Actions

Work Header

Mimpi Tanpa Tepi

Summary:

Entah di padang pasir, di hutan hujan, di tanah bebatuan di mana langit gelap dan tak bergerak sebagaimana waktu yang mandek, Kaveh selalu kembali ke tempat ia menggendong Alhaitham di belakang punggungnya.

—Kavetham; Kaveh/Alhaitham.

Notes:

Disclaimer: Genshin Impact © HoYoverse. No profit gained from this fanwork.

Work Text:

Mimpi Tanpa Tepi

© Kenzeira


where you gonna go like that?

with the holes in you

{gregory alan isakov - where you gonna go}


Alhaitham terkulai lemas di belakang punggung Kaveh. Tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali.

Kaveh membetulkan posisi Alhaitham. Ia masih berjalan dengan langkah terseok-seok. Hanya ada padang pasir sejauh mata memandang. Terik matahari teramat panas, mustahil turun hujan. Angin berembus membawa terbang pasir-pasir, menampar muka yang sudah sedemikian kusam. Ia memejamkan matanya beberapa kali. Kedua mata itu kini sangat merah.

“Kenapa tidak ada manusia di sini.” Ia menggerutu. Kakinya yang menyeret-nyeret meninggalkan jejak panjang. Tenggorokan telah lama kering. “Di mana dewa sembunyi? Sungguhkah Nabu Malikata telah mati…”

Alhaitham tertidur lelap seolah enggan bangun. Kaveh kehilangan tenaga. Panas yang menyengat membuat pakaiannya basah oleh keringat.

“Sebentar lagi, sebentar lagi kita akan sampai.”

Sampai di mana?

Langkah kaki semakin berat.

“Bertahanlah, Alhaitham.”

Bibir bawah digigit keras. Kering, berdarah.

Kaveh tidak ingat bagaimana semua ini bermula. Tiba-tiba saja, ya, tiba-tiba saja, mereka berada di tengah pertempuran. Alhaitham kehilangan kekuatan visionnya—ataukah kekuatan itu telah dicuri, Kaveh tidak paham. Ia bahkan tidak ingat bagaimana muka musuh mereka. Diserang mendadak, dihancurkan sedemikian rupa. Alhaitham nyaris tewas.

Kaveh mengandalkan perisai rapuh terakhir dan berlari dengan Alhaitham di punggung. Ia sudah terbiasa membawa beban berat, seperti senjatanya sendiri. Sekarang ia meninggalkan senjata itu di medan pertempuran dan memilih membawa pergi Alhaitham—melarikan diri, asalkan mereka selamat.

Tidak berguna. Pertempuran itu. Tidak berguna dan sia-sia. Tak ada tujuan pasti. Hanya menyerang membabi-buta. Menyebut-nyebut nama. Mengagungkan. Siapa? Mustahil mereka terlempar ke masa-masa Perang Archon. Mustahil mereka terjebak dalam kesengsaraan tiada akhir akibat campur tangan penyalahgunaan Irminsul. Ataukah ini ada hubungannya dengan pengetahuan terlarang?

Kalian tidak tahu apa pun mengenai dunia yang sesungguhnya, mengenai langit yang sesungguhnya. Mengenai hukum Celestia…

Sosok misterius berkata demikian sebelum menghunuskan tombak ke dada Alhaitham—menembus sampai ke belakang punggung. Memuncratkan darah. Dan darah itu kini merembes mengotori pakaian Kaveh. Pakaiannya basah oleh keringat dan darah. Darah merah, darah kental, darah yang kini kering.

Tubuh Kaveh oleng. Jatuh. Tersungkur. Ia tidak memiliki tenaga lagi. Sudah berapa hari ia berjalan—atau bulan, atau tahun? Sudah berapa lama Alhaitham tidur.

“Di mana manusia ketika aku butuh? Sial.”

Jari-jemarinya mencengkeram pasir. Alhaitham terbaring di sampingnya. Hening. Bisu. Kaku. Kaveh telah lama tahu. Tidak ada lagi napas di sana.

Tetapi ia tetap mencoba menghibur diri, dan mengatakan:

Bertahanlah, Alhaitham.

Kaveh terbangun dari tidur panjang. Ia mendapati dirinya berada di dalam kamar—kamar yang tidak asing; dipenuhi buku-buku, berserak tak beraturan. Matanya mengerjap-kerjap, memandang langit-langit.

Mimpi?

Mimpi buruk itu datang lagi.

Tangannya meraba-raba nakas, mencari Akasha. Disampirkannya ke telinga, mencoba mencari informasi mengenai apa yang terjadi. Sungguhkah hanya mimpi, sebab ia mulai ragu karena mimpi itu terus berepetisi.

“Siapa yang menjabat panitera di Akademiya?”

{Biiip. Alhaitham merupakan panitera di Akademiya.}

Kaveh membuang napas lega, lalu mengulas tersenyum tipis. Kalau begitu, seharusnya Alhaitham berada di sini. Ia melangkah gontai, secara mengejutkan seluruh tubuhnya terasa lemas. Kenop pintu dibuka lantas sepasang matanya menangkap keberadaan Alhaitham. Pemuda itu tengah duduk membaca buku, dengan kopi terhidang di atas meja. Alhaitham tampak segar, bersih, dan bernapas. Halaman demi halaman buku disibak perlahan. Kaveh masih berdiri di ambang pintu, enggan mengalihkan pandangan.

“Aku tidak tahu ternyata mulutmu bisa diam juga ketika aku fokus membaca buku.”

Kaveh mengulas senyum simpul. Suara itu… suara yang amat dirindukannya. Terdengar jelas, dan sama menyebalkan. Ia harap telinganya tidak menipu, sebagaimana matanya yang sering melakukan itu.

“Aku senang bisa bertemu melihatmu hari ini.”

Alhaitham tetap fokus pada bukunya. “Apa maksudnya itu.”

Ada semburat merah di telinga Alhaitham, rona yang seringkali tidak terdeteksi karena terhalangi alat kedap suara—titik sensitif si pemuda yang lebih jujur daripada keseluruhan reaksi tubuhnya. Kaveh menyesal kenapa ia tidak mendekati pemuda itu dan mencium bibirnya.

Hujan

Rintik-rintik hujan menghujam wajah. Kaveh bangkit. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Ada lebam kebiruan di berbagai sudut. Ia mengaduh. Di hadapan, hanya ada hutan gelap sejauh mata memandang. Lalu, Alhaitham. Alhaitham yang terkulai dengan mata terpejam tak jauh dari posisinya. Ada luka di dada pemuda itu. Luka tusukan senjata.

Kaveh menepuk-nepuk pipi Alhaitham yang dingin. “Bangunlah! Bangun! Dadamu bolong! Kamu harus melakukan sesuatu!”

Tidak ada respons.

“Sial!”

Ia menggendong kawannya itu di belakang punggung. Berjalan lagi melewati hutan hujan. Berjalan dan terus berjalan. Hujan di dalam hutan itu tidak pernah berhenti sampai ia jatuh kehilangan tenaga. Tangannya mencengkeram akar-akar pohon. Mencoba mencabut. Tidak berhasil. Wajahnya menyentuh tanah becek. Alhaitham tergeletak di sampingnya.

“Alhaitham, hei, Alhaitham, bertahanlah.”

Tetapi di dalam mimpi mana pun, Alhaitham tidak pernah bisa bertahan.

Apa kau masih hidup?

Atau tidak.

Kaveh terbangun dari tidur panjang.

Tetapi kali ini bukan di dalam kamarnya.

Ia terbaring di atas ranjang asing. Langit-langit kamar putih, dinding putih. Gorden hijau muda. Ada gelas berisi air dan bunga padisarah yang warna ungunya kehilangan cahaya. Padisarah yang nyaris layu. Apakah ini rumah sakit, ia bertanya-tanya. Seorang perawat datang.

Oh.

“Sudah bangun rupanya. Teman-temanmu baru saja pulang.”

Teman-teman…

Kaveh sulit mengeluarkan suara.

Perawat itu menutup gorden.

“Al-hai-tham…”

Tidak ada reaksi selain senyuman. Kaveh memejamkan matanya kembali. Ia tidak ingin melihat senyuman perawat tersebut, senyuman itu bukan senyuman yang bagus. Lebih baik ia tidur lagi dan memimpikan dirinya terbangun di dalam kamarnya sendiri lalu melihat Alhaitham tengah membaca buku dan mereka menghabiskan waktu bersama dan sedikit adu mulut yang berakhir tawa dan mungkin sedikit ciuman dan—

{Bunyi biiip panjang berdengung.}

Tetapi Kaveh selalu kembali ke tempat di mana ia menggendong Alhaitham di belakang punggungnya—entah di padang pasir, entah di hutan hujan, entah di tanah bebatuan di mana langit gelap dan tak bergerak sebagaimana waktu yang mandek. Kompas mati. Waktu berhenti. Dan Alhaitham… masih tetap bisu, kaku, dengan dada bolong.[]


16:44 — February 17, 2023