Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-27
Words:
1,817
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
28
Hits:
290

Ciuman Dari Masa Lalu

Summary:

Hanya cerita ringan soal kepercayaan jaman dulu, kepercayaan yang konyol namun sukses membuat wajah Thomas memerah jika dikaitkan dengan mimpinya.

Notes:

there's no beta read for this, i immediately post this after i finish wrote this sooo so not sorry if it's become weird lmao

hope you guys enjoy it

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Ratusan kilometer dari pelabuhan, kapal yacht yang tampak gagah itu melaju membelah lautan biru menuju Singapura. Angin menerpa wajah Kadek yang tengah mengemudi, fokus menuju pelabuhan negara tetangga. Ia memperhatikan sekitar. Tidak ada kapal yang mengejar di belakang mereka. Kondisi mereka aman, mereka berhasil kabur dari pengejar yang hendak menghabisi Thomas. Sungguh melegakan. Kadek menghela napas. 

Di kabin, Maggie menyortir beberapa dokumen yang sempat dibawanya. Dengan pena seadanya ia menandai beberapa paragraf. Membuat catatan tambahan di samping kalimat. Pengejaran itu tidak bisa membuatnya lengah sedikit saja. Ia harus tetap fokus. Kelancaran pekerjaan bosnya berada di tangannya. Satu kesalahan terjadi, habis sudah. Nyawa Thomas menjadi taruhannya.

Maka tidak heran jika Maggie hampir menyalak ketika Thomas menempelkan minuman kaleng dingin ke pipinya. Membuat fokusnya buyar. 

Thomas menyeringai melihat reaksi sekretarisnya itu. "Jangan terlalu tegang begitu, Mag. Bisa putus satu saraf otakmu kalau dipaksa bekerja seperti itu. Coba lihat ke dek sana, tidak ada satu pengejar di belakang kita." Ia meletakkan minuman kaleng yang dibawa ke atas meja di depan Maggie. Ia kemudian duduk di sebelah Maggie. Membuka minuman kaleng miliknya lalu menegaknya.

Maggie mendengus, menatap malas bosnya itu. Ia membuat jarak di antara dirinya dan Thomas. Penanya kembali membuat garis di atas kalimat. 

"Kita tidak tahu bahaya apa yang menanti kita di Singapura, Thom. Aku berjaga-jaga, jika urusan ini cepat selesai, aku meminimalisir tunggakan laporan yang akan kau minta nanti. Sebenarnya aku juga heran, kenapa sekarang di setiap tahun kau selalu saja dikejar? Kau tidak pernah begini sebelumnya hingga Nenek Lampir yang pertama itu muncul, lalu disusul Nenek Lampir kedua. Sepertinya dia menaruh kutukan terhadap pekerjaanmu." 

Thomas meletakkan minuman kaleng tadi diminum, di atas meja. Thomas tertawa, menggelengkan kepala. Astaga, sekretarisnya ini masih saja mengingat kejadian dua tahun lalu. Kepalanya menoleh ke Maggie.

"Kau salah, Mag. Singapura merupakan tempat teraman untuk mengonsodilasi kekuatan. Aku sudah menghubungi kenalanku di sana, dia petarung sejati sepertiku. Kau bisa percaya dengannya."

Maggie menghentikan gerakan penanya. Ia melihat Thomas. Pria itu tampak santai, tidak seperti kejadian yang menimpa pamannya bahkan klien politiknya. Kalau bosnya sudah sesantai itu, berarti kondisi mereka sekarang memang sedang aman.

"Omong-omong soal Nenek Lampir tadi." Thomas terkekeh. Ia tersenyum lebar. "Sepertinya dia memang menaruh kutukan terhadapku karena tidak mengajaknya makan malam." Thomas menoleh, menyengir ke sekretarisnya. Maggie memutar bola matanya. Ya, terserah.

Ia akhirnya menuruti perkataan Thomas. Ia meletakkan pena dan lembaran kertas yang dipegang. Tubuhnya ia regangkan. Minuman kaleng yang tak diacuhkan olehnya, diminum. Kemudian, Maggie menghela napas. Ia menoleh ke Thomas.

Dahinya mengernyit. "Kenapa kau memandangiku seperti itu?" 

Thomas memperhatikannya cukup intens. Hal itu membuat Maggie sedikit salah tingkah. Mata Thomas menatap Maggie lamat-lamat, penuh fokus terhadap sesuatu. Maggie mengecek keadaannya. Mencoba menemukan noda atau sobekan di jasnya. Namun, nihil. 

"Aku baru tahu ternyata kau memiliki tahi lalat, Mag," ujar Thomas, dia masih memandangi Maggie—lebih tepatnya tahi lalat di pipi Maggie. Ucapannya membuat tanda tanya wanita di sebelahnya membesar.

Maggie mengerjapkan matanya beberapa kali. Pria ini serius? Thomas memperhatikannya sangat serius hanya untuk sebuah tahi lalat?

Maggie mendengus, kembali menatap Thomas dengan malas. "Lalu, kenapa? Aku sudah menjadi staf bahkan merangkap menjadi sekretarismu selama beberapa tahun dan kau baru menyadarinya sekarang?"Ia memandang pria disampingnya tidak percaya sekaligus bingung. Maggie menggelengkan kepalanya. Kenapa bosnya tiba-tiba berceletuk hal absurd begini?

Thomas memperbaiki duduknya. "Well, Maggie, kau tahu sendiri seberapa sibuk diriku hanya untuk mengetahui fakta itu, dan lihat ternyata kau juga memilikinya di lehermu." Telunjuk Thomas terancung, menunjuk satu spot titik tahi lalat di leher Maggie. 

Maggie menutupi daerah leher yang dimaksud Thomas. Ia memberikan tatapan skeptis ke atasannya itu. Thomas beralih menatap Maggie. 

"What?"

Maggie mendengus. Oke, tenang Maggie. Isi kepala bosmu tidak sebrengsek itu walau dia laki-laki, batin Maggie. Ia menggeleng, menjawab Thomas. "Tidak ada." Ia mengambil kembali minuman kalengnya, meneguknya. 

Thomas mengedikkan bahu. Ikut mengambil minuman kalengnya. "Jangan khawatir, Mag. Kau staf tercantik di perusahaanku walau wajahmu ikut dipenuhi tahi lalat. Kau tahu kan tahi lalat merupakan standar kecantikan orang Eropa jaman dulu,."

Maggie melotot. Apa korelasinya? Demi mendengar kalimat Thomas barusan, Maggie ingin menimpuk pria itu dengan binder kertas di meja. Namun, ditahan. Maggie memilih tidak mengacuhkan kekesalannya, mendengus. Thomas tertawa kecil melihat reaksi Maggie. 

Lalu, gantian Maggie yang bertanya.

"Kalau begitu, apakah kau juga punya?"

"Tahi lalat?" tanya Thomas.

Maggie mengangguk.

"Ya, tentu saja ada. Tetapi, tidak sebanyak dirimu," ucap Thomas.

"Kau mengejekku?"

Thomas mendengus, ia menatap geram Maggie. "Dasar cewek, selalu melupakan pujian yang diutarakan kepadanya kemudian menyari kesalahan orang lain. Tentu sana tidak, Mag."

Maggie tertawa. Ia memperbaiki posisi duduknya, berhadapan dengan Thomas. Lengannya ditempatkan di atas punggung sofa, tangannya menumpu kepalanya untuk bersandar. "Oke. Kalau begitu, di mana saja letaknya?"

Thomas menirukan gaya posisi lengan Maggie. "Ada satu di punggung, satu di bahu dan satu lagi di pipiku."

"Sungguh? Aku tidak pernah melihat yang di pipi."

Thomas mengangguk, menunjuk letak tahi lalat yang di pipi. "Tidak terlalu di pipi, sih. Letak di dekat rahang."

Maggie tampak terkesima, mengangguk. Dia dapat melihat setitik spot hitam di antara pipi dan rahang Thomas. Spot hitam yang kecil, tidak heran Maggie tidak menyadari. 

Kemudian, Kadek datang. Ia mendatangi Thomas.

"Pak Thom, kemudi sudah saya atur menjadi otomatis. Kecepatan kapal stabil menuju perairan Singapura. Jika Pak Thom membutuhkan, saya akan berada di dapur, memasak makan siang."

Thomas mengangguk. "Terima kasih, Kadek—" Lalu, dia menyadari sesuatu. "Hei, ternyata kau memiliki tahi lalat juga di lehermu."

Kadek yang hendak balik badan menuju dapur terhenti. Ia memasang wajah bingung. Matanya mengerjap beberapa kali. Kadek mengangguk perlahan. 

Maggie menoleh ke Thomas, wajahnya mengernyit. Dia ikut bingung. "Kenapa kau hari ini tiba-tiba tertarik terhadap tahi lalat orang? Seperti tidak ada hal lain yang dapat membuat kau terpukau." 

Thomas menolah ke Maggie, masih dengan wajah terpukaunya. "Hei, ini penemuanku terbaruku, Mag. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, jadi mengetahui hal ini ternyata asik juga. Kau tahu, aku senang mengetahui beberapa hal soal staf-ku."

Maggie merubah sorot matanya, menatap Thomas dengan malas. Tidak habis pikir kembali dengan pemikiran atasannya itu. "Ya, mengetahui hal yang bodoh."

Kadek kembali mengerjapkan matanya. Ia akhirnya mengerti pembicaraan dua orang di depannya. "Apa Pak Thom dan Bu Maggie sedang membicarakan tahi lalat?"

Maggie beralih melihat Kadek, mengangguk. "Ya. Itu semua karena dia salah fokus melihat tahi lalat di wajah dan leherku. Padahal itu hal yang lazim."

"Tetapi, tahi lalat-mu banyak loh, Mag. Lihat, di lehermu ada dua titik dari sisi sebelah sini ternyata," ujar Thomas, terpukau kembali dengan penemuannya. Matanya sangat jeli mengetahui spot titik hitam kecil di leher Maggie.

 Sang sekretaris menoleh kepadanya, melotot. Ia merasa tersindir. "Apa maksud dari kalimatmu itu, Thom? Sebuah kode agar aku menamparmu?"

Suara tertawa kecil pecah di kabin itu. Thomas dan Maggie menoleh secara bersamaan. Kadek sedang tertawa. 

"Ah, maaf. Saya tidak bermaksud tertawa. Saya teringat omongan nenek saya dulu."

Thomas dan Maggie melirik satu sama lain kemudian menatap balik Kadek. Kadek yang memahami wajah bingung kedua orang di depannya, menjelaskan arti maksud kalimatnya.

"Nenek saya bercerita, dahulu tahi lalat sering dikatakan sebagai bekas tanda ciuman yang selalu diberikan belahan jiwamu di masa lalu. Ketika seseorang itu meninggal, bereinkarnasi kembali dan memiliki tahi lalat di tubuhnya, itu berarti dia mendapatkan bekas ciuman dari masa lalu."

Kabin itu lengang sejenak. Mata Maggie mengerjap. 

"Kadek, kau tidak perlu berbaik hati untuk menolong bos-mu dengan bercerita tentang mitos seperti itu. Terlebih soal tahi lalat merupakan bekas ciuman dari belahan jiwa masa laluku? Kumohon, itu memalukan, karena hampir semua tubuhku dijejaki tahi lalat." Wajah Maggie berubah sedikit memerah. 

Kadek tersenyum. "Maaf, Bu Maggie. Saya tidak bermaksud untuk menolong Pak Thom. Namun, kalau maksud cerita nenek saya benar, bukankah berarti kekasih Bu Maggie di masa lalu sangat mencintai Bu Maggie?"

Mendengar kalimat itu, Maggie menjadi sedikit salah tingkah. "Aku... tidak tahu, terlebih kalau benar reinkarnasi itu ada, kekasih di zaman yang mana satu yang mencintaiku sampai ciumannya membekas hampir diseluruh tubuhku. Zaman kegelapan?" Alis Maggie tertetuk. Ia menyampirkan anak rambut yang menjuntai di pipi—bentuk salah tingkahnya.

Thomas terkekeh, menoleh ke Maggie. "Tidak perlu terbawa emosi seperti itu, Mag. Tapi kalau soal semua itu benar, lihat sisi baiknya, kau beruntung. Lihatlah, aku hanya memiliki tiga tahi lalat di tubuhku. Kekasihku pelit sekali berarti menunjukkan rasa cintanya terhadapku."

Kadek berpendapat kembali. "Tetapi, kalau dipikir-pikir, milik Pak Thom tidak kalah menggemaskan dari milik Bu Mag."

"Eh?" Thomas beralih menatap Kadek.

"Ini hanya interpretasi saya, kalau dilihat dari tempat tahi lalat tersebut, belahan jiwa Pak Thom di masa lalu pasti orangnya susah didapat. Maksud saya, dia mungkin memiliki kepribadian yang pemalu namun tegas. Kemungkinan kekasih Pak Thom di masa lalu itu ingin menunjukkan cintanya ke Pak Thom, tetapi dia tidak bisa seterbuka Anda, jadi dia memilih tiga tempat di tubuh Anda untuk selalu cium."

Thomas mengerjapkan matanya. Terdiam. Suasana kabin lengang sejenak. Deburan ombak di luar samar-samar terdengar. Maggie menoleh ke Thomas, heran mengapa pria itu diam saja. Lalu, dia tertawa kecil saat melihat wajah Thomas yang memerah. Kadek tersenyum, menahan tawa. 

"Jangan dibawa serius, Pak Thom. Itu hanya interpretasi yang konyol." 

Maggie mengangguk, menyetujui kalimat Kadek. Ia kembali menoleh ke pria di depannya. "Well,  kalau pun persoalan mitos tahi lalat ini benar, milik Thomas memang menggemaskan." Kadek mengangguk.

Kemudian, Maggie melirik Thomas, tersenyum. "Kau setuju, kan, Thom?"

Masih dengan wajah memerah, Thomas melirik Maggie dengan geram. Ia mendengus, lalu beranjak dari duduknya. Melepas jas yang memeluk tubuh. Ia membuka ikatan dasinya. Tangannya membuka dua kancing kemejanya.

"Right, it is cute. My past lover was indeed so adorable. Thank you Kadek for explaining it to us and wow would you look at the time. Sebagusnya kau segera pergi ke dapur untuk memasak, Kadek. Aku akan berjaga di ruang kemudi." Thomas memberikan perintah dengan cepat. Maggie yang melihat sikap Thomas, menekukkan alisnya. Bibirnya sedikit menyeringai.

Kadek yang mendengar arahan terburu-buru itu, mengangguk sembari tersenyum. Dia menahan tawa kembali. "Tentu saja, Pak Thom." Kemudian, dia berbalik badan, berjalan menuju dapur. 

Tanpa basa-basi, Thomas segera pergi dari kabin. Meninggalkan Maggie sendirian. Wanita itu tertawa geli melihat sikap salah tingkah atasannya itu. Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Maggie menghela napas. 

"Dasar, Thomas." Ia tersenyum. Sekilas tadi Maggie sempat melihat daun telinga Thomas yang ikut memerah. Wanita itu terkekeh.

"Menggemaskan." 

Maggie lanjut merapikan barang-barang di atas meja, setelah itu beranjak dari sofa. Pergi ke dapur untuk membantu Kadek menyiapkan makan siang sambil membicarakan satu dua hal. Sedangkan, Thomas di ruang kemudi, pria itu sedang mengatur debar jantungnya. 

Ia menelan ludah berkali, menggigit bibirnya. Tangannya mengusap wajahnya. Sebuah kejadian dari mimpi berputar kembali di ruang memorinya.

Belakangan ini dia selalu memimpikan hal yang sama. Ia bermimpi bertemu Maggie, namun wajah sekretarisnya itu tampak sedikit berbeda. Wajahnya terlihat lebih anggun, tatapan matanya lebih lembut menatap Thomas di mimpi itu. Tidak tajam maupun judes.

Mimpi itu seperti sebuah memori beberapa puluh tahun. Latarnya kemungkinan di Eropa, tepatnya di Belanda. Dan, di mimpi itu ada satu kejadian yang membekas di ingatan Thomas. 

Maggie selalu mengecup pipinya sebelum berpisah. Ciuman itu selalu mendarat di antara rahang dan pipi Thomas, pas di tempat spot titik hitam berada di wajahnya sekarang. 

 

 

Notes:

thank you for reading this fic, hopes you guys like the ending