Chapter Text
Junhui sudah berjam-jam menekuk wajahnya masam. Setelah kemarin ia melihat postingan seseorang tentang adopsi kucing yang tidak sengaja lewat pada laman facebook-nya, ia mempunyai niat untuk mengadopsi kucing tersebut. Kucing ras Himalaya, bulunya berwarna putih bersih, kedua matanya besar, sangat cantik. Siapa yang tidak tergoda untuk mengadopsinya?
Junhui sempat membicarakan hal tersebut kepada Minghao. Namun hasilnya, tawarannya ditolak mentah-mentah. Kekasihnya tidak setuju. Bahkan ketika Junhui membujuknya berkali-kali, yang ia dapatkan hanyalah gelengan kepala dari kekasihnya tersebut.
Maka Junhui merajuk. Ia kesal pada Minghao.
Minghao yang sadar dengan kelakuan aneh kekasihnya sedari pagi tadi, bertanya-tanya dalam benaknya. Junhui bahkan tidak mengucapkan selamat pagi padanya saat terbangun dari tidur.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Minghao, menghampiri Junhui yang sedang bermain dengan salah satu kucing mereka, Cio.
Namun Junhui tidak menggubris pertanyaan dari Minghao.
Minghao hendak bertanya kembali, sebelum kemudian Junhui tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi sambil menggendong Cio di kedua lengannya.
Minghao mengerutkan keningnya, sedikit tersulut oleh emosi.
Tentu, Minghao tidak diam begitu saja. Ia berjalan cepat memasuki kamar miliknya dan Junhui, menutup pintu, menghadang Junhui agar tidak kabur lagi.
“Ge...” desis Minghao. yang dipanggil masih sibuk dengan hewan peliharaan mereka, tidak berniat untuk menatap wajah Minghao sekalipun.
Tidak ditanggapi, Minghao berjalan menghampiri kekasihnya. Merebut Cio yang ada dalam pelukan Junhui, menempatkan kucing tersebut di dadanya. Junhui yang kehilangan Cio pada pelukannya, perlahan beranjak dari kasurnya. Namun Junhui kalah cepat. Minghao lebih dulu lari dan menghadang pintu.
“Gege...” sahutan minghao tetaplah tidak berbuah. Tangan kanan Minghao meraih pergelangan tangan Junhui, meski kesusahan menggendong Cio hanya dengan satu lengan.
“Minggir.” usir Junhui dingin, menyingkirkan tangan Minghao pada pergelangan tangannya. Minghao terkejut.
“Ge, kalau ada masalah jangan diem aja.” Junhui menghela napas, malas menanggapi ucapan kekasihnya.
“Masih soal masalah adopsi kucing tadi malem?” tanya Minghao, setelah mengingat-ingat apa yang dirinya lakukan kemarin hingga Junhui bisa sampai seperti ini.
Junhui menggangguk. Kini giliran Minghao yang menghela napas. Kekasihnya ini sungguh kekanak-kanakkan.
Minghao meraih lengan Junhui lagi, menyeretnya untuk duduk di kasur.
“Ge, kita udah punya tiga kucing.” Minghao menatap Junhui lembut, telapak tangannya menggenggam kedua telapak tangan milik Junhui, sedangkan Cio berada di atas paha Minghao.
“Kamu yakin kalo kita tambah kucing lagi, bakal nggak keteteran? Kucing tiga aja udah repot loh kita. Apalagi kalo ditinggal kerja.” jelas Minghao.
“Tapi kemarin kucing yang aku liat lucu banget,” Junhui akhirnya membuka suaranya.
Minghao tersenyum tipis. “Lucu doang. Emangnya kamu sanggup ngurus empat kucing?”
“Kan ngurusnya sama kamu-” ucapan Junhui terpotong, “kita sama-sama sibuk, ge. kalo misalnya kamu ada panggilan ke luar kota sedangkan aku lembur sampe malem, emangnya nggak kasian sama Cio, Dobi, sama Roli?”
Junhui kembali terdiam. Minghao dengan pelan mengelus jemari junhui.
“Ya, ge? Enggak dulu, ya?” tanya Minghao, meyakinkan kekasihnya.
Setelah kurang dari dua menit berpikir, Junhui menggangguk.
Minghao tersenyum lebar, membawa Junhui ke pelukannya. Junhui membalas pelukan Minghao, mengelus-elus punggung kekasihnya dengan lembut.
“Maaf, aku udah marah dan ngediemin kamu seharian ini.”
Minghao menggelengkan kepalanya, “kalo ada masalah jangan diemin aku terus. Aku tuh bingung tau kamu kenapa. Ngeselin banget, sih.”
Junhui terkekeh, mengeratkan pelukan keduanya.
“Aduh, Cio!” pekik Minghao saat kucing berbulu abu-abu tersebut mencakar pahanya.
Mereka tidak menyadari kalau Cio sedang kesal. Badannya terdesak oleh kedua pemiliknya yang sedang berpelukan!
“Hahaha, marah dia tuh. Digeprek sama kita.” Junhui tertawa, mengambil alih Cio dari paha Minghao lalu mengelusnya.
“Sakit tau.” eluh Minghao cemberut. Namun Junhui lagi-lagi hanya tertawa.
