Work Text:
“Hei, kenapa kamu main sendirian di sini?”
“Hm? Tentu karena mereka takut padaku.”
“Takut? Kenapa?”
“Mereka takut menjadi aneh karena bermain dengan anak aneh sepertiku. Padahal kalau mereka cukup pintar, mereka akan sadar kalau ucapan itu adalah omong kosong.”
“Begitukah? Kamu enggak kesepian?”
“Tidak. Sejak awal aku selalu sendirian, jadi aku gak mungkin kesepian ‘kan?”
“Hmm. Kamu aneh.”
“Tidak masalah, itu bukan pertama kalinya orang berkata seperti itu padaku.”
“Kamu mau aku temani bermain?”
“…. Mau.”
“Kalau begitu, mulai saat ini, kita berteman. Siapa namamu?”
“Kamishiro… Rui.”
“Senang bertemu denganmu, namaku Kusanagi Nene.”
~***~
Rui berlari keluar kelas begitu dosen kalkulusnya berkata bahwa kelas hari ini telah berakhir. Tidak, dia bukan kebelet ke toilet, tetapi ia punya janji untuk menonton film bersama teman masa kecilnya, Kusanagi Nene.
“Lho, Rui? Kenapa lari-lari seperti itu?”
Pria bersurai ungu itu menghentikan larinya ketika berpapasan dengan seorang perempuan berambut pink muda. “Ah, Mizuki. Untung aku bertemu denganmu. Aku butuh bantuan.”
Perempuan yang dipanggil Mizuki itu mengerjapkan bola matanya beberapa kali. “Oya? Tumben banget kamu minta bantuanku. Ada hal penting apa nih?”
“Aku ada janji bersama Nene sore ini, dan aku ingin kamu membantuku memilihkan pakaian. Gimana? Apa kamu keberatan?”
Mizuki mengenyir lebar. “Owalah ternyata kamu mau pergi kencan. Baiklah, serahkan padaku! Ayo kita hunting pakaian terbaik untukmu!”
“Hunting? Tidak, maksudku tolong bantu pilihkan pakaian dari lemari bajuku-”
“Tidak, tidak. Kamu gak boleh pake baju yang ada di lemarimu. Haah, Rui, kamu adalah sahabatku, tapi harus kutegaskan, kalau kamu itu gak punya fashion sense sama sekali. Jadi kamu diam saja dan serahkan urusan pakaian kepadaku.”
Rui mengusap belakang kepalanya malu. “Gaya berpakaianku tidak seburuk itu, kok.”
“Aku gak nerima alasan. Ngomong-ngomong, jam berapa kalian janjian nontonnya?”
“Jam setengah tiga, masih ada sekitar dua setengah jam lagi.”
“Oke, itu lebih dari cukup! Nah, ayo kita berangkat! Setelah ini aku jamin Kusanagi-chan akan jatuh cinta padamu!”
Rui merasakan pipinya memerah. Yah, bukan rahasia lagi kalau dirinya memendam perasaan kepada teman masa kecilnya.
Kusanagi Nene adalah orang asing pertama yang menerima Rui. Sebenarnya Rui sudah terbiasa sendirian. Orang-orang disekitarnya selalu mengatainya “aneh”, dan Rui tidak bisa menyalahkan mereka. Tidak semua orang terlahir dengan kreativitas dan kapasitas otak yang cukup untuk menciptakan hal-hal menakjubkan. Rui menyadari bahwa dirinya dianugrahi dengan kemampuan berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Gerigi-gerigi di otaknya tak pernah berhenti berputar untuk menghasilkan berbagai ide baru, dan jari-jari tangannya tidak bisa diam dan selalu gatal untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Jika bayaran untuk semua itu adalah dengan tidak memiliki teman, maka Rui merasa itu bayaran yang cukup adil.
Tetapi Kusanagi Nene berbeda. Gadis itu yang pertama kali mendatangi Rui, mengulurkan tangan kepada dirinya, dan menariknya keluar dari lubang bernama “kesepian”. Di hari Nene menawarkan diri untuk menjadi teman bermainnya, Rui langsung menangis. Barulah ia sadar, kalau ternyata selama ini dia sangat menginginkan sesosok teman. Orang yang mau menerima dirinya. Orang yang tidak menganggapnya aneh. Mungkin saat itu jugalah Rui jatuh hati pada Nene.
“Hoi, ngapain melamun? Waktu kita gak banyak ‘lho!”
Panggilan Mizuki membuat Rui tersadar dari lamunannya. “Ah, maaf!”
Rui mengembuskan napas. Hari ini, ia berencana untuk mengungkapkan perasaan yang telah ia simpan selama 15 tahun ini kepada Nene. Rui tidak berharap Nene membalas perasaannya, akan tetapi ia harap Nene tidak akan pergi meninggalkannya setelah tahu perasaan Rui yang sesungguhnya.
Kumohon, semoga hari ini berjalan lancar, gumamnya dalam hati sebelum berlari menyusul Mizuki ke area parkiran.
~***~
Mizuki sialan, tidak hanya memilihkan pakaian untuknya, gadis itu juga memaksa untuk menata rambutnya. Alhasil, ia terlambat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Rui memacu kakinya dan berlari dari stasiun ke gedung bioskop tempat mereka janjian. Begitu ia memasuki gedung bioskop, matanya melirik kesana kemari, berusaha menemukan Nene dari antara kumpulan manusia.
Tak jauh dari poster film Spongebob, yang tak lain adalah film yang akan mereka tonton, Rui dapat melihat sesosok perempuan berambut hijau keabu-abuan yang dikuncir ekor kuda, sedang berdiri sembari fokus menatap ke ponsel di tangannya. Walau gaya berpakaiannya sedikit berbeda dari biasanya, tapi Rui langsung dapat mengenali gadis tersebut, yang tak lain adalah orang yang ia cari.
“Nene!” panggil Rui keras sembari berlari menghampiri gadis itu. “Maaf, aku terlambat.”
Gadis yang dipanggil Nene itu menggembungkan sebelah pipinya dan menatap Rui sambil cemberut. “Tumben banget kamu telat, biasanya kamu selalu datang 15 menit lebih awal.”
“Maaf, tadi aku kelamaan memilih pakaian.”
Rui merasakan Nene menatapnya dari atas ke bawah, dan dalam hati ia berdoa semoga penampilannya tidak terlihat berantakan akibat berlari-lari tadi.
“Kamu beli baju baru? Aku gak pernah melihat pakaianmu ini sebelumnya.”
Rui kemudian menatap dirinya sendiri. Sebuah kemeja hitam yang dipadukan dengan outer berwarna biru gelap dengan kerah berwarna merah maroon, ditambah sebuah dasi berwarna oranye serta sepasang celana berwarna coklat tua. “Iya, Mizuki membantuku memilihkan pakaian tadi, sekalian aku mau mencoba style baru. Kamu suka?”
Nene tersenyum. “Akiyama punya selera yang bagus. Kamu terlihat lebih keren.”
Kalimat pujian dari Nene membuat Rui merasakan dirinya terbang hingga ke planet Mars. “Kamu juga manis banget hari ini, Nene. Fufufu, kalau dilihat-lihat pakaian kita seperti pasangan ya, sama-sama nuansa coklat.”
Gadis itu memutar bola matanya, tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman kecil. “Gak usah gombal. Ayo kita masuk ke dalam. Tiketnya udah kubeli karena kelamaan nungguin kamu.”
Sudut hati Rui berteriak kecewa dikarenakan reaksi Nene yang tidak seperti diharapkannya. Yah, mungkin inilah rintangan terbesar dari menyukai seorang teman semasa kecil. Tapi tidak apa, Rui masih punya banyak waktu. Lebih baik ia memfokuskan diri menonton film Spongebob yang sudah lama ia nantikan. Untung saja Nene mau menemaninya nonton, sehingga ia tidak perlu menonton film anak-anak ini sendirian.
“Aku masih enggak ngerti kenapa kamu begitu suka sama kartun seperti ini,” ucap Nene ketika mereka telah duduk di dalam studio bioskop.
Rui membalas dengan cengiran lebar. “Nene, tidak ‘kah kamu berpikir konsep dari Spongebob ini begitu unik? Cara penyampaian humor dari sebuah spons yang tinggal di dalam air, walau kita tahu bahwa spons sebenarnya bukanlah makhluk hidup yang dapat bergerak bebas seperti itu. Bahkan mereka tidak punya mata, mulut, ataupun organ reproduksi, tetapi mereka tetap termasuk dalam kategori hewan dalam klasifikasi makhluk hidup.”
Rui kemudian menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak berceloteh. Ia mengusap belakang kepalanya dengan malu. “Ah, barusan aku kelepasan, ya? Maaf ya, Nene.”
Namun Nene malah menelengkan kepalanya ke samping. “Kenapa minta maaf? Aku senang kok mendengarkanmu berbicara seperti tadi.”
“Ahaha, begitu ‘kah? Terima kasih.”
“Hei, ada apa denganmu hari ini? Tidak biasanya kamu bersikap malu-malu di depanku.”
Rui menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak kok, tidak ada apa-apa.”
Reaksi Rui tersebut membuat Nene semakin mencurigainya, namun memutuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh. “Ah, filmnya udah mau dimulai,” ucap Nene mengakhiri pembicaraan.
Rui mengulum senyum. Nene memang orang yang hebat, bisa langsung menebak kalau ada yang salah dari dirinya hari ini. Mungkin memang sebaiknya Rui tidak usah menyatakan perasaannya, dan membiarkan hubungannya dengan Nene berjalan sebagai sahabat saja. Bagaimanapun, Rui tidak mau Nene pergi dari sisinya.
“Rui,” panggilan lembut, serta telapak tangan Nene yang menggenggam tangan kanannya membuat tersadar dari pikiran negatifnya, “kamu beneran gak apa? Kita bisa pergi ke tempat yang lebih sepi kalau kamu butuh privasi untuk bercerita.”
Rui tersenyum kecil, walau ia ragu Nene dapat melihatnya dikarenakan penerangan dalam studio ini telah dimatikan. “Aku baik-baik saja kok.”
Nene menatapnya selama beberapa saat, sebelum kembali fokus ke arah layar. Akan tetapi, tangan gadis itu masih setia menggenggam telapak tangan Rui, seakan memberitahukan bahwa ia siap kapanpun Rui membutuhkan dirinya. Maka Rui balas menggenggam tangan mungil Nene, dan mencoba untuk memfokuskan dirinya ke film yang tengah diputar.
Apapun jawabanmu nanti, aku hanya berharap kalau kamu tidak akan menginggalkanku, Nene.
~***~
“Fufufu, bagaimana menurutmu filmnya, Nene?”
Nene meregangkan tubuhnya sebelum menjawab, “Tidak buruk untuk ukuran kartun anak-anak. Yah, walau bagian awalnya sedikit membosankan. Bagaimana denganmu? Kamu menikmatinya?”
Wajah Rui tampak berseri-seri. “Sangat! Terima kasih udah nemenin aku, Nene. Ah, kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum pulang?”
Gadis itu mengecek jam di ponselnya sebelum menanggukkan kepalanya. “Oke, sudah hampir jam makan malam juga. Kita mau kemana?”
“Aku tahu sebuah kafe tak begitu jauh dari sini. Tempatnya tidak terlalu ramai, jadi kamu gak perlu khawatir.”
“Begitukah? Oke, ayo kita kesana.”
Nene melingkarkan tangannya di lengan Rui, dan Rui merasakan jantungnya memompa darah lebih cepat. Memang ini bukan pertama kalinya mereka berjalan bergandengan, tetapi karena hari ini Rui telah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Nene, entah kenapa ia merasa sangat gugup. Dari jarak sedekat ini, samar-samar ia dapat mencium aroma wangi dari parfum yang gadis itu kenakan, dan itu memabukkannya.
“Sebenarnya aku ingin bertanya ini tadi,” Nene memulai pembicaraan, “tumben banget kamu mengikat rambutmu? Terakhir aku melihatmu ngikat rambut seperti itu ketika kita SMP.”
Refleks Rui menyentuh rambutnya yang ia kucir -tidak, tepatnya yang dikucir oleh Mizuki. “Ah, ini? Tidak ada alasan khusus sih, aku hanya ingin terlihat lebih rapi saja.”
“Nah itu dia. Tumben banget kamu peduliin penampilan? Biasanya kamu selalu cuek soal itu.”
Rui tertawa canggung, tidak mungkin dia bilang dia ingin tampil keren di hadapan Nene karena dia berencana untuk menyatakan perasaannya. “Kamu gak suka?” alih-alih alih menjawab, Rui malah melontarkan pertanyaan.
Gadis itu tertawa kecil, dan mengeratkan lengannya. “Aku suka kok,” jawabnya sambil tersenyum, dan rasanya Rui mau pingsan. Bagaimana bisa ada perempuan secantik Nene di dunia ini?! Ah, Nene pasti bukan manusia, melainkan sesosok dewi dari khayangan. Tidak, bahkan mungkin para dewi pun masih kalah cantik dibandingkan gadis pujaannya ini.
“Oh? Apa kafe itu yang kamu maksudkan?” tanya Nene sambil menunjuk ke seberang jalan.
Rui memicingkan matanya dan membaca papan bertuliskan Sekarsa Café. “Iya. Itu tempatnya. Ayo kita menyebrang.”
Dengan hati-hati, mereka menyebrangi jalan dan masuk ke dalam kafe tersebut. Indra penciuman Rui langsung disambut dengan aroma kopi yang menyebar di seluruh ruangan, dan ia langsung merasa rileks. Interior kafe ini juga terkesan minimalis, dengan beberapa pot tanaman kecil menghiasi sudut-sudut ruangan. Tempat yang cukup bagus untuk menyatakan cinta.
“Interiornya bagus, ya. Kamu memang pandai memilih tempat-”
“Are? Nene-chan dan Rui-kun??”
Baik Nene dan Rui langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan mereka bertemu pandang dengan seorang perempuan mungil berambut pink dengan wajah imut kekanakan, sedang duduk di meja tak jauh dari pintu masuk. Di seberang gadis itu tampak seorang pria berambut pirang juga ikut melambai ke arah mereka.
“Emu? Sedang apa kamu di sini? Dan ngapain kamu bareng Tsukasa?” tanya Nene.
Laki-laki yang dipanggil Tsukasa itu memelototi Nene. “Apaan reaksimu itu, Nene!”
Nene tertawa pelan lalu berjalan menghampiri mereka, dengan Rui yang mengekor di belakangnya. “Aku bercanda, gak usah melotot gitu. Ah, Emu kapan kamu tiba di sini? Kudengar kamu habis liburan ke luar negeri bersama keluargamu.”
“Aku baru tiba kemarin pagi! Makanya hari ini aku ngajak Tsukasa-kun kencan! Ah, ayo kalian gabung sama kami! Wuaahhh padahal aku cuma berlibur seminggu tapi rasanya udah kangen banget!”
“Eh? Bukankah kalian lagi kencan? Kalau kami ikut malah mengganggu ‘kan?”
Tsukasa mengibaskan tangannya. “Hei, memangnya kalian orang asing? Kita ‘kan udah temenan sejak SMA. Lagipula Emu bilang dia kangen sama kalian, jadi ayo gabung aja sini.”
Nene menatap Rui. “Bagaimana? Mau gabung dengan mereka?”
Rui mengulum senyum. Sepertinya ia harus menunda pernyataan cintanya. “Tidak masalah, kalau kalian benar-benar gak keberatan kami mengganggu.”
“Hei, berapa kali harus kukatakan kalau itu gak masalah? Sudahlah, ayo duduk sini, kebetulan kami juga mau memesan makanan.”
Maka Rui mengambil tempat di sebelah Tsukasa, sementara Nene di sebelah Emu, yang langsung menerjang Nene dengan pelukan erat sehingga ia sedikit kewalahan. Rui tersenyum kecil. Sudah lama rasanya mereka berempat tidak berkumpul bersama seperti ini. Awal mereka bertemu adalah ketika SMA, dan sejak itu mereka telah menjadi sahabat karib. Sayangnya akibat kesibukan kuliah, mereka hanya berkomunikasi melalui chat dan bisa dibilang ini pertama kalinya mereka berkumpul sejak mereka lulus SMA.
“Oh iya, aku ada oleh-oleh untuk kalian!” ucap Emu dengan semangat. Ia lalu mengacak-acak isi tas nya, dan menyerahkan beberapa bungkus coklat. “Jreng! Ini coklat yang super duper enak! Sebenarnya aku beliin untuk kalian masing-masing satu kotak, tapi karena aku gak bawa sekarang, jadi anggap aja ini sampelnya!”
“Wah, terima kasih banyak, Emu,” ucap Nene sambil mengambil sebungkus. Ia langsung membuka bungkusannya dan memasukan coklat itu ke dalam mulutnya.
“Hehehe, di dalam coklat itu ada kejutan lho!”
Rui menelengkan kepalanya ke samping. “Kejutan? Maksudmu di dalamnya ada isian gitu?”
“Iya! Hehehe, di dalam coklat itu ada wine! Rasanya benar-benar seperti ada ledakan di dalam mulutmu!”
Wajah Nene dan Tsukasa memucat begitu mendengar ucapan Emu. “Apa katamu?!”
“E-eh? Tsukasa-kun?” tanya Emu dengan bingung, ini pertama kalinya ia mendengar Tsukasa berteriak seperti itu.
Tapi Tsukasa mengabaikan Emu dan berteriak kepada Nene. “Muntahkan coklat itu!”
Gadis berambut hijau itu menggelengkan kepalanya, dan air mata tampak mulai menggenang di matanya. Tanpa berkata apa-apa, Nene berlari keluar dari kafe.
“Nene?!” Panggil Rui dengan bingung.
Tsukasa mendecak keras dan ikut berlari mengejar Nene, meninggalkan Emu dan Rui yang kebingungan.
“Ru-Rui-kun, a-apa yang terjadi?” tanya Emu pada Rui, berharap ia dapat menjelaskan kejadian tadi.
Sayangnya Rui juga kebingungan seperti Emu dan tidak punya penjelasan. “Aku tidak tahu, Emu-kun. Tapi sebaiknya kita ikut mengejar mereka. Ayo.”
Maka mereka berdua keluar dari kafe dan mencari dua orang teman mereka tersebut. Rui yakin mereka belum terlalu jauh.
“Ah, itu Tsukasa-kun!” ucap Emu sembari menunjuk ke sebuah gang kecil di belakang gedung. Sesosok pria berambut pirang tampak sedang berusaha menutupi sesuatu dengan jaketnya.
Tanpa banyak berpikir, Rui berlari menghampiri Tsukasa ke dalam gang tersebut. “Tsukasa-kun! Dimana Nene? Apa dia baik-baik saja?”
“Rui, jangan kemari!”
Namun Rui mengabaikan perkataan Tsukasa. “Jawab aku, dimana Nene?!”
Begitu jaraknya sudah tinggal selangkah lagi, barulah Rui dapat melihat benda, atau lebih tepatnya makhluk yang ditutupi oleh Tsukasa.
“Jangan lihat!”
Tapi terlambat, Rui sudah terlanjur melihatnya. Seekor ular putih seukuran manusia dewasa, dengan mata berwarna merah darah, yang menatap tepat ke arah Rui.
Napas Rui tercekat, tubuhnya memerintahkan dirinya untuk lari, tapi kakinya serasa tidak bertenanga. Ia berusaha untuk tetap tenang. Oke, mungkin ular ini adalah spesies langka. Mungkin Tsukasa tidak sengaja menemukan ular ini ketika mencari Nene. Selain itu, biarpun ukurannya tidak normal, tampaknya ular ini tidak ada niat untuk menggigitnya. Lihat, Tsukasa sedari tadi berdiri di sampingnya dan ia tidak terluka sedikitpun. Asalkan Rui tetap tenang, maka ia yakin ia akan selamat-
“Rui…”
Dan hilanglah semua logika dan nalar Rui begitu mendengar ular tersebut mendesiskan namanya. Pikirannya kosong, dan kepalanya terasa ringan. Bahkan ia tidak merasakan sakit ketika kepalanya menghantam lantai dan pingsan di atas semen yang dingin
~***~
Rasa nyeri dibelakang kepalanya perlahan mulai terasa menyakitkan, hingga Rui terbangun sambil mengerang sakit.
“Rui! Rui!”
Samar-samar ia dapat mendengar suara seorang perempuan memanggilnya, tetapi sinar lampu yang menyala tepat di atasnya membuatnya kesulitan melihat orang itu.
“Oi, Rui! Kamu baik-baik saja?” Suara kali ini terdengar lebih maskulin, mungkin itu suara Tsukasa.
“Nghh…” rintih Rui sambil menyipitkan matanya, membiasakan matanya dengan cahaya. “Tsu-Tsukasa-kun?”
Terdengar suara helaan napas panjang. “Huftt syukurlah, aku takut kamu geger otak ketika pingsan tadi.”
“Aku… pingsan?” gumam Rui pelan
“Iya, kamu pingsan setelah, um, melihat sesuatu. Kamu ingat?”
Rui memutar memori di otaknya. Kalau tidak salah, mereka sedang makan bersama, tiba-tiba Nene lari keluar diikuti Tsukasa. Dan ketika mengejar mereka, Rui melihat Tsukasa bersama dengan-
“Nene! Dimana Nene?! Apa dia baik-baik saja?! Apa ular itu melukai Nene??!”
“Wow, wow, tenangkan dirimu, Rui. Nene baik-baik saja. Lihat,” Tsukasa memiringkan badannya dan tampaklah gadis berambut hijau keabuan itu sedang berdiri dibalik punggung Tsukasa. Entah apa alasannya, Nene terlihat takut, bahkan ia menutupi tubuhnya dengan selimut besar.
“Nene!” panggil Rui mencoba turun dari kasur, tetapi nyeri di kepalanya menahan langkahnya. Ia lalu membaringkan kembali kepalanya ke atas bantal, berharap bisa mengurangi rasa sakit.
“Rui, jangan memaksssakan dirimu!” ucap Nene sambil mendekati Rui yang terbaring. Entah kenapa suara Nene terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
“Nene, kamu gak apa ‘kan? Kamu gak terluka ‘kan?”
“Rui, kamu sssatu-sssatunya yang terluka di sssini. Khawatirkan dirimu sssendiri.”
“Aku baik-baik saja. Aku mencemaskanmu. Kamu tiba-tiba pergi, dan wajahmu pucat sekali waktu itu. Ada apa sebenarnya?”
Nene bertukar pandang dengan Tsukasa selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menjawab, “Rui, sssebenarnya ada hal yang harusss aku katakan padamu.”
Rui menanti kalimat Nene selanjutnya, tetapi gadis itu tampak enggan untuk berbicara. Tsukasa lalu menghela napas kasar dan memutuskan untuk menggantikan Nene berbicara. “Aku dan Nene bukanlah manusia. Kami adalah siluman.”
“Eh?”
“Tsukasssa!”
“Apa? Aku hanya membantumu mengatakannya. Lagipula Rui sudah melihat wujud aslimu, tidak ada gunanya menyembunyikan hal itu, Nene.”
“Tapi tetap sssaja.” Nene terlihat hampir menangis, dan buru-buru Rui bangun dari kasurnya untuk mengusap airmata di wajah Nene. Barulah ia menyadari kulit wajah Nene yang biasa terlihat mulus, kini terlihat bersisik.
“Nene…?”
Gadis itu menepis tangan Rui di wajahnya dan menutup dirinya dengan selimut. “Maaf, pasti aku jelek ya?”
“Apa? Enggak, kamu enggak- ya Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?”
“Seperti yang udah kukatakan tadi, aku dan Nene adalah siluman.” Rui menoleh ke arah Tsukasa, dan melihat ada sepasang tanduk muncul di atas kepalanya. Rahang pria itu juga tampak lebih tegas, dan Rui dapat melihat taringnya yang memanjang ketika ia lanjut berbicara. “Nene adalah siluman ular, sedangkan aku adalah siluman naga. Yah, sebenarnya aku ingin menceritakan lebih, tapi kurasa Nene lebih punya hak untuk itu.”
Tsukasa menghampiri Nene, dan menepuk kepalanya yang masih berada dibalik selimut. “Percaya pada Rui. Semua akan baik-baik saja. Aku keluar dulu, biar kalian bisa lebih leluasa berbicara. Emu juga sudah menungguku.”
Pintu ditutup, dan keheningan menyelimuti. Rui masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi ia memutuskan untuk menenangkan Nene terlebih dahulu.
“Nene,” panggilnya lembut, tetapi gadis itu masih bungkam.
Rui lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur. “Nene, ayo duduk disebelahku. Aku enggak takut kok. Tenang saja.”
Gadis itu lalu duduk di sebelah Rui, dengan selimut masih menutupi kepalanya. “Kamu bisa lepasin selimutnya. Tadi aku hanya kaget. Sekarang udah gak apa,” bujuk Rui lagi.
Perlahan, Nene menurunkan selimut yang menutupi kepalanya, dan Rui bisa melihat kembali wajah Nene. “Nah, begini ‘kan kelihatan cantiknya.”
Nene menyikut Rui dan cemberut. “Gak usah gombal.”
“Ahahaha, maaf, maaf. Biar kamu gak usah tegang begitu. Beneran gak apa kok, Nene.”
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Nene melepaskan selimut yang menutupi badannya, dan Rui bisa lihat sekujur lengan dan leher Nene tampak ditutupi dengan sisik, dan bahkan kakinya masih menyerupai ekor ular. Untuk sesaat, Rui lupa cara bernapas, tapi dengan cepat ia berusaha menenangkan dirinya. Kalau ia terlihat panik, nanti Nene malah makin takut.
“Ular putih, ya. Cantik,” ucapnya kemudian.
“Bohong. Kalau cantik, kamu gak mungkin pingssan kayak tadi.”
“Hei, itu ‘kan karena aku kaget. Tidak setiap hari kamu bisa bertemu dengan ular seukuran manusia, dan bahkan namamu dipanggil oleh ular tersebut.”
Kalimat itu sepertinta sukses membuat Nene merasa lebih tenang. Ia tersenyum kecil sebelum membalas, “Diingat-ingat, eksspressimu lucu juga waktu itu. Terakhir kali aku melihatmu pucat ketakutan sseperti itu ketika kamu memecahkan vass bunga warissan dari nenekmu ketika kita kecil dulu.”
Rui tertawa mengingat kenangan itu. “Hei, waktu itu aku benar-benar ketakutan setengah mati. Kamu tau ‘kan segalak apa ibuku.”
Perlahan suasana tegang dan canggung mulai menghilang digantikan dengan tawa halus dari dua orang sahabat sejak kecil ini. Nene mengembuskan napasnya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Rui.
“Aku… takut kamu pergi kalau tau aku adalah sssiluman,” ucap Nene setelah diam beberapa saat. “Karena itulah aku berussaha menyembunyikan ini darimu.”
“Apa kamu tahu kalau Tsukasa-kun juga siluman?”
“Iya. Ketika pertama kali bertemu, aku langssung tahu kalau dia bukan manussia, ssama ssepertiku. Baru ssetelah berteman dengannya, aku jadi tahu kalau dia adalah ssiluman Naga. Huh, kalau melihat ssifat narssissnya itu, aku udah bisa menebak.”
“Begitu ya. Itu menjelaskan kenapa dia langsung mengejarmu ketika kamu pergi tadi. Ah, ngomong-ngomong, boleh aku tahu kenapa kamu tiba-tiba lari waktu itu? Wajahmu jadi pucat ketika memakan coklat dari Emu. Apa kamu gak boleh makan coklat?”
Nene menggelengkan kepalanya. “Bukan coklatnya, tapi wine di dalam coklatnya. Aku tidak boleh meminum alkohol sselagi memakai wujud manussia, karena kalau aku menelan alkohol sssedikit saja, aku akan kembali ke wujud assliku, yaitu ular putih.”
“Ah, karena itu juga kamu menolak meminum bir setiap kali ada acara kampus?” tanya Rui yang dibalas dengan anggukan oleh Nene.
“Rui,” panggil Nene sambil menggenggam telapak tangan Rui, “kamu… gak akan menjauhiku ‘kan?”
Rui melepaskan genggaman Nene, dan menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah Nene. Sambil tersenyum lembut, Rui berkata, “Mana mungkin aku menjauhimu, Nene. Kamu adalah orang pertama yang menerima bocah aneh sepertiku. Apapun wujudmu, apapun identitasmu, bagiku kamu adalah Kusanagi Nene, perempuan yang paling aku cintai.”
Nene mengerjapkan bola matanya, dan pipinya mulai terlihat memerah. “A-apa?”
Kini gantian Rui yang bingung, sebelum kemudian menyadari ucapannya. “Oh.”
Lama mereka saling bertatapan dengan muka memerah, terlalu bingung harus berbuat apa di situasi yang super canggung ini.
“A-Aku,” cicit Nene pelan, “A-aku juga… ssu… sssuka ssama… Rui.”
“Eh?”
“Ya gitu deh pokoknya!” teriak Nene sambil mendorong Rui menjauh. Ia lalu berdiri dari kasur dan berjalan (atau mungkin melata) keluar ruangan, meninggalkan Rui yang masih not responding di atas kasur.
“Eh? Eh??? Nene???!”
~***~
=Omake=
“Nee, Tsukasa-kun. Menurutmu apakah setelah ini Nene-chan akan berpacaran dengan Rui-kun?” tanya Emu sambil memainkan rambut emas Tsukasa dengan jari-jarinya.
“Entahlah,” balas Tsukasa malas sambil menikmati tidur di atas pangkuan Emu. Mereka sedang bermalas-malasan di atas sofa ruang tengah sembari menunggu Nene menyelesaikan urusannya dengan Rui. “Nene terlalu pemalu, dan Rui terlalu penakut. Aku gak yakin mereka akan berpacaran jika terus seperti itu. Ngomong-ngomong ayo suapin aku lagi.”
Emu tertawa pelan dan mengambil sebutir coklat dari atas meja. “Dasar manja. Nah, buka mulutnya lebar-lebar. Aaaa.”
Tepat ketika permen coklat itu masuk ke mulut Tsukasa, pintu kamar tempat Rui beristirahat terbuka dengan keras, membuat Tsukasa keselek permen coklat. Dari dalam ruangan, keluar Nene yang berlari ke arah kamar mandi sambil menutupi wajahnya.
“Are? Kenapa Nene-chan tampak malu-malu seperti itu? Oh! Jangan-jangan mereka tadi ciuman!”
“Haah? Berani sekali mereka ciuman di apartment ku?! Bahkan aku belum pernah berciuman sama Emu!”
“Oya-oya? Apakah itu ajakan, Tsukasa-kun?”
“Bu-Bukan gitu! Maksudku, ah sudahlah! Aku mau melihat Rui dulu!”
Dan Emu tertawa terpingkal-pingkal melihat pacarnya yang buru-buru menyingkir karena malu. “Hahahaha, para siluman memang menggemaskan!”
~***~
