Actions

Work Header

eksitasi

Summary:

“Apa rahasiamu?”

Notes:

Mobile Legends: Bang Bang (c) Moonton.
[Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam proses pembuatan maupun fic ini.]

anyway happy valentine!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pengetahuan akan hal yang terjadi di masa depan adalah suatu rahasia yang ia miliki.

Natan seringkali mengatributkan kemampuan ini sebagai salah satu efek samping yang ia dapatkan usai melompat terlalu jauh ke masa lalu. Berasal dari masa depan membuatnya melintasi waktu yang telah berlalu baginya terkhusus. Bagi waktu tempat tujuannya, waktu yang telah ia saksikan dan lintasi belum terjadi sama sekali.

Itu, dan juga tendensinya yang selalu ingin mengembara, tak ingin tetap tinggal di satu titik waktu tertentu.

(Munafik bila ia bilang ia tidak pernah sekalipun menggunakan mesin waktunya untuk pergi ke masa lalu dan melihat langsung kejadian-kejadian historis dengan mata kepalanya sendiri.)

Pandangannya mengabur semenjak ia menyadari kemampuan prekognisinya, penangkal sementara yang direkomendasikan Rooney atas hal ini adalah menggunakan monokel untuk mengaburkan sedikit penglihatannya—mengurangi distraksi atas hal yang seharusnya ia lihat, mengingat hanya sebelah matanya yang mempersepsikan waktu lebih cepat dibanding sewajarnya.

5 detik 12 milidetik lebih cepat, lebih tepatnya.

Maka dari itu ketika pensil yang digunakan Aamon hendak bergulir jatuh dari meja tempat mereka sedang membaca, tangannya reflek tertelungkup jauh sebelum pensil itu dapat menyentuh sisi meja. Maka ketika ada beberapa pelayan Aberleen yang bertengkar usai mereka menjatuhkan pot hidrangea saat ia dan Aamon sedang menghabiskan waktu di taman, ia mengajak Aamon untuk mengambil jalan memutar guna menghindari konflik yang ada.

Maka ketika ada upaya pembunuhan atasnya, Natan dapat dengan mudah mengambil langkah paling efektif untuk menjauhkan Aamon dari petaka yang tidak diperlukan. Mudah menetralkan bidikan peluru saat ia dapat melihat pasti dari mana asal muasal lesatannya di antara kerumunan orang.

Curang, Rooney bilang saat ia kalah berulang-kali dalam permainan catur mereka. Natan rasa ia hanya tidak sportif—demikian pula Aamon, yang seringkali tak sadar menyilangkan tangannya dengan gusar saat Natan mengambil langkah yang menjauhi strategi idealnya.

Ia selalu memanfaatkan strategi yang Natan kerahkan untuk mengubah trayek permainan hingga keseluruhan papan permainan berada di pihaknya, dan Natan menyukai pola pikirnya yang demikian.

5 detik 12 milidetik bukanlah suatu kemampuan prekognisi yang dapat mengubah hidup. Ia pikir—ia bisa menyanjung anak-anak Eruditio dan Moniyan dengan kemampuan ini; membuat mereka mengambil kartu dan menebak kartu apa yang ada di tangan mereka, menebak apa yang ada di pikiran mereka dan menanti hingga waktu memberitahunya.

Tetapi ia tidak kemari untuk menjadi ajang atraksi anak-anak—ia tidak memiliki niatan barang sedikitpun untuk menyanjung anak-anak.

Intinya, hal ini sungguh tidak berguna baginya. Mengganggu iya, berguna tidak.

Tetapi suatu ketika, ketika Aamon mengunjunginya di Eruditio dan mereka menghabiskan waktu bersantai hingga Natan tidak sadar bahwa matahari telah terbenam, ia rasa Aamon mulai menyadari keabnormalitasannya.

Ketika ia menyerahkan buku pada kolom tertinggi rak buku di rumahnya saat Aamon jelas ingin mengambilnya—sebuah buku biografi yang mendetailkan perjuangan manusia yang tinggal pada perbatasan Abyss—pewaris muda itu bertanya.

“Apa rahasiamu?”

(Lima detik di masa depan, Aamon menggunakan sihirnya untuk mengambil buku itu dari atas sana. Natan tahu Aamon tidak menyukai penggunaan sihir untuk hal-hal tidak berguna seperti itu. Jadi ia membantunya.)

Merendahkan pandangannya untuk menemukan manik kelabu dingin Aamon di sisinya, ia balas bertanya, “Mengapa kau bertanya?”

“Aku hanya ingin tahu.” katanya, ia tersenyum ramah, “Kurasa kau jauh lebih kompeten dalam membaca pikiran dibanding mereka yang dilatih sejak kecil untuk membaca pikiran orang lain. Apa ada rahasianya?”

Saat itu, ia memiliki dua pilihan, untuk memberitahu Aamon akan kemampuan yang ia miliki, atau berdalih. Ekspresi Aamon pada visualnya terbagi, dan di antara keheranan atau rengutan pada bibirnya—

“Namanya empati, Aamon.”

—Natan memutuskan untuk berdalih; ingin melihat ke mana percakapan ini berlabuh. Aamon mendekap buku itu dekat pada dadanya, mengikuti langkah Natan yang mengintip kegiatan para pengawal Aamon dari jendela. Keduanya telah mulai memanfaatkan papan catur yang ditinggalkan Rooney di meja teras kediamannya.

“Aku tahu apa itu empati.”

“Maka kau juga tahu bahasa tubuhmu tidak terlalu subtil.”

Tangannya yang sedikit-nyaris ingin terulur dan pergerakan jarinya yang menyalurkan sihir membuat Natan tahu apa yang ia ingin lakukan, sisanya ia dibantu oleh prekognisi kilat yang masih membimbingnya untuk menemukan kembali ekspresi semacam apa yang dapat Aamon tampilkan pada eksposisi muramnya.

“Kau secara pasti dapat tahu buku mana yang ingin kuambil. Empati tidak memberitahumu itu.”

“Matamu membaca judul yang ada pada tiap jilidan buku dan berhenti pada buku itu.”

Tidak ada retoris lain, namun lima detik kemudian, ia melihat Aamon menghela napas, dan—

“Berapa yang kau mau?”

—untukmu memberitahuku apa rahasiamu.

“Berapa...?”

“Untukmu memberitahuku apa rahasiamu.”

Ia terkekeh, menuntun Aamon untuk duduk pada sofa di ruang tengah. Buku yang tadi ia ambil tidak sedikitpun menyita perhatiannya; kini keseluruhan dirinya terfokus pada Natan.

“Aku tidak menginginkan kekayaanmu.” Jadi ia melanjutkan, “Aku akan memberikan dua kesempatan untukmu bertanya, lalu kau bisa coba tebak apa rahasiaku.”

“Dua?” Aamon bertanya, jelas terusik dengan pilihan angka yang ganjil dari Natan.

“Tiga petunjuk akan terlalu mudah, bahkan bagi orang sepertimu—”

Walau ekspresinya tidak sedikitpun berubah, Natan tahu ia sedikit tersinggung; matanya melihat temperamen yang berusaha untuk mengintimidasinya andai ia berkata salah dalam menjawab pertanyaan selanjutnya, “Kau menghinaku?”

“Aku memujimu.” Ia menekankan, tidak ingin ada konflik, “Kau tidak butuh tiga petunjuk. Kau pintar, Aamon.”

“Kau bilang angka tiga adalah angka yang sempurna.”

“Dalam numerologi Pitagoras, ya; harmoni, kesempurnaan, keilahian proporsional... angka yang memang sempurna, tapi baik harmoni maupun kesempurnaan tidak dibutuhkan dalam kasus remeh seperti ini.” Ia tersenyum ke arah Aamon yang duduk di sampingnya dengan tangan menyilang di dadanya.

Aamon nampak tidak sedikitpun tergerak untuk menyerah; kegigihannya patut diacungi jempol, sayangnya ia terlalu gigih untuk mempertahankan suatu hal yang berbanding terbalik dengan pendirian Natan. Belum sampai ia mengeluarkan argumen sanggahan lainnya, Natan memotong, “Dua pertanyaan, apapun. Kau bisa mulai bertanya kapanpun kau mau.”

Kadang sempat terpikirkan olehnya bahwa Aamon dapat membaca pikirannya dari bagaimana tatapan tajamnya menilik hingga tidak ada detail yang terlewat oleh matanya. Bagaimana ekspresinya menjadi gelap kala tatapannya mengerling terlalu lekat dalam jangka waktu yang cukup panjang—mungkin matanya melihat isi hati dan pikiran Natan hingga ekspresinya menjadi seseram seperti apa yang ia tunjukkan sekarang.

“Apa kau bisa membaca pikiran orang lain?”

“Langsung menebak? Tidak ingin mendapatkan petunjuk terlebih dahulu?”

“Aku tidak suka basa-basi.”

Natan menghela napas. Seharusnya ia tahu bahwa Aamon, tak peduli seberapa cemerlang pikirannya, tetaplah orang muda, dan orang muda cenderung gegabah.

“Tidak bisa, aku tidak bisa membaca pikiran. Satu pertanyaan.”

Aamon merengut, lagi. Kali ini barulah ia nampak memutar otaknya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya. Sembari menunggunya berpikir, Natan menyilangkan kakinya, memandang ke arah jendela yang tirainya ia sibak sedikit terbuka untuk memberikan pengawal Aamon visual dalam rumah—khawatiran, mereka itu. Tidak ingin terjadi apapun pada Yang Mulia-nya, tidak ingin kepala mereka dipenggal oleh para tetua.

Ia melihat salah seorang pengawalnya mengintip, lima detik kemudian—ia tersenyum tidak kepada siapapun. Aamon menoleh ke mana matanya memandang.

“Apa yang kau lihat?”

Perhatiannya kembali pada Aamon, tidak jadi menyapa pengawal yang kini mengintip dari luar jendela, “Kau yakin ingin menghabiskan kesempatan terakhirmu untuk mendengar jawaban atas pertanyaan itu?”

Aamon menggelengkan kepalanya, “Biar kupikir-pikir lagi.”

“Penglihatanku sedikit buruk. Kupikir pengawalmu melihat kita, barusan.”

“Aku bilang—”

“Aku tahu.” menunjuk pada mata kirinya, Natan membiarkan matanya terpejam usai melihat bagaimana Aamon menaruh sedikit simpati pada hatinya atas situasi Natan, “Mata ini sedikit rusak.”

Aamon tidak mengatakan apapun, dan Natan pikir begitulah percakapan mereka akan berakhir agar Aamon dapat lanjut menimbang-nimbang opsi yang ia miliki.

“Natan.”

“Ingin kembali mencoba—?”

—kurasa aku tahu apa rahasiamu.

Matanya terbuka lebar, kemudian—melihat apa yang terjadi tepat sebelum kejadian—kala merasakan kedua tangan Aamon menangkup kedua sisi pipinya dan memaksakan kedekatan pada wajah mereka. Helaian perak yang membingkai wajahnya menghalangi binar kelabu menawan yang menjerat pandangannya—lima detik di masa depan, Aamon memicingkan matanya, seringai kemenangan tersemat pada bibirnya. Ekspresi Natan terbaca jelas oleh pria muda berakal bulus yang tidak pernah sekalipun tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

Lima detik di masa depan, kemudian—ia melihat mulut Aamon bergerak, bertanya tanpa suara yang terdengar, “Apa kau tahu apa yang akan kulakukan setelah ini?”

Perhatiannya terfokus pada apa yang ia lihat, dan pipinya dibuat memanas.

“Ah—” ia menelan salivanya dan Aamon menciumnya; bibir mereka disatukan paksa, giginya menggigit bibir Natan guna mendapatkan akses—tangannya mendorong bahu Natan hingga ia menyandarkan punggungnya pada sofa seraya Aamon naik ke pangkuannya, tidak sekalipun melepaskan bibir Natan dari ciuman yang menyita habis oksigen dari paru-parunya—

Tetapi kemudian, Aamon melepaskannya.

Ekspresinya getir.

—lima detik di masa depan, ia melihat Aamon memiringkan kepalanya dengan tangan yang menyilang pada dadanya. Matanya terpejam rapat.

“Bukan juga, ya...?”

Natan tersedak.

Ia berusaha untuk menenangkan jantungnya.

“Kupikir kau memiliki penglihatan masa depan.” Bibirnya menipis, tidak tersenyum, namun menolak merengut. Walau telah menghabiskan kesempatan yang diberikan Natan, ia tidak menerima kegagalannya, “Aku ingin membenturkan kepalamu denganku—bila kau bisa melihat apa yang ingin kulakukan, kau pasti akan menghentikanku.”

Apa yang ia lihat barusan bukan sesuatu yang ia intip dari masa depan, dirinya tersadar—

Ia terkikik gemas, di luar karakternya pada hari-hari biasa, sesuatu yang membuat Natan mengembangkan senyuman pula pada bibirnya, “Nyatanya pipimu merona seperti perawan muda. Jadi kurasa bukan itu rahasiamu.”

Kegundahan tidak sedikitpun minggat dari hatinya, namun ia tetap sportif.

“Kau benar.”

Aamon menolehkan kepalanya—bingung kendati ekspresinya yang datar.

“Aku bisa melihat masa depan.”

Lima detik kemudian, ia melihat Aamon tertawa—saat ini ia masih mengatakan sesuatu yang tak dapat Natan proses. Telinganya membisukan segala kata kala matanya melihat Aamon yang menciumnya, lagi dan lagi hingga tak ada napas yang tersisa di antara mereka berdua—

“Apa yang kau lihat?”

(Aamon masih di sebelahnya; lima detik kemudian, ia menyilangkan kakinya dan meraih buku bacaan di atas meja kopi di hadapan mereka.)

Tetapi dalam pikirannya saat ini, ia lihat Aamon naik pada pangkuannya, bercumbu dengannya tanpa ada batasan yang nyata di antara mereka—dalam pikirannya, Aamon menanggalkan pakaiannya dan jari-jarinya memaksa Natan untuk melepaskan luarannya, kemejanya, dalamannya—tangannya memeta permukaan kulitnya, tangan Aamon pada bahunya, kuku-kukunya terbenam pada punggung Natan, namanya dirapalkan tiada putus di antara sengal napasnya—

Relung dadanya dibuat menyempit oleh imajinya; ia tertawa pelan, kehabisan napas. Melihat jelas di masa depan, matanya memiliki fiksasi atas imej Aamon yang hanya mengangkat bahunya, masih berbusana lengkap.

Semuanya terasa nyata dalam pikirannya—keseluruhan fantasi yang jauh lebih panjang dari lima detik di masa depan.

Natan menghela napas.

“Hanya pikiranku.” Dalihnya, lirih.

Di sebelahnya, Aamon mengangkat bahunya.

 

 

Notes:

Lima detik kemudian, Aamon mengangkat kepalanya dari buku bacaannya, dan ketika hal itu sungguh terjadi—lima detik setelahnya, ia melihat pipi Aamon bersemu merah dengan mulutnya gelisah bergumam, "Apa sih?"

"Aamon—" ia memanggil, melihat Aamon mengangkat kepalanya sesuai dengan apa yang telah ia lihat.

"Aku menyayangimu."