Actions

Work Header

Day & Night

Summary:

“Syaratnya mudah saja, Padma. Berikan waktu malammu kepadaku, akan kuberikan hariku untukmu.”

Bujang bersedia memberikan seluruh dunia jika itu tentang Padma, kelihatannya,

… atau ternyata tidak sama sekali.

Notes:

Tanah Para Bandit © Tere Liye
Pulang-Pergi © Tere Liye

Didedikasikan untuk:
#PadmAgamWeek2023
Day II: Day & Night.

Tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Jangan lupa baca basmalah :)

Work Text:

“Agam?”

Yang bersangkutan mengangkat kepala.

“Ceritamu tentang teka-teki pasangan malang Roh Drukpa … aku enggak percaya itu.”

Padma terasa seperti mimpi yang paling Agam cintai. Mimpi yang Agam sembunyikan dan sering ia abaikan. Mimpi yang meskipun begitu, tidak pernah pergi. Seakan-akan memang di situlah tempatnya.


Padma membuka pintu apartemen. Di hadapannya seorang pria menenteng dua tas kertas besar.

“Anda salah alamat, Tuan. Saya tidak memesan apa pun.”

“Sungguh?” sosok itu memastikan, “Kalau orangnya? Yakin gak mau sama monyet-nya Padma?”

Padma mendengus geli mendengar intonasi penuh sindiran itu. Ditariknya tas kertas dari tangan kiri pengantar makanan. “Kerja bagus, Monyet.”

Bujang menyeringai, senang karena Padma terlihat berseri oleh kedatangannya.

Daripada disebut kamar apartemen, tempat tinggal ini lebih cocok dikatakan sebagai penthouse. Melihat kelayakan ruangan ini, Bujang bersyukur karena kelihatannya Padma menjalani keseharian di tempat yang baik. Atau minimal, Padma tidur di atas kasur rapi dan empuk setelah hari melelahkan.

“Mau minum apa?”

"Enggak usah ngerepotin. Jus naga cukup."

"Mau air mineral juga gak ngerepotin."

Tatapan sengit nan jenaka saling terlempar.

Padma mengambil buah naga dari kulkas. Ia menyentak pisau ke atas nampan. Yang demikian itu sengaja dilakukan keras-keras. Ruangan dipenuhi desing blender selama dua menit. Padma, Padma. Begitu niat manusia ini memuliakan tamu. Gelas yang tersodor ke Bujang seperti ditata oleh restoran Michelin Star.

Bujang dengan jus naga, Padma dengan cola fast food, dibatasi meja dapur.

Setelah diam membangun atmosfer, Bujang akhirnya berkata-kata. “Kamu bilang kalau kamu enggak percaya teka-teki Roh Drukpa.” Ia sengaja menggantung kalimatnya. “Aku juga … aku juga tidak meyakini itu.”

Maka setelahnya, Padma membawa Agam ke ruangan yang tidak pernah mati tidak peduli siang atau malam. Padma mengambil buku yang ada di meja—yang sedang ia baca, Bujang mengambil buku di rak paling mencolok. Buku yang tampak menjadi favoritnya Padma. Mereka duduk bersebelahan di atas sofa lantai masing-masing. Di hadapan mereka cahaya kota berkelap-kelip.

Bujang menoleh dari pemandangan malam. Padma sudah tenggelam dalam bacaan. Sesekali dahinya berkerut, kadang mengangguk, beberapa kali sudah menarik lembar baru padahal belum habis halaman itu dibaca. Bujang tertawa diam-diam. Setelah ribuan hari memikirkannya, ribuan malam memimpikannya, setiap saat mendoakannya, bisa ada di ruangan yang sama dengannya terasa seperti kenyataan paling indah.

Biarlah siang dan malam melakukan tugasnya masing-masing. Padma berkata bahwa Agam bisa terus di sini selama apa pun yang Agam inginkan. Bahwa tidak perlu membuat alasan jika ingin bertemu. Bahwa saat ini tidak ada jam malam atau jam telat pulang untuk mereka. Bahwa mereka bisa bersama-sama selama yang mereka inginkan. Dan mungkin itu semua karena saat ini Agam sudah di rumah.

Series this work belongs to: