Actions

Work Header

Crown shyness

Summary:

sometimes you need leave precious things to learn it and have a good life

Notes:

Write this kind reminds me of Jungwon's personality being leader but in toxic way(?) Like, a lil bit of his achievement made from his strict discipline behavior until he forgets people around him caring him. Bukan nyalahin dia, tapi JW kadang egois tanggung beban sendiri :( Itu yg buat dia sedikit ngekang dirinya buat gak bergantung sama org lain. And imagine if he do that in his love life.....

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Thanks, Jake. Udah mau ke rumahku”

“Kamu mah ya iyalah aku kesini kan mau jemput my honey”

“Ih apaan. Peluk ga?”

“Mauu”

Pelukan hangat nan wangi tubuh semerbak sabun oleh Jake seperti tradisi yang tak boleh dimusnahkan. Perihal kebiasaan ini dijalani selama hubungan kami dimulai. Jake yang notabenenya memang lucu kadang buat orang mudah jatuh hati dengannya. Salah satunya denganku selama dua tahun berada di universitas yang awalnya kuliah-pulang kuliah-pulang berujung mengenal bocah ini. Tidak tau semisterius apa dunia sampai memberi salah satu manusia setengah jiwa anjing ras golden retriever di hidupku. Sekarang semuanya berjalan dengan tenang dan damai seperti rencana kunjungan ke salah satu tempat wisata hutan di daerah pesisir desa kami. Jake berinisiasi adakan piknik di tempat wisata yang belum dijamah oleh banyak orang.

“Jake, kamu gimana bisa tau tempat ini darimana?”

“Kemarin searching sambil tanya-tanya temenku lainnya apa mereka pernah ke tempat bagus tapi orang jarang kesana terus ada yang nemu tempat ini”

“Ohh gitu. Bagus juga sih kemarin aku lihat di internet. Placenya unik apalagi hutannya rindang banget”

“Oh iya aku belum bilang soal pohon disana. Jadi yang kamu lihat di internet itu namanya Crown Shyness. Pokoknya bentuknya lebih bagus pas di tempat langsung nanti”

“Terus kenapa pohonnya bisa begitu?”

“Hmm belum tau karena aku bacanya cuman sekilas hehe”

“Yaudah nanti pas kita kesana coba cari tau. Ayo jake daripada telat”

“Let's gooo”

Lucu sekali ketika dia berbicara dengan aksennya yang kental. Sejatinya memang hal-hal kecil seperti ini menggetarkan hati kecilku. Moment bersama ia membuat diriku banyak mendapat euphoria yang tak dapat ditampung. Perasaan menggebu selalu ada didepan mataku ketika hanya sekilas melihat ia di gedung universitas tengah mengerjakan tugasnya di taman bersama temannya. Kepalaku memutar karangan rangkaian kegiatan yang menyenangkan untuk piknik nanti. Memakan yang waktu banyak sekitar 2 jam perjalanan tidak membuat diriku hilang semangat. Selain angan ceriaku, ada tangan yang satunya mengemudi dan satunya bertaut denganku sambil dielusnya layak tak ingin lepas walau aku cuman membenarkan helaian rambut halusku menutupi wajah. Sesampainya di tempat, kulihat pemandangan hutan yang rindang namun punya jalan besar ditengahnya. Musim semi buat banyak orang yang datang bersyukur bisa lihat riasan alam yang indah ini secara cuma-cuma. Tautan tangan masih terpatri sambil arungi jalanan hutan. Jake bilang biar ia bawa barangku dan barangnya di tas punggung besarnya sedangkan aku hanya bawa tikar. Ia berkata ingin sekali cicipi olahan masakan dari diriku dan calon mertuanya. Kucubit sedikit punggung tangannya karena sifat gombalnya. Setelah memilih lokasi mana yang pas akhirnya kita menggelar tikar dan merapikan barang-barang yang ada.

“Sayang pinjem pahamu dong buat tiduran. Capek nyetir nih”

“Sini sini. Tidur aja sekalian nanti aku bangunin kalau udah makan siang”

“Ok makasih. Tidur dulu ya”

Sembari mengelus suraian rambut Jake untuk lelapkan tidur, satu tanganku mengambil benda kotak hitam di saku celanaku. Aku menyalakannya hingga layar menjadi cerah dan segera bergulir ke bagian pencarian sedari tadi penasaran dengan fenomena alam yang sekarang aku bisa lihat.

'Crown Shyness'

'Adalah fenomena yang diamati pada beberapa pohon menampilkan pucuk pohon tak saling bersentuhan, membentuk seperti kanopi yang mempunyai celah seperti saluran. Ada banyak hipotesis mengapa fenomena ini perilaku adaptif, dan penelitian menunjukkan bahwa hal itu mungkin menghambat penyebaran pemakan daun larva serangga'

Unik bagaimana alam punya kerja kompleksitas akan sistemnya. Siratan paradoks terbelenggu di kepalaku. Banyak cara sains mengotak-atik informasi akan alam. Aku tak tau orang atau peneliti mana yang bisa menemukan hal yang diluar nalar manusia ini. Sekalipun manusia bisa melihat tapi mereka belum tau secara penuhnya daur lingkungan alam yang mereka teliti dengan cara apapun. Sejatinya seperti misteri semesta yang selalu berkeliaran sana sini. Layaknya sekarang yang kulihat sosok di sebuah rumah pohon bercanda ria dengan keluarganya. Rambut cokelat gelapnya melambai-lambai di kepalanya. Raut wajah khas kucingnya bertambah dewasa. Lesung pipi merekah apalagi setelah kulihat bercengkrama dengan kerabatnya.

 

 

“Jungwon nanti kapan-kapan ke hutan yuk”

“Kamu napa sih aneh aneh ke hutan. Jalan-jalan di kota masih bisa”

“Kan unik gitu. Sekali-kali bisa kan?”

“Yaudah kapan-kapan kalo bisa”

 

 

Iya sekarang bisa, Jungwon. Bahagiamu disana pasti lebih terjamin. Bayangan gelak tawamu sekarang seperti jaman remaja kita saat sekolah. Tidak ada hal yang mampu membuat diriku berseri-seri saat itu selain masa percintaan remaja yang labil. Hati gusar sebab putar memori yang lalu. Seiring berjalannya waktu, warna cerah terganti dengan tertutupnya hati kala masalah menerpa satu-persatu. Remaja yang terkalut dengan hidupnya dia dibayangi rancangan kompleks masa depan.

 

“Bulan depan aku pergi ke Jepang”

“Kenapa?”

“Kejar impianku jadi dokter”

"...oh"

 

Jawaban bikin diriku kalah telak ingin menolak. Tapi kupikir memang benar adanya untuk capai apa yang dia mau prioritas dalam hidupnya.

 

Dan sayangnya aku bukan salah satu dalam daftar tersebut.

 

Atau mungkin itu semua hanya alasan. Semua itu hanya alasan—karena aku tahu bahwa kita adalah tipe orang yang menolak membiarkan orang lain mendikte jalan hidup kita masing-masing. Dia merugikan komitmen, dia bisa mengakui sebanyak itu; dia selalu begitu. Jika aku yang keras kepala, tulus baik dalam hati maupun kepribadian, Jungwon adalah bunglon yang keras kepala, menciptakan kembali dirinya sendiri jika perlu. Dengannya, masa depan dan komitmen tidak tampak seperti belenggu dan rantai. Awalnya. Tapi akhirnya Jungwon memberikan hasil yang tidak bagus tersebut. Mimpi yang dibangunnya punya kadar tekad tinggi. Sampai dia menjadi rakus hingga lupa dengan mimpi orang terdekatnya. Jungwon bukan orang yang setengah-setengah. Jika aku adalah orang yang tahu kapan harus berhenti, ia adalah orang yang terlalu jauh. Dia santai, terlalu banyak berpikir, dan cerdas—namun dia mencoba mengubah dirinya agar sesuai dengan cetakan, terbawa suasana sambil memikul beban dunia di pundaknya seperti Atlas. Orang-orang menyukai Jungwon versi mereka sendiri, dan aku dengan egois berpikir bahwa aku mengetahui ia yang sebenarnya lebih baik daripada mereka. Tetapi kenapa aku jadi orang yang dipilih Jungwon untuk tetap bersama, dari semua orang? Untuk mempertaruhkan karirnya, untuk menjadi orang yang dapat memberikan semua yang dia inginkan?

Jungwon tidak akan pernah. Aku tidak bisa. Dan kita tahu itu. Saat-saat putus asa membutuhkan tindakan putus asa. Pikiran berkecambuk dan membucahkan rasa kecewa juga penyesalan lalu bercabang lepas dan relakan. Kulihat lagi layar cerah pada benda kotak dengan laman pencarian yang tak disentuh seinci pun semenjak mata memandang sosok di rumah pohon.

'Fenomena unik ini memberikan manfaat baik bagi pohon itu sendiri maupun sekitarnya. Celah-celah yang dihasilkan dari fenomena ini membantu sinar matahari mencapai dasar hutan, sehingga tanaman lain yang lebih rendah dari pohon dan hewan-hewan yang tinggal di dalamnya, khususnya hewan-hewan arboreal dapat memperoleh asupan cahaya matahari yang cukup. Celah tersebut juga dapat menghindari liana atau tumbuhan merambat yang pada umumnya ada di hutan tropis dan subtropis.

Fenomena ini seperti melakukan social distancing yang dilakukan oleh pohon bertujuan untuk mengurangi potensi penyebaran antar pohon terhadap mikroba penyebab penyakit atau serangga yang tidak terbang. Jika tajuk pohon bersentuhan dengan pohon-pohon sekitar, serangga dan bakteri pembawa penyakit dapat berpindah menuju pohon yang lain dan memungkinkan untuk menyebarkan bakteri dan penyakit'

 “uh...laper....”

“Kamu mau bangun sekarang?”

“Iya. Laper. Jam makan siang udah lewat loh, kamu lupa, sayang?”

“Eh iya lupa. Sorry, tadi keasikan main hp”

“Jangan kebiasaan ya cantik. Oh ya tadi pas aku tidur aku mimpi jadi pohon”

“Hah jadi pohon? aneh banget”

“Iya kan. Aku berdiri doang gitu sambil dilewatin orang sama hewan. Terus tuh ya aku lihat aku jenis pohon beringin yang lagi gugurin daunnya pas kemarau”

“Bisa gitu haha”

”....Mm...Anyway, if you become a tree, what would you do?”

“I don't know.....maybe crown shyness, Jake...”

“Why?”

“Karena satu pohon yang menghindari pohon lainnya bukan karena mereka parasit, tapi justru saling melindungi satu sama lain. Walaupun mereka terpisah juga bentuknya tetap cantik”

Notes:

Omg, my first story yg delay sampe gatau lamanya krn registration account AO3 bermasalah 🤦 So thanks for read this 👌