu, Soobsoob,” ujar sang tuan dengan tawa khasnya. “nanti kita bakalan ketemu lagi waktu kamu liburan kalau gitu. See you really soon, Soobie,” lanjut Beomgyu seraya melambaikan tangannya ke arah layar.
Soobin melakukan hal serupa dengan apa yang Beomgyu lakukan: melambaikan tangannya ke arah kamera dengan senyum lembut terukir di wajahnya yang begitu tampan. “See you really soon, Beomie, kalau ketemu nanti aku mau peluk yang erat,” ujar Soobin masih dengan tangannya yang melambai dengan semangat. “semoga malam peluk kamu dan bikin tidur kamu hangat. Have a good night, my Beomgyu.”
Beomgyu tersenyum, hatinya terasa penuh. Ia mengangguk lalu menjawab, “Have a good night, Soobin,” sebelum sambungan telepon mereka berdua terputus. Menyisakan hening di ruangan kecil mereka berdua.
Pekan dimana Beomgyu akan debut pada akhirnya telah tiba. Beomgyu termasuk ke dalam Kelas B dalam kategori tanding dewasa. Perjalanannya sebagai seorang debutan dapat dibilang cukup mulus ketika ia menyentuh babak empat besar— semifinal —dan saat ini ia tengah mempersiapkan pertandingannya di ruang tunggu; Beomgyu sedang menunggu gilirannya untuk maju dan melawan seorang senior yang tidak begitu asing baginya karena mereka sudah pernah bertemu ketika keduanya masih menyandang status sebagai seorang pelajar.
Soobin menunggu pertandingan Beomgyu berlangsung dari salah satu kursi penonton. Ia rela terbang jauh-jauh untuk memberi kejutan kepada Beomgyu karena ia tahu kalau momen ini merupakan momen penting bagi Beomgyu dan karirnya. Ia pun tidak sendirian di bangku penonton, melainkan bersama dengan Ayah, Bunda, dan juga Yeonjun yang sudah siap mendukung dan meneriakan nama Beomgyu keras-keras.
Soobin tidak dapat menonton Beomgyu dari babak pertama dikarenakan ia harus melalui sesi ujian terlebih dahulu satu minggu sebelumnya dan baru mendapat waktu luang ketika Beomgyu mencapai babak semifinal. Beomgyu tahu kalau seluruh keluarganya mendukung di atas tribun dari hari pertama tetapi ia sama sekali tidak tahu kalau Soobin pun datang untuk menontonnya karena ia tahu kalau Soobin begitu sibuk dengan kehidupannya sebagai seorang mahasiswa aktif dan Beomgyu pun mendengar kalau Soobin kembali bermain basket meskipun hanya sebatas bermain dengan klub kampusnya. Dan, sebelum keberangkatan Beomgyu dengan tim, Soobin sudah memberitahu Beomgyu kalau ia akan menonton lewat siaran langsung dari kamar kosnya.
Ini bukan kali pertama Soobin melihat bagaimana Beomgyu bergerak menyerang di atas matras dengan pelindung berwarna merah akan tetapi ini kali pertama Soobin melihat Beomgyu bertanding dengan begitu keren. Kata keren saja tak mampu untuk menjelaskan bagaimana teknik yang digunakan Beomgyu untuk melawan terlihat begitu indah bagi orang awam seperti Soobin dan mungkin bagi para penonton lainnya yang sama sekali tidak tertarik dengan cabang olahraga ini.
Soobin dapat melihat ada banyak sekali anak-anak yang menonton pertandingan Beomgyu. Ia pun dapat mendengar bisik-bisik para penonton membicarakan sang cinta; dimulai dari memuja teknik yang dimiliki Beomgyu, rumor tentang Beomgyu yang merupakan seorang dengan kemampuan luar biasa, rumor tentang Beomgyu merupakan salah satu dari tiga elit dalam kategori remaja, dan sampai membicarakan tentang rupa Beomgyu pun dapat Soobin dengar dari sekelilingnya.
Pertandingan berakhir dengan Beomgyu menang telak. Seluruh orang yang menonton memberikan tepuk tangan dan Yeonjun berteriak begitu kencang sampai-sampai Beomgyu melihat ke arah mereka dan membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Soobin berada di antara keluarganya dengan banner wajah Beomgyu dan tulisan penyemangat berwarna merah muda di tangan; sudah seperti mendukung idolanya saja.
—
Setelah diberikan waktu bebas oleh sang pelatih, Beomgyu segera berlari ke arah keluarganya yang juga menetap dalam satu hotel yang sama dengan yang ia tinggali bersama dengan tim. Ia memeluk satu-satu anggota keluarganya dan berhenti tepat di depan Soobin, menatap laki-laki yang lebih jangkung darinya itu dari atas kepala sampai ujung kaki; mata Beomgyu memicing ke arah Soobin dan tangannya memukul lengan kekasihnya di depan seluruh keluarganya. “Kamu ngapain ada di sini?” tanya Beomgyu yang membuat Yeonjun langsung menjitak kepalanya.
“Pacarnya dateng tuh sambut,” ujar Yeonjun lalu merangkul kedua orang tuanya di bahu. “Ayah, Bunda, ayo kita cari makan duluan, Abang laper,” lanjutnya lalu menarik Ayah dan Bunda pergi menjauh, memberi Soobin dan Beomgyu ruang untuk saling berekspresi.
Soobin tertawa ketika ia melihat Beomgyu perlu mendongak untuk menatapnya. “Dengerin apa kata Abang,” ujar Soobin sembari melirik punggung tiga orang yang sudah tak terlihat. “pacarnya jauh-jauh dateng nggak dapet peluk tapi dapetnya tinju?” ia melanjutkan dengan melebarkan kedua tangannya, meminta untuk Beomgyu peluk. “ Remember our promise, Beomgyu?”
Beomgyu kembali meninju lengan Soobin sebelum menghambur ke dalam pelukan hangat Soobin yang sudah lama sekali ia rindukan. Ia tidak ingat kapan terakhir kali mereka berdua berpelukan seperti ini. Mungkin ketika kelulusan? Atau ketika Beomgyu memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal di asrama? Atau mungkin ketika ia mengantar Soobin menuju bandara ketika Soobin akan memulai perjalanannya sebagai seorang mahasiswa?
Entah mengapa Beomgyu menangis ketika Soobin memeluknya erat. Begitu erat. Tangan besar milik Soobin mengusap-usap punggung Beomgyu dengan lembut dan membuatnya merasa tenang, aman, dan nyaman. Masih sama seperti dahulu . “ You did well, my Prince,” bisik Soobin seraya mengusap kepala bagian belakang Beomgyu menggunakan tangannya. “kamu tadi keren banget,” lanjut Soobin kembali menghujani Beomgyu dengan pujian. Ia tahu kalau Beomgyu sedang menangis di dalam pelukannya, maka dari itu Soobin memberikan banyak pujian kepada Beomgyu agar Beomgyu miliknya berhenti menangis.
Pelukan keduanya terlepas ketika Beomgyu membawa tubuhnya menjauh. Ia masih mendongak untuk melihat Soobin, kali ini tatapannya ditemani dengan seluruh wajah yang terlihat merah karena menangis. “Aku kira kamu betulan gak bisa datang,” ujarnya dengan suara sengau, terdengar sekali kalau habis menangis. “kamu juga gak kasih aku ucapan selamat sebelumnya so I thought you’re really busy with your exams,” lanjut Beomgyu lalu mengusap air mata miliknya sendiri di wajah. Matanya menatap ke arah Soobin dengan begitu bulat dan penuh binar.
Soobin tertawa, mengusap surai Beomgyu menggunakan tangannya. “Namanya juga, ‘kan, surprise, Sayang,” ujar Soobin begitu sabar. Ia kembali membawa Beomgyu ke dalam pelukan lalu memberi puncak kepala Beomgyu satu kecup dari bibirnya. “kerennya pacarku dapet medali. Good luck buat besok, ya? Aku bakalan teriak paling kenceng sampai kamu dapet emas!” lanjut Soobin seraya melonggarkan pelukan mereka berdua dan menatap Beomgyu dari jarak dekat. Ia bergerak lebih dekat sebelum mencuri satu kecup dari bibir Beomgyu. “sekarang waktunya makan dulu. Kamu ada makanan yang udah disiapin atau mau ikut makan sama kita, Sayang?” tanya Soobin setelah jarak mereka berdua kembali tercipta.
Beomgyu menjauhkan tubuhnya dari Soobin dan menatapnya dengan wajah sedih. “Aku udah ada makanan tapi aku mau makan sama kalian semua,” rengek Beomgyu sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Soobin.
Soobin kembali tertawa, sudah lama sekali ia tidak melihat bagaimana Beomgyu merengek seperti ini. “Kalau gitu aku kasih tau Abang kalau kita makan di kamar aja,” ujar Soobin lalu mengacak surai Beomgyu dengan gemas.
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar yang Soobin tempati dengan kedua tangan saling mengunci dan berayun dengan gembira. Merasakan setiap sentuhan yang sudah lama tak mereka rasakan; meluapkan perasaan rindu yang sudah tak terbendung dengan berpegangan tangan.
Keesokan harinya, Beomgyu berhasil mendapatkan emas.
Menjadi kekasih dari salah satu peraih medali emas PON membuat Soobin pun dibicarakan oleh orang-orang, terutama oleh para teman-temannya yang memiliki ketertarikan pada bidang olahraga. Temannya, seniornya, bahkan para juniornya—kali ini Soobin sudah memiliki junior—menyapanya dan menanyakan kabar tentang Beomgyu. Terlebih, sebentar lagi sudah akan diadakan ajang olahraga tingkat Asia Tenggara. Mereka begitu penasaran dengan apakah Beomgyu akan ikut bertanding sebagai perwakilan negara atau tidak karena rumornya Beomgyu akan mengambil rehat setelah menyabet medali emas lain dalam kejuaraan dunia dua pekan lalu.
Soobin pun sering mendapat pertanyaan tentang: bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih dari salah satu elit nasional; seorang atlet dengan prestasi mendunia seperti Beomgyu. Tak jarang juga ia bertemu dengan orang-orang yang memandang perbedaan karir yang mereka tempuh—Soobin sendiri belum berhasil lulus dari statusnya sebagai mahasiswa dan kini ia melatih di salah satu klub basket pada salah satu sekolah dasar swasta untuk memenuhi waktu luang miliknya.
Kalau ditanya ingin jadi apa, Soobin pun tidak tahu . Ia masih belum tahu ingin menjadi apa setelah dibombardir beribu pertanyaan tentang dirinya dan juga Beomgyu. Mereka selalu membandingkan Soobin dan Beomgyu dan hal tersebut cukup membuat Soobin merasa kehilangan kepercayaan diri yang selalu ia miliki. Ada banyak sekali kata andai di kepalanya.
Andai saja ia tidak cedera.
Andai saja jika ia melanjutkan basket ketika cederanya sudah pulih.
Andai saja jika ia menuruti saran Beomgyu.
Andai saja ia memilih untuk banting setir seperti apa yang Taehyun katakan.
Andai. Andai. Andai.
Ponselnya bergetar dari dalam saku celana, menandakan sebuah pesan baru datang. Ia merogoh saku menggunakan salah satu tangannya dan membawa benda pipih yang begitu penting untuknya itu dengan cepat; melihat bagaimana notifikasi dari Beomgyu telah masuk:
> I have a week break sebelum terbang ke Thailand. Boleh aku nginep di kos kamu?
> Sebetulnya aku udah ada di stasiun sekarang. Aku harus ke mana lagi, ya?
Beomgyu berada di sini. Beomgyu mendatanginya ketika Soobin memikirkan ribuan andai yang terus menerus memenuhi pikirannya. Dengan cepat ia segera membalas pesan Beomgyu dan menyuruhnya untuk duduk saja di stasiun karena ia akan datang menjemput. Soobin segera melompat dari atas kasur dan mengetuk pintu kamar teman satu indekosnya—Zhang Hao—dengan cepat.
“Ada apaan?” adalah kalimat yang keluar dari bibir Zhang Hao pertama kali ketika matanya bertemu dengan Soobin yang terlihat buru-buru di depan pintu kamarnya.
Soobin memasang senyum; memperlihatkan kedua lesung pipi untuk merayu si tetangga. “Gua pinjem mobil lu dong,” ujar Soobin seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Beomgyu tiba-tiba bilang dia udah ada di stasiun, mau gue jemput,” lanjut Soobin menjelaskan tujuannya meminjam kendaraan pribadi milik Zhang Hao.
Kedua mata Zhang Hao tiba-tiba melebar ketika Soobin menyebutkan nama Beomgyu. Meskipun ia tidak terlalu tertarik pada cabang olahraga pencak silat, ia mengenal siapa Choi Beomgyu karena sosoknya sedang ramai dibicarakan oleh banyak orang terutama oleh orang-orang di sekitar kampus mereka karena Beomgyu memiliki kekasih di sini—seorang mahasiswa yang cukup terkenal juga. “Demi apa? Terus dia mau ke sini?” Zhang Hao ikut-ikutan panik, ia masuk ke dalam kamar dan kembali dengan kunci mobil di tangan untuk ia berikan kepada Soobin yang setia menunggu.
Soobin mengangguk. “Iya, mau gua bawa ke sini dia,” ujar Soobin lalu mengambi kunci mobil dari tangan Zhang Hao. Melihat bagaimana kedua mata Zhang Hao berbinar membuat Soobin terkekeh melihatnya. “nanti gua kenalin lu berdua,” ujar Soobin lalu menggoyangkan kunci mobil di tangan tepat di depan mata Zhang Hao. “gua pinjem dulu ya, nanti bensin gua ganti,”
Zhang Hao menggelengkan kepalanya. “Gak perlu lu ganti juga gak apa-apa! Gua suruh anak-anak beresin kosan dulu sebelum lu balik, oke? Bawa dulu Beomgyu keliling dah nanti kalau udah dapet kode dai gua lu baru boleh balik,” ia kembali menyerocos—seperti biasa; mulutnya sudah seperti ibu-ibu.
Soobin tertawa selagi berjalan pergi menuju parkiran indekos mereka. Kalau boleh ia bilang, sebetulnya indekos yang Soobin huni selama ia menjadi mahasiswa tidak seperti kos-kosan biasanya, melainkan lebih terasa seperti rumah kontrakan kecil yang mereka bagi; terdapat empat orang penghuni termasuk dengan Soobin: Soobin, Zhang Hao, Sunwoo, dan Eunho. Selain Zhang Hao yang merupakan anak musik, mereka semua merupakan anak-anak pendidikan olahraga. Mereka pasti akan ribut ketika Beomgyu datang.
Soobin menyalakan mesin mobil milik Zhang Hao selagi ia mempersiapkan beberapa barang seperti dompet, ponsel, dan hal-hal penting lain dan melihat bagaimana Zhang Hao mengetuk pintu kamar seluruh penghuni indekos untuk membantunya bersih-bersih ruangan karena akan kedatangan tamu. Tepat sebelum Soobin akan berpamitan, salah satu dari mereka, Sunwoo, bertanya: “Demi apa lu Choi Beomgyu bakalan dateng ke kos kita?” ia bertanya dengan raut wajah tidak percaya. Dari sekian banyak orang yang mengenal siapa itu Beomgyu, Sunwoo adalah penggemar berat. Bahkan ia mengaku kepada Soobin kalau Sunwoo sering menonton pertandingan Beomgyu ketika mereka masih menjadi anak sekolah.
Soobin mengangguk menjawab pertanyaan Sunwoo. “Iya dia bakalan ke kos ini. Kayaknya mau gua bawa nginep juga,” jawab Soobin lalu melambai ke arah teman-temannya. “gua jemput anaknya dulu, ya, sori gak bisa bantu beres-beres,” lanjut Soobin seraya pergi menuju mobil berwarna merah nyentrik. Sayup-sayup ia mendengar suara Sunwoo berteriak: “Tenang aja bro! Gua dan yang lain jamin rumah aman waktu lu dateng. Makanan juga aman lu jangan beli lagi awas aja lu!” suaranya menggelegar sampai parkiran. Bahkan ia berlarian menyusul Soobin untuk membukakan pagar indekos mereka dengan wajah sumringah.
Soobin tergelak melihat tingkah laku teman-temannya; seluruh perasaan gundah yang sejak tadi menyelimutinya hilang begitu saja kala Beomgyu mengirim pesan dan respon teman-temannya yang tak ia sangka akan seperti ini—begitu antusias, melebihi dirinya.
Ia melajukan mobil nyentrik Zhang Hao menuju stasiun di daerah perkotaan sana, menjemput Beomgyu yang sudah menunggunya di sana untuk melepas rindu. Dengan sengaja ia memutar musik melalui akun Spotify miliknya yang sudah tersambung dengan mobil milik Zhang Hao karena mobil nyentrik tersebut merupakan mobil milik bersama jika masing-masing dari mereka saling membeli bensin untuk mobilnya agar tetap hidup.
Soobin memutar salah satu playlist yang dibuat oleh Beomgyu. Laki-laki itu menamai daftar musiknya dengan nama: Soobin in Beomgyu’s eyes yang di mana namanya begitu indah, sama seperti dengan sang pemilik daftar. Soobin menghabiskan waktunya di perjalanan dengan bersenandung mengikuti alunan melodi daftar lagu yang sudah ia ingat di luar kepala saking seringnya ia dengar di setiap momen hidupnya.
Tak terasa ia sudah sampai di tujuannya. Ia segera memarkirkan mobil merah tersebut sebelum bergerak ke dalam stasiun. Langkah kaki Soobin yang begitu panjang sangat cepat, nyaris tergesa karena ia tak ingin membuat Beomgyu menunggu lebih lama lagi—ia sudah membuat Beomgyu menunggu selama satu jam karena jalanan yang begitu macet. Kedua matanya berlarian mencari sosok Beomgyu yang sudah menunggu di dalam menurut informasi yang Soobin dapatkan dari Beomgyu ketika ia masih membelah jalanan.
Matanya membentuk dua buah bulan sabit kala berhasil menemukan sosok Beomgyu tengah duduk santai di salah satu kursi yang disediakan. Soobin berjalan mendekat dan menyentuh bahu Beomgyu ketika sudah berada tepat di belakang sang atlet.
Beomgyu merespon sentuhan di bahu miliknya dengan memutar tubuh dengan cepat karena terkejut bukan main. Ia sudah siap untuk memukul—atau menampar—orang asing yang menyentuh tubuhnya tanpa permisi. Tak ada pukul atau tampar dari sosok Beomgyu, melainkan sebuah pelukan hangat dengan kedua tangan bergelayut manja di sekitar leher yang lebih tinggi.
“I miss you,” bisik Beomgyu tepat di telinga Soobin. Ia berjinjit sedikit agar tubuhnya dapat memeluk Soobin dengan utuh; ia ingin membungkus Soobin di dalam pelukannya dan ingin membuat Soobin merasa hangat dengan pelukan yang ia berikan.
Soobin membalas pelukan Beomgyu dengan melingkarkan tangannya yang besar pada pinggang Beomgyu, membawa tubuh kecil—baginya, tubuh Beomgyu akan selalu terlihat ramping—Beomgyu agar mendekat ke arahnya. “I miss you too, Darling,” balas Soobin dengan bisik juga. Ia melepaskan pelukan mereka ketika menyadari ada banyak sekali pasang mata yang memperhatikan mereka berdua berpelukan di tengah-tengah stasiun. “ready for a short trip?” tanya Soobin ketika keduanya saling mengunci tatapan satu sama lain.
Kedua alis tebal Beomgyu bertaut kala kepala mungilnya bergerak miring kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar. “Emang kita gak langsung ke kos kamu?” ia bertanya, mengutarakan rasa penasarannya kepada Soobin.
Soobin membalasnya dengan tawa, kepalanya menggeleng kecil ketika tangannya mengambil alih koper besar Beomgyu. “Kita bakalan keliling dulu,” jawab Soobin lembut. “semua temen-temenku bilang kalau aku harus bawa kamu keliling dulu sebelum mereka selesai beresin kosan dan siapin makanan buat kamu. They will give you a welcoming party katanya,” lanjut Soobin menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi di indekos mereka. “three of ‘em are your fans, tau,”
Beomgyu tertawa mendengarnya. Ia beberapa kali mendengar tentang teman satu rumah Soobin ketika mereka berdua saling menelpon dan bertanya kabar satu sama lain. Tetapi, ia tak tahu kalau seluruh teman Soobin adalah penggemarnya; entah menjadi penggemar karena bakatnya dalam seni bela diri atau karena personanya sebagai publik figur di internet—kalau boleh jujur Beomgyu sudah seperti seorang atlet slash selebriti; tidak juga, lebih ke seorang influencer kalau ia harus berkata jujur. “Oh ya?” Beomgyu tak melepas pandangannya pada manik penuh binar Soobin, menatapnya membuat hati Beomgyu menghangat. “sekarang mau ke mana dulu kita kalau gitu?” ia menautkan kedua tangan miliknya di belakang tubuh dengan kepala bergerak mendekat ke arah Soobin; membuatnya terlihat begitu kecil dan menggemaskan.
Soobin mempelihatkan ekspresi berpikir miliknya sebelum menjawab: “Kita ke tempat-tempat yang suka aku datengin, yuk,” ujar Soobin yang langsung diberi anggukan dari kepala Beomgyu. “aku bawa mobil Zhang Hao, katanya kita nggak perlu peduliin bensin dia karena full tank,”
Beomgyu tergelak mendengarnya. Melihat tangan Soobin terulur maju, ia segera meraih uluran tangan Soobin dan menggenggamnya erat; sudah lama sekali sejak mereka berdua tidak berpegangan tangan, kalau tidak salah saat Soobin datang untuk menontonnya pada salah satu pertandingan. Dua tangan yang saling bertaut berayun ke depan dan ke belakang seirama selagi berjalan menuju parkiran dengan koper di tangan Soobin.
Tak peduli dengan seluruh mata tertuju pada mereka berdua.
Soobin membawa Beomgyu ke salah satu taman yang berlokasi tidak jauh dari sekolah yang ia ajar. Ketika sore mulai datang, akan ada banyak sekali orang-orang berdatangan untuk melakukan hal yang mereka inginkan seperti: bermain basket—Soobin mengenal beberapa pemain basket jalanan dan beberapa kali ia sering ikut bermain bersama mereka, mewarnai bersama, bercerita; ada seorang gadis yang gemar melakukan pertunjukan kecil dengan membacakan dongeng kepada anak-anak, dan berbagai hal lain yang membuat hati hangat jika hanya diperhatikan dari salah satu kursi di taman.
Sebelum mereka bergerak mencari tempat duduk di bangku taman, Soobin mengajak Beomgyu untuk membeli kudapan terlebih dahulu di toko kue kecil di seberang jalan. Soobin berkata kalau ia sering sekali mampir ketika datang ke daerah sini, hal tersebut dibuktikan dengan Ibu penjaga toko yang mengenali Soobin tanpa perlu memperkenalkan diri.
Beomgyu merasa takjub dengan apa yang baru saja ia lihat. Ada banyak sekali orang yang mengenal Soobin—dan juga dirinya—ia tidak menyangka kalau Soobin akan menjadi pribadi yang mudah akrab dengan banyak orang; ia masih ingat bagaimana khawatirnya Beomgyu ketika Soobin memberitahunya kalau Soobin akan pergi merantau untuk melanjutkan studinya. Beomgyu tahu jelas kalau Soobin terlampau pemalu dengan orang asing, terlebih sejak kejadian tidak mengenakan ketika SMA dahulu membuat Soobin menjadi sedikit memiliki jarak dengan orang baru.
Kala keduanya sudah mendapat tempat untuk beristirahat, Beomgyu menatap Soobin dengan kedua matanya. Tatapannya begitu hangat dan manis seperti madu. “Ternyata ada banyak yang kenal kamu, ya?” suara Beomgyu membuat Soobin menolehkan kepala dan membalas tatapannya.
Soobin tergelak, kepalanya menggeleng kecil. “Gak terlalu banyak juga,” ujar Soobin kala ia selesai tertawa. “kebanyakan dari mereka kenal karena kamu juga,” jawab Soobin dilanjuti dengan tawa.
Raut wajah Beomgyu berubah menjadi kebingungan ketika ia mendengar namanya disebut oleh Soobin dalam satu kalimat yang sama dengan orang-orang mengenal Soobin. “Karena aku?” tanya Beomgyu seraya menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk.
Soobin mengangguk, bibirnya mengulas senyum tipis. “Iya. Kebanyakan dari orang-orang yang aku temuin itu pada kenal aku sebagai pacarnya Choi Beomgyu. Gak semuanya, sih, cuma kebanyakan dari mereka tahunya begitu,” jawab Soobin membuat rasa penasaran Beomgyu berubah menjadi tidak enak.
“Maaf,” ujar Beomgyu begitu pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar oleh Soobin jika jarak duduk mereka selangkah lebih jauh. Soobin tidak bertanya melalui suara, ia hanya menatap Beomgyu dengan tatapan khasnya; bertanya menggunakan kedua mata. “kamu pasti ngerasa berat, ya, terus-terusan dikasih bayang-bayang sama sebutan pacarnya Choi Beomgyu,” lanjut Beomgyu menjelaskan apa maksud dari kalimat maaf yang ia sebutkan.
Soobin mengusap puncak kepala Beomgyu lembut, mengusap dari atas sampai pipi Beomgyu menggunakan jari-jarinya. “Aku bangga punya pacar keren kayak Beomgyu,” ujar Soobin lalu membawa jarinya menuju puncak hidung Beomgyu lalu mencubitnya ringan. “pacar keren kayak Beomgyu harus aku pamerin ke seluruh dunia,” Soobin melanjutkan kalimatnya lalu melebarkan kedua lengannya.
Beomgyu menghambur ke dalam dekapan Soobin dengan sukarela; menabrakkan tubuhnya dan membenamkan wajah rupawan miliknya pada ceruk leher Soobin. Hidungnya menghidu aroma minyak wangi yang masih tercium menggelitik hidung bangir Beomgyu. “Aku juga bangga punya pacar keren kayak kamu,” balas Beomgyu tidak mau kalah. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit untuk melihat Soobin dan tersenyum tipis; kedua matanya melirik ke arah kanan dan kiri sebelum bergerak cepat untuk mencuri satu kecup pada bibir penuh Soobin yang sudah lama tak bersentuhan dengan miliknya sendiri.
Getar dari ponsel Soobin membuat keduanya kembali dengan jarak masing-masing. Telinga mereka berdua mulai ditemani dengan semburat merah muda yang terlihat semakin gelap ketika Soobin dengan cerobohnya mencari ponsel yang Soobin simpan di salah satu saku celana.
“Anak-anak bilang kalau rumah udah siap,” ujar Soobin menatap Beomgyu kala selesai membaca pesan yang dikirimkan oleh Zhang Hao kepadanya. “mau langsung pulang dan ketemu sama temen-temenku?” sambung Soobin menawarkan dengan suara manisnya.
Beomgyu tertawa melihat tingkah manis Soobin yang tidak dapat ia lihat dari layar ponsel saja. Kepalanya mengangguk menjawab ajakan Soobin untuk segera mendatangi indekos Soobin dan bertemu dengan kawan-kawannya; kalau boleh Beomgyu jujur, ia benar-benar merasa gugup saat ini. Ia akan bertemu dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya bersama Soobin selama kurang lebih dua tahun—nyaris tiga tahun—setiap harinya. Bagaimana jika Beomgyu tidak mendapatkan kesan pertama yang baik di depan mereka semua? Apalagi tadi Soobin bilang kalau mereka semua adalah penggemar Beomgyu. Bagaimana jika ia tidak sesuai dengan ekspektasi yang terpatri pada pikiran teman-teman Soobin?
Soobin mencubit pipinya ketika melihat Beomgyu tidak menjawab secara lisan melainkan menatapnya begitu kosong—melamun. “Hei, semuanya nggak kayak yang kamu pikirin sekarang,” ujar Soobin mengelus pipi Beomgyu menggunakan ibu jarinya. “mereka bakalan suka sama kamu,” lanjut Soobin meyakinkan Beomgyu kalau teman-temannya akan menyukai Beomgyu.
Beomgyu mengangguk kecil. Ia percaya dengan Soobin.
Tahun ini merupakan musim pesta olahraga Asia Tenggara, atau biasa disebut dengan SEA Games; tahun ini pula Beomgyu akan melakukan penampilan keduanya pada pesta olahraga yang selalu ia nanti-nanti sejak ia masih menjadi atlet sekolah biasa-biasa; dua tahun yang lalu Beomgyu berhasil mendapatkan satu buah perak dan satu buah emas dari dua kategori. Latihannya pun semakin ketat namun tak begitu ketat seperti kali pertama Beomgyu bergabung dengan pelatnas. Kali ini ia diperbolehkan untuk pulang dua kali dalam satu minggu dan ia dapat bertemu dengan Soobin karena sang pujaan hati telah menyelesaikan studinya dan memilih untuk bekerja di sekolah lamanya—menjadi pelatih utama ekstrakurikuler basket atas usulan pelatih lama yang selalu menginginkan Soobin menjadi bagian dari tim sekolah.
Ia sudah menjadi salah satu dari banyaknya senior di sini. Ada banyak sekali juniornya yang berkata kalau mereka mendaftarkan diri ke padepokan masing-masing karena melihat Beomgyu dan para atlet lain bertanding di televisi. Setiap kali Beomgyu mendengar kalimat tersebut keluar dari juniornya, ia benar-benar merasa bangga dan hatinya terasa penuh ketika impiannya tercapai: ia ingin banyak orang lebih mengenal dengan seni bela diri yang sudah ia tekuni selama nyaris sepuluh tahun lamanya.
Sebelum ia terbang ke negeri tetangga bulan depan, Beomgyu memutuskan untuk datang ke sekolah lama dirinya dan juga Soobin untuk bertemu dengan guru-guru dan juga bersosialisasi dengan murid-murid yang saat ini tengah bersekolah di sana; ia ingin meminta doa dan restu kepada tempat yang sudah menjadikannya Beomgyu hari ini. Jika ia tidak memutuskan untuk bersekolah di sini, jika ia tidak bertemu dengan ekstrakurikuler pencak silat, jika ia tidak berkenalan dengan Minsu, Beomgyu tidak akan seperti sekarang.
Ia pun mendapat misi lain: mempromosikan pencak silat kepada murid-murid.
Beomgyu melangkahkan tungkai panjangnya memasuki lingkup sekolah dari pos satpam; ia dapat melihat kalau satpam sekolah mereka masih sama seperti apa yang ia ingat: Pak Hamin dan Pak Juni. Beomgyu tak lupa menyapa mereka berdua dan memberi keduanya sebuah pelukan hangat beserta hadiah kecil sebelum ia memasuki sekolah lebih dalam.
Beomgyu dapat melihat bagaimana Soobin sudah menunggunya di dekat gerbang dalam bersamaan dengan Minsu. Ia tidak tahu bagaimana mereka dapat berada di lingkup sekolah ketika siang hari, namun ia begitu senang ketika bertemu dengan keduanya di tempat yang begitu familiar. Rasanya, Beomgyu seperti kembali menjadi seorang murid SMA.
Beomgyu berpamitan dengan kedua satpam dan berlarian menuju gerbang dalam. Tangannya melambai dengan riang kala Soobin melambai terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk cepat datang karena para murid sudah berkumpul semuanya di aula sekolah; tempat di mana Beomgyu akan berbicara panjang lebar menceritakan pengalamannya ketika belajar di tempat ini sampai dengan titik di mana Beomgyu menjadi seseorang dengan karir cemerlang.
“Maaf tadi habis ngobrol dulu di pos satpam,” ujar Beomgyu ketika sudah berada di hadapan dua orang penting di hidup Beomgyu. Ia kini menghadap ke arah Minsu dan memberi seniornya berupa pelukan hangat dan erat sebelum ia kembali berujar: “Kak Minsuuuu! Apa kabar? Udah ketemu sama murid yang bisa jadi the second Beomgyu, belum?” godanya lalu membawa mereka berdua masuk bersamanya; melangkah bersama menuju aula membuat Beomgyu merasa lebih tenang. Sebelumnya ia merasa gugup karena ia akan bertemu dengan banyak sekali anak di bawah umur dan ia takut kalau tingkah lakunya atau tutur katanya akan membawa pengaruh buruk kepada mereka.
Beomgyu dapat mendengar bagaimana Minsu tergelak ketika pertanyaannya keluar dari mulut Beomgyu tanpa aba-aba. Minsu yang sudah seperti kakaknya itu menggelengkan kepalanya. “Gak akan ada lagi the second Beomgyu karena Beomgyu cuma ada satu,” balas Minsu lalu tertawa.
Soobin ikut tertawa ketika menuntun mereka berdua ke dalam aula yang sering menjadi tempat bermain Soobin sekarang. Ia melihat bagaimana Beomgyu dan Minsu saling bertanya tentang kabar masing-masing dan ketika berpapasan dengan guru yang akan ikut menuju aula pun mereka akan berbincang sebentar sebelum berjalan berdampingan.
Tepuk tangan meriah terdengar di telinga Beomgyu ketika Beomgyu membuka pintu aula dan membiarkannya untuk masuk terlebih dahulu. Beomgyu terkejut bukan main karena mendapat sambutan yang luar biasa dari seluruh anggota sekolah; ia dapat menemukan beberapa wajah familiar di dalam sana—ternyata si jahil Huening Kai juga ada di dalam aula; kali ini laki-laki jangkung itu berdiri berdampingan dengan wali kelas mereka dahulu, Chanmi, yang masih terlihat begitu cantik meskipun sudah bertambah usia.
Selagi menunggu pidato sang kepala sekolah selesai, Beomgyu berjalan ke arah barisan guru-guru dan berdiri tepat di sebelah Huening Kai. Tubuh Beomgyu dengan sengaja menyenggol lengan atas Huening Kai pelan, membuat mereka berdua bertemu tatap. “Gak pernah kebayang kalau lu jadi guru,” bisik Beomgyu kepada Huening Kai yang tak jauh lebih tinggi dari tubuhnya.
Huening Kai terkikik mendengar kalimat yang keluar dari bibir Beomgyu. Ia membiarkan kepalanya menggeleng kecil. “Gue juga gak nyangka kalau gue bakal jadi guru,” bisik Huening Kai seraya mendekatkan wajahnya ke arah telinga Beomgyu. “mana di sekolah ini lagi ngajarnya,” lanjut Huening Kai yang membuat Beomgyu tergelak.
Percakapan mereka berdua terinterupsi oleh suara sang kepala sekolah yang tak tahu siapa namanya—diganti tahun lalu, kalau mendapat informasi dari Soobin—memanggil nama Beomgyu untuk segera maju dan berbicara di depan publik; lebih tepatnya di depan anak-anak.
Soobin memperhatikan bagaimana punggung Beomgyu terlihat begitu lebar dan kokoh kala ia menaiki panggung kecil yang telah disediakan; membuatnya menjadi sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Telinganya dimanjakan oleh suara Beomgyu yang begitu manis untuknya dan dibumbui dengan humor khas sang tuan yang tak pernah berubah sejak mereka berdua kecil. Humornya yang menarik dan cara berbicaranya yang elok membuat semua orang terfokus kepada Beomgyu tanpa kecuali; tak ada yang mengantuk karena bosan.
Beomgyu pun membuat sesi tanya dan jawab di tengah-tengah pidatonya, membuat beberapa murid maju ke depan dengann iming-iming hadiah: sebuah foto bersama dengan tanda tangan di ujung—sebuah impromptu karena Beomgyu tidak memikirkan hal ini sebelumnya.
Soobin tak melepaskan senyumnya dari awal Beomgyu berbicara. Bahunya dicolek dari arah kanan dan membuatnya menoleh ke arah kanan, menemukan Huening Kai yang mengerling jahil kepadanya. “Keren, ya, laki lu,” bisik Huening Kai kepada Soobin.
Soobin tertawa lalu mengangguk. “Paling keren,” balasnya dengan begit bangga. Jika bisa dibilang, Soobin adalah manusia di bumi yang paling bangga karena dunia memiliki Beomgyu. “paling ganteng juga,” lanjut Soobin ketika Beomgyu menoleh ke arah mereka berdua.
“Ye bucinnya kelihatan banget,” komentar Huening Kai. “ada tips gimana hubungan lu bisa awet?” tanya Huening Kai begitu penasaran. Ia tidak menyangka kalau hubungan Soobin dan Beomgyu akan tetap berjalan tanpa ada banyak drama meskipun keduanya berada di dalam hubungan jarak jauh untuk waktu yang cukup lama.
Soobin menatap punggung Beomgyu lurus; matanya terkunci pada sosok Beomgyu, menatapnya lamat-lamat. “Tipsnya cuma percaya dan komunikasi,” jawab Soobin dengan senyum paling tulus dan lebar yang pernah Huening Kai lihat selama ia mengenal Soobin.
Energi sosial Beomgyu benar-benar habis setelah berinteraksi dengan ratusan orang di sekolah sejak pagi tadi. Kali ini ia sudah menidurkan tubuhnya di atas ranjang milik Soobin—mereka berdua sudah kembali dari sekolah dan memutuskan untuk beristirahat di unit apartemen milik Soobin.
“Kamu mau makan malam apa?” tanya Soobin dari luar sana, suaranya terdengar seperti berteriak agar Beomgyu dapat mendengarnya.
Beomgyu terlihat berpikir. Memutuskan akan makan malam apa saja ketika sedang diet ketat membuatnya ia harus berpikir seratus kali terlebih dahulu sebelum mengisi perutnya. “Karena hari ini cheating day aku mau makan semua yang bisa kamu buat,” ujar Beomgyu sama kencangnya; ia begitu malas untuk bangkit dari posisinya karena ranjang tidur Soobin terlampau nyaman untuk ia tempati. “kamu masaknya nanti aja, aku mau pelukan sama kamu,” lanjut Beomgyu kembali berteriak, lebih kencang dari sebelumnya.
Tak lama dari suara Beomgyu terdengar, Soobin muncul di depan pintu sudah lengkap dengan apron memeluk tubuh besarnya. “Kamu mau apa barusan?” tanya Soobin mengkonfirmasi apa yang baru saja ia dengar. Tidak jarang Soobin merasa terkejut atau tidak percaya ketika Beomgyu meminta sesuatu yang jarang sekali ia minta karena gengsinya yang cukup tinggi.
“Aku mau pelukan,” Beomgyu mengulang permintaannya kepada Soobin, matanya menatap Soobin yang tidak bergerak dari tempatnya; benar-benar mematung melihat Beomgyu yang enggan meninggalkan ranjang nyaman milik Soobin. “sini dong, Sayang, pelukan sebelum aku pergi lagi,” ujar Beomgyu seraya menepuk ranjang yang diselimuti oleh sprei berwarna hitam dua kali, mengundang Soobin untuk ikut berbaring bersamanya.
Soobin melepas apron yang memeluknya dan menggantung apron coklat itu di atas gantungan dekat pintu kamar. Tak lama kemudian ia segera menyusul Beomgyu untuk berbaring dan memeluk Beomgyu begitu erat; melingkarkan tangannya pada tubuh bagian atas milik Beomgyu dan membawa wajah sang atlet ke arah dadanya.
Beomgyu tersenyum seraya menutup kedua matanya, merasakan hangatnya pelukan Soobin. Ia pun mengeratkan pelukan mereka berdua dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Soobin—ia tak tahu sejak kapan Soobin menjadi besar seperti ini. Tangannya juga melingkar di pinggang Soobin erat-erat, mengusap punggung lebar Soobin menggunakan tangannya. “Soobin,” panggil Beomgyu seraya mendongakan kepalanya menatap Soobin dari bawah.
Soobin menundukan kepala, membuat mereka berdua saling bertatapan; kedua mata mereka saling mengunci satu sama lain dan enggan untuk melepaskan tatapan yang terasa begitu intens. “Iya, Sayang?” tanya Soobin pada akhirnya, setelah hening menyelimuti keduanya dengan hangat.
Beomgyu menarik kedua bibirnya ke atas, mengulas senyum cantik untuk Soobin. “Thank you for staying with me,” ucap Beomgyu tulus. Suara sang tuan terdengar pelan namun lembut di telinga Soobin, matanya menatap lurus ke arah manik legam milik Soobin, berusaha untuk menguncinya kuat-kuat dan Soobin hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Beomgyu kepadanya. “and loving me too,” lanjut Beomgyu lalu bergerak mendekat meskipun keduanya sudah tak memiliki jarak apapun; kepalanya bergerak naik untuk mencuri kecup pada bibir Soobin. Begitu singkat, tak lebih dari satu detik lamanya.
Soobin tersenyum melihat tingkah Beomgyu. Ia mengusap pipi Beomgyu lalu membawa dagunya agar kembali menatap wajahnya. “Aku yang seharusnya bilang terima kasih,” ujar Soobin lalu membiarkan ibu jarinya mengusap bibir Beomgyu pelan. “terima kasih karena kamu selalu ada di sisi aku setiap aku lagi ngerasa kurang,” Soobin memperlihatkan kedua lesung pipinya selagi mengusap pipi dan pinggang Beomgyu dengan gerakan yang sama. “I love you, Beomgyu,” bisik Soobin seraya membawa wajah miliknya dan menaruh bibirnya tepat di pipi Beomgyu. “kamu ingat waktu pertama kali aku cium pipi kamu?” tanya Soobin setelah mengembalikan jarak mereka.
Beomgyu mengangguk. “Aku inget,” jawabnya singkat sebelum melanjutkan, “aku juga inget itu jadi pertama kalinya bibir aku cium orang selain Ayah dan Bunda. Habis itu Abang ngira aku demam karena mukaku yang merah,” lanjut Beomgyu lalu tertawa ketika mengingat memori keduanya di masa lampau.
Soobin tertawa mendengarnya. Kalau diingat lagi, kisah mereka terdengar seperti sebuah drama panjang dengan genre romansa dan komedi kesukaan Yeonjun. Terlebih, status mereka yang berasal dari teman masa kecil menjadi teman hidup membuat kisah mereka terasa semakin lengkap.
Soobin kembali membawa Beomgyu ke dalam rengkuhannya untuk waktu yang singkat. Setelah memberi sedikit jarak untuk keduanya saling menatap satu sama lain dengan hening bersama mereka; bukan sebuah hening yang dapat membuat canggung tetapi hening yang membuat mereka berdua terasa begitu nyaman seperti berada di dalam rumah yang hangat.
“Boleh aku cium kamu?” tanya Soobin meminta izin Beomgyu untuk mencium sang tuan. Matanya menatap lurus pada kedua kelereng indah Beomgyu dan mencari-cari jawaban yang ingin sekali ia dengar: sebuah izin dari Beomgyu untuk menciumnya.
Beomgyu tertawa seraya menganggukan kepalanya kepada Soobin. “Tentu saja,” jawab Beomgyu memberikan izinnya kepada Soobin. “kamu boleh cium aku sebanyak yang kamu mau.”
Setelah mendapat izin dari Beomgyu ia segera membawa wajah mereka berdua mendekat dan memberikan Beomgyu sebuah ciuman yang akan diingat selalu oleh sang atlet sama seperti dengan ciuman pertama mereka berdua. Bibir keduanya saling beradu dan meraup; meraih satu sama lain melepas rindu dan mengisi kembali energi mereka berdua sebelum melakukan hal lain yang akan membuat keduanya semakin hangat dan erat.
Beomgyu dan Soobin sudah siap untuk menyambut bagian baru di kehidupan mereka berdua.
Bahagia, bersama-sama. Untuk selamanya.
