Actions

Work Header

Selamat Tinggal, Tempat Rahasia

Summary:

Semua berawal di sana. 20 tahun terlewati, semua juga harus berakhir di sana. Itulah yang Bujang pikirkan ketika meminta Padma untuk datang kembali ke tempat rahasia mereka.

Padma menganggapnya sebagai hal konyol, namun dia tetap menuruti kemauan pria itu. Demi sebuah perpisahan, demi sebuah perasaan yang mungkin tidak akan pernah pergi dari lubuk hati mereka. Padma dan Bujang menghabiskan waktu mereka di tempat rahasia, sebuah oase yang terdapat pohon manggis yang berbuah lebat, sekaligus tempat makan para monyet. Monyet-monyet yang suka ber-uu aa uu aa jika tempat mereka diganggu oleh kedua orang itu

Notes:

okay hi, yeah this is a long fic and actually i already "publish" this through write as and share it to my friends, but i want everyone (especially YOU GUYS the padmagam stan) also to enjoy this fic, so yeah hope you enjoy it

Work Text:

 

 

Lembayung mengisi kekosongan langit di sore hari kala itu. Burung-burung yang seharian bepergian, akhirnya kembali ke sarang masing-masing. Anak-anak yang sedang membantu orang tua mereka di sawah, kembali masuk ke rumah, membersihkan diri. Satu dua diantara keluarga mulai makan malam. Petromaks yang menggantung di depan rumah, sumbunya dihidupkan.

Di tempat yang jauh dari jarak pandang penduduk talang—dibutuhkan 2-3 jam perjalanan untuk ke sana—terdapat sebuah oase dengan pohon manggis berdiri tegak. Buahnya berbuah dengan lebat. Para monyet turun ke bawah untuk memetik buah manggis tersebut, lalu kembali naik ke atas ketika seseorang datang, mengusir mereka.

Orang itu seorang pria. Wajahnya menunjukkan dia berumur 30-an tahun. Dari sorot matanya yang tajam namun lembut, terlihat dia seperti dari kaum intelektual. Pahatan wajahnya tampak sempurna dengan hidung yang mancung. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan mengira dia adalah seorang wirausaha muda yang sukses di umurnya. Memang benar, tetapi dia lebih dari itu. Reputasinya lebih mengerikan dan gelap, dapat membuat orang-orang yang berpikir dia pria yang baik mengubah pemikirannya.

Satu manggis yang tergeletak di dekat kaki pemuda itu, dia ambil. Kulitnya dikupas, kemudian buahnya dimakan. Mata pemuda itu mengerjap tidak percaya. Ternyata buah manggis ini masih manis seperti terakhir kali dia makan 20 tahun yang lalu.

20 tahun. Pemuda itu menyeringai. Astaga, sudah selama itu dirinya tidak mampir ke tempat ini. Bahkan saat berziarah ke makam orang tuanya, dia tidak menyempatkan diri datang kesini. Pemuda itu kemudian melangkah mendekati batang pohon tumbang yang sudah lapuk. Menepuknya beberapa kali, memastikan kondisinya aman untuk diduduki kemudian naik ke atas. Sedikit bergerak, namun batang pohon itu ternyata masih kuat memikul beban dari pemuda itu. Senyuman mengembang di wajah tampan pemuda itu. Ia lanjut memakan buah manggis.

Tidak banyak yang berubah di tempat rahasia itu, kecuali mungkin untuk monyet-monyetnya. Pastinya kawanan monyet yang biasanya datang duluan di masa lalu itu sudah berubah menjadi tanah karena sudah mati. Sepoi angin menerpa wajah pemuda itu. Menggerakkan anak rambutnya dengan gemulai. Dia masih sibuk memakan buah manggis sembari menatap pemandangan di depannya dengan perasaan haru.

Terdapat pemandangan dua talang di bawah sana. Matanya melirik ke talang yang letaknya sedikit jauh dari talangnya yang dulu dia tinggali bersama bapak dan ibunya. Samar-samar telinganya kembali teringat seruan cempreng dari seorang gadis mengenai mereka menebak-nebak yang mana rumah yang mereka masing-masing tempati. Bibirnya sekali lagi membentuk sebuah senyuman.

Tatapannya melembut kala mengingat momen pertengkaran bodoh yang dia lalui pertama kali dengan gadis itu hingga berujung mereka terjatuh. Pemuda itu terkekeh. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Dia bahagia masih dapat mengingat momen itu, karena sebagian memorinya telah hilang. Bukan karena hal medis maupun suatu kecelakaan dia kehilangan ingatannya, namun trauma yang ia miliki membuatnya melupakan banyak hal yang terjadi sewaktu masih remaja. Jadi, mendapati dirinya masih bisa mengingat kenangan lucu dari masa remajanya merupakan hal yang sangat ia syukuri.

Detik demi detik berlalu. Pemuda itu menolehkan kepalanya, hendak mengecek kondisi belakang. Dia datang ke tempat itu sendirian. Tidak ada pengawalan. Gadis Rusia yang datang bersamanya bersikeras ingin ikut menemaninya. Namun, waktu ini tidak akan terasa sama jika gadis itu ikut bersamanya. Karena seseorang yang sedari dia tunggu akhirnya muncul dengan wajah kesal dan berjarak sekitar 5 meter dari tempatnya duduk. Tangan orang itu terangkat ke atas, seperti hendak mendorongnya jatuh.

Pria itu terkekeh melihat raut kesal orang di hadapannya. Sosok menggerutu tidak jelas, memunguti buah manggis yang ada di tanah.

“Kenapa?” tanya pria itu, menyeringai.

Orang itu—seorang perempuan yang sepantaran dengan si pemuda—melempar kulit manggis ke arahnya. Ia sedikit tersenyum karena lemparannya tepat sasaran. Walau si perempuan tahu pemuda itu sengaja melakukannya.

“Bagaimana kau bisa mendengar suara langkah kakiku? Padahal Chen sudah mengakui aku berbakat dalam mengendap-endap tanpa suara.” Gadis itu mendengus sebal, naik ke batang pohon lantas duduk di sebelah pemuda itu.

Pemuda itu tersenyum. “Memang nggak kedengaran kok langkah kakimu mendekatiku. Aku hanya berjaga-jaga saja melihat ke belakang kalau yang datang itu bukan kau. Setiap detik berharga untuk penyerangan, bukan?”

Gadis itu memakan buah manggis di tangannya. “Ya, dan kau menghancurkan momen berharga itu untukku,” ketusnya.

Pemuda itu tertawa. Gadis itu menatap kesal. Tangan gadis itu mendorong sedikit keras pundak pemuda tersebut, hendak melampiaskan rasa kesalnya. Dia ikut tertawa.

Kedua orang itu diam sejenak. Menikmati pemandangan di depan mereka. Matahari semakin tergelincir di ambang khatulistiwa. Semburat oranye kemerahan kian memenuhi langit. Sang gadis menoleh ke belakang, memperhatikan sekeliling.

“Tempat ini ternyata tidak banyak berubah.”

Si pemuda bergumam menimpali, memakan manggisnya. “Aku sedikit kaget batang pohon ini masih ada, walau kondisinya sudah lapuk.”

“Ya, bahkan masih kuat untuk diduduki. Padahal kau sudah lebih berat dari berat remajamu.”

Pemuda itu menoleh ke si gadis. Alisnya bertekuk. Ia merasa tersindir. “Apa maksudmu?”

“Hei, nggak salah, 'kan? Badanmu sudah dua kali lipat dari kau remaja. Pastinya kau sudah lebih berat dari berat yang dulu.” Si gadis tertawa. Pemuda di sebelahnya memutar kedua bola matanya.

“Kau juga lebih berat,” ujar si pemuda dengan enteng.

“Hei!”

“Tidak terima? Itu faktanya.”

Si gadis mendorong pemuda di sebelahnya sekali lagi, kali ini lebih keras sehingga membuat batang pohon kayu di bawah mereka bergerak. Hampir saja mereka jatuh tergelincir ke jurang. Buru-buru keduanya melangkah mundur, tertawa lepas. Mereka teringat kejadian di masa lalu ketika mereka juga pernah jatuh ke jurang dengan alasan yang bodoh. Keduanya naik kembali setelah mendorong batang pohon besar menjauh dari bibir jurang. Mereka terkekeh, menertawakan orang kondisi rambut masing-masing yang berantakan.

Monyet-monyet yang berada di atas pohon pada ber-uu aa uu aa, seakan ikut menertawakan mereka. Si gadis menoleh.

“Mereka masih menyebalkan seperti dulu ternyata,” ujarnya sembari memperbaiki ikat rambutnya.

Si pemuda menyisir rambutnya dengan tangan. “Memang nyaris tidak ada yang berubah disini.”

“Kecuali kita.”

Pemuda itu menoleh menatap si gadis. Perempuan itu masih menatap pohon-pohon yang ditempati para monyet di sana. Semilir angin datang, membelai rambut mereka sekali lagi dengan lembut. Tak sampai lima detik, suasana di oase berubah sedikit tegang.

“Ya, kecuali kita.” Dia kembali menatap ke depan. Jantungnya kembali berdebar cepat. Tapi kali ini debar yang berbeda. Pemuda itu gugup. Di tengah kesunyian yang tercipta, dia menelan ludah. Mencoba menghilangkan rasa gugup dan menjernihkan pikirannya.

Setelah 20 tahun, dengan adanya momen bersitegang antar 3 kubu di Paris sebulan lalu, kemudian melaksanakan tugas dari surat wasiat Tauke Besar yang terdahulu, akhirnya mereka berdua bertemu kembali di tempat rahasia ini. Tempat pertama kali mereka bertemu dan tentu saja, semua persoalan cinta mereka yang rumit dimulai disini.

Hanya sebuah oase dengan pemandangan yang indah dan pohon manggis yang berbuah lebat, namun cukup menjadi saksi bisu yang berharga.

Beberapa menit terlewati. Pemuda itu tak tahan dengan ketegangan yang ada. Dia berbicara.

“Padma—”

“Agam—”

Mereka berucap serempak. Bujang—si pemuda—menoleh, menemukan Padma—gadis di sebelahnya—menatapnya. Mulut keduanya kembali tertutup.

“Kau duluan,” tutur Padma.

Bujang menggeleng. “I'm being a gentleman, ladies first.”

Padma mendengus, ia menyeringai. Lantas menggelengkan kepala. “That's not what a gentleman does after they ask a girl to come here without any clear reason. Bahkan setelah dua puluh tahun, kau tetap membuatku bertanya-tanya. Kau selalu bersikap misterius, Agam.”

Kali ini Bujang yang menyeringai, lalu mendengus kemudian menggelengkan kepala.

“Kenapa kau memanggilku kemari, Si Babi Hutan? Bukankah permasalahan antar kita sudah selesai sejak sebulan lalu kita memilih untuk mengambil jalan masing-masing?” Padma menatap lamat-lamat Bujang. Mencoba menerka apa yang sedang dipikirkannya dari raut wajah itu. Tampak Bujang sedang berpikir keras tentang sesuatu. Seperti hendak mengatakannya namun masih urung.

Padma melihat ke arah jam tangan yang dikenakan. Sudah hampir 20 menit mereka disini. Matahari di depan mereka terlihat siap mengucapkan selamat tinggal dan membuat malam gantian menurunkan diri menghiasi langit.

Kenapa orang ini tidak mengucapkan apapun?

Ketika hendak memanggil, Bujang sudah berujar duluan.

“Aku merasa kita juga harus mengucapkan selamat tinggal kepada tempat ini.”

Semilir angin datang setelah kalimat itu terucap. Kawanan burung terbang melewati mereka dari atas kepala. Padma diam menatap Bujang. Kebingungan ketara di wajahnya. Alisnya sedikit bertekuk ke bawah.

Kalimat itu yang membuatnya seperti orang bisu beberapa saat?

“Kau bercanda?” tanya Padma.

Bujang menggeleng—kembali menoleh ke Padma.

Wajah Padma semakin bertekuk bingung. Dia memijat batang hidungnya, kemudian menghela napas. “Agam, itu—”

“Alasan yang sangat bodoh dan kekanakan untuk membuatmu rela-rela datang jauh-jauh kemari,” ujar Bujang sekali lagi.

“Benar.”

“Ya, aku tahu.” Bujang mendengus.

“Jadi, apa maksudmu? Kau ingin mengucapkan selamat tinggal kepada tempat ini seperti anak-anak mengucap selamat tinggal kepada guru-guru mereka di acara perpisahan? Atau, seperti khalayaknya seorang teman?”

Bujang tersenyum mendengar celotehan panjang itu. Dia menggeleng lagi. “Ini perpisahan yang berbeda.” Senyum di wajah tampan itu tampak getir. Binar di mata pria itu menjelaskan bahwa ada satu alasan yang belum dia ungkapkan. Bujang mengusap bagian belakang kepalanya.

Entah mengapa Padma merasakan jantungnya berdebar kencang dari biasanya ketika ditatapan intens seperti itu dari Bujang. Dia mengenali debar tersebut. 20 tahun yang lalu dia merasakannya untuk pertama kali. Wajah Padma berubah sedikit memerah. Tetapi, kebingungan masih mengisi kepalanya.

“Agam, aku bukan Tuhan. Jadi, katakan apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan aku disini? Waktuku tidak banyak. Aku harus segera kembali ke Ibu Kota malam ini.”

Bujang kembali menatap pemandangan di depan. Padma ikut menoleh ke depan.

“Aku keluar dari Keluarga Tong di markas besar mereka, menyerahkan posisiku menjadi Tauke Besar ke Basyir. Sebulan lalu, setelah kita berpisah di Paris, aku pergi ke Moskow setelah menjalankan tugas sebagai penerima wasiat. Mengembalikan gelang milik Maria.”

Mendengar kalimat terakhir, Padma menoleh kembali melihat Bujang. Matanya melebar. Astaga, itu beneran?

Tentu saja Padma tahu Bujang menyukai Maria. Pria mana yang tidak akan langsung terpikat kepada gadis Rusia itu ketika pertama kali melihatnya? Terlebih mengetahui Maria menguasai banyak bela diri juga memimpin Bratva di usia yang sangat muda. Namun, pria di sampingnya ini tampak enteng sekali mengucapkan dia mengikhlaskan kepergian perempuan itu dari belenggu hatinya. Walau, ketara jelas dari mata hitam itu, Bujang masih sedih dengan keputusannya. Tetapi itu keputusan yang tepat.

Bujang mengedikkan bahu. Kembali mengusap bagian belakang kepalanya. “Bagiku, di mana aku memulainya, di sana juga aku mengakhirinya. Aku memulai perjalananku di Keluarga Tong, mengakhirinya di sana. Memulai hubunganku dengan Maria di Moskow, mengakhirinya di sana juga.” Bujang mengangkat wajahnya, menoleh ke Padma. Mukanya terlihat sedikit memerah. “Aku ingin kita mengakhirinya disini, Padma. Rasa itu masih ada di dadaku.”

Padma menelan ludahnya. Jantungnya kian berdebar kencang. Dia juga masih merasakan hal yang sama.

It'll pass, even without you remembering this place again.

“Aku tahu. Tetapi, rasa itu seperti tidak akan meninggalkanku jika aku tidak… Kita tidak mengakhirinya di tempat kita memulainya.”

Padma mengerjapkan mata. Dia akhirnya paham mengapa Bujang memanggilnya ke trmpat ini. Masalah mereka belum selesai. Tempat ini terlalu membekas di dalam ingatan mereka. Alasan yang konyol sekali, namun itulah yang terjadi terhadap mereka berdua.

Suatu tempat memang hanya menjadi saksi bisu dalam mengenang suatu kejadian. Namun, terkadang tempat itulah yang akan menoreh kenangan yang terlalu besar untuk dipikul jika seseorang itu hendak melupakannya. Padma mengalihkan pandangannya dari Bujang. Wajahnya ikut memerah.

“Konyol sekali, Agam. Sebagai mantan kepala keluarga shadow economy dengan reputasi yang tidak terbayangkan seberapa gila dan kejinya hidupmu selama di sana, kau terlalu sentimental terhadap tempat ini. Tempat ini hanya tempat makan para monyet di sana. Kau tidak perlu mengakhiri suatu hal di tempat kau memulainya. Kau bisa melupakanku tanpa harus membawaku kemari. Mendatangi tempat ini sendirian, mengenang segala memori tolol yang kita habiskan disini selama yang kau mau. Karena aku bisa melupakanmu tanpa harus mendatangi tempat ini. Cara berpikirmu aneh, Si Babi Hutan.” Padma berujar. Semua itu benar, walau harus dia lalui 20 tahun yang panjang dan pertarungan yang hebat antar mereka berdua untuk melupakan memori indah yang terjadi di masa lalu ketika dirinya masih remaja.

Semilir angin masih menemani mereka. Nuansa dingin bercampur hangat memeluk mereka sore itu. Padma beranjak dari duduknya, mengitari batang pohon, menjauh dari Bujang.

Bujang menoleh. Mengira Padma pergi meninggalkannya sendiri, tidak ingin mengikuti kemauannya. Namun ternyata perempuan itu menghentikan langkahnya. Padma berdiri di dekat pohon manggis, membelakangi Bujang. Memegangi batang pohonnya yang masih berdiri kokoh. 

“Kalimat apa yang kau harapkan keluar dari mulutku? Semuanya sudah aku katakan sebulan lalu di Paris,” tutur Padma.

Bujang berdiri dari duduknya, melangkah mendekat. Menyisakan jarak 10 meter dari tempat Padma berdiri. Bujang mengambil napas.

“Aku ingin kau jujur,” ucap Bujang.

Padma menekuk alisnya ke bawah ketika mendengar kalimat tersebut, bingung. Dia menoleh. “Agam, aku sudah—”

“Kau pembohong yang ulung sama sepertiku, Padma. Aku tahu kau tidak sepenuh jujur mengenai perasaanmu ketika kita di Paris. Tentu, semua yang kau katakan kepadaku waktu itu bukanlah kebohongan, aku percaya itu. Namun, Padma, kau belum sepenuhnya jujur mengenai masalah kita.”

Padma terdiam. Ia kemudian menelan ludah. Sorot mata yang diberikan Bujang kepadanya penuh dengan tuntutan yang memaksanya untuk berbicara. Bujang ingin Padma menyatakan seluruh isi hatinya. Menumpahkan seluruh kebenciannya, seluruh kemarahannya hingga…

Apapun itu Bujang harus mendengarnya.

Padma mengalihkan pandangannya, menatap tanah di bawah.

Bujang menelan ludah. “Maafkan aku sudah banyak memaksamu tetapi, aku ingin ini cepat berakhir dan aku berpikir kau tidak akan bisa melupakan aku kalau—”

“Diam.” Tangan Padma mengepal.

“Padma—”

“Diam, kau bedebah!”

BUG! Padma memukul pohon manggis di sebelahnya. Batangnya retak. Buah-buah manggis berjatuhan.

Monyet-monyet yang berada di atas pohon berseru-seru. Namun, tidak turun ke bawah. Seperti mengerti apa yang sedang terjadi di antara kedua orang manusia bodoh di bawah sana.

Padma mengangkat wajahnya. Napasnya sedikit terengah-engah. Matanya menatap tajam Bujang. Dia menghela napas, mencoba menenangkan emosinya. Padma menelan ludah, mulai berbicara. Telunjuknya terangkat. 

“Jangan sok pintar, Agam. Kau tidak tahu apa-apa soal perasaanku." Padma tertawa getir. Telunjuknya diturunkan

"Kau sok tahu mengenai aku akan susah melupakanmu jika aku tidak jujur kepada diriku sendiri. Itu hanya alibimu saja. Menginginkan permasalahan ini cepat selesai. Tetapi, kau ingin aku berkata jujur, 'kan? Baiklah, aku tidak akan mengulangi semua kalimat yang aku katakan kepadamu di Paris. Semua itu bertele-tele. Kau juga tidak suka orang membuang waktumu,'kan? Oke, kau dengar baik-baik. Aku sangat sedih mengetahui kau berada di arah yang berlawanan dariku. Bohong, jika aku berani melawanmu hingga membunuhmu waktu itu. Aku takut, Agam. Takut sekali. Kau orang pertama yang aku anggap berharga setelah Abu Syik. Kau orang yang selalu aku pertanyakan kabarnya sebelum bergabung Organisasi. Di mana kau waktu itu? Apa kabarmu?”

Padma mengambil napas, menelan ludah.

“Tetapi, apa yang harus aku lakukan jika itu sudah tugasku untuk menghabisimu, dan rasa balas dendam lebih besar dari ketakutanku pada waktu itu. Di detik aku mengira aku bisa menancapkan rencong milikku ke tubuhmu, di waktu aku mengira aku bisa menghabisimu, semua kenangan menjengkelkan itu mulai berputar di dalam kepalaku. Aku sangat marah sekali kepada diriku saat itu dan kau bisa melihatnya. Ingin aku putar balik waktu, tidak menemukan oase ini, tidak bertemu denganmu dan mencari tempat rahasia lain. Andai aku tidak jatuh cinta terhadapmu, andai aku tidak masih menyimpan hati kepadamu hingga sekarang, aku tidak perlu mengatakan semua ini. Kalimat yang seharusnya aku pendam selamanya, terkubur bersama perasaanku.”

Sebening air mata hampir saja jatuh ke pipi jika saja Padma tidak menahan tangisnya. Wajah cantiknya tampak lebih memerah. Alisnya kian bertekuk ke bawah. Angin semilir yang sedari tadi berlarian ke arah mereka, berhenti. Seakan tahu apa yang sedan terjadi. Menyisakan suasana tegang yang mulai panas.

Bujang tetap diam mendengar setiap rentetan kalimat yang Padma ucapkan. Menunggunya mengambil napas. Dia tahu perempuan itu belum selesai mengutarakan emosinya.

Padma mendengus. “Aku benci kau. Aku benci dengan segala hal yang terjadi di antara kita. Tentang kau yang pergi tanpa berpamitan, tentang takdir yang harus kita lalui. Dengan garis cerita yang telah Tuhan tetapkan untuk kita, bertemu hanya untuk berpisah pahit seperti ini. Aku menyesal telah mengenalmu.” Padma melipat bibirnya ke dalam, melawan dobrakan air mata yang hendak keluar. Namun, tidak bisa. Setetes air mata menyentuh pipinya. Diikuti dua tiga tetes selanjutnya, membuat muara air mata di wajahnya. Padma segera menghapusnya. Dia mulai terisak.

Bujang melangkah mendekat, memangkas jarak. Padma yang mengetahui hal tersebut, menggelengkan kepala. Ia tahu apa yang hendak Bujang lakukan. Padma siap mendorong pria itu untuk menjauh, namun terlambat. Bujang sudah memeluknya. Menenggelamkan mereka berdua ke dalam kehangatan yang semu. Untuk pertama kali, Padma memasrahkan dirinya terhadap perasaannya.

Pelukan itu tak lama, hanya beberapa detik saja. Padma mendorong pelan tubuh Bujang. Pria itu melonggarkan pelukan. Ketika terlepas, Padma mendaratkan pukulan di pundak Bujang. Pria itu mengaduh. Mengelus area pundaknya.

“Itu untuk membuatku menangis.”

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Bujang. Ia membelalakan matanya.

“Itu untuk bersikap menyebalkan karena sudah memaksaku untuk berkata jujur.” Padma mengambil langkah, beranjak dari tempatnya berdiri. Berjalan menjauh dari Bujang, mendekati batang pohon yang tumbang. Menatap pemandangan matahari terbenam yang sebentar lagi memasuki waktu senja. Sepoi angin kembali mampir ke tempat rahasia itu.

Bujang mengusap pundak dan pipinya yang masih terasa pedas. Meringis ketika hendak meregangkan otot pundaknya. Bagaimana dia bisa lupa Padma memiliki kekuatan sebesar itu? Bujang menatap punggung Padma berdiri di dekat bibir jurang. Melihat bagaimana anak-anak rambut yang panjang itu menari-nari mengikuti pola angin. Bujang terkekeh. Baik, kali ini giliran dirinya yang berbicara.

“Aku juga menyesal telah bertemu denganmu.”

“Kau sudah bilang itu padaku di pertemuan terakhir kita,” ketus Padma. Tidak berkutik sedikitpun untuk menoleh ke belakang.

Bujang mengangguk. Yah, dia tahu itu. “Tetapi, aku heran jika aku menyesal mengenalmu, mengapa aku tidak bisa melupakanmu? Bahkan ketika Maria masuk ke dalam hatiku, aku tetap tidak bisa melupakanmu, bahkan tempat ini.””

Sebulan bukanlah waktu yang lama untuk melupakan seseorang namun, dengan segala kesibukan mereka, perasaan yang menggantung itu terkadang membuat keduanya merasa resah. Jadi, mau sekeras apapun cara dilakukan, mereka tidak bisa semudah itu melupakannya. Bujang mulai mengambil langkah, mendekati Padma, ia berhenti ketika jarak terpangkas 5 meter. Ia ikut menatap pemandangan waktu senja di depan. Padma diam mendengarkan.

Mereka diam sementara. Menikmati angin yang ada sembari matahari terbenam di ufuk barat. Padma bersedekap dada.

“Aku tahu,” ucapnya.

Tanpa diberitahu  Bujang, Padma sudah tahu. Ketara melalui sorot mata pemuda tadi, Bujang masih mengharapkan dirinya. Terlebih di waktu pemuda itu bangun dari pingsan dan bertemu dengannya, dari mata hitamnya Padma dapat melihat kelegaan yang jelas di sana.

Selama beberapa saat mereka diam. Bujang tidak melanjutkan kalimatnya. Padma mengira pria itu sudah selesai menyatakan isi hatinya maka dia memutar badan, hendak berjalan meninggalkan tempat rahasia. Baginya, Bujang sudah mengeluarkan isi hatinya waktu mereka masih di Paris. Namun, ternyata ketika dilihat, pria itu sedari tadi tengah menatapnya. Tidak memandang matahari. Senyuman terukir di bibir Bujang. Tampak tulus. Padma mengerjapkan mata, mengurungkan niat untuk mengambil langkah.

“Ada apa?” Padma bertanya.

Bujang menggeleng, mengalihkan pandangannya. Rambut hitamnya berkibar mengikuti arah angin. Padma menunggu Bujang berbicara kembali.

“Aku tadi berpikir, jika kita berdua menyesal pernah mengenal satu sama lain, apakah kau menyesal menyukaiku?” 

Lengang kembali. Keduanya bergeming di tempat sembari jantung mereka berdegup kencang lagi. Padma berpikir sebentar, mencari jawaban.

“Apakah kau juga menyesal menyukaiku?” Padma balik bertanya. Dia tidak mau menjadi pihak yang selalu ditanya.

Bujang kembali menoleh. Mereka bersitatap sejenak. Kemudian dia menggeleng perlahan. “Aku memang bandit, bangsat, bedebah, tukang penipu, menjadi pembunuh berdarah dingin jika aku mau, tetapi aku tidak sampai hati untuk membohongi diriku mengenai hal itu.”

Padma menelan ludah, mengangguk. Dia juga berpikir hal yang sama. Mau berapa kali disangkal, mau berapa waktu yang terlewat hanya untuk menegaskan ke hatinya bahwa kejadian yang terjadi di masa lalu hanyalah hal yang semu, Padma tidak bisa berbohong pada dirinya juga.

“Aku juga tidak menyesal.” Senyuman terbentuk di bibir Padma. “Tetapi, aku tidak bisa bersamamu, kau tahu itu.”

Bujang tersenyum getir, mengangguk. Itu keputusan pahit yang mereka buat sebulan lalu. Tentu, Padma bisa saja meninggalkan Organisasi, ikut bersama Bujang. Namun, dia lelah membohongi diri, terlebih rasa marahnya kepada sistem dunia yang kotor lebih besar dari keinginannya hidup bersama Bujang. Bujang juga berpikir hal yang serupa. Dia tidak bisa semudah itu bergabung dengan Padma, bukan karena Organisasi akan mengujinya, melainkan sahabat-sahabatnya yang selama ini bekerja untuknya, semua itu akan terasa seperti Bujang mengkhianati mereka.

Padma menghela napas. Menoleh ke belakang. Matahari terbenam masih di depan sana.

“Matahari terbenamnya terlihat indah.” (*)

Bujang mengerjapkan mata. Terkekeh. “Ini memang berakhirnya hari, bukan?” (**)

Padma tertawa pelan mendengar jawaban Bujang. Terhibur semenjak datang ke tempat rahasia ini. Akhirnya mereka sudah berdamai dengan masalah yang selama ini menghantui setelah 20 tahun.

“Aku harus segera kembali. Chen sudah menungguku di sana.” Padma menunjuk ke bawah lereng, ke arah talangnya.

“Di mana?” Bujang mendekat.

“Itu ada mobilnya, di belakang rumah beratap sirap.”

“Dasar bodoh! Semua rumah di sana masih beratap sirap.”

Padma menoleh, menyeringai. Bujang memutar kedua bola matanya, ikut menyeringai.

“Kau ke sini pakai apa?” Padma bertanya, basa-basi sebelum berpisah.

“Helikopter. Edwin memarkirnya di sana agak jauh dari pemukiman. Dia sedang ada di rumah penduduk lain.” Bujang mengangkat telunjuknya. Padma mengikuti arah telunjuk Bujang, menyipitkan mata.

“Yang mana?”

“Itu yang dekat ladang.”

“Heh, dasar bodoh! Semua rumah di sana berada di tengah ladang.”

Bujang menoleh, menyeringai. Padma menepuk lengan Bujang, ikut menyeringai. Lantas mereka berdua tertawa.

 


 

I'll miss you,” ucap Padma. Ia meninju pelan lengan Bujang ketika mereka hendak berjalan keluar dari tempat rahasia. Matahari sudah mencapai puncak terbenamnya. Langit mulai gelap. Mereka harus bergegas.

Bujang terkekeh. Membalas Padma, menoleh ke arahnya, tersenyum. “Me too.” Padma balas tersenyum.

Kemudian, langkah mereka terhenti. Keduanya berada di dekat pohon manggis. Mereka bersitatap. Memandang lamat-lamat satu sama lain. Jarak mereka dekat. Bujang menelan ludah.

“Terima kasih untuk segalanya, Padma.”

Padma mengedikkan bahu. “Memang sudah seharusnya kita akhiri sejak dulu. Terima kasih juga, Agam.” Bujang mengangguk.

Kemudian, mereka diam lagi. Mata mereka masih menatap satu sama lain. Padma maju selangkah, memangkas jarak. Tangannya terentang lebar, dia mulai memeluk Bujang. Membuat pria itu menahan napas beberapa detik sebelum membalas pelukan dengan sedikit kikuk. Padma tertawa kecil. Semakin menenggelamkan wajahnya di pundak Bujang.

Pelukan itu terasa lebih hangat dari yang sebelumnya. Membuat mereka lebih tenang dan nyaman, berharap waktu bisa berhenti sementara. Namun, itu hanya khayalan.

TUK!

Sebuah biji manggis mengenai kepala Padma. Disusul biji satu lagi menghantam kepala Bujang. Mereka melepas pelukan, menoleh ke arah monyet-monyet yang ber-uu aa uu aa riang melihat mereka berpelukan.

Padma menyeringai. “Kenapa? Iri ya aku dipeluk orang ganteng?”

Monyet-monyet itu ber-uu aa uu aa semakin keras, seperti antara membantah pernyataan dan membenarkan kalimat Padma. Bujang menggelengkan kepala, menyeringai. Tak lama, mereka berdua meninggalkan tempat rahasia itu. Semua kesenangan, kegembiraan, tangisan, dan segala kepahitan mereka tinggalkan di sana. Mereka tidak akan kembali lagi ke sana, selamanya.

Setelah sejam berjalan menuruni lereng, Padma menghentikan langkahnya. Bujang yang merasakan hal itu menoleh ke belakang, menghentikan langkahnya. 

“Kita harus berpisah,” ujar Padma.

Bujang mengerjapkan mata, tidak mengerti. Padma menunjuk ke depan. Di depan mereka ada pohon besar di tengah dua jalan yang berbeda, jaraknya 10 km dari tempat mereka berdiri. Masih 10 km lalu kenapa Padma mengatakan hal tersebut?

“Kau mau lomba lari, tidak 'gam? Yang pertama memegang batang pohon itu, dia pemenangnya, tetapi dengan catatan tidak boleh berhenti di sana. Dia harus pergi menuju talangnya.” Tantang Padma. Bujang kembali menoleh. Padma menyeringai ke arahnya. Senyuman mengembang di bibir wajah tampan itu. Oh, jadi itu rencananya, batin Bujang, dia ikut menyeringai.

“Boleh. Tapi, aku pernah mengalahkan juara dunia cabang lari, loh. Kau yakin bisa mengalahkanku?” Bujang mulai melakukan pemanasan sebentar. Padma juga melakukan hal yang serupa. Dia memutar bola matanya.

“Memang kau pernah disuruh berjalan membawa dua ember penuh air di usia lima belas tahun dari sungai dan mengisinya ke gentong tanpa luber dengan batasan waktu 25 menit? Sewaktu umur delapan belas tahun, memang kau pernah lomba lari dengan KRL dengan kecepatan 70-95 kilometer/jam selama satu jam, dengan sudah dua kali bolak-balik?” Padma menatap tajam Bujang. “Apa kau yakin bisa mengalahkanku, Si Babi Hutan?”

Mereka berdua mengambil kuda-kuda. Melihat ke depan. Bujang menyeringai. “Dengan senang hati aku terima tawaranmu, Miss Vigilante.

Lalu, seperti sudah mengetahui ada sekawanan burung yang beranjak dari sarangnya, Bujang dan Padma mulai melesat berlari menuju batang pohon di depan mereka. Gerakan mereka lincah. Berbagai onak, duri dan ujung daun yang tajam mereka lewati dengan mudah menggunakan sepatu mereka. Satu dua kali mereka menerobos semak belukar. Napas keduanya tersengal-sengal. Senyuman kian merekah ketika jarak mereka dengan pohon itu sudah dipangkas 5 km. Keringat mengucur di pelipis mereka. Padma mempercepat larinya. Bujang tak tinggal diam. Dia ikut menaikan tempo larinya, membuatnya sejajar dengan Padma lagi. Keduanya tertawa lepas di tengah hutan.

“Kenapa kita tidak melakukan ini dari dulu?” Bujang berucap. Mereka semakin dekat dengan pohon di depan. Jarak terpangkas menjadi 3 km.

“Kau sudah pergi dari talang duluan, mana mungkin kita bisa melakukan ini di masa lalu, bodoh!” seru Padma. Larinya semakin cepat. Dia tertawa dengan kalimatnya barusan.

Bujang tertawa.

10 menit berlalu. Jarak 10 km itu mereka tempuh masing-masing 1 menit 1 km. Orang-orang gila, tapi itulah mereka berdua. Dua anak kecil yang dulu dilatih sejak kecil untuk berlari, ditempa sesempurna mungkin untuk masa depan keduanya hingga senja ini mereka berdua tetaplah anak kecil yang mengharapkan kesenangan walau sebentar bersama orang yang disayang.

TAK!

Serempak, suara dua tangan beradu dengan batang pohon menggema di tengah hutan. Bujang dan Padma tertawa. Puas dengan hasil perlombaan. Mereka seri.

Bye, Monyet! Titip salam untuk Nona dari Moskow itu!” seru Padma, menoleh ke belakang. Ia tersenyum lebar.

Bye, Ratu Bunga! Sampaikan salamku kepada Chen!” balas Bujang, dia ikut menoleh. Tersenyum lebar. Melihat Padma untuk terakhir kalinya, sebelum perempuan itu tak terlihat lagi di antara pepohonan hutan dengan seruan menjawab kalimat Bujang. Entah kapan lagi mereka bisa bertemu. Namun, apapun yang terjadi, Bujang berharap mereka tidak bertemu lagi. Itu lebih baik. Setidaknya untuk jangka waktu yang dekat.

Semuanya berakhir di sini. Di tengah hutan Bukit Barisan, di tempat rahasia itu, yang akan dipenuhi monyet-monyet yang kenyang memakan manggisnya lagi karena dua orang pengganggu tidak akan kembali lagi ke sana.

1 jam berlalu, Bujang sampai di talangnya. Debar di jantungnya akibat kesenangan yang dia dapat sejam lalu masih ada di balik dada. Senyumnya mengembang tiap kali mengingat momen kekanakannya dengan Padma sejam lalu. Dia berjalan mendekati rumah yang ditumpangi Edwin. Memanggil kawannya itu yang segera keluar dari rumah beratap sirap.

“Tauke tidak apa-apa?” Edwin bertanya, heran melihat Bujang berkeringat hebat. “Apa Anda baru saja dikejar hewan buas?”

Bujang tertawa. “Lebih tepatnya, aku menerima tantangan darinya.”

Edwin mengerjapkan mata, tidak mengerti. Sedikit khawatir kalau ternyata kepala atasannya baru saja terkena benturan hebat ketika turun dari lereng.

Bujang tertawa melihat wajah bingung Edwin. Melihat keadaan sekitar.

“Maria sudah pulang ternyata.”

Edwin mengangguk. “Dua jam lalu Nona Maria dan Leonid berangkat. Sebenarnya Nona Maria ingin menunggu Tauke kembali dari atas, namun Leonid sudah berujar duluan mereka harus segera kembali ke Bratva.”

Bujang mengangguk. Begitu rupanya. Mereka berdua mulai berjalan menuju lokasi parkir helikopter. Matahari sudah tergelincir dari tempatnya, menggantikan bulan yang menggantung di atas langit ditemani gemintang yang berkilau.

“Omong-omong, Nona Maria ada menitipkan ini ke Tauke.” Edwin berujar, mengambil sesuatu dari balik kantong celananya. Bujang memberhentikan langkahnya. Matanya melebarkan ketika mengetahui benda apa yang dititipkan Maria ke Edwin.

Itu gelang manik-manik biru yang sebulan lalu Bujang kembalikan ke Maria.

“Nona Maria mengatakan dia tidak mau menyimpan barang ini lagi karena mengganggu kefokusannya dalam bekerja.” Edwin memberikan gelang itu ke Bujang. Bujang menerimanya. Menatap gelang manik-manik biru itu raut bingung. Mengapa Maria mengembalikan gelang ini kepadanya? Bukannya urusan mereka berdua sudah selesai?

“Nona Maria juga menitipkan pesan ke Tauke.” Bujang mengalihkan pandangannya dari gelang manik-manik itu.

“Pesan apa?”

Edwin mengambil napas. “Nona Maria mengatakan bahwa hatinya selamanya adalah milik Tauke.”

Bujang melebarkan matanya. Astaga, tunggu...

“Bukan berarti Nona Maria tidak ingin melupakan Tauke atau Tauke melupakan Nona Maria. Beliau sangat ingin keinginannya tersebut terwujud. Kedamaian hidup Tauke merupakan salah satu prioritas Nona Maria.Tetapi, Nona Maria juga ingin Tauke tetap memiliki hatinya dengan pemberian gelang ini lagi. Nona Maria mengatakan, mungkin di kemudian hari beliau akan menerima cinta orang lain, membangun Bratva lebih baik bersama orang itu, namun itu adalah hatinya yang baru. Hatinya yang lama akan selamanya dimiliki Tauke, melalui gelang ini. Namun, jika Tauke keberatan, Anda bisa menjualnya. Nona Maria tidak memaksa apapun, jadi Tauke bebas memilih.” Edwin selesai berbicara. Penjelasan panjangnya membuat Bujang terdiam sebentar.

“Kau tidak mengarangnya, kan, Edwin?” Bujang memastikan. Mana tahu ternyata sensasi humor anak buahnya menyebalkan seperti ini, membuat cerita yang berbual.

Edwin menggeleng. “Tentu saja tidak, Tauke. Lagi pula, aku tidak pandai mendongeng.”

Bujang kembali melihat gelang manik-manik biru itu di tangannya. Hampir setahun, hidupnya terasa seperti rollercoaster hanya karena benda ini. Semua permasalahan tentang kisah cintanya sudah berakhir. Ia sudah membuat keputusan terbaik untuk masing-masing pihak. Kemudian, Bujang teringat satu hal. Ia tersenyum lembut. Baiklah.

Bujang mengangguk, ia memakai gelang tersebut, menerima permintaan Maria. Permintaan terakhir gadis itu.

“Akan aku jaga sebaik mungkin.”

Mereka berdua kembali berjalan menuju helikopter. Penduduk talang menonton mereka dari jauh ketika masuk ke dalam helikopter.

“Ke mana tujuan kita sekarang, Tauke?” Edwin bertanya, memasang sabuk pengaman. Mereka sedang bersiap lepas landas. Bujang memakai headphones-nya, meredam suara berisik baling-baling di luar.

Ke mana dia akan pergi sekarang? Semua urusannya sudah selesai. Ibu Kota, Manila, Jepang, Moskow, Paris, talang ini… Ke mana dirinya harus pergi sekarang?

Kemudian, Bujang teringat sesuatu. Dia tersenyum.

“Ke Singapura, Edwin. Kita makan malam di sana. Aku tahu satu restoran yang terkenal enak. Ayo, berangkat!”

“Pronto, Tauke!”

 


 

footnotes (?):

(*): 'Matahari terbenamnya terlihat indah,' (夕日がきれいですね yūhi ga kireidesu ne) merupakan frasa Jepang dalam mengakhiri hubungan.

(**): 'Ini memang berakhirnya hari, bukan?' (一日の終わりですよね ichinichinoowaridesu yo ne) merupakan frasa Jepang dalam menjawab kalimat sebelumnya dalam mengakhiri hubungan.