Work Text:
Minggu siang.
Wina menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri di depan cermin kecil yang ia pegang, satu tangan lainnya mengelus Tofu—kucing yang berada di pangkuannya, lalu sesekali menggaruk sesuatu yang terasa seperti komedo di lekuk hidung menggunakan kelingkingnya.
Libur dan tak ada pekerjaan lain, ia berniat menghabiskan waktunya dengan menonton acara kesukaannya siang itu: Spongebob Squarepants, selepas pulang dari gereja melakukan ibadah bersama Papi.
Bruk.
Dan, oh, adiknya juga.
Jowen datang dan menjatuhkan kepalanya di paha kakaknya begitu saja. Sedetik membenarkan posisi tidurnya di sofa, lalu meringkuk menenggelamkan wajah.
Wina tetap bergeming. Sama sekali tak terusik dan masih sibuk dengan wajahnya. Yang sudah sempurna tanpa cela. Ia kini memasukkan kelingkingnya begitu saja ke lubang hidung, mencari kotoran di sana.
Kucingnya yang tadi pulas tertidur kini menguap lebar-lebar. Meregangkan kedua kaki depannya lalu beranjak pergi. Membuat Jowen membetulkan posisi kepalanya yang berada di paha kakaknya.
Wina usai dengan kegiatan mengupilnya, lalu mencondongkan badannya ke depan, berusaha meraih tisu. Membuat kepala adiknya tergencet oleh dadanya.
Selanjutnya, ia menaruh tisu bekasnya membersihkan jari di meja bersama beberapa bungkus snack yang baru ia makan. Wina kembali fokus menonton televisi.
Tangan kirinya kini meraih rambut adiknya, mengelusnya pelan. Keduanya masih belum mengeluarkan satu kata pun. She’s quite used to her clingy little brother. Pemandangan seperti ini, sudah amat wajar ditemui di kediaman mereka.
Tangannya beralih ke pipi dan leher adiknya, Wina lalu merasakan suhu badan Jowen sedikit lebih hangat dari biasanya. Setelahnya, ia baru menyadari suara-suara khas yang adiknya buat daritadi.
“Kamu sakit weng? Anget badannya.”
“Gak.” Jowen menjawab cepat, sedikit terdengar ketus.
“Itu srat srot, pilek?”
“Abis main sama Molly.”
Nama kucing peliharaan mereka yang lain. Jowen alergi terhadap bulu kucing.
Ia mempunyai batas waktu untuk berada dekat-dekat mereka dalam sehari, pun dengan syarat ada beberapa obat yang harus ia konsumsi untuk mengurangi gejala alergi yang muncul.
Wina hanya bergumam menanggapi. Matanya masih tertuju pada televisi. Not really cares about her brother. He knows the rules, he knows his limit. He’s not a 5 year-old. She doesn’t want to unnecessarily scold him over littlest thing.
Bunyi menarik ingus yang adiknya buat semakin intens. Kini disertai oleh batuk-batuk kecil. Okay, Wina can not just shrugged it off. Ia menunduk memperhatikan Jowen sesaat. Hidungnya sudah memerah.
Wina kembali memeriksa dahinya. Tak salah lagi, adiknya sedikit demam. Atau jika menurut Jowen, hanya demam. Ia mungkin akan menolak jika Wina memberinya beberapa butir ibuprofen saat ini. Dengan alasan ia hanya butuh tidur dan pasti esok pagi akan membaik dengan sendirinya.
Erangan pelan mulai tertangkap daun telinga Wina. Tanda ia harus mulai memperhatikan laju nafas adiknya. Masih stabil untuk saat ini.
“Kenapa...? Pusing?” Wina mulai merayu.
“Enggak.” Adiknya masih keukeuh.
Membuat Wina sedikit geli. Ia tertawa kecil. “Orang udah demam gini masih enggak-enggak kamu tuh....” She knows he’s a bit childish when he feels under the weather sometimes.
Her big baby.
“Hey,” Wina mencolek pucuk hidung adiknya, “minum obat terus bobo yuk?”
Jowen kembali mengerang sebagai penolakan dan semakin menenggelamkan wajahnya. Makin hangat Wina rasakan di paha kirinya kini.
“Jangan marah....” Suara Jowen tiba-tiba terdengar amat pelan.
“Marah? Kenapa kakak marah?”
Lagi, Jowen menarik ingusnya. Lalu menjawab, “aku main sama Molly.”
Wina sengaja membuat ekspresi berpikir sejenak. “Hmm ... I know? Terus kenapa?”
“Kakak mah gaakan marah kamu main sama kucing. Yang penting kamu mau minum anti-allergen-nya aja...,” tangannya masih mengelus rambut adiknya lembut, “atau kalo kamu mau pilih sakit, yaudah. Gak apa-apa juga. Kakak mah bebas kamu aja.”
Perkataan yang keluar dari mulut Wina barusan, meski amat lembut terdengar, sukses membuat Jowen menangis sejadi-jadinya dan mengerang memprotes.
“Kakak gak sayang sama aku ya?” ucapnya hampir tak terdengar jelas. Kedua matanya sudah memerah saat ia membukanya.
Melihat itu, Wina justru tergelak.
Oh, how to describe these emotions that she feels right now.
On one hand, she genuinely finds that funny. Seeing her brother bursting into tears over her words. On the other hand, she is happy. Seeing her brother feeling safe to be seemed fragile around her.
Though recently he has developed this small habit to ask for help everytime he needs it without feeling like a burden to his surroundings, Jowen still rarely does that. It’s hard for him to just let go of the thought that he is a burden. It can’t be done overnight.
So, seeing him being clingy and blatantly asking for her attention, now, makes her really happy. Thus, she is smiling- laughing ear to ear.
Baby steps, baby steps.
“Kok-“ Wina terbata di sela tawanya, “kok jadi gak sayang adek?”
Semakin ia tergelak, semakin tangis adiknya pecah. Maybe he feels embarrassed too, now.
“Jangan bilang kayak gitu....”
“Kayak gimana?”
“Jangan bilang terserah aku....”
Okay, Wina clearly get what’s her brother trying to say. He needs attention. He may chose to be scolded because it’s a sign that his sister cares about his health, rather than being okay with it.
But, damn, Wina just can’t help but to tease her very very very tsundere little brother now.
“That’s-“ Jowen mengelap ingusnya, “that means you don’t care about me....”
Tangisnya sudah mereda, namun ia masih sesenggukan. “Don’t be like that....”
“Hahahahaha.”
Merasa gemas, Wina mencubit kedua pipi adiknya dan menariknya ke atas dan bawah. Membuat Jowen yang berusaha berkata, “stop it,” semakin tak terdengar ucapannya.
Wina lalu melepasnya dan menangkup wajah adiknya yang sembab. Menatap matanya dengan lembut. Ia menghela nafas, “i love you. And I care about you more than anything.”
Berharap adiknya tak berbalik menertawai kalimat klisenya saat ini.
“You mean everything to me. Remember that.”
Jowen memutus kontak mata mereka dan hanya menarik ingusnya. Well, maybe this is the right time for Wina to say that. She’s glad.
“Boong.”
Or not.
Wina berdecak, lalu memukul kepala adiknya pelan. “Sana minum obat.” Ucapnya tegas memerintah.
“Liar.” Jowen tak mengindahkan ucapan kakaknya.
“You care about your pores more than me.” Ia merajuk dengan nada yang dibuat-buat.
Wina kembali tertawa.
“Bener sih,” katanya, “come here, let me see your face.” Wina mendekatkan matanya ke hidung sang adik. Lalu mengaduh kencang saat melihat tumpukan komedo hitam di sana.
“UGH.”
“UGHHHHHH.”
“Jorok banget adek gue!”
Yang dikatai hanya menggerutu dan kembali mengelap ingusnya.
“Anak siapa sih ini? Ga pernah diurusin Mamanya ya?” ucap Wina sarkas, mulai sengaja menaikkan nada bicaranya.
“Mamanya di mana?”
“Di surga.” Adiknya merespon kecil, lantas memalingkan wajahnya ke sisi kanan dan hendak memiringkan posisi tidurnya sebelum Wina tahan.
Kembali ia tertawa kecil. “Pake masker yuk? Kotor banget muka kamu teh, kayak gapernah dibersihin.”
While in fact, he has that no-far-from-her-genetic-glass-skin. It’s just, yeah, he’s got some black pores in his nose. Those are real, unlike Wina’s.
Detik selanjutnya, Wina perlahan menggeser kepala adiknya hendak beranjak. “Awas dulu sayang, kakak ambilin masker itu sama obat kamu juga.”
Jowen mengangkat kepalanya, Wina lalu meraih dua bantal sofa untuk menopangnya.
“Adek tadi minum obat pagi jam berapa?”
“Belom minum.”
“Ih. Ke gereja tadi gak minum obat kamu?”
Jowen tak menjawab, sadar ucapannya barusan termasuk alasan lain untuk kakaknya marah.
Namun tak disangkanya, Wina yang masih berdiri di sana hanya menghela nafas kasar. “Kakak literally teriak-teriak tadi pagi … adek sarapan dulu, minum obat dulu … for nothing? Gak kamu dengerin?”
Tak berani menatap wajah kakaknya, Jowen menggigit bibir bawahnya. He knows he’s in big trouble right now.
“Makanya jangan teriak-teriak, ngomong pelan-pelan aja,” he mumbles, “aku tau kok aku harus minum obat. For my own good.”
Didn’t realize his lips are already pouting.
Wina mulai berkacak pinggang. “Ya kamu udah tau responsibility aja masih harus diingetin, disuruh-suruh. Gimana-“
“I don’t.” Jowen memotong, looked at his sister dead in the eyes. “I remember when to take my meds, you don’t have to remind me.”
“Malah bikin males kalo disuruh-suruh.”
If a cat has 9 lives, Jowen has 12. For three more he gets on his sister’s nerves.
Okay, this kind of bicker, they have had almost every day. But nonetheless, hearing those words came out of her little brother’s mouth never failed to make her blood boils.
Though she’s well aware why she was reacting that way. It’s none other than her big ego that she spent her entire life tries to tone it down.
Kembali, Wina menghela nafas kasar. Berusaha membuang emosinya.
“Adek mau minum obat gak? Dadanya sakit gak?” tanyanya berusaha lembut.
Butuh beberapa detik untuk Jowen merespon, “nanti aku minum.”
That means he felt uncomfortable with his left chest. Feels tight he could barely breath, Wina guessed. Ia makin khawatir.
“Sama anti alerginya ya kakak ambilin.”
Wina lalu beranjak dari sana menuju lantai atas mengambil obat adiknya. Dan masker wajah, mungkin.
