Actions

Work Header

kill for a little drop of love (steal stars to lit up your world)

Summary:

Seongje Geum dikenal dengan banyak nama panggilan menyeramkan. Kuda Hitam. Iblis Keji. Horor Ganghak. Tapi yang paling mengerikan dari itu semua hanya ada satu ;

Kekasih Sieun Yeon si Ular Putih.

Notes:

for awa; congratulation, love

Work Text:

Seongje mendaratkan satu tendangan terakhir ke wajah mengesalkan Dongha Baek yang dari tadi seakan menggodanya untuk menghajarnya. Ingin sekali rasanya Seongje merobek mulut yang sejak tadi cengengesan seakan meremehkannya itu, sebelum dia sadar kenapa tingkah itu amat sangat mengganggunya; itu adalah hal yang biasa dia gunakan pada lawan-lawannya yang jauh lebih lemah, menertawai dan menghina selagi mereka berusaha melawan. Ternyata rasanya cukup menyebalkan juga saat hal itu diarahkan padanya.

"Seongje Geum… Kau pikir kau sudah menang? Kau kira Baekjin Na dan Aliansi akan tinggal diam?"

Seongje menyeringai, sebelum tak bisa menahan tawanya lebih jauh. "Masih bisa bacot juga kau rupanya. Baekjin Na ini, Baekjin Na itu. Memangnya dia itu ibumu?"

"Mengoceh saja sesukamu, toh kau akan mati di tangan Baekjin Na."

"Suruh saja bajingan itu kemari, kau kira aku akan takut?" Seongje mengangkat alis, hendak membalas dengan kalimat yang lebih tengil lagi sebelum dia mendengar langkah kaki mendekat. Bahkan sebelum melirik saja dia sudah bisa menebak langkah kaki ringan dan penuh tujuan itu milik siapa. "Khawatirkan dirimu sendiri. Kau tahu kau sudah membuat masalah yang terlalu besar untuk bisa kau tangani, Dongha Baek?" Dia tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar penuh kepuasan saat melirik dan mendapati wajah penuh amarah Sieun yang memandangi Dongha seakan pemuda itu hanyalah debu membandel di sepatunya. "Aku akan menciumi tanah meminta maaf sekarang juga kalau aku jadi kau."

Sieun seperti biasa melangkah ringan menghampiri mereka, namun tiap langkahnya dijejak dengan tekanan yang cukup untuk memberitahu Seongje bahwa dia sedang sangat dipenuhi emosi negatif sekarang. Dan kalau Seongje tidak mengenalnya lebih dari itu, fakta bahwa Sieun bahkan tidak menoleh ke arahnya meskipun bahu mereka bertabrakan adalah petunjuk paling jelas tentang kondisi emosinya.

Sieun ada di sini, itu berarti Hwangmo gagal melaksanakan perintahnya untuk menahan pemuda itu, namun uniknya Seongje menemukan dirinya tak merasa terlalu keberatan dengan hal itu. Dia tahu sejak awal bahwa Hwangmo sama sekali bukan tandingan sang Ular Putih—bahkan dia sendiri pun bukan tandingannya. Sieun Yeon itu seperti badai; dia kuat, dia tak terelakkan, tak ada yang bisa menghentikannya, and may God helps anyone who tries.

Sieun berlutut, menjenggut helaian rambut panjang Dongha Baek dan sempat menanamkan sebuah pukulan ke wajahnya sebelum dia mendadak berhenti dan menoleh ke arah Seongje, seakan dia baru menyadari keberadaan pemuda itu di sana.

"Jangan hiraukan aku, lanjutkan saja." Seongje memantik rokoknya santai, berlaku seakan segala hal yang dilihatnya tak lebih dari pertunjukan dramatis yang seru. "Aku takkan menghentikanmu. Bunuh saja dia sekalian." Seperti dia akan rela saja melewatkan pemandangan spektakuler Sieun Yeon yang menghajar cecunguk menyebalkan semacam Duo Mokha.

Pemuda bersurai abu-abu itu nampaknya mengartikan itu sebagai dukungan, karena dia lanjut menghajar lawannya dan mengabaikan keberadaan Seongje selanjutnya, sepenuhnya tenggelam dalam ritme menghajar seseorang yang amat sangat familiar bagi Seongje.

Seongje rasanya takkan pernah bisa melupakan pemandangan itu sepanjang sisa hidupnya, dan dia juga tak ingin melupakannya. Sieun Yeon dengan wajah dingin tanpa ekspresi, memukuli Dongha Baek yang bisa-bisanya masih mengoceh bacotan tidak mutu. Betapa indahnya.

Sebelum salah satu kalimat sampah Dongha Baek nampaknya memancing emosi Sieun lebih jauh dan membuat pemuda itu berdiri tegak hanya agar bisa menghantamkan lututnya ke wajah salah satu dari Duo Mokha itu dan akhirnya membuatnya berhenti berbicara. Seongje bersiul ringan mengapresiasi. Oh, he would definitely get a boner looking at that .

Suara gesekan di tanah sekitar mereka membuat Seongje mengalihkan pandang. Seongmok Do yang sedari tadi terkapar di tanah nampaknya berusaha bangkit setelah melihat kawannya dihajar habis-habisan oleh Sieun dan kemudian dengan otak dungunya memikirkan ide untuk berusaha menghentikan hal itu. Bodoh, tak ada yang boleh berpikir mereka berhak untuk menghentikan Sieun yang sedang tenggelam dalam ritmenya.

Seongje memutuskan menginjak kepalanya hanya untuk membuatnya mengerti, membuatnya diam. "Jangan berani mengganggunya," desisnya penuh peringatan. "Cecunguk rendahan sepertimu punya hak apa ingin menghentikan badai seperti Sieun Yeon?"

Sieun masih tak berhenti juga. Kotak rokok Seongje masih separuh penuh, dia bisa diam tenang dan menonton sang Ular Putih menghajar Duo Mokha sepanjang malam.

Namun itu sebelum Hyuntak Go tiba-tiba datang dan menghentikan Sieun, lalu disusul oleh Humin Park yang nampaknya kurang menghajar dua cecunguk pembuat masalah lagi sebelum dia benar-benar kesurupan iblis haus darah seperti Sieun Yeon yang tak dihentikan tadi. Seongje nyaris mendesis saat Hyuntak membisikkan "Kita tidak ingin jadi seperti mereka," untuk menenangkan Sieun.

Siapa dia hingga bisa merasa berhak menghentikan Sieun dari pelepasan emosinya? Siapa dia hingga merasa dia boleh menahan seorang Sieun Yeon, seniman berdarah dari menghasilkan mahakarya penuh darahnya?

Humin bicara ini-itu lagi, yang Seongje paham sepenuhnya ditujukan sebagai peringatan untuk Baekjin Na yang pasti akan disampaikan oleh cecunguk-cecunguknya yang bodoh namun setia ini. Pandangannya mengabur dalam kemarahan dan rasa tidak terima; pada keberadaan Humin yanng mengganggu, pada Hyuntak yang menghentikan Sieun, dan pada Sieun—yang sekali berkontak mata dengannya saja dia sudah tau kalau mereka memikirkan hal yang sama.

Sieun jauh lebih mampu dari berubah menjadi iblis, dan Seongje akan lebih memilih melompat dari jembatan sungai Han daripada harus menghentikannya.

 


 

Seongje menghembuskan asap rokoknya abai, dengan malas memandangi langit berbintang yang suram di atas kepalanya. Rasanya begitu membosankan sehingga hampir saja dia merindukan saat-saat di mana Pilyoung Kim masih suka membuat pertemuan di bar. Setidaknya dengan begitu dia punya tumpukan alkohol dan dada wanita-wanita haus perhatian yang bisa dia nikmati sebagai hiburan.

"Apa yang membuatmu datang kemari?"

Atau tidak juga. Kehadiran pemuda di sampingnya juga sudah cukup menghibur.

"Seperti yang kukatakan tadi, ada hutang budi yang harus kubayar pada si brengsek Pilyoung Kim." Seongje menggerus rokoknya ke dinding di belakang mereka, menoleh untuk sepenuhnya memberikan perhatian pada sosok yang berdiri kaku di sebelahnya. "Kenapa? Kau merasa keberatan dengan itu? Kukira Eunjang membutuhkan segala bantuan yang bisa mereka dapatkan untuk bisa maju menyerang Aliansi."

"Jika kau menghalangi jalan kami—jalanku, lupakan kerja sama, aku akan membunuhmu."

Sang pemuda bersurai ungu tak dapat menahan diri untuk tidak mendenguskan tawa karena itu. "Sieun, Sieun." Dia memiringkan badan dan menunduk, berusaha memerangkap sepenuhnya Sieun Yeon di antara dinding dan tubuhnya sendiri. Itu posisi yang sangat beresiko. Mengenal Sieun Yeon, bukannya tidak mungkin pemuda itu akan menginjak punggung kakinya dan menargetkan pembuluh darahnya lagi. Atau yang lebih parah—paha, tempurung lutut, dan selangkangannya juga berada dalam bahaya. Orang waras akan lebih dari tahu untuk menghindari kemungkinan bahaya itu dengan tidak memancing emosi Sieun, namun jika itu berhubungan dengannya, bagi Seongje menjadi sedikit gila juga bukan masalah.

"Apa?"

"Kau memikirkan banyak hal tidak penting." Seongje berujar ringan, mendaratkan bibirnya pada cuping telinga Sieun yang memerah di udara dingin. "Menghalangi jalanmu—menghentikanmu dari berusaha menghajar bajingan-bajingan Aliansi, apa menurutmu aku sudah kehilangan akal?" Senyum lebar ditarik merekah, dan dari cara Sieun menegang seakan sudah siap menanamkan tinju ke ulu hatinya, Seongje tahu pemuda itu juga merasakan senyumnya. "Harus melewatkan pemandangan seru kau yang menghajar para cecunguk itu, tak ada hal apapun di dunia ini yang bisa membujukku untuk melakukannya."

"Lalu kenapa kau menghajar Duo Mokha dan membuat bawahanmu menahanku saat kau tahu dengan pasti akulah yang mengejar mereka? Menurutku kau masih meragukanku. Mungkin kita harus menjadwalkan perkelahian ulang kita."

"Aku," Seongje menelusuri wajah Sieun dengan bibirnya, mengambil kepuasan dari bagaimana Sieun memejamkan mata dengan kening mengernyit, seakan dia berusaha keras untuk tetap mempertahankan ekspresi dingin dan tak terganggunya. "Menghabiskan tiga minggu di rumah sakit karena kau menghantamkan pot bunga ke kakiku dan memecahkan salah satu pembuluh darah brengsek di sana. Aku yang lebih dari tahu seberapa menakutkannya kau."

"Jadi? Kenapa?"

"Karena kau tidak berdarah," Seongje berujar sederhana. "Kau tidak akan berdarah jika kau yang menghajarnya, karena kau lebih dari cerdas untuk bisa menghindari serangannya, dan kau juga tidak pernah menyerang untuk melukai, hanya melumpuhkan. Jadi kubuat dia babak belur penuh darah, agar ketika kau memukulnya, tanganmu—" Seongje meraih tangan Sieun dalam genggamannya dan mengecupi satu persatu jemari yang terlihat rapuh itu. "Tanganmu penuh darah. Merah terlihat menawan untukmu."

"Bajingan gila," Sieun mengumpat sepenuh hati, namun Seongje mengenali dengan pasti bahwa kalimatnya kali itu tak berbisa.

"Kau sudah sangat mengetahui itu, 'kan? Bukan hal baru."

Sieun menghela nafas, seakan memilih menelan kembali apapun argumen cerdas yang ingin dilontarkannya sebelumnya. Dia tahu kalimat apapun tak akan berpengaruh bagi Seongje Geum yang impulsif, yang hanya akan melakukan apapun yang dia ingin lakukan dan mendengarkan siapapun yang ingin dia dengar. Dan pada saat itu, dia jelas tak bersedia mendengarkan.

"Baekjin Na harus dihentikan," Sieun memutuskan kalimat itu pada akhirnya. "Humin akan berpikir dialah satu-satunya yang bisa menghajar Baekjin Na, tapi orang sepertinya tidak bisa hanya dihentikan dengan benturan fisik."

Seongje berdehem menyetujui, "Bajingan busuk itu licin seperti belut."

"Aku harus bertemu langsung dengannya."

Itu membuat Seongje terdiam seketika. "Apa kau berhadapan satu lawan satu dengannya benar-benar diperlukan? Bukan berarti aku meragukan kemampuanmu," tambahnya ketika dilihatnya alis Sieun terangkat tinggi seakan menantangnya mengatakan apapun yang terdengar meremehkannya.

"Aku tidak akan berkelahi dengan Baekjin Na—setidaknya tidak dalam waktu dekat ini," Sieun bersidekap, tanpa sadar bersikap defensif saat Seongje memandanginya dengan ekspresi yang menunjukkan jelas dia tidak menyukai ide itu. "Aku hanya perlu berinteraksi langsung dengannya untuk menilai karakternya. Data yang kukumpulkan hanya dari shuttle patch tidak cukup menggambarkan keseluruhan dirinya. Aku perlu segala informasi yang bisa kudapat tentangnya untuk bisa menaklukkannya."

Seongje mendengus. "Dari caramu bicara seakan kau berusaha mendapatkannya."

"Huh," Sieun mengangkat alis, sebelum raut wajahnya berubah saat baru menyadari sesuatu. "Apapun itu yang kau pikirkan, lupakan. Aku hanya perlu mengalahkannya."

"Dan apa itu benar-benar diperlukan? Eunjang memiliki Humin Park dan Gayool Jin. Kau tidak harus bertanggungjawab atas bajingan itu sendiri."

"Kau meragukanku."

"Baekjin Na nyaris meremukkan pita suara dan jalur nafasku," Seongje berujar datar, seakan itu adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari. "Aku tidak meragukanmu, tapi aku juga tidak mau meremehkannya. Aku bisa menghajar semua orang dan menang, tapi itu kalau Baekjin Na ada di luar perhitungan."

"Baekjin Na tidak bisa hanya dikalahkan dengan kekuatan," Sieun mengamini. "Harus ada yang menggali kelemahannya dan menyiarkannya ke seluruh dunia agar semua orang yang sudah muak padanya punya kesempatan untuk mengalahkannya."

Seongje mengangkat alis, namun senyum puas terukir di wajahnya. "Ingatkan aku untuk tidak pernah membuat masalah denganmu. Kau mengerikan, Sieun."

Sieun tersenyum tipis, mendongak dan membiarkan Seongje menelusuri leher dan rahangnya dengan kecupan, hanya memutuskan untuk mengusak surai ungu itu dengan sayang. "Aku membuat takut seorang Iblis Ganghak? Suatu kehormatan untukku."

"Kau membuat bertekuk lutut seorang Iblis Ganghak. Menurutku itu jauh lebih dari kehormatan."

 


 

Perkelahian ini dari awal memang sudah berat sebelah. Tak memerlukan orang cerdas untuk mengetahui hal itu.

Bahkan dengan orang-orang yang sudah berhasil dikumpulkan Pilyoung Kim, Eunjang masih kalah jumlah, dan hampir keseluruhan dari mereka berporos pada kehadiran Humin Park. Dan sekarang setelah trik busuk murahan dari Aliansi yang tidak hanya berhasil menyingkirkan Humin Park, namun juga membuat Sieun harus absen demi mencarinya, Eunjang sudah seperti bersiap menemui akhirnya.

Tapi tentu saja masih ada petarung Eunjang lain yang tak bisa diabaikan. Seongje tidak tahu sejauh mana tingkat kekuatan seorang Gayool Jin, tapi reputasinya melebihinya. Dan tentu saja, juga masih ada dia sendiri dan berandal-berandal Ganghak lain, meskipun jujur saja Seongje menemukan dirinya sudah mulai kehilangan minat sesaat setelah dia tahu kalau Sieun tidak akan turun ke perkelahian sementara ini. Hei, alasan dia bergabung dalam perkelahian hari itu ada tiga; satu untuk membalas hutang budi pada Pilyoung Kim, dua untuk menghajar wajah mengesalkan nan sombong Hakho Ji, dan tiga untuk mengagumi ritme bertarung Sieun Yeon. Bukan salahnya kalau satu dari tiga itu adalah alasan utamanya, dan harus kehilangan hal itu membuatnya juga kehilangan motivasi.

Ditambah lagi, kenapa dari tadi ada saja cecunguk-cecunguk kecil yang menantangnya berkelahi? Seongje mengeritkan geliginya. Apakah mereka semua berpikir setelah keluar dari Aliansi, seorang Seongje Geum tidak lagi sekaliber dulu dan setiap bajingan mentah punya kesempatan untuk mengalahkannya?

"Performamu menurun akhir-akhir ini ya, Seongje. Aku bisa mengerti kenapa kau akhirnya bergabung dengan para pecundang Eunjang."

Satu pukulan dari sisi kiri berhasil dihindari Seongje dengan mudah, sebelum dia berbalik badan dan berhadapan langsung dengan wajah menyeringai Jihoon Bae.

Oh. Ini berarti bahkan Gayool Jin pun sudah jatuh. Sieun takkan menyukai ini. Seongje hampir-hampir tak bisa menahan seringainya sendiri. Tapi itu juga berarti semakin besar kemungkinan Sieun akan benar-benar menjadi iblis dan membunuh semua bajingan ini.

"Aku tidak ingin mendengar itu dari anjing peliharaan Aliansi. Bagaimana rasanya terus-menerus menciumi kaki Baekjin Na dan mengharapkan bayaran setelah kalah dari orang yang kau sebut pecundang?"

Tinjuan selanjutnya hampir tak berhasil dia hindari, namun Seongje tersenyum puas saat melihat ekspresi Jihoon berubah seutuhnya menjadi kemarahan. Sejujurnya, pemuda itu mudah sekali disulut. Dia sepertinya belum juga berhasil menyadari kalau itulah kelemahan terbesarnya, yang seringkali mengantarkannya pada kekalahan. Pertarungan dengan Humin Park di Eunjang, contoh nyatanya.

"Kau itu dari dulu," Seongje seharusnya berhasil menghindari pukulan itu kalau saja dia benar-benar serius, namun rasanya malas juga bertarung dengan serius saat ini ketika tidak ada Sieun untuk menceramahinya tentang teknik dan pola yang berulang setelah perkelahian selesai. Namun Seongje cukup senang ketika menyadari Jihoon agak panik ketika cengkeramannya di kerah seragam pemuda itu tak lepas juga meski beberapa kalipun Seongje terkena tinjunya. "Tak pernah belajar, ya. Muka!"

"Berhenti mengumumkan bagian yang akan kau serang, brengsek!" Jihoon meraung marah, membuat Seongje makin melebarkan seringai. Dia selalu suka membuat kesal lawan perkelahiannya; orang-orang yang seperti itu mudah sekali untuk dikalahkan ketika mereka terlanjur terbawa emosi.

Satu tendangan berputar berhasil membuat Jihoon lepas dari cengkeramannya, dan mau tak mau Seongje mengangkat alis mengakui teknik itu.

"Aku sudah hafal cara bertarungmu, sialan." Jihoon menyeka darah di sudut bibirnya. "Tak ada lagi yang kau lakukan yang bisa mengejutkanku. Ritme kejutan dari semua seranganmu berakhir di sini, bangsat."

Jihon memukul, meninju, menendang. Namun Seongje Geum tidak dikenal sebagai zombie kalau dia gagal bangkit kembali setelah berbagai serangan bertubi-tubi itu.

"Hei," Seongje memutuskan untuk mulai serius sesaat setelah salah satu tendangan Jihoon hampir mengenai ulu hatinya. "Belum selesai juga, Jihoon?"

"Matilah!"

Seongje menangkap pukulan itu dengan mudah, memiting tangan Jihoon ke belakang punggungnya dan menyeringai lebar saat dia menjejakkan kaki ke belakang lutut Jihoon. "Proprietal lutut!" Lalu mengalungkan salah satu lengannya di leher pemuda itu dan mengeratkannya, membuat Jihoon tersedak saat jalur nafasnya tiba-tiba dihentikan. "Tenggorokan!"

"Breng—sek!"

"Aku tidak kalah dan lalu memacari seorang Ular Putih tanpa belajar satu-dua hal darinya, Jihoon. Bagaimana, keparat? Serangan ini sudah cukup mengejutkanmu?"

Setelah dia menjatuhkan Jihoon Bae yang kehilangan kesadaran ke tanah barulah dia menyadari perkelahian di sekitarnya nampaknya terjeda sejenak. Mengangkat alis, Seongje tahu dengan pasti alasannya bukanlah karena dia yang berhasil mengalahkan Jihoon Bae—setiap orang waras di Yeongdeungpo takkan memiliki keraguan kalau seseorang sepertinya pasti bisa mengalahkan cecunguk Yuseon itu. Maka hanya ada satu alasan kenapa setiap sampah Aliansi dan berandalan kawanan Eunjang memasang wajah seterkejut itu.

"Sial," Seongje mendecihkan tawa. "Ini sangat menghinakan. Kalian melihatku menjatuhkan bajingan ini tapi hal yang membuat kalian takut adalah saat aku menyebutkan Ular Putih?"

Namun Seongje tak menemukan dirinya terlalu marah karena hal itu. Malah mau tak mau dia mengukir senyum tajam. Dia tahu dia dikenal dengan banyak nama panggilan menyeramkan. Kuda Hitam. Iblis Keji. Horor Ganghak. Berbagai macam epitet yang menyebutkan kekejamannya. Tapi mau tak mau dia merasa sepercik kebanggaan saat mengetahui yang paling mengerikan dari itu semua adalah satu; kekasih Sieun Yeon si Ular Putih.

"Sieun Yeon, huh? Menarik."

Seongje dengan cepat membalik badan saat suara yang sialnya sangat familiar itu terdengar. Surai oranye Hakho Ji yang lebih terang daripada milik Jihoon Bae itu entah kenapa hari ini membuatnya lebih muak daripada biasanya.

"Aku selalu penasaran ingin bertarung dengan Ular Putih ketika dia menunjukkan wajahnya yang sebenarnya, Seongje." Hakho memulai tenang, seakan mereka sedang berbincang santai dan bukannya ada di tengah perkelahian besar-besaran. "Sepertinya Seongje Geum si Iblis Ganghak ditambah dengan teknik bertarung Ular Putih adalah hal yang akan menyerupai hal itu."

"Jangan membuatku tertawa, bajingan." Seongje meludah. "Tidak ada yang bisa menyamai Sieun."

 


 

Sieun Yeon tidak tahu kenapa semua orang terlihat jauh lebih putus asa hari ini. Perkelahian antara Eunjang dan Aliansi memang merupakan peristiwa besar, namun takkan bisa dikatakan sebagai situasi hidup dan mati. Bagaimanapun, mereka hanyalah anak SMA biasa, mau bagaimanapun mengerikannya Humin Park atau kecerdasan Baekjin Na. Setiap orang yang menyerbunya sesegera mungkin saat dia turun ke perkelahian setelah berhasil membawa Humin Park seharusnya tidak segarang ini.

Orang-orang ini dikuasai emosi. Tapi yang terbesar adalah rasa takut?

Sieun berhasil menepis satu lagi serangan dan menanamkan pukulan ke titik vital yang sudah tak terhitung berapa banyak yang dia lakukan sejak dia menjejakkan kaki ke dalam perkelahian ini. Semuanya berlangsung terlalu cepat, instingnya dengan cepat beradaptasi untuk autopilot ke dalam serang serang serang menghindar serang apa kelemahan lawan. Nama-nama besar dan wajah-wajah familiar takluk di bawah serangannya atau dia lepaskan untuk terjungkal di tanah, dan tiba-tiba saja perkelahian itu sudah selesai. Sieun bahkan tak dapat mengingat apakah dia sempat menghajar orang yang memang sangat ingin dia hajar di tengah kegilaan haus darah tadi.

Mereka semua kembali berkumpul di tempat yang disediakan Pilyoung Kim. Wajah-wajah puas dan menyeringai meski dengan perban, plester luka, ataupun baret di sana-sini. Tepukan bahu yang kelewat ramah maupun sapaan yang sok akrab seakan mereka semua sudah kenal seribu tahun lamanya dianggap wajar di bawah realisasi semua orang bahwa mereka baru saja berkelahi dengan Aliansi dan tidak mati.

Humin sendiri terlihat sangat tenang, beberapa kali membalas senyum orang-orang yang menyapanya dan menolak sodoran cola atau tawaran rokok dari beberapa yang lain. Sieun benar-benar tidak bisa membacanya kali itu. Dia tidak tahu apakah Humin benar-benar tenang karena sudah puas ataukah dia masih memendam amarah karena trik licik Aliansi.

"Kita harus menjenguk Juntae dan mengabarkan tentang hal ini," Sieun memutuskan untuk memecah keheningan. Teman-temannya—kecuali Humin—berjengit dan menoleh ke arahnya seakan mereka baru menyadari dia ada di sana, dan Juyang serta Teo bahkan memasang ekspresi wajah campuran antara segan dan kagum seperti yang dulu pernah dia terima saat mereka baru menyadari kemampuan bertarungnya. "Ada apa dengan kalian?"

"Tidak ada apa-apa, Sieun. Jangan dipikirkan!" Juyang menggeleng terlalu cepat dan antusias, yang membuat Sieun malah makin yakin kalau memang ada apa-apa. Kau benar, kita harus menengok Juntae."

"Hm? Kenapa kalian semua seakan ketakutan pada Sieun?" Humin akhirnya mengucapkan hal yang dia pikirkan. "Aku bisa mengerti kalau yang lain sedari tadi seperti itu. Aku baru benar-benar melihat Sieun bertarung dan sejujurnya aku sangat bersyukur aku tidak ada di pihak yang berseberangan dengannya. Tapi kenapa kalian juga sama takutnya?"

Juyang, Teo, dan bahkan sampai Hyuntak terlihat salah tingkah mendapat todongan pertanyaan tiba-tiba begitu. Mungkin mereka tak berpikir di antara semua, Humin yang naif dan tidak peka lah yang akan mengutarakan pertanyaan itu.

Hyuntak dengan bijak memilih untuk pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu, sementara Teo terang-terangan mengalihkan pandang agar tak bertatapan dengan Humin ataupun Sieun. Hal ini menyebabkan Juyanglah yang kemudian menjadi perhatian mereka berdua.

"Ah—aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini dan apakah aku boleh—" kalimatnya terputus saat pintu ruangan terbuka dan Seongje Geum,  Hwangmo Joo, dan kroni-kroninya dari Ganghak melangkah masuk ke dalam. Wajah mereka penuh perban dan plester luka di sana-sini, meskipun Seongje berlagak bak orang yang mengenakan semua luka itu seperti lencana penghargaan.

Kelompok kecil Eunjang itu memperhatikan kala Pilyoung Kim dan begundal-begundal sejenis seperti hendak tersandung kaki mereka sendiri untuk menyambut dan berusaha beramah-tamah pada Seongje, sebelum pemuda bersurai ungu itu mengibaskan tangannya abai dan meninggalkan kelompok itu demi melangkah ke arah mereka.

"Hei," Seongje melingkarkan lengan di bahu sempit Sieun dan menunduk untuk menanamkan kecupan di tulang pipinya. "Pertarungan yang bagus."

"Oh." Humin nampaknya mendadak paham sendiri jawaban dari pertanyaannya tadi. "Jadi kalian baru saja mengetahui ini."

"Kenapa kau terlihat tidak terkejut—kau sudah tahu sejak lama, Humin?" Hyuntak kali ini tak dapat menahan rasa penasarannya.

Humin mengendikkan bahu. "Kukira semua orang sebenarnya sudah tahu dan aku saja yang terlalu lambat menyadarinya. Bagaimana kalian bisa tahu?"

"Dia mengatakannya dengan santai di tengah pertarungan sesaat sebelum menjatuhkan Jihoon Bae," Gayool meringis. "Bahkan aku yang baru saja kembali sadar tahu kalau itu bukan sesuatu yang bisa kau terima tanpa setidaknya sedikit reaksi."

"Persetan dengan reaksi orang," Seongje mendecihkan kalimat itu sebelum menyeringai pada Sieun yang memandanginya datar. "Apa? Seharusnya aku tak melakukan hal itu?"

"Akhirnya aku mengerti kenapa semua orang berlaku seperti tadi." Sieun menghela nafas. "Kau membuatku jauh lebih pusing dari Baekjin Na."

"Suatu kehormatan," Seongje berujar santai. "Bukankah kau seharusnya menjenguk temanmu?"

"Ayo kita kabarkan ini kepada Juntae. Dia pasti ingin tahu soal hari ini." Humin berujar cepat, nampaknya sudah kembali mendapatkan semangatnya.

"Mengingat yang sedang kita bicarakan ini Juntae, seharusnya dia sudah tahu detail perkelahian hari ini lebih baik dari siapapun, melihat bagaimana sudah ada orang yang mempostingnya di shuttle patch," Juyang berujar dengan cengiran, namun dia tampaknya tidak berusaha menolak ide itu.

"Akan kubawakan cola. Makanan rumah sakit itu kan tidak enak." Teo mengamini.

Sieun menoleh ke arah Seongje, seakan menunggu reaksinya. Pemuda bersurai ungu itu hanya mengendikkan bahu.

"Temanmu tidak akan suka melihat siapapun yang ada hubungannya dengan Aliansi setelah semua kejadian itu. Kutunggu di supermarket, aku traktir makan ramyeon untuk merayakan hari ini."

"Oke." Sieun mengiyakan dengan mudah, hanya mengangguk pada Seongje sebelum dia pergi bersama teman-temannya untuk menjenguk Juntae dan Seongje kembali pada kawanan Ganghaknya untuk menyuruh mereka untuk kembali sendiri tanpa menunggunya.

Namun jika malam itu di balik gang-gang sempit Yeongdeungpo dia bermurah hati menarik Seongje untuk lebih dekat yang direspon dengan baik oleh pemuda itu, dan sama aktifnya menerima dan menunjukkan balasan atas pemujaannya pada sang Iblis Ganghak, maka tak perlu ada yang tahu selain dia dan Seongje Geum.

 


 

"Kau menakjubkan, Ular Putih. Seperti badai. Suatu kehormatan bisa bertarung bersisian denganmu, Sieun."

"Hm. Dan kurasa Iblis memang adalah sebutan yang benar-benar tepat untukmu, Seongje."