Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 10 of The Mahardhikas
Stats:
Published:
2023-08-01
Words:
2,552
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
10
Hits:
150

bee stings

Summary:

A glimpse of life from Wina's eyes

Notes:

see part 1 for the casts :)

Work Text:

“Aren’t there any other options than organ transplant?”

“What?”

“For my heart.”

Jowen menjawab enteng. Bahkan tak terusik untuk membalas tatapan lawan bicaranya yang kaget dengan pertanyaan menohok secara tiba-tiba itu.

Sabtu siang.

Cerah. Terik, bahkan.

Ia dan kakaknya tengah bersantai di sebuah gazebo kecil dikelilingi rerumputan yang tumbuh subur bersama tanaman bunga miliknya. Keduanya terbaring bersebelahan menatap langit dari sisi atap gazebo.

Wina membuka kacamata hitamnya dan menautkannya ke atas kepala saat menoleh pada adiknya tadi.

“There are other options.” Jawabnya kemudian.

“Such as?”

Wina menarik nafas.

“Medication and lifestyle changement. Which you are already on it.”

Ia lalu beranjak dan membalik badannya menghadap ke taman. Menurukan kedua kakinya dari lantai gazebo dan mengayun-ayunkannya kecil.

“Pacemaker. The implantable one,” lagi, ia menoleh pada adiknya yang masih terbaring di sebelahnya duduk, “here.” Telunjuknya menunjuk dada kiri Jowen. 

Kalimatnya kali ini menarik perhatian sang adik. Jowen memandangnya sekilas, sorot matanya memperlihatkan ia sedang mencerna informasi yang baru saja ia dengar. “Oh....”

“Yeah. About this size,” Wina membuat gambar sebuah kotak dengan jarinya, “and this thick.” Lalu mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya memberi gambaran pada adiknya bentuk alat pacu jantung yang ia maksud.

Jowen belum juga mengeluarkan satu kalimat berarti untuk merespon penjelasannya. Mulutnya terbuka dan kedua alisnya mengerut, ia masih nampak berpikir.

Kadang, ekspresinya itu membuat Wina gemas.

“Pasang ETT*.” (*Endotracheal tube)

Wina terdiam. Menatap mata laki-laki itu dengan emosi yang bercampur. Kedua matanya terasa panas menahan air mata supaya tak jatuh.

You know he doesn’t like that.

Atmosfer ruangan itu mendadak terasa lebih dingin saat tak ada suara terdengar selain bunyi bip monitor vital yang kian bertambah tiap detiknya, semakin memekik tertangkap telinga Wina.

“You have to,” kata laki-laki itu lagi, suaranya melembut, “or your brother will stop breathing.”

Wina menelan ludah meski mulutnya terasa kering dan memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya meski dadanya terasa sesak.

Ia kemudian menoleh pada Mema di sampingnya dan berusaha tersenyum. “Mema.”

Sang nenek membalas senyumnya dan mengangguk mengerti. Lalu mengikuti cucunya menuntunnya keluar dari sana.

“And how does it work, again?” akhirnya Jowen mengeluarkan suara.

“It’s automatically resynchronize the irrational heartbeat, if there any, at once. So....”

“Automatically,” Jowen memotong, “so it needs like battery or something?”

Wina mengangguk. “Yep. But it lasted for 5 to 7 years. Depends.”

“So, after 5 years you will still need to change the battery?”

“Yes....”

Jowen tak langsung menjawab. Ia kembali tampak berpikir keras. Yang membuat Wina juga merenungkan kembali jawabannya.

Ia perlu mendapat impresi yang baik dari adiknya, tentu saja. Bertahun-tahun ia berusaha membujuk adiknya untuk menjalani treatment lanjutan supaya ia tak perlu lagi mengonsumsi obat-obatan setiap hari.

Namun Jowen selalu menghindari percakapan seperti ini saat Wina berusaha menjelaskan situasinya. Hanya untuk menjelaskan, sama sekali tak menyuruh ia membuat keputusan saat itu juga.

“Are there cases where it doesn’t work?”

Wina menunduk.

“Many.” Jawabnya pasrah.

Ia tahu bukan itu jawaban yang Jowen ingin dengar. Namun ia juga tak mau berbohong pada adiknya. “Do you want that?” tanyanya.

I don’t, personally. Jawabnya sendiri dalam hati.

Wina memperhatikan keluar jendela.

Adiknya berjongkok untuk melihat lebih dekat bunga entahlah-ia-tak-peduli di taman kecil yang ibunya rawat.

Adik laki-laki berumur belum genap 3 tahun yang amat ia benci.

Satu tangan Wina masih menyangga pipi. Satu lainnya memutar-mutar pensil. Ia tengah mengerjakan soal latihan ujian akhir sekolahnya.

Tak jauh dari adiknya, ia melihat sebuah sarang lebah.

Tanpa ia sadari, satu tangannya sudah meraba laci mejanya mencari sebuah karet gelang, yang lalu ia gunakan untuk menjatuhkan sarang lebah tersebut.

Wajahnya datar melihat punggung adiknya masih asik bermain. Namun kali ini, air mukanya sedikit sumringah melihat dua ekor lebah mulai keluar dari sarang yang sudah berada di tanah.

Wina lalu mengunci jendela kamarnya dan menutup tirainya.

Tak lebih dari tiga menit, suara jeritan terdengar dari luar.

“You said you can do something other than organ transplant on Mom’s case.” Ucap Jowen. “How is it any different from mine?”

“Can’t you do something with the organ ... but not entirely change it with the new one?” lanjutnya sedikit terbata.

Wina kembali menghela nafas.

“No.”

“You can’t do anything with the muscles?”

Perempuan itu menggeleng.

“Even when my condition is still a lot better than Mom’s? How? That ... that doesn’t add up.”

Wina mengambil kacamatanya dari kepala, lalu menjepit rambut panjangnya yang menutupi bahu.

Ia mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila menghadap sang adik.

“You know in Mom’s case, the muscles are keep thickening.” Wina mulai menjelaskan perlahan. “Now to put it simply, how do you think when a person is ... overweight?”

“They barely can move.” Jowen merespon.

“They barely can move. Right. Muscles are the same. Dan ini cuma terjadi di satu area. Kamu tau jantung manusia terdiri dari beberapa bagian, kan.”

Jowen mengangguk.

“So, when one area can only move 1 mm, let’s say, meanwhile the other one can move 2 mm in one second. What will happen?”

“They are not in sync.” Sanggah Jowen.

“Yes. They can’t work simultaneously. But, in this case, we can minimize the muscles that are too thick.”

“Just like, people do diet. Or weight loss. We can cut off some of the muscles on that area. Though this only implies to the severe conditions.”

“Are you still with me?” Wina memastikan adiknya mampu mengikuti penjelasannya.

Adiknya mengangguk-angguk pelan.

“Good. Now that is Mom’s case.”

“In your case, however, it’s the opposite. The muscles are keep stretching. So, it became thinner, cause the ventricle is dilated. Nah, kalo tadi overweight people can barely move, sekarang-“

“Underweight people, can easily move?” Jowen kembali memotong kakaknya. “What’s wrong with that? Bukannya justru lebih baik?”

Spontan Wina tertawa. Lalu menunjuk ujung hidung adiknya gemas.

(all dialogues on italic were originally in Japanese)

Wina menghembus nafas kasar.

Ia beranjak dari meja belajarnya menuju pintu kamar. Lalu bersandar di sana memandangi ibunya yang mondar mandir di dapur menggendong sang adik yang menangis kencang.

Amat kencang memekik Wina rasa gendang telinganya bisa pecah kapan saja.

Kenapa sayang...? Adek kenapa...? Mana yang sakit ... bilang sama Mami....

Jowen kecil masih menangis merasakan rasa sakit tak tertahan di telinga sebelah kanannya. Kedua matanya terpejam, telinganya seperti tersumbat. Ia tak dapat melihat atau mendengar apapun saat ini.

Sensasi panas menjalar dari daun telinga hingga kepalanya. Anak itu tak tahu hal apa yang bisa ia lakukan selain menangis.

Kenapa sih, Mi?! Brisik, deh. Aku lagi belajar.” Ucap Wina menaikkan suaranya.

Mami juga nggak tau, sayang. Adek tiba-tiba nangis abis main di taman.

“Bee stings?” Wina menebak. Mukanya masih nampak kesal.

Ah, tak seratus persen menebak juga, sih. Karena dirinya sendiri yang sengaja menjatuhkan sarang lebah di taman itu.

Bola mata ibunya membulat. Perempuan paruh baya itu lalu menurunkan anak bungsunya dan membuka semua pakaiannya guna mengecek badannya mencari luka sengatan lebah.

Wina hanya tertawa mengejek lalu kembali masuk kamar dan membanting pintunya.

Pandangannya menjadi jelas.

Wina kembali ke alam sadarnya. Ia menghela nafas panjang dan menyeka hidungnya yang berair.

Di depannya, adiknya masih terbaring tak sadarkan diri. Matanya terpejam rapat dan ia tak tahu kapan akan terbuka lagi.

Ia telah berada di sana seharian penuh. Duduk di samping adiknya dan mengajaknya bicara tentang apa saja.

Meski tak ada yang mendapat respon dari sang lawan bicara.

Suara lembut anak laki-laki itu hanya bisa Wina dengar dalam kepalanya sendiri saat ini.

“No....” Wina menjawab di sela tawanya.

“Both overweight and underweight, can cause a problem.” Lanjutnya. “Adek juga gabisa underweight, kan? You become weak ... and-“

“Weak.” Jowen menambahi.

Wina kembali tertawa. “Yeah. Weak and weak. Very not good.”

Ia mengatur nafas sebelum kembali melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong.

“Okay, so, both conditions can cause problem with your heart. And unfortunately, in this case, we can’t do much with thinner and weaker muscles.”

“But, on the other hand, kasus ini tuh jarang yang levelnya sampe severe. Jadi penanganannya bisa cuma dengan medication sama lifestyle change. Tapi kalo udah severe, ya mau nggak mau harus organ transplant. Gitu sayang....”

Tangan Wina terulur meraih rambut adiknya dan mengelusnya perlahan.

Adiknya menghela nafas panjang. Terlihat tak begitu suka dengan informasi yang ia dengar, namun berusaha menerima.

“I’m not severe, yet, no?”

Wina menggeleng. “No.” Ibu jarinya mengelus-elus alis adiknya sayang. 

“So why do you rush me to take a donor?”

Wina tertegun.

“I ... do not rush you.” Ia mengambil jeda. “You can take as much time until you’re ready. I'm just ... letting you know that I am ready to do the surgery, anytime now. I hope I can make you feel safe enough if you trust me. That’s all.”

Ia mengangguk yakin dengan jawabannya. Namun tak berani menatap mata adiknya.

“You can still wait, right?” tanya Jowen kecil.

“Yeah. Of course. I can wait.”

She can wait.

As long as it needs to be.

Of course, she can.

But, can he wait?

Can his body wait?

And endure any longer?

Wina tak menghiraukan ingusnya yang keluar dari lubang hidungnya lagi. Ia membiarkan air matanya turun begitu saja.

Ia tak peduli lagi.

Tentu saja, ia bisa menunggu.

Namun hari-hari seperti inilah yang membuat semuanya terasa berat. Adiknya baik-baik saja beberapa hari yang lalu.

Ia masih sehat, dapat berjalan, dapat berbicara. Tertawa, marah dan merengek padanya. Teriak-teriak saat bermain game. Menyanyi dan memainkan piano dan gitarnya.

Lalu tiba-tiba ia sakit. Tak sanggup berdiri di atas kakinya, tak banyak bicara. Menangis dalam tidur, meringis, mengeluhkan rasa sakit.

Sampai akhirnya tak bersuara lagi.

Sampai bahkan hembusan nafasnya saja susah payah Wina dengar.

“Hey.” Papi menyapa.

“What’s my favorite girl doing?”

Wina tak menjawab.

Wajahnya masih tertekuk memandangi soal matematika di depannya.

Papi lalu mengusap kepalanya lembut. “Adek Sho disengat lebah ... kamu nggak mau nengokin?

Tak ada respon.

Nggak kasian sama adek...?”

Salah sendiri main di taman.” Ucap Wina ketus.

Membuat Papi terkekeh. Lalu mencari bangku kecil untuk ia gunakan duduk di sebelah anak perempuannya.

“Well, he likes flowers.”

Papi memandangi wajah anaknya. Anak kesayangannya. “Kakak sayang nggak sama adek?

Nggak! And don’t call me his sister! I hate that!”

“Why?”

“I don’t want any siblings!”

“Why?”

Wina akhirnya menoleh pada sang ayah. Tatapannya tajam penuh rasa kesal. Ia tahu ayahnya hanya akan membela sang adik dan membuat dirinya merasa seperti orang jahat hanya karena ia membenci sang adik.

“Do you feel any less being loved ... by me and Mami?”

Tak ada jawaban.

“Did we love you less ... after you have a brother? Hmm? Do you feel that way?”

For God’s sake, Wina hates to admit that she doesn’t feel that way! It’s just, she hates him! Everything about him! That’s all!

Ia berdecak sebal. “Ck, Papi mau apa sih?! I don’t want to talk about that crybaby. Oh my God, he’s like a broken sirens! I need to study! I can’t even focus on a single question!”

Wina menggelengkan kepala, tangisnya kembali pecah.

“No, you’re not.” Ucapnya pada sang adik. Kedua tangannya menggenggam tangan adiknya yang terasa dingin. 

“You’re not a broken sirens. Please, talk to me.”

“Aren’t you suppose to trim that, adek?” Wina menunjuk rumput ilalang tak jauh di depannya.

“What?” respon Jowen, lalu membalik posisinya berbaring untuk melihat ke taman, “oh, yeah. That’s not good for the other plants.”

Wina melirik ke adiknya dan tersenyum lembut. Lalu mengusap kepala adiknya dan mengacak rambutnya pelan.

You have always liked flowers, huh.

Just like Mom.

“Okay.” Kata Papi pelan.

“Now, can I ask you ... how do you know it’s a bee sting?”

“I don’t know, just a guess.” Wina mengedikkan bahu tanpa melepaskan matanya dari buku sedikitpun.

“Huh, really.” Sanggah Papi, nadanya sedikit terdengar kecewa.

“I was expecting a better answer, more logical one. Given the circumstance that Sho-chan is in the garden. You could guess ... allergy ... or something else? How have you landed on bee as the first guess?” 

“Pi, really?!” Wina akhirnya menoleh. “You can tell none of his skin shows allergy reaction. Nor his breath.”

Papi menatap mata anaknya dan memperhatikan wajah cantiknya sejenak.

Pria itu lalu terkekeh. “Now that’s my girl.”

“You can be the next surgeon in this family.” Ia kembali mengelus kepala si sulung penuh sayang, lalu beranjak dari duduknya dan keluar.

Sudut bibir Wina perlahan terangkat, hingga membentuk senyum penuh. Lebar, bahkan. Ia puas dengan perbuatannya.

Adik bungsunya masih terdengar menangis bahkan setelah hampir satu jam Mami mengeluarkan sengat lebah itu dari kulitnya.

Hours.

Days.

Jowen demam selama tiga hari setelah insiden itu.

Tangan kiri Wina tergerak menyentuh daun telinga sebelah kanan milik adiknya.

Sedikit melipatnya untuk melihat bagian belakangnya mencari bekas luka sengatan lebah itu.

Tak ada satupun ia temukan.

Tentu saja.

Mungkin dalam memori adiknya masih tersimpan.

Mungkin dalam hati kecilnya lebah itu masih menyengat.

Terlebih jika Jowen tahu kakaknya sendiri yang mencelakainya.

Namun Jowen tetaplah Jowen.

Anak itu tak pernah sedikitpun menaruh dendam pada sang kakak. Ia selalu sayang kakaknya. Ia selalu hormat pada kakaknya. Ia selalu menghargai kakaknya.

Dan fakta itulah yang kini menjadi lebah bagi Wina. Menyengatnya dengan perasaan bersalah berulang kali saat ia mengingat semua perbuatan buruknya pada sang adik.

Perasaan benci anak perempuan berumur dua belas tahun itu benar-benar tak beralasan selain rasa takut orangtuanya akan membagi kasih sayang pada sang adik.

Meski orangtuanya telah menunjukkan tak berkurang sedikitpun kadar rasa sayang mereka padanya, ego anak perempuan pertama itu justru membesar.

Ia tak mau mengakui dirinya salah menilai orangtuanya. Salah memperlakukan sang adik.

Salah.

Nonny Wina Mahardhika tak pernah salah.

Tak boleh salah.

Wina merasakan seseorang menyentuh bahunya saat ia memeluk tubuh Jowen dan menangis di ceruk lehernya.

Hanya sekali sentuhan lembut.

Papi, ia pikir.

“Leave me alone.” Erangnya pelan. 

Ia terlalu larut dalam benaknya, mengingat kenangan bersama sang adik yang tiba-tiba menghantui, tak sadar bahwa tak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan adiknya.

Jowen berusaha memperjelas pandangannya.

Hanya langit-langit berwarna putih yang dapat ia lihat. Badannya terasa kaku. Tangan kanannya tertindih tubuh sang kakak yang memeluknya.

Hanya tangan kirinya yang dapat bergerak bebas. Susah payah ia menyentuh bahu sang kakak berusaha memberitahunya untuk melepas pelukannya.

Ia bahkan tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Mulutnya kering dan ada sesuatu yang masuk melalui mulut dan mengganjal tenggorokannya.

Nafasnya terasa aneh dan tak nyaman. Ia tahu benar sensasi ini. Namun tak banyak yang dapat ia lakukan.

Jowen akhirnya mendesah pelan. Berharap dapat menimbulkan suara berarti yang dapat kakaknya dengar.

Berhasil. Detik selanjutnya sang kakak bangkit melepas pelukan itu. Mata mereka bertemu.

“Adek!”

Finally.

“Why did you use that?” tanya Jowen lemah.

Kakaknya kembali merapikan selimutnya setelah mengganti alat bantu nafasnya dengan nasal kanul yang lebih praktis, lalu membungkukkan badan mendekat pada wajahnya.

“You know I don’t like that.” Lanjut Jowen. Suaranya serak dan hanya terdengar seperti berbisik.

“I have to....” Jawab Wina lembut.

Jowen menarik nafasnya panjang, now that he can.

“I’m okay.”

“No, you’re not. Stop saying that.” Suara Wina tiba-tiba naik. Sedikit mengejutkan sang adik.

“You were not able to breath manually. Your oxygen saturation was so low. Your heart rate was too high. We might lose you anytime.”

Bola mata Wina kembali berair.

Nothing is okay.

“Stop saying that.”

Dan terkadang, suara kakaknya yang tiba-tiba naik itu masih mengaktifkan sel otak Jowen yang mengingatkan ia pada traumanya.

Mendadak, ia tak tahu dengan siapa ia berhadapan saat itu.

Kak Wina yang sayang padanya atau Kak Wina yang benci padanya.

Kak Wina yang aman atau yang berbahaya untuknya. 

Kak Wina yang bisa ia percaya atau yang bisa saja memukul kepalanya.

Mendadak, sosok Kak Wina itu menjadi abu-abu.

Ia tak bisa membaca situasinya.

Ia tak tahu harus melakukan apa.

Ia tak tahu harus menjawab apa.

“I’m ... sorry.”

Series this work belongs to: