Actions

Work Header

The Day You Loved Me

Summary:

Salah satu memori dari seorang Wanderer yang dulunya adalah Scaramouche, tentang Ajax dengan dirinya dan tentang janji yang belum mereka ditepati.

ㅡ belated Valentine Day short fic

Notes:

Fic ChiScara pertama dan spesial (telat) Valentine yang aku garap cuma pas waktu sempat. Pair yang potensi angst-nya deres banget, berharap mereka ketemu dan rujuk. 🙏

Work Text:

 

 

 

 

“Oh, hei! Kau masih disitu rupanya!”

“Apa.”

Tatapan skeptikal dilemparkan pada pemuda yang terlihat cengengesan seraya mulai berjalan mendekatinya. Tartaglia baru saja menunjukkan ekspresi yang tiga ratus enam puluh derajat berbeda saat dia masih berada di ruangan rapat barusan. Dia tahu betul rekan-rekan Harbinger lain yang aneh itu jika sudah dikumpulkan pada satu tempat bukanlah suatu pemandangan yang memanjakan mata, dan ketika dia bisa menunjukkan wajah sesantai itu di dekatnya… hal itu membuatnya merasakan sesuatu yang terasa tidak asing. Mengingatkannya akan sesuatu yang begitu lekat dengannya, tapi juga terasa telah lama hilang.

“Kau tahu hari apa ini?”

“Hari saat kau datang kepadaku lalu menjadi hari terburuk yang pernah ada?”

“Bukan itu!”

Tartaglia cemberut karena melihat senyuman jahil yang terpampang di wajahnya. Tapi tidak butuh lama untuk wajahnya kembali berseri-seri, tampak begitu lugu seperti seekor anak anjing yang mendekati majikannya. Scaramouche sepertinya langsung bisa membayangkan seekor telinga dan ekor imajiner pada dirinya. Dia pernah berpikir akan menyayangkan situasi, kenapa harus orang dengan hati sebaik ini bisa terjebak menjadi bagian dari komplotan yang ambisius dan tidak bermoral seperti Harbinger bahkan sejak awal kehadirannya? Manusia terkadang memang begitu rumit dengan kebenaran yang tidak selalu indah datang bersamanya.

“Hari ini Hari Valentine! Kau tahu, setiap orang apalagi penduduk Snezhnaya akan merayakannya dengan memberikan bingkisan coklat sebagai bentuk kasih sayang kita terhadap seseorang!”

“Oh.”

Scaramouche memperhatikan gerak-geriknya yang mengeluarkan sebuah bingkisan berbentuk hati yang besarnya dua genggaman tangan. Tartaglia menunjukkannya dengan bangga, seolah bingkisannya adalah semacam trofi. Kedua manik indigo menatap bocah itu dengan penuh tanda tanya, memangnya apa yang begitu spesial dari sebuah makanan berbalut kertas dan pita itu?

“Makhluk fana seperti dirimu seharusnya tahu kalau aku tidak suka manis. Jauhkan segera sampah itu dari pandanganku,” sergahnya dengan tatapan tidak terlalu terkesan dengan pemberiannya

Tartaglia mendengus pelan, “Ayolah, kau pasti akan menyukainya! Aku bahkan membuatnya sendiri, aku sudah mengira kau tidak suka jika teksturnya terlalu lembut atau lengket! Kalau kau tetap tidak mau makan sih, akan ku makan sendiri saja.”

Scaramouche segera merebut coklatnya dari tangan Tartaglia sebelum bungkusnya hendak dibuka sendiri, “Percuma memberi kalau niat setengah-setengah,”

Tartaglia menyeringai puas ketika melihatnya mulai memandangi coklat berbentuk hati itu sebelum perlahan membuka bingkisannya, tatapan matanya lebih lunak dari sebelumnya. Mungkin secara materi coklat ini sama sekali tidak berarti baginya, tapi dia bisa mendapatkan apa yang begitu berharga bagi Tartaglia; yang telah memberikan segenap perasaannya kepadanya dalam coklat buatannya sendiri ini.

Kedua tangannya secara tidak terduga kemudian memecahkan coklat itu menjadi dua bagian, yang mana membuat sepasang mata Tartaglia sukses membelo sesaat dengan bulir keringat yang menetes. Apa sebegitu tidak menarik coklatnya sampai perlu dihancurkan begitu di hadapannya?

“Aku bilang aku tetap tidak akan suka makanan manis, jadi makan saja sisanya.” ucapnya memberikan separuh bagian coklatnya yang lebih besar dari potongan miliknya sendiri. Pemuda itu kemudian mengambil coklatnya sambil masih memproses situasi. Seulas senyuman perlahan mengembang semakin lebar pada wajahnya; karena dia tahu kalau baginya itu tidak penting, lebih baik buang saja coklatnya.

“Kau tahu, kalau begini jadi terasa seperti kau sedang membagi cinta kita. Separuh untukku, dan separuh untukmu. Jadi baru benar-benar akan utuh kalau kita bersama! Aku bahkan baru terpikir sampai sana, kau sungguh pintar Balladeㅡoow!”

Scaramouche memberi tatapan kesal sehabis memukul lengannya, “Itu cuma potongan coklat tidak berguna! Kalau kau berani bicara hal omong kosong lagi akan kumasukkan coklat ini lewat tenggorokanmu!”

Rahangnya masih mengeras, karena Tartaglia masih berani memanggilnya seperti orang asing daripada namanya langsung setelah menyatakan perasaannya. Sungguh beraninya mempermainkan hatinya,

Meskipun dia sendiri juga yakin dia tidak punya hati.

Pemuda dengan helaian jahe itu meringis pelan sambil mengusap lengannya yang dipukul, merasa serba salah dalam posisinya saat ini, dan belum juga diantara mereka yang ingin memakan potongan coklat masing-masing.

“Jadi kau mau hadiah yang lain untuk tahun depan? Tidak masalah buatku.”

“Tidak, tetap berikan aku coklat.”

“Kenapa? Bukannya tadi bilangnya tidak suka?”

“Supaya aku bisa dengan mudah menyia-nyiakan pemberianmu.”

Tartaglia lantas mengerutkan dahinya lagi, memasang wajah kesal persis anak-anak. Memang bocah ini gampang dikerjai, pikirnya. Scaramouche tertawa lepas melihat ekspresi wajahnya yang jelek, lantas hal itu membuat Tartaglia tertegun melihat seniornya yang dikenal menyeramkan itu tertawa. Tidak terkesan bengis atau menghina seperti biasanya, dan terdengar tulus dari lubuk hatinya. Untuk pertama kalinya dia punya kesempatan menyaksikannya langsung… membuat hatinya berdebar-debar secara tidak wajar.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” 

Tartaglia tidak langsung menjawabnya, dia ingin menikmati sepersekian detik untuk mengagumi pemandangannya sebelum dia mendekatkan wajahnya dan membuat bibir mereka bersentuhan. Tidak ada tanda penolakan, dia pun membiarkan momen itu berlangsung lebih lama sebelum dia menarik wajahnya menjauh dan menatap kedua matanya. Mereka akhirnya bertatapan lama tanpa mengucapkan sepatah kata apapun setelahnya. Rasanya canggung sekali, sebelah mata Scaramouche pun juga mulai berkedut.

“... K-kau berani menciumku dengan bibir kotormu itu!?”

“Oh, uhㅡeh maaf, aku terbawa suasana, serius…! Kau boleh memukulku tapi jangan bunuh aku!” 

Tartaglia sudah siap akan dimarahi atau dipukul lagi sambil memejamkan kedua matanya.

“Kau akan berhutang padaku seumur hidupmu,”

Sebelah matanya terbuka dan terkejut melihat Scaramouche memalingkan wajahnya dan menutupi bibirnya dengan telapak tangan guna menyembunyikan rona merah muda yang muncul di kedua ruas pipinya. Wajah Tartaglia sumringah seketika, dia pun meraih tangannya yang gemetaran dan menggenggamnya erat. Deretan gigi putihnya nampak ketika dia mendekatkan wajahnya padanya sekali lagi.

“Aku berjanji akan memberikanmu coklat setiap tahun, dan itu berarti kau juga berhak menikam jantungku kalau aku sampai mengingkarinya! Bagaimana?”

Scaramouche melihat dengan lekat kedua manik senada dengan samudra itu, ucapan yang terdengar sadis itu bisa diungkapkan dengan raut wajah sepolos dan setulus itu tanpa beban. Dia pun akan memegang sumpahnya, entah itu berarti dia harus menikamnya dengan kedua tangannya atau dia akan menerima coklat dari Tartaglia untuk seumur hidupnya. 

“Baiklah kalau memang itu maumu…”

Ajax.”

Pada akhirnya Scaramouche tetap menjadi pembohong yang sejati.

.




 






.

Tangannya sibuk membolak-balik bingkisan coklat itu pada tangannya. Perasaannya campur aduk, entah untuk alasan apa yang tidak pasti. Entah sudah sekuat apapun dia ingin mencari tahu dan mengingatnya sampai tubuhnya menyerah, dia tidak bisa menemukan jawabannya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia harus merasa khawatir dan cemas seakan kalau dia tidak mengingatnya segera, dia akan menyesalinya nanti. Perlahan dia mencoba membuka bingkisan itu dan menemukan sebuah tulisan nama pada pembungkusnya.

Ajax menghela nafas lega. 

Tentu saja dia sudah jauh hari mempersiapkan coklat untuk adiknya, memang untuk siapa lagi? Langkah kedua kakinya menjadi lebih ringan dari sebelumnya dengan tujuan yang pasti, meskipun hatinya masih merasa menolak menerima kenyataan yang ada…

 

Pada akhirnya siapa yang mengingkari janji?

 

.

.

.

 

ㅡ END?ㅡ