Actions

Work Header

Because I Love You

Summary:

Ada yang bilang untuk jangan terlalu membenci orang lain, nanti malah suka. Kalau sudah suka, mau gak mau harus jujur, 'kan? Tetapi, Kana jadi panik saat mendengar jawaban ...

"Iya, gue juga suka sama lo."

Notes:

Disclaimer:
This story is cross posting from my old works (in 2021) for others fandom and have been revised on some parts.
Just written for entertainment purposes because I am not taking any profit and all character belongs to Aka Akasaka and Mengo Yokoyari (Writer and Illustrator of Oshi No Ko).
Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



Part I. Sial … Sial … Sial ….

ORANG tuaku pernah bilang bahwasanya di dunia ini hanya ada dua tipe dari manusia; yang rajin berusaha dan juga yang beruntung. Tapi, kayaknya aku gak masuk deh dalam dua tipe itu. Entah orang tuaku yang salah mengkategorikan sesuatu atau memang takdir hidupku yang gak cocok dimasukkan dalam kategori apa pun.

Sial. Entah kenapa kata itu terus saja mengekori keseharianku. Selalu, selalu saja begitu. Kemarin sepatuku tersiram jus mangga milik Yuki, kemarinnya lagi Melt menyenggol bekal makan siangku hingga jatuh semua ke lantai; dan sekarang? Arghhh rasanya aku frustrasi. Apa-apaan ini … masa aku harus membersihkan toilet? Huh, menggelikan! Bersihin toilet di apartemen aja kadang dibantu sama ibu saat sedang berkunjung (huhu maafkan aku ibu). Tapi, sumpah ini hukuman tuh keterlaluan gak, sih? Siswa ke sekolah kan untuk belajar, gimana deh, ih?!

Menyebalkan! Ya, menyebalkan sebab hari ini aku jadi harus membersihkan toilet karena terlambat datang ke sekolah. Kesal! Ini semua gara-gara tetangga baru sialan itu! Ngapain sih dia sampai tengah malam masih berisik jedag-jedug dengan segala perkakas? Ganggu banget sumpah. Alhasil, aku juga gak bisa konsen belajar buat ulangan biologi dan bangun kesiangan. Duh … udah ah, lebih baik aku cepat kembali ke kelas, udah ketinggalan jam pelajaran pertama dan kedua juga nih. Bodoh amatlah ini hukuman! Yang penting udah aku pel semua lantai luarnya!

Selesai menyimpan lap pel dan juga ember di bilik janitor; aku segera mencuci tangan, mencuci muka, mengelap muka dengan sapu tangan dari saku, lalu merapikan kembali seragam dan juga rambutku. Ah, sempurna. Sekarang saatnya ke kelas, ugh ... Biology I’m coming!

Aku hanya perlu kurang dari dua menit untuk berjalan ke arah kelas dan juga memilih masuk dari pintu belakang. Setelah membuka pintu, aku pun menutupnya lagi dan segera saja aku menghampiri tempat dudukku. Gorou-sensei juga sudah hadir di sana. Beliau tengah sibuk menghubungkan kabel proyektor ke laptopnya.

“Sudah siap untuk ulangan hari ini?” tanya Gorou-sensei kepada seluruh siswa.

Kelas pun mulai berisik dengan teriakan, “Belum, Sensei”; “Tunda aja dong Sensei ulangannya”; “Sensei jangan ulangan dong”; dan sebagainya.

Gorou-sensei pun hanya tersenyum menanggapi keluhan dari para siswa kelas 12-A. Sedangkan aku? Pasrah aja deh. Tenaga udah habis terkuras untuk bersihin toilet, harus re-charge dulu buat minta pertanggungjawaban dari si tetangga baru sore nanti.

Ssstt! Jangan berisik! Tenang … ulangannya gak susah, kok. Dua minggu yang lalu kita udah belajar tentang persilangan monohibrid dan dihibrid, ‘kan? Seminggu yang lalu juga kita udah belajar tentang penyimpangan semu dari Hukum Mendelnya. Nah, minggu ini ulangannya gak jauh-jauh dari teori itu kok,” ucap Gorou-sensei diakhiri dengan senyuman.

Para siswa mulai mengeluh lagi, tapi mereka mau tidak mau tetap menyalakan komputer di meja masing-masing.

Ulangan atau ujian di sekolahku selalu dilakukan secara online melalui jaringan intranet sekolah. Jadi, kami tidak pernah melakukannya secara tertulis atau manual kecuali untuk pelajaran seni dan olahraga. Semua soal selalu berbentuk pilihan ganda. Jika materi yang diujikan memerlukan hitungan, maka guru akan memberikan kertas buram sebagai media menghitung.

Meskipun ulangan atau ujian ini terkomputerisasi, tetap saja segalanya dibatasi, kami tidak bisa mengakses aplikasi apa pun termasuk mengunjungi sembarang situs dengan komputer-komputer ini, hanya website sekolah saja yang bisa dibuka.

“Komputer kalian udah nyala semua, ‘kan? Udah pada Log In dengan id-nya juga? Kalau udah, sekarang buku catatan dan buku paket biologinya oper ke depan ya, nanti yang duduk paling depan tolong simpan di atas meja saya, ditumpuk aja,” ujar Gorou-sensei sambil membagikan kertas buram ke tiap meja siswa.

“Iya, Sensei,” jawab siswa serentak.

Setelah semua buku ditumpuk di atas meja guru dan setiap siswa sudah memperoleh kertas buram, Gorou-sensei pun memberi wejangan kembali.

“Ngerjain ulangannya gak usah buru-buru. Harus teliti, jangan terjebak. Soalnya cuma 10 dan waktu pengerjaannya 30 menit, dan 30 menit selanjutnya kita akan review. Itu di depan udah saya tampilkan juga penghitung waktunya, ya. Lalu seperti biasa, nanti hasil ujiannya akan muncul di monitor kalian masing-masing dan yang nilainya di bawah 70 berarti harus mengerjakan tugas tambahan. Paham?”

“Paham, Sensei,” jawab siswa kembali serentak.

“Oke, waktunya dimulai dari sekarang. Good luck! Jangan nyontek ya, malu sama yang ngawasin CCTV.”

Lantas Gorou-sensei pun duduk di kursinya seraya melihat-lihat buku catatan biologi milik siswa, bersamaan dengan semua siswa—termasuk aku—mulai meng-klik “Start” untuk mengerjakan soal ulangan.

Soal pertama akhirnya muncul di monitor. Meskipun sama-sama mendapat sepuluh soal, urutan soal yang tampil di tiap monitor siswa pasti akan berbeda alias acak. Jika soal tentang atavisme jengger ayam ini adalah soal nomor satu di monitorku, bisa saja itu adalah soal kedelapan yang akan Akane peroleh.

Q.1 Penyimpangan semu Hukum Mendel yang pertama adalah atavisme. Jika terdapat empat jenis jengger ayam, di antaranya motto (R-P-), ano (R-pp), etto (rrP-), dan chotto (rrpp), maka hasil persilangan antara jengger ayam ano (RRpp) dengan jengger ayam etto (rrPP) adalah?

a.9:3:3:1   b. 6:3:3:1    c. 2:3:3:1    d. 9:6:3:1    e. 3:6:9:1

Duh, sial ini maksudnya gimana? Ah, lewatin dulu deh.

Q.2 peristiwa tersembunyinya gen dominan jika tidak berpasangan dengan gen dominan lainnya disebut ….

a. atavisme  b. kriptomeri  c. epistasis-hipostasis  d. Polimeri e. komplementer

Nah, kalau ini aku tahu jawabannya, kriptomeri nih pasti, sudah pasti. Lantas aku mengunci jawabanku dan setelahnya langsung saja muncul warna ungu pada pilihan jawaban yang menandakan benar. Yes! Aku berhasil menjawab dengan benar.

Akhirnya aku beranjak ke soal-soal lainnya. Namun, tiba-tiba kepalaku rasanya blank. Gila! Percuma dong aku begadang demi ulangan ini kalau satu pun cara buat ngerjain persilangan aku gak tahu. Ya Tuhan … aku harus gimana?

Waktu pun terus bergulir. Tapi masih sisa beberapa soal lagi yang belum dijawab karena aku gak tahu cara ngerjainnya. Duh … Gorou-sensei, lagian kenapa soalnya model begini semua, sih? Jengger ayamlah, bungalah, aduh … berguna gak sih ini teori di kehidupan sehari-hari?

Sumpah, tiga puluh menit itu rasanya sebentar sekali. Aku pasrah banget, mampuslah jelek ini nilai, pasti jelek. Sial. Kenapa sial terus, sih? 

Ketika waktu pengerjaan soal ulangan sudah habis, otomatis laman soal tertutup dan berganti dengan laman yang menampilkan nilai akhir. Benar saja, nilaiku hancur lebur. Ya Tuhan … ingin rasanya aku mengumpat.

Angka enam puluh terpampang nyata di layar. Astaga, tugas tambahan will coming. Arghhh selamat tinggal kebebasan.

Akhirnya aku antukkan kepala ke meja sembari meremat pensil kuat-kuat. Sumpah double sial hari ini. Ya ampun menyebalkan!

Setelah Gorou-sensei melakukan review selama tiga puluh menit, kelas biologi pun berakhir. Beliau juga berpesan kepada seluruh siswa yang mendapat nilai di bawah tujuh puluh untuk segera submit tugas tambahan di situs e-learning sekolah paling lambat lusa jam sepuluh malam. Ketentuan tugasnya pun sudah dilampirkan di sana, siswa hanya perlu mengikuti petunjuk dan submit saja.

Bel istirahat berbunyi setelahnya, tentu saja semua siswa merasa gembira. Perut sudah keroncongan dan tenggorokan juga butuh disejukkan. Namun, nahas, kesialan itu pun sepertinya belum bosan untuk menggangguku di hari ini. Aku bingung, aku marah, aku kesal. Uang sakuku di mana?

Aku merogoh kantong rok, namun tak ada apa-apa di sana. Kurogoh pada saku kemeja dan ternyata tak ada juga. Kucari dalam laci meja, ransel, kotak pensil, loker; hasilnya tetap sama. Aku murka, sangat. Ini dunia sedang bercanda, ya?!

Aku berjongkok untuk memperhatikan tiap sudut lantai, namun yang aku dapat adalah pandangan kebingungan dari semua orang. Akhirnya aku teringat perihal hukuman membersihkan toilet tadi pagi. Langsung saja aku berlari ke toilet, membuka seluruh pintu di sana, termasuk pintu janitor. Tapi, tetap saja aku tak menemukan apa yang sedang aku cari, sampai aku memutuskan untuk mencuci kembali kedua tanganku, dan sepertinya aku harus benar-benar pasrah untuk tidak menikmati makan siang di hari ini. Aku pun mengelus perutku yang terus saja mengeluarkan suara tidak merdu. Sumpah, aku lapar sekali.

Aku akhirnya berjalan keluar dari toilet dengan kepala tertunduk dan masih terus mengelus perut yang cacingnya sudah berdemo.

Brug.

Rasanya plafon mulai melayang dan tubuh ini pun terguncang hingga akhirnya terhempas ke lantai yang keras. Kejadiannya sangat cepat dan tentunya menyakitkan.

Daripada merasa sakit, justru rasa malulah yang lebih ingin kumusnahkan saat ini. Aku jatuh, tersungkur, di bawah kaki sosok lelaki yang kubenci sejak hari kedatangannya ke sekolah ini. 

Lelaki itu mengulurkan tangannya padaku, tapi aku tidak akan pernah sudi untuk menerimanya. Akhirnya, aku berdiri kembali dan mengibaskan debu yang menempel di rokku.

Kuberi ia tatapan yang mematikan dan dengan angkuhnya aku pergi begitu saja meninggalkannya serta teman-temannya.

Healah Aqua, lihat-lihat kalau jalan Aqua,” sindir Melt dengan suara yang lumayan keras, sehingga aku yang sudah berjalan agak jauh tetap dapat mendengarnya.

 

♡♡♡

 

Setelah menjalani sisa hari di sekolah dengan perasaan yang tidak keruan karena kesialan yang terjadi secara beruntun, aku akhirnya memilih untuk segera pulang dan menguatkan tekad untuk memaki sang penghuni baru di sebelah unit apartemenku.

Demi Tuhan, ini semua ulah dia! Gara-gara dia hal buruk jadi menimpaku di hari ini! 

Sepanjang perjalanan pulang; di kepalaku terus berputar kata, “Pokoknya aku harus meminta pertanggungjawaban, bila perlu ia pindah saja dari sana sekalian! Aku tak peduli!”; tapi, entahlah apa benar aku bisa mengucapkan semua itu? Apa aku tidak tahu malu? Ah, persetan dengan rasa malu, ini demi kedamaian yang abadi!

Tak lama kemudian, kereta yang aku naiki pun berhenti di stasiun yang seharusnya. Aku langkahkan kaki ini dengan cepat menuju ke gedung apartemen yang tak jauh dari stasiun. Kutekan tombol lift dan menunggu beberapa detik hingga pintunya terbuka. Setelahnya, aku segera masuk ke dalam dan menekan tombol angka empat. Lift pun beranjak. Lantai demi lantai terlewati dan akhirnya lift berhenti serta pintunya terbuka tepat di lantai empat. Tak ada pula yang menginterupsi perjalananku menggunakan bilik besi ini, sama sekali.

Aku melangkah keluar dari lift, merapikan tas yang talinya bertengger di pundakku dan berakhir dengan tangan yang bersedekap. Aku telah berjalan melewati unit sang penghuni baru, tapi aku memutuskan untuk pergi ke unitku terlebih dahulu. Tenggorokanku benar-benar kering, dan aku juga tak yakin apakah pemilik unit nomor 4-20 itu sedang berada di unitnya atau tidak saat ini.

Sesampainya di unitku sendiri, aku mulai melepas sepatu dan meletakkannya pada rak kecil yang terdapat di tembok sebelah kanan. Aku langkahkan kaki menuju dapur, meletakkan tas pada kursi yang menghadap ke pantri, dan mengambil air dingin di kulkas. Kemudian aku duduk di kursi yang kosong sambil menikmati sejuknya air yang mengalir di tenggorokan.

Tak lama kemudian aku mendengar nada suara orang menekan tombol kunci untuk masuk ke dalam unit. 

“Si orang baru udah pulang apa, ya? Hmmm … setelah dipikir-pikir, aku kayaknya harus lihat dulu deh penghuninya lebih tua dari aku apa enggak, ngobrol baik-baik harusnya direspons dengan baik juga, ‘kan?”

Lantas aku beranjak dari kursi, berjalan ke arah pintu dan mengambil sandal terlebih dahulu sebelum aku keluar dari unitku. Aku hanya perlu beberapa langkah untuk sampai ke unit sebelah dan kini pandanganku terpaku pada pintu bernomor 4-20.

Aku menekan belnya terus-menerus, tanpa henti. Entah sudah berapa kali, aku pun tak menyadari.

“Ya Tuhan, maafkan aku harus bertindak agak bar-bar. Tapi aku janji, kali ini saja … karena penghuni baru ini benar-benar harus diberi sedikit peringatan supaya bisa menghargai tetangga di sebelahnya!” Doaku dalam hati.

Hampir satu menit aku menekan bel, namun sang empunya kamar belum juga keluar. Lantas aku menggedor-gedor pintu dengan kedua tanganku sebagai jurus pamungkas untuk membuat sang penghuni menyadari keberadaanku sebagai tamu —yang tak diharapkan kehadirannya, tentu. Hingga terdengarlah suara ceklek dari dalamnya dan aku pun beringsut mundur agar pintu dapat terbuka.

Kemudian muncullah sosok yang … astaga Tuhan, cobaan macam apa yang Kau berikan?

Namun, aku tak gentar, alih-alih takut justru aku memegang pintunya, rasanya ini adalah kesempatan yang juga Tuhan berikan untuk memberi makian, dan langsung saja segala emosi yang kutahan sedari pagi terlontarkan. 

“Oh, ternyata lo yang tinggal di sebelah kamar gue! Oke bagus, jadi gue gak perlu basa-basi lagi. Sumpah, sadar gak sih semalaman lo tuh ganggu banget! Sial tauh gak sih gue jadinya gara-gara keberadaan lo di sini! Lo bikin gue jadi gak konsen belajar, nilai ulangan gue anjlok! Gue bangun kesiangan karena belajar sampai tengah malam nungguin lo kelar ngetok-ngetok palu di tembok! Sinting tau gak sih lo?! Lo juga gak tahu ‘kan gimana capeknya gue bersihin toilet sekolah sebagai hukuman karena gue terlambat! Lo gak tahu ‘kan rasanya frustrasi gak konsen belajar dan nilai jadi jelek terus harus ngerjain tugas tambahan?! Ditambah uang saku gue hilang, jangan-jangan ulah lo juga lagi?! Ah! Ngeselin! Pokoknya gue gak mau tahu ya, lain kali lo harus hidup dengan tenang di kamar lo itu! Kalau lo berisik lagi, mending lo angkat kaki deh dari sini! Cari kamar lain aja sana!”

Aku pun menghela napas setelah meluapkan segala kekesalan yang kurasakan. Lantas aku memilih pergi ke arah pintu kamar lantaran tak kunjung mendengar sepatah kata dari sosok yang aku marahi habis-habisan.

Selama aku melontarkan amarah, ekspresi sosok itu hanya terdiam dan kemudian menganga. Mungkin ia kaget juga. Ah, bodoh amat, ngapain juga aku pikirin. Dianya aja gak mikirin perasaan tetangga sebelahnya.

Saat hendak membuka pintu unitku, sekelebat aku mendengar, “Sarap nih orang!” dan selanjutnya pintu unit sebelah pun tertutup.

“Aqua kampret! Udah salah, gak minta maaf, malah ngatain orang sarap lagi! Ih! Benci banget gue sama lo!” batinku sambil berjalan masuk ke dalam kamar.

 


Part II. Hari itu

 

HARI itu tepatnya tanggal 13 Juli 2020, liburan musim panas berakhir dan sekolahku kedatangan siswa pindahan. Kabarnya cepat sekali menyebar di seluruh penjuru sekolah. Tentu saja seorang lelaki, kelas 12, dan menurut rumor ia akan masuk ke dalam kelas 12-A alias kelasku. Sumpah? Kok bisa? Memangnya dia sepintar apa? Karena selama ini kelas A tidak pernah kehadiran siswa pindahan—setiap tahunnya—hanya orang pintar dan beruntung saja yang bisa masuk ke sana, eh, kalau begitu satu-satunya keberuntungan yang kumiliki hanyalah masuk di kelas A. Hmmm benar … begitu.

Yang aku tahu biasanya siswa pindahan akan ditempatkan di kelas C atau pun D. Tapi, kali ini rasanya istimewa sekali. Baru saja aku membatin dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentangnya yang barangkali memang mendapat perlakuan khusus akibat punya relasi dengan pemilik yayasan sekolah atau apa, seketika sekolah mulai dihebohkan dengan sebuah mobil yang terparkir di dekat lapangan sepak bola.

“Woy woy woy, siapa tuh?” Yuki berseru heboh.

“Anak baru itu gak, sih? Katanya datang hari ini, ‘kan? Gila, kok parkirnya di situ, ya?” tanya Akane.

Aku hanya mengedikkan bahu dan ikut memperhatikan seperti siswa-siswi lainnya. Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka dan keluarlah sosok yang cukup tinggi serta memiliki tubuh yang lebih besar dariku. Terlihat sedikit atletis dan juga ia memiliki rambut sedikit gondrong dengan warna blond.

Finally ... he is here,” ujar Melt.

“Siapa yang nganterin dia?” tanya Sakuya.

“Asisten ayahnya paling,” jawab Kumano.

C’mon, kita sambut dia,” ajak Kengo antusias.

Oh, sepertinya mereka berempat sudah kenal dengan siswa pindahan itu, pikirku. Tapi, peduli amatlah. Aku pun memilih untuk kembali ke kelas, meninggalkan Yuki dan Akane yang masih saja berkerumun bersama siswa-siswi lain di dekat jendela di seberang kelas.

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, lantas kerumunan siswa perlahan mulai bubar. Terlihat Melt, Sakuya, Kumano, dan Kengo berjalan masuk ke kelas, diikuti oleh wali kelas—Yoriko-sensei —yang sedang berbincang-bincang bersama Si Siswa Pindahan.

Setelah menyimpan buku yang dibawa di atas meja dan keadaan kelas mulai kondusif, Yoriko-sensei pun meminta lelaki berambut blond itu untuk berdiri di sebelahnya.

“Halo anak-anak. Jadi, hari ini kita kedatangan siswa pindahan, ya. Namanya adalah Hoshino Aquamarine. Nama panggilannya, Aqua. Benar, ya?” ucap Yoriko-sensei sambil menghadap ke arah Aqua.

“Iya, Sensei. Betul,” jawab Aqua sambil tersenyum.

Yoriko-sensei tersenyum kembali dan ia pun berkata, “Aqua ini pindahan dari Los Angeles loh dan sudah bekerja sebagai asisten sutradara. Kalian kalau mau belajar ngedit video, bisa belajar sama Aqua, nih.”

Kelas akhirnya mulai ramai bersorak, “Wah!”; “Keren!”; “Gila, yang benar aja?”; dan sebagainya.

“Pantas saja dia dimasukkan ke kelas A,” batinku.

So, Aqua, ada yang ingin disampaikan ke teman-teman?” tanya Yoriko-sensei.

Lelaki bernama Aqua itu pun mengangguk dan tersenyum seraya berkata, “Helo semuanya, aku Aqua. Salam kenal, ya.”

Melt pun bertepuk tangan heboh diikuti tawa dari Sakuya, Kumano, dan Kengo, sehingga hampir semua siswa ikut bertepuk tangan, entah supaya apa. Kalau dipikir-pikir, aksen bahasa Jepangnya Aqua itu terdengar asing dan lucu di saat yang bersamaan. Oke, nilai plus untuknya karena lucu. Eh, apa-apaan?

 

♡♡♡

 

Saat itu aku juga ingat bahwa serangkaian hari sialku mulai menunjukkan gejalanya. Dimulai dari pelajaran sejarah dunia, Abiko-sensei tak memberi ampun untuk siapa pun yang tidak bisa menerangkan mengapa menara Eiffel tak lagi masuk dalam tujuh keajaiban dunia; begitu pula Miyako-sensei yang marah besar karena seseorang dari kelas kami ada yang tak sengaja memecahkan tabung reaksi di Laboratorium Kimia-I dan tak mau jujur, sehingga satu kelas mendapatkan hukuman untuk lari keliling lapangan bola sebanyak sepuluh putaran.

Aku ingat betul ketika lelaki berambut blond itu malah tertawa-tawa bersama keempat temannya, seakan menikmati segala proses hukuman yang diberikan. Di saat yang bersamaan, kelas lain pun tengah melakukan pelajaran olahraga—bermain sepak bola lebih tepatnya. 

Bola tersebut bergulir ke arah kaki Aqua dan ia sontak menginjaknya dengan satu kakinya. Yang aku ingat juga ... beberapa siswa dari kelas lain berteriak untuk meminta bolanya dioper kembali dan Aqua pun menendangnya dengan sekuat tenaga.

Bola itu terbang, melayang, menjauh, melengkung; setelah sebelumnya Aqua bersiap untuk menempatkan diri kurang lebih 15 meter dari bola yang akan ditendang. Kemudian ia berlari dengan kecepatan lari menuju bolanya sekitar 35 meter per detik dan tendangannya memiliki kecepatan sudut sebanyak 10 putaran per detik, maka dalam perhitungannya, bola itu akan melengkung sekitar 5 meter ke arah tujuan; yang merupakan tempat para siswa yang meminta bolanya dioper.

Jedug!

Bola itu benar-benar ditendang dengan keras, namun tepat tidaknya sasaran pun bergantung pada arah angin. Bola itu bergerak bebas di udara dengan bantuan angin dan mulai tidak stabil alias keluar dari lintasan imajiner sudut lengkung yang seharusnya. Dan … dug!

Kepalaku pusing, pandanganku mulai kabur, dan semuanya berubah menjadi hitam.

 

♡♡♡

 

Mungkin inilah rasanya tak sadarkan diri, tapi entah mengapa aku merasa agak nyaman, sepertinya tubuh ini sedang merelaksasi diri. Namun, saat aku bergerak sedikit, kepalaku terasa amat sakit. Sungguh, ini sakit sekali. Dengan mata yang masih tertutup, aku mencoba mengarahkan jariku ke dahi. Rasanya seperti ada benda asing yang bertengger di atas sana.

Hmmm … basah, permukaannya kasar, dan sedikit berbulu. Tak lama kemudian aku mencoba untuk membuka kedua mata, dan cahaya yang ada pun terasa memaksa masuk ke dalamnya. Kuarahkan pandangan ke langit-langit ruangan yang kuyakini adalah ruang kesehatan.

Lantas terdengar suara langkah kaki yang berisik karena entakan sepatunya pada lantai diiringi teriakan, “Dokter, dia sudah sadar!”

Aku melepas handuk basah yang ada di dahiku dan mencoba untuk duduk serta bersandar pada sandaran ranjang. Setelahnya, seorang wanita berusia akhir 20-an menghampiriku. Ia mengenakan setelan serba putih, sambil mengalungkan stetoskop dan juga membawa sebuah senter kecil.

Ia pun kemudian mengarahkan senternya ke mataku, tentu hal itu membuatku jadi berkedip-kedip karena rasanya menyilaukan.

“Hah, syukurlah. Sepertinya kau tak apa. Tapi, kalau mau menjalani pemeriksaan yang lebih akurat dan mendalam, kau bisa ke rumah sakit untuk diperiksa menggunakan CT Scan,” ucapnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Enggak. Gak perlu, Dok. Kayaknya gak terlalu parah, cuma masih sakit memang.”

“Apa kau merasa pusing?”

“Sedikit.”

“Hmmm … berhubung kau belum makan dan ini juga sudah lewat jam makan siang, lebih baik kau makan dulu, ya. Lalu kau harus minum obat ini, untuk meredakan rasa sakitnya,” ucap dokter wanita tersebut.

“G-Gimana, Dokter?” ucap seorang lelaki yang berlari tergopoh-gopoh sambil membawa dua botol air mineral.

“Gak apa-apa. Tolong dibantu ya bawa makan siangnya ke sini,” dokter berujar.

Lelaki tersebut kembali berlarian ke sana-kemari mengambil apa yang diminta oleh sang dokter.

“Bisa makan sendiri atau perlu saya bantu?” tanya dokter wanita itu.

“Saya bisa sendiri, Dok,” jawabku.

Langsung saja ia memberikan sebuah kotak makanan yang—Demi Tuhan ini berlebihan—berasal dari sebuah rumah makan ternama di Jepang.

Sumpah, baru pertama kali aku mencicipi daging sapi dengan rasa senikmat ini. Apa ruang kesehatan sekolahku memang sespesial ini atau bagaimana saat merawat orang sakit? Entahlah, aku tak tahu juga. Yang kulakukan saat ini hanya mengunyah, menikmati, dan menelan semuanya ke dalam perutku hingga tak bersisa. Saking menikmatinya, aku tak menyadari bahwa sang dokter telah pamit pergi meninggalkanku bersama dengan lelaki berambut blond ini.

Aku sedikit mengerjap kaget ketika akan meletakkan kotak makanan kosong ke atas nakas dan mengambil obat serta botol air mineral yang ada di sana.

Setelah meminum obat, aku pun berkata, “Ngapain lo masih di sini?”

Lelaki berambut blond itu pun panik. “A-a … G-gue cuma …. ”

Lama sekali jedanya. Lantas aku mengingat semuanya dan kepalaku berdenyut nyeri. “Yang gue tanyain itu … kenapa lo masih di sini? Susah emangnya jawab pertanyaan gue?”

“Ah, anu ... g-gue cuma merasa bertanggung jawab aja atas kejadian tadi pagi. Lo pingsan gara-gara gue, jadi sebisa mungkin gue nungguin lo sadar dulu, baru gue balik ke kelas.”

Aku mendengus kesal.

Merasa bertanggung jawab dia bilang? Tapi kok gak mengucap maaf lebih dulu? Ish, ngeselin nih orang! Lagian baru hari pertama loh dia di sekolah ini, udah bikin ulah aja!” batinku.  

“Gak perlu sok-sok bertanggung jawab deh lo. Mending lo balik sana ke kelas! Baru juga sehari lo sekolah di sini!”

“Tapi kondisi lo jadi gini gara-gara gue,” ucapnya dengan suara yang cukup halus di dengar telinga.

“Ya, gara-gara lo! Dan ini hal aneh pertama yang gue alamin selama gue sekolah di sini! Thanks for the experience!” sarkasku.

“Kayaknya lo gak suka banget ya sama keberadaan gue di sini,” ucapnya lagi.

Lantas aku tak menjawab, aku lebih memilih untuk meletakkan botol air mineral ke atas nakas dan mulai rebahan kembali, serta memunggungi si lelaki yang lebih tinggi.

“Ya udah kalau gitu, gue duluan ke kelas, ya. Semisal lo ada butuh bantuan atau masih ngerasa sakit, lo bisa cari gue. Biar gue anter ke rumah sakit.”

Aku masih bergeming dan tak lama kemudian lelaki itu pergi, meninggalkanku bersama suasana yang semakin hening.

 

♡♡♡

 

Keesokan harinya, aku bersekolah seperti biasa. Yuki dan Akane terus saja menceritakan betapa konyolnya diriku yang pingsan karena tendangan kuat dari Aqua. Aku memberikan tatapan murka dan mereka langsung meminta maaf begitu saja.

“Ya maaf, habisnya tuh awalnya kelihatan lucu, tubuh lo kayak oleng-oleng gitu. Eh, malah gak tahunya beneran pingsan dong pas udah nyentuh tanah. Yang ngetawain bukan kita berdua doang tadinya, hampir semuanya. Tapi semua jadi diam pas Aqua mulai nyamperin lo dan langsung gotong tubuh lo gitu aja. Dia juga teriak-teriak manggil Melt buat nunjukin ruang kesehatan,” ucap Yuki panjang lebar.

“Oh, jadi dia yang bawa gue ke sana?” batinku.

“Untungnya gak ada pendarahan juga itu dari hidung atau telinga, mulut, dan lain-lain; bisa bahaya katanya kalau sampai begitu,” Akane menimpali.

“Gak ada akhlak lo ngomong begitu, Ne!” jawabku.

Setelah bel masuk berbunyi, jam pelajaran bahasa inggris pun dimulai, Mr. Raida akhirnya memberikan sebuah tugas kelompok berupa bedah lirik lagu berbahasa inggris. Kelompok pun dibentuk secara acak dan terdiri atas dua orang. Selama lima belas menit pertama pelajaran, pembentukan kelompok dilakukan dan setiap siswa seakan menunggu giliran agar namanya segera disebutkan.

“Hoshino Aquamarine dan Arima Kana,” ucap Mr. Raida.

Aku membelalak tak percaya. Ingin protes, tapi pasti tak akan digubris jika aku tak memiliki alasan yang logis. Masa iya aku harus berkata, “Saya gak mau ketiban sial terus, Mr.”; ya gila aja dong, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin menghindar dari Aqua sejak papasan di gerbang sekolah tadi, gak mau jalan berdekatan saat ke kelas. Tapi, ujung-ujungnya malah satu kelompok.

Kemudian aku menoleh ke arah Aqua berada. Segera saja aku memberikan kode berupa gerakan kepala ke sebelah kanan untuk menyuruhnya pindah duduk ke kursi di sebelahku. Malas sekali bila aku yang harus menghampirinya. Ih!

“Mau bahas lagu apa?” ujar kami secara bersamaan.

Aku mengernyit sesaat. “Lo seringnya denger lagu apa?” tanyaku ketus.

“Gue ngikut lo aja, deh. Soalnya gue jarang denger lagu belakangan ini.”

“Lo gak ada artis favorit atau apa gitu?” tanyaku makin ketus.

Aqua kelihatan berpikir, kemudian bergeleng.

“Sumpah ini orang niat ngerjain tugas gak, sih?!” batinku.

Akhirnya setelah sedikit berdebat, kami memilih lagu yang liriknya mempunyai makna yang sangat bagus untuk generasi muda agar dapat menjadi diri sendiri. Yaitu lagu dari grup band asal Jepang, ONE OK ROCK, yang berjudul Stand Out Fit In.

Bait demi bait lirik kami bedah dan jabarkan menggunakan narasi deskripsi selama tiga puluh menit. Hingga akhirnya Mr. Raida meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan tugas tersebut di depan kelas. Karena kelompokku sudah selesai, lantas aku berkata, “Kita maju sekarang aja, ya? Males gue nunda-nunda sampai pertemuan selanjutnya, nanti keburu lupa.”

Aku pun tak menyangka jikalau Aqua akan mengiakan usulanku. Akhirnya kami berdua maju ke depan kelas dan mempresentasikan segalanya.

Semua berjalan lancar, tanpa beban, tanpa keraguan. Aku pun sudah yakin seratus persen jika hari ini aku akan mendapat nilai yang paling tinggi dalam kelompok presentasi ini. Namun, ternyata semua tak sesuai harapan, entah atas dasar apa, Mr. Raida justru memberikan nilai lebih tinggi kepada Aqua. Lantas aku tak bisa lagi bersikap seakan baik-baik saja. Selesai presentasi, aku kembali ke kursiku lagi dan Aqua pun mengikuti. Tapi, sebelum Aqua menduduki kursi, aku berucap dengan ketus, “Balik lo sana ke kursi lo sendiri, ‘kan udah kelar presentasinya! Ngapain lo duduk di sini lagi?”

Aqua menganga, seakan tak percaya dengan ucapanku yang langsung berubah drastis menjadi mode galak kembali.

“Sumpah gue jadi makin benci sama lo, Aqua! Padahal gue udah yakin performa gue pas presentasi itu lebih baik dari lo. Aish! Jadi makin besar keinginan gue buat gak deket-deket sama lo!” rutukku dalam hati.

 


Part III. Berteman

 

KEMBALI lagi ke kenyataan kalau aku harus segera mengerjakan tugas tambahan karena Gorou-Sensei sudah mengingatkan di grup chat kelas. Tapi sumpah, kamar sebelah ini berisik sekali, aku benar-benar tak bisa berkonsentrasi.

Dug … Dug … Dug ….

Aku menggedor tembok sekuat tenaga dengan tanganku, harapannya adalah agar si tetangga tak tahu diri itu menurunkan volume suara speaker -nya. Tapi, apa yang aku dapatkan? Justru gedoran tembok sebagai balasan.

“Sinting woy! Ya elah, ganggu banget lo setan!” aku memaki.

Entah teriakanku terdengar sampai ke unitnya atau bagaimana, yang jelas setelah itu aku tak mendengar suara berisik lagi. Kupikir hanya satu hari saja aku akan mengalami hal semacam itu, ternyata hari-hari selanjutnya terasa semakin berat. Keberadaan lelaki berambut blond di samping kamarku itu sungguh meresahkan!

 

♡♡♡

 

Saat jam istirahat sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke kantin bersama Yuki dan juga Akane. Namun, setengah perjalanan, aku teringat bahwa dompetku tertinggal di tas.

“Sori … kalian duluan aja, deh,” ucapku.

Aku pun berlari ke kelas, lantas ketika aku hendak membuka pintu, aku mendengar suara orang-orang yang sedang mengobrol dan menyebut-nyebut namaku. Aku menahan diri untuk masuk, karena ingin mendengarkan lebih jauh apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

“Si Kana itu emang ketus gitu ya anaknya?”

“Kadang. Tapi dia ketus tuh bukan karena dia benci sama orang, emang anaknya sassy dan tsundere aja, tapi baik, kok,” ucap suara yang aku yakini adalah suara Melt.

“Emang kenapa lo nanya-nanya dah?” Kali ini suara Sakuya yang kudengar.

“Jadi, kan gue balik ke Jepang ini baru sebulanan, ya. Gue tuh bilang ke Ibu kalau gak betah tinggal di rumah gede sendirian, secara Ruby juga lebih milih ngikut ke mana pun Ibu ngadain konser atau promosi film, kan? Makanya tempo hari gue sempet cerita juga kalau gue pindah ke apartemen yang lebih kecil. Ingat gak lo pada? Nah, ternyata … tetangga sebelah unit gue tuh si Kana, lho!”

“Oh, iya? Ya baguslah, kalau ada apa-apa lo bisa nanya sama dia.” Kali ini Kumano yang menimpali.

“Tapi kayaknya mustahil dia mau berteman sama gue. Inget gak sih insiden dia pingsan kena bola itu? Sejak saat itu dia kayak gak suka deket-deket sama gue, pas habis presentasi bahasa inggris juga dia ngusir gue gitu aja, belum lagi dia marahin gue gara-gara gue ngetokin palu malam hari di apart.”

“Kalau yang bola itu kan kecelakaan. Tapi coba lo inget-inget ada hal lain gak yang bikin lo jadi kayak orang dibenci gini sama dia? Cuma … lo juga aneh, kayak gak ada waktu lain aja buat ngetok palu,” Kengo turut bersuara.

“Gue juga gak tahu, sih. Bingung deh gue. Ya gimana ya? Gue juga pengen isian apartemen gue cepet rapi soalnya.”

“Lo udah minta maaf yang proper belum ke dia sejak insiden bola itu? Atau ya mungkin sama yang ketok palu itu juga?” tanya Kumano.

“Eh, minta maaf, ya? Tapi bukannya kalau gue bilang mau bertanggung jawab buat anterin dia ke rumah sakit semisal kenapa-kenapa udah jadi bentuk permintaan maaf? Bahkan gue juga beliin dia makan siang sih, tapi kayaknya dia gak tahu kalau itu dari gue. Kalau yang ketok palu emang gue belum minta maaf karena dia marah-marah gak ada jeda.”

“Ya udah, coba gih minta maaf,” Melt menyarankan.

“Iya, kalau lo gak bisa ngomong langsung, tulis surat kek, apa kek,” Sakuya ikut memberi saran.

Sumpah, jadi begini rasanya menjadi bahan omongan orang lain? Aku ingin segera masuk ke kelas, karena Yuki dan Akane pasti sudah menungguku. Kemudian aku menghitung dalam hati secara perlahan sebelum kuputuskan untuk masuk ke dalam kelas. Dan, di saat yang bersamaan aku juga mendengar suara yang cukup gaduh di dalam kelas, namun aku tetap berusaha berkonsentrasi dengan hitungan yang kulakukan di dalam hati.

Tepat pada hitungan kesepuluh, akhirnya aku membuka pintu, dan kelima lelaki yang sedari tadi membicarakanku langsung melihat ke arah kedatanganku, mereka pun tengah berdiri seakan ingin pergi meninggalkan kelas.

Aku melirik sekilas ke arah mereka dan langsung saja menghampiri tempat dudukku. Dompet yang semula ada di tas, kini sudah berada dalam genggamanku dan kelima lelaki tersebut sudah tak lagi di sana. Namun, pandanganku sedikit terganggu dengan beberapa benda yang aku yakini sebelumnya tak ada di laciku dan kini tergeletak bersama dengan sebuah pesan yang ditulis dengan tulisan tangan. Benda tersebut adalah dua buah minuman susu fermentasi bermerek ‘Yakult’.

Dan, isi pesannya adalah:

“Dear Kana,

Hai, ini Aqua. Gue mau minta maaf untuk segala kesalahan yang gue lakuin. Semoga lo mau maafin gue, ya.”

Aqua

Lantas kuraih kedua botol Yakult yang terbungkus plastik bening tersebut dan kulemparkan ke dalam tempat sampah. Namun, setelah melemparkannya, entah kenapa aku sedikit merasa bersalah. Ini adalah tindakan yang mubazir, Tuhan pasti akan murka.

Kemudian aku memungut kembali kedua botol Yakult tersebut dan membuka plastik beningnya untuk dibuang. Aku akhirnya menyimpan kedua botol Yakult tersebut ke dalam tas. 

 

♡♡♡

 

Hari demi hari berlalu dan Aqua pun masih sering melakukan kesalahan yang sama secara berulang; yaitu mendengarkan musik dengan sangat keras dan membuatku geram. Akan tetapi, tiap kali ia melakukan kesalahan, di siang hari—saat sekolah, di laci mejaku selalu terdapat dua botol Yakult bersama pesan permintaan maaf.

Jujur saja, aku tak menyukai Yakult selama ini. Namun, karena aku selalu diajarkan untuk tidak membuang-buang makanan oleh orang tuaku, maka yang kulakukan adalah menyimpannya di dalam kulkas dan aku pun menempelkan sticky notes kecil di tiap botolnya bertuliskan tanggal kapan Aqua memberikan Yakult tersebut kepadaku. Tentu saja itu bertujuan untuk meminum Yakultnya yang mana terlebih dahulu.

Hal yang ingin membuatku tertawa namun tak akan pernah kulakukan jika di depannya adalah … pesan yang bertuliskan, “Cintai ususmu, minum Yakult tiap hari.”

Sial. Seakan ia tahu jikalau setiap hari aku jadinya memang harus minum Yakult. Ya, satu botol per hari, sebagai percobaan. Dan ternyata, Yakult tidak seburuk itu.

Sejujurnya aku masih terus saja menjauhi Aqua, aku tak tahu mengapa … tapi rasa emosi itu tetap ada di dalam dada. Entahlah. Jiwa kompetitifku pun semakin besar, apalagi bila menyangkut pelajaran. Rasanya aku benar-benar tak ingin dikalahkan lagi seperti di presentasi bahasa inggris kala itu.

Pieyon-sensei selalu memercayaiku untuk mengumpulkan tugas seni musik, begitu pun juga dengan Mem Cho-sensei pada tugas seni lukis.

Hari itu aku harus mengumpulkan tugas seni musik, yang tugasnya adalah mengkonversi not angka ke dalam not balok. Aku mendatangi meja siswa satu per satu untuk mengambil buku mereka, hingga tibalah aku di meja Aqua.

Aqua terlihat kebingungan, wajahnya kusut sekali. Tapi sumpah, aku peduli apa?

“Mana tugas lo? Cepetan, mau gue kumpulin ke Pieyon-sensei,” ucapku.

“Gue belum buat,” jawab Aqua sambil menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak.

“Astaga, 'kan udah dari minggu lalu tugasnya. Masa lo gak kerjain, sih?!”

“Iya, karena gue gak ngerti cara ngerjainnya gimana,” Aqua berucap kembali.

“Lo tuh punya banyak teman, tanya kek sama mereka! Bodoh amat ya, ini gue mau kumpulin sekarang. Daripada gue nungguin punya lo sebiji doang, kasian nilai anak-anak lain nantinya! Lo kumpulin aja sendiri kalau mau!”

Aku pun segera berpaling darinya dan lanjut melangkahkan kaki ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas tersebut. Namun, saat jam istirahat berlangsung, tiba-tiba saja terdengar pengumuman dari pengeras suara yang memintaku dan Aqua untuk datang ke ruang guru.

“Lo dipanggil kenapa dah?” tanya Yuki.

“Mana gue tahu! Tapi kayaknya ini gara-gara tugas seni deh.”

“Emang kenapa?” Akane menimpali.

“Si anak baru itu gak ngerjain tugas.”

Yuki dan Akane menunjukkan ekspresi tak percaya, lantas aku berpamitan untuk segera menuju ke ruang guru saat itu juga.

Setibanya di ruang guru, Pieyon-sensei memintaku untuk duduk di sebuah kursi, tepat di hadapannya.

"Kau sudah makan?"

"Kebetulan sudah, Sensei. Tepat saat informasi panggilan tadi."

Pieyon-sensei pun mengangguk seraya berkata, "Oke. Jadi langsung aja, ya. Saya manggil kamu ke sini itu karena saya ingin bertanya sesuatu."

"Silakan, Sensei."

"Semua tugas seni musik kelas 12-A sudah saya periksa semua, tapi yang punya Aqua di mana? Dia gak ada bilang sesuatu sama kamu?"

Aku mengatupkan bibirku. Namun, sesaat kemudian aku menjawab, "Saya sudah tanyakan kepadanya, Sensei. Tapi dia bilang kalau dia belum mengerjakan."

Pieyon-sensei mengangguk mendengarkan diiringi ucapan, "Dia kasih alasan?"

"Oh, kok tahu?" batinku.

"Iya. Dia bilang kalau gak ngerti sama caranya."

"Oke, lalu kamu ada usaha untuk bantu dia?"

Lantas aku menggeleng kepala seraya berkata, "Karena saya pikir tugas saya hanya untuk menjadi perwakilan kelas dan bertanggung jawab agar semua siswa mengumpulkan tugas."

"Tapi kenyataannya semuanya ngumpulin gak?"

Telak. Rasanya aku seperti tertembak. Benar, tidak semuanya yang terkumpul jadinya. Punya Aqua belum ada. Lantas aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.

Pieyon-sensei akhirnya menepuk pundakku.

“Begini ya … Kana, lain kali kamu gak boleh bertindak seperti ini. Bagaimanapun Aqua itu adalah teman sekelasmu. Coba dipikirkan, seandainya kamu yang ada di posisi dia dan kamu gak dapat nilai karena belum ngerjain tugas akibat dari tidak memahami materi, gimana? Sedih enggak? Apalagi Aqua ini posisinya adalah siswa pindahan, banyak materi pelajaran yang tidak sesuai dengan apa yang telah ia pelajari selama berada di Los Angeles.”

“Pieyon-sensei, saya juga baru beres nih ngobrol sama Aqua. Lalu, setelah saya cek data diri siswa, ternyata Kana sama Aqua tetanggaan, ya?” ucap Mem Cho-sensei yang tiba-tiba masuk dalam konversasi dengan lelaki berambut blond di sebelahnya.

“Apa benar begitu?” tanya Pieyon-sensei kepadaku.

“Benar, Sensei.”

“Kalau begitu bagus. Berhubung Aqua ketinggalan satu nilai tugas, saya akan minta kamu dan Aqua untuk belajar kelompok bersama, kamu harus bisa bantuin Aqua mengejar materi yang tertinggal. Nanti saya akan kasih daftarnya apa saja dan berikan laporannya kepada saya setiap hari Jumat, ya. Gak lama kok, hanya tiga minggu. Anggap saja ini persiapan untuk ujian tengah semester juga,” ucap Pieyon-sensei.

Dalam hati, aku sungguh merutuki kesialanku. Entah dosa apa hingga aku harus mengurusi makhluk yang tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga sebelah unitku. Ya Tuhan ….

“Satu lagi,” Mem Cho-sensei menginterupsi, “Untuk seni lukis juga nanti ujian prakteknya berkelompok, satu kelompok dua orang. Kalian berdua aja, ya? Biar gampang juga ‘kan koordinasinya? Secara tetanggaan, hehe.”

Pieyon-sensei dan Mem Cho-sensei pun saling bertukar pandang. Aku semakin tak memercayai apa yang telingaku dengar saat ini, sedangkan Aqua yang menjadi subjek pembicaraan malah hanya terdiam sedari tadi.

Tak lama kemudian aku berpamitan dari ruang guru. Tepat setelah Pieyon-sensei memberikan modul belajarnya, Aqua pun turut mengikuti berjalan di belakangku.

Aku yang risih dengan kondisi semacam itu, langsung saja berkata, “Ngapain sih lo jalan di belakang gue? Jalan duluan di depan, sana!”

Aqua masih bergeming sambil menunduk, kemudian ia menghela napas dan menegakkan kembali kepalanya. “Gue … gue mau minta maaf sama lo karena udah ngerepotin lo kayak gini. Harusnya ini jadi tanggung jawab gue pribadi, malah lo jadi keseret-seret gini. Gue jadi gak enak sama lo.”

“Baguslah kalau lo ngerasa gak enakan sama gue. Lo tuh ya ….”

Aku menggantung ucapanku dan berlalu begitu saja. Sejujurnya aku malu juga karena obrolan kami berdua di lorong kelas justru menjadi tontonan dari beberapa siswa yang berlalu lalang di sana.

 

♡♡♡

 

Masih seperti hari-hari yang biasanya yaitu Aqua yang selalu menyimpan dua botol Yakult di laci mejaku bersama pesan-pesan permintaan maafnya, ini sudah berlangsung selama hampir dua minggu lamanya. Aku pikir tak ada seorang pun yang akan memperhatikan hal semacam ini, hingga akhirnya hari yang tak pernah terbayangkan olehku pun tiba.

Hari itu ada pelajaran olahraga dan baru saja aku berganti pakaian menggunakan seragam umum kembali. Tiba-tiba saja tiga orang perempuan yang entah dari kelas mana, menghadang perjalananku untuk kembali ke kelas.

“Jadi lo yang namanya Kana?! Yang tiap hari selalu dikasih perhatian sama Aqua pakai Yakult dan surat permintaan maaf? Sumpah ya, lo tuh jangan sok kecakepan gitu deh jadi orang! Sok jual mahal banget di deketin sama anak dari artis ternama!” ucapnya.

“Eh, apa urusannya sama lo?” jawabku.

“Ya adalah! Gue tuh udah naksir sama Aqua sejak pertama kali dia datang ke sekolah ini! Eh, lo malah caper, sok-sok pingsan terus digendong Aqua buat dibawa ke ruang kesehatan!”

“Yang caper tuh siapa, sih? Anjir lo kalau ngomong gak disaring dulu, ya?!”

Tiba-tiba saja dua orang temannya itu mendorong tubuhku, hingga aku tersungkur di lantai. Dan, sosok yang sedari tadi berbicara denganku berkata, “Ya elo lah!” sembari menoyor dahiku dengan jari telunjuknya.

“Lo sengaja kan sok jual mahal, sok-sok gak mau dideketin Aqua, padahal aslinya lo kesenengan?! Please ya, kalau lo cuma mau caper doang mendingan berhenti. Lo tuh nyakitin Aqua tahu gak, sih!”

“Sinting ya lo!” ucapku yang hendak bangun, namun kemudian perempuan tak dikenal ini mendorongku lagi, hanya saja bokongku saat ini tak menyentuh lantai yang dingin kembali karena seseorang tiba-tiba muncul dan menahan tubuhku dengan kedua lengannya yang diletakkan di antara ketiakku.

Sosok itu pun membantuku berdiri. “Lo gak apa-apa?” tanyanya kemudian.

Sosok itu adalah Aqua. Lelaki berambut blond dengan postur tubuh yang tinggi besar dan membuat hidupku menjadi tidak keruan sejak hari pertama kedatangannya ke sekolah ini.

“Gak apa-apa,” jawabku.

“Kalian semua tuh ngapain, sih?” tanya Aqua sembari mengarahkan telunjuknya ke hadapan tiga perempuan yang menghadang perjalananku.

“A-aqua, gue bisa jelasin.”

“Jelasin apa? Gue udah denger semuanya, kok. Literally semuanya.”

Ketiga perempuan itu panik dan saling berpandangan satu sama lain.

“Asal lo semua tahu ya, wajar bagi gue untuk mempertanggungjawabkan kesalahan gue ke Kana, dan itu semua gak ada kaitannya dengan kalian. Bahkan Kana juga gak perlu caper untuk dapetin perhatian dari gue, semua yang gue lakuin ya murni kesadaran gue sendiri. Resek banget kalian, serius!”

Ketiga perempuan itu tertunduk, mungkin merasa malu.

Please ya, gak usah sok keren dengan cara bully orang lain kayak gini, tiga lawan satu tuh gak imbang. Perlu gue aduin ke guru tentang perbuatan kalian hari ini?”

Serentak mereka menggelengkan kepala, melangkah mundur, dan nahas satu orang yang berlagak seperti pemimpin dari geng tak jelas itu tersandung kaki teman lainnya dan telapak tangannya berdarah.

“Awas aja ya kalau gue lihat kalian kayak gini lagi,” gertak Aqua dengan suara yang tenang namun mematikan.

Sontak kedua temannya segera membantu perempuan yang jatuh tersebut dan mereka kemudian pergi begitu saja.

“Lo beneran gak kenapa-kenapa, ‘kan?” Aqua kembali memastikan.

Ish, perlu berapa kali gue bilang kalau gue gak apa-apa? Lo tuh resek ya, serius. Sama kayak kata-kata lo ke mereka tadi. Harusnya lo juga gak usah ikut campur dalam masalah ini, gini-gini juga gue pernah jadi atlet Judo sebelumnya! Lagian kenapa sih lo harus ikut campur?”

“Hmmm … lo kan gak salah apa-apa. Yang salah sedari awalnya itu gue dan sekarang malah gue bikin lo dalam bahaya. Gue juga gak paham kenapa orang-orang terlalu mendewakan gue sebagai anaknya artis terkenal atau apa, padahal gue juga belum bikin kontribusi yang berarti untuk negara. Sori malah nyambung ke mana-mana. Intinya sih gue gak mau lo kenapa-kenapa, itu aja.”

“Ya Tuhan … ini bocah kenapa, sih? Mana pandangan matanya soft banget gini. Sialan!” rutukku dalam hati.

Aku menggosok-gosokkan dahiku, karena bingung harus bereaksi bagaimana. Lalu aku berkata, “Jangan lupa nanti malam belajar bareng, Jumat ini kita harus laporan sama Pieyon-sensei.”

“Oke.”

“Pokoknya lo harus selalu ingat kalau lingkaran not angka 4 (fa) diubah ke not balok jadinya lingkaran hitam penuh itu ada di antara garis pertama dan kedua, lalu garis lurus ke atasnya dimulai dari garis kedua sampai garis kelima. Kalau lo udah hapal yang ini, not lain tinggal menyesuaikan posisi naik atau turun setengah garis,” ucapku.

Dan, begitulah hari itu berakhir.

 

♡♡♡

 

Keesokan harinya, saat aku hendak pergi ke toilet, tiba-tiba saja aku mendapat panggilan dari wali kelasku—Yoriko-sensei. Buru-buru aku menyelesaikan urusan di toilet dan berlari menuju ke ruang guru setelahnya.

Anehnya, di sana sudah ada ketiga anak perempuan yang kemarin melabrakku. Sungguh, perasaanku menjadi tidak enak.

“Kana, kemari,” ucap Yoriko-sensei.

Aku pun menghampiri dan kemudian duduk di kursi yang kosong.

“Saya mau tanya, betul Kana dan Aqua mencelakai Meiya?”

Mataku membelalak tak percaya, sungguh ini adalah fitnah paling kejam yang pernah aku terima.

“Saya berani bersumpah, Sensei. Seujung jari pun saya gak ada menyentuh dia.”

“Tapi itu tangannya dibalut perban loh, lalu katanya Aqua juga jadi ikut-ikutan mengancam mereka gara-gara belain kamu. Gimana? Bisa jelaskan?” ucap Yoriko-sensei dan perempuan yang tadi disebut-sebut sebagai Meiya pun mengangkat tangannya yang terluka.

“Demi apa pun, itu 'kan luka karena dia jatuh sendiri, kenapa dia jadi menuduhku bersama Aqua?” batinku.

Sensei, luka itu dia dapat karena tersandung kaki temannya, bukan karena saya. Sensei boleh panggil Aqua sekarang deh, Aqua juga lihat langsung, kok.”

Dan tak lama kemudian, Aqua pun datang. Aqua juga menceritakan segala kronologi yang terjadi. Tanpa aku sadari, ternyata Aqua juga mempunyai rekaman suara dari kejadian kemarin. Tentu hal itu diperdengarkan dengan seksama oleh Yoriko-sensei dan senyuman yang tak biasa akhirnya terpampang nyata di wajahnya. Dari sudut mana pun, aku tahu bahwasanya Yoriko-sensei sedang marah besar karena dibohongi oleh siswi-siswinya sendiri.

“Meiya, Mimi, Minami; besok minta orang tua kalian datang ke sekolah, ya. Saya tunggu sampai jam satu siang, kalau mereka tak datang, kasus ini akan saya bawa ke Dewan Sekolah, saya khawatir tak akan ada sekolah lain yang mau menerima kalian sebagai siswa pindahan karena sebentar lagi ujian masuk universitas akan diselenggarakan,” ujar Yoriko-sensei tegas.

Mereka bertiga hanya menunduk, malu tentu saja. Yoriko-sensei akhirnya mengizinkan aku bersama Aqua untuk meninggalkan ruang guru terlebih dahulu.

Sumpah aku sedih, baru kali ini aku merasa seperti orang lemah. Baru kali ini aku dihadapkan dengan situasi yang begini. Aku akhirnya melangkahkan kaki menuju ke rooftop untuk menenangkan diri. Persetan dengan jam pelajaran selanjutnya, pikiranku sangat kacau. Bagaimana kalau tak ada Aqua saat kejadian itu berlangsung? Bagaimana kalau Aqua tak merekam segala perbincangan yang terjadi? Bagaimana kalau Aqua tak mau memberi kesaksian dan membelaku semacam ini? Bagaimana …? Aku harus bagaimana? Astaga Tuhan ….

Air mataku menetes begitu saja saat aku sudah melewati berpuluh anak tangga dan membuka pintu yang langsung membawaku untuk melihat langit dari bagian gedung tertinggi di sekolah ini.

Aku tak menyadari jikalau dalam perjalananku kemari, aku diikuti oleh lelaki yang sudah berjasa untuk menjadi saksi dari kasus yang bahkan bukan aku yang memulai.

“Lo berhak sedih, lo berhak kecewa. Tapi jangan-lama,” ucapnya.

Aku yang berdiri memunggunginya, sontak terkejut dan langsung membalikkan badan dengan menghapus tetesan air mata yang sempat membasahi pipiku.

“Lo ngapain ngikutin gue sampai ke sini?”

“Gak apa-apa, pengen aja. Gue juga baru pertama kali ke sini, ternyata di sini sejuk, ya?” ucapnya sambil berjalan ke sisi lain, seolah meneliti apa yang bisa ditemukan di rooftop ini.

“Ini tuh tempat pelarian para siswa, cuma gak semua siswa juga mau capek-capek naik tangga ke sini.”

Aqua pun mengangguk sebagai respons dari ucapanku.

Sejak hari itu akhirnya Aqua selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Ke toilet, ke perpustakaan, ke ruang guru, ke kantin, literally ke mana pun. Sampai aku merasa kesal. Belum lagi sifatnya yang mulai terang-terangan memberikan Yakult serta catatan kecilnya berisi ucapan permohonan maaf, ajakan berteman, dan juga ucapan semangat.

“Aqua!” teriakku di lapangan bola, “Lo tuh kenapa, sih?”

Aqua mengernyitkan dahi dan balik bertanya, “Emang gue kenapa?”

“Ya lo tuh ngapain jadi ngikutin gue ke mana-mana? Terlalu gabut atau apa sih lo?!” ucapku sambil bersedekap.

“Bukannya gue udah bilang cuma gak mau lo kenapa-kenapa? Ya sekalian minta maaf karena udah selalu ngerepotin lo buat ngajarin gue belajar, sama gue pengen matahin omongan Meiya dan kawan-kawan kalau yang caper itu bukan lo, tapi gue. Jadi, ayo temenan sama gue, masa tetanggaan gak mau temenan?”

Aku memutar bola mataku malas. Tapi, dalam hati aku sedikit merasa senang. Hanya saja aku tak pandai mengekspresikan rasa senangku ini. Entahlah, aku masih gengsi, sepertinya.

“Ya udah, ya udah. Ayo temenan! Lo cringe, sialan! Capek gue diikutin lo mulu!”

Aqua pun tertawa terbahak mendengar responsku, lantas aku pun tertawa bersamanya ditemani dengan teriknya matahari dan kicauan burung sebagai peramai suasana.

Hari itu, kami resmi berteman.

 


Part IV. Apakah suka?

 

HARI demi hari akhirnya aku lalui selayaknya pelajar kelas dua belas semester akhir pada umumnya, hanya saja kali ini hidupku sedikit lebih berwarna. Aku tidak lagi makan malam seorang diri, aku tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, dan aku pun tak lagi harus menggedor-gedor tembok untuk menenangkan tetangga unit sebelah.

Katakanlah Aqua telah insaf dan tak memiliki niat untuk kembali bertengkar denganku. Jika dipikir-pikir aneh juga, mengapa aku harus seemosi itu kepadanya? Mengapa aku harus berlagak seperti orang yang membencinya? Mengapa aku harus menjauhinya?

Padahal yang Aqua lakukan kepadaku bukanlah hal buruk yang dengan sengaja ia lakukan. Bisa saja ia tidak tahu jikalau apartemen ini tidak memiliki perlindungan suara yang bagus sehingga ia tak kepikiran bahwa tindakannya memalu paku di tembok saat malam hari akan mengganggu orang lain, begitu pula dengan suara musik yang entah apa dan sangat memekakkan telinga. Untuk perkara tendangan bola, justru itu murni karena kecelakaan, bukanlah tindakan sengaja. Bahkan gara-gara itu pula aku jadinya bisa menikmati daging sapi yang rasanya sangat nikmat dan belum pernah kucicipi sebelumnya.

Kemudian ia yang selalu memberikanku Yakult serta catatan-catatan kecilnya. Sangat niat sekali untuk melakukan permintaan maaf dengan cara semacam itu, sehingga kini aku menyadari bahwa Aqua adalah lelaki yang terlampau baik dan juga polos. Sudah tahu tak mengerti, tapi tak mau bertanya. Sudah tahu tidak bisa, tapi malah pasrah saja.

Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya malah aku yang keterlaluan, aku tidak menghargai usahanya untuk berteman denganku selama ini. Namun, jujur saja, kini aku mulai nyaman dengan kehadirannya di sisiku. Aku bahkan sampai membatin, “Bagaimana jadinya bila tak ada Aqua?” Mungkin kehidupanku sangatlah monoton, begitu-begitu saja.

“Woy, melamun mulu lo!” ucap Aqua.

“Siapa juga yang melamun!”

“Cih, jelas-jelas dia yang melamun. Btw, lo bosen gak sih makan dengan lauk sesuai selera gue?”

“Biasa aja, malah gue keenakan. Hahaha, canda. Tapi lo jangan kayak gini sama banyak orang ya, Aqua. Nanti malah lo dimanfaatin orang.”

“Gak sama sembarang orang juga kali. Lo doang. Tapi serius deh, biasanya lo makan pake apa?”

“Hmmm … ya gue sih makan pake piring lah!”

“Ya elah, kalau gue ya pake nasi!”

“Sialan! Terus menurut lo yang ada di bumi ini duluan telur atau ayam?”

“Kalau dari logika gue sih ayam, gimana ceritanya telur bisa ada kalau induknya gak ada?”

“Eiyy~ Tapi, gimana ayam itu bisa ada kalau bukan dari telur duluan?”

“Ih tau, ah. Pusing gue, Kana.”

Dan, kami pun akhirnya tertawa bersama. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Aqua pamit pulang ke unitnya. Ia bilang kalau harus workout dulu sebelum tidur, kalau enggak badannya bakal sakit dan kaku.

Selepas kepergian Aqua, aku pun mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian menjadi piama. Kemudian aku menarik selimutku sembari merebahkan tubuh ke kasur.

“Setelah diingat-ingat, gue tuh goblok banget, ya? Bikin malu aja, terutama perkara uang saku yang hilang pas hari pertama Aqua masuk sekolah. Gue udah nuduh-nuduh dia, tahunya malah ketinggalan di sudut meja pantri dan lupa gue masukin ke dompet karena banyak uang receh kembalian dari minimarket, hahahaha. Tolol banget.”

 

♡♡♡

 

Aku yang biasa pulang dan pergi ke sekolah naik kereta, akhirnya kini malah sering menumpang dengan mobil yang dikendarai oleh asisten ibunya Aqua, tentu saja bersama Aquanya juga.

Pada awalnya, pandangan orang-orang terhadapku itu agak aneh, seakan mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa aku menjadi sedekat ini dengan Aqua, termasuk dengan Melt dan kawanannya. Namun, karena Aqua sudah menjelaskan segala yang terjadi kepada mereka, akhirnya ya mereka biasa saja. Bahkan aku pun baru mengetahui kalau mereka berlima sudah berteman sejak TK. Hanya saja, saat kelas tiga SD, Aqua harus ikut orang tuanya pindah ke Los Angeles (sebelum mereka resmi bercerai) dan juga demi urusan bisnis yang masih berlangsung hingga saat ini.

Aqua juga bercerita kepadaku bahwa menjadi sutradara film memanglah impiannya sejak lama, dan untungnya kedua orang tuanya tidak memaksakan kehendak untuk menjadikan Aqua sebagai pewaris tahta usaha keluarga atau meniti karier sebagai artis seperti yang sang ibu, Hoshino Ai, lakukan. Hanya saudara kembarnya, Ruby, yang mengikuti jejak sang ibu.

“Kana, kayaknya gue gak bisa pulang bareng lo hari ini. Gue dapat panggilan dari sutradara Gotanda, ada hal penting katanya,” ucap Aqua saat bel pergantian pelajaran berbunyi.

“Oke, santai aja. Gue juga udah lama gak naik kereta, hehe.”

“Hati-hati ya lo pulangnya.”

“Ya elah, gue bukan anak kecil. Inget, gue ini mantan atlet Judo!”

“Iya, iya,” Aqua tersenyum. “Gue pamit, ya.”

“Iya, hati-hati!”

“Oke.”

 

♡♡♡

 

Malam harinya, tiba-tiba saja bel pintu unitku berbunyi. Aku mengintip terlebih dahulu dari layar interkom, yang ternyata menampilkan Aqua dengan hoodie hitam favoritnya. Lantas aku membuka pintu dan menyapanya, “Hey!”

“Hai,” balasnya kaku.

“Kenapa lo pencet-pencet bel unit gue?”

“Nih,” ucap Aqua tiba-tiba sambil menarik tanganku untuk menerima sesuatu darinya.

Aku akhirnya mengangkat tanganku dan melihat benda apa kiranya yang ia berikan. Di sana terpampang tulisan “Advance Screening”; setelah kubaca dengan seksama, itu adalah tiket untuk menonton tayangan perdana dari sebuah film yang akan ditayangkan satu minggu dari sekarang.

“K-kenapa lo ngasih tiketnya ke gue?”

Aqua pun menggaruk tengkuknya. Kemudian ia berkata, “Harusnya itu buat ayah gue, tapi beliau gak bisa datang karena hari ini aja baru pulang lagi ke Los Angeles, ada meeting penting yang gak bisa diwakilin, katanya.”

Aku pun mengangguk paham. “Jadi, lo ngasih ini ke gue supaya gak mubazir gitu?”

“I-iya, anggap aja begitu.”

Aku mengangguk lagi walau tak yakin. “Ya udah, gue bakal usahain buat kosongin jadwal gue supaya bisa datang.”

Thanks ya, Kana. Nanti kita bisa berangkat bareng kalau jadwal lo memungkinkan.”

“Eiyy, gue yang harusnya berterima kasih. Harusnya lo ngasih tiket begini ke orang yang emang spesial buat lo. Gue berteman sama lo aja masih hitungan minggu, belum lama. Tapi serius, makasih.”

Aqua sempat terdiam mendengar ucapanku dan kemudian ia berkata, “Pertemanan yang tulus itu gak mandang berapa lama lo berteman sama dia. Tapi, rasa percaya, rasa nyaman, dan juga perasaan yang bikin lo tetap bisa menjadi diri lo sendiri, itu yang utama. Menurut gue, semua itu ada di diri lo. Gue malah senang berteman sama lo, meski gue udah cukup nyusahin lo juga selama ini. Thanks udah menerima kehadiran gue, ya, Kana.”

Aku rasanya tak sanggup berkomentar banyak dengan segala hal yang Aqua ucapkan, sehingga aku hanya bisa berkata, “Berisik lo! Mulai deh cringe! Malesin. Dahlah mandi sana! Keringetan gitu, mana tadi lo megang-megang tangan gue lagi, duh.”

Aqua pun tertawa mendengar responsku. Dan, seakan terhipnotis, aku juga ikut tertawa bersamanya.

 

♡♡♡

 

Semalaman aku jadi tak bisa tidur dengan nyenyak, karena di kepalaku berputar-putar kalimat yang Aqua ucapkan tepat di depan pintu unitku sambil memberikan tiket Advance Screening dari film yang pernah ia sunting, dan pada akhirnya kupandangi terus-menerus.

Aku terheran dengan sifat baik yang Aqua tunjukkan kepadaku selama ini. Sebenarnya Aqua itu kenapa? Sumpah, dia terlalu baik padaku. Apa itu hanya karena rasa bersalah dari hal yang lalu-lalu atau bagaimana? Semisal Aqua melakukan itu semua hanya karena rasa bersalah, menurutku itu sangat berlebihan. Aku bukanlah siapa-siapa untuknya, tentu tak berhak untuk mendapatkan perlakuan baik sebegini niatnya.

“Aqua, pada akhirnya gue ngerasa nyaman sama lo setelah kita berteman kayak gini. Lo terlalu baik bahkan untuk dijadikan teman. Tapi, gue beneran berharap lo ngelakuin ini bukan karena rasa kasihan akibat perlakuan Meiya dan teman-temannya ke gue. Gue bakal sedih banget kalau ternyata lo ngelakuin ini semua karena itu. Sumpah, gue jadi gak bisa tidur karena semalaman mikirin ini, tapi kayaknya gue jadi ngerasa suka sama lo. Suka sama eksistensi lo di sisi gue, suka karena lo tetep bikin gue jadi diri gue sendiri, sesuai kata-kata lo; gue gak merasa berubah sedikit pun, bahkan lo tetap memaklumi gue yang blak-blakan kayak gini. Aqua … gue suka sama lo!” batinku.

Tiba-tiba saja suasana di kamarku menjadi ramai karena nada jam beker yang bersahut-sahutan dengan nada alarm dari ponselku. Pikiranku tentang rasa suka terhadap Aqua pun buyar begitu saja. Lantas aku terduduk di pinggiran ranjang, mematikan semua alarm dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke sekolah.

Seperti pagi yang biasanya, aku berangkat ke sekolah bersama dengan Aqua. Duduk berdua di jok belakang mobil, bersebelahan. Tak ada yang berbeda. Aqua di sebelah kanan dan aku di sebelah kiri. Namun, kini yang tak biasa adalah hati dan pikiranku sendiri, sehingga hal tersebut memicu degupan jantung yang jadi tak menentu.

Biasanya aku bukanlah orang yang impulsif, jikalau aku emosi, aku masih bisa memikirkan alternatif atau jalan untuk keluar dari kondisi yang semacam ini. Namun, kali ini aku tak lagi bisa berpikir dengan jernih. 

Selama jam pelajaran berlangsung, aku menjadi tidak fokus, sehingga yang kulakukan adalah izin ke ruang kesehatan. Untungnya saja guru pengampu memberikan izin karena wajahku pun terlihat sangat pucat sekali, katanya. Ya jelas saja, ini semua karena aku terjaga semalaman memikirkan perasaan yang entah nyata atau tidak kurasakan.

Ketika jam istirahat tiba, akhirnya Aqua datang menghampiriku. Ia juga membawa dua kotak makan siang beserta dua botol air mineral. Aku yang baru terbangun dari tidur sedikit kaget ketika melihat keberadaannya di sisi ranjang.

Ia kemudian membantuku untuk duduk bersandar dan menyerahkan botol air mineral terlebih dahulu.

“Lo oke?” tanyanya.

Aku yang sedang menikmati minum pun hanya meresponsnya dengan gestur ‘oke’ menggunakan jari tanganku. Selanjutnya ia memberikan kotak makan siang yang tadi dibawa dan kami menikmatinya dalam diam.

Sepanjang hari itu, aku hanya terdiam dan Aqua tak bertanya apa pun, seakan menunggu saat yang tepat untukku bercerita secara langsung kepadanya. Namun, aku bersyukur, karena aku bisa mengendalikan logika dan perasaanku … setidaknya untuk sekarang.

 

♡♡♡

 

Hari pemutaran film pun tiba, kini aku sudah berada di kursi penonton sesuai dengan nomor tiket yang ia berikan. Rasanya asing untukku menghadiri event semacam ini, yang mana para pemeran dari filmnya pun turut serta menonton dan melakukan acara jumpa penggemar sebelum film resmi diputar. Sungguh aku heran dengan apa yang dipikirkan Aqua saat ia memberikan tiket ini padaku.

Bagaimana tidak? Alasannya hanya karena takut mubazir. Padahal bisa saja ia memberikannya kepada Melt, Sakuya, Kumano, ataupun Kengo selaku sahabat dekatnya sejak lama. Aku jadi merasa sangat spesial.

“Kana bodoh! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Hmm … tapi gimana, ya? Kata-kata Aqua itu menghantui terus,” batinku.  

Mungkin saat ini wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus, sumpah aku jadi malu sendiri ketika aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Aqua juga menyukaiku. Tapi, sungguh aku harus memastikannya sendiri. Aku harus tahu perasaan Aqua terhadapku itu bagaimana. Semisal Aqua tak menyukaiku, maka aku akan mundur dan menerima penolakannya dengan ikhlas. Lebih baik aku sakit hati sekarang daripada nanti. Lebih baik aku menerima kenyataan pahit ketimbang merasakan bahagia yang semu. Lebih baik aku mencobanya terlebih dahulu daripada aku terlalu nyaman, padahal dia hanya menganggapku sebagai teman. Lebih baik, ya ... lebih baik begitu.

Seratus dua puluh menit pun berlalu ditambah dua puluh menit selanjutnya untuk Aqua berpamitan dengan seluruh kru, dan menemuiku di kafe yang berada di dekat pintu keluar mal. Sedari tadi, aku berpikir bahwa mungkin inilah saat yang tepat untukku jujur mengenai perasaanku, mungkin inilah saat yang tepat untukku memperoleh jawaban dari segala kegundahanku, mungkin inilah saatnya bagiku melepaskan kepergian Aqua jikalau ia memang akan menolakku.


“Baiklah … semangat!” ucapku pada diriku sendiri.

Setelah menyesap habis teh manis yang kupesan, Aqua pun datang menghampiriku. Dahinya terlihat berkeringat, sepertinya ia berlari terburu-buru agar aku tak menunggu terlalu lama.

“Anak baik,” batinku.

“Maaf lama, ya,” ucapnya.

“Santai aja. Mau minum dulu gak?”

“Boleh deh. Mocha float, ya.”

Aku pun mengangguk dan menghampiri meja pesanan. Setelah minuman milik Aqua siap, aku kembali ke mejaku semula dan kami bercengkerama seperti biasa.

Lalu saat aku sudah merasa cukup untuk berbasa-basi, langsung saja aku berkata, “Aqua bisa ikut gue sebentar gak ke sebelah sana?” Sembari menunjuk tembok yang berhiaskan gambar-gambar buatan komunitas seni di Tokyo.

Lantas aku berdiri dan Aqua pun mengikuti, tanpa banyak bertanya, sama sekali. Aku meremas-remas garis jahitan rokku sendiri selama berjalan. Kemudian aku melemaskan jemariku, menghela napas, dan mulai membalikkan badan ke arahnya.

Aqua berdiam diri di tempatnya, memandangku dengan raut wajah yang keheranan.

“Oke, dengerin baik-baik apa yang mau gue sampein ke lo saat ini, ya. Jadi, gue gak bakal ngulang ini dua kali, gue—sumpah gue sebenernya males banget ngomong gini. Tapi, gue suka sama lo. Ya kalau lo gak suka sama gue sih gak apa-apa, paling entar lo-nya aja yang nyesel. Gue gak rugi sama sekali, kok. Tapi kalau mau nolak sekarang bilang ya, gue mau siap-siap nginep di apartemen temen gue dulu seminggu, buat nenangin diri, dan lo kalau nantinya gak mau temenan sama gue lagi ya itu sih hak lo. Sorry, if I cross the line."

Aku masih saja sibuk komat-kamit dengan kalimat pengandaian jika Aqua mau meninggalkanku dan sebagainya, diiringi dengan tawa yang muncul begitu saja dari mulutnya. Sumpah aku terdiam, tepat ketika Aqua berkata sambil tersenyum, “Iya, gue juga suka sama lo.”

“ANJIR, DEMI APA? GUE UDAH PACKING BAJU GUE SEBAGIAN!”

Aqua pun makin tertawa mendengar penuturanku dan kemudian ia mengusap-usap kepalaku dengan lembut. 

“Emang mau ke mana? Gak boleh pergi jauh-jauh, ya.”

Ish, ngeselin lo!”

“Tapi, lo suka?”

“Kampret!”

 

♡♡♡

 

Kabar mengenai hubunganku dengan Aqua entah mengapa langsung merebak begitu saja di lingkungan sekolah. Tak diketahui dengan pasti siapa biang keroknya. Untuk sesaat, aku memilih bodoh amat dengan segala pemberitaan yang beredar. Namun, lama kelamaan aku menjadi insecure sendiri, padahal akulah yang menyatakan cinta duluan kepada Aqua, bukan sebaliknya.

Ada sedikit penyesalan dari tindakanku yang begitu gegabah seperti ini. Harusnya aku menyadari, lebih dari harus, karena aku dan Aqua berada di dunia yang berbeda. Orang tua Aqua adalah pengusaha dan artis kelas dunia, Aqua adalah asisten sutradara; sedangkan aku dan keluargaku hanyalah orang dari kalangan biasa, bukan siapa-siapa.

Sungguh aku tak ingin membuat Aqua malu dengan status keluargaku yang begitu, sungguh aku tak ingin membuat Aqua malu memiliki hubungan denganku. Sungguh … sungguh aku tak bermaksud begitu.

Sekelebat pembicaraan para siswa di sekolah yang kudengar saat aku sedang berada di dalam bilik toilet; membuat hatiku terasa sakit, membuatku merasa seperti orang bodoh, membuatku merasa seperti orang yang hina.

Selama di sekolah, ketika Aqua tak ada di sampingku, ketika Aqua harus pergi untuk dispensasi karena pekerjaan, aku hanya berdiam diri di kursiku sambil menidurkan kepalaku di atas meja.

Tok … tok … tok ….

Ketuk seseorang pada mejaku. Akhirnya aku mengangkat kepalaku dan melihat siapa orang yang berani mengganggu ketenanganku. Ternyata dia adalah Kengo.

Kengo kemudian memberikan sebuah amplop kepadaku. Aku terheran dan Kengo berkata, “You will know,” serta berlalu begitu saja.

Aku akhirnya membuka amplop tersebut dan mulai membaca isinya. Sumpah, ini adalah tulisan yang selama beberapa waktu belakangan selalu kulihat, ini adalah tulisan dari sosok yang selalu mengisi hari-hariku. Tulisan yang mungkin setidaknya bisa menjadi pengganti keberadaan dirinya untuk saat ini.

Dear Kana,  

Halo kesayangannya Aqua, apa kabar? Lo kangen gue gak, nih? Hehehe… gue kangeeeeennn bangeeetttt sama lo. Mudah-mudahan pas gue dikasih libur, bisa cepet pulang dan nemuin lo di apartemen. Lo belum pindah apartemen, ‘kan? Awas aja kalau pindah gak bilang-bilang.

Btw maaf ya karena gue gak bisa selalu ada buat lo di saat tersulit atau terberat kayak yang lo alamin sekarang. Gue udah denger kabar semuanya dari keempat sahabat gue. Please, gue harap lo gak mikir macem-macem, ya. Gue sayang sama lo apa adanya. Lo yang blak-blakan, lo yang tsundere, lo yang sering ngatain gue cringe, lo yang begini tuh udah lebih dari cukup buat menemani keseharian gue yang mungkin terlalu monoton karena hidup gue terjadwal. Lo yang begini udah bisa bikin gue demen setengah mati meskipun sebenernya gerak gue lambat banget kayak keong, bahkan sampe lo duluan yang nembak gue. Tapi sumpah, gue bersyukur banget pindah lagi ke Jepang karena bisa ketemu lo, meskipun pertemuan atau perkenalan awal kita gak mulus, banyak cekcok gak jelas bahkan lo gak pernah ngasih gue kesempatan buat ngomong secara langsung dan nuntasin segala kesalahpahaman yang terjadi. Tapi, dengan serangkaian kejadian yang terjadi, gue tetep bersyukur, tentunya kepada Tuhan karena gue diberi kesempatan untuk bisa memulai kembali semuanya dari awal. Dari berteman, dekat, hingga akhirnya kita bisa pacaran.

So, Please … jangan terpengaruh pada apa pun karena gue sukanya sama lo, sayangnya cuma sama lo. 

Oh iya, mungkin lo bertanya-tanya, kenapa gue selalu ngasih lo Yakult dua botol sehari, kenapa gue selalu balas gedoran lo di tembok hampir tiap hari, kenapa gue selalu ngikutin lo tiap lo mau ke mana-mana. Bahkan mungkin lo udah sadar lewat perkataan-perkataan yang gue ucapkan saat gue bilang kalau gue gak mau lo kenapa-kenapa.

Awalnya mungkin ya karena rasa bersalah gue yang terlampau besar, tapi lama-kelamaan gue penasaran sama lo dan juga lo itu lucu kalau marah-marah ke gue. Rasanya gue kayak lagi ngegodain anak kecil dan beneran ngamuk gitu kalau diganggu. Maaf ya kalau gue kurang ajar. Tapi, itu semua gue lakuin karena emang penasaran. Cuma untuk sekarang kalau disebut karena rasa penasaran jatuhnya jadi kurang tepat, yang tepat adalah Semua itu kulakukan karena kusuka dirimu”. Ya, gue suka sama lo, suka banget sampe goblok, dan goblok banget karena gak tahu kapan harus bilang. Maafin gue untuk segala kekurangan yang gue punya ya, dan makasih banget karena lo udah berani nembak gue duluan, gue gak nyangka. Rasanya masih kayak mimpi. Tapi, gak peduli sih siapa yang nembak duluan, yang jelas perasaan kita saling terbalaskan.

Untuk saat ini, gue mungkin masih belum bisa menjanjikan banyak hal ke lo, tapi kita jalani aja bareng-bareng, ya. Saling percaya, itu aja kuncinya. 

I love you, Kana. Please stay with me, forever.

—your cringe boyfriend, Aqua

Tanpa sadar air mataku sedikit menetes di pipi, sumpah aku kesal sekali. Bisa-bisanya Aqua menulis surat semacam ini. Untung bahasanya masih pakai lo-gue, coba aku-kamu, aduh bisa nangis guling-guling aku dibuatnya karena terlalu baper.

Jadi, benar apa kata orang ... katanya jangan terlalu membenci orang lain, nanti malah suka. Kalau sudah suka mau gak mau harus jujur, 'kan? Daripada dipendam sendiri. Tapi, aku jadi panik saat mendengar jawaban:

"Iya, gue juga suka sama lo."

Dan, aku spontan jawab, "ANJIR, DEMI APA? GUE UDAH PACKING SEBAGIAN BAJU GUE!"

Eh, malah diketawain, untung sayang. Dasar pacar!

 

Fin.

 

Notes:

Thank you for reading 'till the end. Please let me know your thoughts on comment sections ^^