Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Pekan HaiNo 2023
Stats:
Published:
2023-02-19
Words:
2,190
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
21
Bookmarks:
4
Hits:
184

Kisah Tentang Mimpi

Summary:

Cyno mengulurkan tangannya, yang ia gapai hanyalah udara.

Notes:

my entry for the last day of Pekan Haino : free theme!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Cyno mengerjap. Udara di sekitar terasa kering menyapu kulitnya. Kedua kakinya menapak pada pasir yang terasa lebih padat dibandingkan pasir gurun pada umumnya. Ia tidak dapat mencium aroma apapun, namun dari jejak yang tertinggal di tanah, ia tahu bahwa dirinya tengah berada di area sebuah oasis.

Ah, seseorang menunggunya, hanya itu yang terlintas di dalam pikir. Cyno mulai berjalan, mengikuti jejak kaki yang telah ada sebelumnya dengan jarak antar langkah yang lebih lebar dibandingkan miliknya. Tidak ada rasa was-was yang biasanya selalu duduk tenang di dalam benaknya. Hanya rindu—entah kepada siapa.

“Cyno,” sebuah suara memanggil namanya. Suaranya dalam, namun terdengar begitu jernih di telinganya. “Kemarilah,” ujar suara itu lagi, kali ini Cyno mendengar tawa pendek di ujung katanya, “kau melamun lagi.”

Langkah kaki Cyno memanjang, tergesa dalam harap yang berbunga. Seseorang berdiri di sisi oasis yang lain. Bersandar di bebatuan, sembunyi dalam bayangan, tak tersapu oleh cahaya bulan. Cyno bahkan tidak dapat melihat jelas siluetnya meski ia memicingkan mata, namun kakinya terus melangkah maju, berusaha mengitari oasis yang permukaannya memantulkan gemerlap bintang. Dingin air menerpa kakinya—

—kedua mata Cyno terbuka. Satu tangan terulur ke langit-langit kamarnya, seolah hendak menggapai sesuatu. Perlahan, Cyno bangkit dari tidurnya, duduk di kasurnya, mendapati selimut tipis tak lagi menutupi kakinya.


“Cyno,” suara itu lagi, memanggil namanya lagi, begitu dalam dan penuh damba. Cyno mendongak, mendapati dirinya berada di antara rak-rak buku tinggi di House of Daena. Kali ini ia tengah duduk di salah satu banku, sebuah catatan terbuka di hadapannya dengan beberapa pena yang berserakan di atas meja.

Ah, ia tahu tempat ini. Sebuah sudut tempat ia suka menghabiskan waktu untuk mencocokkan tiap informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya dengan data yang dimiliki oleh Akademiya. Jika ia masih disini, dengan pena merah yang masih basah, berarti orang itu belum tiba untuk memberinya informasi tambahan.

“Cyno,” panggil suara itu lagi. Cyno menoleh, mendapati seseorang berjalan mendekatinya. Sosok yang siluetnya begitu ia kenal. Langkah yang hitungannya Cyno hapal di luar kepala. Gemerincing logam dari segala aksesoris yang terpasang di tubuhnya tiap lelaki itu bergerak. Selangkah, demi selangkah, dan Cyno merasakan bibirnya merekah.

“Kau melamun lagi,” ujar suara itu. Sebuah tangan terulur dan Cyno bisa melihat sarung tangan hitam yang biasanya, pengait emas yang biasanya, hendak meraihnya entah untuk apa. Cyno merasakan tangannya bergerak, hendak menyambut, ingin menggenggam—

—Cyno meraih udara. Lagi-lagi tangan terulur ke arah langit-langit kamarnya, berusaha menggapai sesuatu yang tak terlihat. Cyno bangkit dari posisinya, duduk dan memandangi tangannya. Ia mengepalkannya, rasa ingin menggenggam sesuatu itu begitu kuat menggerogoti dadanya, menyanyikan sepi untuknya, membisikkan ragu ke sadar fananya.


“Itu wajar,” Nahida tersenyum ketika ia telah selesai mendengarkan apa yang meluncur dari bibir Cyno. “Karena tidak ada lagi yang merebut mimpi mereka, semua orang di Sumeru dapat mengalaminya lagi, meski mereka sudah dewasa. Aku paham jika beberapa orang merasa kurang nyaman mengenai ini. Namun, perasaan tidak nyaman itulah yang akan membuat seseorang ingin tahu lebih jauh. Mengapa mereka memimpikan hal itu? Apa yang membuat mereka bisa memimpikan hal itu? Kenapa hal itu lah yang menjelma menjadi mimpi mereka di malam hari?”

Nahida tersenyum, tatapannya lembut ke arah Sang Mahamatra Agung. “Tidakkah kau ingin tahu mengapa tanganmu tak kunjung bersambut, Cyno?”

Cyno tidak menjawab. Ia sendiri tidak tahu apa asal muasal pertanyaan yang diajukan padanya.


“Cyno!” suara itu terdengar serak seolah telah berteriak puluhan kali. Cyno masih dapat merasakan dalamnya suara yang selalu menghampiri di siang dan malamnya, namun gema frustasi itu baru pertama kali ia dengar, dan ia tidak menyukainya.

Ada panik yang menjalar dari ujung kakinya, merambat cepat naik hingga ke perutnya. Membuat detak jantungnya berdegup kencang, mengeratkan kerongkongan dan menghimpit tenggorokannya, menyekat napas yang biasanya keluar masuk dengan bebas dan bertenaga.

“Jangan melamun di saat begini!” suara itu membentaknya, dan Cyno baru menyadari kobaran api di sekitarnya. Api membara dan menjilat langit-langit, asap mengepul mengaburkan pandangan, panas menyengat dan perlahan terasa membakar kulitnya. Ia terbatuk,sekali, dua kali, dan kakinya membawanya berlari menuju sosok yang juga berlari kepadanya, tangan terulur padanya, api berkobar di belakangnya.

Ada suara berderak diiringi getar yang terasa di telapak kakinya. Cyno mendongak, mendapati sebuah tiang yang dilalap api, perlahan miring, roboh.

“Cyno!”

Mata Cyno membulat, melihat kemana arah tiang itu akan roboh, apa yang akan ditimpa, siapa yang akan tertimpa massa berkobar tersebut.

“ALHAITHAM!!!”

Cyno terduduk di tempat tidurnya, peluh membanjiri tubuhnya, jantung seolah hendak kabur dari rongga dadanya, tangan terulur ke depan, terkepal, seolah menggenggam sesuatu. Cyno tak berani membuka kepalan tangannya, menyadari bahwa hanya udara yang ada disana, menemaninya dalam kosong yang tak berkesudahan.

“Tidakkah kau ingin tahu mengapa tanganmu tak kunjung bersambut, Cyno?”


Cyno duduk di kantornya. Ia tengah memeriksa laporan beberapa matra yang ia kirim untuk misi-misi kecil. Azar dan antek-anteknya memang sudah diasingkan, namun bukan berarti para peneliti di Akademiya berhenti pula melanggar peraturan demi ambisi atau kelulusan yang terasa sulit diraih.

Suara ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya. “Masuk,” ujar Cyno, menyilakan siapa pun di balik pintu untuk masuk ke dalam ruangannya. Tidak lama, Nabil memasuki ruangannya. Setumpuk dokumen di tangan kiri, sebuah gelas minuman di tangan kanannya.

“Selamat pagi, Mahamatra Agung. Berikut dokumen yang anda minta kemarin dan kopi untuk hari ini,” Nabil meletakkan kedua benda tersebut di hadapan Cyno.

“Duduklah dahulu, aku ingin kau mengecek beberapa dokumen yang telah aku tandatangani dan beberapa yang memerlukan laporan lebih lanjut,” balas Cyno, menyodorkan beberapa dokumen kepada Nabil dan mengambil gelas berisi kopi hangat yang Nabil bawakan.

Selama beberapa lama, tidak ada yang bicara dan hanya sibakan kertas yang terdengar. Cyno meraih gelas yang berisi minuman hangat berkafein pertamanya di hari itu, meniup permukaannya sekali dua kali, lalu mulai menyesap isinya.

Hanya untuk mendapati rasa kopi yang berbeda menerpa indra perasanya.

“Ini, kau dapat darimana? tanya Cyno, meletakkan kopi tersebut setelah tegukan pertama.

“Ah, kami membelinya di Kafe Puspa,” jawab Nabil, “hari ini Acting Grand Sage tidak masuk sehingga hari ini kami sepakat untuk membeli saja.”

Cyno mengerjap. “Bukankah setiap hari kalian membelinya?”

Nabil mendongak, wajahnya memucat ketika melihat tatapan Cyno yang tajam ke arahnya. “Ah…. Kami dilarang mengatakan ini oleh Acting Grand Sage, tapi karena anda menyadarinya apa boleh buat.” Nabil diam sejenak, “Kopi yang biasanya anda minum dibawakan langsung oleh Acting Grand Sage setiap beliau datang ke kantor.”

“Mulai kapan…?” Cyno berusaha menggali ingatannya, berusaha mencari sejak kapan ia meminum kopi dengan rasa yang sama tiap harinya. Kopi dari Alhaitham, yang baru ia tahu hari ini.

“Sejak Akademiya aktif kembali setelah Pak Azar diasingkan ke hutan,” jawab Nabil.

Empat bulan, batin Cyno.

Empat bulan.


Cyno segera masuk ketika pintu terbuka. Tanpa salam, tanpa permisi, tanpa memerlukan ijin dari sang empunya rumah. Langkahnya pasti mesti tangannya terasa gatal untuk segera meraih sesuatu. Begitu ia mendengar pintu tertutup, ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sang pemilik rumah, kedua tangan dilipat di depan dada.

“Apakah ada sesuatu yang kulakukan hingga Sang Mahamatra Agung sendiri yang perlu mengunjungiku secara pribadi?” Alhaitham bertanya, tidak protes dengan tamu yang bahkan tak merasa perlu menyapanya.

Cyno membuka mulutnya, namun segera menutupnya lagi. Matanya terarah pada kemeja lengan panjang longgar yang tengah dikenakan oleh rekan kerjanya, sesuatu yang baru kali ini Cyno lihat sepanjang sejarah ia mengenal Alhaitham.

“Terima kasih, untuk kopinya,” ujar Cyno, berusaha tidak mengarahkan pandangannya ke lengan kanan Alhaitham. “Kau tidak perlu repot-repot.”

Alhaitham menatap Cyno, seolah Sang Mahamatra Agung adalah salah satu relik yang harus ia pahami dalam-dalam. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah menuju bagian dalam rumahnya. “Kemarilah. Aku bahkan belum sempat menyeduh kopi hari ini.”

“Karena luka di tubuhmu?” tembak Cyno, menyadari bagaimana langkah Alhaitham yang lebih lambat dibandingkan biasanya. Mudah baginya untuk menyusul Alhaitham, namun Cyno menatap punggung tersebut yang menjauh dan bergeming di tempatnya.

“Duduklah, temani aku sarapan,” balas Alhaitham, terdengar lebih jauh dari yang sebelumnya. Dengan suaranya yang dalam; suara yang begitu Cyno kenal di kala bangun dan lelapnya. “Kupastikan padamu bahwa aku tidak melanggar apapun yang memerlukan perhatian matra, terutama Mahamatra Agungku, dalam perjalanan singkatku di gurun.”

Cyno melangkahkan kakinya lebih jauh, mendapati Alhaitham yang tengah berdiri di tengah dapur. Tangannya sibuk menggiling biji kopi menjadi bubuk halus secara manual dengan sebuah alat namun bukan Cyno kalau ia tak menangkap gemetar tipis tiap kali Alhaitham menggerakkan penggiling kecil itu terlalu kuat. Sungguh lelaki ini keras kepala—dan bukan Cyno kalau ia mengalah dengan keras kepala macam itu.

“Aku pinjam dapurmu,” ujar Cyno. Lagi, tanpa permisi, ia memasuki area dapur. Segera meraih apron warna hitam yang tergantung, mata nyalang mencari bahan-bahan apa saja yang bisa ia gunakan. Ia melihat beras, ayam, ikan, yogurt, dan satu wadah bunga padisarah kering. Oh, ia bisa membuat sesuatu dari ini semua.

Alhaitham tidak menghalangi niat Cyno. Tanpa bicara, ia pun meneruskan pekerjaannya sendiri. Tangannya dengan perlahan menghaluskan biji kopi, kemudian menakarnya dengan cermat, menyeduhnya dengan air panah bersuhu tepat, menaruhnya di dalam teko untuk menjaga hangatnya. Kemudian, ia duduk di salah satu kursi meja makannya, merasa lega karena bisa mengistirahatkan otornya. Kini, ia menunggu Cyno menyelesaikan masakan apapun yang aromanya mulai memenuhi rumahnya.

“Kau tidak perlu repot-repot,” ujar Alhaitham ketika Cyno menyajikan sebuah sajian nasi berbentuk segitiga ke hadapannya.

“Kau yang repot selama 4 bulan ini untuk mengantar kopi ke ruanganku,” balas Cyno, meraih cangkir berisi kopi hangat dan menghirup aroma wanginya dalam-dalam. Ah, sungguh ia menyukai aroma ini, batinnya. Ia meneguk minuman tersebut, dan tanpa ia sadari, seulas senyum terbit di bibirnya. “Makanlah, selagi masih hangat,” ujar Cyno yang mulai menyendok porsinya sendiri.

Tidak ada yang bicara setelah itu. Baik Alhaitham dan Cyno sama-sama sibuk dengan makanan dan minumannya masing-masing. Beberapa kali Alhaitham harus berhenti mengunyah, merasakan nyeri menyeruak dari punggungnya yang begitu saja terasa tajam di ulu hatinya. Tidak, ia tidak ingin muntah. Terlalu sayang untuk menyia-nyiakan santapan ini, pikirnya

“Lukamu… kenapa?” tanya Cyno, ketika hanya beberapa suap lagi yang tersisa di piringnya.

Alhaitham tak langsung menjawab, memilih untuk menghabiskan dulu makanannya. “Bangunan di gurun tidak begitu stabil di beberapa bagian. Tidak aman jika ada pelajar Akademiya yang meneliti disana sendirian. Mungkin perlu diusulkan untuk melakukan penelitian berkelompok untuk mengurangi resiko kecelakaan ketika tengah menjelajah.”

“Kau melakukannya sendiri,” Cyno membalasnya cepat, ada dongkol di ujung katanya.

“Tidak ada yang menemaniku.”

“Itu karena kau tidak meminta seorang pun untuk menemanimu,” potong Cyno. “Kau tidak bisa membuat peraturan hanya untuk tidak mematuhinya, Acting Grand Sage. Itu tidak bertanggung jawab.”

Alhaitham diam, Cyno menatapnya tajam dan lekat seolah mengancam bahwa ia sendiri yang akan menghukum Alhaitham dia ia berani melanggar aturan yang, akan, ia buat sendiri. “Bantuan akan sulit datang kalau, di lain kesempatan, kau terjebak di bawah tanah, Acting Grand Sage.”

Cyno menghela napas. Tanpa bicara ia mengambil seluruh piring dan gelas yang kosong. Tanpa diminta, ia mencuci semuanya, termasuk perkakas yang telah ia gunakan sebelumnya, meninggalkan Alhaitham dengan pikirnya sendiri.

“Aku pergi dulu,” ujar Cyno, ketika ia telah selesai membersihkan dapur. Ia meletakkan sebuah bungkusan di depan Alhaitham. “Ini beberapa obat yang sering kugunakan jika terluka. Kalau cocok denganmu, aku akan meminta Tighnari untuk membuatkannya lagi.”

“Kau tidak perlu—”

“Kemudian, jika kau hendak pergi ke luar dari kota, entah itu menjelajah hutan atau gurun, kabari aku secepatnya,” potong Cyno, “jika aku tidak bisa menemanimu, akan kuminta beberapa matra untuk ikut bersamamu.”

Alhaitham mendengkus, ada senyum di sudut bibirnya. “Kau memaksa sekali.”

“Tugasku untuk memastikan peraturan Akademiya berjalan dengan semestinya, dengan jumlah pelanggaran seminimal mungkin. Aku sendiri yang akan memastikan kalau dirimu tidak akan kabur dan melanggar aturan-aturan tersebut, Acting Grand Sage.”

Alhaitham tersenyum, sebuah kelembutan nan samar, namun itu tak luput dari mata awas Cyno. Ia sadar bagaimana tangan Alhaitham bergerak perlahan, meraih ujung jemarinya dengan hati-hati, mengusapnya perlahan hingga membuat Cyno bergidik dalam diam. Namun, ia tidak menarik tangannya.

“Kau mau minum kopi lagi besok pagi, Cyno?” tanya Alhaitham, kali ini tak menggunakan jabatan sebagai frasa ganti untuk memanggil lelaki berambut sewarna rembulan itu.

Cyno menoleh, mendapati Alhaitham menatapnya. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, namun Cyno bisa melihat bagaimana ada secercah harap di sepasang mata toska tersebut. Ia beberapa kali ingin melihat kedua netra elok tersebut, dan kali ini Cyno merasa Alhaitham memelihara sepasang pelangi di kedua bola matanya.

“Cyno, kau melamun,” panggil Alhaitham. Dengan suaranya yang tenang. Dengan intonasinya yang lembut. Dengan hangat di sepanjang kalimat. Dengan damba di tiap vokalnya.

Cyno menggenggam tangan Alhaitham, meremasnya lembut sekali, dua kali, lalu mengusapnya berulang. “Kau ingin sarapan apa besok, Alhaitham?” Cyno bertanya, kali ini kepada Alhaitham, bukan kepada Sang Acting Grand Sage.

Alhaitham tersenyum, membalas genggaman tangan itu, bahkan sempat mengecup punggung tangan berbalut kain tersebut. “Aku mau yang tadi, tapi dengan telur mata sapi setengah matang juga sebagai tambahannya.”


“Cyno,” panggil suara itu. Begitu dalam dan jernih. Hangat dan menenangkan. Membawa sensasi familiar di sekujur tubuhnya. “Kau melamun lagi,” lanjut suara itu, seperti biasa, sambil diikuti satu tepukan ringan di pundaknya.

Ada senyum yang terbit di wajah Cyno tiap ia mendengar namanya dipanggil seperti itu. Ia hafal berat tangan di pundaknya. Ia bisa ingat betul aroma kayu bercampur lembut bunga yang kini ia identikkan dengan rumah. Ia menyambut tangan yang terulur ke hadapannya—meraihnya, menggenggamnya, mengaitkan dan memilin jemari mereka bersama erat-erat.

“Kau yang lama, Alhaitham. Dewi Kusanali sudah menunggu.”

Bersama, mereka menyusuri jalan menuju gedung tertinggi di Akademiya. Dengan sinar mentari yang menerpa wajah mereka. Dengan semilir angin yang berdansa di antara mereka. Dengan hangat yang mengisi genggaman tangan mereka bersama.

Notes:

memutuskan memakai 'mimpi' sebagai tema di hari terakhir ini. Terima kasih kepada Arapendy yang telah memberikan inspirasi. Haino Jaya!