Work Text:
Alhaitham adalah lelaki, itu yang Kaveh dan seluruh Sumeru tahu. Karena itu ketika Kaveh menemukan dirinya dan Alhaitham berbaring tanpa busana di suatu pagi setelah malam minum-minum, ia tetap merasa tenang. Ia masih tenang bahkan setelah melihat sisa cairan cintanya mengalir mengotori paha seputih susu Alhaitham--justru ia kembali bergairah dan mereka melanjutkan kegiatan bersenggama di kamar mandi tanpa pengaruh alkohol. Setelah itu hubungan mereka masih sama, masih selalu bertengkar karena memiliki pandangan yang berbeda 180° untuk hampir setiap aspek kehidupan. Perbedaannya adalah terkadang mereka mengisi malam hanya berdua, tanpa busana, baik di kamar Kaveh maupun Alhaitham, hingga pagi terus menempelkan tubuh satu sama lain seakan dunia hanya milik berdua. Tak ada kata cinta, tak ada kasih sayang. Hanya saling memuaskan gairah yang menumpuk sebagai sesama lelaki lajang yang tinggal satu rumah.
Kaveh saat itu tentu saja tidak pernah membayangkan bahwa suatu pagi, lebih kurang tiga bulan sejak mereka terkadang menghabiskan malam hingga pagi bersama tanpa busana, Alhaitham akan menjatuhkan sebuah bom yang tak pernah Kaveh bayangkan akan dia dengar. Bahkan saat ini Kaveh sedang membujuk dirinya bahwa ia hanya bermimpi, namun ketika pahanya dicubit ternyata ia bisa merasa sakit.
"Aku hamil." ucap Alhaitham dengan santai sambil membalik halaman bukunya, seakan ia tidak baru saja mengguncang seluruh dunia Kaveh dengan perkataannya. Kaveh mencubit pahanya sekali lagi, ternyata masih sakit.
Alhaitham adalah lelaki, dan sejauh yang Kaveh tahu, lelaki seharusnya tidak bisa hamil. Kaveh yakin selama ini ia tidur dengan lelaki, ia ingat betul milik Alhaitham tidak seperti alat reproduksi wanita yang dulu ia pelajari selama menjadi murid di Akademiya. Kaveh tahu lebih dari siapapun apa yang ia lihat, pegang, dan terkadang mainkan, itu adalah benda yang sama dengan benda miliknya meski ukuran dan warnanya sedikit berbeda. Tapi Kaveh tahu itu adalah milik lelaki. Apakah ada studi terbaru yang ternyata Kaveh tidak tahu bahwa laki-laki juga bisa hamil?
Melihat Kaveh yang sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Alhaitham tak bisa menahan tawa kecil. Mendengar tawa keluar dari mulut adik kelas yang membuatnya panik di pagi hari, Kaveh segera melotot.
"Apa? Kenapa tertawa? Kamu sedang menggodaku ya!?"
"Tidak, hanya saja wajahmu terlihat bodoh sekali, seperti fungus."
"APA MAKSUDNYA!?"
"Yah, seperti yang aku katakan barusan, aku hamil. Tenang, aku tidak akan memintamu bertanggung jawab, karena bertanggung jawab atas dirimu saja kamu kesulitan, apalagi harus menanggung anak, kan? Aku hanya memberi tahu karena kamu berhak tahu, setengah dari anak ini kan darimu. Selain itu, agar kamu juga tidak kaget ketika anak ini lahir, dan tidak mengira yang tidak-tidak."
"T-tapi kamu kan...laki-laki!? Aku ingat betul punyamu bagian kepalanya berwarna merah dan ukurannya sedikit lebih kecil dibanding punyaku!"
"Kenapa matamu hitam begitu, Kaveh?" tanya Cyno yang baru saja sampai di Tavern. Sang Mahamatra duduk di depan temannya yang sedang mencoba mengompres matanya yang menghitam dengan es. Kaveh mengalihkan pandangannya, menghindari berkontak mata dengan Cyno. Harga dirinya menolak Cyno tahu bahwa ia baru saja dipukul Ahaitham karena salah bicara. Tapi ia tidak salah, milik Alhaitham memang sedikit lebih kecil dari miliknya dan kepalanya merah! Alhaitham saja yang sulit menerima kenyataan.
Cyno masih mencoba menginterogasi Kaveh hingga Tighnari datang dan mengalihkan perhatiannya. Sang pemimpin penjaga hutan itu terlihat lebih lelah dari biasanya, dan itu cukup untuk membuat Cyno melupakan mata hitam Kaveh.
"Kenapa kamu terlihat lebih lesu dari biasanya?"
"Aku hanya sedikit lelah menghadapi petualang-petualang yang tidak mengindahkan papan peringatan, dan juga hari ini lebih panas dari biasanya....Kaveh, kenapa matamu hitam begitu?"
Kaveh merasa bagai seekor kucing yang baru saja tertangkap basah mencuri ikan dari meja majikannya. Baru saja ia merasa tenang Tighnari mengalihkan perhatian Cyno, kini ia malah menjadi pusat perhatian keduanya. Pada Cyno ia bisa mencoba menghindari tatapan tajamnya, namun pada Tighnari ia merasa tidak enak untuk berbohong mengingat kebaikan Tighnari ketika insiden membangun rumah di daerah Weathering.
"Hanya...bertengkar sedikit dengan Alhaitham."
"Sampai hitam begitu? Seram juga ya kekuatan pelajar tidak berdaya."
"Apa yang kamu lakukan sampai dia angkat tangan begitu? Pasti kamu yang salah, iya kan? Mengaku saja."
"Kenapa kamu langsung menuduhku begitu, Cyno? Enak saja, bukan aku yang salah!"
"Karena Alhaitham terlihat bersih mulus di Akademiya tadi, beda dengan bintang Kshahrewar ini."
"Aku hanya tidak enak jika harus angkat tangan melawan pelajar tak berdaya, itu saja."
"Sudah, sudah. Cukup berdebatnya. Jadi ada apa memanggil kami ke sini, Kaveh?"
Sebenarnya Kaveh hanya mengajak Tighnari untuk bertemu siang ini, karena ia ingin menanyakan mengenai apa yang Alhaitham katakan padanya pagi ini kepada Tighnari. Sebagai lulusan Amurta, tentunya Tighnari lebih mengetahui kemajuan ilmu di bidang ini dibanding Kaveh. Namun jika ia ingin bertemu Tighnari di Sumeru, tentu saja sudah pasti ia harus bertemu dengan Cyno juga. Sang Mahamatra umum pasti akan selalu meluangkan waktu untuk bertemu jika mendengar temannya dari Gandharva datang ke Sumeru.
"Tighnari, apakah laki-laki zaman sekarang bisa hamil?"
Tighnari dan Cyno menatapnya seakan Kaveh sekarang sudah gila. Memang kalau didengar lagi, pertanyaannya tidak seperti seorang lulusan terbaik dari Akademiya. Ia lebih terdengar seperti orang yang sudah stres menjadi pelajar Akademiya karena proposal tesisnya tak kunjung disetujui oleh pembimbing. Tidak mau teman-temannya mengirimnya ke desa Aaru, Kaveh memutuskan untuk menceritakan awal mula hubungannya dengan Alhaitham sampai apa yang dikatakan Alhaitham padanya pagi ini.
"Mungkin dia hanya sedang mengerjaimu? Karena setahuku belum ada perkembangan studi baru tentang laki-laki bisa hamil."
"Tuh, kan! Pasti dia hanya menggodaku! Jahat sekali, aku kan jadi panik. Mana mataku harus memar begini pula."
"Tapi untuk apa Alhaitham bohong begitu? Walau kadang Kaveh terlalu polos dan bodoh, bohong seperti itu hanya akan berhasil pada anak kecil, kan? Begini-begini, Kaveh masih lulusan Akademiya."
"Cyno, apa maksudnya kadang aku terlalu polos dan bodoh?!"
"Tapi buktinya dia panik begini, artinya Alhaitham berhasil, kan?"
"Kalian berdua, berhenti mengobrol tentangku di hadapanku sambil mengabaikanku begitu! Ya sudahlah, karena pertanyaanku sudah terjawab, ayo kita segera pesan makan siang saja sebelum terlalu ramai."
Akhirnya Kaveh merasa tenang setelah mendengar jawaban Tighnari. Alhaitham hanya berbohong padanya, tidak ada anak dalam perut Alhaitham. Ia hanya panik tanpa alasan karena kebohongan Alhaitham. Selama makan siang, diam-diam Kaveh memikirkan cara untuk membalas Alhaitham. Haruskah ia membuat mata sang panitera hitam seperti matanya saat ini? Namun membayangkan pembalasan dari Alhaitham yang pasti berlipat-lipat dibanding apa yang ia lakukan membuat Kaveh mengurungkan niatnya dan mencari jalan lain untuk membalas Alhaitham.
Ketika Kaveh kembali setelah bekerja lembur dan melihat lampu rumah sudah menyala, sedikit ia mengumpat karena iri kepada Alhaitham yang memiliki waktu kerja reguler. Apalagi mengingat bahwa ia menjabat sebagai panitera namun memiliki gaji sebesar Grand Sage, Kaveh tidak bisa membendung rasa irinya. Kenapa hal baik hanya terjadi pada manusia menyebalkan dan mengesalkan macam Alhaitham, sedangkan dia di sini harus bekerja keras membayar hutangnya, bahkan sampai harus menumpang tinggal dan menjadi setengah pembantu bagi adik kelasnya itu? Dunia sangat tidak adil.
Kaveh membuka pintu rumah dengan kuncinya, siap bergegas menuju kamar untuk membaringkan tubuhnya yang lelah. Namun siapa sangka ia akan langsung berhadapan dengan Alhaitham yang melipat tangannya di dada dan menatap Kaveh dengan wajah kesal? Seharusnya dia yang kesal!
"Dari mana saja baru pulang jam segini?" interogasi Alhaitham bak seorang ayah yang mendapati anak gadisnya pulang melewati jam malam.
"Lembur. Sudahlah, aku capek, sedang tidak ada mood untuk berdebat. Kita bahas kebohonganmu pagi ini besok saja, aku ingin istirahat."
"Tunggu, kebohongan apa maksudmu?"
"Ya masalah hamil itu. Aku sudah tanya pada Tighnari, tidak ada studi apapun tentang kehamilan laki-laki. Bohongmu jelek sekali aku sampai panik, tapi kita selesaikan besok saja."
Alhaitham menatapnya, sekilas bisa Kaveh lihat ada sedikit perasaan sakit, sebelum kembali memukulnya di bahu tanpa menahan kekuatannya. Kaveh mengerang kesakitan dan protes, namun Alhaitham langsung meninggalkannya sendirian di ruang depan.
"Dia kenapa sih?" tanya Kaveh pada dirinya sendiri sambil mengusap bahunya yang sakit karena dipukul. Jujur, Kaveh sedikit kepikiran dengan ekspresi sakit yang ia lihat sekilas pada wajah Alhaitham, namun ia terlalu lelah dan butuh untuk berbaring. Masalah dengan Alhaitham akan ia pikirkan dan selesaikan besok pagi.
Kaveh terbangun sebelum mentari menyinari Sumeru, terima kasih pada jam biologisnya. Sesungguhnya ia masih sangat lelah, namun suara orang muntah-muntah di pagi hari dan tubuhnya yang memberontak untuk bangun memaksanya mengumpulkan jiwanya meski masih lelah setengah mati. Pintu kamar Alhaitham terbuka, dan dapat ia dengar suara keran dibuka dari arah kamar mandi, seakan mencoba menyamarkan suara orang muntah namun gagal. Kaveh mendekati kamar mandi karena merasa Alhaitham sudah cukup lama di dalam--tidak, ia tidak khawatir....ok, hanya sedikit khawatir.
Tok tok tok
"Alhaitham?"
Suara muntahan terhenti ketika Kaveh menyebut namanya. Alhaitham tidak menjawab, namun Kaveh bisa mendengar langkah kakinya dan suara keran air ditutup. Tak lama kemudian, Alhaitham dengan wajah pucat pasi keluar dari kamar mandi. Namun tampaknya sang panitera masih marah kepada Kaveh, karena tatapannya begitu menusuk hingga Kaveh merinding ketakutan. Aneh sekali, dia yang dibohongi, kenapa Alhaitham yang marah? Namun Kaveh tak sampai hati kesal kepada adik kelasnya karena ia terlihat sangat lemas. Sepertinya semua makanan yang ada dalam perutnya telah keluar.
"Kamu terlihat tidak sehat, mau aku temani ke dokter?"
"Apa pedulimu?"
"Siapa tahu kamu kena karma karena sudah membohongiku kan, jadi aku mau tertawa paling keras."
Alhaitham tidak menjawab, ia hanya sedikit menunduk dengan poninya menutupi kedua matanya. Hal itu tentu saja membuat Kaveh bingung, karena Alhaitham yang Kaveh tahu adalah orang yang selalu harus bicara terakhir.
"Alhaitham? Kenapa diam saja? Kamu benar-benar sakit ya?"
"Hiks..."
"L-loh, kok kamu menangis?!"
Kaveh yang panik dan tidak tahu harus bagaimana langsung menggunakan jempolnya untuk mengusap air mata yang mengalir dari mata Alhaitham. Namun bukannya diam, tangisan Alhaitham justru semakin menjadi hingga Kaveh tak tahu harus berbuat apa. Tanpa berpikir panjang, ia mendekap Alhaitham dalam pelukannya dan menggendongnya dengan cukup susah payah ke sofa. Sangat susah payah sesungguhnya, mengingat tubuh Alhaitham tidaklah kecil--bahkan lebih besar dibanding Kaveh. Kaveh membiarkan Alhaitham membenamkan wajah di bahunya, sambil ia usap punggung sang panitera. Haruskah Kaveh minta maaf? Apakah kalimatnya sangat kejam sampai Alhaitham yang Kaveh kenal selalu stoic menangis tersedu-sedu begitu?
Baru saja ia mau mengucapkan maaf, namun Alhaitham membuka mulut terlebih dahulu. Tanpa menatap Kaveh, ia bertanya, "Apakah aku adalah orang yang suka berbohong di matamu?"
Kaveh terdiam mendengar pertanyaan Alhaitham. Berbohong....Alhaitham yang ia tahu bukanlah pembohong. Ia adalah orang yang sangat jujur--terlalu jujur malah, dan tidak pernah menyaring omongannya. Bukan berarti Alhaitham selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya, namun Alhaitham tidak akan berbohong tanpa alasan. Karena itu Kaveh menggeleng, ia tidak berani berkata apa-apa karena takut akan salah bicara.
"Lalu kenapa kamu bilang aku berbohong padamu kemarin pagi? Apakah kamu sebegitu membencinya pada kenyataan bahwa ada bayi dalam perutku? Aku tidak masalah jika kamu benci padaku, aku juga tidak minta pertanggungjawaban. Tapi aku hanya ingin kamu mengetahui keberadaannya, dan menerima bahwa dia adalah anakmu. Itu saja."
'TAPI LAKI-LAKI TIDAK BISA HAMIL!?' kira-kira seperti itu yang ada dalam pikiran Kaveh, namun ia menahan dirinya untuk tidak membuka mulut, takut Alhaitham akan menangis lagi. Jadi ia memutuskan untuk mengangguk saja dan membisikan kata maaf kepada sang panitera.
Beberapa waktu mereka bertahan pada posisi tersebut, hingga perut keduanya keroncongan. Alhaitham turun dari pangkuan Kaveh dan segera menarik teman serumahnya ke dapur. Kaveh yang ditarik hanya pasrah dan menuruti langkah Alhaitham. Toh, ia juga sedang lapar dan sudah biasa menjadi pihak yang memasak, mengingat statusnya yang hanya menumpang tinggal.
"Kaveh, aku mau makan sup untuk sarapan pagi ini."
"Kamu kan tidak suka makan sup?"
"Aku mau sup."
"Baiklah, yang mulia."
Jika kelakuan Alhaitham pagi ini terasa sangat aneh bagi Kaveh, ia hanya menelan pikirannya tanpa berani mengutarakannya. Kaveh tetap menuruti permintaan Alhaitham dan memasak sup dengan seadanya bahan di kulkas.
"Apa dia benar-benar hamil ya..."
"Siapa yang hamil?"
"HAH!!"
"!?"
Jika Tighnari tidak segera melerai mereka, mungkin akan ada berita di papan pengumuman mengenai Mahamatra umum Seno melakukan aniaya terhadap arsitek yang dikenal sebagai jenius dari Kshahrewar. Beruntung kedua sejoli itu selalu bersama sehingga ada Tighnari yang berhasil melerai ketika Cyno hampir mendislokasi bahu Kaveh sebagai bentuk perlindungan diri karena Kaveh yang terkejut hampir menyikutnya.
"Jadi, anak siapa yang kamu hamili?" tanya Cyno tanpa basa-basi maupun mengurangi volume bicaranya, membuat pelajar Akademiya di sekitar mereka (karena saat ini mereka ada di Koridor Akademiya) langsung melirik ke arah mereka. Tentu saja Kaveh panik menjadi pusat perhatian bukan karena hal positif seperti biasanya, sehingga ia langsung menarik kedua temannya ke sudut Akademiya yang lebih sepi.
"Kamu itu ya, kalau mau tanya sesuatu itu dipikir dulu lokasinya dong! Bisa-bisa aku mendapat cap jelek karena dikenal menghamili anak orang di luar nikah!"
"Jadi, siapa yang kamu hamili?"
Kaveh memijat pelipisnya mendengar Cyno mengabaikan ucapannya. Kenapa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang mendengarkan dia, sih? Apakah Kaveh salah memilih teman? Tapi ia memutuskan untuk menceritakan tentang kelakuan aneh Alhaitham sejak dia mengaku bahwa dia hamil, karena ia tidak punya waktu untuk mencari teman baru. Mengurus Alhaitham yang mendadak jadi aneh dan pekerjaannya sebagai arsitek sudah cukup menyita banyak waktunya, tidak akan sempat jika ia harus membina hubungan pertemanan baru dengan orang asing.
"Itu... Yang kamu ceritakan benar Alhaitham? Kok berubah 180° begitu dari ingatanku..."
"Aneh, dia di kantor kelakuannya masih sama kok. Kamu yakin kamu tidak berkhayal?"
"Kalau aku ada waktu untuk berkhayal, lebih baik aku berkhayal sudah tidak bangkrut lagi dan keluar dari rumahnya!" jawab Kaveh, tidak terima dengan tuduhan Cyno. Cyno mengangguk, menyetujui omongan Kaveh. Itu adalah khayalan yang lebih baik dibanding apa yang Kaveh ceritakan, sementara itu Tighnari tampak sibuk dengan pikirannya.
"Apa mungkin..."
"Ada apa, Tighnari?"
"Apa kamu tahu sesuatu?"
Tighnari menggeleng, membuat Kaveh menghela napas karena satu-satunya orang yang ia anggap bisa diandalkan pun tak mengerti apa yang terjadi pada teman serumahnya. Mengesampingkan betapa merepotkan dan manjanya Alhaitham sekarang (sejujurnya Kaveh sangat menyukai bagian kedua tapi orang selain dirinya tak perlu tahu), Kaveh sedikit khawatir dengan intensitas muntah Alhaitham setiap pagi. Ia selalu muntah dengan heboh sampai wajahnya pucat pasi, lalu bermanja-manja bersandar pada Kaveh. Sudah beberapa kali ia mengajak Alhaitham pergi ke dokter, namun selalu saja ditolak.
Pikirannya buyar ketika terdengar kehebohan dan nama Alhaitham disebut-sebut. Ia bertukar pandang dengan teman-temannya, sebelum mereka bertiga memutuskan untuk mencari tahu ada keributan apa. Kaveh, karena mendengar nama Alhaitham samar-samar disebut. Cyno, karena keributan di kampus termasuk tanah pekerjaannya. Tighnari, karena ia mau kembali ke Ghandarva dan harus melewati keributan tersebut.
Kaveh menghentikan langkahnya ketika melihat Alhaitham dengan wajah pucat pasi dan dalam keadaan tak sadarkan diri dibawa menggunakan tandu. Cyno dan Tighnari ikut menghentikan langkah mereka ketika menyadari alasan Kaveh berhenti, sebelum mengikuti sang arsitek yang mempercepat langkahnya. Dalam kepalanya, Kaveh menyalahkan dirinya yang tidak lebih tegas mengajak Alhaitham ke dokter. Seharusnya ia lebih tegas, dan harusnya ia lebih tega memaksa Alhaitham ke dokter meski harus melawan tangisan adik kelasnya lagi.
Kaveh tidak ingat apa yang terjadi, dan bagaimana ia bisa sampai di Sanctuary of Surasthana. Ia hanya ingat mencoba menerobos kerumunan untuk mendekati Alhaitham yang tak sadarkan diri, lalu tiba-tiba gerombolan yang akan membawa Alhaitham ke rumah sakit dihentikan oleh Lesser Lord Kusanali, kemudian Kaveh diminta Lesser Lord Kusanali melakukan sesuatu dan ia kini berakhir di kediaman sang Archon dengan Alhaitham dalam gendongannya. Tighnari dan Cyno mengikutinya dari belakang, namun keduanya diminta menunggu di luar oleh sang Archon. Kini Kaveh duduk di samping tempat tidur tempat Alhaitham yang masih tidak sadarkan diri berbaring, dengan Lesser Lord Kusanali di sisi seberangnya.
"Kaveh, ya?" tanya sang Archon. Meski memiliki wujud anak kecil, Kaveh bisa merasakan bahwa yang di hadapannya adalah Archon sungguhan yang tidak boleh ia remehkan. Kaveh mengangguk karena takut jika ia membuka mulutnya akan ada salah kata.
"Apakah Alhaitham sudah memberi tahu bahwa ia mengandung anakmu?"
Kaveh terkesiap mendengar pertanyaan Kusanali. Jadi, Alhaitham memang benar-benar hamil? Tapi bagaimana bisa? Bukankah ia juga lelaki seperti Kaveh?
Kusanali tertawa kecil sambil menatap ke arah Kaveh, membuat sang arsitek gelagapan karena belum menjawab pertanyaan sang Archon. Tangan kecil Kusanali mengelus perut bagian bawah Alhaitham, sebelum sebuah sinar berwarna hijau khas dendro muncul dari tangan sang Archon. Keadaan Alhaitham berangsur-angsur membaik hingga wajahnya sudah tidak lagi pucat pasi. Kaveh menghela napas lega, lalu dengan berani menggunakan satu tangannya untuk mengelus pipi Alhaitham yang telah kembali warnanya.
"Aku tidak bisa menjelaskan yang bukan bagianku," ucap Kusanali. "Tapi satu hal yang bisa aku beri tahu, Alhaitham benar-benar sedang mengandung anakmu, meski dia adalah lelaki. Anggap saja ini adalah sebuah keajaiban."
"Kamu temanilah Alhaitham di sini sampai dia sadar dan bisa pulang. Aku akan kembali pada tugasku, jangan khawatir tentang pekerjaan kalian." ucap Kusanali, sebelum meninggalkan kedua sejoli tersebut.
Banyak hal terlintas dalam pikiran Kaveh. Tentang mereka, tentang anak dalam kandungan Alhaitham, tentang masa depan mereka. Kalau diingat lagi, Alhaitham selalu menekankan bahwa ia tidak minta pertanggungjawaban, bahwa ia hanya ingin Kaveh mengetahui keberadaan darah dagingnya yang kini ada dalam kandungan teman serumahnya. Namun Kaveh bukanlah Kaveh jika ia lari dari tanggung jawab. Hutang karena dijebak Dori saja dia siap menanggung, masa anak hasil perbuatannya sendiri tidak dia pertanggung jawabkan? Lagipula melihat sifat manja-manja Alhaitham belakangan ini, Kaveh yakin sang panitera juga tidak akan bisa menghadapi kehamilannya seorang diri.
Kaveh menautkan jarinya dengan Alhaitham yang masih tidak sadarkan diri, sebelum menariknya mendekati bibirnya dan mengecup jari jemari tersebut satu per satu.
"Mungkin saat ini aku bukan orang yang bisa membuatmu bergantung secara finansial. Namun kebutuhan emosional, dan keperluan lain, aku lebih dari siap untuk menanggung. Jadi, jangan bilang kamu tidak mau pertanggungjawabanku, yah? Kita berjuang bersama-sama." ucap Kaveh lembut sebelum mengecup dahi sang panitera.
Kaveh tidak tahu bahwa saat itu sang panitera sudah sadar, dan jika ia lebih jeli, mungkin ia bisa melihat ujung telinga Alhaitham merona merah seperti tomat matang.
Sudah lima tahun berlalu, dan Kaveh masih belum mendapatkan jawaban ataupun penjelasan tentang bagaimana laki-laki seperti Alhaitham bisa hamil. Tentu saja Kaveh masih penasaran, amat sangat penasaran, mengingat Alhaitham juga memiliki kemampuan menyusui layaknya ibu pada umumnya. Tapi Kaveh yakin dengan apa yang ia pegang dan apa yang ia rasakan, bahwa milik Alhaitham sama dengan miliknya. Wajar kan kalau dia masih penasaran? Namun semua rasa penasaran itu buyar ketika ia melihat wajah cantik dominan Alhaitham dari putri pertamanya yang sedang manja-manja mencoba mencuri perhatian ibunya yang seperti biasa sedang sibuk membaca buku tanpa peduli dengan ruang tamu yang begitu berantakan. Jika seperti biasa, tentu saja Kaveh akan mengajaknya adu mulut. Namun karena saat ini kehamilan Alhaitham sudah memasuki minggu ketiga puluh, jadi Kaveh bersabar menjadi asisten rumah tangga demi anak laki-laki pertamanya yang ada dalam kandungan pasangannya.
'Ya sudahlah,' pikir Kaveh. 'Tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya.'
End.
