Work Text:
“Jowen?”
Sebuah suara praktis mengejutkan anak laki-laki itu. Badannya berjengit kaget. Ia menghembus nafasnya kasar, bersiap memasang senyum palsu dan menoleh pada orang yang memanggilnya.
“Mau kemana?” seorang suster berperawakan ramping itu melanjutkan.
Jowen berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan groginya dan tersenyum senatural mungkin. Ia menunjuk sebuah pintu kayu kurang dari 2 meter jauhnya di depannya.
“Ke ... ruangan kakak, hehe.” Ia menjawab.
Butuh sekitar lima detik lamanya untuk sang suster memperhatikan gelagat yang ia rasa cukup janggal dari seorang pasien yang hampir semua orang di lantai 5 kenal itu.
Jowen Giovanne Mahardhika yang ia kenal memiliki pembawaan diri amat tenang, bahkan cuek. Jarang sekali ia tersenyum seramah ini.
Dan sejauh ingatannya, Dokter Wina tidak sedang di dalam ruangannya. Ia melihatnya tengah bersiap untuk memimpin sebuah operasi beberapa menit yang lalu.
Jowen seharusnya berada di ruang rawatnya, tidak keluyuran seorang diri mendorong-dorong tiang infusnya. Di mana suster yang bertugas menjaganya?
Setidaknya lebih dari satu kejanggalan ada di depan matanya saat ini, namun suster itu memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan orang lain. Terlebih mengingat siapa anak ini.
“Ooh...,” ia merespon, “hati-hati ya jalannya.” Lalu tersenyum sebelum meninggalkan Jowen akhirnya.
Spontan satu tangan Jowen mengusap dadanya kasar.
Kembali ia menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan tak ada orang lain yang mengenalinya lagi, sebelum perlahan melongok dari lubang pintu kantor kakaknya dan membuka knop pintu saat ia yakin tak ada orang di dalam sana.
Ia masuk dan menutup pintu itu. Tak membuang waktu, ia langsung menuju kabinet loker di dekat meja kerja kakaknya, membuka salah satu laci di sana dan meraih satu set scrub dokter milik kakaknya.
Melupakan kelip merah lampu indikator di pojok atas pintu, tanda kamera CCTV di ruangan itu menyala.
Setelah mendapat yang ia inginkan, Jowen kemudian menyembunyikan benda itu di dalam baju pasien yang ia kenakan, lalu kembali ke ruang rawatnya yang berada tepat di depan kantor kakaknya.
Tentu saja, seseorang sudah menunggunya di dalam sana.
Anak itu lalu membantu Jowen yang susah payah melepaskan pakaiannya untuk diganti dengan setelan scrub dokter, juga memakai masker kesehatan yang juga ia ambil dari ruangan kakaknya.
Selesai dengan temannya, ia kemudian melepaskan celana jeans dan kaosnya sendiri, lalu memakai jubah pasien milik Jowen yang baru saja dilepas.
Sementara, Jowen kini tengah mengatur selang infusnya sampai berhenti menetes, lalu berusaha melepas plester yang menempel di punggung tangan kirinya tempat infusnya tertancap.
Ia berhasil mengupas separuhnya, mengekspos kanula infusnya yang menusuk kulit pucatnya menembus saluran darah di tangannya.
Brian yang sempat melihatnya dari dekat lalu meringis. “Langsung ditarik aja gak sih?” komentarnya. Bodoh.
Jowen berdecak. “Sakit, anjing. Pelan-pelan aja.”
“Makanya, langsung ditarik kenceng aja.” Brian kembali merespon. Masih bodoh.
“Seumur hidup lo udah berapa kali diinfus?”
Brian berpikir sejenak, “satu.”
“Gue lima belas kali lebih berpengalaman dari lo. Diem.”
“Okay? Bad for you.”
Jowen tak menggubris temannya, ia menggigit bibir bawahnya bersiap menahan sakit dan perlahan menarik benda itu keluar dari kulit tangannya.
Mulut Brian terbuka dan meringis, matanya membulat sempurna dan alisnya terangkat seirama dengan Jowen mencabut jarum itu dari tangannya. Menyisakan lubang cukup besar di sana yang spontan mengucurkan darah.
Segera ia membuang jarum infusnya dan meraih kapas yang sudah Brian siapkan untuk menghentikan pendarahan di punggung tangannya.
Ia menekan tangannya yang terasa seperti terbakar itu untuk beberapa menit, sementara temannya berjingkrak dan mengepalkan tangannya seakan ikut merasakan sakit. He physically couldn’t handle it.
“Wait, seriously cuma satu?” Jowen bertanya di sela nafasnya yang terengah menahan sakit.
Brian menoleh padanya. “Yeah. Gue cuma pernah satu kali masuk rumah sakit seumur hidup.”
“Oh fuck off.”
Setelah Jowen pikir pendarahannya cukup mereda, ia mengganti kapasnya dengan yang masih bersih, lalu merekatkannya menggunakan plester untuk menutup lukanya.
“Udah, buruan.”
Brian bergegas menarik sebuah kursi roda yang sudah ia siapkan, melepas sepatu dan kaos kakinya sendiri lalu ia ganti dengan selop, kemudian mendudukkan dirinya di kursi roda itu.
Jowen mengambil dosis obat siangnya yang seharusnya ia minum, ia taruh dalam wadah kecil lalu ia masukkan ke saku bajunya.
“Masker lo, anjir.” Ia menyodorkan sebuah masker lagi yang kemudian temannya pakai.
“Gue gak perlu pake infus lo, nih? Ditempel aja gak sih?”
Jowen nampak menimbang sejenak, “gak usah.”
“Yaudah, oke.”
Dengan begitu, lengkap sudah aksi penyamaran mereka untuk berusaha mengeluarkan Jowen dari rumah sakit sebelum suster yang berjaga menyelesaikan kegiatan makan siangnya di kantin.
Jowen sengaja menyuruh partner-in-crime-nya itu datang pada jam makan siang. Selain karena ia akan punya alasan untuk mengusir sang suster dari ruangannya, juga akan memudahkan mereka membaur diantara orang-orang yang sedang membesuk pasien di sana.
Mengacaukan perhatian suster dan dokter yang lain saat mereka berjalan keluar.
Ia lalu membuka pintu kamarnya perlahan, sejenak memastikan keadaan sekitar lalu mendorong kursi roda itu keluar.
Menyusuri koridor panjang menuju lift yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk paling memungkinkan mereka ambil di lantai ini.
Yang sialnya, berada percis di depan nurse station.
Tangan kirinya masih terasa pegal. Ugh.
Jika bukan karena siaran premier film kesukaan mereka berdua—Minions—yang hanya tayang hari ini, ia tidak akan bersusah payah melakukan ini semua.
Jowen menarik nafas dan menegakkan bahunya saat ia hampir melewati nurse station yang penuh dengan orang. Sial.
Ia tetap berusaha rileks. Di sini ramai. Tenang.
Jowen melangkahkan kakinya pasti. Sesekali buat kontak mata secara tidak langsung untuk mengurangi kecurigaan. One second is enough. Jangan berpaling.
Ia sengaja menyipitkan matanya agar terkesan sedang tersenyum di balik maskernya saat seorang suster menangkap pandangannya. Sial.
“Dokter Jul,” sapa sang suster ramah.
Jul?
Julian?
Jowen hampir tertawa saat ia mengangkat tangan kanannya untuk menyapa balik dan terus melangkah melewati mereka, memasuki lift dan segera memencet tombol lantai dasar.
Beruntung, lift cukup ramai untuk ia menutupi tubuh jangkungnya sendiri. Ia lalu menekan hidungnya, masih berusaha menahan tawanya agar tak lepas.
Jowen sengaja menggunakan lift umum yang ramai digunakan, meskipun ada lift khusus VIP yang ia sendiri punya akses untuk menggunakannya. Akan lebih menarik perhatian suster jika ia masuk ke sana, tentu saja.
Dan ia tak mau mempertaruhkan nyawanya sendiri menuruni tangga darurat dari lantai 5, meskipun dapat dipastikan tak ada orang di sana.
Sementara itu, suster muda yang baru saja menyapanya itu masih memandangi pintu lift yang sudah tertutup.
“Dokter Julian keliatan lebih ganteng ya hari ini....” Ucapnya sendiri.
“Dokter Jul? Mana?” salah satu temannya yang berada di sebelahnya menyahuti heran, sesekali menengok arlojinya.
Ia pikir dokter Julian akan menjadi asisten Dokter Wina dalam operasi yang mungkin sudah berlangsung saat ini.
“Barusan lewat ... sama pasiennya.”
Suster itu mengikuti tangan temannya yang menunjuk lift, lalu memandangi pintu lift yang terbuka dan menutup, juga orang-orang yang lalu-lalang itu dalam diam.
Perasaannya tak tenang.
—
Cecilia Lasut, suster bertubuh tinggi dan gembul berwajah manis yang memiliki kesan teduh dan penyayang itu baru saja menyelesaikan istirahat siangnya, berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan mood yang amat bagus.
Naas baginya, perasaan bahagianya itu tidak akan bertahan lama.
Sesaat setelah membuka pintu kamar rawat inap satu-satunya pasien yang menjadi tanggung jawabnya itulah saat senyum di wajahnya perlahan memudar.
Jowen tidak ada di ranjang.
Kasurnya berantakan, sandal selopnya tidak ada, makan siangnya masih utuh namun obatnya sudah lenyap. Kedua matanya lalu bergeser, ia perlahan mendongak setelah melihat jarum infus Jowen menggantung bebas di sebelah ranjangnya.
Cecil masih berusaha untuk tenang.
“Jowen?” ia memanggil. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi mencari adik tunggal dokter spesialis yang cukup berbaik hati menaruh kepercayaan padanya itu untuk menjaga Jowen.
Kamar mandi kosong.
Sesaat ia mencari ke seluruh sudut ruangan itu sebelum akhirnya ia berlari keluar. Tujuan pertamanya adalah nurse station.
“Ada yang liat Jowen gak?” ia bertanya, nafasnya terengah karena berlari.
“Enggak....” Putri, suster muda yang beberapa saat lalu melihat Jowen namun tak menyadarinya itu menjawab pelan. Sedikit terkejut oleh temannya yang tiba-tiba datang dengan panik.
“Nggak lewat sini?”
“Iya, gue daritadi di sini.” Jawab Putri yakin.
Tak membuang waktu, Cecil lalu berlari menuju ruangan yang paling dekat dari sana: ruang istirahat dokter dan perawat. Ia membuka pintunya kasar.
“Ada yang liat Jowen gak?”
Dua orang mahasiswi kedokteran yang sedang magang di sana spontan menoleh dan menatapnya bingung.
“J-jowen siapa, Sus?” tanya salah satu dari mereka hati-hati.
Cecil menutup matanya dan membuang nafas kasar. Satu tangannya berada diantara alisnya, memijit dahinya pelan.
“Pasien VIP. Cowok, masih muda, tinggi. Segini,” Cecil menaruh tangannya jauh di atas kepalanya.
Kedua mahasiswi itu perlahan menggeleng.
“Ganteng.” Tambah Cecil, desperately.
“Enggak, Sus. Gak ada ... pasien ... yang masuk sini.”
Cecil menelan ludahnya, “enggak, dia sering dan boleh masuk kesini,” ia menekankan kata ‘boleh’ itu, “gak ada?”
“Enggak, Sus.”
Cecil mengangguk kecil dan pergi dari sana. Di sebelahnya, pintu ruang kantor Wina. Ia melongok dari jendela kecil di sana sebelum membuka pintunya dengan hati-hati.
“Permisi, Dok.” Ucapnya, meski tahu tak ada seorangpun di dalam sana.
Ia menyisir ruangan itu mencari pasiennya, namun nihil.
“Kemana sih itu anak,” monolognya sendiri. Sudah diliputi rasa khawatir.
Detik selanjutnya, ia berlari menyusuri koridor menuju bangsal pasien. Ia mengecek tiap ruangannya satu-satu dengan terburu-buru. Sesekali menanyai suster yang ia temui di jalan, juga memanggil nama Jowen.
Ia bahkan sampai memeriksa bangsal VIP yang lain, area luar ruang operasi dan ICU, menanyai suster yang berjaga di sana, hanya untuk kembali mendapat gelengan kepala dan jawaban yang sama: tidak ada yang melihat Jowen.
Sudah hampir seluruh sudut lantai itu ia kelilingi, Jowen tidak ada di manapun.
Cecil kembali ke nurse station.
“Kalian beneran gak ada yang liat Jowen sama sekali?” lagi, ia bertanya dengan putus asa.
“Gak ada, Sil. Sumpah. Masa gue bohong sih.”
“Lo liat ada orang yang masuk atau keluar ruangannya dari tadi?” tanya Cecil lagi.
Putri hanya menggeleng perlahan, “duh, gue gak perhatiin, Sil….”
Cecil menelan ludahnya pahit lalu menunduk dan membenamkan kepalanya di counter. Dapat ia rasakan keringat dingin mulai bermunculan di sekujur badannya. Ingin sekali ia menangis rasanya.
“Masa iya dia tiba-tiba ngilang dan gak ada yang liat sama sekali. Kalopun dia keluar pasti lewat sini, kan?” ia mengucap, suaranya hampir bergetar.
“Dari kapan dia ngilang? Lo dari mana emangnya?” kali ini Satya, nurse laki-laki itu mengeluarkan suara.
“Gue abis makan siang,” jawab Cecil, “tadi ada temennya....”
Kalimatnya sendiri, lalu membuat Cecil tersadar. Ia bangkit dan menjetikkan jarinya.
“Brian, ucapnya semangat, “lo tau Brian temen Jowen, kan? Ada yang liat dia gak?”
“Brian?” Putri mengulang.
“Brian yang mukanya galak itu?” Satya menyahut.
“Iya! Lo liat?”
Satya tampak berpikir untuk mengingat sejenak. Ia masih duduk dengan tenang di depan komputernya sementara Putri sudah berdiri sedari tadi.
“Brian....” Satya menggumam.
Sejurus kemudian satu tangannya terangkat seiring dengan matanya yang melebar, tanda sesuatu terbesit di ingatannya. Menyadari itu, bulu kuduknya spontan berdiri.
“Lo liat?!”
Tatapan Satya masih entah kemana meski matanya hampir melotot, mulutnya kini terbuka yang lalu ia bekap dengan tangannya sendiri.
“Lo liat di mana?!” Tanya Cecil tak sabar.
“Sil,” Satya menoleh pada Cecil dengan mata nanar yang hampir berair, “cari loker, yuk?” ucapnya gemetar.
“Apaan sih?!”
“Put,” Satya kini menengadah menoleh pada temannya, “yang lo kira dokter Jul itu, ITU JOWEN PUT. GUE LIAT BRIAN YANG DUDUK DI KURSI RODA.”
Putri yang bagai tersambar petir di siang bolong itu sontak terdiam. Mulutnya terbuka, kepalanya masih mengarah pada Satya namun tatapan matanya sudah kosong. Tengah berusaha mengingat betul-betul yang ia lihat.
“Bener,” ucapnya tak kalah gemetar saat ia akhirnya menyadari sesuatu, “bener, Sat ... Dokter Julian gak setinggi itu....”
Ika, perempuan yang sedari tadi berdiri di sebelah Putri dan menyaksikan mereka bertiga berbincang, menghela nafas panjang.
Firasatnya benar. Yang Putri lihat saat itu bukan dokter Julian.
Ia yang masih nampak paling tenang itu lalu memberi tahu Cecil kemana mereka pergi.
—
“Lo beneran OK?” Brian bertanya, sesaat setelah mereka mendapatkan seatnya dan duduk dengan nyaman di dalam bioskop itu.
“Santai. Lo gak akan diomelin kok.”
“Bukan kak Wina. Gue nanya lo gapapa?” Brian menunjuk temannya saat menekankan kata ‘lo’ itu.
“Gapapa. Gue bawa obat.”
Dengan itu, Brian akhirnya kembali menatap ke layar bioskop di depannya dan menyandarkan bahunya. Ia menghela nafas berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Okay, dia baik-baik saja.
—
Hampir empat jam berlalu. Di sinilah Cecil sekarang. Duduk dengan gusar di ruang tunggu operasi. Matanya terus melihat ke layar LCD kecil yang menunjukkan operasi sedang berlangsung.
Satya yang tadi sempat menemaninya karena juga merasa bertanggungjawab, kini sudah menghilang.
Sedikit yang ia tahu, teman laki-lakinya itu menemui masalah baru saat ia hendak kembali ke nurse station melewati ruang rawat Jowen.
Direktur Utama rumah sakit itu, atau kita panggil saja: ayah Jowen, kebetulan baru saja keluar dari sana. Spontan menghentikan Satya yang lewat.
“Jowen di mana ya?”
Dapat Satya rasakan kedua lututnya melunak.
Sementara, Cecil bangkit dari duduknya saat ia melihat informasi di layar itu bahwa operasinya sudah selesai. Segera, ia melangkah masuk area itu.
Kakinya berlari kecil menuju bagian belakang, langkahnya melambat saat ia akhirnya menangkap sosok perempuan cantik itu sedang mencuci tangannya di wastafel.
“Dok.”
Alis Wina terangkat, ia lalu menoleh. “Eh, Sil.”
Cecil tak langsung melanjutkan. Ia menghela nafas perlahan menyiapkan mentalnya sembari menunggu dokter itu menyelesaikan kegiatannya.
“Kenapa Sil?”
Setelah ia pastikan tangan Wina sudah kering, buru-buru ia meraihnya sambil menunduk hendak mencium tangan dokter itu. “Maafin saya, Dok,” ucapnya gemetar, “saya minta maaf.”
Terkejut, Wina spontan berusaha menarik tangannya kembali, lalu meraih bahu suster itu. “Eh, kenapa? Ada apa?” tanyanya.
Tertangkap di netranya wajah suster yang masih seumurannya itu sudah tak karuan. Ia mulai khawatir.
Dengan satu tarikan nafas pasti, Cecil akhirnya berkata, “Jowen kabur dari kamarnya, Dok.”
Kedua alis Wina refleks bertemu di tengah.
“Jowen kabur sama temennya, Brian. Saya gak tau mereka kemana.” Lanjut Cecil hampir menangis.
Bagaimana tidak, karirnya di rumah sakit itu selama bertahun-tahun kini bergantung pada anak itu.
Wina yang masih terkejut itu lalu mengambil ponselnya di saku baju dan menelepon Brian. Beruntung, panggilannya langsung anak itu terima kurang dari 10 detik.
“Lo di mana?” tanyanya tegas.
“Di rumah, kak.”
“Adek gue di mana?”
“Di rumah, udah gue anterin pulang. Kita cuma nonton bioskop tadi, gak aneh-aneh. Adek lo aman, kak. Tapi-”
Belum sempat Wina memproses informasi ala kadarnya itu, matanya menangkap figur sang ayah datang dari belakang Cecil dengan langkah cepat.
Spontan ia memutus panggilannya dengan Brian.
“Jowen di mana, kak?” tanya Papinya retoris, ia sudah mendengar sebagian dari apa yang terjadi dari Satya.
Wina merasakan hawa dingin mengalir dalam tubuhnya saat melihat wajah serius ayahnya.
Ia lalu mengangguk dan tersenyum kecil pada Cecil, berusaha membuatnya tenang dan memberi kode pada suster itu untuk menjauh dari sana. It’s okay, I got this. That’s what she wants to say.
—
Wina bergegas turun dari mobil ayahnya dan berlari masuk ke dalam rumahnya mendahului sang ayah. Tak melihat keberadaan sang adik di lantai satu, ia lalu naik ke atas menuju kamar adiknya.
Ia membuka pintu kamar adiknya yang tidak terkunci, lalu menemukan Jowen terduduk santai di sofa. Wina masuk, menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
Ia mendekat dan mendudukkan dirinya di sebelah Jowen.
“Kamu dari mana sih...?” ia bertanya khawatir. “Obatnya udah diminum?”
Jowen hanya mengangguk kecil lalu menunduk, tak berani mengeluarkan suara.
“Papi udah pulang, dia marah banget tau kamu kabur.” Wina melanjutkan dan membuang nafas kasar.
Detik selanjutnya, terdengar pintu kayu itu diketuk dari luar. Papi.
Adrenalin seketika mengalir dalam tubuh kedua kakak beradik itu. Wina beranjak membuka pintu dan mempersilakan ayahnya masuk.
“Eh, adek.” Suara Papi terdengar. “Kebetulan, Papi mau ngobrol sebentar bisa?”
Kebetulan? Who do you expect to see walking into my room, Pi? Jowen berkata dalam hatinya. Kini ia mengerti maksud kakaknya beberapa saat lalu.
Papi melangkah mendekat dan duduk di sofa single samping anak bungsunya terduduk. Sedangkan yang lebih tua mendudukkan dirinya di sebelah sang adik. Keduanya menatap karpet di kaki mereka.
“Kakak,” panggil sang ayah.
Refleks Wina sedikit mengangkat kepalanya, meski tak berani menatap mata ayahnya langsung.
“Pertanyaan Papi tadi belum dijawab, ya? Adek kok bisa hari ini udah pulang? Seinget Papi kamu bilang adek baru boleh pulang paling nggak Rabu. Ini baru hari Selasa, kan? Atau Papi salah lihat?”
Wina tak langsung menjawab. Dalam hatinya ia mengutuk ayahnya sendiri yang memang suka melontarkan ucapan sarkastik saat ia marah. She hates that.
“Memang sudah cukup recovery-nya adek?”
“A-aku gapapa kok....” Jowen memotong ucapan ayahnya dengan sedikit ragu.
“Papi nanya kakak.” Ucap ayahnya dingin.
Lantas membuat nyali Jowen makin menciut. Ia menggigit bibirnya. Punggung tangan kirinya bekas ia lepas secara paksa infusnya kini kembali terasa berdenyut.
“Belum.” Wina menjawab kecil. Suaranya terdengar lemah.
“Belum ... kalo belum kok bisa ya sekarang adeknya udah di rumah? Bisa jelasin ke Papi, kak?”
Melihat kakaknya juga tak berani berkutik di depan sang ayah dan malah dimintai pertanggungjawaban atas ulahnya, Jowen makin merasa bersalah.
“Kak?”
Jowen menarik nafas panjang, lalu kembali memotong kalimat ayahnya dengan tegas. “Aku kabur dari rumah sakit.”
Wina sedikit memalingkan wajahnya dari adik juga ayahnya.
“Hmm ... ada yang ngaku.” Detik selanjutnya Papi menoleh pada anak bungsunya dengan tatapan dingin yang menusuk.
“Kok bisa ya?” ucapnya, “kabur dari kamar di lantai 5 dan gak ada yang tau? Setau Papi jendela kamar kamu itu gak ada balkon, gak memungkinkan turun dari sana?”
Jowen terdiam.
“Satu-satunya akses keluar itu lewat lift di depan nurse station. Kok bisa gak ada nurse yang cegah kamu keluar? Atau gak ada nurse yang jaga?”
Papi kembali menoleh pada Wina, yang juga mengemban tanggung jawab koordinasi bagian kardiovaskular.
“Ada, Pi.”
“Kalo gitu adek keluar lewat mana? Kok bisa gak ada yang liat? Siapa tau ada bagian gedung rumah sakit itu yang Papi belum tau. Kasih tau dong. Atau adek pake jurus ninja?”
Ugh, Jowen hates this side of his Dad.
“Aku ... ambil scrub dokter kakak ... aku pake itu.” Jowen mulai menjelaskan dengan takut. “Terus, Brian pake baju pasien aku. Terus pake masker ... yaudah lewat aja depan nurse station.”
Wina yang berada di samping adiknya itu spontan mengeluarkan tawanya yang tertahan. Bibirnya ia tutup rapat-rapat.
“Hm?”
“Ada yang lucu, kak?” Papi bertanya dengan nada datar.
Membuat Wina lalu meluruskan wajahnya lagi. “Enggak, Pi.” Ia berdehem membersihkan tenggorokannya.
“Kamu diem-diem pakai baju kakak dan nyamar jadi dokter, terus keluar bareng sama Brian yang jadi pasien gadungan?”
Wina kembali menjauhkan wajahnya dan cekikikan. Ia sama sekali tidak menganggap ini adalah sebuah hal yang perlu menjadi alasannya marah. Ia justru amat terhibur oleh tingkah adiknya.
“Dari mana kamu?” Papi masih bersikeras.
“Nonton ... Minions.”
Jawaban polos adiknya itu kembali membuat Wina melepaskan tawanya. Kali ini tak bisa ia tahan lagi.
“Nonton Minions?!” Suara Papi tiba-tiba naik mendominasi. Sedikit mengejutkan kedua anaknya.
“Gak bisa besok nontonnya? Besok kamu pulang, loh. Harus hari ini banget?”
Jowen mengangguk. “Soalnya besok udah ga premier.”
“Harus premier?!”
Jowen tak menjawab lagi, sementara kakaknya masih sesekali tertawa dan menoleh padanya.
“Kakak stop ketawa.”
“Pasien kamu yang harusnya jadi tanggung jawab kamu baru kabur dan ambil barang pribadi kamu sendiri tanpa kamu tau. Kamu gak merasa harga diri kamu tercoreng? Harga diri kamu sebagai dokter cuma seharga tiket bioskop sama adek kamu.”
Okay, that’s a bit gotten into her. Spontan Wina menunduk. This is not funny anymore.
“P-papi, aku minta maaf.” Jowen kembali berusaha menyela ayahnya. Ia tidak tahan mendengar kakaknya dimarahi karena ulahnya.
“Minta maaf kok sama Papi. Minta maaf sama kakak kamu.” Ayahnya merespon dan menunjuk kakak perempuannya itu dengan dagu.
“Kamu paham gak kesalahan kamu apa? Paham gak siapa yang dirugikan?”
Jowen mengangguk, sejenak mengatur nafasnya dan menarik ingusnya. Lalu menghadap sebelah kirinya pada sang kakak.
Kepalanya masih menunduk.
“Kakak, adek minta maaf.” Ucapnya pelan.
Bulir-bulir air mata kini muncul di pelupuk matanya. Ia berusaha keras menahan isak.
Satu tangan Wina lalu meraih tangan adiknya yang sedikit gemetar dan menggenggamnya. Jowen refleks mengaduh kecil saat lukanya tersentuh kakaknya.
“Minta maaf apa? Salah kamu apa?” Papi kembali meneror.
“Minta maaf, aku ... ambil baju kakak. Gak bilang....”
Wina lalu mendekat pada adiknya dan mengusap bahunya. “Iya sayang.” Bisiknya kecil.
“Terus? Apa lagi?” Suara ayahnya masih lantang.
Membuat adik Wina itu makin kencang mengigit bibirnya dan menahan tangis. Sia-sia, matanya yang sudah berair itu kini menetes ke pipinya.
“Terus-“
Wina menghela nafas, membawa adiknya dalam pelukan. Ia menaruh kepala adiknya di bahu lalu mengusap punggung Jowen. “Sshh ... udah, gapapa.”
“Papi udah ih, kasian adek.” Mohonnya pada sang ayah.
“Biarin.” Ayahnya memangkas cepat. “Biar dia tau kesalahannya itu berdampak seperti apa sama orang lain.”
“Kamu itu udah sering usil sama kakakmu. Yang bilang sakit di kampus lah, kakak lagi operasi ditinggal gitu aja ternyata kamu cuma becanda.”
“Main prank-prank kayak gitu kamu pikir lucu? Kamu sadar gak kamu itu main-main sama nyawa orang lain? Kamu pikir gak gimana pasien kakak yang dia lagi berusaha selamatkan hidupnya?”
“Adek pikir sampe sana gak?”
“Papi sama kakakmu itu setiap hari kerja keras buat orang-orang supaya hidupnya lebih baik, sementara kamu main-main sama itu. Kamu bikin hal itu jadi becandaan. Itu namanya kamu gak menghargai usaha orang lain.”
“Nurse yang tadi dapat shift jaga di kamar kamu, kamu pikir gak gimana paniknya dia pikir mungkin bakal kehilangan pekerjaannya. Takut bakal dipecat karena ceroboh. Padahal kamu yang nakal. Kamu pikir gak?”
Tangis Jowen pecah di pelukan kakaknya.
“Pi. Udah, Pi.” Ucap Wina tegas.
Emosinya betulan mulai terpancing melihat adik kesayangannya itu dicecar. Kedua alisnya menyatu di tengah.
Satu tangannya menutupi telinga adiknya yang sudah merah. “Nanti biar Wina yang ngobrol sama adek.”
“Gak. Sekali-kali harus Papi tegur keras. Selama ini sama kakak dibilangin baik-baik tidak dianggap serius. Gak ada rasa hormatnya kamu sama orang tua.”
“Kakak juga mulai belain adeknya. Kamu sekarang justru lebih lembut dari Mamimu. Mami bisa objektif sama anaknya, kakak gak bisa begitu ke adek.”
“Papi, ih!” Suara Wina mulai naik.
“Yaudah emang kenapa kalo aku gak bisa objektif? Emang siapa yang bikin aku mau masuk FK kalo bukan adek?! Aku emang udah subjektif dari awal. Terus kenapa?!”
Ia rasa ayahnya sudah kelewatan. Hati kecilnya sedikit tersentil oleh kalimatnya barusan.
Selama hidupnya hampir tiga dekade, rasanya baru kali ini ia menentang sang ayah. Sedari dulu ia selalu bertengkar dengan ibunya yang menurutnya memihak Jowen. Papi cenderung ada di pihaknya.
This feels different but somehow familiar.
Papi beranjak dari duduknya. Matanya menatap wajah anak perempuannya dengan tajam, yang dibalas dengan tatapan tak kalah dingin oleh Wina.
“I would like to talk to you later.”
Laki-laki itu lalu memutus kontak mata mereka dan menoleh ke anak bungsunya lagi.
“Mulai besok Papi ambil bodyguard buat jaga kamu di rumah buat sementara. Gak perlu keluar-keluar, istirahat aja sampai betul-betul pulih.”
“Besok masuk kuliah, Pak Adi tungguin kamu sampai selesai kelas. No excuse. Selesai kuliah, pulang. Mau latihan band, Pak Adi tunggu.”
“Next time kamu opname lagi, Papi tambahin bodyguard sama security yang berjaga di rumah sakit.”
Lalu melangkah keluar dari kamar Jowen.
Meninggalkan pemilik kamar itu yang lalu menumpahkan tangisnya. Kakaknya semakin erat memeluknya dan mengusap punggungnya. Sesekali menciumi rambutnya yang basah.
“Ssshhh ... it’s okay. It’s okay.”
Wina membiarkan adiknya menangis sampai puas untuk beberapa menit. Ia pun ikut mengambil waktu untuk menenangkan detak jantungnya sendiri.
Setelah ia mendengar tangis Jowen hanya tersisa isakan kecil, ia lalu berusaha mengangkat wajah adiknya untuk mengusap air matanya.
“Udah, gapapa. Papi is just having bad day,” ucapnya, “you’re okay with me.” Lalu tersenyum singkat, namun teduh.
Ia merasa lega adiknya dapat meregulasi emosi yang ia rasakan setelah mendengar semua yang diucapkan ayahnya tadi dengan menangis di pelukannya seperti saat ini, dan bukannya mengurung dirinya sendiri seperti yang biasa Jowen lakukan.
Wina terkekeh. “Kamu tuh ya … kalo mau nakal sama kakak aja,” ucapnya setengah berbisik, “jangan di rumah sakit, Papi bisa tau. Kalo Papi udah marah kayak gitu kakak juga kena.”
Jowen hanya merengek lalu kembali menenggelamkan wajahnya ke dada sang kakak. Tangan Wina lalu mengikuti untuk mengelus kepala adiknya.
Sesaat setelahnya, Jowen menghapus air matanya yang tersisa. Lalu bersuara kecil, “kakak besok masih kerja?”
“Hmm? Masih dong, besok masih hari Rabu. Kakak ada praktek.”
Jowen lalu mendongak. “Mau ikut,” katanya, masih terdengar merengek, “gak mau di rumah.”
Wina kembali terkekeh. Ia menunduk menatap mata sang adik, lalu kembali memeluknya. “Iya boleh.”
“Sama sekalian,” lanjut Wina melonggarkan pelukan mereka, “adek, infus satu botol lagi ya? Masih kurang cairan badan kamu tuh.” Ia menata poni adiknya yang basah ke belakang telinga.
“Mau ya? Nanti kan bisa dibawa pulang kalo cuma infus.”
Jowen mengangguk. Mendadak rasa kantuk berat menyerangnya. Ia mendekat pada sang kakak dan memejamkan mata di pelukannya.
—
Pagi berikutnya, Wina sudah berpakaian rapi usai menyantap sarapannya saat ia keluar menuju garasi untuk memanaskan mobil.
Ia lalu mengeluarkan mobilnya dan memarkirkannya di depan gerbang yang masih tertutup rapat. Seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Wina di sana.
Wina turun dari mobil yang mesinnya masih menyala. Lalu mendekati salah satu dari dua orang bertubuh tinggi dan kekar berpakaian serba hitam itu.
“Selamat pagi, Ibu.”
“Pagi.” Sapa Wina balik dengan ramah.
“Mulai hari ini sampai dua minggu ke depan saya ditugaskan oleh Bapak menjaga Tuan Muda.”
Spontan Wina mengangkat alisnya heran dan terkejut. Rupanya Papi tidak main-main dengan ucapannya.
Ia hanya mengangguk-angguk paham dan tersenyum miring. “Bapak, ya?”
“Betul, Ibu. Bapak Ganesh.” Jawab sang bodyguard lagi.
Jawaban yang tidak Wina duga itu lalu membuat matanya membelalak kaget. “Honto?!” (Really?!)
Siapa sangka ia akan mendengar nama kakeknya disebut dan bukan ayahnya sendiri.
Ganesh Aryasetyo. THE Mr. Mahardhika himself.
Tunggu sebentar.
Wina berusaha mengingat kapan terakhir kali ia membuka grup whatsapp keluarganya. Apakah semua orang sudah mengetahui hal ini?
Jika iya, maka dirinya dan juga adiknya dalam masalah besar sekarang.
Wina lalu membalik badannya cepat dan melangkah masuk kembali ke rumahnya.
“Adek!” Teriaknya memanggil Jowen yang terakhir kali tengah menghabiskan sarapannya.
“Tuan Muda!!!” Teriaknya lagi, sengaja bergurau.
