Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-04
Words:
324
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
26
Bookmarks:
2
Hits:
206

how i hope you won't notice

Summary:

kunci kamar rui ketinggalan lagi.

Notes:

singkat banget karena mau warm up doang HEHEW semoga "LAH ANJIRRRRR" momennya dapet. selamat membaca dan makasih udah mampir!

(additional note: hc rui kalo jadi mahasiswa rambutnya panjang terus seneng dikuncir :) kenapa? karena agar supaya untuk)

Work Text:

"Tiga kali."

Rui menoleh di sela kunyahan ayam, "Mm?"

Satu. Dua kerjap. Tsukasa membetulkan posisi duduk dan Rui hanya berteman suara boks ayam goreng yang diremas-remas selama beberapa detik sebelum akhirnya Tsukasa bersuara setelah melemparkan boks kucel itu ke kantong plastik hitam di tengah ruangan, "Tiga kali kamu nginep di sini sejak awal minggu." Jeda, "Dan ini masih hari Kamis."

"Terus kamu nggak ikhlas?" kekehnya, mengaduh sambil tertawa-tawa ketika Tsukasa merespon dengan menarik kunciran rambutnya main-main, "Maaf, deh, kalo temenmu ini pelupa. Tadi buru-buru karena labnya mau dikunci. Nggak sempet ngecek."

"Padahal kamu bisa inget bulan lalu tanggal sekian lagi ngapain, tapi nggak bisa inget bawa kunci habis pulang dari labtek. Hebat."

"HAHAH ini namanya memori selektif."

"Bacooooooot."

Tsukasa menarik kunciran rambutnya sekali lagi, tapi kali ini Rui hampir tersedak kulit ayam dan terbatuk-batuk heboh sebelum Tsukasa menabok-nabok punggungnya dan menyodorkan botol air mineral yang dibeli bersama ayam goreng tadi (pakai uang Rui, katanya tanda terima kasih sudah diizinkan mengungsi ke kos Tsukasa sampai ia bisa mengambil kunci kamarnya di labtek besok pagi).

Rui mengusap sudut bibirnya yang basah karena minum terlalu sembrono, lalu mendelik, "Kejam!"

"YA MAAF."

"Dimaafkan bersyarat."

"LAH."

"Hehe. Syaratnya aku mandi duluan. Gerah, bajuku bau matahari."

"Iiiish, jorok banget. Sana!"

"Jangan marah-marah, dong." Rui terkekeh-kekeh sambil bangkit berdiri, melempar tulang ayam ke kantong plastik hitam dan mengusap tangan berminyaknya ke bahu Tsukasa yang langsung dibalas dengan jeritan dan pukulan di tulang kering.

Tawanya mulai mereda ketika sampai ke pojok ruangan tempat ranselnya tergeletak mengenaskan bersama ransel Tsukasa, mengeluarkan binder berisi draf laporan untuk dikerjakannya setelah mandi dan memastikan kunci kamarnya masih tersimpan di pouch kecil yang diselipkannya di balik laptop (dan tidak akan ditemukan dengan mudah semisal Tsukasa tiba-tiba kesurupan dan berniat membongkar tasnya), membuka lemari Tsukasa dan mencuri satu kaos dan satu celana pendek, lalu keluar ruangan sambil bertanya dengan cengir yang masih belum luntur,

"Handukmu masih di belakang, kan? Pinjam, ya."

"Hooh. CEPETAN."

"Bawelnya."

Dan bam pintu tertutup.