Work Text:
Menurut Yoshida Hirofumi cinta itu terlalu tolol juga komedi. Atau hidupnya sekarang yang berada di puncak tertinggi komedi, Yoshida tidak tahu apa yang harus ia beri sebagai balasan. Mimpi Yoshida sejak awal jatuhkan pandangan pada Denji cuma satu, harap Denji jadi miliknya. Paling tidak, Denji jadi teman baiknya dan ceritakan antero hidup padanya. Maka pada saat Denji benar lakukan itu pada entitas Yoshida, kepalang senang dirinya. Lagi-lagi, cuma bertahan sejenak saja bahagianya Yoshida. Senangnya terlalu fana. Kapan abadinya?
Denji memohon dengan binar di netranya kalau ia mau dekati Asa Mitaka dan minta bantuan Yoshida. Kecut ekspresi tapi mau bagaimana lagi? Yoshida takkan bisa tolak mau Denji, walau ajuannya menohok hati. Budak cinta, tolol, otaknya memaki samar terdengar dalam kepala dan Yoshida hanya tersenyum, getir tanggapi isi pikiran sendiri. Akhirnya benar Yoshida ulurkan bantuan dari tangannya yang melemah. Asa terlihat enggan awalnya, puji bujukan Yoshida ia jadi mau dan terima. Padahal dalam hati Yoshida telah baca mantra agar Asa tolak saja. Tolak, tolak, Asa, biar Denji larinya ke Yoshida seorang. Namun Yoshida sadar eksistensi Denji terlalu cerah untuk disangkal. Bahwasanya kalau Yoshida jadi Asa, Yoshida akan mengangguk sekuat tenaga dan rangkul pinggang Denji. Ajak ia kencan ke mana pun yang dirinya mau. Semoga Asa begitu, semoga Asa wujudkan mimpi Yoshida yang takkan pernah nyata itu.
Tiap kali Denji serta Asa diskusi perihal janji temu, keduanya selalu ajak Yoshida. Entah kebetulan semata, keduanya punya ikatan pada batin atau mau lihat Yoshida sengsara. Tololnya lagi Yoshida mau-mau saja, alhasil ia jadi orang ketiga. Jadi fotografer pribadi keduanya. Jadi memori manusia kencan mereka. Yoshida merasa diuntungkan, sedikit, sebab ia bisa lihat wajah Denji yang sinarnya begitu terang. Senyumnya lebar dan ia berkilau, tampak menawan sekali. Andai. Andai pandangannya ia hadapkan Yoshida. Andai.
Denji, lihat, lihat aku kali ini saja.
Dan... akhirnya, sampai pada masa Yoshida diinformasikan oleh Denji, kalau ia ingin ajak Asa jalin hubungan, berdua. Denji bicara dengan mantap, Yoshida tak melihat satu titik ragu sama sekali dalam mata indahnya. Mata indah, binarnya bukan milik Yoshida. Benaknya berkata, itu punya Asa, Hiro. Punya Asa dan cuma punya Asa, kamu gak akan bisa miliki itu. Karena selalu, munculnya saat Denji bawa Asa dalam obrolan. Atau selalu, saat Yoshida kabarkan hal mengenai Asa, semuanya yang ia tahu. Seluruhnya terlalu mencabik, sial Yoshida tidak bisa lakukan apa pun. Seluruhnya terlalu mengejami dan Yoshida berpikir ia akan terbiasa, nantinya ia mati rasa.
Lidahnya kelu, Denji. Maaf, respons Yoshida lama. Senyum paksanya baru muncul selang sepuluh detik kamu bicara, buat kamu kebingungan sendiri tentang perilakunya. Maaf, maaf, maaf. Kalau bukan karena perasaan bodoh yang menderanya, Yoshida tak akan lelet beri kamu reaksi. Takkan pula ia sodorkan kamu senyum paling tolol yang ia punya. Untungnya kamu tidak tanggap dalam baca mimik, untungnya kamu bukan orang yang akan observasi sampai dalam rupa lawan bicaramu. Untungnya, sekelebat saja kamu tatap aku.
“Semangat, ya? Aku yakin Asa terima kamu, kelihatan dari interaksi kalian berdua.” Gemetar, tapi Denji tak sadar dan tak akan pernah sadar sebelum seseorang beritahu dirinya secara langsung dan Yoshida mensyukuri hal itu, untuk pertama kalinya. Denji lukis senyum, cerah dan indah sekali dalam pandangan Yoshida, kemudian senyum paksanya terganti tanpa lama dengan cengiran lebar. Satu hari saja ia diberi titah untuk jangan puji Denji, Yoshida akan pilih terjun dari udara tepat ke bawah tanah daripada lakukan titah omong kosong itu. Karena sungguh, figur Denji begitu indah dengan tubuh yang lebih rendah dari dirinya. Bedebah. Otak Yoshida sebarkan laporan kalau tinggi manusia di hadapannya serasi dengan Asa Mitaka. Bahkan, anggota dirinya tidak menyetujui ia juga Denji.
Setelahnya, Denji datang lagi dengan senyum yang jauh lebih cerah. Seakan tak belajar, manusia bodoh sematan nama Yoshida itu ikut tersenyum. Sempatkan mengusak rambut Denji yang dibalas cebik sebal bercanda karena tangan Yoshida buat rambutnya berantakan, namun Yoshida tak peduli. Lembutnya ia bertanya pada Denji apa yang membuatnya bahagia sekali pada hari ini. Jawabannya Yoshida tolak mentah-mentah untuk dengar. Jawabannya pendengaran Yoshida abaikan. Kepalanya menjerit, hatinya memekik serta pukuli Yoshida bertubi-tubi. Keras. Perih.
Bersabarlah, sedikit, bersabarlah. Denji bahagia. Jangan rusak, tidak boleh jadikan momen ini cerai-berai walau aku terkoyak hancur tak berbentuk di dalam. Pedihnya gerogoti aku tanpa sisa, Denji. Tolong, tolong aku.
Ucapan Denji bagai kaset yang rusak dalam kepalanya. Tak terstruktur. Suaranya berdenging di telinga, di kepala. Ruangan mendadak hening seluruhnya. Presensi Denji redup, tak berwarna; monokrom. Apa yang salah? Apa yang salah, Denji? Perasaan Yoshida atau Yoshida begitu egois, mau kamu bahagia hanya dengan ia yang tak seberapa dibanding Asa Mitaka. Denji, tepukan di bahu Yoshida sadarkan ia dari dengung yang menghantui. Kelas jadi bersuara kembali dan kamu, kamu nyala lagi, Denji. Yoshida menghela napas, dalam-dalam, ia tepuk kepala kamu untuk beri apresiasi perjuangan kamu sampai saat ini, untuk Asa Mitaka.
“Selamat, Denji. Observasiku benar, ‘kan?”—tolong sudahi, sudahi aku yang jadi memori temu kalian. Sudahi aku yang observasi kalian, sudahi. Sudahi. Aku cukup dimakan habis perasaanku, Denji. Denji mengangguk, antusias sekali dan Yoshida merasa bersalah atas perasaannya sendiri. Tak ada bahagianya ia atas hubungan Denji dengan Asa Mitaka. Hatinya ucap maaf beribu kali di kala pedih menyerang dirinya sendiri.
Denji dan Asa Mitaka mengajak Yoshida lagi. Hari itu keduanya mau traktir Yoshida atas hubungan mereka. Lagi, lagi dan lagi tak bisa Yoshida tolak karena Denji bicara dengan semangat penuh, ia bisa lihat dari binar di netranya. Asa Mitaka dibanding Denji terlalu diam, seperti pendengar yang baik sebab tiap Denji mengoceh ia akan mendengar dengan saksama. Seperti Yoshida. Mirip, persis. Bedanya Yoshida tak miliki Denji. Apa boleh Yoshida tak merasa senang sama sekali dengan semua ini? Rasanya sungguh tidak adil untuk Denji.
Semua rasa semrawut Yoshida telan mentah-mentah. Mengikuti alur keduanya dan bicara seperlunya, selebihnya ia terdiam, curi pandang pada Denji sesekali kalau waktunya tepat. Dan Denji tidak pernah menyadari karena fokusnya adalah Asa Mitaka. Selalu Asa, Yoshida bukan apa-apa. Kemudian Yoshida berjalan di belakang keduanya yang sibuk berinteraksi, seperti penjaga yang memerhatikan tuannya. Akhir kegiatan, Denji bicara akan pulang bersama Yoshida karena Asa dijemput Yoru, saudara kembarnya. Sebelum semuanya berakhir, Denji menarik tengkuk Asa, lembut, untuk satukan bibir keduanya. Dan Asa merona merah sampai ke telinga. Yoshida mau menoleh ke arah lain, sayang, sayang dan sayang sekali ia terlambat. Denyut nyeri kerubungi hatinya, ia tak bisa apa-apa lagi. Melemas seketika dan udaranya hampir direnggut kalau Denji tidak sadarkan dirinya.
Aku gak akan pernah menang, dunia gak akan pernah setuju pengecut kayak aku menang. Utarakan perasaanku aja gak bisa, apa yang mau kuharapkan. Terlebih lagi kamu milik asa dan asa miliki kamu. Aku gak bisa apa-apa. Ratapi nasibku saja, sampai akhir momen pahitku yang tak kunjung datang finalnya. Lelah. Aku egois sekali karena mau kamu utuh, Denji. Aku enggan berbagi tapi dipertuan aku saja kamu bukan.
Suatu hari, keduanya ribut besar dan Denji lari pada Yoshida. Buat ia menerka perihal keberadaannya, telepon emergensi di bagian kedua, kah? Setelah presensi Asa Mitaka? Kalau Asa Mitaka lenyap, apa Denji akan lari terus-menerus ke eksistensinya? Denji bilang Asa terlalu dekat dengan semua orang, membagi afeksinya berlebihan tanpa berpikir Denji akan marah atau tidak. Denji kesal dan Yoshida hanya beri saran sebisanya. Akhirnya Denji memeluk Yoshida pertama kalinya malam itu, karena merasa dibantu dan ia anggap peluk sebagai bayaran. Yoshida mematung, tangannya kaku. “Yosh, gak mau bales peluk gua? Kapan lagi meluk Denji, orang paling keren di seluruh dunia.” Dengan itu Yoshida tersenyum, balas pelukan Denji menggunakan tangannya yang gemetar. Jantungnya berdegup sangat cepat namun Denji tak sadar. Tak akan pernah sadar.
Selalu berulang kejadian menyedihkan itu timpa Yoshida dan Yoshida tak bisa apa-apa karena ia lemah akan pelukan Denji. Pernah sekali Yoshida menangis di bahu surai pirang, dan Denji panik sampai tidak tahu harus berbuat apa. Yoshida tertawa sesudahnya. Yakinkan Denji kalau ia tak apa-apa. Denji sempat tidak percaya, tetapi Yoshida terlihat serius sekali, maka ia putuskan angguki saja perkataan Yoshida.
Pada akhirnya yang Yoshida mohon untuk tidak terjadi malah terjadi. Undangan Denji dan Asa Mitaka diberi secara langsung oleh Denji, mimiknya sumringah dan Yoshida tak mampu bicara apa-apa selain terima undangannya gunakan senyum paksa. Denji pinta ia untuk jadi groomsman di acaranya. Belati tertancap di dadanya, walau tak nyata tapi bisa ia rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Satu hela napas paling berat, Yoshida setujui kemauan Denji, dan Denji bersorak senang. Cukup itu tanggapan yang Yoshida mau lihat dari persetujuannya.
Tidak apa-apa. Mungkin, besok Yoshida bisa berada di titik ia lelah dan menyudahi segalanya. Hidup tanpa bayang serta angan miliki Denji seutuhnya. Karena Denji milik Asa dan hanya akan menjadi milik Asa Mitaka. Yoshida cukup aju permohonan pada Tuhan agar Denji selalu bahagia.
Besok, mungkin Yoshida sampai.
Besok, mungkin Yoshida capai bahagianya sendiri.
