Work Text:
Jowen menghela nafas.
Ia memandangi sekelompok teman kelasnya mengerumuni sebuah meja tak jauh di depannya itu dalam diam.
It’s the third time. Mereka diminta membentuk kelompok untuk mengerjakan sebuah proyek tugas sekolahnya.
Third time since Jowen moved here 2 months ago.
Pertama kali, mereka amat antusias menyambut dirinya sebagai murid baru, pindahan dari negara sakura. Rasa penasaran jelas menjadi bumbu utama orang-orang mendekatinya.
He had good days doing the project with them back then.
Kedua kali, hanya satu orang dari kelompok itu yang kembali menawarkan ia untuk bergabung. Itupun karena ia yang datang pada mereka, pada menit-menit akhir kelompok itu resmi terbentuk.
He didn’t know why, but he felt their energy was a little bit off there.
Ketiga kali, tak ada satupun wajah yang menoleh padanya untuk kembali mengajaknya bergabung dalam kelompok itu.
This time, he kind of has a good idea as to why.
Empat orang dalam kelompok tersebut adalah segelintir murid yang baru Jowen kenal dalam kelas itu.
Not to mention the language they speak that Jowen doesn’t, perbedaan culture di sana juga sedikit banyak ikut andil dalam permasalahan yang Jowen temui saat beradaptasi.
He knows, with that being said, he’s not much of a help in that group of school project.
He doesn’t know anything, he doesn’t speak the language well, they don’t understand him really well.
He feels like he just doesn’t belong there.
“Didn’t go with your friends?” sebuah suara tertangkap daun telinga Jowen.
Ia menoleh ke samping kanannya. Seorang anak laki-laki berhidung lancip dan bibir tipis itu menunduk tengah menulis sesuatu di kertas.
Jowen kembali memandang ke depan. “No.” Jawabnya kecil.
Hening mengudara setelahnya.
Sesekali Jowen melirik ke meja anak itu. Rupanya ia tengah membuat sketsa gambar di kertasnya.
Ia lalu memperhatikan sekitar. “And your group? Have you made one?” tanya Jowen dengan hati-hati.
“Yeah.” Anak itu menjawab singkat. Menunjuk ke pojok belakang ruangan itu menggunakan dagunya.
Spontan kedua mata Jowen mengikutinya, lalu mendapati beberapa anak laki-laki yang duduk sembarang di atas loker buku.
Kakinya berada di atas meja. Dua orang. Keduanya tak memakai dasi dengan rapi, satu diantaranya menggigit tusuk gigi di mulutnya. Satu orang lainnya terduduk di bangku yang sudah tidak berada di tempatnya.
Jowen hanya mengangguk-angguk paham. “Oh....” Gumamnya. Pandangannya lalu kembali pada anak itu. Masih sibuk menggambar.
“We’re missing a member,” tiba-tiba anak itu mengangkat kepala, menoleh pada Jowen dan mengangkat satu jari telunjuknya, “you want to join us?”
Jowen terkejut. Mata kecilnya membulat saat ia melihat wajah anak itu. “O-oh...,” ia tergagap, “o- okay. Yeah. I’m in.”
It was the first time he met Brian.
—
Jowen kembali melepas tawanya.
Jam makan siang, ia dan Brian baru saja kembali dari kantin. Sudah seminggu sejak ia pertama kali berbicara dengan anak itu.
Mereka tengah menyusuri koridor terbuka menuju ruang kelas saat seseorang di lapangan basket memanggil nama Brian.
Keduanya terhenti. Brian lalu mendekat ke pinggir lapangan saat salah satu temannya itu menghampiri.
Jowen tetap berada di tempatnya berdiri.
Detik selanjutnya, Brian kembali padanya. “You play sports?” tanyanya.
Lagi, Jowen terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. “I- do...?”
Senyum Brian spontan mengembang. “Want to play with us?” ia menunjuk lapangan basket di belakangnya dengan semangat.
William berdiri di belakang Brian, mengenakan setelan tim basket sekolah mereka. Bola berwarna oranye berada di tangan kanannya.
Jowen mengiyakan ajakan itu meski tampak ragu. He did played sports back in Japan. Mind you, he probably went to the National Volleyball Team if he wasn't moving to Indonesia. Tetapi bola basket tentu bukan salah satu yang ia tekuni.
Ia lalu membuka kemeja seragam sekolahnya mengikuti Brian yang sudah lebih dulu melepasnya. Lalu memulai permainan iseng mereka meski matahari cukup terik siang itu.
Sepuluh menit berlalu, Jowen berhenti merebut bola dari lawan mainnya. Ia berjalan ke pinggiran lapangan dan meneduh.
Kaos putih yang ia kenakan sudah basah dibanjiri peluh. Ia duduk di bangku panjang dan mengelap keringat di wajah dan lehernya.
Lalu menunduk memandangi rumput hijau di kakinya sambil mengatur nafasnya yang terengah.
Gelembung-gelembung kecil melayang di depan matanya. Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Berusaha membuang apapun yang dilihatnya itu.
Tak selang lama, Brian berlari mendekat. Ia langsung melepas kaos berwarna hitam yang ia kenakan lalu ia gunakan layaknya handuk. Wajahnya merah padam.
Tak ada obrolan di antara mereka berdua sampai Brian selesai mendinginkan kepala dan badannya.
Jowen masih bergeming di tempatnya. Membuat Brian sedikit terusik.
“You good?”
Tak mengalihkan satu tangan yang kini menahan wajahnya, Jowen hanya mengangguk.
Brian kembali memakai kaosnya, lalu beranjak. “Come on. Let’s get another round.”
“I’ll pass.” Jowen akhirnya mengeluarkan suara.
Membuat Brian mengerutkan alis. Ia memperhatikan temannya sejenak. Wajahnya nampak sedikit pucat. Dan ia baru sadar Jowen hanya bermain tak lebih dari 10 menit.
“Why? Are you okay?” tanyanya lagi.
It was the first time he saw Jowen was acting weird.
—
Jowen menutup bukunya.
Lalu memasukannya ke dalam laci, dan mengambil kotak makannya di tas.
Brian yang sudah beranjak dari bangkunya bersiap menuju kantin lalu terhenti saat melihat temannya mengeluarkan bekal makan siangnya.
“You’re not going to the canteen?”
Jowen mengangkat kepalanya menoleh pada Brian. “No, I’ll have my lunch here.” Ia tersenyum singkat lalu mulai membuka kotak bekalnya.
Brian menggaruk telinganya yang tak gatal. Ia akhirnya pergi ke kantin sendirian. Harapannya untuk makan di kantin bersama teman barunya siang itu pupus.
Sampai di kantin, ia lalu memutuskan untuk membeli tiga bungkus roti isi dan susu kotak, lalu membawanya kembali ke kelas.
Ia tetap ingin makan bersama temannya.
Jowen menyapanya saat ia kembali ke kelas. Entah sejak kapan Brian merasa sesuatu di hatinya terisi saat melihat temannya itu tersenyum.
Bangku yang ia duduki di kelas sudah berada dekat anak itu sejak ia pertama kali masuk. It’s just that Jowen never have been talked to anybody. Wajahnya terlihat datar dan murung setiap saat.
Dan seperti dugaannya, anak itu bahkan tidak menyadari keberadaan Brian di sana selama dua bulan.
Mereka menyelesaikan santapannya. Jowen kembali memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas dan meneguk air minumnya banyak.
Lalu membuka kotak obat dan mengambil satu dosis obatnya dari sana. Lebih dari tiga butir obat yang Brian lihat di sana.
Satu hal lain yang ia perhatikan dari anak itu adalah Jowen terlihat beberapa kali mengonsumsi obat-obatan yang cukup membuat Brian menelan ludah saat melihat ukurannya.
“Are you ... sick?” Brian akhirnya bertanya saat Jowen selesai. Suaranya pelan dan amat hati-hati.
“Not really.”
“Not really?” Brian mengulang tak mengerti.
Jowen terlihat menghela nafas.
“Uh ... it’s okay if you don’t want to talk about it though I just-“ Brian tergagap, ia menggosok ujung hidungnya kikuk, “it’s just ... I have seen you taking your medicines quite everyday.”
“I....” Brian tak melanjutkan.
Dalam hati ia mengutuk dirinya yang mendadak gugup. Sementara lawan bicaranya sama sekali tak menunjukkan antusiasme untuk menjawab di wajahnya.
Brian makin merasa seperti orang bodoh.
It was the first time he knew Jowen was sick.
—
Jowen memandangi papan tulis kelasnya dengan malas.
Ia memutar-mutar penanya. Satu tangan lainnya menyangga pipi. Melihat sang guru tak memperhatikan seisi kelas, ia lalu melirik ke samping kanannya.
“I have a heart condition.” Ucapnya memulai percakapan dengan Brian.
“What?!” Brian merespon, suaranya refleks membuat seisi kelas menoleh pada mereka berdua.
Beruntung, gurunya tak mengindahkan kegaduhan itu.
Butuh beberapa detik untuk Brian mencerna ucapan temannya, ia menarik nafas dan menelan ludahnya. Berusaha tetap tenang.
“Wh-what kind of condition?”
“Not that bad, actually.” Jowen menjawab datar.
“It’s just that I need to take my meds in order to keep my heart in good condition. So that I won’t get an arrhythmia episode or even worse, heart attack.”
Sampai di sana, Brian tak tahu lagi harus merespon apa. Tidak hanya karna ia merasa kapasitas berbahasa inggrisnya yang pas-pasan, fakta bahwa Jowen mengingatkan dirinya pada mendiang sang nenek juga membuat dadanya mendadak sesak.
“Is it that shocking?” Jowen kali ini menoleh pada Brian.
Kembali, Brian menghela nafas. “No,” jawabnya, “it’s just that you remind me of my grandma.”
“She also had a heart condition.”
Jowen sedikit tertarik mendengar itu. Alisnya yang mirip ulat bulu itu terangkat.
“Had? How is she now?”
“Died. Two years ago.”
Air muka Jowen spontan kembali meredup. “Oh ... I’m sorry. Didn’t mean to.”
“It’s fine.”
Ada jeda keheningan saat mereka berdua kembali ke bukunya masing-masing. Brian asik mengerjakan beberapa soal di sana dan Jowen yang sama sekali belum menyelesaikan satu pun.
Ia tak tahu bagaimana ia harus mengerjakan soal-soal dalam bahasa yang sama sekali tak ia pahami.
“So, are you okay?” Brian kembali bertanya.
“I’m fine. Got a proper treatment and medication already. My sister is a cardiology intern herself.” Jowen sedikit terkekeh di akhir kalimatnya.
Jawaban itu, membuat bola mata Brian membulat sempurna. Semua hal yang ada dalam benaknya mengenai Jowen saat ini bertemu di satu titik terang.
Ia lalu menoleh pada temannya, sejenak memperhatikan wajah anak itu dan sesekali melirik pada name tag di seragamnya.
“Hey,” panggilnya.
Jowen menoleh.
“Can I ask you something?”
“What?”
“Your name ... your last name.”
“Mahardhika?” Jowen merespon dengan nada bicaranya yang masih kental dengan aksen Jepang.
Brian mengangguk-angguk kecil. Pandangannya menembus jauh ke belakang Jowen, hampir terlihat seperti kosong.
“And your older sister,” Brian kembali terhenti, sejenak ia menoleh pada gurunya sebelum mendekatkan bangkunya ke Jowen.
“Is there any chance that her name is Wina?” ia berbisik di telinga Jowen.
“Nande shitteiru?!” (How did you know?!) Jowen refleks menaikkan suara. Melupakan bahasa yang ia gunakan.
Guru laki-laki yang berada di depan kelas itu akhirnya kehilangan kesabaran.
“Brian sama sebelahnya kalau masih mau ngobrol di luar aja. Sana. Berdiri depan pintu.”
Keduanya beranjak keluar.
“What did you just say?” Brian bertanya Jowen yang berdiri di sebelahnya di dekat pintu kelas. Kedua tangan mereka terangkat memegang telinga masing-masing.
“How did you know my sister’s name?”
Brian terbengong menatap wajah temannya.
“So, I am right?”
It was the first time Brian found his first love again.
