Work Text:
Persona 5 © Atlus
Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan ini.
Kafe hari ini sepi. Belum ada pengunjung lagi setelah pelanggan terakhir satu jam yang lalu. Jam menunjukkan pukul 9.30, masih belum waktunya untuk tutup. Ren malam ini diberikan amanah oleh Sojiro untuk menjaga kafe dikarenakan suatu acara yang tidak bisa ditinggal (yang mungkin berhubungan dengan Futaba, Ren tidak bertanya lanjut). Pemuda itu kemudian memutuskan untuk menutup kafe lebih awal, ia sejujurnya bosan menunggu seperti ini.
Ren akan membalikkan papan buka menjadi tutup setelah ia selesai dengan semua cangkir yang dilapnya. Saat ia sampai di cangkir terakhir, bel yang tergantung di pintu depan berbunyi.
Awalnya, Ren kira yang datang adalah Sojiro. Namun, manik abu-abu pekat itu membulat sejenak ketika melihat sosok Akechi di depan sana. Masih dengan seragam lengkap dan membawa koper putih bersimbol A di tangannya.
Si kacamata tak lama menaikkan alisnya, ada yang berbeda dari sang detektif. Kepalanya menuduk, dengan raut wajah yang sedikit tertekuk. Tak biasanya, seorang Akechi yang selalu memberikan senyuman ketika masuk ke LeBlanc nampak murung kali ini.
“Selamat datang, Akechi.” Ren menyapanya seperti yang sudah-sudah.
Akechi kemudian menaikkan kepalanya, kemudian netranya melihat suasana LeBlanc yang sepi. “Ah, maaf, sepertinya aku datang saat mau tutup.”
Senyuman itu hadir, tapi penuh kepaksaan. Ren bisa merasakan ada sesuatu yang menekan Akechi, hingga senyuman riang dan bercahaya dari orang populer saat ini tidak bisa muncul.
Barista muda itu menggeleng, “tidak apa-apa. Aku memang berencana ingin menutupnya, tetapi karena kau datang, tidak jadi. Toh, belum waktunya untuk tutup juga. Seperti biasa, bukan?”
Yang ditanya hanya mengangguk dalam diam. Sang detektif duduk di depan meja bar, dua kursi dari pintu depan. Selama Ren menyiapkan kopi pesanannya, ia mencuri pandang pada Akechi. Tak bisa dibohongi kalau dia khawatir padanya.
Ketika dilihat lebih dekat, Ren dapat melihat kantung mata Akechi yang menghitam, indikasi dari kurang tidur. Pandangannya terlihat lesu. Detektif itu hanya duduk diam. Tidak ada aktivitas yang biasa dilakukan seperti berkunjung, seperti mengecek ponselnya, membaca buku, atau bahkan sekadar mengajaknya berbincang kecil.
Lembur? Masalah di kepolisian? atau masalah di sekolah?. Ia hanya bisa menebak-nebak apa yang menyebabkan Akechi terlihat sedang dalam kondisi yang tidak prima.
“Apa kau sedang ada masalah, Akechi?” Akhirnya ia bertanya. Hanya menebak tidak akan membawanya ke arah yang jelas.
Ren percaya kalau ia bertanya dengan suara yang biasa saja tanpa ada penekanan, tapi pertanyaan tadi membuat Akechi sangat terkejut. Ia tidak bercanda ketika mengatakan sangat, karena reaksinya berlebihan terhadap pertanyaan tadi.
Tubuhnya seketika menegang, dan wajah letih itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sekilas, keringat dingin meluncur dari keningnya. Akechi terdiam sejenak dalam posisi yang sama, otak cemerlangnya seperti sedang konslet karena perlu mencerna pertanyaan sederhana itu agak lama.
“A-ah, tidak. Tidak ada masalah apa-apa.”
Untuk kali ini, Akechi payah dalam menyembunyikan sesuatu. Bahkan orang yang tidak peka sekali pun akan sadar kalau Akechi sedang mengalami masalah. Senyuman yang dilemparkannya kali ini adalah yang paling buruk dari semua senyuman palsu yang telah ditunjukkannya selama ini.
Barista berkacamata itu meletakkan secangkir kopi yang selesai dibuatnya di hadapan Akechi yang kembali jatuh pada lamunannya. Kemudian Ren beranjak dari konter, lalu membawa dirinya untuk duduk di samping pemuda yang lebih tua darinya setahun.
Akechi yang menyadarinya menoleh ke arahnya. Tanpa ada lisan terucap, Ren tau kalau Akechi bertanya kenapa dirinya duduk di sebelahnya.
“Aku… mungkin tidak bisa bantu banyak. Tapi kalau kau ada sesuatu yang mengganjal, kau bisa katakan saja. Aku akan mendengarkan. Yah, kau juga tidak harus mengatakannya juga, sih. Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kau ucapkan begitu saja.”
Si kacamata berdehem, merasa kalau kalimatnya memutar-mutar, “ehem, intinya, aku akan menemanimu sampai kau merasa baikan.”
Kafe dikuasai oleh keheningan. Belum ada jawaban atau respon dari pemuda kelelahan itu. Ren juga tidak memaksa untuk memberikan jawaban apa-apa. Kalau memang kesnyuian ini yang diinginkan, maka Ren akan mengikutinya.
“K-kalau begitu…” Suaranya akhirnya terdengar. Ada keraguan yang tersirat dibalik kata-katanya.
“... bisa kupinjam bahumu sebentar?”
Agaknya ia kaget ketika permintaan itu meluncur dari mulut Akechi. Sesuatu yang tidak pernah disangkanya. Tapi apapun itu, Ren berjanji akan membantunya.
“Tentu saja.” Ia menarik kursinya agar lebih dekat dengan Akechi. Keraguan dari detektif karisma kembali keluar ketika Ren menerima permintaan kecilnya tanpa bimbang.
Ren bisa merasakan helai-helai rambut berwarna karamel menggelitik lehernya ketika Akechi menyandarkan kepalanya. Karena tidak pernah mengantisipasi kejadian ini, Ren menjadi agak kaku. Semburat merah kecil muncul di wajahnya, karena belum pernah ia sedekat ini dengan Akechi.
Samar-samar, Ren merasakan tubuh dari kawannya bergetar. Ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, apakah Akechi menangis atau tidak, atau mungkin luapan emosi lainnya, ia tidak tahu. Tapi yang ia tahu pasti, Akechi memikul beban yang terlalu berat, sehingga sebuah sandaran adalah yang dibutuhkannya saat ini.
Ia mulai merasakan simpati padanya. Seorang yang selalu menampilkan wajah sumringah dengan karismanya yang menarik banyak perhatian, ditambah dengan kepintarananya hingga menjadi detektif terbaik saat ini hingga menerima julukan “Pangeran Detektif”, sekarang runtuh dalam kelelahan. Menanggung ekspektasi yang diharapkan semua orang, bahkan seorang Akechi Goro pun tidak bisa selamanya bertahan.
Lalu ditambah masalah-masalah lainnya yang tidak Ren ketahui. Kali ini, biarkanlah sosok selebriti yang dipuja dan dipuji banyak orang untuk beristirahat sejenak.
Ren merangkul pundaknya. Tidak ada penolakan dari Akechi. Dalam diam, Ren memberikan ketenangan yang saat ini Akechi butuhkan.
Untuk saat ini, biarkan aku menemanimu. []
