Work Text:
Fredrinn yang tengah bekerja di ruang kerjanya, terkejut atas kedatangan Xavier.
“Fredrinn, tanda tangani ini.” Begitu ujarnya, lantas menyerahkan secarik kertas.
Alpha itu menerimanya. Pena yang dipegangnya hendak mendarat diatas kertas putih itu, sejenak berhenti. Matanya menyusuri berulang-ulang kalimat yang tercetak jelas di atas sendiri.
“Xav, apa ini?”
Yang ditanya malah menduduki diri diatas meja, tangan tersilang di dada. Menatap Fredrinn dengan remeh.
“Orang berpendidikan tinggi sepertimu harusnya bisa paham hanya dengan melihat sekilas.”
Mengalihkan pandangannya dari kertas yang dipegang, Fredrinn lantas menatap pada mata safir yang disukainya itu.
“Iya, tapi maksudku– kenapa, Xav? Kenapa harus...”
Menaikkan sebelah alisnya, Xavier menunggu kelanjutan perkataannya.
Sejenak Fredrinn menghela napas berat, “...bercerai.”
Tanpa sadar Fredrinn meremat ujung kertas ditangannya.
“Menurutmu apa lagi? Tentu karena aku mencintai Alu.”
“Tapi aku suamimu, Xav. Dan kita baru menikah tiga hari lalu. Dan...kau mau cerai begitu saja?”
Fredrinn tak percaya. Ia berkali-kali menggeleng, berusaha meyakinkan bahwa ini hanya candaan semata.
“Fredrinn, aku tidak mencintaimu! Kita menikah karena itu yang ibuku mau sebelum ibu menghembuskan napas terakhirnya. Jika bukan ibu yang meminta, aku tidak sudi menikahimu.”
“Cinta bisa tumbuh kapan saja. Kau bisa belajar mencintaiku mulai dari sekarang.”
“Cintaku sudah tertambat pada Alu seorang. Berhenti menceramahiku.”
Menghela napas, Fredrinn berkata, “Baik. Aku akan menandatanganinya dengan satu syarat.”
Benda persegi panjang itu segera dilempar asal ke dalam tong sampah. Duduk di sofa, Xavier mendengus. Sudah keberapa kalinya ini? Tujuh kali, mungkin? Dan tak ada satupun yang positif. Atau dia harus membeli testpack yang lebih akurat lagi.
Padahal tadi pagi ia mual-mual.
Mereka selalu melakukannya. Hampir setiap malam selepas Fredrinn pulang kerja. Xavier akan menunggunya hingga larut malam. Menghampirinya, menciumnya dan meminta pria itu untuk menyentuhnya. Tak peduli pada Fredrinn yang terus berucap bahwa dirinya ‘lelah, tidak mood, ada rapat esoknya’, Xavier akan terus memaksanya hingga pria itu patuh.
Pria itu sangat lembut ketika melakukan ‘itu’. Membisikkan kata-kata manis ditelinganya disaat Xavier merintih. Mengecup air mata yang terus menetes disaat Xavier memohon. Semuanya terasa begitu samar, karena yang hanya Xavier ingat adalah bayangan Alucard. Pria yang dicintainya itu. Membayangkan bahwa orang yang bersamanya saat itu adalah Alucard bukannya Fredrinn.
“Xav?”
Suara berat Fredrinn menyadarkannya. Pria itu berdiri diambang pintu, melepas sepatunya sebelum memasuki ruangan.
“Fredrinn.” Xavier memanggil. Amarahnya sudah sampai ubun-ubin. Jangan-jangan Fredrinn sengaja tak mengeluarkannya di dalam. Ingin membuat hidup Xavier tersiksa dengan bersamanya.
“Ya–?”
Xavier berjalan menghampirinya. Kemudian mencium pria itu dengan mata terpejam erat. Fredrinn tak pernah menciumnya ketika mereka berhubungan. Selalu Xavier yang harus memulai. Xavier harus sedikit berjinjit untuk mencium yang lebih tinggi, hampir saja dirinya oleng jika pinggangnya tak segera dipegang.
“Xav? Ada apa–” Fredrinn terperanjat setelah ciuman mereka terlepas. Wajah sang alpha sedikit merona.
“Aku mau ‘itu’.”
Kerah kemeja Fredrinn ditarik kasar. Sebelum bibir keduanya terpaut sekali lagi, Fredrinn segera menjaga jarak. Pria itu menempelkan punggung tangannya pada dahi sang omega.
“Kau demam, Xav.”
Jemari Xavier dengan sembrono melepaskan kancing kemeja pria dihadapannya, “Aku sehat. Aku mau melakukan itu denganmu. Aku ingin hamil supaya bisa segera lepas darimu.”
Memberinya keluarga adalah syarat yang Fredrinn minta. Ia akan menandatangani surai cerai setelah Xavier memberinya keturunan. Ia membutuhkan keturunan untuk dijadikan pewaris, sebab orangtua dan saudaranya telah meninggal bertahun-tahun lalu, dia tak punya keluarga lagi. Bagaimanapun juga pria itu memiliki bisnis penting di kota. Xavier tak tahu pasti apa pekerjaannya , ia tak peduli, tapi Fredrinn adalah sosok pebisnis yang sering masuk tv. Setiap kali wajahnya muncul di acara berita, Xavier akan mengganti channelnya tanpa pikir panjang.
“Xavier.” Fredrinn mencengkram tangan Xavier yang bergetar. “Hentikan, kumohon. Kau hanya melukai dirimu sendiri.”
Xavier hendak menepis, namun Fredrinn mencengkramnya dengan erat. Xavier menolak untuk melihat wajah pria yang dibencinya itu. Jika saja ibunya tak meminta Fredrinn menikahinya, hidupnya tak akan semenderita ini.
Ia diam hingga akhirnya Fredrinn mengangkat tubuhnya menuju kamar. Membaringkannya diatas ranjang empuk yang selalu mereka pakai setiap kali berhubungan. Berpikir Fredrinn akan membuka pakaian yang Xavier kenakan, ia memalingkan wajahnya. Namun pria itu justru menyelimuti tubuh Xavier hingga pundak. Sebelum Fredrinn sempat beranjak, Xavier segera mencengkram tangan pria itu.
“Tunggu!”
Melihat Xavier yang membuka kancing piyamanya satu per satu, Fredrinn segera menghentikannya. Perlahan mendorong pria yang lebih muda darinya itu untuk berbaring kembali. Kepalanya pusing luar biasa, tapi dia masih bisa menyatakan protes.
“Kenapa menolak? Biasanya kau senang jika mau melakukan itu.”
Fredrinn melotot, “Kau pikir otakku isinya ngewe terus?!”
Sembari memijat pangkal hidungnya pria itu melanjutkan, “Aku beli obat dulu diluar. Jangan coba-coba beranjak dari kasur.”
Selepas kepergian Fredrinn, manik safirnya memandang ke langit-langit kamar. Kamar Fredrinn. Tapi semenjak Xavier menyodorkan surat perceraian, pria itu enggan datang kemari lagi, lebih memilih tidur di kamar lain. Fredrinn kesini jika mereka ingin melakukan ‘itu’, ketika pagi tiba pria itu sudah menghilang begitu saja.
Sudah tiga hari Fredrinn tak masuk kantor. Untuk fokus merawat Xavier hingga sembuh. Pria itu selalu datang dengan bubur dan obat-obatan ditangan. Xavier tentu segera menerimanya, tak mau Fredrinn mencoba menyuapinya lagi seperti sebelumnya.
Fredrinn tak seburuk yang ia duga. Pria itu perhatian dan juga baik. Tapi tetap saja Xavier membencinya. Teringat kedatangan Fredrinn tahun lalu ke rumahnya, ibunya menyambut sangat baik. Memasak ini itu yang bahkan harus dilakukan Xavier. Dari cerita yang ia dengar, Fredrinn adalah putra dari sahabat ibunya dan sudah dianggap sebagai anak sendiri. Bagaimana ceritanya orang baru datang di kehidupan mereka sudah dianggap seperti anak?! Xavier tak habis pikir. Ibunya juga sering menyebut-nyebut Fredrinn di setiap ada kesempatan dan membandingkannya dengan Alucard yang notabenenya pacar Xavier. Dia sudah muak. Dan sekarang dia harus menikahi Fredrinn!
“Untukmu. Diminum ya.” Xavier berucap setelah meletakkan secangkir teh diatas meja kerjanya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Fredrinn yang kebingungan.
Xavier memberinya minum?
Aneh.
Tapi dirinya tak ambil pusing. Mungkin Xavier memberinya sebagai rasa terimakasih sudah merawatnya waktu itu. Setelah menutup dokumen, lantas jemarinya mengambil cangkir tersebut. Uap panas terlihat jelas menari-nari diatasnya. Fredrinn meniupnya pelan sebelum meminumnya. Perasaan hangat menjalar keseluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Merasa tubuhnya lebih fresh, ia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Esok ia ada rapat di pagi hari, pekerjaannya harus segera selesai malam ini juga.
Semakin larut, ruangannya terasa semakin panas. Padahal AC ruangannya sudah diatur paling dingin. Ia tak bisa fokus. Memutuskan untuk mengambil air dingin di dapur, diperjalanan ia melihat kamarnya –yang ditempati Xavier– tertutup rapat. Mungkin sudah tidur. Diam-diam Fredrinn bersyukur, dengan begitu Xavier tak akan menganggu–menggoda–nya seperti biasa.
Satu botol air mineral sudah tandas habis diminumnya. Namun rasa panas ditubuhnya semakin menjadi-jadi. Membakarnya hingga ke tulang. Memejamkan mata untuk menenangkan diri, hidungnya justru menangkap aroma menggelitik. Harum dan memabukkan. Feromon Xavier.
Mungkin halusinasi. Begitu pikirnya.
“Fredrinn.”
Salah. Orang yang sedang dipikirannya tengah berdiri dibelakangnya. Menatapnya dengan sebuah seringai diwajah. Menghampirinya untuk menangkup wajah Fredrinn dengan telapak tangannya yang sejuk. Jantungnya berdebar tak karuan tatkala wajah mereka semakin berdekatan.
“Xavier.”
“Hmm?”
“Kurasa...aku sedang rut.”
“Lalu?”
“Aku takut tidak bisa mengontrol diri. Sebaiknya kau dikamar sa–”
Terlambat. Xavier sudah menciumnya lebih dulu. Membungkam semua kata-kata yang hendak dikeluarkan. Alpha dalam dirinya menggeram, ini yang diinginkannya sejak pertamakali bertemu Xavier.
Ia tak ingat apa yang terjadi setelahnya, tapi satu hal yang ia tahu, Xavier yang mengerang namanya membuat alpha dalam dirinya semakin bergejolak. Pagi harinya ia menemukan dirinya terbaring di ranjang, dengan Xavier dipelukannya. Mengintip dari balik selimut, tak ada satu helai kain yang membungkus keduanya. Dapat dilihat kulit mulus Xavier yang dipenuhi kissmark. Hampir saja dirinya tergoda untuk menambah tanda disana, namun suara dering ponsel menyadarkannya. Setelah selesai, ia segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi. Tak lupa meninggalkan memo yang ditinggalkan untuk Xavier.
[Aku ada urusan keluar kota, mungkin agak lama. Jaga dirimu baik-baik, Xav.]
“Aku pulang.”
Xavier yang tengah tiduran di sofa sembari menonton televisi segera mengubah posisinya menjadi duduk, sedikit kesusahan karena perutnya yang semakin membesar. Seorang pria besar masuk ke dalam ruangan setelah melepas sepatu dan menggantung jas yang dipakainya.
“Fred, kau pulang lebih awal?”
Masih pukul delapan malam lebih, semenjak dirinya hamil Fredrinn jadi sering pulang cepat.
Fredrinn menggumam sebelum menjawab, “Uh, yeah, aku tak mau membuat istriku menunggu lama dirumah sendirian.”
Pria itu menghampirinya, hendak mencium keningnya lembut.
Xavier terdiam. Semua ini terasa salah. Tak seharusnya Fredrinn memperlakukannya seperti ini. Pernikahan ini hanyalah kontrak sementara, yang dibuat diantara keduanya. Terkadang perlakuan Fredrinn padanya kerap kali membuatnya bingung. Pria itu memperlakukannya seolah-olah Xavier adalah cinta sejatinya. Pernah ia bertanya kenapa Fredrinn memperlakukannya dengan baik, pria itu hanya menjawab kalau ia tengah mengandung darah dagingnya. Sehabis check up kehamilan, dokter menyarankan agar mereka sering menghabiskan waktu bersama demi kesehatan Xavier dan bayi. Ini yang membuat Fredrinn semakin berani melakukan skinship dengannya. Awalnya Xavier risih diperlakukan demikian. Tapi apa yang dikatakan dokter demi kesehatannya dan bayi dalam perutnya.
“Sudah makan, Xav?” Fredrinn bertanya, duduk di samping Xavier dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher.
“Belum.”
Pria besar itu mengerutkan alis, “Kenapa belum?”
“Tidak lapar.”
Fredrinn menggelengkan kepalanya. Kemudian meraih tangan Xavier dan menggenggamnya lembut. “Xav harus makan supaya anak kita tumbuh sehat.”
Tangannya ditepis kasar. Xavier memandangnya nyalang dengan amarah yang kentara dikedua matanya.
“Anakmu,” sang omega bermata safir itu mengoreksi. “Jangan lupakan perjanjian kita. Setelah anakmu lahir, kita akan segera bercerai.”
Pria itu menghela napas. “Iya. Kau harus makan, aku tak mau ‘anakku’ kekurangan gizi karena kau tak mau makan.”
Berdiri dari duduknya, Fredrinn bertanya, “Ingin kubuatkan sesuatu? Atau beli sesuatu?”
“Aku mau makan roti bakar rasa coklat keju.”
“Ow, oke. Akan ku belikan. Tunggu sebentar.”
Pria itu mengambil kunci mobilnya sebelum berjalan keluar. Xavier menatap kepergiannya dalam diam. Fredrinn tak pernah menyangkal permintaannya barang yang aneh-aneh sekalipun. Langsung pergi membeli yang di ngidamkan Xavier, tak pernah mengeluh meski lelah bekerja.
Mungkin karena pria itu menginginkan anak ini. Ya, itulah mengapa Fredrinn menerima kontrak pernikahan yang Xavier ajukan.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Xavier segera mengangkatnya. Mungkin Fredrinn lupa rasa yang ia mau, seperti biasa.
“Coklat keju, Fred–”
“Hai Xavier.”
Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak tak karuan kala mendengar suara tersebut.
“A-Alu...”
“Kapan kau pulang? Aku sangat merindukanmu.”
Xavier tersenyum, “Kita kan hanya tak bertemu lima bulan. Tapi aku juga merindukanmu.”
Disebrang sana Alucard tertawa, Xavier bisa membayangkan wajahnya yang tertawa. Sangat tampan dengan senyum secerah mentari.
“Kapan kau kesini? Kau kuliah di luar kota kenapa jarang pulang?”
Xavier pergi supaya Alucard tak tahu mengenai pernikahannya, berbohong dengan dalih kuliah. Ia mencintai Alucard, hanya pria itu yang ada dihatinya. Pernikahannya dengan Fredrinn hanyalah wasiat mendiang ibunya yang sangat ia sayangi.
“Pulang yah...” Di elus perutnya yang membuncit itu, usia kandungannya sudah menginjak bulan ke empat. “Mungkin sekitar lima bulan lagi.”
Alucard menggerutu, “Lama sekali, aku sudah kangen.”
“Sabar sedikit lagi, aku kan harus menunggu libur semesteran.” Omega itu membaringkan tubuhnya di sofa, sejak kehamilannya ia jadi suka malas-malasan. Sebentar-sebentar merasa ingin berbaring. Fredrinn juga tak pernah meminta Xavier mengerjakan pekerjaan rumah, pria itu menyewa seorang pembantu.
“Hmm iyasih. Ya sudah, semangat kuliahnya! Bye!” Alucard berkata dengan ceria.
“Kau juga.”
“Love you.”
“Love you too.”
Xavier masih menatap layar ponselnya setelah panggilan dimatikan, memandangi wallpaper foto dirinya dan Alucard. Ia tak sabar ingin pernikahan ini berakhir. Ingin segera memeluk kekasihnya dan bercumbu dengannya. Betapa rindunya ia pada sosok pria pirang itu yang selalu ada untuknya itu.
“Habis menelpon?”
Terlalu larut dalam pikiran, ia baru menyadari bahwa Fredrinn sudah sampai dirumah dengan sekotak roti bakar ditangan. Teringat bahwa Fredrinn tak suka ketika ia berhubungan dengan pacarnya, segera disembunyikan ponselnya ke dalam saku.
“Iya.”
“Si Alu?” Nadanya dingin. Fredrinn tak suka.
Dengan badan sedikit gemetar, Xavier hanya bergumam tak jelas sebagai jawaban. Sebelum mengandung, Xavier selalu berani untuk melawan perkataan Fredrinn. Namun kali ini ia merasa tak berdaya dihadapan suaminya. Mungkin nalurinya sebagai omega membuatnya patuh terhadap alphanya. Bukan, ia belum ditandai, ia tak mengizinkan Fredrinn menandainya. Fredrinn bukan alphanya. Ini hanya karena efek kehamilannya. Ya ia yakin itu.
“Ini roti bakarnya.”
Omega berambut biru itu menerimanya dengan senang hati. Sudah lama ia tak makan roti bakar. Mengeluarkan isinya, Xavier melahapnya dengan semangat.
“Sudah minum susu hamilnya?”
Xavier menggeleng sebagai jawaban. Fredrinn beranjak menuju dapur, tak lama kemudian ia datang membawa segelas susu hangat ditangan dan meletakannya dimeja. Pria besar itu kemudian mendudukkan diri disampingnya.
Menghentikan kunyahannya ketika merasakan tangan Fredrinn tiba-tiba terulur menyentuh ujung bibirnya.
“Ada coklat,” ujarnya. “Susunya jangan lupa diminum.”
“Oke.” Kembali melanjutkan makannya, Xavier tak menyadari Fredrinn yang menatapnya dengan senyum diwajah.
Melihat istrinya yang makan dengan lahap membuat hatinya menghangat. Setiap pagi Xavier sering mengalami morning sick membuatnya tak napsu makan, apapun yang ia makan selalu membuatnya mual. Walau sudah diberi tambahan vitamin dan susu khusus ibu hamil, istrinya masih terlihat kurus. Bahkan makanan sehat sudah diatur sedemikian rupa oleh pembantu rumah tangga. Istrinya masih saja kurus, kecuali perutnya yang terlihat sedikit menonjol.
Sembari menunggu istrinya selesai makan, Fredrinn berkali-kali mengganti channel televisi untuk mencari tayangan yang cocok. Ia berakhir menonton sebuah movie yang sedang ditayangkan saat itu, sudah setengah cerita namun tetap saja ia tonton.
“Hmm, Lord of the Rings?” celetuk Xavier tiba-tiba. Omega itu tengah menjilati jemarinya yang terkena lelehan mesis.
“Kau tahu?” Fredrinn memegang pergelangan tangan Xavier dan membersihkannya dengan tisu. Begitu pula dengan pipinya yang celemotan coklat dan remahan roti.
“Film kesukaanku. Ini baru movie yang pertama, masih ada dua lainnya.”
“Trilogy?”
“Iya. Ceritanya bagus sekali, kau harus menontonnya. Aku sering menontonnya dengan Alu–emm, temanku.” Xavier buru-buru mengoreksi. Hampir saja ia keceplosan.
Fredrinn nampak tak mempermasalahkannya. Pria itu justru bertanya-tanya mengenai alur cerita sebelumnya, karena ia nontonnya sudah ketinggalan. Xavier dengan senang hati menceritakan alur cerita film kesukaannya.
“Aku ambil camilan dulu di belakang. Xav mau sesuatu?” pria itu beranjak. Xavier terlihat bosan, istrinya bilang ia sudah berkali-kali menonton movienya.
“Roti kacang. Kutaruh di dalam kulkas.”
“Okee.”
Alpha besar itu mengernyit ketika membuka pintu kulkas. Roti kacangnya tinggal sedikit, hanya lima biji di dalam toples kaca. Ia harus membelinya lagi sepulang kerja besok. Akhir-akhir ini istrinya suka ngemil roti kacang, padahal sebelumnya sangat tidak suka dengan kacang karena sering bikin jerawatan.
Dengan setoples roti kacang di apit diketiak dan buah segar ditangan, pria itu kembali menuju tempat istrinya berada. Sedikit terkejut ketika menemukan istrinya tidur menyender pada pegangan sofa, posisi setengah duduk. Pasti rasanya tak nyaman. Diturunkan bawaannya pada meja dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
“Xav? Sudah tidur ya?” Berbisik lembut ditelinga, Xavier menggeliat sebentar dan bergumam tak jelas sebelum berbalik mengganti posisinya membelakangi Fredrinn.
Fredrinn berakhir menggendong Xavier menuju kamar. Istrinya tak berontak barang sedikitpun, justru membenamkan wajahnya pada dada bidang Fredrinn. Setelah membaringkan sang istri, ia menyelimutinya.
Ia memandangi wajah damai sang istri, diciumnya kening Xavier. “Selamat tidur, istriku.”
Sementara itu tangan besarnya mengelus perut buncit sang istri dengan lembut. Merasakan tendangan dari dalam sana, Fredrinn tertawa. “Selamat tidur juga, jagoan papa.”
“Xav, tidak makan? Masih mual?” tanya Fredrinn heran. Pasalnya sang istri sudah tidak mengalami morning sickness lagi seminggu ini. Kemarin napsu makannya bagus, semua makanan yang ada di meja dilahap habis. Melihat Xavier yang murung dengan wajah ditekuk membuatnya mencelos. Xavier sedang hamil anaknya. Ia harus makan banyak makanan yang bergizi supaya bayinya sehat. Kalau seperti ini nanti Xavier bisa jatuh sakit.
“Gak mau.” Ketusnya.
Fredrinn makin bingung. “Gak suka masakannya? Atau mau makan diluar? Nanti segera kusiapin mobil–”
“Aku gendutan banyak makan.”
Alpha itu mengernyitkan alis. “Kan Xav hamil, wajar kan?”
Dan ia tengah memasuki bulan kelima kehamilan.
Omega bersurai biru itu menunjuk pipinya, “Lihat, tapi pipiku gembil! Baju gak muat lagi!”
Xavier menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya yang cemberut lucu sekali. Fredrinn tertawa, tangannya bergerak menutupi mulut. Omega dihadapannya ini memang sangat memedulikan penampilan.
“It’s ok, dear. Nanti aku belikan baju baru untuk Xav. Sekarang makan dulu ya. Habis ini kita ke mall.”
“Beneran?”
“Iya. Tapi makan dulu.”
“Okey.”
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap di kota. Jaraknya lumayan jauh dari rumah, tigapuluh menit perjalanan namun karena Fredrinn berkendara dengan pelan jadi memakan waktu empatpuluh lima menit. Xavier tertidur diperjalanan, Fredrinn memutuskan untuk berkendara dengan pelan. Hari ini libur, jadi ia bisa pergi sepuasnya bersama sang istri.
Memasuki pintu masuk mall, Xavier berjalan girang mendahului. Fredrinn mengurungnya terlalu lama dalam rumah, sebenarnya Xavier yang tak mau pergi sih. Xavier pasti senang bisa jalan-jalan keluar.
“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” seorang pramuniaga wanita bertanya, ketika mereka memasuki area toko baju.
“Baju khusus omega hamil.”
Pramuniaga itu kemudian mengarahkan mereka menuju kolom baju khusus ibu hamil dan anak. Xavier sibuk memilah baju, merasa tak ada baju yang cocok untuknya.
“Bajunya besar-besar semua.”
“Tentu, kan perutmu akan semakin membesar, Xav.”
Xavier tak menerima fakta perutnya yang akan semakin membesar. Ia berdecak kesal. Lagipula siapa yang mau hamil. Membuat tubuhnya gemuk saja. Alucard tak suka omega gendut!
“Tch, ya sudah kau yang pilihkan.”
Sementara Fredrinn memilih baju untuk sang istri, sudah bertumpuk-tumpuk baju yang dipilihnya. Xavier pergi menuju kolom sebelah, yang ternyata berisi baju anak. Bajunya warna-warni lucu sekali, dan mungil. Lantas matanya tertuju pada sebuah kaos kaki mungil dengan hiasan boneka Toroto mini dipunggung kaki.
Lucu sekali! Fredrinn harus melihatnya!
Ketika berbalik ia tak sengaja menyenggol seorang pria. Kaos kaki yang dipegangnya jatuh ke atas lantai. Pria berambut pirang itu berjongkok untuk mengambilnya.
“Maafkan aku, ini–”
Sebelum pria itu berdiri, Xavier segera berbalik dan berlari. Lari dari alpha pirang dihadapannya. Orang yang belum siap ia temui. Hampir saja ia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, namun Fredrinn dengan sigap mendekapnya.
“Hushh, tak apa. Aku disini.”
Omega dalam pelukannya bergetar, keringat dingin berucucuran di dahi. Fredrinn mengusap punggungnya lembut.
“A-ada Alu... Fredd, tolong aku.” Suaranya lirih sekali, namun Fredrinn masih bisa mendengarnya jelas. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, tubuh Xavier menjadi tegang. Omega itu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Fredrinn.
“Uhmm, maaf tuan. Sepertinya ini tadi terjatuh.” Pria bersurai pirang itu menyerahkan sepasang kaos kaki bayi.
“Oh...”
Fredrinn menerimanya. “Terimakasih tuan...?”
“Alucard. Maaf membuat uhm....” Alucard melirik Xavier yang ada dipelukannya, “...ketakutan?”
“Istriku. Ini istriku.” Jelas Fredrinn, semakin mempererat pelukannya. Dikecupnya pucuk rambut sang istri yang tertutupi topi rajut.
“Maaf sudah membuat istrimu ketakutan. Bagaimana jika ku traktir makan siang sebagai permintaan maaf?” Alucard menawarkan.
Alpha yang lebih tua itu menggeleng, “Tak apa. Aku dan istriku berencana langsung pulang setelah ini.”
Setelah masalahnya selesai, Alucard segera pamit pergi bus kampusnya sudah menunggu. Dalam dekapannya, ia masih merasakan Xavier yang ketakutan setengah mati. Ia tak mau ketahuan pacarnya.
“Fred, ayo pulang.” Omega itu mencengkram baju depan Fredrinn dengan erat.
“Mari pulang kerumah.”
Xavier tak berhenti menangis, bahkan setelah mereka sampai dirumah. Omega itu tak mau melepaskan diri dari Fredrinn seperti biasanya. Saat Fredrinn berinisiatif melakukan kontak fisik, Xavier selalu menghindar. Namun kali ini berbeda.
“Ba-bagaimana kalau Alu tahu aku sedang hamil? Alu gak suka omega gendut!”
Omega dipelukannya menangis semakin menjadi. Katanya mood omega hamil sering berubah-ubah, untuk menenangkannya dibutuhkan sang alpha disisi. Mengelus lembut pucuk kepala birunya, Fredrinn memberanikan diri mengecup ujung mata istrinya. Yang basah oleh air mata.
“Kalau melihatku, dia pasti benci–”
Ucapannya terhenti ketika Fredrinn menciumnya. Bukan ciuman di kening, namun tepat di bibir. Bukan kecupan penuh napsu yang melibatkan lidah seperti di malam-malam panas yang mereka habiskan. Melainkan sebuah kecupan lembut nan hangat.
Masih sesenggukkan, Xavier mulai terdiam. Fredrinn perlahan menjauhkan wajahnya, menatap sang istri dengan lembut.
“Jangan menangis. Dia tak melihatmu tadi. Xav aman.” Fredrinn menenangkan. Jempolnya bergerak lembut mengusap air mata yang masih menetes. “Kalau pria itu berani menghina Xav, akan ku pukul wajah jeleknya itu.”
“Tampan. Alu tidak jelek!”
Fredrinn menautkan alisnya. Merasa tak setuju, tapi akhirnya menuruti saja. “Iya, akan ku pukul wajah tampannya sampai jelek.”
Omeganya tertawa. Perlahan-lahan rona diwajahnya mulai kelihatan, istrinya semakin cantik saja. Tak peduli orang lain memanggilnya gendut atau apa, bagi Fredrinn istrinya lah yang paling cantik.
“Fredd.”
“Hm?”
“Yang tadi...”
Fredrinn menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. “Ummm, maaf yang tadi, aku menciummu tanpa persetujuan–”
Kerah lehernya ditarik tiba-tiba. Sekali lagi, wajah mereka berdekatan. Ia bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik dan manik safirnya yang indah, menatapnya dengan malu-malu. Rona merah menjalari pipi dengan indah. Yang diucapkan selanjutnya membuatnya terperangah.
“Mau cium lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Xavier segera menyatukan bibir mereka. Sebal atas reaksi sang alpha yang pasif. Tangannya mulai menjalar pada leher Fredrinn, menekannya untuk memperdalam ciuman mereka. Awalnya hanya Xavier yang mendominasi, lama-kelamaan Fredrinn tak mau mengalah. Keduanya sangat menikmati apa yang mereka lakukan, hingga tak menyadari bahwa kancing baju keduanya sudah mulai terlepas. Bahkan tangan Fredrinn sudah mulai menjamah punggung si omega.
Melepaskan cumbuannya, Xavier terengah-engah memanggilnya. “Fredd...”
“Hmm?” Yang dipanggil tengah sibuk menjilati leher putih Xavier.
“Kamar...”
Mengerti apa yang dimaksud, ia segera menggendong Xavier dalam pelukan. Sebisa mungkin berhati-hati untuk tidak menekan perut Xavier terlalu keras. Kemudian pintu kamar mereka tertutup dengan debaman keras.
Fredrinn terbangun karena merasakan goncangan di bahunya. Ia menatap Xavier dengan setengah sadar. Tangannya bergerak mengusap air liur yang menempel di pipi.
“Hmm. Kali ini mau ngidam aph-hoamm?”
Kira-kira sekarang pukul empat atau lebih, tebaknya. Sudah hapal tabiat Xavier yang sering membangunkannya hanya untuk diminta mengambilkan camilan di dalam kulkas. Atau membeli jajan diluar sana, di pagi buta seperti sekarang ini.
“Fredd! Bangun!”
Dibentak, sontak membuatnya melek. “Kenapa? Xav kontraksi? Kan baru enam bulan?!”
Xavier cengar cengir, wajahnya merona. Lantas menarik tangan Fredrinn, namun sedetik kemudian ditepisnya tangan tersebut. “Cih, bekas iler.”
Omega itu menarik tangan Fredrinn yang satunya lagi. Fredrinn tiba-tiba berkeringat, padahal hawanya dingin.
‘Itu tangan bekas ngupil semalam.’ Namun tak disuarakan.
Tiba-tiba Xavier menyingkap baju yang dikenakan, menunjukkan perut besarnya. Tangannya ditaruh pada permukaan perut Xavier yang semakin membesar. Merasakan ada tendangan disana. Xavier ingin menunjukkan ini, padahal Fredrinn sudah tahu setiap kali Xavier tertidur sebelumnya.
“Menendang?” Fredrinn pura-pura kaget. Tak mau mengakui kalau setiap malam ia hobi menempelkan wajah pada perut istrinya yang tertidur.
“Iya! Keras sekali!”
Alpha yang lebih tua itu tiba-tiba menempelkan wajahnya, mencium perut bundarnya. Xavier tertawa, geli karena Fredrinn memberikan kecupan bertubi-tubi diatas perut.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa kehamilannya sudah menginjak delapan bulan. Sebentar lagi si mungil lahir, begitu pula sisa waktu yang ia miliki bersama Fredrinn akan segera berakhir.
Berbicara mengenai pria itu, Fredrinn sering mengajaknya pergi jalan-jalan untuk makan diluar. Katanya, bagus untuk kesehatan sang bayi. Xavier hanya menuruti, Fredrinn sudah banyak membaca buku maupun artikel mengenai kehamilan. Pengetahuannya mengenai omega hamil pastinya sudah luas.
“Xav mau pesan apa?” Fredrinn memberikan buku menu padanya.
Mereka tengah berada disebuah restoran khas jepang yang memiliki ruangan bersekat sendiri-sendiri. Nuansanya sejuk dan membuat Xavier yang agak stress akhir-akhir ini menjadi lebih rileks. Alucard tak pernah menghubunginya akhir-akhir ini, Xavier jadi khawatir.
“Terserah kau saja. Si mungil punya selera sepertimu.”
Fredrinn tersenyum mendengar panggilan Xavier untuk anaknya. Hal itu selalu berhasil membuat Fredrinn bahagia. Xavier biasanya memanggil anak yang ada di perutnya dengan sebutan ‘anakmu’ bukan ‘anak kita’. Semenjak mereka mendebatkan gender sang bayi –Xavier bersikeras tak mau diberitahu dokter jenis kelaminnya– ia mulai menyebut sang bayi dengan sebutan ‘si mungil’.
“Okey.”
“Aku mau ke toilet dulu,” Xavier berucap seraya beranjak dari duduknya. Akhir-akhir ini ia jadi sering ke belakang.
“Mau kuantar?” Fredrinn menawarkan.
“Tak perlu. Aku tak lama.”
Sudah hampir setengah jam Xavier belum kembali. Makanan yang dipesannya sudah hampir dingin tergeletak diatas meja, tak tersentuh. Fredrinn tak mau makan dahulu, ia ingin makan bersama Xavier. Ia ingin mengenang kebersamaan mereka sebelum Xavier pergi dari hidupnya. Untuk selamanya. Mengajaknya berjalan-jalan hanyalah modusnya belaka supaya Xavier mau menghabiskan waktu. Ia pikir dengan kehamilan ini, Xavier berubah pikiran untuk tidak bercerai. Namun pria yang lebih muda itu selalu mengingatkannya untuk menandatangani surat yang sudah lama Fredrinn simpan di dalam laci meja kerjanya. Mungkin sudah berdebu atau dimakan rayap. Tapi ia yakin Xavier sudah menyediakan salinan lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara kokok ayam. Bukan ayam sungguhan, itu nada dering ponselnya. Tahu ponselnya tak dikunci, Xavier iseng mengaturnya demikian ketika Fredrinn sedang tertidur. Ia tak repot-repot melihat nama si penelepon, mengira bahwa itu mungkin Yuzhong atau bawahannya yang lain. Bertanya mengenai pekerjaan seperti biasa.
“Halo.”
Terdengar suara napas seseorang yang tercekat. Napasnya terdengar keras di telepon, tak karuan.
“Fredd, hhh–”
Suaranya terdengar kesakitan. Fredrinn mengenali suara itu.
“Xavier?”
“Tolonghh–”
Panik, ia menjawab, “Apa yang terjadi? Tidak. Jawab aku sebisamu. Bergumam sekali berarti iya, bergumam dua kali tidak. Mengerti?”
Xavier bergumam. Sekali.
“Masih ditoilet?”
Bergumam kembali. Fredrinn menjawab, “Aku datang, jangan putuskan teleponnya.”
Lalu berlari secepat mungkin menuju setiap toilet yang ada. Dan ia menemukan Xavier yang terduduk lemas dilantai kamar mandi. Wajahnya pucat pasi, kepalanya menyender di dinding dekat wastafel, sementara tangannya yang memegang ponsel terkulai lemas di atas paha. Yang membuat Fredrinn tercekat adalah genangan darah yang membasahi lantai.
“Xav! Bertahanlah,” ditepuk pipi istrinya supaya tetap tersadar. Jas yang dipakainya segera dilepas, untuk disampirkan pada tubuh Xavier. Lalu segera menggendongnya keluar.
“Fredd, aku–” Xavier berucap diantara sakit yang dialaminya.
“Jangan bicara. Aku akan mendengar apa yang kau bicarakan nanti. Kau harus segera ke rumah sakit.”
Yang Xavier rasa hanyalah rasa sakit yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara itu perutnya terasa dibelah dua. Sakit sekali. Diantara rasa sakitnya, ia hanya mendengar suara seseorang yang terus-terusan memanggil namanya. Bukan Alucard, itu suara milik Fredrinn. Memanggil namanya diiringi dengan isak tangis. Xavier ingin membuka matanya, melihat bagaimana Tuan Vance menangis, sejelek apa ekspresinya lalu menertawakannya. Tapi dia tidak bisa sebab kelopak matanya terasa semakin memberat di setiap detik yang ia lewatkan.
Ketika membuka mata, ia menemukan Fredrinn yang tidur dikursi, kepala menyandar pada ranjang putih yang Xavier tiduri. Pria itu memiliki kantung mata hitam yang sangat kentara melingkari mata bagai panda. Lalu manik safirnya beralih pada perutnya sendiri. Tangannya meraba, perutnya mengecil dan ada bekas jahitan melintang disana. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, namun sungkan membangunkan karena Fredrinn terlihat begitu kelelahan.
“Xav...” Fredrinn lantas duduk tegap, menyadari Xavier yang sudah bangun. “Bagaimana perasaanmu?”
“Dimana si mungil?”
Pertanyaan itu membuat Fredrinn terdiam. Seolah tak mendengar apa yang Xavier ucapkan, pria itu lantas berdiri.
“Aku akan panggil dokter dahulu.”
“Fred–”
Alpha itu terlanjur pergi dengan pundak yang merosot. Seakan pria tegar yang selalu sabar menghadapi sikap kekanakan Xavier tak pernah ada.
Hampir sepuluh menit Fredrinn tak kembali, dokter juga tak ada yang datang menemuinya selepas kepergian Fredrinn. Fredrinn bilang mau panggil dokter kan...
Mencabut selang infus ditangannya, Xavier perlahan-lahan berjalan tertatih keluar dari ruangan. Fredrinn yang tak menjawab pertanyaannya membuat perasaannya tak karuan. Bagaimana dengan si mungil? Xavier ingin melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum dirinya pergi dari kehidupan mereka. Fredrinn adalah alpha yang baik, Xavier yakin ia akan menyayangi anaknya dengan tulus.
Kakinya berhenti pada sebuah ruangan kaca bertuliskan ruang bayi. Seorang suster yang menjaga mencegahnya masuk ke dalam. Sang suster awalnya terlihat curiga, namun setelah Xavier menjelaskan bahwa ia ingin bertemu anaknya, ia mengizinkan. Bahkan membantu Xavier mencari anaknya di dalam ruangan besar itu, meminta Xavier untuk duduk saja sementara dirinya mencari. Omega itu tersenyum ketika melihat bayi gembil yang tertidur di tempat tidur bayi dihadapannya. Tak sabar untuk melihat anaknya. Seperti apa si mungil? Ia berharap si mungil mirip seperti Fredrinn saja, supaya ketika Xavier pergi nanti Fredrinn tak kebingungan menjawab kenapa wajah sang ayah dan si mungil berbeda. Fredrinn bisa membuat alasan bahwa sang ibu meninggal atau lainnya, dan Xavier tak perlu khawatir jika suatu saat mereka kebetulan berjumpa. Si mungil tak akan tahu bahwa Xavier adalah ibunya jika wajah mereka tidak mirip.
Mirip Fredd saja...mirip dia saja, kumohon.
Bagai mantra kalimat itu terus saja ia ucapkan dalam hati. Berharap tuhan mendengar dan mengabulkan doanya.
Detak jantungnya semakin lama semakin berdetak cepat, ketika sang suster tak kunjung menemukan bayi atas nama dirinya ataupun Fredrinn meski sudah mengecek daftar yang ada.
“Mungkin ada ruangan bayi lainnya di rumah sakit ini?” Xavier mencoba meyakinkan dirinya.
Sang suster menggeleng pelan. Xavier merasa dunianya perlahan menjadi hampa. Kemudian isak tangis segera menyusul hatinya yang kosong. Ia melangkahkan kaki keluar, tak ingin bayi-bayi disana terganggu karenanya. Berjalan tanpa tujuan, hanya mengandalkan kemana kakinya melangkah. Dia tak tahu nomor kamarnya, ataupun koridor-koridor yang sedang ia lalui saat ini. Tak peduli kakinya yang pegal, sakit dan nyeri minta berhenti. Koridor rumah sakit sudah sepi, mungkin karena jam kunjungan yang sudah habis dan juga malam yang semakin larut.
Hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Xavier.”
Itu adalah suara yang memanggil namanya. Ketika berbalik ia bisa melihat Fredrinn yang berlari ke arahnya. Dan memeluk dirinya, mencium pucuk kepala Xavier seperti biasanya. Setelah Xavier melihat alpha itu dari dekat, ia bisa melihat Fredrinn yang terlihat begitu lemah, begitu rapuh. Pelukannya tak seerat biasanya.
“Dimana si mungil?” Xavier bertanya lagi untuk kedua kalinya.
Untuk beberapa saat Fredrinn terdiam. Selain isak tangis yang terlontar keluar dari bibirnya adalah permintaan maaf yang menyayat hati.
Duduk diatas sofa favoritnya, Xavier menatap televisi yang menyiarkan acara komedi dengan pandangan kosong.
“Xav, minumanmu.”
Tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi, ia menerima cangkir tersebut. Namun tak langsung meminumnya, hanya di letakkan di atas meja.
“Xav, mau makan sesuatu?” Fredrinn menawarkan entah untuk keberapa kalinya hari itu. Yang ditanya diam saja. Manik safir yang biasanya nampak tajam itu kini hanyalah tatapan kosong.
Pernah sekali Fredrinn keceplosan menawarkan makanan yang biasa Xavier makan ketika hamil, omega itu langsung berlinang air mata. Ia sampai bingung ingin menawarkan apa agar istrinya mau makan, semua makanan yang ada selalu mengingatkan Xavier akan si mungil.
Setelah Fredrinn menceritakan apa yang terjadi. Senyum diwajah Xavier telah menghilang. Lebih suka menyendiri dan terdiam di depan televisi. Kadang menangis sesuka hati.
“Fredd...” Xavier berkata lirih.
Fredrinn mendekatkan wajahnya, takut tak mendengar apa yang mau Xavier katakan. “Iya, Xav? Mau sesuatu?”
Alih-alih menjawab, Xavier justru bertanya. “Kenapa kau tidak mencari omega lain saja? Aku...”
Untuk pertama kalinya, Xavier menatap matanya. “...tidak bisa memberimu keluarga.”
“Dari mana kau mengetahuinya?”
Satu hal yang tidak Fredrinn beri tahu adalah kemungkinan bahwa Xavier tak bisa mengandung lagi.
“Aku dengar kalian bicara.”
Oh. Tentu saja. Xavier bukan anak penurut. Larangan adalah perintah.
Tangan Fredrinn bergerak untuk merangkul tubuh kurus sang istri, mengusap-usap pundaknya dengan lembut. Kemudian mencium pucuk kepala biru Xavier dengan lembut, seakan satu gerakan ceroboh bisa membuat orang dalam pelukannya remuk berkeping-keping.
“Dengar, Xav. Bersama denganmu saja sudah cukup untukku. Dan kau sudah menjadi bagian dari keluarga yang ku inginkan.”
Xavier merasa dirinya adalah orang paling jahat di alam semesta dan tak pantas mendapat orang sebaik Fredrinn. Sudah banyak hal buruk yang ia lakukan pada suaminya, tapi Fredrinn memaafkannya secara cuma-cuma. Bahkan setelah Xavier gagal memberi keluarga yang Fredrinn inginkan.
“Xav, aku sudah menandatangani perceraian kita. Kau bisa pergi kapanpun jika bersamaku membuatmu menderita.”
Setetes air mata jatuh di wajah pucat sang istri, Fredrinn segera menghapusnya sebelum air mata itu terjatuh.
“Tak ada tempat berpulang bagiku lagi. Ibu telah tiada. Alu...”
“Ya, aku tahu.”
Manik safir Xavier melebar. Bagaimana bisa Fredrinn mengetahuinya? Ia berpikiran untuk menyimpan rahasia ini.
“Aku menyuruh orang untuk menginvestigasi kejadian itu. CCTV hanya merekam diluar, beruntung ada seorang saksi yang menyaksikan dari balik bilik toilet... Kalian tak sengaja bertemu disana, lalu bajingan itu, Alucard, membentakmu dan mengatakan kau seorang –maaf– ‘jalang’. Kau meraih tangannya sebelum ia pergi, ingin menjelaskan hubungan kita. Namun bajingan itu mendorongmu hingga jatuh.”
Xavier merasa tenggorokannya tercekat. Semua yang Fredrinn katakan benar adanya. Xavier berniat merahasiakan semua ini dari suaminya sendiri.
Jika saja si mungil bisa diselamatkan... mungkinkah Xavier masih mau mencintai Alucard setelah apa yang pria itu lakukan padanya?
Selama satu tahun ini, Fredrinn terus menemaninya. Bersama-sama mereka belajar untuk menerima kepergian buah hatinya. Itu adalah kecelakaan yang telah ditakdirkan. Mungkin dengan begitu keduanya bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Fredrinn masih menjadi suami terbaik yang selalu menghujani istrinya dengan kasih sayang. Xavier kini belajar agar bisa menjadi istri baik bagi Fredrinn, meski pria itu berkata seperti apapun dirinya, Fredrinn akan terus mencintainya. Namun pria itu senang, Xavier mau mencoba untuk mencintainya.
END
