Work Text:
Dari dulu pun, sudah menjadi desas-desus legendaris bahwa anak yang tidak masuk Pramuka dijamin tak akan naik kelas.
Memangnya, ilmu kepanduan itu sepenting apa sih?
Tsukasa Tenma, sebagai ketua atau Pramata Putra organisasi Pramuka di Kamikou sudah muak mendengar pertanyaan common seperti ini.
Pasalnya, ia sendiri masuk Pramuka pun sedikit terpaksa. Bukan murni keinginan sendiri.
Kebolehan lelaki satu ini muncul sekitar usia SMP. Kemampuan bermain peran. Langkah pertama yang ia kejar adalah masuk ekskul Theater saat SMA.
Bisa dibilang rencananya tak berjalan semulus bokong bayi baru lahir. Ekskul Theater tidak lagi menerima anggota baru saat Tsukasa mendaftar ketika MOS.
Dikarenakan peraturan sekolah yang mewajibkan tiap muridnya memilih minimal 1 ekstrakulikuler untuk diikuti, Tsukasa tanpa berpikir dua kali langsung daftar alternatif--Pramuka.
Tahun pertamanya tidak begitu berkesan. Malah cenderung membosankan.
Sisi terangnya, ia berhasil mendapat kawan baik. Rui Kamishiro namanya. Ahli dalam bidang IT dan robotik, cukup mengherankan untuk orang semacam dia yang harusnya bergelut dengan alat-alat modern dan canggih. Bukannya guling-guling dilumpur seperti gajah memakai sunscreen alami pada musim panas.
Yaah, tapi Tsukasa akui, Rui cukup telaten dalam mengikat tali untuk merakit tandu dan menghafal bermacam sandi morse. Jangkung menjulang dan cocok menjadi penjuru dalam Peraturan Baris-Berbaris.
"Lu ikut Pramuka karena apaan, Rui?"
"Pengen banyakin relasi, disuruh temen lama."
Saat menerima jawaban singkat itu, Tsukasa mengangkat satu alisnya. Temannya spesial banget sampai dituruti seniat ini?
Sekian kali ditanyai oleh pembina, Kak Ken (sudah tua tetep dipanggil kak #menolaktua) pun jawabannya tetap konsisten.
Persoalan ini membuat Tsukasa jadi penasaran.
Akhirnya, pada tahun kedua pertanyaan Tsukasa terjawab dengan sendirinya.
"Kamu! Yang matanya sayu! Perkenalkan diri kamu!"
Gadis berambut ikal yang ditunjuk celingak-celinguk panik, "Saya, kak?"
"Ya jelas, kamu!" Tsukasa senang, bisa menjahili junior baru demi membalaskan dendamnya pada para senior galaknya setelah menunggu setahun lamanya.
"Emh ... Nene Kusanagi. Kelas 10-B. Udah ...?" Nene melirik pada Rui, nampak picingan mata keakraban. Tsukasa sadar akan itu.
"Oke Nene, SIAPA NAMANYA ADIK-ADIK???"
"NENE!!!!!!!!!!!!!!!!" Ajudan-ajudan baru Tsukasa menjawab kompak.
"Salam kenal Nene, silahkan kamu boleh duduk." Yang disebut mengangguk pelan.
Pantesan spesial banget, demi cewek ternyata. Batin Tsukasa, puas mendapat jawaban yang ia cari sejak lama.
Kalau modelan Rui saja bisa mempunyai kisah cinta sendiri, lantas bagaimana dengannya sendiri?
Hari ini diadakan acara pelantikan anggota baru, mereka akan resmi dipakaikan kacu. Dasi merah putih yang ditanggalkan pada ring untuk menahannya.
Sudah ke-berapa kali nya Tsukasa jadi pemimpin upacara pelantikan tidak ada yang menghitung, namun yang pasti cowok itu selalu gagal menahan tawa yang ditujukan pada anggota baru yang basah-basahan dimandikan memakai air disertai kembang tujuh rupa.
Pelantikan kali ini ada sedikit kejanggalan. Seperti ada yang aneh. Selama memakai pernafasan diafragma untuk berteriak memandu upacara, tak sekali pun benaknya tidak memikirkan gadis muda berambut merah jambu yang wajahnya asing. Sampai-sampai hampir kebablasan ingin menegur, "Hey, kamu!" melainkan, "SIAAAPPP GRAK!"
Ketika itu, Tsukasa masih terombang-ambing ingin mengambil posisi jabatan Pratama Putra atau Danton. Kalau kata Rui, jiwa kepemimpinannya bagus. Begitu juga suaranya. Keseringan teriak heboh nggak jelas, sih. Biasalah, tipikal Tsukasa.
Lagi, gadis dengan gaya rambut bob itu melintas dengan lincah. Menyapa akrab Kak Ken, seperti sudah kenal lama. Apaan coba, padahal baru masuk hari ini. Batin Tsukasa. Ia saja membutuhkan waktu satu semester untuk akrab dengan kakak pembina.
"Tsuk, ini dik Emu." Saat Tsukasa tengah istirahat dan berbincang santai dengan adik kelasnya, meneguk segelas air putih yang dibagi bersama, Kak Ken menghampirinya sembari mendorong sedikit Emu untuk memperkenalkan dirinya. "SALAM PRAMUKA!" Gadis dengan identitas Emu itu memberi hormat singkat, berbicara keras hingga menarik perhatian siapa saja yang mendengarnya.
Tsukasa tersenyum sedikit canggung, "Salam!" balasnya. Ia menerawang penampilannya dari bawah keatas, pun sebaliknya. Perasaan di sekolah nggak pernah lihat deh, pikirnya. "Emu, Tsukasa ini sudah kelas 11. Dia kakak kelasmu, harus dipanggil pake formalitas ya." terang Kak Ken, bangga menepuk-nepuk bahu Tsukasa. Emu mengangguk sumringah, tos tumbuk dengan Tsukasa lalu duduk bersama barisan kelas 10.
"Sorry banget nih ya kak, harus banget anak baru dimanjain kayak gitu?" Tsukasa berkacak pinggang tak terima.
"Ssshht, nak. Jangan bilang-bilang ya, tapi dia itu anak konglomerat!"
Mimik wajah Tsukasa masih membentuk puzzle, banyak yang ingin dia tanyakan. Akhirnya keduanya memojok, membicarakan hal tersebut dengan berbisik pelan.
"Emu sekolah di SMA khusus cewek, yang sekolah elit itu, nak. Kata kakaknya ini anak rada hiperaktif gitulah, gaada ekskul yang cocok menopang dia disana. Karena organisasi Pramuka sekolah kita terbaik di kota ini, dan kakaknya mau yang terbaik buat mendisiplinkan dia ... yah. Gitulah kurang lebih."
"HAH? Emang boleh kayak gitu, kak?" Tsukasa ber-sweat drop ria.
"Boleh, soalnya orang berduit. (dan kehendak penulis)"
Masih menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Tsukasa masih loading untuk memproses semua data yang barusan diterima. "Jadi, saya kasih tau siapa aja, kak? Takut ditanyain." Kak Ken menopang dagu. "Teman seangkatanmu sajalah, sama Rui. 'Kan wakilmu."
Tsukasa mengangguk paham, menoleh pada Rui yang sebenarnya memperhatikan dari tadi. Keduanya mengacungkan jempol.
"Udah ya, saya tinggal. Titip anak saya, Tsuk." Kak Ken bersiap-siap merogoh tas ranselnya. "EH-EH BENTAR DONG KAK! Hari ini ngasih materi apa?" cegat Tsukasa.
Sibuk meladeni tos tumbuk tanda solidaritas pada anak-anak didiknya, Kak Ken duduk di jok motor Scoopy dan berdalih seadanya. "Ajarin bikin tandu aja, Tsuk! Udah ya, saya pamit mau ngurusin warkop. AN! AYAH PERGI DULU!"
"IYA AYAAAH, HATI-HATI!" sahut An dari belakang Tsukasa, disusul Akito juga Toya yang cuma mau setor muka. "HEH!? SANA KALIAN DUDUK! SIAPA YANG SURUH KESINI?" usir Tsukasa galak. Rui tertawa geli melihat pemandangan itu sambil mengatur barisan adik-adik kelasnya.
"Baris sesuai regu ya. Cewek sama cewek, cowok sama cowok."
Seusai basa-basi pembukaan dan berdoa sebelum kegiatan dimulai, awalnya para gadis melingkari Emu dulu karena ingin berkenalan. Tapi ada kakak kelas tahun ke-3 yang misuh-misuh dan mereka bubar dengan sendirinya.
Meminta perhatian, Tsukasa menepuk tangan. "Duduk siap, GRAK!" Karena sudah rapih dan teratur, sekali lagi ia berucap. "Duduk istirahat, GRAK!"
"Terima kasih ..." Tadinya duduk tegak, akhirnya semuanya melemaskan otot-otot yang tegang. "Sekarang kita belajar membuat tandu ya, ini peralatannya sudah kakak-kakak siapkan. Kalian ingin lihat kami membuat dulu atau langsung diajarkan?"
Banyak bisik-bisik circle terdengar, dan semuanya mencapai kesepakatan untuk langsung minta diajarin. "Oke! Cari partner, pasangan laki-laki perempuan. 3 detik dari sekarang sudah terbentuk, go!" titah Rui.
Semuanya heboh, banyak yang protes sana-sini. Ingin partner sesama jenis saja.
"Kak nggak mau kak! Nanti dikira pacaran!"
"KAK AKITO GENITTT!" disusul timpalan, "Apa sih! Kan ceweknya sisa elu!"
"Rui, aku boleh bareng kamu nggak?" bisik Nene perlahan mengambil kesempatan dikala suasana sedang bising-bisingnya. "Nggak dong, Ne. Sama yang seangkatan ya. Itu, Toya. Temen sekelasmu, 'kan?" gadis itu mengalah pada akhirnya.
Semuanya sudah punya partner masing-masing. Walau banyak yang tidak terima karena dipasangkan oleh kakak kelas, sih. Masing-masing individu bersiap disamping 2 tongkat panjang, 2 tongkat pendek, dan 6 tali tambang putih kusam untuk membuat tandu. Sementara itu, Tsukasa merasakan ada seseorang yang menarik-narik dan menoel bajunya. "Kak? Kak Tsukasa?" lirihnya, memanggil.
"E-eh, iya Emu? Kenapa?" Entah kenapa lelaki itu jadi salah tingkah sendiri. "Aku nggak kebagian partner ..." Irisnya berkaca-kaca.
Aduh, gawat! Anak konglomerat jangan sampai menangis! Tsukasa terbayang-bayang kehidupan di penjara, hampa, sunyi, hanya makan roti kering dan keras. Dan ... teman satu sel yang mempunyai jejak kriminal kekerasan. HIIIY. Sama menyiksanya dengan serangga-serangga menghinggapi sekujur tubuh. Ia membuang jauh-jauh pemikiran negatifnya.
Ah, iya juga. Anggota laki-laki lebih sedikit dari biasanya. Banyak yang absen, minta izin ada keperluan keluarga. Tch, alasan macam apa itu!? Bilang saja seujujurnya kalau sedang malas mah. "Emu mau berpasangan sama kakak?" Tsukasa menawarkan diri, toh tak ada solusi lain.
Tidak jadi menangis, Emu langsung mengeluarkan cahaya dari matanya yang tadi redup menjadi berbinar-binar. Menggandeng tangan Tsukasa erat, seolah itu sudah hal yang lumrah. "AYO KAAK, UDAH KETINGGALAN KITA!" ujarnya senang. Sedangkan Tsukasa menahan malu karena di cuit-cuitin oleh kakak kelas dan adik kelasnya.
Rui yang masih mengawasi ikut mengayomi adik kelasnya. "Wah, punya Nene sama Aoyagi cepet banget selesainya. Sini, kakak ajarin cara ikat kain bagian kepalanya." Modus. Padahal aslinya cuma mau duduk disamping Nene.
"Kak Rui, Bang Tsukasa mana ya? Kok tidak ikut mengajarkan?" tanya Toya dengan sopan santun yang patut ditiru. "Hmm, ah. Itu, dipojokan. Sama Emu ...?" Wah, kok momen seperti ini bisa-bisanya luput dari pandangan seorang Rui!? "Eh, mesra banget tuh." cibir Nene. Memang benar, Tsukasa mengajari Emu sambil berada dibelakang punggungnya dan memandu jemari mungil Emu untuk mengikat simpul-simpul tambang pada tongkat.
"Mu, kalau bikin tandu gak boleh duduk ya. Harus jongkok, terus satu kaki menopang tongkat biar gampang mengikatnya." terang Tsukasa. "Ih, capek banget dong kak?" Tsukasa mengangguk sambil berpose narsis seperti biasa. "Biasanya kalau di lomba begitu, liat nih kakak udah dapet pin nya!" Sambil menunjuk pada seragam coklat susunya itu.
Emu banyak belajar semenjak hari pertamanya. Orang-orang disaat itu mungkin belum dapat membayangkan bahwa gadis ceroboh itu menjadi Pratama Putri di kemudian hari.
"Cewekmu yang dari Miyajo itu bakal mampir, Toy?"
"Iya, bang."
Toya Aoyagi. Kelas 10-B. Komite Perpustakaan, anggota ekskul Pramuka (ikut karena disuruh ayahnya). Tenar karena wajahnya yang rupawan, digandrungi gadis seumuran, juga ... punya pacar dari sekolah sebelah. Diduga 'cinlok' akibat bertemu di Jambore Nasional yang ia wakili sebagai delegasi Pramuka kota.
Masih ingat betul ia saat pertama kali bertemu pacarnya, Kohane Azusawa di hutan ibu kota dimana kegiatan diselenggarakan serentak pada hari-H.
"S-salam kenal... Toya? Aku delegasi SMA Miyajo, katanya sekolah kita satu tim ya?" Suaranya yang lembut dan menggemaskan kian bergema dalam kobaran cinta Toya (eak). "Mhm. Salam kenal... Kohane." Mereka berdua mengambil jeda karena sama-sama mesti memastikan membaca nama yang benar di bet nama.
Pertemuan yang singkat, namun berkesan. Beberapa hari punya agenda kegiatan bersama, cukup untuk Toya mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan yang bersemi diantara percakapan-percakapan manis yang tersisip. Pada kemah hari terakhir, ada acara seru-seruan untuk menfess anonymous. Alih-alih menyampaikan pesan dan menyamarkan identitas, Toya terang-terangan minta pada pembawa acara untuk meminjam microphone nya sebentar dan bernyanyi. "Lagu ini saya persembahkan untuk Kohane Azusawa." ucapnya romantis.
Kohane ikut bergabung bernyanyi bersama Toya. Tanda membalas perasaannya.
Akito, An, dan Nene yang juga mewakili sekolah sebagai delegasi hanya bisa menepuk jidat bersamaan. "Ini picisan apaan lagi, sih ..."
"Temen lu tuh, Akitod!"
"Apaan sih, suka-suka Toya lah!"
Nene menatap datar keduanya. 'Kalian berdua sama aja.'
Ia lalu tak sadar berharap segera pulang dan menyelesaikan kegiatan Pramuka ini dan bergegas bertemu Rui di depan pagar rumahnya.
Cukup menceritakan masa lampau nya.
SMA Kamikou mengadakan event open house tahun ini, dalam rangka menarik perhatian cimit-cimit SMP agar tertarik melanjutkan sekolah kesini.
Kohane ikut berpartisipasi sebagai pendatang setelah dikabari pacarnya, lengkap memakai seragam Pramuka Miyajo. Setibanya di sanggar Pramuka, ia mendapati banyak yang sedang berbenah untuk pertunjukan semapur. "Permisi kak, ada Toya?" Kohane sadar, tidak sengaja memotong pembicaraan diantara Tsukasa dan Emu. "E-eh, Emu?" gadis itu keceplosan setelah melihat wajah familiar.
"J-jadi bener ya rumornya ... tentang kamu punya pacar yang lebih tua ..." Kohane melirik takut-takut pada Tsukasa, menatap lekat pada keterangan kelas di seragamnya. Emu panik, komat-kamit nggak jelas karena salah tingkah. "E-E-EH!? KOHAMMY TAU DARIMANA?" Tsukasa hanya memegang belakang leher, lalu berdeham. Pipinya agak memerah, sih. "Ini pasti pacarnya Toya ya?" tanyanya keras-keras. Mungkin sengaja biar mengalihkan topik.
An yang sedang mengangkat kardus-kardus berdebu reflek melemparnya pada pangkuan Akito demi memeluk sahabat barunya yang sering mampir di warkop ayahnya. "KOHANEEEE, ternyata beneran datang~"
"WOI AN! UKHUK! SIALAN KURANG AJAR!" Akito menghampiri terburu-buru, menepuk debu yang tersisa di seragam. "Oh, yo, Kohane. Toya di perpus. Mau gua anter?" An memicingkan mata. "Biar aku aja," sanggahnya.
Terjadilah adu mulut seperti biasa.
Mereka bertiga harus melewati jalan berliku-liku, lebih memutar dari biasanya untuk sampai ke perpustakaan. Biasanya sih dekat, banyak jalan pintas. Hanya saja sekarang terhalang stand makanan dan banyak sekali pameran. Ditengah perjalanan pun, banyak yang mengusik. "Ih, cie, jadi ini ceweknya Toya?" sampai "Waduh, bro Kito! Dateng-dateng malah nge-harem!" Akito hanya bisa bersabar sembari mengumpat dalam hati.
Sempat juga berpapasan dengan Mizuki.
"Woi dek! Udah berani selingkuh ya sekarang dari An!" An dan Akito hanya memasang wajah tersipu ketika Kohane yang kebingungan bertanya polos, "Eh, kalian kapan jadian?"
Sesampainya di perpustakaan, nampak Toya yang sedang menjaga bazar buku. Kohane menyapanya, dan sempat melihat-lihat beberapa buku yang menarik perhatian. "Yailah, kok banyak buku kisi-kisi sih." Dua individu inisial S.A yang dari lahir sudah idiot natural berdecak kesal.
Kohane dan Toya sama-sama membeli manga dengan judul yang sama. Sebuah komik seri, mereka janjian. Toya beli volume 1, lalu Kohane volume ke-2. Jadi lebih hemat, mereka hanya perlu saling meminjam.
"Sudahan yuk," Toya sudah muak mencapit boneka dari mesin pencapit karena ditandingkan dengan Nene (ini ulah Rui dan Tsukasa). "Anjir, seri." Akito tak ingin mengakuinya, tapi ia menikmati kompetisi bodoh tadi. "YES! Kerja bagus, Totoy. Boneka pink nya buat kukasih ke Emu sama Saki boleh kan!?" tanggap Tsukasa antusias.
Toya hanya tersenyum puas dan mengangguk, "Iya, bang. Silahkan." Terkadang Akito hanya dapat menatap terheran-heran kenapa anak itu nurut sekali sama Tsukasa.
"Cuy, mampi dulu skuy ke Warkop Abah Ken." Akito mengajak sohib sehidup semati-nya nongkrong terlebih dahulu di kafe kekinian yang dijuluki warkop. "An, bareng yok. Naik apa lu?"
"Angkot." jawabnya. "Kamu bawa motor?"
"Kagak." An yang suasana hatinya sedang kalem-kalemnya terpicu lagi amarahnya. "TERUS BUAT APA NGAJAK-NGAJAK?"
"Y-ya maksudnya bareng gitu naik angkotnya, se-angkot." Toya si alim mengelus punggung Akito. "Sabar, Akito. Mungkin lagi tanggalnya." Setelah mencerna beberapa menit maksud dari kode itu, Akito akhirnya hanya mengangguk pasrah.
Tadi Kohane sudah pamit pulang duluan, eh mereka berempat malah bertemu di angkot. "Kohane kok masih disini?"
"Eh, anu. Itu ... angkotnya belum penuh-penuh dari tadi. Mang nya ngotot gamau berangkat dulu..." Kasihan Kohane.
"Yaudah, mampir dulu yuk bareng kita ke warkop ayah? Udah mau malam, anak gadis kan gak baik pulang sendiri." An merangkul gadis yang mirip hamster itu gemas. "Iya, nanti aku anterin ke rumah. Motorku di titip disana," kata Toya sambil menyelipkan jari-jarinya pada tangan Kohane.
Akito dan An pura-pura tidak lihat saja.
Para gadis pun terlelap disandaran Toya dan Akito. Kedua lelaki itu berniat memotret wajah pulas ketiduran Kohane dan An untuk dijadikan stiker WhatsApp. Tapi nggak jadi. Mending jadi komsumsi pribadi.
