Work Text:
Dengan matanya yang masih memejam, Padma sadar kalau dirinya sudah bagun. Berarti dia tidur. Ketiduran.
Ada cahaya dari sana, terasa hangat seharusnya. Namun, karena udara yang menyambutnya ini tidak sejuk, cahaya itu membuat gerah. Masih terpejam saja, Padma sudah disilaukan.
Hendak membalik posisi kepala, karena mungkin ia menghadap ke jendela perpustakaan, intensitas panas yang diterima wajahnya tiba-tiba berkurang. Oleh sebab itu, keputusannya berubah menjadi membuka mata perlahan.
Mengerjap-ngerjap. Seseorang berdiri menghalangi terobosan sinar.
“Huh … Agam …?”
Bujang mengangkat kepala. Buku bacaannya ditutup tanpa menyisipkan pembatas. Ia mengingat halaman terakhirnya.
“Kau tidur selama sembilan puluh menit.” Bujang telah menarik kursi, duduk di sebelah kirinya, terobosan cahaya diblok.
Padma mengetuk dua kali layar telepon genggam. “Kau benar.” Tangannya diangkat ke atas, melakukan peregangan. “Segar banget.”
Bujang menggeser gelas kertas yang mungkin dia letakkan saat Padma baru bangun. Padma mengangkat alis.
“Kau berhasil menyelundupkan makanan lagi.”
“Minuman,” koreksi Bujang, “aku tidak menyembunyikannya dari penjaga perpustakaan.”
Padma mengangguk, tidak menebak-nebak apa isi gelas itu. Setelah dirasakan, ternyata summer lemonade. “Benar juga. Kau kan kesayangannya.”
Bujang tersenyum. “Kau yang menikmati hak istimewanya.”
Itu juga tidak salah.
“Aku lapar.”
Setelah Padma mengucapkannya, pengeras suara perpustakaan mengumumkan jadwal buka yang tersisa sepuluh menit.
Bujang berdiri duluan, mengambil buku Padma yang sudah dipindai untuk sepuluh hari ke depan.
“Mau ramen?”
Nikmatnya ketika lapar tapi sedang tidak tahu mau makan apa tapi lapar lantas seseorang yang memikirkan menu untukmu.
“Ramen ikuzo.”
