Actions

Work Header

Gelang Biru dan 3 Permintaan

Summary:

A prequel for 'Selamat Tinggal, Tempat Rahasia'

Semua berawal karena sebuah duel yang bodoh. Kemudian dilanjutkan dengan sebuah gelang biru yang diterimanya membuat segala hal semakin rumit. Kedua hal tersebut membuat hidup Bujang berpacu seperti seperti roller coaster. Namun, pria itu tahu, jika ia tidak dihadapkan dengan kedua hal tersebut, jika dia tidak bertemu dengan sosok itu, ia yakin dia tidak akan bisa memilih keputusan yang terbaik di dalam hidupnya.

Work Text:

Pukul 10 pagi, matahari berada di posisinya sedikit lebih tinggi. Pagi yang biasa di Pabrik Tulskay. Suasana di sana berbanding terbalik dengan musim dingin di luar. Hawa panas dari belasan tungku yang menyala merah, melelehkan bijih besi di dalamnya dengan suhu yang sangat tinggi, membuat keringat mengucur di pelipis. 

Pabrik Tulskay adalah pabrik yang besar. Dalam lain arti, besar disini kalian tidak bisa menilainya dari luar saja. Pabrik ini menyimpan markas mereka di perut bumi. Contohnya kantor asli pemimpin mereka yang sebenarnya berada di lantai B10—bagian terdalam di markas. Kantor lantai dua yang berada di atas hanya dipakai sebagai formalitas menyambut tamu. 

Maria sedang berada di kantor basemen itu, menunggu kedatangan seseorang. Dia seharusnya menunggu di lantai atas, seperti yang sudah beberapa kali dia lakukan sejak menjadi kepala bisnis keluarganya. Namun, hal yang akan dia dan tamunya bicarakan lebih penting dari sebuah bisnis.

Kursi yang diduduki bergerak ke kanan-kiri. Rambutnya diikat menjadi kuncir satu. Mata birunya memandang lurus ke samping, menatap taman kecil yang ada di dalam ruangan kantornya, bertujuan untuk memanjakan mata ketika penat bekerja. Cahaya lampu yang menyerupai sinar matahari bersinar lembut dari atas. Suara gemericik dari air terjun buatan memantul di dalam ruangan. Pendingin ruangan bekerja dengan maksimal. 

Maria kembali mengetuk-ngetuk meja yang berbahan kayu yang berumur ratusan tahun, ia mendengus. Sejak sarapan, rasa gugup dan cemas menggerogoti benaknya. Tamu yang sedang dia tunggu merupakan orang yang penting, seseorang yang sudah dia tunggu semenjak 2 minggu lalu setelah pertemuan terakhir mereka. 

2 minggu yang lalu Maria berpikir semua akan selesai, permasalahan mereka berakhir di Paris, bahkan dia mengira dua masalah yang menimpa orang itu sudah berakhir di sana. Namun, sosok tersebut meminta Maria untuk menunggunya. Orang itu berjanji akan menemuinya 2 minggu lagi setelah seluruh tugasnya sebagai penerima wasiat selesai. 

Waktu-waktu terlewati dan tepat setelah 2 minggu, hari ini pun datang. Momen yang Maria tunggu namun, disaat bersamaan dia harap tak kunjung datang. Ia sudah mengira dari beberapa bulan sebelumnya bahwa semua ini akan berakhir, hubungannya dengan orang itu akan berakhir. Tetapi tetap saja hati mungilnya masih tidak rela akan berpisah dengan orang itu. 

Maria mendengus sekali lagi. Hampir setahun terlewati dan aku masih berharap masih ada harapan lain untukku bisa bersamanya, batinnya. Ia menggigit bibir, mendongak ke atas, menatap langit-langit. Kepalanya mulai membayangkan segala angan-angan yang tidak mungkin dia jalani bersama sosok tersebut. Bermain ice skating bersama, menonton pertunjukan opera, mengunjungi…. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, ia teringat satu hal yang sudah idamkannya untuk terwujud.

Ma, maaf Marie tidak bisa membawanya menemuimu. Padahal Marie sudah berjanji akan menemuimu lagi dengan datang bersama bersamanya walau hanya sekali saja karena dia orang yang sibuk, batin Maria. Ia menghembuskan napas. Keinginannya yang sedari setahun ia harap akan terwujud tampaknya harus pupus juga setelah pertemuan ini. 

Tuhan pasti masih geram denganku yang masih ngotot menjalankan bisnis gelap ini, batin Maria sekali lagi sembari senyuman kecut menghiasi wajahnya. Kemudian, sepintas ide menyala di kepalanya namun tak sampai lima detik, ide itu redup ketika mengingat tabiat tamu yang sedang ditunggunya. Ia tahu dia bisa meminta sosok tersebut untuk berkunjung ke pusara keluarga bersama, namun melihat sikapnya yang tegas, Maria mengurungkan niat.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan sedih pemimpin Bratva itu. Orang yang ditunggunya sudah sampai. Maria menegapkan posisi duduknya, menelan ludah. Melihat ke cermin kecil di atas meja, merapikan penampilannya. Lalu, ia menghela napas, mencoba percaya diri dengan penampakannya yang mengenakan baju hangat berwarna putih gading. 

"Входить! Masuk!" perintahnya, Maria segera berdiri dari kursi.
Pintu kayu besar di depan dibuka, menampilkan dua orang pria yang berada di sana. Salah satu dari mereka yang berambut pirang berjalan melintasi ruangan, memimpin orang di belakangnya. Mata biru Maria membulat. Demi, melihat orang yang berjalan paling belakang itu membuat jantungnya terasa hampir copot. 

Orang itu terlihat lebih segar dari pertemuan terakhir mereka di Paris. Rambut hitam bergelombangnya disisir rapi. Matanya yang terlihat teduh menatap ke depan dengan tatapan tegas. Maria menangkap dia tengah tersenyum kecil. Suara langkah kaki dari sepatu boots yang dikenakan memantul ke dinding akibat lantai marmer di bawah. Pria berambut pirang itu membungkuk sedikit ke Maria.

"Tuan Bujang sudah tiba, Nona Maria." 

Maria mengalihkan pandangannya dari orang di belakang—Bujang—ke pria di depan. Ia mengangguk. 

"Terima kasih sudah membimbingnya kemari, Leonid. Kau boleh pergi." 

Leonid—pria berambut pirang itu—mengangguk. "Da, Nona Maria." Ia balik kanan, melangkah keluar ruangan. Segera pintu tertutup kembali. Sunyi menghampiri ruangan itu lagi, menyisakan dua orang yang tengah berdiri dengan jarak yang cukup jauh itu dengan keheningan canggung sambil ditemani suara gemericik air terjun. Mereka saling bersitatap.

Maria menelan ludah, dia harus segera menyambut tamunya dengan baik.

"Selamat datang kembali di Pabrik Tulskay, Si Babi Hutan." Maria mengutuk dalam hati. Andai Bujang tidak berada di depannya, Maria akan menepuk jidatnya sendiri sambil merutuk dalam bahasa Rusia karena sudah berkata begitu. *Kenapa aku malah menyambutnya dengan julukannya, bodoh! Itu terkesan sombong, aduh!*

Senyuman Bujang melebar. "Terima kasih atas sambutannya, Nona Maria." Pria itu membalas sapaannya dengan menyebutkan panggilan Leonid kepada Maria beberapa detik lalu. Mendengar itu, Maria sedikit merasa lega. Setidaknya Bujang membalasnya bercanda seperti itu, seakan tahu kegugupan yang tertera di sorot mata Maria. Ia ikut tersenyum.

"Bagaimana pekerjaanmu?" Maria mulai sedikit berbasa-basi. Berbicara langsung ke inti pertemuan mereka hari ini akan membuatnya terkesan judes. Dan, sedikit melama-lamakan waktu untuk bisa bersama Bujang tidak apa-apa ‘kan?

Bujang mengedikkan bahu. "Berjalan baik. Walau sedikit repot, aku harus bolak-balik ke beberapa negara dan kota-kota di negaraku untuk melakukan tugas yang diberikan, tapi akhirnya selesai juga. Kau beruntung papamu sepertinya tidak meninggalkan wasiat yang aneh-aneh kepadamu."

Maria tertawa kecil. "Kalau sampai membuatku berkeliling dunia, tentu saja tidak. Sebagian besar tugas wasiat Papa hanya memintaku untuk melaksanakan tugas sebagai pewaris tunggal Bratva, menyelesaikan beberapa kerjaannya yang belum tuntas sebelum dia meninggal, dan membawa keluarga ini ke arah yang lebih sukses. Aku masih tidak terlalu paham apa yang sebenarnya yang dia inginkan dari kata ‘sukses’ itu. Kau tahu sendiri perusahaan kami lebih dari kata sukses pencapaiannya. Maka dari itu, aku akan membawa Bratva ke arah ‘sukses’ yang aku inginkan. Entah ke mana, namun yang pasti ke arah yang lebih baik." 

Bujang mengangguk-angguk, mengerti maksud perkataan Maria. "Bagaimana pekerjaanmu?" 

Maria gantian mengedikkan bahunya. "Yah, begitulah. Kau tahu sendiri sesibuk apa menjadi seorang kepala keluarga shadow economy, terlebih dari keluarga seperti Bratva. Jam tidur dan makan yang berantakan, menghadiri pertemuan yang tiada henti, tubuh yang terasa bisa patah setiap waktu karena hampir tidak pernah istirahat. Aku bersyukur belum menjadi gila di umurku sekarang."

Setelah berucap begitu, bibir Maria membentuk sebuah cengiran. Bujang balas menyeringai, ia juga paham kelelahan perempuan itu. Hanya beberapa bulan menjadi kepala mantan keluarga Tong saja sudah melelahkan, apalagi Bratva. Bujang menatap Maria dengan lembut. Masih sedikit tidak menyangka perempuan itu bisa menjalankan salah satu pabrik pembuat senjata terbesar dari shadow economy. Bisa dibilang Bujang bangga dengan Maria.

Kemudian, lengang kembali. Suara gemericik dari air terjun mengisi keheningan. Bujang melirik ke Maria, memperhatikan wajah cantiknya. Sepertinya waktu basa-basi mereka sudah berakhir. Tidak ada topik yang terlintas di kepala Bujang. Saatnya masuk ke inti pembicaraan, namun sebelum itu…

"Kau tidak mau duduk, Bujang?" tanya Maria, ia menoleh ke arahnya.

Sejak kedatangannya, Bujang sudah berdiri di depan Maria selama hampir 5 menit. Di depan meja pemimpin Bratva itu ada dua kursi panjang dengan meja di tengah. Keduanya  bisa menyelesaikan permasalahan di antara mereka dengan duduk di sana.

Bujang membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung. Jadinya dia menutup mulut.  Dari sorot matanya, pria itu terlihat meragukan sesuatu. Bujang kemudian mengangguk, menerima tawaran Maria, duduk salah satu kursi panjang. 

Maria yang memperhatikan gelagat Bujang, mengerti maksud kegugupan pria itu. "Jangan khawatir, Bujang. Pertemuan kita akan aku buat cepat selesai. Dengan begitu, kau tidak perlu merasa menyesal dengan keputusanmu, kan?" Maria beranjak dari tempatnya, duduk di kursi panjang di depan Bujang.

Bujang melebarkan matanya. Maria yang menangkap arti ekspresi terkejut pria di depannya, tersenyum tersenyum kecil, tampak setengah bersedih.

Sejak kejadian di Paris, Maria akhirnya mengerti bagaimana pola berpikir mantan tunangannya itu. Rumit. Penuh dilema. Namun, terstruktur. Rapih, sesuai dengan rencana yang dirancangnya. Itu merupakan suatu bentuk pikiran yang Maria tidak yakin akan bisa sabar menghadapinya seumur hidup, tetapi setidaknya dia paham perasaan Bujang. Terlebih untuk sekarang.

Sebagian kepala pria itu pasti tengah hendak mendobrak keinginan terkuatnya; segera menyelesaikan permasalahan di antara mereka yang masih menggantung. Namun, di sisi lain, Bujang pasti ingin masalah ini diselesaikan baik-baik, dia ingin tinggal bersama Maria sedikit lama.

"Jadi, kita mulai dari mana?" Maria memulai pembicaraan. Wajahnya sedikit tegang. Suaranya terdengar gugup. Ia mencari duduk yang nyaman. Tangannya menyampirkan helai rambut ke belakang telinga.

"Apa kita mulai saja dari membicarakan tentang keputusan akhir hubungan kita? Kau tahu, kita berdua tidak bodoh dalam mempertanyakan ke mana arah akhir hubungan ini berjalan. Atau, jika kau merasa itu terlalu cepat, bagaimana kalau kita mulai dari apa yang kita rasakan selama ini, bagaimana keadaanku selama 6 bulan. Atau, apa kau ingin membicarakan…" Kalimat Maria terhenti. Tatapannya beradu dengan milik Bujang, pria itu menatapnya lamat-lamat. 

Maria menelan ludah. Sorot mata hitam itu penuh dengan penyesalan dan luka, sama dengan milik Maria. Namun, sorot mata biru pemimpin Bratva itu penuh dengan desakan meminta penjelasan dari segala pertanyaan yang masih menyelimuti mereka.

Luka dari sakit hati yang ditimbun lama, terbuka kembali. Maria merasakan sesak di dadanya lagi. Ia menelan ludah. Pelan-pelan, batinnya. Maria menghela napas. 

"Maaf, aku berbicara terlalu cepat. Apa yang ingin kau bahas dulu, Bujang?" Maria mengutuk dalam hati sekali lagi. Mengapa dia terlihat seperti perempuan yang tak sabaran. Dia bisa membiarkan Bujang memulai pembicaraan, dan bukannya berbicara tidak sabaran seperti tadi.

Riak air terjun mengisi kesunyian yang datang kembali. Bujang mengalihkan tatapannya, melihat pahatan meja di depannya. Jemarinya kemudian menyisir rambut hitamnya. 

Let’s talk about the first thing you said.” Bujang kembali menatap Maria. Tangannya merogoh gelang manik-manik biru dari kantong celana. Ia mengusapnya dengan lembut, memandangnya. 

“Kau benar. Kau dan aku sudah mengetahui akan berakhir seperti apa kisah kita ini. Aku… Sudah banyak membuatmu bertanya-tanya, merasa sedih dan mungkin bahkan menyesal selama enam bulan kemarin karena kau sudah membuatmu sukarela memberikan gelang leluhurmu ini kepadaku. Kau selalu percaya dan sabar menghadapiku secara tidak langsung, Maria." Segaris senyuman terbentuk di bibir Bujang. 

"Kepercayaanmu itu terkadang membuatku merasa senang dan bahagia karena, err… entahlah, mungkin itu karena kau satu-satunya orang yang dapat meruntuhkan pertahanan yang kubuat selama dua puluh tahun. Aku tidak tahu." Bujang mengusap kepalanya. Pipinya mulai memerah. Tatapannya masih fokus ke gelang manik-manik biru di tangan, tidak mau bersitatap dengan Maria, malu. 

Maria yang duduk di depan Bujang merasa jantungnya berdegup kencang. Pipinya ikut merona. Ia hampir tidak bisa menahan senyumnya. Bujang melanjutkan kalimatnya setelah menetralkan degup jantungnya.

"Dari segala hal yang sudah kau perbuat, kau pantas mendapat yang lebih baik dari aku. Itu bukan berarti kau tidak pantas mendapatkanku, malah sebaliknya. Aku merasa tidak pantas mendapatkanmu, Maria. Aku telah banyak menyakitimu, bahkan mungkin hingga di detik ini, atau sebelum aku datang, kau masih membayangkan kegiatan yang mungkin kita bisa lakukan jika hubungan kita berjalan baik. Jika saja aku bisa berpikir lebih jernih ketika papamu mendadak menjodohkan kita, cerita kita tidak akan berakhir seperti ini."

Terkadang di tengah malam bahkan di tengah kesendirian yang fana, Bujang memikirkan kejadian tahun lalu, konflik Master Dragon. Apa yang akan terjadi kalau dirinya berani mengajukan tawaran soal perjodohan itu kepada Otets jika Bujang ingin hubungan antaranya dan Maria berjalan secara natural seperti kebanyakan orang? 

Apakah aliansi 3 keluarga itu tidak akan terbentuk? Atau malah sebaliknya, Otets menyetujui tawaran Bujang dan hubungannya bersama Maria akan berjalan mulus. Bujang memikirkan hal tersebut karena teringat perkataan Maria beberapa bulan lalu sewaktu di penjara bersamanya. Otets suka bercanda, bahkan kadang kelewat batas.

Senyuman getir terpatri di wajah Bujang. Ia menggigit bibir. Benar, mengapa aku tidak mencobanya sedari dulu setelah melumpuhkan Master Dragon? batinnya. Rasa sesal mulai menggerogoti benak. Ruangan itu terasa kian menyesakkan. Maria tidak mengatakan apa-apa, tidak menyangkal. 

Baiklah, sepertinya saatnya sudah tiba. Ia harus mengatakannya. Dengan berat hati dia benar-benar harus mengatakannya ke Maria. 

“Aku kembalikan gelang leluhurmu ini kepadamu, Maria. Namun sebelum itu, maafkan aku sudah membuatmu selalu mencemaskan hubungan kita, berusaha untuk tidak berbuat salah kepadaku hingga berupaya menjadi sosok perempuan yang kau kira aku sukai.” Bujang menelan ludahnya. Ia mengangkat tatapannya dari gelang di genggamannya, tersenyum tulus ke arah Maria yang melebarkan matanya. 

I appreciate all the efforts you put in on trying to makes me likes you, but you shouldn't do that, Maria. I am more than happy knowing all your true demeanor rather than being ‘the girl’ you try to make to impress me. You’re what you are and you’re never a burden to me.” 

Seperti ada gumpalan hitam di tenggorokannya, Maria tidak tahu berkata apa, dia susah menelan ludah. Dadanya terasa dipukul keras oleh palu ketika mendengar beberapa kalimat terakhir pria di depannya tadi. Antara malu atau marah pada dirinya ketika Bujang mengetahui hal tersebut, Maria tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Wajah Maria kian memerah, matanya terasa panas. Dia ingin menangis, malu akan kebodohannya. 

Bujang yang melihat perubahan mimik wajah Maria jadi khawatir, salah tingkah. Baru menyadari dengan kalimatnya. "Maria, maaf—"

"Tidak, tidak perlu. Kau benar, hal kulakukan memang bodoh." Maria mengibaskan tangan ke depan Bujang, memintanya untuk tidak khawatir. Ia akhirnya menelan ludah, berusaha menghentikan air mata yang hendak menetes. Berhasil. 

"Jika kau tidak mengatakannya, aku mungkin akan selalu bertanya-tanya mengenai kelakuanku itu. Apakah aku masih belum cukup untukmu? Apakah usahaku untuk menjadi sosok wanita yang kukira kau akan menyukainya masih kurang?" Maria terkekeh. Ia memainkan jemarinya, berusaha untuk tetap nyaman. Tatapannya fokus ke ukiran meja di depan.

"Sejak menjadi pewaris tunggal di umur empat tahun, aku hampir tidak pernah mengizinkan diriku untuk gagal dalam mencapai keinginan Papa, walau beberapa kali aku kabur ke Kiev karena desakan Papa berlebihan. Aku tahu masa depan keluarga ini ada di tanganku, maka dari itu aku selalu berusaha menjadi wanita yang kuat, menyelesaikan masalah dengan mandiri, merasa aku bisa menuntaskan masalah dengan mudah. 

"Hingga, permasalahan di antara kita ini muncul. Aku mengira semuanya akan cepat terjawab jika aku mencoba menjadi sosok yang mungkin akan kau sukai. Ternyata tidak. Bodoh, kan? Tidak semudah itu ternyata. Aku rasa ini saatnya aku mengizinkan diriku untuk gagal mencapai keinginanku dan tidak terlalu berkecil hati dengan keputusan kita." 

Maria mengangguk kecil. Itu benar, dia sudah terlalu lama keras terhadap dirinya. Namun, kalau tidak seperti itu, dia tidak akan menjadi Maria yang dikenal banyak orang sekarang. Tetapi, untuk kasus ini, dia harus menurunkan egonya.

Perlahan Maria mengangkat tatapannya, melihat Bujang. Pria itu masih terlihat sedih, bukan hanya karena kalimatnya, namun karena keputusan ini juga. Maria tersenyum lembut. Memberitahu Bujang bahwa ini keputusan yang terbaik. Pengembalian gelang leluhurnya, mengikhlaskan segala angan-angan yang bisa mereka lakukan bersama pergi. 

Maria mengangkat tangan, membukanya. "Kau bisa mengembalikan gelang itu kepadaku sekarang, Bujang." 

Bujang menahan napas. Kalimat itu, Bujang teringat Maria pernah mengatakannya beberapa kali sewaktu masih Saint Petersburg. Namun, kala itu Bujang belum siap melakukannya. Hatinya belum siap, sampai sekarang sebenarnya. Tetapi, semua ini harus berakhir. Gelang manik-manik ini merupakan benang emas yang memeluk mereka berdua dengan erat. Jalan yang diambilnya dengan Maria tidaklah sama.

Maka, dengan beban yang masih di hati, Bujang memberikan gelang manik-manik biru kembali kepada Maria. Pemimpin Bratva itu menerimanya dengan rasa sesak di dada yang sama dengan Bujang. Ia masih tersenyum, sorot mata birunya berubah sendu ketika menatap gelang yang sudah di telapaknya. Dengan begini, hubungan mereka resmi berakhir. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. 

Maria kemudian memakai gelang itu, benda itu sekarang terlihat unik di pergelangan tangannya dengan manik-manik kecil yang tersisa dari pertempuran sewaktu melawan Natascha.

Keduanya menghela napas tanpa disadari. Seakan melepas beban yang menggantung di hati selama ini, merelakannya pergi bersama harapan-harapan indah mereka. Maria menatap Bujang kembali. Pria itu tampak sedikit santai setelah mengembalikan gelangnya dari sebelumnya, tetapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Bujang tampak sedikit sedih dengan keputusannya. Wajahnya tampak seperti anak-anak yang kesal karena salah membuat keputusan.

Melihat itu, Maria merasa gemas dan senang mengetahuinya. Perutnya kembali tergelitik. Ia tertawa kecil. Menggemaskan sekali, batin Maria. Lalu, ia menyadari sesuatu. Maria beranjak dari duduknya.

“Kau mau minum sesuatu, Bujang? Aku bisa meminta anak buahku mengambilkan sesuatu untukmu sebelum pulang. Astaga, bisa-bisanya aku lupa menjamu-mu.” Maria berjalan ke arah meja, hendak memanggil anak buahnya melalui intercom. Setengah jam sudah berlalu, Bujang sebentar lagi pasti akan pulang. Bujang menggeleng.

“Tidak apa-apa, Maria. Kau tidak perlu melakukannya. Lagian aku belum ada rencana untuk pulang.” Bujang menjawab, menoleh ke Maria. 

Maria menghentikan kegiatannya. Eh?

Ia menoleh ke Bujang, pikirannya terasa berlari ke sana-kemari karena kalimat terakhir pria itu. Satu dua kalimat menggaung di dalam kepala Maria soal harapannya. 

“Kau tidak sibuk?” Maria memastikan.

Bujang kembali mengalihkan pandangannya, mengusap kepalanya. Wajahnya kembali memerah. 

“Sebenarnya aku telah berusaha untuk mengosongkan jadwalku agar bisa menghabiskan waktu denganmu hari ini.” Bujang malu-malu melirik ke arah Maria, kemudian kembali mengalihkan tatapannya ketika gadis tersebut menatapnya dengan binar bahagia di mata birunya. Jantungnya berdegup kencang kegirangan.

Maria merasakan wajahnya ikut merona, terasa panas. Entah berapa kali dirinya merasa senang hari ini karena Bujang. Mereka diam sejenak. Maria mencengkram erat ujung meja di sampingnya, berpikir sesuatu. 

“Apa yang ingin kau lakukan bersamaku, Bujang?” Bujang kembali menoleh ke arah Maria. Gadis itu tidak menatapnya, melainkan pandangannya tertuju ke kursi duduknya. 

“Soalnya, aku juga mencoba mengosongkan jadwal pertemuanku, menggantinya ke hari lain, jadi aku memiliki waktu luang yang banyak hingga besok hanya untuk bertemu denganmu hari ini. Aku melakukannya untuk berjaga-jaga jika ternyata kau juga ada ingin membahas suatu hal selain menyelesaikan permasalahan kita, tapi tampaknya tidak.” 

Maria menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Ia melirik ke Bujang. Yang ditatap merasa jantungnya hendak melompat keluar dari dadanya. Bujang menelan ludah.

“Kita bisa mulai dari segala hal yang ingin kau dan aku lakukan bersama. Hal apa saja yang ingin kau lakukan?” 

Maria tersenyum. Pergi "berkencan" dengan Bujang, itu boleh juga. Namun, itu ide yang buruk.

Walau waktu mereka banyak untuk bisa menghabiskan beberapa kegiatan bersama, namun bagi Maria itu sebenarnya ide yang buruk. Meskipun dia bisa menggunakan kesempatan ini sebagai bentuk balas dendam setelah enam bulan ditinggal tanpa kabar, hanya saja baginya semakin lama ia menghabiskan waktu lagi dengan Bujang, semakin tidak rela hatinya untuk melepaskan pria itu dari hidupnya. 

Ia berjalan pelan ke arah Bujang. Dia mendapat ide yang lebih baik daripada pergi "kencan" dengan Bujang. Tanpa membuat hatinya merengek merindukan pria itu setelah dia pergi.

“Jangan dermawan seperti itu, Bujang. Aku bisa jadi serakah kalau begitu." Maria duduk di samping Bujang sedikit jauh. Ia menatap pria di sebelahnya, berharap pemuda itu mengerti maksud kalimatnya. 

"Aku punya ide. Aku akan mengatakan permintaanku, tetapi hanya tiga kali. Seperti Aladdin ke Jin. Hanya tiga, tidak lebih, maupun kurang. Kau setuju?"

Bujang mengerjapkan matanya. Hanya tiga? Itu terasa tidak adil untuk Maria yang telah menunggunya selama 6 bulan. Namun, Bujang mengerti. Dia paham, semakin lama mereka bersama, akan semakin lekat perasaannya ke gadis itu. 

"Oke." Bujang setuju. 

Maria menghela napas, duduk berhadapan ke Bujang. Kakinya sedikit bergerak naik-turun, gugup. "Maukah kau ikut denganku untuk menemui mamaku?"

Diam sejenak. Suara riak air terjun mengisi kesunyian. Ruangan itu terasa sedikit tegang untuk Maria, ia menunggu jawaban. Dia tahu permintaannya biasa saja. Namun, mengingat orang tuanya tidak lagi di dunia, suasana di pemakaman nanti pasti akan canggung ketika mereka sudah sampai di sana. Karena orang yang hendak mereka ajak bicara pun sudah ditimbun tanah.

Bujang mengedipkan matanya beberapa kali. Ia tersenyum. Menatap Maria dengan lembut.

"I'm honored to meet her, Maria."

"You’re fine meeting dead people?"

"Hei, aku juga memiliki orang tua yang tidak ada lagi disini, Maria. It's fine. Terkadang aku juga berbicara sendiri dengan mereka. Melepas rindu, menceritakan kegiatanku, yah walau kebanyakan aku tujukan ke mamakku, sih. Jadi, ayo."

Maria terdiam. Mata birunya berkaca-kaca, berbinar dengan indah. Dia balas tersenyum. "Terima kasih, Bujang," lirihnya. 

Bujang mengangguk. "Ada lagi?"

Maria berpikir—pura-pura berpikir, karena dia sebenarnya sudah memiliki permintaan kedua. Dia melihat tangan Bujang, mengingat kejadian beberapa bulan lalu di Saint Petersburg. Pria itu selalu menggenggam tangannya sepanjang mereka kabur dari pengejaran Natascha. 

Apakah tidak apa-apa?

Maria menimbang-nimbang sebentar. Lalu, mendengus. 

"Apakah kau mau menggenggam tanganku lagi, untuk terakhir kalinya?"

Bujang mengerjapkan matanya sekali lagi. Ia menatap Maria sedikit lama, membuat gadis itu salah tingkah, lantas tersenyum kembali. 
"I thought you will never ask for it."

Eh?

Belum sempat Maria mencerna jawaban Bujang, pria itu sudah mengambil tangannya, menggenggamnya. Maria terdiam. Matanya berbinar bahagia. Lantas dia tersenyum. Hatinya terasa hangat. Mama, kau akan bertemu dengannya sebentar lagi.

 


 

Keluar dari Pabrik Tulskay, angin musim dingin yang menusuk menerpa wajah mereka. Maria sudah memakai jaket musim dingin yang senada dengan baju hangatnya. Mereka berjalan menuju mobil hitam yang sudah terparkir di depan pabrik. Zasha—kepala Black Widow yang merangkap menjadi bodyguard Maria— duduk di depan bersama si supir. Maria dan Bujang duduk berdua di kursi belakang. Mobil mulai bergerak meninggal pabrik, membelah salju di jalan.

Keadaan tepi kota Moskow tampak sibuk. Beberapa orang berjalan di trotoar sambil menahan dingin yang menusuk. Maria mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar, melirik Bujang. Pria itu tampak menikmati pemansangan salju yang semakin menumpuk di kota sembari mendengarkan lagu bossa nova yang melantun dari radio. Sesekali ibu jari Bujang mengelus tangan Maria.

Dua puluh menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan gerbang pemakaman. Zasha dan si supir segera keluar dari mobil, membuka pintu untuk Bujang dan Maria. Mereka bertiga berjalan memasuki area pemakaman, si supir kembali masuk ke dalam mobil, memarkirkannya ke lapangan yang tersedia. 

Sejauh mata memandang, hanya hamparan putih yang terlihat. Salju menutupi nama-nama orang yang dikubur di bawah batu nisan.  Pepohonan tampak membeku kedinginan karena udara yang menusuk. Dedaunan yang tidak tahan jatuh lemah ke atas dataran putih. Mereka berjalan lebih jauh lagi di pemakaman.

Detik demi detik berlalu. Maria berjalan sedikit lebih cepat, raut wajahnya tampak lebih cerah, senang karena akhirnya seseorang yang selalu dia ceritakan ke Mama dan abangnya bisa bertemu dengan mereka. Tanganya menggamit tangan Bujang semakin erat. 

"Mama!" Maria berseru riang ketika sampai di depan sebuah batu nisan, suaranya terdengar sedikit cempreng. Wajahnya seperti anak yang senang bertemu dengan ibunya setelah sekian lama. 

Zasha membungkukkan badannya ke depan nisan sebentar, memberi hormat kemudian berjalan lima meter di belakang Maria dan Bujang. Memberikan privasi.

Maria berjongkok, membersihkan salju yang hinggap di atas nisan keluarganya, memperlihatkan nama-nama keluarganya. Bujang mencondongkan tubuhnya, membaca nama ibu dan abang Maria. 

Maria berdiri kembali, menggenggam tangan Bujang. "Ini Bujang, Ma. Dia yang kadang aku ceritakan kepadamu." Maria tersenyum lebar, tampak bangga dan bahagia. Ia menoleh ke nisan di sebelah milik ibunya. "Aku harap kau menyukainya, Misha."

Bujang mengangguk, wajahnya sedikit memerah. "Selamat siang, Nyonya Katarina, Tuan Muda Mikhail." Bujang sedikit memajukan wajahnya ke depan, melihat nisan di samping milik ibu Maria satu lagi. "Halo, Tuan Otets. Lama tidak berjumpa."

"Kau tidak perlu menyapanya, Bujang," ketus Maria.

"Hei, dia papamu."

"Dia tidak akan bisa memarahimu karena kau tidak menyapanya. Jadi, biarkan saja. Aku juga biasanya tidak menyapa ketika kesini, kecuali saat pekerjaanku sedang menumpuk, aku akan mengoceh kepadanya."

Bujang tertawa kecil. Gadis ini, tampaknya masih kesal dengan ayahnya. Padahal dia sendiri yang menangis di depan mayat orang tua itu. 

Sepoi angin dingin datang dari timur, membuat rambut mereka melambai-lambai lembut. Maria menoleh ke belakang, Zasha berdiri sepuluh meter di belakang. Memberikan privasi untuk mereka berdua sambil memantau sekitar. 

"Pemakaman ini cukup penuh, bagaimana papamu bisa ditempatkan di sebelah makam mamamu?" Bujang bertanya, memperhatikan isi pemakaman.

Maria menoleh. "Oh, sebenarnya Papa sudah bicara ke pihak pemakaman sejak penguburan Mama dan abangku untuk menyisakan dua tempat lagi untuk penguburan keluarga kami, makanya dia bisa dikuburkan di sebelah mamaku." Maria menunjuk setapak tanah yang masih kosong yang tertimbun tanah sebelah makam Otets. 

"Tempat itu akan menjadi tempat aku dikuburkan jika aku mati. Kalau waktunya sudah tiba, akhirnya aku bisa berkumpul dengan mereka." Maria tersenyum setelah mengatakan itu. Bujang yang mendengarnya tidak tahu harus bereaksi apa. 

Matahari kian berjalan menuju puncaknya. Sinarnya menyinari dataran Moskow, membasuh wajah Maria, Bujang dan Zasha dengan lembut. Kedua orang itu menghabiskan waktu dengan membicarakan soal keluarga Maria. 

Bagaimana Mikhail sewaktu masih hidup gemar menjaili Maria. Katarina yang menjadi alasan Maria memiliki pandangan yang sedikit berbeda dari Otets. Dan, sisi lembut Otets yang Bujang terkejut mengetahuinya. Ternyata pria paruh baya itu suka mengajak Maria berdansa berdua ketika memiliki waktu lengang, bahkan ia terkadang masih melakukannya ketika Maria sudah beranjak dewasa.

Sepoi angin dingin datang dari timur, membuat rambut mereka melambai-lambai lembut. Mereka berdua larut ke dalam kesunyian yang damai. Tanpa sadar Maria menyenderkan kepalanya ke atas pundak Bujang. Dia menatap ketiga batu nisan di depannya dengan lembut.

"Terima kasih, Bujang." 

Bujang tersenyum, dia paham maksud terima kasih itu. Dia balas menyenderkan kepalanya di atas Maria. "Terima kasih juga sudah memperkenalkanku dengan mereka."

Maria mengangguk. Mereka menatap batu nisan cukup lama. Membayangkan jika ketiga orang di bawah batu nisan ini masih hidup, melihat mereka berdua, terlebih ibunya Maria, reaksi apa yang akan diberikan? Apakah histeris seperti ibu-ibu pada umumnya seperti Ayako atau malah santai, seperti sudah tahu saja jodoh anaknya seperti dirinya. 

Maria menutup matanya. Ketenangan di pemakaman membuat emosinya berlarut sendu, tanpa sadar dia mulai menggumamkan sebuah. Bujang mendengar senandung lagu tersebut melirik ke Maria. Mendapatkan gadis itu tengah menitikkan air mata. Gamitan di tangannya semakin kencang. Bujang membiarkan Maria selesai bersenandung, meluapkan emosinya. Tak lama, Maria selesai bergumam. Ia membuka mata. Bujang bertanya hati-hati.

"Kau tidak apa-apa, Maria?"

Maria mengangguk, mengangkat kepalanya, tertawa kecil.

"Itu lagu nina bobo yang sering dinyanyikan mama sewaktu aku masih kecil. Aku pernah mengatakannya padamu, bukan? Tanpa sadar aku selalu menyanyikannya ketika ke sini, membayangkan aku bernyanyi bersamanya." Maria terkekeh, menghapus air matanya.

"Aku bahkan terkadang sambil tiduran bernyanyi di depan nisan mereka, membayangkan kami berempat menyanyikan lagu itu. Kami semua hafal lagu itu. Nina bobo itu merupakan lagu pengantar tidur yang sudah turun menurun sejak abad 19 di masyarakat Rusia. Dulu sewaktu aku kecil, ketika aku dan Misha tidak bisa tidur, Mama akan menyanyikannya dan Papa mengiringi nyanyian Mama dengan memainkan gitar. Membuat suasana lebih nyaman, terlebih saat musim dingin." 

Bujang mengangguk-angguk. Dia paham hal tersebut. Andai ingatan masa kecilnya tidak hilang, pasti dia masih akan ingat senandung yang digumamkan Mamaknya.

"Kau mau mendengarnya, Bujang? Lagu pengantar tidur itu."

Bujang mengangguk. Tentu saja, kenapa tidak.

Maria tersenyum. "Karena kau tidak memahami bahasa Rusia, arti dari setiap liriknya merupakan penggambaran kerasnya kehidupan di tengah perang dan juga keberanian para tentara melalui lagu tersebut. Para ibu di masa perang biasanya menyanyikan lagu ini untuk mengantar anak mereka tidur dengan damai. Nadanya yang lembut namun terkesan mistis dari alunannya membuat anak-anak semakin mudah untuk tidur."

Itu informasi terbaru untuk Bujang. Orang-orang Rusia benar-benar sedikit "berbeda" dalam membuat karya seni. Jika lagu pengantar tidur terkadang menceritakan hal yang menyenangkan, berbeda dengan nina bobo yang Maria jelaskan, lagu itu menggambarkan suasana perang dan keberanian para pejuang.

Maria mulai bernyanyi.

(here's the song maria singing about)

Spi, mladenets moy prekrasnyy,
Bayushki-bayu. 
Tikho smotrit mesyats yasnyy
V kolybel' tvoyu.
Stanu skazyvat' ya skazki,
Pesenku spoyu;
Ty zh dremli, zakryvshi glazki,
Bayushki-bayu.
 
Tidur, anak baik, cantikku,
Bayushki bayu (sayangku),
Diam-diam bulan melihat
Ke dalam buaianmu.
Aku akan memberitahumu dongeng
Dan nyanyikan lagu-lagu kecil untukmu,
Tapi kauharus tidur, dengan mata kecil tertutup,
Bayushki bayu.

Bujang terdiam mendengar Maria bernyanyi. Matanya sedikit melebar. Maria bernyanyi dengan merdu. Setiap not-not yang telah dia hafal, dilantunkan dengan pas. Hawa sekitar tiba-tiba terasa berbeda. Lebih sendu, mendung padahal langit tampak biru, menenangkan dan nyaman dalam artian aneh. Itu memang lagu yang terdengar enak untuk dinyanyikan sebagai pengantar tidur.

Maria mungkin benar. Jika ditambah dengan instrumen gitar, nyanyian lagu ini mungkin akan terdengar lebih hangat di tengah udara musim dingin yang menusuk. Bujang memperhatikan Maria yang tetap bernyanyi. Mata biru itu menatap lembut ke arah batu nisan Katarina.

Ketika lagu selesai dinyanyikan, Maria sekali lagi menitikkan air mata.

 


 

Matahari berada di puncaknya ketika Maria, Bujang dan Zasha beranjak dari pemakaman. Sinarnya terasa hangat di kulit. Maria dan Bujang tetap berpegangan tangan, tidak sedikit pun ada keinginan untuk saling lepas.

Ketiga orang itu berjalan menuju gerbang, menuju mobil. Senyuman kecil terpatri di bibir Maria. Dia merasa sangat senang. Hanya menghabiskan beberapa jam  bersama orang tercintanya sudah membuat hari ini sebagai hari yang paling membahagiakan di dalam hidupnya sejak kematian ibu dan abangnya. 

"Terima kasih kau mau melakukan ini bersamaku, Bujang." Maria berucap, melirik genggaman tangan pria itu. 

"Hei, aku berhutang banyak padamu karena sudah membuatmu cemas selama enam bulan, tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya aku melakukan ini. Jadi, berhentilah berterima kasih."

Maria tertawa kecil. "Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, aku hanya ingin menghargai seluruh waktu yang ada sekarang." Ia menoleh ke Bujang. "Apakah kau juga senang?"

Wajah Bujang tampak memerah. Maria tahu, walau wajahnya juga memerah, namun rona merah di wajah Bujang sudah cukup untuk mengetahui pria itu juga senang.

Maria kembali melihat genggaman tangan mereka, lalu perhatiannya teralihkan dengan langkah kaki mereka. Ia berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Bujang, membuat kedua kaki mereka berjalan dengan ritme yang sama seperti pasukan paskibra. Namun, lebih santai.

"Apakah tidak ada yang kau inginkan untuk aku lakukan, Bujang?" 

Bujang menoleh ke Maria yang tengah menatapnya. "Aku juga berhutang padamu karena kau selalu melindungiku." Dia merasa tidak adil jika dia mendapatkan hal yang dia inginkan selama ini, sedangkan pria itu tidak mendapat apa-apa.

Bujang berpikir sebentar, mereka berhenti melangkah. Zasha yang berada di belakang ikut menghentikan langkahnya. Ia mengambil lima langkah ke belakang lagi, memberikan privasi untuk Bujang dan Maria.

Bagi Bujang, tidak ada yang dia ingin minta dari Maria. Semua dari gadis itu sudah cukup selama ini. Kebaikannya, kesabarannya, perhatiannya, keteguhannya, bahkan dapat memandangi mata biru itu lagi dengan rona merah di wajah dan senyumannya, semua itu sudah cukup bagi Bujang untuk melepas segala penyesalannya selama ini. Malah dia merasa bersyukur bisa mengunjungi pusara keluarga Maria, menjadi lebih dekat dengan gadis itu di penghujung waktu.

Kemudian, selintas pemikiran berlalu di kepala Bujang. 

"Aku punya satu pertanyaan dan ini menjadi permintaanku untukmu. Aku ingin kau menjawabnya."

Maria memiringkan kepalanya.

"Jika kita terlahir kembali.... Jika kita masih mengingat satu sama lain, apakah kau masih akan tetap memilihku?"

Sepoian angin musim dingin menerpa wajah, membuat rambut mereka melambai gemulai. Maria diam. Apakah dia tetap memilih Bujang jika mereka terlahir kembali? Bertemu kembali, masih dengan memori di kehidupan sebelumnya, dengan situasi yang berbda, apakah Maria akan tetap memilih pria itu?

Kemudian, Maria perlahan menggeleng. Bujang yang segera mengetahui jawabannya merasa sesak di dadanya. Hatinya terasa perih. Tidak mengherankan, dia sudah melukai dua wanita yang dia cintai seperti bapaknya dulu. Mau sekeras apapun hatinya memberontak, Maria sebaiknya mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya. 

Namun, Maria berbicara. 

"Tetapi jika di kehidupan selanjutnya kita bertemu kembali, aku berharap hatimu lebih dari siap untuk jatuh cinta. Mau itu dengan siapapun. Aku harap kau semakin bijak dengan hal seperti ini. Aku tidak peduli jika kita bertemu kembali di kehidupan selanjutnya dengan memori di kehidupan ini dan kau memilih perempuan selain aku, berbahagia dengannya, aku tidak apa-apa dengan hal tersebut. Karena itu yang aku mau. 

"Aku ingin kau menemukan kedamaian dalam cinta seperti diriku, seperti apa yang kau cari selama ini untuk hidup. Namun, jika di kehidupan selanjutnya kita berjumpa kembali, aku hanya berharap hatimu siap untuk menjadi milikku karena tanpa keraguan sedikitpun aku akan memberikan seluruh hatiku kembali untukmu."

Bujang mengerjapkan matanya. Tidak menyangka Maria akan berkata seperti itu. Dia memilih untuk diam mendengarkan, walau jantungnya berdegup kencang.
 
Maria tersenyum, pipinya merona. 

"Jadi, apakah aku akan memilihmu di kehidupan selanjutnya? Tergantung dirimu, apakah kau siap untuk jatuh cinta lagi kepadaku? Jangan khawatirkan tentangku, aku akan selalu disini, di sana di kehidupan selanjutnya, menunggumu." 

Bujang tidak tahu harus bereaksi apa. Dia merasa senang. Namun, sedih juga. Tidak terbayang olehnya kesabaran gadis itu jika dia melakukan kesalahan yang sama tetapi Maria tetap memilihnya. 

"Tetapi kau harus cepat datang, Si Babi Hutan. Kesabaranku ada batasnya. Kalau tidak, seseorang akan datang kepadaku duluan, memelukku lebih erat hingga aku melupakanmu. Karena jujur saja aku lelah memikul perasaan sebesar ini sendirian. Aku perlu tempat untuk berbagi." Maria masih tersenyum. 

Mata birunya berbinar di bawah sinar matahari. Bujang balas tersenyum. Gadis ini benar-benar menaruh harapan kepadanya sepenuh hati.

Bujang mengangguk. "Terima kasih, Maria."

Keduanya saling tatap sejenak. Cahaya matahari membasuh wajah mereka di bawah pepohonan. Maria akan merindukan tatapan lembut Bujang setelah ini. Begitu juga dengan pria itu, Bujang akan merindukan kerlingan ceria Maria dari mata birunya.

Mereka kembali berjalan. Zasha mengikuti dari belakang, mengambil langkah mendekat. 

"Baik, apa permintaan terakhirmu?" Bujang bertanya ketika mereka semakin dekat dengan gerbang. 

Maria berpikir. Sedari tadi dia tidak kepikiran permintaan ketiganya. Jalan-jalan? Tidak, dia lebih suka melakukan hal yang berharga bersama Bujang. Makan siang? Tidak, hatinya akan semakin susah untuk melepas kepergian pria itu nantinya. 

"Pasti ada. Ayo, pilih satu, Maria."

Maria menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu. "Well, there's so much but I don't know which one should I choose."

Mereka sudah melangkah melewati gerbang. Maria masih tidak tahu permintaan terakhirnya. Bahkan mereka masuk ke mobil dan tukang pukul yang berada di belakang setir menanyakan arah tujuan, Maria masih tetap tidak tahu mereka harus ke mana? 

Maria menghela napas. Baiklah. 

"Dua minggu lagi, jika aku tidak ada mengabarimu perihal permintaan ini, berarti kau tidak perlu memikirkan soal satu permintaanku yang belum kau kabulkan. Kau bebas dariku."

"Kau bisa saja lupa karena terlalu sibuk."

"Oh no, kalau perihal yang menyangkut dirimu aku tidak akan lupa. Jadi kau tunggu saja." Maria mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri. Hingga ketika menyadari kalimatnya barusan, pipinya mendadak bersemu merah. Bujang menahan tawa melihat wajah menggemaskan itu. Zasha dan tukang pukul di sebelahnya juga ikut menahan tawa. 

"Baiklah, dua minggu lagi. Sekarang gantian aku yang menunggu," ucap Bujang. 

"Ya, selamat overthinking selama dua minggu, Si Babi Hutan."

"Hei."

Keduanya tertawa bersama ketika mobil berjalan kembali menuju Pabrik Tulskay.

 


 

Dua minggu berlalu dan ya, mereka berdua bertemu kembali. Tetapi itu bukan pertemuan yang direncanakan. Maria sudah menetapkan dia tidak ingin Bujang melakukan apapun lagi untuknya sejak melepas kepergian pria itu di Pabrik Tulskay. Namun, ketika pertemuan mereka kembali di markas besar Keluarga Tong, saat  Maria memiliki urusan dengan Basyir dan bertemu Bujang—pria itu ternyata memiliki urusan dengan Parwez—Maria mengubah pikirannya. Dia memiliki satu permintaan—yang ternyata permintaan ini sudah ada dia pikirkan selama sebulan. 

Dua helikopter beranjak dari helipad, mengudara di langit, menuju talang. Dari sini kalian sudah tahu apa yang akan terjadi. Maria memegang gelang manik-manik biru yang melingkari di pergelangan tangannya, mata birunya menatap pemandangan di luar. 

Beberapa jam berlalu, dua helikopter itu sampai di lapangan luas. Maria keluar dari helikopter bersama Leonid, memperhatikan sekitar. Beberapa anak-anak di sana tampak kegirangan ketika melihat Bujang keluar dari helikopter. Seperinya pria itu karena sudah beberapa kali ke sini dengan helikopter. Di sisi lain, oang-orang terkesima melihat Maria dan Leonid. Penduduk di sana hampir tidak pernah kedatangan tamu, terlebih dua orang bule seperti mereka.

"Wow," ucap Maria ketika melihat pusara orang tua Bujang. Dia menoleh ke pria itu. "Kau benar-benar tidak membersihkannya." 

Bujang mengedikkan bahunya. Sepoian angin menerpa rambut mereka. Leonid berdiri di belakang mereka beberapa langkah. 

"Yang mana milik mamakmu?"

Bujang menunjuk sebelah kiri. Maria berjongkok di depan gundukkan tanah itu. 

"Apa kau pernah mengenalkanku kepada mereka?"

"Aku terlalu malu membahas perihal itu kepada mereka, Maria. Terlebih ada bapakku." Bujang mengalihkan pandang, pipinya memerah. 

Maria tertawa kecil. Ia mulai memperkenalkan diri, menceritakan sedikit tentang kisahnya dengan Bujang, membuat yang dibicarakan protes tentang sedikit kebohongan yang Maria katakan. 

"Aku tidak pernah meninggalkanmu, ya."

"Yeah, menggantungkanku hampir sama dengan meninggalkanku."
Bujang kembali memutar bola matanya. Ia mengusap wajahnya. 

"Kau sudah selesai?"

Maria tertawa. "Kenapa? Kau malu?"

Bujang memasang wajah malas, ia merasa geram dengan sikap jail Maria. Ingin rasanya dia mencubit pipi gadis itu. 

"Aku punya janji untuk menemui seseorang sebentar lagi."

"Benarkah? Kalau begitu kau bisa kembali ke helikopter duluan. Aku ingin berbicara lebih lama dengan mamakmu."

Bujang menelan ludah. Dia harus memberitahunya. "Orang yang hendak aku temui ini... Kau mengenalnya, Maria."

Maria menoleh ke Bujang. Dari tatapan pria itu, Maria segera mengetahuinya. Ia berdiri tegak, menghadap Bujang. Dadanya terasa sedikit sesak. Bujang akan menemui wanita itu, Padma. 

Maria mengangguk. Ia memegang gelang manik-maniknya. "Baiklah. Kau ke sana sendirian?"

Bujang mengangguk. 

"Kau tidak perlu ditemani? Kau tahu, Organisasi belum sepenuhnya percaya denganmu."

Bujang menggeleng. 

"Aku bisa meminta Leonid menemanimu, biar aku menunggunya di helikopter."

"Itu tidak perlu, Maria."

"Atau apa kau mau aku temani—"

Bujang kembali menggeleng, tertawa kecil. "Jangan khawatir, Maria. Padma tidak akan melukaiku. Dia juga sudah berjanji akan bertemu denganku sendirian. Aku janji akan kembali."

Maria tidak menjawab. Dia menatap Bujang, masih tampak cemas. Namun, mengingat percakapan yang dia sempat dengar antar Bujang dan Padma sebulan lalu di Paris, akhirnya Maria mengangguk. Dia percaya Padma tidak akan melukai Bujang. 

"Semoga berhasil dengannya."

Itu kalimat perpisahan yang biasa tetapi, Bujang mendapati kesalahpahaman dari Maria melalui raut wajahnya. Dia tertawa kecil kembali.

"Aku lupa memberitahumu. Aku juga tidak memilihnya, Maria."

"Eh?"

"Aku tidak memilih siapapun di antara kalian berdua. Aku tidak akan kuat. Rasa penyesalanku terhadapmu karena aku meninggalkanmu akan tetap ada walau aku bersamanya. Namun, hatiku pasti tidak akan bisa diam memikirkannya ketika aku bersamamu. Maka, aku memilih melepas kalian berdua."

Mata biru Maria membulat. Astaga. Itu masuk akal. 

Mendengar hal tersebut, Maria merasa sedikit sakit hati. Ia merasa kasihan. Satu, untuk keputusan yang Bujang ambil lalu yang kedua, dengan apa yang harus Bujang lalui selama ini untuk menemukan kedamaian dalam hidupnya.

Baiklah. Maria mengangguk sekali lagi. Bujang bisa pergi sendirian. Mereka berpisah setelah Bujang berjalan memasuki hutan, melambaikan tangannya ke Maria, dan menghilang di balik pepohonan yang lebat. Maria mendengus, berjalan dengan Leonid kembali menuju lokasi helikopter berada. 

"Ah, Nona Maria sudah kembali?" Edwin berujar ketika menyadari kedatangan mereka. "Tauke tidak ikut?"

Maria tersneyum kecil. Pria itu tetap memanggil Bujang dengan sebutannya terdahulu ketika masih di Keluarga Tong walau sudah keluar dari sana. 

"Dia sedang bertemu dengan seseorang." Mendengar kalimat Maria, Edwin mengangguk. 

Maria menoleh ke arah pepohonan yang lebat di belakangnya. Mengingat perpisahannya barusan. Berapa lama pria itu akan berada di sana, bertemu dengan orang itu? Maria kembali memegangi gelang manik-maniknya. Ia kembali mendengus. 

"Nona Maria, kita harus segera kembali ke Moskow."

"Berapa waktu kita yang tersisa?"

"Sepuluh menit lagi."

Maria menghela napas kecil. Ia mengutuk dalam hati. Mengapa aku tidak memberitahu Bujang perihal gelang ini dari tadi? Sekarang dia tidak bisa mengabulkan permintaan ketiganya. Kemudian, selintas ide berlalu di kepalanya. Ia menoleh ke Edwin. 

"Edwin, bisakah aku menitipkan pesanku ke Bujang melaluimu?" 

Pria itu mengangguk, mendengarkan seluruh pesan Maria kata demi kata dan menerima gelang manik-manik biru yang nanti akan diberikan ke Bujang. 

"Katakan padanya jika dia  keberatan, dia bisa menjualnya. Aku tidak memaksanya, dia bisa memilih apapun untuk gelang ini. Jika dia memilih untuk menyimpannya..." Maria tersenyum. "Katakan aku berterima kasih untuk segalanya."