Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-18
Words:
4,243
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
379

Forbidden Love

Summary:

Lagi-lagi Kazuma harus menyadari bahwa angannya hanya dapat dalam raganya tidak dengan semesta yang mengabulkan.

Notes:

Happy Reading gais, suer ini gak angst banget kok (menurut gua si).

cuman setitik aja deh suer. Muehehehe
Happy Reading.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Suara pengumuman nama dan tujuan kereta terdengar memanggil para penumpang di stasiun Hyūga-Kutsukake. Stasiun Hyūga-Kutsukake merupakan staiun tua dan kecil dengan 2 jalur keberangkatan. Stasiun tua tentu hanya memiliki penumpang yang dapat dihitung jari ketika kereta datang. Terlebih lagi stasiun ini berada di daerah Miyazaki yang sebagian daerahnya didominasi dengan perbukitan dan pedesaan.

 

Teng…Teng...Tengteng

Lagi dan lagi suara penanda kereta datang berdendang dari sebuah speaker tua milik stasiun itu. Walau cukup terdengar namun suaranya terlihat usang dan ketinggalan zaman, setidaknya suara itu dapat terdengar oleh telinga seorang pria yang duduk gelisah di peron kereta.

Pria dengan tas ransel besar dan baju tentara hanya duduk dan tidak henti-hentinya menatap sebuah arloji yang tergantung pada saku bajunya. Kazuma Kawamura, tertulis pada bet seragam prajuritnya. Kazuma tak henti-hentinya gelisah menunggu kekasihnya datang.

Terdengar dari kejauhan suara roda kereta bertemu dengan besi rel, tentu menandakan kereta sudah mendekat. Perlahan lampu kereta mendekat menuju stasiun. Namun wajah kekasihnya tidak kunjung datang melepas kepergiannya.

 

 

“Hahhhhh.” Kazuma menelan kekecewaan, seharusnya Ia tau bahwa kekasihnya tidak akan datang setelah semalam mereka menangis dalam diam.

 

 

Kali ini Kazuma harus terbang dalam lamunannya. Lamunannya pada sebuah malam yang diakhiri dengan tangisan kekasihnya.

Kazuma merasa bersalah jika kembali terbayang wajah kekasihnya yang manis penuh dengan kekecewaan. Benar, tentu saja kekasihnya kecewa terhadap dirinya dengan pilihannya yang harus pergi hari ini.

Hokuto Yoshino, kekasih yang Kazuma cintai. Hanya Hokuto yang berada di sampingnya, merangkulnya, meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melalui semua di saat masa-masa sulit mereka. Namun pria itu menunjukkan wajah yang berbeda semalam. Hokuto menahan marah dan kecewa, Pria itu ringkih ketika Kazuma menjelaskan kepergiannya hari ini secara mendadak tadi malam.

 

 

Obrolan mengenai kepergian Kazuma yang mendadak baru Ia beritahu semalam di kamar mereka, teringat jelas oleh Kazuma, Hokuto yang saat itu sedang menyandar pada bahunya ketika mereka sudah berada di atas kasur untuk siap-siap tidur.

“Hokuto, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Huum katakanlah.” Hokuto masih menatap Kazuma dengan senyum mengembang setelah Ia menceritakan hal lucu kesehariannya di klinik sebagai seorang dokter.

“Besok aku akan pergi ke Kamagasaki.” Jujur saja Kazuma tidak bisa menatap kekasihnya saat ini. Namun ia tau kekasihnya pasti sudah menunjukkan muka kaget kepadanya.

“Kenapa mendadak sekali Zuma?” Dalam diam, Kazuma bersumpah rasanya ingin sekali ia mengatakan tidak ketika ditugaskan untuk pergi dari pada mendengar suara kekasihnya lirih seperti ini.

“Ini tidak mendadak, Letnan Riku menunjukku untuk pergi sejak minggu lalu. Namun aku tidak sanggup mengatakannya padamu dari kemarin,” ujar Kazuma tak kalah lirihnya. Tentu saja Ia juga merasa berat dengan kepergiannya ke Kamagasaki.

Akhir-akhir ini bentrok dan keributan sering terjadi di daerah Kamagasaki. Sebuah jaringan Mafia terendus mengingkari perjanjian dengan polisi, mereka terlibat dengan kasus Prostitusi kekerasan dengan Mafia Tiongkok. Perjanjian menyebutkan bahwa tidak diperbolehkan kasus Prostitusi yang melibatkan anak usia remaja namun, mafia tersebut melakukannya dengan bersekongkol oleh Mafia Tiongkok.

Bentrok dan pertumpahan darah tentu terjadi didaerah tersebut. Sebagai seorang prajurit Kazuma hanya dapat mengikuti perintah atasannya sebagai bentuk tanggung jawab dari pekerjaannya.

“Letnan Riku? Kau sendiri yang pergi?” Nada bicara Hokuto diawal terdengar kaget. Kenapa Letnan Riku malah memilih Kazuma yang hanya sebagai seorang prajurit untuk menangani kasus berat di daerah yang berbahaya.

Kazuma tentu saja tidak tau alasannya. “Letnan memintaku sendiri, karena melihat bahwa aku berpeluang untuk naik pangkat bila berkontribusi pada kasus Kamagasaki.”

 

 

Hening terjadi diantara mereka. Bahu Hokuto bergetar dalam diam, Ia tidak ingin berpisah dengan kazuma.

“Kazuma…Kita akan menikah bukan?” sesegukan kecil sedikit menahan ucapan Hokuto diawal.

“Tentu kita akan menikah.” Lagi-lagi hanya bualan yang diharapkan dapat menenangkan Hokuto.

“Bagaimana jika kamu tidak kembali?” Hokuto menatap Kazuma dengan air mata yang membasahi pipinya. Kazuma tidak bisa menangis, Ia tidak boleh terlihat lemah untuk meyakinkan Hokuto-nya.

Perlahan Kazuma menghapus air mata Hokuto, Ia berusaha tegar untuk memberikan Hokuto ketenangan. “Tentu aku akan kembali Hokuto…percayalah padaku ketika aku kembali dari sana, kusiapkan sebuah cincin berlian di jari manis mu”.

Hokuto bangkit dan duduk bersimpuh didepan Kazuma. Manik mata Hokuto masih menunjukkan sisa-sisa air mata. Perlahan kedua tangan Hokuto menangkup kedua pipi Kazuma, tangannya dingin dan gemetar. Kazuma tau Hokuto sangat takut kehilangan dirinya.

“Aku percaya padamu Zuma, Tolong pulang dengan selamat. Aku tunggu janjimu menikahiku”

 

Hokuto mempersempit jaraknya dengan Kazuma mendaratkan bibirnya dengan lembut dibibir Kazuma. Menyalurkan kegelisahannya dan ketakutannya akan kepergian Kazuma. Pada awalnya Kazuma hanya diam, kini Ia membalas ciuman Hokuto seolah-olah mengatakan ‘Pasti akan kulakukan'.

 

 

Malam itu Hokuto terus menangis. Walau dia telah katakan sabar menanti Kazuma pulang, tetap saja kepergian selalu mendatangkan kesedihan.

Hokuto sesekali melihat Kazuma yang telah tertidur pulas di sampingnya. Hokuto masih dalam posisi tidur memunggungi Kazuma, ia memandang foto mereka berdua diatas meja kecil dekat lampu tidur. Foto dengan dua orang yang tersenyum saat kelulusan dirinya menjadi dokter.

Isak tangis ditahan dalam diam, Hokuto tidak ingin tangisannya terdengar oleh kekasihnya Kazuma. Bantalnya basah dipenuhi air mata, ia tidak bisa terus memaksa matanya yang tidak kantuk untuk tetap dalam posisi tidurnya. Perlahan Ia bangun dan beranjak membuka pintu pelan-pelan agar Kazuma tidak terbangun. Dan sesegera mungkin Ia keluar meninggalkan kamar mereka.

 

 

 

Kazuma perlahan membuka matanya, Ia tidak bisa tidur. Ia hanya pura-pura tidur sambil membiarkan kekasihnya menangis dalam diam. Kazuma tidak bisa ikut menenangkan Hokuto, karena air matanya akan tumpah dan membuat dia bisa saja mengurungkan niatnya untuk pergi. Kazuma kali ini harus kuat, ia akan menjemput pujaan hatinya setelah ia lebih dari sekedar prajurit.

 

Kazuma dan Hokuto, pasangan yang tidak memiliki restu dari keluarga Hokuto. Kazuma hanya seorang anak tanpa orang tua, kini Ia memang prajurit namun, saat ini posisinya hanya menjadi budak bagi para perwira. Hanya satu yang Ia jadikan keberanian ketika memilih Hokuto sebagai kekasihnya. Sebuah kata yang sering diucapkan namun lupa maknanya, Setia.

 

Kazuma tidak akan menghianati Hokuto, hanya Hokuto yang berhak mendapatkan kesetiaannya. Namun ia tau kesetiaannya tidak akan membawa perubahan bagi restu hubungan mereka. Hokuto memiliki masa depan cerah sebagai dokter, Ia pandai dan rupawan. Seorang Hokuto mau menerima Kazuma dengan segala kekurangannya, ia tidak tau apakah akan menemukan orang lain kembali selain Hokuto di hidupnya.

 

Tapi kali ini kesempatan datang padanya, memintanya untuk layak ke tahap yang dapat membuatnya bersanding dengan Hokuto. Tidak akan Ia lewatkan, Ia yakin bisa melewatinya dan akan bertemu kembali dengan kekasihnya.

 

Kazuma terbangun dari tidur nya setelah ia baru bisa tertidur pukul empat pagi. Kazuma mengedarkan penglihatannya mencari sosok kekasihnya. Kosong, hanya dirinya yang tertidur di kasur mereka. Segera Ia bangun dan mencarinya ke seisi rumah yang kecil itu, hasilnya nihil. Hokuto tidak ada dimanapun.

 

Secarik kertas berwarna pink di atas meja menarik perhatian Kazuma. 

 

Aku sedang berdoa untukmu di Gereja.

Namun jangan pernah kau menyusulku kesini.

Kumohon biarkan aku sendiri disini.

Aku akan mengantarmu pukul 6 sore di stasiun Hyūga-Kutsukake.

Hati-hati di jalan Zuma.

 

Sayang dan cintaku untukmu

-Hokuto-

 

 

Lamunan Kazuma berhenti pada saat keretanya memasuki peron. Surat berwarna pink tetap dalam genggamannya. Apakah benar kekasihnya tidak datang juga?.

Dengan Langkah berat, perlahan ia memasuki kereta dan menduduki bangkunya, menatap keluar jendela masih berharap akan janji kekasihnya.

 

Kereta perlahan berjalan bergerak meninggalkan stasiun Hyūga-Kutsukake.

 

 

tuhan menghendaki doa Kazuma, terlihat seseorang berlari dan berteriak mengejar kereta. Senyum Kazuma mengembang, itu kekasihnya Hokuto.

Hokuto terlihat berteriak memanggil Kazuma, tidak peduli apakah suaranya terdengar oleh Kazuma atau tidak. Namun Kazuma mengetahui bahwa ia harus selamat dan kembali membawa kebanggaan untuk kekasihnya yang menunggu.

 


Tiga bulan kepergian Kazuma. Rasanya hampa dan menyesakkan bagi Hokuto. Pagi tadi sebuah koran datang untuknya membawa sebuah kabar buruk. Bentrok di Kamagasaki tidak kunjung usai. Beberapa daftar nama aparat menjadi daftar paling banyak yang wafat dalam bentrok tersebut. Namun matanya memanas dan tidak henti menangis ketika sebuah nama terdaftar disana. Nama kekasihnya Kazuma Kawamura, menjadi topik utama kematian prajurit dengan gelar pemberontak.

 

 

Kazumanya tidak akan mungkin melakukan pemberontakan, Hokuto sangat yakin itu. Tertulis dalam berita bahwa Kazuma melakukan penembakan kepada seorang ketua mafia tanpa adanya komando dari perwira, dan kini Kazuma dinyatakan mati dengan gelar pemberontak.

Dunia Hokuto hancur, Ia tidak percaya semua ini terjadi pada Kazumanya.

 

 

Menurut Letnan Riku, sebagai teman Hokuto dan Kazuma. Ia turut andil bertanggung jawab atas kepergian Kazuma. Ketika Kazuma dinyatakan wafat dalam bentrok, Riku tidak dapat membantu Kazuma dari akibat yang Kazuma timbulkan.

Kesedihan menenggelamkan Hokuto dalam kehidupannya, Rasanya dunianya berhenti ketika dirinya tidak sampai hati untuk mengucapkan kata perpisahan yang layak ketika mengantar Kazuma pergi.

Perlahan kondisi Hokuto sangat memprihatinkan. Berat badannya banyak berkurang, kantung mata dengan rambut panjang menghiasi rupa tampannya. Hokuto menjadi mayat hidup. Riku sebagai teman mereka mencoba menghibur Hokuto dengan terus mengunjunginya.

Kematian Kazuma sangat berbekas pada Hokuto namun, Hokuto apakah tidak melihat usaha Riku yang selama ini berusaha membuat hatinya iklas akan kepergian Kazuma?. Tidak, tentu itu membutuhkan waktu bagi Hokuto.

 

 

dua bulan, tiga bulan, dan enam bulan berlalu. Kondisi Hokuto perlahan membaik. Ia tidak terlalu sedih seperti sebelumnya. Keluarga Hokuto sangat berterimakasih kepada Riku yang sangat baik menjaga Hokuto. Pria berpangkat Letnan dengan karir gemilang, membuatnya sangat disanjung oleh keluarga Hokuto.

 

“Hokuto, Ibu rasa Letnan sangat baik dan bisa menjagamu,” ucap ibu Hokuto pada pembicaraannya dengan Hokuto di suatu malam.

“Ya, Letnan tentu sangat baik, karena kami sudah saling mengenal sejak lama.”

“Ku harap dia menjadi bagian dari keluarga kita Hokuto,” ucap ibu Hokuto dengan serius. Jika Hokuto saat ini sedang minum mungkin saja minuman itu akan menyembur kencang dari mulutnya.

“Ibu, berhenti menyanjungnya. Kami hanya sebatas teman,”

“Ibumu dan Ayahmu juga awalnya berteman, perasaan akan mudah lahir melalui pertemanan.”

 

Hokuto tidak mengiyakan jawaban ibunya, Ia hanya diam.

“Hokuto…kamu maukan menikah dengan Riku?” kini sebuah usapan pada punggung tangan Hokuto ia dapatkan dari ibunya. Ibunya menatapnya dalam penuh harap.

“…Aku tidak tau akan menikah dengan siapa selain Kazuma ibu.” Hokuto putus asa, cintanya hanya untuk Kazuma. Namun kini Kazuma telah hilang dan datang kembali ke tanah.

 

Ibu Hokuto berwajah sendu, anaknya masih berharap dengan prajurit yang tidak ia restui itu. “Hokuto…orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali, kamu harus lanjutkan hidupmu. Menikahlah dengan Riku.”

Hokuto terkaget dan segera melepaskan genggaman ibunya. “Ini terlalu cepat ibu, aku tidak bisa membuat Riku menjadi pelampiasanku”.

“Riku memberikanmu cinta dan kasih sayang. Kamu akan menerima dia ketika bersama, jangan tolak cintanya seperti itu,” ujar ibunya yang kini semakin menatap dalam pada manik mata Hokuto.

“aku akan berfikir itu nanti” ucap Hokuto seraya beranjak dan meninggalkan ibunya.

 

Ibunya tidak salah, Riku sangat menyayanginya. Riku berpangkat tinggi, berkepribadian sopan, dan beretika baik. Ia sosok sempurna yang dapat menerima kesempurnaan Hokuto.

 


 

Setaun telah berlalu sejak Kazuma dinyatakan wafat. Dengan likak-likuk harapan dan usaha ibunya, Hokuto pada akhirnya terpaksa menerima lamaran Riku. Pernikahan mereka berjalan harmonis, Hokuto penurut dan Riku sangat sopan kepada Hokuto. Tidak ada yang dikeluhkan Hokuto pada awal pernikahannya.

 

Mungkin Hokuto bahagia.

 

 

“Hokuto-san, sepertinya pasien anda hari ini sudah habis,” ujar asisten Hokuto.

Tiga tahun berlalu cepat, kini klinik Hokuto berkembang menjadi Rumah sakit menengah di desanya. Tidak besar namun cukup membantu kebutuhan kesehatan desanya.

Hokuto menatap asistennya di balik kacamata bulatnya. “Baiklah, kamu boleh pulang”.

“Terimakasih pak,” ucap Asistennya seraya menunduk dan melenggang pergi meninggalkan Hokuto di ruangannya.

 

Hari ini ulang tahun pernikahan Hokuto dan Riku, Hokuto harus menyiapkan sesuatu hari ini untuk Riku. Suaminya kini telah menjadi Jendral, membuat mereka menjadi jarang bertemu akhir-akhir ini. Riku mengabarinya kemarin bahwa ia akan pulang pada hari pernikahan mereka, rasanya Hokuto menjadi tidak sabar untuk melihat suaminya yang tidak pulang selama kurang lebih dua bulan itu.

 

Tok..Tok..Tok

Tiga ketukan pintu memecah lamunan Hokuto. Bukankah asistennya telah pulang tadi? Lalu siapa yang datang sekarang?.

 

“Silahkan masuk” ucap Hokuto.

Sepuluh detik berlalu namun, tidak ada yang kunjung masuk.

 

Tok..Tok..Tok

Lagi-lagi suara pintu terketuk. Hokuto tidak memberikan jawaban lagi, kini Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

 

Pintu terbuka dan menampilkan Seorang pria dengan senyum mengembang seraya melebarkan tangannya menunggu pelukan. Ekspresi yang berbanding terbalik dengan Hokuto, Ia kaget nyaris tidak bisa bernafas.

 

“Bagaimana bisa…” gumam Hokuto.

Hokuto tidak bisa menopang tubuhnya, kini tubuhnya limbung dan siap terjatuh ketanah. “Kazuma, mengapa kau disini…”. Tubuh Hokuto tidak jadi jatuh, Kazuma menangkapnya kedalam pelukan.

 

Hokuto tidak mempercayai penglihatannya dan rasa hangat pelukan ini, kepalanya pusing dan nafasnya memburu. Perasaannya senang dan takut.

“Hokuto, aku rindu pada mu….” Kazuma mengeratkan pelukannya, seakan-akan Hokuto akan pergi darinya.

Hokuto segera melepaskan dirinya dari pelukan Kazuma, beralih memegang kedua pipi Kazuma yang kini terdapat bekas luka memajang vertical di pipi kanannya.

 

 

Benar, Ini Kazumanya,

Kazuma yang selalu dia nanti kepulangannya.

Kazuma yang selalu dia nanti kehadiarannya.

Kazuma yang selalu dia tidak percayai kematiannya.

Ini Kazuma kekasihnya.

 

 

Lamunan Hokuto terhenti. “Hokuto, kamu semakin keren saja. Kamu memiliki rumah sakit sekarang.” Kazuma menatap Hokuto dengan perasaan hangat. Ia senang Hokutonya baik baik saja.

“Kazuma…dari mana saja kamu,” tanya Hokuto yang kini satu persatu air matanya sudah turun ke pipinya. Kazuma tidak menjawab, dia hanya tersenyum melihat Hokuto.

 

Kazuma membalas pegangan Hokuto pada pipinya. Namun indra perabaannya menangkap sebuah benda yang melingkar pada jemari kekasihnya. Buru-buru Ia lihat jemari Hokuto. Kini bola matanya menatap Hokuto dengan tidak percaya.

 

“Cincin apa ini?” lirih Kazuma dengan nada kecewa pada ucapannya.

Hokuto tersadar lalu bagaimana caranya Ia menjelaskan pada Kazuma bahwa dia telah menikah dengan Riku?.

Kini keheningan menyelimuti ruangan kerja Hokuto. Kazuma dan Hokuto sama-sama larut dalam pikiran kalut.

 

“Hokuto jawab aku.” Hokuto tidak sanggup menatap kekasihnya, Ia hanya membuang tatapannya menghindari tatapan Kazuma.

“Hokuto…kita janji akan menikah…” ucap Kazuma lirih menatap datar cincin di jemari kekasihnya.

“Aku tau itu….”

“LALU, MENGAPA KAU MENIKAH SELAIN DENGANKU?!” Amarah Kazuma meledak. Ia kecewa setelah selama ini Ia bertahan, kini dihadapkan pada kekecewaan terhadap kekasihnya.

“A-AKU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA ZUMA, INI BUKAN KEHENDAKKU!”

“LALU DENGAN SIAPA KAU MENIKAH?!”

 

 

Dada Hokuto berdetak tak karuan, rasanya air matanya akan turun kembali. Mengapa rasanya kelu mengucapkan kenyataan dihadapan Kazuma.

“Riku-san,” cicit Hokuto.

 

Kazuma terdiam. pikirannya kosong sedang menerjemahkan apa yang telah terjadi. Rasanya hatinya dihajar habisa-habisan dengan kenyataan dihadapannya.

“Letnan Riku? Sejak kapan?” Kazuma terduduk, Ia membiarkan Hokuto berdiri terdiam.

“Tiga Tahun yang lalu.”

“Mengapa Hokuto? Setelah apa yang telah kita lewati…Ternyata kamu memilih seseorang yang menjebakku?!”

Kazuma marah namun, nadanya tidak tinggi seperti tadi. Matanya memerah dan rahangnya mengeras.

Hokuto menatap Kazuma tidak percaya. Apa yang telah dikatakan Kazuma?. Siapa yang menjebak Kazuma?.

“Hokuto…aku tidak berbohong. dengarkan ceritaku dan tatap mataku, Kamu akan menemukan bahwa aku tidak membohongimu” Selanjutnya Kazuma menceritakan bagaimana dirinya selama ini.

 

 

Kazuma yang telah ditempatkan di daerah Kamagasaki sedang menjalankan tugasnya sebagai prajurit. Suatu hari bentrokan mafia dengan aparat menjadi besar dari hari-hari sebelumnya. Keadaan lebih runyam, pihak aparat banyak sekali tumbang begitu pula dengan pihak lawan. Kondisi tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Kedua belah pihak harus menyelamatkan dirinya. Begitupun dengan Kazuma, beberapa kali terpojok. Pipinya terluka panjang, tangan dan bahunya sudah mendapat dua tembakan. Kondisinya semaput.

 

“Kazuma!” Sebuah suara memanggil Kazuma. Terlihat Letnan Riku sedang mengendarai mobil Jeep memberhentikan diri untuk membantu Kazuma.

“Ayo masuk!”

 

Kazuma merasa tertolong dengan bantuan Letnan Riku, Ia tak menyangka akan mendapatkan bantuan ditengah rasa sakitnya.

“Terimakasih Letnan, telah memberikan tumpangan”

“Tidak masalah, ngomong-ngomong ada apa dengan kondisi bentrok tadi? Kenapa bentroknya sangat hebat hari ini?” Letnan Riku terus memacu mobilnya menjauhi daerah bentrokkan. Kini mobil yang dikendarainya telah memasuki gang-gang gelap untuk menghindari kejaran mobil para mafia.

“Aku sedang berada di post 2, aku tidak mengetahui jelas namun pada saat itu terdengar peluru di lepaskan dan menumbangkan seseorang petinggi mafia tiongkok. Keadaan menjadi berantakan, Namun pelaku penembakan menghilang begitu saja…Arg–ghh” Kazuma tidak bisa melanjutkan ceritanya, lukanya sakit sekali dan pandangannya memudar.

“Kazuma! Kau tidak apa-apa?’ Riku masih memfokuskan dirinya mengendarai mobilnya, Ia hanya melirik sekilas Kazuma yang merintih.

“Aku tidak apa-apa.”

Kazuma merobek lengan bajunya, membebat dan menghentikan pendarahannya pada luka tembak di bahu dan lengannya. Kazuma semaput namun, setidaknya kesadarannya masih baik hingga saat ini.

 

“Kazuma aku minta maaf telah merekomendasikanmu untuk menangani kasus ini bersama.”

“Tidak apa, ini pilihanku sendiri Letnan.” Tidak ada yang perlu Kazuma sesali, Toh ini memang pilihannya menyanggupi tugas barunya.

 

“Bagaimana jika Hokuto mengetahui kondisimu?”

“Aku akan pulang selamat, dan menikah dengannya”

“Menikah?” sekarang pandangan Riku terfokus pada Kazuma. Riku menghentikan mobil tiba-tiba dalam sebuah gang.

“Letnan, sepertinya ini sudah aman. Sebaiknya kita ke barak saja,” usul Kazuma yang sudah merintih menahan rasa sakitnya.

Riku tidak mengubris usulan Kazuma, dia hanya menatap kosong kemudi.

 

“Kazuma dengarkan, kita tidak akan kembali hingga bentrokan ini selesai. Dan disini kita mempertaruhkan nyawa untuk mempertaruhkan mimpi kita. Aku akan menjadi jendral atau kau bisa saja menjadi kopral….”

“Tapi kau tau Kazuma, kita tidak akan berhasil mendapatkan mimpi kita bila bentrok ini membaik tanpa ada tindakan yang dapat kita tangani…”

 

Kazuma tidak memahami kemana obrolan Letnannya ini. Ia hanya menyimak dan menahan sakit.

“Kau tau ini?” Letnan Riku memperlihatkan sebuah pistol revolver kaliber 38.

“Timah panas dari sinilah yang bersarang dalam dada mafia tiongkok itu.”

 

 

Kazuma tidak mempercayai pendengarannya, Ia menatap tidak percaya kepada letnannya. Mengapa Letnannya melakukan hal seperti itu ketika suasana bentrokkan sudah lebih baik dari sebelumnya.

“Kenapa kau lakukan itu?” Kazuma menatap waswas Letnannya. Kini rasa sakitnya menjadi amarah. Jika bentrokan selesai tentu saja Ia bisa menemui Hokuto lebih cepat. Kini suasana menjadi lebih buruk dan dirinya terluka.

 

“KITA TIDAK AKAN NAIK PANGKAT BILA TIDAK BERGERAK KAZUMA! KAU HARUS TAU JUGA KITA TENTARA DARI DAERAH SELATAN YANG TIDAK TERLIHAT KEBERADAANNYA! KAU HARUS MENCIPTAKAN KESEMPATAN!” Riku kalap, Ia frustasi.

 

Bughh

Sebuah bogem mentah kini mendarat di pipi Riku, tentu saja akibat perbuatan Kazuma. “KAMU SADAR TIDAK KITA TELAH BERTEMAN SELAMA INI, JIKA SEPERTI INI KAMU AKAN TERTANGKAP!”

Kazuma menggenggam kedua kerah Riku, Kenapa temannya ini sangat gegabah dengan pilihannya.

 

“Tidak Kazuma, Aku tidak akan tertangkap.” ucap Riku menyungging miring dari bibirnya yang berdarah akibat pukulan Kazuma.

“Kamu yang akan menggantikan ku tertangkap”

Kini kondisi berbalik, Riku mencekik Kazuma tentu dari segi kekuatan jelas saja Riku akan memenangkan pertengkaran mereka.

Kazuma kehabisan nafas dan darahnya semakin banyak keluar. Ia tidak tau bagaimana nasipnya karena perlahan Ia tidak sadarkan diri.

 

Setelah memastikan Kazuma pingsan, Riku menembakkan pistol kearah langit sebagai tanda keberadaan dirinya. Sekarang Ia berjalan meninggalkan Kazuma yang menggantikannya tertangkap oleh para mafia tiongkok.

 

 

Sebulan telah berlalu. bentrok telah berakhir, Kazuma telah ditangkap sebagai tersangka pemecah bentrok besar antara aparat dengan kelompok mafia.

Ini sudah harus menjadi bagian dari kehidupan Kazuma sebagai tahanan mafia, pihak Mafia tidak mengizinkan Kazuma untuk mati. Ketua mafia mereka tidak mati namun, Kazuma tetap harus menanggung akibat yang bukan dia sebabkan.

 

Kazuma dianggap mati, koran merilis kabar kematian itu pada judul berita penyebab pemberontakan besar di Kamagasaki.

Riku benar, kini Ia telah naik pangkat setelah menyerahkan Kazuma sebagai tersangka utama bentrok kepada mafia. Akhir yang indah untuk Riku dan akhir yang buruk untuk Kazuma.

 

Kazuma menghilang, tidak terdengar namanya ketika di nyatakan terbunuh. Ia harus menanggung semua kesalahan. Tiga bulan pertama ditahan kelompok mafia, Ia dijadikan petarung illegal untuk latihan para anggota mafia.

 

Terluka - Hampir mati - Diobati - Terluka - Hampir mati - Diobati.

Menjadi kegiatan rutin bagi Kazuma. Rasanya dia tidak akan sanggup dan berharap mati bila tidak mengingat wajah kekasihnya yang menunggu kepulangan dirinya. Hokuto dengan senyuman dan pelukan hangatnya.

 

Kazuma harus bertahan.

Harapan Kazuma telah membantunya. Sebuah pertandingan tinju Ia menangkan ketika melawan salah satu petinggi mafia tersebut. Kazuma menjadi bagian dari mafia, setidaknya dengan cara inilah Kazuma dapat bertahan hidup.

 

Sebuah cerita perjalanan panjang Kazuma telah berlalu. Kini disinilah Ia, di stasiun Hyūga-Kutsukake. Stasiun yang melepas kepergian dirinya dan memisahkan dirinya dengan kekasihnya Hokuto.

Bagaimana rupa Hokuto sekarang, apakah kekasihnya akan memeluknya dan memberikan ciumannya ketika mereka bertemu kembali?.

 

Namun lagi-lagi Kazuma harus menelan fakta bahwa kekasihnya telah menikah dengan pria yang telah menjebaknya.

 


 

Kini disinilah mereka, sepasang kekasih yang tenggelam dalam lamunan masing-masing. Suasana ruangan tempat kerja Hokuto terasa berat. Pertemuan yang berat setelah sekian lama tidak berjumpa.

 

Pundak Hokuto bergetar, Ia menangis tidak tau harus bagaimana. Ia tidak mempercayai apa yang diceritakan Kazuma namun, Ia tau Kazuma tidak pernah berbohong kepadanya.

 

Kazuma merengkuh Hokuto dalam pelukannya, menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Hokuto. Bagaimanapun semua sudah terjadi lalu mereka harus bagaimana?.

 

“Hokuto, ikutlah pergi bersamaku.”

“Aku tidak bisa Kazuma, aku sudah menikah,” lirih Hokuto

Kazuma menenggenggam Bahu Hokuto, tidak mempercayai pendengerannya bahwa Hokuto masih memilih pria itu dibandingkan dirinya.

“HOKUTO! RIKU TELAH MENJEBAK KITA, IA MELEMPARKU SEBAGAI UMPAN LALU MENGAMBIL PERMATAKU DISINI! KENAPA KAU MASIH MAU BERADA DIDEKATNYA?!”

“DIAM KAZUMA, BIARKAN AKU PERGI UNTUK MENCARI KEBENARANNYA!”

Hokuto melepaskan genggaman Kazuma kasar, Ia tidak bisa terus terus bertemu Kazuma. Ia harus bertanya langsung kepada Riku.

 

 

 

Disinilah Hokuto, berdiri diambang pintu rumahnya dengan Riku. Suaminya yang berusaha Ia cintai. Sedang memegang tongkat golf dan menghancurkan seisi rumah. Hokuto berdiri mematung tidak mempercayai kerusuhan yang disebabkan suaminya.

Kini terdengar suara bentakan suaminya dengan seseorang. “SEKALI LAGI KAU BILANG KAZUMA TELAH KEMBALI KE DESA KUBUAT PATAH LEHERMU!. KAZUMA SUDAH MATI DAN AKU YANG MEMASTIKAN KEMATIANNYA DITANGAN MAFIA! JADI DIAM DAN JANGAN MEMBICARAKAN KAZUMA!”. Terdengar susulan suara barang di banting. Hokuto tidak berani memasuki rumah, Ia tidak siap menghadapi Riku.

 

Kenapa pula suaminya yang lembut tiba-tiba menghancurkan rumah seperti ini. Kecurigaan Hokuto bertambah setelah Riku menyebutkan nama Kazuma, apakah benar suaminya menjebak kekasihnya?.

 

Kepala Hokuto berputar-putar. Ia tidak mempercayai Riku. Ia tidak akan bersama Riku lagi.

Hokuto berlari meninggalkan rumahnya. Menangis berlari tidak tentu arah asal tidak bertemu Riku. Sampailah Hokuto didepan rumahnya dengan Kazuma, salah satu properti miliknya yang tidak pernah Ia jual.

Hokuto membuka pagar dan memasuki rumah itu, rumah yang bersih karena setiap minggunya ia akan mampir untuk menatap kenangannya dengan Kazuma. Hokuto tidak pernah mencintai yang lain, tidak dengan Riku juga. Hokuto hanya memberikan cintanya kepada Kazuma.

Ketika Ia rindu, Ia akan tertidur di rumahnya dengan Kazuma. Kini, lampu dalam rumah tersebut menyala temaram. Hokuto membuka pintu rumah yang tidak terkunci, kunci hanya dimiliki Ia dan Kazuma. Apakah Kazuma disini?.

 

Hokuto benar, Kazuma disana menatap foto kebersamaan mereka di dekat lampu tidur. Hokuto segera membaurkan dirinya memeluk Kazuma dari belakang. Kazuma tersentak kaget namun, ia lega Hokuto masih mencintainya melalui pelukan itu.

“Kazuma, bawa aku bersamamu.” Hokuto menenggelamkan mukanya di punggung Kazuma, ia rindu dan tidak ingin kehilangan kekasihnya.

Kazuma membalikkan badannya, Ia menatap kekasihnya dalam. Kekasihnya, cintanya, dan harapannya. Hokuto kembali kepada dirinya.

“Tentu sayangku.” Balas Kazuma memeluk Hokuto erat.

 


 

Kazuma dan Hokuto memulai hidup barunya. Lima bulan sudah mereka bersama. Kini mereka hidup di sebuah daerah Kumamoto, sebuah desa asri dengan padang ilalang membentang berlatar Gunung Aso.

Hokuto tetap menjadi Dokter disana, yang berbeda kini ada Kazuma disampingnya. Mereka Bahagia. Hokuto bernafas lega selalu menemukan Kazuma disampingnya ketika bangun tidur dan menatap lamat Kazuma ketika akan tidur. Lagi-lagi mereka bahagia.

 

Mereka melupakan kampungnya, Miyazaki hanya menjadi kenangan. Mereka tidak akan kembali lagi kesana, tidak menemui Riku atau ibu Hokuto. Membuka lembaran baru bersama Kazuma, Hokuto hanya ingin Kazuma.

 

“Kazuma, hari ini aku akan pulang malam.” Terlihat Hokuto yang sedang siap-siap menggunakan sepatunya.

“Berikan aku kecupanmu, aku akan memperbolehkanmu.”Ini adalah obrolan mereka setiap pagi, Hokuto akan dengan senang hati mencium Kazuma.

 

Kazuma memutuskan berhenti menjadi mafia, Ia sudi menjadi buron bila dapat bersama Hokuto. Namun Kazuma tidak tau bahwa kondisi mereka saat ini hanya tinggal menunggu bom waktu untuk meledakkan dirinya.

 

 

 

Obrolan, cerita, dan perjalan mereka terhenti pada malam itu.

 

Semua angan yang telah kembali, berharap ukiran cinta kembali abadi. Takdir berkata lain bagi sang pengharap. Kenyataan meluluh lantakkan angan menampar pengharap dengan keji.

 

Hokuto menatap tidak percaya kepada rumahnya. Rumahnya dengan Kazuma, asap membumbung tinggi mencapai bentangan langit. Api membakar rumahnya, lalu kemana Kazuma?.

 

Hokuto berlari memasuki rumah, Pintu dan langit-langit perlahan jatuh hampir menimpa dirinya. Hokuto kesulitan mengedarkan pandangan akibat asap yang memenuhi seisi rumah.

 

Disanalah Kazuma, terbaring dengan kepala bersimbah darah. Kazuma tergeletak tidak jauh dari kasur mereka. Hokuto bergerak maju namun, Kazuma menghentikan langkah Hokuto dengan pergerakkan tangannya.

“Hokuto pergi dari sini, cepat!” Kazuma tidak banyak dapat mengeluarkan suara Ia hanya bisa mengeluarkan suara semampunya. Belum selesai Hokuto menerjemahkan larangan Kazuma, Ia melihat seseorang yang Ia kenal perlahan bangkit tak jauh dari Kazuma.

 

 

Riku! Pria itu masih mengejarnya!.

Hokuto membeku. Riku perlahan bangkit dengan kepala berlumuran darah terlihat memegang sebuah pistol laras pendek

“HOKUTO, KENAPA KAMU PERGI?! AKU TELAH MENUNGGUMU DIMALAM PERNIKAHAN KITA YANG KETIGA NAMUN, KAMU TIDAK DATANG?! APA YANG MEMBUAT DIRIMU MEMILIHNYA!!” Riku mengamuk, Ia mengacungkan pistol ke arah Hokuto.

 

 

Hokuto tidak bisa bergerak, Ia hanya menatap Kazuma dan Riku bergantian. Kini Api mulai membakar pintu kamar, Hokuto harus segera membawa Kazuma pergi dari sini. Hanya itu yang Ia pikirkan.

Hingga ekor matanya menatap sebuah Pistol Revolver tergeletak di lantai tidak jauh dari kakinya. Belum sampai Hokuto mencoba mengambilnya, Riku sudah melepaskan sebuah tembakan ke sisi kanan Hokuto. Nyaris terkena, kini Kazuma langsung sadar dan berdiri melindungi Hokuto.

 

Riku semakin mengamuk, Ia melepaskan tembakan kedua. Semua sangat cepat sekaligus melambat bagi Hokuto. Melambat karena Kazuma yang masih bisa menatap Hokuto dengan setitik air mata yang jarang sekali Hokuto lihat namun, secepat itu ketika peluru mengenai dada kiri Kazuma.

Semua terjadi bergitu saja, Kazuma terjatuh tidak sadarkan diri. Hokuto yang sudah tidak karuan langsung mengambil pistol revolver yang tergeletak itu. Ia menembakkan lima peluru langsung kepada Riku dengan tiga peluru yang mengenai badan berserta jantungnya.

 

Riku terdiam menatap panik dan tidak percaya kepada Hokuto. Ia terjatuh membentur lantai tidak ada tanda tanda ia akan bangun kembali karena kini semesta juga mengirimkan kepergiannya.

 

 

 

Semua telah selesai. Api perlahan dan pasti membakar seisi rumah tersebut. Hokuto tidak ada niatan beranjak dari sana. Ia masih menatap wajah kekasihnya yang kini sudah dingin dan tidak bernafas.

 

Bagaimana bisa semua menjadi seperti ini, ketika mereka baru bersama dan kini berpisah kembali.

 

Hokuto menatap cintanya Kazuma, kekasihnya sekarang telah tenang disana. Perlahan Hokuto genggam kedua pipi dingin Kazuma. Ia lekatkan bibirnya dengan bibir dingin itu. Tidak ada balasan, tentu saja kekasihnya kini sudah menjadi mayat.

 

Isak tangis perlahan terdengar, bahu Hokuto bergetar.

 

 

Selamat tinggal Kazuma, Selamat tinggal kekasih tersayangnya.

Notes:

bener kan gak angst banget.

tengkyu sudah membaca.