Actions

Work Header

On the Same Page

Summary:

Perjodohan itu adalah hal klise yang paling absurd. Terlebih ketika Kim Sunoo, 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘦𝘰𝘱𝘭𝘦 𝘱𝘭𝘦𝘢𝘴𝘦𝘳, dijodohkan dengan masalah hidupnya di UKM kampus yang bermanifestasi sebagai sosok Lee Heeseung; cowok menyebalkan yang—sebenarnya—lumayan.

Notes:

I don't even know what did i write .... but i hope it will entertain you who asked for this and you guys who read it <3

Work Text:

 

“Kita yang profesional profesional aja.”

Heeseung menahan dirinya untuk tidak mendengus geli ketika mendapati sosok di hadapannya berkata seperti itu. Alih-alih mendengus geli, Heeseung hanya tersenyum tipis sambil berusaha menelan kembali rasa tawanya yang ingin muncul ketika mendengar kalimat yang tadi terucap.

“Oke, profesional.” Heeseung mengangguk. “Jangan sampai kesalahan yang lalu terulang, misalnya kayak lupa tanggal-tanggal penting. Apalagi lupa tanggal meeting sama sponsor .”

“Heeseung.” Sosok tersebut langsung bersuara. Nadanya tajam, begitu juga dengan tatapannya.

“‘Kak Heeseung’ buat lo, Sunoo,” ujar Heeseung. Senyum palsunya luntur, raut wajahnya berubah menjadi jengah karena batinnya meraung, ‘astaga, bawa aku pergi dari sini ’. “Lo yang bilang kita harus profesional dan manggil gue cuma pakai nama sama sekali gak mencerminkan keprofesionalan.”

Lawan bicaranya, Sunoo, berdecak kecil. “Kepala gue udah pusing nanggepin ulah lo di kampus, Kak .” Ada penekanan di akhir kalimat yang Heeseung tahu maksudnya menyindir, tetapi Heeseung mengabaikannya. “Kita berdua sama-sama gak mengharapkan ini so please behave for this one  — ”

“Ogah.”

“ —  for the sake of our family .”

Heeseung terdiam. Sunoo menatapnya dengan tajam. Matanya yang biasa Heeseung lihat memiliki kilat antusiasme (yang memuakan, kalau Heeseung boleh jujur) itu kini benar-benar terlihat serius dan Heeseung sedikit merinding. Well, that pretty face can be scary too .

Family .” Heeseung mengulang dengan sedikit perlahan.

“Iya. Buat keluarga lo dan gue.” Sunoo mengangguk. “Lo gak akan mau ngecewain mereka, kan, Kak?”

“I-Iya?”

Nice .” Sunoo tersenyum. Kali ini senyumnya menyentuh mata, senyum yang biasa Heeseung lihat ketika mereka saling jumpa perpustakaan universitasatau di tempat lain — yang tentunya masih di area kampus. Kampusnya yang memiliki luas berhektar-hektar jadi terasa sempit karena bagi Heeseung ‘ dia lagi, dia mulu, dia terus’ . “Gue juga gak mau perjodohan ini, terlebih ketika tau orangnya itu lo. Tapi kita bisa apa selain nurut?”

Sunoo terlalu banyak bicara. Heeseung melempar pandang ke jendela ruangan, dia ingin segera keluar dari ruang serbaguna UKM kampus yang sedang mereka gunakan secara diam-diam ini. Mulut Heeseung terasa asam seketika.

“Oke, paham,” ucap Heeseung. “Sekarang gue mau keluar. Udah ditungguin sama anak-anak di kantin rektorat.”

Sunoo mengangguk. Heeseung bergegas berdiri dan meraih ranselnya. Semakin lama ia berada di ruangan ini, rasa kesalnya terhadap pemuda di hadapannya ini bisa semakin tinggi.

Begitu Heeseung baru mau membuka pintu ruangan, ia kembali mendengar Sunoo berucap, “ behave , Kak. Tetep profesional.”

Heeseung benar-benar mendengus keras. “Siap.”

Lee Heeseung, terlepas dari seberapa problematiknya ia di mata Sunoo, merupakan seorang ketua umum di Inkubator — suatu unit kegiatan mahasiswa di kampus mereka yang bergerak di bidang kewirausahaan mahasiswa. Didominasi oleh warga fakultas ekonomi dan bisnis, tahun lalu Heeseung berhasil membuat gebrakan dengan menjadi mahasiswa FMIPA pertama yang berhasil menjabat sebagai ketua umum Inkubator.

Dia karismatik. Tampan ketika rambutnya tertata dengan rapi dan berubah menjadi boyish ketika ia tampil sedikit berantakan. Ketika ia tersenyum dan menunjukan lesung pipinya, ia langsung menjadi orang yang berbeda; konon katanya banyak yang bilang bahwa Heeseung menggemaskan .

Sunoo ingin tidak setuju. Heeseung adalah makhluk tidak dewasa dan paling rese yang pernah muncul di hidupnya.

Heeseung itu kelewat optimis dan idealis. Sebelum ia naik jabatan pun, ide-ide yang dicetuskannya itu gila dan Sunoo selalu menentang. Sebagai anak manajemen, Sunoo tahu kapan ia harus lose profit dan kapan dia harus bertahan demi keuntungan yang lebih. Heeseung tidak punya dasar tersebut, setiap keputusannya kadang cenderung seperti terjun bebas . Mereka adalah UKM yang dapat cukup banyak kucuran dana dari kampus, apa jadinya kalau mereka menggunakan kesempatan mereka dengan sembrono?

Hal yang lebih parahnya lagi adalah mereka berdua dijodohkan.

“Heeseung jadi punya ketertarikan lebih sama dunia bisnis. Dia memang kelihatan serius untuk lanjutin bisnis ayahnya,” ujar ibunda dari Heeseung ketika Sunoo (terpaksa) menemuinya atas perintah ibunya sendiri. “Awalnya dia gak mau sama sekali. Masuk FMIPA itu bentuk protesnya.”

Sunoo hanya mengangguk-angguk kikuk sambil tetap mengekori wanita paruh baya itu untuk berbelanja baju. Ide gila dari ibunya adalah menemani calon mertua agar lebih dekat sebelum hari pernikahan. Sunoo kadang ingin meraung menyesal karena telah menerima perjodohan ini atas dasar ‘ingin membahagiakan orang tua’. 

“Tapi Hee — Kak Heeseung keliatan baik-baik aja di FMIPA,” balas Sunoo. Dia tidak bermaksud mencari tahu soal Heeseung, tetapi kenyataannya memang pemuda itu cukup aktif di kampus dan banyak teman-teman Sunoo dari FEB mengenalinya.

“Bunda juga gak paham, padahal dia gak pernah kelihatan belajar. Tiba-tiba dia laporan aja kalau IP-nya bagus. ,” jawab wanita tersebut sambil meraih satu baju di gantungan outlet . Baju tunik dengan lengan sedikit puff . Baju tipikal ibu-ibu sosialita. “Sunoo gimana di ekonomi? Enak-enak aja, kan?”

Sunoo meringis sambil menggaruk tengkuknya. “Saya di manajemen, Tante.”

“Oalah, maaf maaf!” Wanita itu menutup mulutnya dengan wajah terkejut sementara Sunoo masih meringis. “Bunda selalu ketuker antara ekonomi sama manajemen. Jadi, gimana kuliahnya?”

“Aman, Tante. Enak, gak ada masalah apa-apa, kok, di sana.” Sunoo tersenyum. Matanya tertuju ke deretan baju wanita yang terhampir dan ia mulai berpikir apa kemungkinan yang akan terjadi kepadanya bila ia dijodohkan kepada seorang wanita?

“Jangan panggil ‘Tante’, dong, Sunoo.” Ibunda dari Heeseung mencubit lengan atas Sunoo dengan main-main. “Mulai dari hari ini, ayo biasain panggil pakai ‘Bunda’, oke? Sebentar lagi, kan, jadi keluarga, masa masih ‘Tante’ panggilnya? Oke, Sayang?”

Sunoo kembali meringis.

“Oke, Ta — Bunda.”

Dia benar-benar benci perjodohan bodoh ini.

Begitu ia sudah kembali ke mobil setelah mengantar ‘Bunda’ pulang, ia mendapati pesan dari Heeseung.

 

Heeseung UKM

Lo ngomong apa ke Bunda?

Saya

Ngobrol biasa, kepo amat

Gak ada gue bad mouthing lo

Heeseung UKM

Bunda tiba-tiba muji-muji lo

Najis gue dengernya eneg sendiri

Saya

Tinggal tutup telinganya lah, gitu aja ribet banget

Heeseung UKM

Fuck you.

Saya

Apaan fuck you fuck you kayak anak kecil

Udah bagus gue anterin nyokap lo dengan selamat, Heeseung

Heeseung UKM

Panggil pakai ‘Kakak’

Saya

Skip, gak pantes. Gak mencerminkan usia emosional lo.

Heeseung UKM

Gue benci banget sama lo

Saya

Jangan tantrum kayak anak kecil

Kak

:)

 

Tidak ada balasan dari Heeseung, tetapi Sunoo bisa membayangkan bagaimana wajah itu akan mulai mengkerut sebelum melontarkan rentetan sumpah serapah kepadanya. Sunoo terkekeh, ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.

Sunoo membuka tutup mangkok es krim rasa cokelat mint yang dibelinya. Terik matahari siang ini membuatnya impulsif membanting kemudinya ke swalayan yang masih berada di area kampus di saat perjalanan pulang. “Alasan gue buat gak kasih lo keluar karena biar gak ada orang kampus tahu — ” ujarnya kepada sosok yang kini duduk di kursi penumpang di sebelahnya. “ — soal kita.”

Heeseung, orang yang duduk di kursi penumpangnya, mendengus keras. Ia membuka bungkus es krim gagang yang Sunoo pilihkan untuknya tadi. “Gue gak suka rasa melon, makasih sebelumnya,” ucapnya sarkatik. Sunoo memutar bola matanya, dia mana tahu kalau cowok ini tidak suka melon? “Itu alasan kenapa gue minta turun tadi.”

“Udah dibeliin juga masih ngelunjak,” decak Sunoo. Ia menyendokkan es krim ke dalam mulutnya dalam porsi yang sedikit banyak. “Lo cuma gak suka, bukan alergi. Cepet makan sebelum meleleh.”

Heeseung mengeluarkan suara gerutuan, tetapi ia tetap menggigit kecil es krimnya. Sunoo meliriknya singkat sebelum tersenyum puas dan lanjut memakan es krimnya.

Mereka tidak punya banyak pilihan mengenai perjodohan ini. Sunoo sudah mencoba untuk menolak (secara halus), tetapi orang tuanya seakan tuli dan memilih untuk tetap melanjutkan rencana mereka. Apa yang Sunoo dengar dari Heeseung pun sepertinya tidak ada bedanya dengan dirinya.

Sunoo bergumam rendah selagi mengulum es krim di mulutnya. Dia pernah punya mimpi; menikah dengan seseorang yang mencintainya dengan tulus, menjalin kehidupan berkeluarga dengan harmonis di mana ia mendapat kasih sayang tanpa henti dari pasangannya. Pria maupun wanita tidak masalah — meski preferensi Sunoo sejauh ini selalu lebih condong ke pria, terlebih yang tinggi semampai dan punya aura karismatik.

Lee Heeseung jelas tidak masuk ke dalam kategori tersebut. Dia memang tinggi. Sunoo mengakui hal itu. Akan tetapi, karismatik? Sunoo ingat dia menanggung sakit kepala ketika Heeseung membuat program pelatihan bimbingan dan layanan kewirausahaan untuk tenant-tenant kecil di sekitar kampus mereka — yang pada awalnya masih berupa gagasan abstrak hampir tanpa perencanaan yang matang — sekitar dua bulan lalu. Entah bagaimana mereka bisa melaksanakannya, Sunoo sendiri bahkan masih merasa sedikit in daze ketika menjalaninya.

Sunoo baru akan menyuapkan es krim lagi ke dalam mulutnya ketika ia merasakan sesuatu menyentuh tepi bibirnya.

Ketika ia mengerjap, ia menemukan ibu jari Heeseung mengusap pelan tepian bibirnya dengan kedua mata pemiliknya tertuju kepada dirinya —  kepada bibirnya . Sunoo membeku di tempat.

Tatapannya aneh, dia tidak terlihat seperti Heeseung yang menyebalkan. Dia terlihat .. berhati-hati.

“Es krimnya belepotan. Makannya jangan sambil bengong,” kata Heeseung. Sunoo masih terdiam bahkan ketika Heeseung sudah menarik kembali tangannya. Ibu jarinya ia gosok asal ke celana jins yang ia kenakan — tidak ada adegan klise seperti menjilat bekas es krimnya, namun cukup untuk membuat sirkuit otak Sunoo macet.

Kenapa Heeseung mengusap bibirnya? Apa Heeseung memperhatikannya? Apa Heeseung tengah mencemoohnya dan menganggapnya messy eater ?

“Kalau udah selesai ayo jalan pulang. Bunda udah nungguin gue buat fitting baju.”

Sunoo kembali mengerjap. Heeseung kini menatapnya dengan mata besarnya yang cantik seolah-olah ia tengah menunggunya.

“Apa?”

“Apa?!” Heeseung mengerutkan keningnya. “Cepet abisin es krim lu. Anter gue pulang. Aneh.” Kini ada raut jengah di wajah tersebut.

Sunoo buru-buru menyuapkan sesendok besar es krim ke dalam mulutnya. Dia mengabaikan rasa dingin yang langsung menyerang seluruh rongga mulutnya, mengambil tisu dari dashboard mobil, dan mulai menarik rem tangannya.

Selagi di perjalanan, Heeseung tidak bicara. Kontras sekali dengan kepribadiannya yang selalu banyak omong. Sunoo meliriknya dan kembali teringat bagaimana ia mengusap bibirnya. Wajahnya terasa panas. Kenapa Heeseung melakukan itu?

Sunoo benci berada dekat-dekat dengan pemuda ini.

Pada pertemuan di UKM Inkubator minggu ini, Sunoo berusaha mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja. Terlebih ketika ia bertemu dengan Heeseung yang sedang duduk di dalam ruangan sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya, tidak ada orang lain selain mereka berdua di ruangan.

“Tumben dateng cepet.” Kalimat itu yang menjadi sapaan Sunoo saat ia meletakkan tasnya di kursi (yang tentunya jauh dari posisi duduk Heeseung saat ini). “Biasanya nunggu rame.”

“Berisik,” desis Heeseung tanpa mengalihkan wajahnya dari layar laptop. Bahkan ketika Sunoo datang, ia hanya melirik singkat lalu lanjut mengetik. “Gue dikejar deadline LPJ.”

“Sekretaris mana sekretaris?” tanya Sunoo. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. “Kemarin di grup udah ribut-ribut soal LPJ, udah ada link Google Docs buat input masing-masing per divisi, kan?”

“Tetep aja ngaco,” jawab Heeseung cepat. “Jake lagi ada ujian, dia gak bisa ngerjain terlalu maksimal. Ketua panitianya gak bisa gue hubungi dan gue yakin dia juga gak bakal dateng di pertemuan hari ini. Daripada nunggu-nunggu, mending gue kerjain aja dulu sebisa gue.”

Sunoo mengangguk-angguk. Sifat impulsifnya membuatnya melangkah ke arah Heeseung untuk tahu lebih jauh apa yang sedang anak itu —  calon suaminya  — kerjakan.

Dia melihat tab Chrome yang terbuka banyak sampai terlihat hanya seperti kotak-kotak kecil, Sunoo mual sendiri melihatnya. Proses pembuatan laporan pertanggung jawaban selalu ruwet. Itu yang membuat Sunoo tidak mau mengajukan diri sebagai sekretaris, baik sekretaris DPH atau sekretaris divisi.

“Mau gue bantu?”

Persetan dengan rasa malu dan gengsi, Sunoo mengutuk dirinya sendiri yang benar-benar impulsif dalam menawarkan bantuan ketika ia membenci hampir setengah mati pemuda di hadapannya ini.

Kali ini Heeseung menoleh. Salah satu alisnya terangkat dan ekspresi wajahnya terlihat menyebalkan, namun Sunoo bisa melihat ada garis kantong mata yang sedikit gelap di bawah matanya. “Emangnya bisa?” tanya Heeseung, nadanya sedikit meremehkan dan Sunoo ingin sekali menggosok wajah tersebut ke atas keyboard laptop.

“Orang gila, ditawarin bantuan malah ngeraguin gitu.” Sunoo berdecak. Dirinya menarik kursi di sebelah Heeseung sebelum ia membuka layar ponselnya. “Setengah jam lagi kita udah mulai rapat, LPJ-nya gak bakal kepegang lagi sama lo. Sini gue bantuin sebelum lo ditemuin mati di atas meja.”

Terdengar suara gerutuan. Sunoo tersenyum miring sambil berpikir bahwa Heeseung menjadi penggerutu bila hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Lucu, kharismanya benar-benar menjadi nol dan ia berubah menjadi anak orang kaya hobi mengeluh di hadapan Sunoo.

Link Gdocs yang baru gue kirim ke personal chat ,” ujar Heeseung. Sunoo langsung membuka ponselnya dan ia mendapati satu pesan masuk baru dari Heeseung. Ketika ia membuka room chat -nya, Sunoo menyadari bahwa ini pesan pribadi pertama yang Heeseung kirimkan kepadanya yang berhubungan dengan Inkubator. Di atas-atasnya, mereka hanya saling mengirim pesan terkait perjodohan mereka (yang isinya terlalu penuh konflik, Sunoo sendiri jadi marah lagi bila membacanya ulang).

“Oke,” jawab Sunoo. Ia pun bergerak menjauhi Heeseung.

“Mau ke mana?” tanya Heeseung dengan segera.

Kali ini Sunoo yang mengangkat sebelah alisnya. “Ngambil laptop gue di tas?” Sunoo mengerutkan kening. “Gak usah seposesif itu. Gue gak akan kemana-mana, Sayang .”

Kembali lagi, sifat impulsif Sunoo muncul dan dia sendiri tidak paham kenapa ia malah jadi menggoda Heeseung.

“Najis.” Heeseung langsung berpura-pura muntah, tetapi mata tajam Sunoo mendapati bahwa telinga pemuda itu memerah. “Jangan ngomong lagi. Cepet bantuin.”

Bossy. Sunoo memutar bola matanya, tetapi atas dasar kemanusiaan dia tetap mengambil laptopnya dan membantu Heeseung.

Dia tengah mengerjakan Bab I LPJ (sumpah, pendahuluannya acak-acakan sekali dan Sunoo tidak berani menebak kira-kira siapa yang menyusunnya) ketika ia merasakan ada beban yang mendarat di bahunya. Begitu ia menoleh, ia mendapati Heeseung berdiri di sisinya dengan satu tangan bertumpu pada bahunya — matanya tertuju kepada layar laptop Sunoo selagi pemiliknya membatu.

Pertama, Heeseung menginisiasi kontak fisik dengannya untuk kedua kalinya.

Kedua, Heeseung menggunakan kacamata bundar dan Sunoo rasa ia kehilangan napasnya untuk sepersekian detik.

“Kalau bisa sekalian nanti disamain aja formatnya di tiap bab,” kata Heeseung. Tangannya yang tidak berada di bahu Sunoo kini menunjuk ke layar laptop dan mengarahkan sesuatu, namun Sunoo masih terpaku karena berusaha memproses apa yang sedang terjadi.

Lee Heeseung benar-benar jelmaan dari kalimat ‘never let them expect your next move ’. Sunoo yakin perasaan tidak suka-cenderung-benci antara dirinya dan Heeseung adalah perasaan yang mutual , tetapi akhir-akhir ini Heeseung seperti ‘menjinak’. Terlebih lagi Sunoo tidak menyukai sama sekali kontak fisik, sayangnya ini sudah kedua kalinya ia membeku dan tidak memberi reaksi apapun terhadap Heeseung yang melewati batasnya .

Terlebih lagi, damn, pemuda ini terlihat seperti santapan makan malam mewah dengan kacamatanya .

Begitu mata Heeseung bertemu pandang dengan mata Sunoo, di situlah Sunoo baru kembali menapak ke bumi.

“Kenapa diem aj — ”

“ANJIR, APA-APAAN DITINGGAL BENTAR SUNOO SAMA HEESEUNG UDAH AKUR?!”

Sialnya, ketika jarak di antara mereka masih begitu dekat , beberapa anggota Inkubator lain sudah lebih dulu masuk dan menjadi saksi mata.

Ibunya tersenyum ketika Sunoo memberi laporan bahwa hari ini ia kembali mengantar Heeseung pulang. “Enak, kan, sama Heeseung? Kalian satu UKM, satu frekuensi.” Wanita itu mengelus lengan atas Sunoo dengan afeksi. “Seharusnya dari dulu aja, ya, Ibu jodohin kalian? Kalian cocok banget.”

Sunoo hanya tersenyum lebar. Di dalam hatinya ia ingin menangis, tetapi dia tidak tega kalau harus merusak kebahagiaan orang tuanya. “I-Iya,” jawab Sunoo terbata. “Heeseung baik, kok.”

Yah, mungkin pandangan dirinya kepada Heeseung mulai sedikit berubah. Heeseung masih menyebalkan, tetapi Sunoo pikir ia tidak seegosentris itu. Heeseung orang yang cukup bertanggung jawab — terlepas dari caranya yang agak sedikit bossy dan hobi mengeluhnya yang membuat pening. Sepanjang rapat tadi, Sunoo berusaha memaksakan dirinya untuk melihat Heeseung dari sisi lain — sebuah pengalihan dari sensasi tangan Heeseung di bahunya yang masih terasa.

Ketika ingatannya kembali menunjukan Heeseung dengan kacamata — yang sialnya membuat Sunoo merasa panas  — Sunoo mulai kembali berpikir, sampai mana perjodohan ini akan berlanjut ?

“Sunoo?”

Sunoo memfokuskan lagi pikirannya ketika ibunya memanggil. Sial, akhir-akhir ini dia jadi sering merenung. “Iya, Bu?”

“Kok, bengong gitu.” Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya ringan. “Acara pertunangan kamu sama Heeseung minggu depan, tapi belum ada cincinnya, kan? Besok jalan beli cincin, ya? Nanti Ibu sama bundanya Heeseung kasih uangnya ke kalian.”

Sunoo ingin mengerang. “Oke,” jawabnya. “Tapi emangnya Heeseung besok bisa?”

“Bisa, tadi Ibu udah tanya.” Ibunya menepuk ringan punggung Sunoo. “Besok sekalian kalian jalan date aja. Ibu sama Papa mau keluar sampai malem, kunci kami bawa. Oke?”

“Oke.” Sunoo merangsek maju untuk mengecup ringan kening ibunya. “Beli cincin terus jalan sama Heeseung. Siap.”

Good boy .”

Sunoo mana tega untuk merusak kepercayaan orang tuanya?

Cincin yang ada di kotak beludru dalam genggaman Heeseung sebenarnya cukup cantik, Sunoo menyukai desainnya. Dia tahu Heeseung juga berpikiran hal yang sama.

“Gue gak tahu kalau lo suka desain yang simpel-simpel,” ujar Heeseung. Keduanya kali ini tengah duduk di kursi yang berada di taman kota. Heeseung yang minta dan Sunoo hanya mengiyakannya.

“Gue gak punya standar yang tinggi,” jawab Sunoo jujur. “Terlebih lagi di acara perjodohan yang di luar kehendak gue kayak gini.”

Heeseung terkekeh. Suara kekehannya kering, mungkin dia memaksakan agar suara itu keluar meski sebenarnya ia tidak ingin melakukannya. “Masih bitter ya, lo?” tanya Heeseung, sedikit retorik terdengar.

Mau tak mau, Sunoo mengangguk. Dia boleh berbohong di depan orang tua dan seluruh keluarganya bahwa ia mulai menerima Heeseung, tetapi tidak ada gunanya untuk berpura di depan Heeseung ketika mereka berada di halaman yang sama mengenai perjodohan ini. “Masihlah.” Sunoo menarik napas dalam-dalam. “Gue cuma gak mau ngecewain orang tua gue aja.”

“Sama.” Heeseung menimpali. “Kata mereka, calon yang mereka pilih itu anak yang baik-baik. Manis. Anak dari kolega mereka yang mereka anggap udah kayak saudara sendiri dan perjodohan ini sengaja dibuat agar mereka beneran jadi keluarga.”

Sunoo tidak bisa menahan dirinya untuk sedikit merona. Baik? Manis? Sunoo mungkin tidak berani menyematkan kedua titel tersebut ke dalam dirinya sendiri. “Orang tua lo hobi muji gue.”

“Mereka selalu punya hal lebih buat orang yang bergelut langsung ke urusan ekonomi dan bisnis. Yah, keluarga gue gak beda jauh sama keluarga lo; isinya bisnis doang,” jelas Heeseung. Sunoo bisa melihat pemuda itu tersenyum di ujung matanya. “Tapi keluarga lo baik, kok. Itu harus gue akuin.”

“Keluarga lo juga baik.” Sunoo membalas.

Hal ini sungguhan. Yang bermasalah hanyalah mereka berdua, selebihnya Sunoo tidak ada masalah apa-apa dengan keluarga Heeseung. Malah ia menemukan keharmonisan dan kehangatan di sana, sama seperti keluarganya sendiri. Mereka berdua berasal dari lingkungan sehat dan Sunoo sedikit mensyukuri hal tersebut.

Terdapat hening yang cukup lama di antara mereka berdua yang akhirnya dipecahkan oleh Sunoo sendiri.

“Cuma kita berdua yang gak baik.”

Heeseung mengangguk. “Iya,” jawab Heeseung. “Gue benci banget sama lo karena lo selalu kelihatan yang paling doubting semua keputusan yang gue buat.”

Kali ini Sunoo yang terkekeh. “Gue punya alasan gue sendiri. Gue orang manajemen, kadang keputusan yang lo buat terlalu nekat,” jelas Sunoo. “Ditambah dengan kepribadian lo yang nyebelin banget. Such a turn off for pretty face like you .”

“Jadi menurut lo gue cakep?”

Ah sial, kelepasan.

Dengan telinga yang mulai terasa sedikit panas karena kelepasan tidak pada tempatnya, Sunoo menoleh ke Heeseung dan mengangguk. “Secara objektif, ya. Lo cakep. Ganteng.”

Heeseung tersenyum. Sunoo baru menyadari bahwa ia memiliki lesung pipi yang kecil dan membuat wajahnya terlihat manis. “ Glad to know that .” Heeseung kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. “Pas gue tau kalau lo-lah yang dijodohin sama gue, ada bagian di otak gue yang kayak ‘yah, setidaknya yang jadi calon gue itu gak jelek ’.”

Sunoo benar-benar tergelak kali ini. “Diskriminasi.”

Heeseung cemberut kecil. “ At least nanti ada yang bisa gue banggain kayak ‘calon gue cakep, manis banget diliatin lama gak bakal bosen’ .”

Keduanya kembali terdiam. Pujian dari Heeseung membuat hati Sunoo menghangat kalau boleh jujur.

You’re pretty, Kim Sunoo. So pretty, sometimes I got stunned because your beauty .”

Pernyataan tiba-tiba dari Heeseung kembali membuat Sunoo menoleh. Ia menatap ketua UKM Inkubator itu dengan mata membesar. Heeseung sendiri hanya tersenyum kepadanya.

“Dan lo sebenarnya baik, gue mengakui hal itu. Gue kadang nempatin lo di posisi yang sulit di Inkubator, tapi lo masih ngelakuin yang terbaik,” lanjut Heeseung. “Lo pasti juga bakal ngelakuin yang terbaik buat perjodohan ini, kan?”

Sunoo menelan ludahnya. Jantungnya berdebar, ia merasa aneh.

“Ya,” jawab Sunoo. “Gue naif, Hee. Gue gak berani buat macem-macem, bahkan ketika ngelibatin lo sekalipun.”

Senyum Heeseung makin melebar. “Sebetulnya, orang tua gue kasih gue pilihan buat mundur, tapi gak gue terima. Selain karena itu bakal buat mereka kecewa, mereka pilih lo sebagai orangnya -lah yang bikin gue yakin untuk tetap lanjutin perjodohan ini.”

Sunoo mengerjap.

Gila. Lee Heeseung memang manusia tidak punya akal yang berani ambil risiko.

“Kenapa gue?” tanya Sunoo dengan suara lirih. Dia rasa dia mulai kembali sulit memproses apa yang terjadi, jantungnya berdetak tidak karuan selagi pikirannya mulai berubah menjadi terdisorientasi.

Heeseung memiringkan kepalanya sedikit.

Di bawah sinar lampu di taman kota yang tidak terlalu terang, Sunoo bisa melihat bagaimana wajah Heeseung dapat dikategorikan sebagai pahatan yang sempurna. Hidungnya mancung, pipinya mulus dengan satu bekas jerawat yang sama sekali tidak mengganggu ketampanannya, bibirnya yang secara natural mengerucut gemas, dan mata besarnya yang basah terlihat seperti memohon manis — semuanya ada di dalam satu muka dan Sunoo harus mengakui bahwa calon suaminya sama sekali tidak buruk .

“Karena orangnya itu Kim Sunoo. Bukan orang lain.”

Pikiran intrusif Sunoo langsung meraung.

Geez, he suddenly wants to kiss this man so bad .

Heeseung kembali membuka mulutnya. “Mau coba dulu sama gue?” tanyanya. “ I-I mean, let’s reset . Mungkin kita bakal work . Pasti work , kita gak ada alasan untuk gak bisa bareng kalau udah ucap ikrar pernikahan nanti. Ayo coba dulu? Kayak … p-pacaran? Sebelum serius.”

Tangan Heeseung sedikit bergetar ketika menanyakannya dan suaranya terdengar gugup. Sunoo mendapatinya sedikit lucu, pemuda yang biasanya berwibawa itu menjadi stuttering mess .

“Ayo.”

“Serius?”

Sunoo mengedikkan kepalanya. “Selama ini gue selalu ngikutin kemauan lo, kan?” Sunoo tersenyum. “Jadi, iya, gue serius. Ayo. Kita sama-sama mau nyenengin orang tua, kan?”

Terdengar klise. Ada bagian dari diri Sunoo yang seolah-olah ingin membantah, jauh di dalam sana Sunoo tahu bahwa orang tua tidak menjadi satu-satunya alasan ia mempertahankan ini semua .

Heeseung mengerutkan keningnya. “ I’m interested with you, too .”

Sunoo tertawa. Kejujuran Heeseung patut diacungkan jempol.

“Oke.” Sunoo mengubah posisi duduknya agar menjadi lebih dekat dengan Heeseung. Ketika ia tepat berada di depan Heeseung, Sunoo mencuri kecupan kecil di pipi pemuda tersebut. “Anggap aja gue juga tertarik sama lo saat ini.”

Heeseung langsung memerah, tetapi respon berikutnya benar-benar di luar dugaan Sunoo.

Ia menarik kerah kaus yang tengah Sunoo kenakan sebelum ia menabrakan kedua belah bibir mereka. Mengecup dan mengulum singkat, tidak ada nafsu di dalamnya, kemudian dilepas lagi.

Sunoo yakin seluruh wajahnya sudah merona padam.

“Bibir lo manis. Pakai lipbalm apa?” tanya Heeseung dengan tatapan lurus ke bibir Sunoo. “Nanti pas upacara pernikahan pakai itu lagi.”

Never expected Lee Heeseung’s next move .[]