Work Text:
Kalau dengan mati kamu diberi pilihan untuk hidup kembali dalam keadaan yang sama sekali lain, akankah kamu mengambil kesempatan itu?
Pertanyaan itu seringkali terngiang-ngiang, seakan mematuk kepala Diluc bagaikan seekor burung yang dahulu kala ia pelihara. Dahulu kala. Mungkin ratusan atau ribuan tahun lalu. Entah. Dalam ingatannya yang kadang segar kadang buram, ia hidup makmur meski diselimuti kesengsaraan. Dan ia memiliki adik tiri. Kaeya.
“Kaeya.”
“Ya?”
Sosok pemilik nama menolehkan wajah sebentar, sebelum kembali fokus pada kerang-kerang yang tengah dia kumpulkan di tepian pantai. Kerang-kerang berkilauan, sebagaimana ujung laut yang disinari terik matahari—meskipun laut kali ini tidak memiliki ujung. Suara Kaeya masih sama renyah seperti yang terakhir kali Diluc ingat.
“Kira-kira sudah berapa lama kita hidup?”
Pertanyaan Diluc membuat Kaeya terkekeh kecil. “Diluc selalu bertanya hal yang sama,” jawab si pemuda berkulit gelap, tidak menanggapi dengan serius.
Diluc merasa mereka tidak menua, tidak tumbuh. Seakan waktu berhenti dan semua manusia terperangkap dalam keadaan stagnan. Bahkan dunia terasa aneh. Tatkala tangannya menggenggam pasir, ia dapat melihat lubang kehampaan seukuran pasir yang digenggamnya. Dan ketika pasir itu berjatuhan, perlahan lubang itu pun tertutup kembali.
“Lihat, kerang berwarna biru. Seperti rambutku.”
Diluc melihat kerang sekilas, lalu memperhatikan Kaeya lebih lama. “Cantik.”
Kaeya tersenyum. Ada rona kemerahan di pipinya. Benar. Cantik.
Diluc merebahkan diri di atas pasir, memandang langit biru. Ada beberapa burung terbang. Sekian lama mereka berdiam diri di sana, tidak sekalipun ada tahi burung yang jatuh. Kaeya ikut membaringkan diri di sebelahnya setelah bosan dengan kerang-kerang. Dunia tampak ideal, tetapi di saat yang sama terasa ganjil. Diluc memiringkan badan, menjadikan lengan sebagai bantalan kepala. Sepasang matanya menatap Kaeya intens.
“Kalau kukatakan bahwa memang benar di kehidupan sebelumnya kamu adalah adik tiriku, bagaimana? Bahkan dalam keadaan seperti itu aku tetap ingin tidur denganmu, Kaeya.”
Kaeya menghela napas. “Kita sudah terlalu sering membahasnya. Andai benar begitu, itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita yang sekarang. Bagaimana kalau kita fokus saja dengan apa yang sedang terjadi? Lagi pula, mungkin yang Diluc pikirkan selama ini hanyalah mimpi panjang. Tidak bisa kubayangkan seseorang seperti diriku menjadi kapten kavaleri.”
“Lalu apa yang bisa kamu bayangkan tentang dirimu di kehidupan sebelumnya?”
“Mungkin seorang pemabuk. Dan… hmm, perayu ulung. Karena itulah aku bisa membuatmu terpesona sampai-sampai ingin meniduriku walaupun aku adalah adikmu.”
Diluc terkekeh. Tidak meleset. Kaeya bangkit dan membubuhkan ciuman singkat, lantas menggeliat. Diluc menyentuh bibirnya sendiri. Ia tidak mendengarkan celotehan Kaeya mengenai berbagai bentuk kerang yang berhasil pemuda itu kumpulkan, pikirannya terlalu fokus akan satu hal; bagaimana kalau ternyata kehidupan sekarang lah yang merupakan mimpi panjang?
Barangkali Diluc sesungguhnya telah lama mati ratusan atau ribuan tahun lalu, entah. Lantas ruhnya diberi kesempatan menciptakan dunia mimpi ini—dunia ideal ini, di mana tidak ada yang menentang ataupun menghalanginya untuk bersama Kaeya. Mungkin hanya Diluc yang nyata. Mungkin Kaeya hanya imajinasi dari hasil penciptaan dunia hampa. Sebab itulah mereka tidak tumbuh, tidak menua. Karena tidak ada roda waktu yang berputar.
Waktu tetap tidak berjalan sementara Kaeya mulai berlari dan menceburkan diri ke laut tanpa ujung. Pemuda itu tampak bahagia; tersenyum lebar seraya melambaikan tangan padanya. Diluc melihat dari kejauhan, kemudian membalas lambaian tangan Kaeya.[]
3:07 AM – June 23, 2023
