Chapter Text
Waktu awal Danheng ngekost bareng Caelus rambutnya masih pendek karena saat itu masih zaman-zaman OSPEK, rambut harus rapih. Tapi sekarang rambut Danheng dibiarkan panjang se-pinggang. Bukan berarti rambutnya dibiarkan panjang awur-awuran, malah rambut Danheng sangat terawat, halus, biarpun panjang tapi enak dilihat, bikin pesona Danheng berkali-kali lipat lebih manis menurut Caelus.
Kadang Caelus ingin sekali mengelus rambut Danheng yang terlihat berkilau di bawah sinar matahari. Tapi Caelus ingat, dia bukan siapa-siapanya Danheng. Masih belum lebih tepatnya, karena saat ini Caelus sedang gencar-gencarnya mendekati teman kost nya itu. Jatuh cinta pada Danheng membawa perubahan pada diri Caelus, dirinya yang terbiasa malas bangun pagi jadi rajin bangun tepat setelah alarm nya berbunyi. Caelus yang biasanya hanya menghabiskan waktu seharian di kamar setelah kegiatan kuliah selesai jadi banyak menghabiskan waktu di perpus menemani Danheng. Tapi sayangnya usaha Danheng belum membuahkan hasil yang manis.
Danheng sebenarnya peka kok dengan perasaan Caelus, tapi saat ini ia masih ingin berpura-pura tidak peka. Danheng sedang tidak ingin menjalin hubungan apa-apa karena ia baru saja putus dengan kakak tingkatnya 3 bulan yang lalu, hubungan mereka tidak publik, sehingga hanya sedikit orang yang tahu, bahkan Caelus tidak tahu bahwa Danheng pernah berpacaran.
Akhir-akhir ini Caelus sering menemui rambut panjang Danheng di lantai saat menyapu kamar kost mereka, dia jadi terheran apa yang membuat rambut temannya itu tiba-tiba rontok. Setahu Caelus rambut rontok biasanya disebabkan stress, tapi temannya itu tidak terlihat stress sama sekali, kegiatannya di kampus juga tidak sibuk. Jadi Caelus yang tidak ada kerjaan sore itu berjalan ke minimarket dan membelikan Danheng vitamin rambut. Caelus sebenarnya tidak paham tentang vitamin rambut, dia sendiri juga tidak pernah merawat rambutnya, keramas saja hanya kalau dia ingat.
"Danheng, nih buat lo" Danheng menerima vitamin rambut itu dengan bingung. "Rambut lo rontok, jadi gue beliin vitamin rambut"
"Sorry ya gue jadi bikin lo harus nyapu bolak-balik" Danheng terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan "Kayaknya gue mau potong rambut deh"
"Hah? Padahal bagus gitu, lagian gue juga nggak masalah kok nyapuin rambut lo"
Danheng menggeleng "Gerah, nanti temenin potong rambut boleh?"
"Iya"
Jadi sore itu Caelus menemani Danheng ke salon untuk memotong rambutnya. Dalam hati sebenarnya Caelus merasa tidak ikhlas harus kehilangan pemandangan rambut panjang yang indah milik Danheng, eh tapi sebenarnya mau Danheng tidak punya rambut sekalipun, di mata Caelus tetap cantik. Setelah menunggu beberapa saat Danheng selesai memotong rambutnya.
"Cakep" Celetuk Caelus tanpa sadar
Danheng tersenyum "Makasih"
Caelus yang baru menyadari ucapannya langsung meneupuk jidat, malu. Bisa-bisanya ia terus terang memuji Danheng begitu padahal selama ini sudah berusaha tidak mengungkapkan perasaannya terang-terangan.
Diam-diam Danheng memakai vitamin rambut yang dibelikan oleh Caelus, meskipun saat ini ia tidak ingin menjalin hubungan serius, ia merasa senang tiap kali temannya itu perhatian padanya. Berkat vitamin dari Caelus, rambut Danheng jadi terlihat lebih sehat. Caelus yang sering memperhatikan rambut Danheng jadi semakin ingin mengelus rambut itu.
Caelus memang memiliki sedikit obsesi tidak sehat terhadap tong sampah, tapi belum pernah ia sebahagia ini melihat isi di dalam tong sampah. Caelus tidak henti-hentinya tersenyum setelah melihat bungkus vitamin rambut. Dia senang Danheng memakainya sampai habis.
"Danheng kalau lo suka vitamin rambutnya, ntar gue beliin lagi"
"Ya, makasih Caelus"
Saat ini begini dulu, Caelus sudah cukup senang, semoga ke depannya ia bisa segera mengelus rambut Danheng yang halus itu setelah berhasil menjadi pacar Danheng.
