Work Text:
“Namanya kelak Altan.”
Kaveh masih mengingat sorot mata Alhaitham kala itu, lembut penuh puja sekaligus keras dan menjaga. Wajah Alhaitham yang menunjukkan sedemikian banyak ekspresi dalam sekejap adalah langka, dan Kaveh merekamnya dalam ingatan seperti pahatan pada batu karang. Kekal nan abadi. Alhaitham yang mencium dahinya, Alhaitham yang berlutut kemudian, mengecup perutnya yang masih rata namun sudah mengandung nyawa, yang memandangnya seolah Kaveh adalah permata raja-raja buana, Kaveh ingin mengingatnya selamanya.
“Bagaimana jika perempuan?” masih sempat Kaveh melontar tanya sembari jemarinya menyelusupi rambut hijau suaminya.
Alhaitham menutup mata seperti berdoa. “Aisha.”
Senyum Kaveh menyeruak. Kali ini diiringi panas di mata. Ia melempar pandang jauh pada mentari yang mulai terbenam malu-malu, menorehkan merah nun di ufuk jauh.
Ia ingat betapa ia begitu bahagia pada hari itu.
Mengapa ia begitu bahagia?
Mengapa tak ia sadari sejuta pertanda yang kelak merebut segalanya?
________
Bila seseorang melempar pandang sedikit saja lebih lama pada jalan utama menuju Alcazarzaray, maka ia akan dapat memperhatikan peningkatan jumlah penjagaan disana. Eremite yang tak berbaris melainkan terpencar dalam formasi tertentu menyebar rata dalam keramaian kompleks elite tersebut, kesemuanya mengarah pada salah satu bangunan terindah yang ada di sana, dengan strategis terletak di sudut. Penempatannya nyaris seperti istana. Mata-mata para Eremite tersebut awas memperhatikan tiga mobil hitam yang beriringan, dua yang di awal dan akhir jelas sekali mengawal mobil di tengah. Orang yang tahu menundukkan pandangannya, yang tak tahu dipaksa pula. Suasana tegang menebalkan udara, baru cair setelah iringan tersebut jauh dari sudut pandangan.
Lima eremite berbaris tepat di lokasi pemberhentian mobil, sigap menyambut sosok penting yang baru membuka pintu. Seorang pria dengan surai putih panjang yang terikat rapi bersikap sebagai pemimpin.
“Selamat datang, Tuan Muda Altan.” ia membungkuk sopan dengan tangan kanan di dada.
Yang disebut Altan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar sang pimpinan berdiri kembali. Tangannya yang lain menyimpan kacamata hitamnya ke saku baju.
“Dimana babam, Cyno?” ujar Altan setelah berhasil menangkap tangan Cyno dan memaksakan jabatan berikut kecup pipi di kanan dan kiri. Altan bisa melihat ekspresi wajah Cyno yang nyaris memukulnya tepat di muka, namun tertahan karena banyaknya tentara.
“Dia ada di ruangannya. Biar kuantarkan.” Cyno memimpin jalan dengan cepat, Altan mengejarnya di belakang.
“Apa babam sudah menangis hari ini?”
“Jangan begitu kejam pada babamu, Tuan Muda.”
“Sudah delapan belas tahun, Cyno. Dia seharusnya sudah bisa merelakan abati.”
Cyno mendecakkan lidah. “Anda benar-benar mirip dengan Alhaitham.”
Jika Altan menunjukkan raut sedihnya, Cyno tak tahu. “Babam tidak pernah berkata seperti itu.”
Kepala pengawal itu tak menjawabnya lagi. “Masuklah. Ia pasti menunggumu.”
Altan memandangi pintu Karmaphala itu selama beberapa detik sebelum menghela napas panjang. “Sampaikan salamku pada Tighnari.” Ucapnya, lalu membuka pintu.
_____
“ Merhaba , baba.”
Kaveh nyaris terlonjak, buru-buru ia hapus jejak kering air matanya dengan lengan baju sebelum memutar kursi ke arah tamunya. Bibirnya melukiskan senyum cerah, tangannya terentang menyambut pelukan. Sang pemuda di ambang pintu mendekat, mengecup punggung tangan, pipi kanan dan kiri Kaveh berurutan sebelum menghambur pada peluk.
“ Merhaba , Altan.” ia tangkup wajah sang putra dengan kedua tangannya dan memberikan sebuah kecup hangat di dahi. “Bagaimana perjalananmu?”
Altan, sang pemuda berusia dua puluh dua tahun, dikenali sebagai putra mahkota kesayangan Kaveh, sang penguasa mafia legendaris yang sudah lama menguasai nyaris sebagian besar daerah hutan hujan Sumeru. Namanya dikenal luas oleh semua orang yang memiliki keterkaitan dengan Ain Al-Malik, dan digembar-gemborkan akan naik tahta bila kelak Kaveh turun dari kursinya. Bukan hanya karena kemampuannya, yang merupakan hasil gemblengan sang baba ditambah bakat alami, yang menjadikannya disegani, melainkan juga rupanya sang seperti mendiang Alhaitham, begitu serupa bak harra dibelah dua. Selain keping matanya yang sama seperti baba, seluruh aspek lain dalam penampilannya, rambutnya, perawakannya, bahkan hingga gaya bicara, kecepatan kalkulasi dan intimidasi, semua berakar dari sang abati. Bila ada yang diturunkan baba, maka itu adalah keping mata dan raut wajahnya yang lebih ekspresif dan tak mengenal batas. Pun, sulit untuk tak menyebut nama Alhaitham bila Altan ada di kerumunan.
Mungkin itu yang menyebabkan sang baba terus melihatnya dengan senyum terluka. Mungkin itu sebabnya sang baba ingin segera memeluknya, tanpa perlu memandang siluetnya yang mengingatkannya selalu pada abati. Mungkin itu sebabnya sang baba senang berlama-lama mengecup dahinya dengan tangan meremas bahu, gestur penuh kerinduan yang dihafal Altan selama hidupnya. Mungkin ia yang makin dewasa hanya akan terus membuat sang baba berduka kembali setiap delapan belas Januari.
“Baba menangis lagi.” Altan balas menangkup wajah sang baba. Kini ia sudah lebih tinggi, jauh lebih tinggi, tak bisa lagi ia berpura-pura tak melihat jejak tangis itu di pipi babanya.
Senyuman Kaveh lunglai. Hangat pipinya dirasakan Altan melalui telapak tangan. “Dia akan marah padaku jika aku tidak menangisinya.” Lalu ia dorong tangan Altan dengan halus. “Bagaimana keadaannya?”
Altan menyamankan diri di sofa, matanya menyapu ruangan, mencari poci teh yang biasanya tak pernah absen dari meja. “Aman dan terkendali, baba. Kita bisa berkunjung tahun ini, bila baba mau.” Ia sudah mengucapkan kalimat ini dalam berbagai variasi selama sepuluh tahun. Dan jawabannya tetap akan sama. Altan heran mengapa ia terus berkeras, namun teringat bahwa kekeraskepalaan babanya sama seperti dirinya.
“Kamu kira kedatanganku akan mengubah sesuatu?” Suara Kaveh jauh diikuti aroma teh menguar. Altan tak menjawab sampai Kaveh muncul kembali dengan baki berisi poci dan tiga cangkir kecil. Ia tak berusaha lagi memperbaiki hitungannya.
Tangan Altan cepat mendahului Kaveh menuangkan teh ke ketiga cangkir tersebut. Kaveh masih menata cangkir seolah ada satu orang lagi di hadapannya.
“Barangkali abati merindukan baba.” Ingin sekali ia tak mengisi cangkir ketiga, namun rasa hormatnya pada Kaveh memaksa.
Kaveh menjentikkan jari. “Tentu saja!’ pekiknya. “Bila ia tak merindukanku, akan kukejar ia ke Celestia dan kucukur rambut peraknya itu.”
Instingtif, Altan meletakkan tangan di kepala.
Ketika Kaveh berhasil tergelak keras, Altan perlahan menyunggingkan tawa juga. Luntur sudah kesedihan dari wajah baba, pikirnya.
“Kamu benar-benar mirip baba.” ujar Kaveh, masih terengah. “Abatimu tak akan pernah merespon seperti itu.” lalu menyeruput tehnya dengan geli. Altan menirunya.
“Cyno masih berkata kalau aku mirip abati. Begitu pula dengan Nilou.”
“Panggil mereka dengan paman dan bibi, habibi .” Kaveh memotong. “Tapi tidak, kamu mirip denganku.”
“Baba, mau kubuat daftar perbandingan mana yang lebih sering dilontarkan orang, apakah aku mirip baba atau abati?”
Sekali lagi, Kaveh tertawa. “Lihat, kamu harus menghabiskan waktu lebih banyak dengan Tighnari daripada si tolol Cyno. Dan terserah apa kata orang lain. Kamu anakku, putraku.” ia berhenti sesaat. Pandang matanya dalam menatap keping merah yang serupa cerminannya itu. “Demi Kusanali, kuharap ia bisa melihatmu tumbuh segagah ini.”
“Baba…”
Sebelum sempat Kaveh kembali pada mode sentimentalnya, sebuah ketukan di pintu menyela. Cyno muncul di balik pintu. Senyumannya kaku.
“ Jibna siirat, alhimaar ijaa tiyaar. ” gumam Kaveh di dalam cangkirnya. (T/L: Kita sedang membicarakan si keledai, dan ia datang sembari terbang. Sebuah ungkapan yang digunakan ketika orang yang sedang dibicarakan datang tiba-tiba.)
“Maaf mengganggu acara keluargamu, Bos, tapi Hisham dari Tanit ingin bertemu.”
Kaveh menghela napas. “Sepagi ini?” ia melirik jendela. “Altan, ini waktunya kamu mulai bersikap seperti penerus sejati. Bangun, habibi, dan berdirilah di sampingku pada seluruh pertemuan hari ini.”
Altan tak bisa menahan senyumannya. “Baik, baba.”
____
Pertama kali Alhaitham mengizinkan Kaveh berdiri di sisinya adalah pada hari perayaan pernikahan Cyno dan Tighnari. Adalah sebuah desas desus yang ternyata nyata, bahwa pada hari perayaan sang pimpinan tak diperkenankan menolak tetamu. Tahu bahwa keadaan akan dimanfaatkan oleh banyak orang, Alhaitham meminta persetujuan Kaveh sejak jauh hari.
“Aku tidak yakin aku berhak, habibi .” Tatap Kaveh penuh keraguan pada Alhaitham yang mengecup punggung tangannya. Prianya mendongak, ekspresinya tak berubah namun Kaveh mengenal kilat geli dalam keping mata tak beriak itu.
“Kaveh, hayati, ini takhta yang kukejar demi dirimu. Demi masa depan yang kujanjikan padamu. Jangan pernah menganggap dirimu tidak berhak.” Intonasinya setenang samudera. Kaveh terlena. "Lagipula yang menikah adalah penasihatku, jadi seseorang harus menjaga punggungku."
Metafora tak berguna, benak Kaveh menertawakan suaminya. Alhaitham muda sang pelarian padang pasir takkan pernah mempercayakan punggungnya pada orang lain.
"Apa yang akan kau katakan pada orang yang nanti bertanya?" Jemari Kaveh mengelus kelopak mata Alhaitham.
"Bahwa kau juga raja setara." Alhaitham menjawab tanpa ragu. "Bahwa titahmu sama beratnya dengan titahku. Bahwa perintahmu adalah perintahku. Dan percaya padaku, takkan ada yang bisa meragukanmu selama aku berdiri di sini."
Ah, ya. Alhaitham yang ini sudah menjadi raja.
Dan Kaveh benar-benar berdiri di sisi Alhaitham hari itu, yang meraja di kursi kebesarannya, menghadapi seorang pria berpakaian suku Tanit yang pias wajahnya.
Alhaitham berdeham. "Jadi kamu ingin aku menghabisi sekelompok bandit." Ia mengulang. Nadanya datar seperti selalu. Hanya Kaveh yang menangkap percikan kebosanan di sana.
"Aku tidak punya pilihan lain, Sayyidi . Hisham, putraku akan dijadikan pelaku bom bunuh diri sebagai pembalasan, dan, oh, betapapun aku merasa bersalah, betapapun aku memohon, mereka tetap bersikeras membawanya—" napas sang pria tua tercekat, ketakutan makin membuatnya pucat. "Ahbeeb tahu bahwa anakku adalah kelemahanku, oh, pecundang busuk! Menggunakan anakku sebagai cara untuk menyakitiku, si tua yang malang ini!" Ia menangkupkan wajahnya ke tangan dan terisak hebat. Kaveh melirik suaminya yang tak berekspresi.
"Aku tak punya pilihan selain memohon padamu, Sayyid Alhaitham. Demi persahabatan kita sebagai sesama orang padang pasir, ingatlah bahwa aku yang membawamu dari tanah panas itu ke hutan beralas rerumputan, dan hanya anda yang bisa kupercayai untuk menyelesaikan semua ini." Ia putus asa, Kaveh tahu. Namun kedut di sudut mata Alhaitham menjelaskan bahwa Eymen tua ini sudah melakukan kesalahan.
Alhaitham benci orang yang meminta bantuannya dengan mengatasnamakan padang pasir. Namun apa daya, memang si tua Eymen adalah salah satu orang yang berjasa baginya.
"Apa pendapatmu, habibi ?"
Kaveh mengangkat alisnya, terkejut. Eymen turut mendongak, untuk pertama kalinya ia memandang Kaveh tepat di mata.
"Anda punya anak, Sayyidi ?" Eymen mengajukan tanya.
"Alhaitham dan aku belum memutuskan untuk memiliki anak." Jawabnya cepat. Besar inginnya untuk mengalihkan pandang, namun ia tetap harus menjaga wibawa.
Eymen tersenyum kaku. "Bila kelak anda memutuskan untuk memiliki anak, anda akan paham seberapa jauh keputusasaanku untuk melakukan apapun demi putraku."
Kaveh menatapnya lama. Kalimat orang tua selalu terdengar seperti ramalan. "Dehya bisa mengurus ini, habibi . Ia sedang di Aaru."
_____
Kenangan itu serupa gelenyar rantai api yang berkobar dalam kenangan manusia, menggeliat dalam benak dan berkelindan dalam semesta. Apa yang terkenang oleh seseorang sebagai bahagia bisa saja terekam sebagai duka di mata yang lain, dan cercah yang dikira harapan bagi satu mata bisa jadi merupakan awal bencana dalam kehidupan orang lain. Tak banyak yang bisa dilakukan untuk menghindari hal tersebut, tentu. Manusia hanya bisa mengontrol dirinya, bukan orang lain.
Maka senyuman Kaveh yang jelas pahit ketika memandang sebotol minuman yang dibawa Hisham sebagai hadiah untuknya, diletakkan di meja dengan keranjang anyaman berhiaskan motif khas suku pertanda penghormatan pada siapapun penerimanya, hanya ditelannya sendirian, diam-diam. Bukan tempatnya Kaveh untuk murka, mencerca, apalagi menerjang dan mencekik Hisham tepat di kursinya kini hanya karena sang pria membawakan minuman yang sama dengan yang dibawa pulang suaminya di malam dimana ia pergi. Bukan. Ia tekan ibu jari kanannya ke telapak tangan, menguatkan diri. Lekas ia perintahkan Altan untuk menyingkirkan keranjang tersebut ke sisi lain ruangan.
Hisham dan Eymen, serupa harra dibelah dua, terutama ketidakpekaannya. Lalu ia melirik Altan dan sadar bahwa putranya sama saja.
"Bagaimana kabarmu, Hisham?" Ia melontarkan tanya basa-basi sembari menerima hormat tamunya.
"Berkat anda, saya masih bisa hidup dengan tenang." Hisham baru duduk setelah Kaveh. Altan mengawasinya dari balik kursi.
"Jadi, apa keperluanmu kemari, setelah sekian tahun lamanya?" Kaveh segera memulai. Hisham menyodorkan secarik kartu. Altan menerimanya terlebih dahulu, memeriksa isinya yang hanya bertuliskan dua nama berikut hari dan lokasi.
"Aku akan segera menikah."
"Oh."
Altan tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Kaveh. Ekspresinya terkejut, namun tak ada yang dikatakan.
Hisham melanjutkan. "Demi menghormati persahabatan benim baba dengan mendiang Sayyidi Alhaitham, izinkan aku mengundang anda sekalian di hari bahagiaku."
Mendiang . Bibir Kaveh berkerut. Hanya ia yang masih menganggap Alhaitham ada.
________
Hal yang paling luar biasa adalah hal yang tiada. Dulu sewaktu Alhaitham mengucapkan kalimat itu kepadanya saat mereka masih dalam pelarian, Kaveh menganggapnya berkhayal saja. Baru kini ia paham apa maksudnya.
Di balik kain karung penutup daging kering berbau memuakkan itu, Alhaitham berbisik padanya, di luar sana ada kebebasan, dunia yang lebih luas lagi, dunia yang akan kujadikan milik kita. Alhaitham muda, berambisi seperti funiks bayi menggeliat dari telur berlabur abu. Alhaitham muda adalah harapan satu-satunya Kaveh yang menyanyikan kebebasan seperti pujangga dalam penjara, berucap saja tanpa tahu wujudnya. Apa yang Kaveh pinta dalam mimpi, Alhaitham membawanya jadi nyata.
Jangan takut bermimpi. Karena semua mimpimu akan aku cipta. Akan kubawa kita pergi dari neraka dan kuciptakan dunia baru dimana kau raja. Takkan ada lagi tangan kotor yang menyentuhmu tanpa penghormatan, dan setiap tangan yang meraih genggammu adalah dalam takluk. Aku tak percaya pada Archon, Kaveh, namun bila kelak aku berhasil menjadi raja dan menjadikanmu setara, akan kuminta sungguh-sungguh pada patungnya di sana, untuk menjagamu seperti ia melindungi seisi Sumeru.
Kalimat itu diucapkan tepat sehari sebelum kereta barang Eymen mencapai perbatasan Caravan Ribat, ketika mereka berdua menyusup keluar kendaraan dan Alhaitham membawanya menaiki sebuah bukit batu, menunjukkan padanya rasi-rasi dan cara membaca langit.
Alhaitham muda pada hari itu, berbalut karung lusuh, berdiri begitu tegap berlatarkan langit dan menahbiskan Kaveh menjadi Ratu. Dan Kaveh, Kaveh muda yang serupa cendrawasih terluka yang dibukakan pintu dunia, terlena. Sejuta gemintang di langit dan yang memukau dirinya adalah refleksi buana pada keping mata Alhaitham, di detik itu juga ia kunci janji dengan kecup hangat mengamini.
Hal paling luar biasa memang hal yang tiada. Manusia bisa bilang apa saja tentangnya, dan adalah tergantung pada diri mereka sendiri untuk percaya atau membuangnya.
Alhaitham percaya. Ia mempercayai takdir yang ia tulis sendiri pada gemintang malam itu. Berbekal kecerdasannya, ia berhasil menguasai pasar, lalu lambat laun mulai menyebarkan pengaruhnya ke orang-orang berkepentingan. Tak butuh waktu lama sampai namanya dikenal sebagai ‘ia yang akan melakukan apa yang tak mau kau lakukan, dengan bayaran hutang budi’. Alhaitham pada usia dua puluh enam tahun berhasil menciptakan jejaring mafia pertama di Sumeru.
Lalu Cyno muncul. Ia adalah satu-satunya orang yang berhasil menyusup ke dalam kediaman Alhaitham, meletakkan pisau di lehernya dan mengancam akan membunuhnya bila Alhaitham tak menurutinya.
Malam itu adalah kali pertama Kaveh mencecap perasaan takut kehilangan. Malam itu Kaveh melompat nyaris terbang ke tubuh suaminya dengan pisau terhunus. Jika Cyno adalah orang biasa maka dipastikan kini sudah hancur tubuhnya. Kaveh meraung, amarah dan ketakutannya saru dalam jeritan.
Cyno tidak mati.
Alhaitham menangkapnya, susah payah ia berusaha meyakinkan Kaveh bahwa ia pasti berguna.
______
Tighnari sudah menceritakan padanya puluhan kali. Pun di setiap pengulangannya, ekspresinya masih sama. Dipenuhi dengan rasa bersalah.
"Aku tak pernah melihatnya begitu terluka." Tighnari biasanya berkata sembari menyalakan dupa. Sebatang ia letakkan di altar tepat di sisi vas kecil berisikan padisarah, sebatang lagi ia lambaikan di hadapan Altan seperti menangkap apapun yang Kaveh kira tersisa dalam diri anaknya dan Tighnari berusaha mengembalikannya ke tanah dimana itu seharusnya berada. Altan diam, sudah terbiasa.
“Dua kali.” ujarnya, tangan terkatup dan menggumamkan doa berkabung diikuti sang tuan muda. “Dua kali kulihat Kaveh sedemikian hancur. Sekali pada hari pemakamannya, dan sehari pada saat kau tiba di tangannya.”
Dalam pengasingannya Altan mendengar begitu banyak versi kisah dari para pengawal tentang bagaimana Kaveh ‘membesarkannya di lingkungan yang lebih tenang’. Halim yang mabuk berbisik keras pada Rahman bahwa Kaveh membuang anaknya sendiri karena tak kuasa melihat putranya serupa ayahnya. Rashid bertaruh dengan Bahar bahwa Altan takkan pernah dikembalikan ke kota dan Kaveh akan selamanya membuangnya. Ia bahkan berani bicara bahwa takkan ada penerus Ain Al-Malik, bahwa ini hanya akan terjadi sekali, dan dunia bawah Sumeru takkan pernah lagi mengalami hal yang sama. Bahkan Hayya sang wanita tua penunggu toko bunga yang terkenal karena suka membualkan kemampuan meramalnya mendorong Altan agar segera memilih gadis dari Aaru untuk diperistri dan selamanya tinggal di sini.
Altan menerima kabar itu dengan dingin. Ia tak berharap lama tinggal di Aaru, pun ia tak berharap Tighnari yang secara berkala mengunjunginya akan membawa kabar bahwa babanya memanggilnya ke Alcazarzaray segera.
Tapi pada ulang tahunnya yang kedua belas, Kaveh mulai mengunjunginya setiap tiga bulan sekali, melaburkan abu pada mereka yang berspekulasi, dan, demi Kusanali, Altan ingin tertawa di atas kepala mereka satu persatu.
“Kaveh yang kukenal adalah Kaveh yang serupa matahari dalam kelamnya wajah Alhaitham. Namun pada hari pemakamannya, Alcazarzaray menyaksikan gerhana.”
Asap dupa melayang bak hantu, tenang mencerna kisah masa lalu.
“Kaveh tidak menangis hari itu, Tuan Muda. Habis sudah air matanya ketika mencekik suamiku dengan nelangsa, menjerit dan memohon agar ada yang bisa diselamatkan, agar ada sisa tubuh yang bisa ia pegang, agar ada sebagian jasadnya yang benar-benar turun ke tanah beserta peti matinya, agar ada yang bisa ia bisikkan selamat tinggal.” Tighnari berbalik, netranya berkilap basah menusuk pandang Altan. “Tapi tidak ada. Dan tangisnya habis di sana.”
Altan bisa membayangkan babanya menangis merana, namun tak bisa ia bayangkan ia menangis dalam murka.
“Dan hanya ada diam dingin yang ada pada hari dimana peti kosong itu dikuburkan, tangannya menerima banyak cium penghormatan namun kekosongan dalam matanya melarang belasungkawa. Bila kukatakan bahwa aku ketakutan, itu bukan ekspresi berlebihan, Tuan Mudaku.”
Tighnari membukakan pintu untuknya. Jendela di depan koridor terbuka, mengirimkan angin basah yang menandakan hujan akan segera turun. Altan melemparkan pandang jauh ke luar.
“Kau dilahirkan dengan susah payah. Kondisi psikologis Kaveh yang terjun bebas sangat mempengaruhi prosesnya, seolah ia tak ingin melepaskanmu, dan anda juga tak ingin melepaskannya.”
Kadang Altan lupa bahwa di tangan orang inilah ia terlahir dengan selamat.
“Delapan jam. Selama itulah Kaveh berjuang. Selama dua belas jam setelah kau terlahir, ia kolaps.”
Ceritanya selalu diselesaikan di sana. Altan tak mengetahui kelanjutannya selama beberapa tahun sampai ia bertanya kepada Collei, asisten Tighnari. Altan tahu bahwa Tighnari tahu ia bertanya kepada siapa, dan bahwa Collei pasti akan memberikan jawabannya begitu saja karena rasa sayangnya pada sang Tuan Muda, namun pada tahun ini pun, ceritanya berhenti di sana.
Collei mengisahkan, juga dengan duka, bahwa Kaveh yang tak pernah menangis lagi semenjak pemakaman, akhirnya pecah ketika bayi Altan diserahkan ke pelukannya.
“Ia memandang Anda, lama sekali, Tuan Muda.” wanita itu berkisah sembari memaksakan tangannya tetap melakukan sesuatu, mengelap, menyusun, melipat kertas, apa saja. “Ia memandang Anda, rambut hijau yang mengingatkannya pada Tuan Alhaitham. Ia memandang anda dan pecah menangis sejadinya, dan anda yang belum genap dua hari terlahir, turut serta meraung seolah memahami duka beliau.” Collei berbalik badan. “Tak ada satupun dari kami yang berani menghentikannya.”
Lalu kisah yang diketahui banyak orang. Kaveh tak sanggup mengasuh Altan. Lima bulan Tighnari dan Collei berusaha membantunya, namun duka Kaveh perlahan menjadi kegilaan. Ketika Kaveh membiarkan saja Altan bayi menangis kelaparan di kotak tempat tidurnya sementara ia membisu di ranjangnya sendiri, Cyno merasa bahwa ini adalah batasnya. Ia mengirimkan Collei untuk membawa Altan ke Aaru, dan selama dua belas tahun Altan dibesarkan di sana oleh Candace, istri dari Dehya, salah satu perwira kepercayaan Alhaitham.
Altan tumbuh tanpa mengharapkan babanya menjemput, namun ia tak juga ingin selamanya di Aaru.
_____
“Baba baik baik saja?” Altan segera mengisi kembali cangkir Kaveh yang sudah kosong. Kaveh menenggaknya seperti anggur.
“Tentu saja tidak, Altan. Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Kenapa semua orang baik-baik saja?” Cangkirnya dihantamkan ke meja. “Bagaimana bisa semua orang bersikap seolah Hayi benar-benar sudah tiada?”
Tapi abati memang sudah tidak ada , baba. Tak kuasa Altan berbicara. Susah payah ia berusaha diam di tempat dan tak mengikuti teriakan syaraf instingtifnya untuk mundur dua langkah dan menjauhkan guci dari babanya dan melarikan diri. Tidak, ia tidak akan pernah memukulku lagi.
“Demi Kusanali, bisakah kalian berhenti bicara seolah ia benar-benar sudah tiada? Bagaimana bisa semuanya tetap berjalan begitu saja? Kalian lupa?” Kaveh memasrahkan tubuhnya ke sandaran kursi, tangan menutupi wajahnya. Altan tahu ia menangis di balik sana.
“Tak ingatkah kalian, segala yang sudah Hayi lakukan?”
“Baba…”
“Kalian semua mengingatnya seperti dia adalah angin, sesaat saja lalu pergi. Kalian mengingat Hayi seperti hamba yang lupa, yang membawa namanya ketika butuh saja. Kalian mengingat Hayi seperti patung dewa yang hanya dipuja jika ada inginnya. Dan hanya aku di sini yang masih mengingatnya dengan penuh rasa kehilangan, dengan rasa cinta, dengan sejuta harapan dan doa agar ia kembali lagi, dengan ketidakberdayaan seorang kekasih yang telah tercabut darinya seluruh dunianya, seluruh alasan hidupnya, wahai, anakku, Altani, Altani, yaabnii… Yaa laytani fii sakhraa’i ma’ah… Yaa laytani muttu ma’ah… ” isaknya disertai pukulan ke dadanya sendiri. (Anakku, duhai, betapa aku berharap aku berada di padang pasir bersamanya… Betapa aku berharap mati bersamanya…)
Dan semi mendengarnya Altan segera menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh ia di kaki sang baba, memeluk kakinya seperti ia kembali menjadi anak kecil, turut tersedu di pangkuannya.
“Tolong, baba, jangan pergi juga…” ia raih tangan sang baba. Ia kecup punggung tangannya penuh menghamba.
Kaveh makin tergugu. Tak sedikitpun ia pahami mengapa dunia berputar seperti biasanya sementara ia sendiri terjebak dalam kerinduan yang menggerogoti hatinya setiap masa. Kaveh merasa ia terjebak dalam sebuah gelembung yang membekukan waktunya dan dunia di luar gelembung itu sama sekali tak mendengarkannya, dukanya, jeritannya. Maka ia yang memasang wajah serupa, seperti duka telah tersapu dari hatinya dan seperti ia sudah rela.
Kaveh bisa menipu seluruh manusia, namun ia tak bisa menipu dirinya sendiri.
Dan Altan, Altan yang semakin lama semakin menjadi sesuatu yang Kaveh kira reinkarnasi, tak peduli seberapa keras Kaveh berusaha memandangnya sebagai pelipur lara, malah ia jadi sembilu yang makin menyayat hatinya. Kamu anakku , ia bilang pada Altan selalu, namun tak terucap jerit benaknya bahwa kau juga seperti hantu, membuat dukaku tak kunjung berlalu . Mungkin Kaveh hanya terlalu mencintai Alhaitham, sampai luka yang diberikan tiadanya pun ia dekap dalam jiwanya, ia rengkuh seolah bila ia lepaskan maka sisa-sisa ingatan dalam hatinya pun juga akan hilang.
“Hayi…” Kaveh mengecup kepala putranya dengan wajah bersimbah airmata. “Bagaimana caraku mengucap rindu agar jiwamu sanggup merasakan nelangsa yang sama dengan hatiku?”
______
“Bangun.” desis Kaveh. “Bangun dan serang aku dengan niat membunuh, Altan.”
Altan muda yang terjerembab di tanah berdebu mencengkeram tongkat kayu di tangannya erat-erat. Ia terbatuk, sebercak darah membasahi pasir.
“Tuan, saya rasa cukup untuk hari ini. Tuan Muda sudah kelelahan.” Yang angkat suara adalah Candace.
Kaveh menghembuskan napas panjang. Ia lemparkan tongkat kayunya sendiri ke tanah. “Ingat, sampai kau bisa melukaiku, baru kuizinkan kau memasuki Alcazarzaray.”
Sekuat tenaga Altan mengangkat tubuhnya, berusaha berlutut di hadapan Kaveh. “Ya, baba.”
Candace membantunya berdiri. “Mari kubantu anda ke kamar, Tuan Muda.”
Setelah keduanya pergi, Kaveh merogoh tas serutnya, lalu mengumpat. Dehya mencuri botol minumannya lagi.
____
“Cyno!!” Suara Kaveh menggema di sepanjang koridor Alcazarzaray. Di ruang kerja Alhaitham, sang pria yang disebut namanya hanya bisa menunduk dalam. Ia biarkan tuannya itu terus meneriakkan namanya sampai pintu terbuka paksa, dan tetap tak kuasa Cyno mengangkat wajahnya karena yang akan ia temukan adalah Kaveh yang murka.
“Dimana suamiku, Cyno?! Dimana Hayi?! Katakan padaku, kenapa hanya kamu yang kembali dari sepuluh anggota yang pergi?!”
Kerah baju Cyno dicengkeram penuh amarah.
“Katakan padaku kalau apa yang dikatakan mereka di luar sana dusta! Hayi masih di luar sana, betul, Cyno?”
Kali ini tatapannya berputar kepada Tighnari yang masih juga sibuk memelototi kakinya sendiri.
“Nari, kau tidak akan membiarkan anakku kelak tak mengenal ayahnya sendiri, bukan? Perintahkan suamimu untuk kembali ke padang pasir dan cari suamiku, Nari, kumohon…”
Sang fennec termangu. “Tapi tampuk tertinggi kekuasaan kini ada di tanganmu, Kaveh.” Ia berhasil mengeluarkan sejurus kalimat.
Tapi mendengarnya, Kaveh melolong. “Diam!” Hardiknya. “Jangan bicara seolah dia benar-benar sudah mati! Lihat, dimana tubuhnya, dimana?! Kalian tidak membawa mayat satupun, tak ada sepotong pakaian, atau setidaknya sebelah tangannya pun aku tak peduli. Tapi tidak ada! Dia masih hidup di luar sana, betul? Cyno, katakan padaku sejujurnya, kumohon. Demi Hayi yang membantumu menyelamatkan Tighnari, demi aku yang mengampuni nyawamu malam itu, demi Hayi yang menyelamatkanmu dari murkaku, tolong…”
“Kaveh… Tuanku…” Tighnari berusaha melepaskan cengkeramannya dari Cyno. “Demi Kusanali, mobilnya meledak karena tembakan senjata berat, dan… dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, tak ada yang bisa kami bawa pulang. Cyno tak berhak atas ampunanmu setelah semua yang Alhaitham lakukan demi dirinya, namun kumohon tenangkan dirimu, demi anakmu, demi keselamatanmu…”
Butuh banyak tenaga untuk membuat Kaveh menyerah hingga akhirnya ia tersimpuh di kaki kursi kebesaran Alhaitham, isak pilunya berubah menjadi sedu sedan. Ia lingkarkan tangannya ke perutnya seolah berusaha menulikan sang calon bayi dari dukanya sendiri.
“Siapa yang melakukannya, Cyno?” Ada warna amarah yang pekat dalam getaran suara yang melontarkan pertanyaan itu. Merah berdarah disapu api nestapa. Duka yang meresap ke dalam luka menjadi angkara murka. “Siapa yang berani mengganggu Ain Al-Malik?”
Cyno menegakkan tubuhnya. “Regu penyelidik sedang bertugas, Sayyidi , dan akan kembali esok ketika matahari terbit. Saya berjanji anda akan menjadi yang pertama dikabari.”
“Temukan mereka. Temukan mereka dan bawa aku ke sana. Akan kubakar mereka dengan tanganku sendiri dan kubiarkan keluarga mereka menderita, sama seperti apa yang mereka perbuat padaku.”
Pada penghujung hari itu Cyno melihat hantu Alhaitham melayang di atas kepala Kaveh, memberkatinya dengan segala kuasa dan kekejaman yang hanya dilihat mereka yang mementang Ain Al-Malik. Pada penghujung hari itu hantu Alhaitham menyematkan mahkota bara dan api kepada sang permaisuri. Pada penghujung hari itu Cyno berlutut di hadapan sang penguasa baru, meraih tangannya dan menciumnya dengan janji menghamba yang pernah ia ucap pada mendiang raja. Malam itu, Cyno dan Tighnari bersumpah untuk tak pernah meninggalkan Kaveh, dan sepenuhnya mengabdi pada calon penguasa baru yang kini ada di dalam perutnya.
“Sampai mati,” ia berkata dalam janjinya. “Sampai mati aku akan menjadi tombakmu, aku akan menjadi yang bersimbah darah demi sucimu, aku akan menjadi tanah yang meninggikan pijakmu. Aku, Cyno, dan seluruh keturunanku, akan selamanya mengabdi padamu dan keturunanmu, Sayyidi .”
Kaveh mengangkat dagunya. Tak repot ia mengusap wajahnya yang sembap dimakan airmata. “Nyawamu adalah milikku, Cyno. Selamanya.”
_____
“Ceritakan lagi tentang abati, Paman Tighnari.” Pinta Altan usai meyakinkan sang dokter bahwa babanya sudah beristirahat dengan tenang di kamar. “Kisah yang bukan duka. Ceritakan bagaimana abati muda.”
Tighnari tersenyum, membimbingnya ke ruang bersantai. Memang Altan akan memanggilnya dengan paman hanya jika ada maunya. “Aku tak tahu bagaimana dia ketika masih muda, Tuan Muda, karena aku sendiri pun baru dibawa kemari setelah beliau mengizinkan, dengan syarat pengabdianku dan Cyno kepadanya secara mutlak. Namun, dengan segala hormat, aku membencinya waktu itu.”
Altan mengangkat alisnya sembari menerima gelas berisikan minuman dari tangan Tighnari. Sang dokter baru duduk ketika ia sudah menyamankan diri. “Babam sering berkata kalau abati memiliki aura mengintimidasi.”
Tighnari berdeham, berusaha menahan tawa. “Dan bukankah itu adalah penghinaan yang sangat besar? Kamu sudah melihat beberapa foto beliau, Tuan Muda, dan mengintimidasi? Demi tujuh Archon, aku bersumpah impresi pertama yang kudapatkan darinya adalah menakutkan.”
Ganti Altan yang tersenyum. Ia sendiri merasa bahwa abatinya adalah tipe orangtua yang tak segan bersikap keras pada anaknya apabila dirasanya itu adalah hal yang benar.
“Penilaianku sama sekali tidak terkait dengan fakta bahwa ketika itu aku adalah korban penculikan, dua minggu terlunta di padang pasir, dehidrasi hingga berhalusinasi dan mengalami trauma psikologis. Bahkan bila aku di masa lalu bertemu dengannya di pasar Treasure Street, aku akan memilih untuk memutar arah dan mengelilingi separuh kota agar tak berpapasan dengannya.”
Hening sesaat. Retih api di perapian berkilat di keping mata Tighnari.
“Beberapa orang terlahir dengan takdir berkuasa, Tuan Muda Altan. Ia punya seluruh kualifikasi untuk menjadi pemimpin, dan kamu tahu demi siapa ia melakukan semua ini? Demi siapa beluai menaklukkan nyaris seluruh Sumeru?”
Altan menahan napasnya.
“Demi Kaveh.” bisik Tighnari seperti doa. “Kisah yang kutahu adalah mereka berdua tak terpisahkan di padang pasir. Namun ketika Kaveh nyaris dijual sebagai pemuda penghibur, Alhaitham murka dan menghabisi seluruh karavan yang berniat membawanya. Lalu mereka melarikan diri ke hutan hujan, dan disanalah janji-janji dibuat dan tangga-tangga disusun. Ia bawa Kaveh menapaki tangga itu dan mendudukkannya di puncak, seperti seorang ratu.”
Api berkeretak lembut. Altan menenggak habis gelasnya. Tighnari segera mengisinya kembali.
“Abati begitu disilaukan oleh babam.”
“Kurasa mereka saling menyilaukan dunia satu sama lain." Senyum Tighnari tampak sedih sekarang.
Altan menatap pantulan wajahnya di cangkir. Wajah yang sama seperti sang abati. Wajah yang menyakiti babanya. Wajah yang bak simalakama.
"Tapi Sayyid Kaveh mencintai seperti padang bunga, seluas mata memandang dan sebanyak yang hati manusia bisa. Ia menaruh rasa seperti kita menghamba. Orang pikir Alhaitham yang tenggelam dalam pesonanya, namun yang kulihat adalah ia tenggelam dalam hatinya sendiri, hatinya yang begitu luas dan dalam dan serupa labirin dan ia hilang di sana, tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Maka begitu hilang alasannya mencinta, dan padang bunganya dilanda marana."
"Dan bagaimana abati mencintai baba?"
Tighnari menahan keinginan untuk berlutut dan mencium punggung tangan tuan mudanya.
"Seperti danau." Suaranya parau. "Seperti danau yang hening, tak beriak, tak tersentuh. Dalamnya tak terkira dan dari jernihnya tak kau sangka penuh bahaya."
____
Pada akhirnya Altan hanya datang sendirian. Sama seperti tahun lalu. Dan lalunya lagi. Dan lalunya lagi. Dan lalunya lagi. Ia berlutut di makam simbolis bertuliskan nama Alhaitham di batu nisannya, terpekur tanpa kata.
“Baba tidak datang lagi, abati.” ia bergumam. “Sudah bertahun tahun.” Altan merasa ia harus meminta maaf, tapi kepada siapa dan karena apa, ia tidak mengerti.
“Butuh belasan tahun supaya aku bisa mengumpulkan kisah lengkapnya, abati. Dan akhirnya kini aku tahu. Semua orang memberitahuku. Apa karena iba atau memang sudah waktunya aku memahami, aku tidak tahu.”
Altan mengangkat kepalanya. Langit Vanarana begitu cerah hari ini, seolah tidak merestuinya mengucap duka.
“Abati, kurasa baba terlalu mencintaimu, dan itu membuatnya menyakiti dirinya sendiri. Ia bilang padaku bahwa dukanya adalah bentuk cinta yang dipendam begitu lama, namun yang kulihat adalah ia tak bisa melepaskan dirinya dari bayang-bayangmu. Dan keberadaanku yang terus mengingatkannya padamu malah tidak membantu.”
“Abati, baba menemukan pembunuhmu bertahun-tahun yang lalu, tepat sebulan sebelum ia menjemputku dari Aaru. Dan abati tahu apa yang ia lakukan? Dia membantai mereka, abati. Dia sendiri yang menyandera mereka, menginterogasi mereka tentang alasan membunuhmu, yang seperti sudah diduga adalah karena ingin menggulingkanmu. Dia membakar mereka hidup-hidup, abati, tanpa ampun dan tanpa hati. Ia menghancurkan mereka dengan cara yang kata Cyno ia pelajari darimu, tak menyisakan jejak maupun sisa sekadar bau untuk dilacak. Dan ia sudah menang. Baba sudah berhasil, lalu mengapa, yaa abati, mengapa dia masih merana? Apa benar bahwa sehabis pembalasan dendam yang tersisa dalam hati adalah kekosongan?”
______
“Tighnari.”
“Ya, Tuan.”
“Apa Altan sudah kembali?”
“Belum, Tuan. Cyno menjaganya, jadi dia akan aman.”
Tighnari mengangkat kepalanya sedikit, menangkap kilas pandang Kaveh yang jauh ke jendela. Tehnya dibiarkan dingin di meja.
“”Apa yang harus kutangani hari ini?”
“Tuan Muda Altan sudah mengurus semuanya sejak kemarin. Termasuk penarikan biaya dari Treasure Street. Tuan Muda ingin anda beristirahat sepenuhnya hari ini.”
“Bagaimana dengan transaksi senjata di Ribat?”
“Sudah diselesaikan Dehya, dan dilaporkan kembali kepada Tuan Muda.”
“Tighnari.”
“Ya, Tuan.”
“Menurutmu aku menjalankan Ain Al-Malik dengan baik? Setelah Alhaitham? Setelah segalanya?”
Tighnari menunduk lebih dalam. “Tentu saja, Tuan. Tak ada penurunan yang berarti. Anda melakukannya dengan sangat baik.”
“Dan Altan, apakah ia akan meneruskannya dengan wibawa seperti Hayi?”
“Tuan Muda memiliki ketegasan Alhaitham, dan kelembutan hati anda. Ia akan baik-baik saja.” Ada pahit yang tercekat di tenggorokan Tighnari. Biasanya itu berarti pertanda buruk.
“Bila semua baik-baik saja, maka mengapa yang kurasakan adalah kekosongan, Tighnari?”
Sang fennec kehabisan jawaban aman. “Saya—”
“Bukankah aku adalah orang tua yang buruk, Tighnari? Menelantarkan anakku, menyibukkan diri dengan membalaskan dendam suamiku, tak sanggup menguasai diri dan meneruskan tahta Hayi dengan tiran alih-alih wibawa, bahkan aku mendidik anakku dengan kekerasan. Menurutmu Altan layak mendapatkan semua itu?”
Ah, pikir Tighnari. Bahkan dalam keadaannya yang seperti ini, yang ia pikirkan masihlah putranya.
“Saya kira anda sangat menyayanginya, dan Tuan Muda memahami itu. Ia menjalankan kewajibannya sebagai putra yang berbakti.”
Kaveh mengangkat cangkir, menandaskan tehnya yang benar-benar mendingin. “Begitukah menurutmu?”
_____
“Kenapa namanya Mata Sang Raja?” Tanya Kaveh pada suatu malam. Tangannya sibuk memainkan jemari Alhaitham yang melingkari perut telanjangnya, dingin diterpa angin malam.
Alhaitham meletakkan dagunya di bahu Kaveh, menghiasinya dengan kecup kupu-kupu. “Bukankah sudah sering kukatakan bahwa semua ini demi dirimu?”
Kaveh mengeluarkan suara mendengung.
“Aku bersumpah, Kaveh. Tidak ada yang boleh mengambil cahaya dari matamu.”
_____
“Ulangi kata-katamu!” ia menghardik. “Jangan berani-berani kau berbohong di tanahku!”
Sang eremite berjengit kaget. Ia takkan pernah terbiasa dengan respons sang tuan ketika berita yang disampaikannya adalah tentang putranya.
“Rombongan Tuan Muda Altan disergap–”
“Tighnari!” suara Kaveh menggema. “Dimana?”
“Di daerah Vanarana, Tuan.”
Pintu terbuka, Tighnari tergopoh mendekatinya. “Ya, Tuan.”
“Siapkan kendaraan.”
____
Altan tak pernah menginginkan kematian. Mungkin ia tak pernah mengenal abatinya dan babanya mendidiknya seperti ia bukan manusia, babanya menganggapnya sebagai pengganti sang abati dan babanya tahu bahwa ia tahu dan babanya membiarkannya menggali seluruh kisah masa lalu kelahirannya dan bahkan setelah segalanya pun Altan tak ingin mati. Ia tak ingin membenci dirinya sendiri, atau takdirnya, atau babanya, atau abatinya, atau Lord Kusanali, tidak. Altan ingin hidup.
Altan ingin hidup.
Altan ingin terus hidup.
Karena setelah menahun melihat babanya benderita, yang ia inginkan adalah mencintai baba sebanyak abati juga mencintai baba. Ia ingin babanya berhenti menangis. Ia hanya ingin menjadi putra baba, sebagaimana seharusnya. Ia hanya ingin meneruskan apa yang dimulai abati demi baba, seluruh kehidupan ini, seluruh kekuasaan ini, seluruh pekerjaan ini, Altan ingin menggunakannya sebagaimana abatinya, demi cinta dan demi bahagia.
Bukankah itu ironi? Ia berkata pada dirinya sendiri. Altan tahu ia berhak membenci keluarganya setelah segalanya, namun tidak. Sekali-kali tidak. Tidak setelah ia melihat orangtuanya yang bahagia dalam satu lembar foto, dan ia berjanji untuk melakukan apa saja demi melihat senyum baba seperti di hari pernikahannya.
Abatinya tak percaya Archon. Tapi babanya berdoa seperti ia menghirup udara.
Maka ia memejamkan mata, merapalkan harap dalam mobilnya yang terbalik sembari terus mengguncangkan tubuh Cyno yang tak kunjung sadar, sembari mendengarkan langkah-langkah yang mendekat, sembari berharap sebelah tangannya yang terjepit mati rasa tak putus.
“Kusanali,” ia bergumam. “Tolong jangan biarkan aku mati, karena matiku adalah duka lain lagi bagi baba yang kucintai.” Ia menarik napas, berat. Apakah paru-parunya tertusuk sesuatu? Tapi Altan tak merasakan sakit di mana-mana. “Kusanali, tolong, bila aku hidup, dan baba hidup, akan kubaktikan hidupku sepenuhnya padanya sebagaimana yang kulakukan selalu. Kumohon, Kusanali yang Maha Agung, bila kau masih ada di antara manusia-manusia, bila kau ingin melihat bakti terbesar seorang anak pada orang tuanya, kumohon, biarkan aku hidup.”
Ada suara tabrakan, lalu serentetan suara tembakan.
Altan perlahan kehilangan kesadaran. Bibirnya bergetar.
“Amin.”
____
Membunuh adalah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Melalui hal yang terjadi setelah pembunuhan itu sama sekali tidak. Kaveh adalah manusia yang perasa, dan ia memilah seluruh perasaannya dengan baik, baik emosi positif maupun negatifnya. Kadang Kaveh berpikir apakah Alhaitham tak mengalami hal yang sama dengannya, atau ia hanya menyembunyikannya dengan baik? Mungkin Alhaitham memang berbeda. Kaveh ingin bisa bersikap sedingin itu. Pun, ia takkan pernah bisa membiasakan dirinya dengan menghadapi sandera sekarat. Rasa mual yang dipicu oleh kemarahan mengikat perutnya tanpa ampun. Bau luka bakar segar dan anyir darah mewarnai seluruh ruangan.
“Ini yang terakhir.” ia menguatkan dirinya sendiri. “Akan kujemput Altan setelah semuanya berakhir. Dendamku terbalaskan dan aku bisa membesarkan anakku sebagaimana yang seharusnya kulakukan sejak dulu.”
Kaveh membayangkan putranya, yang ia harapkan akan semirip dirinya, akan mengejarnya dengan bahagia, dengan senyuman dan tawa secerah matahari.
Ia membuka pintu, dan telinganya dipenuhi dengan teriakan. Kaveh menyalakan korek api di tangannya. Ia tersenyum.
“Dan aku akan terbebas.”
___
Kaveh meletakkan sendoknya dengan terkejut. “Ke Temir? Tapi kenapa?”
“Ada sesuatu yang terjadi di sana.”
“Hal seperti apa?”
“Jangan pusingkan dirimu dengan pekerjaanku, Kaveh. Tekanan tak baik untuk bayimu.”
“Bayi kita!” tanpa sadar Kaveh menaikkan intonasinya.
Alhaitham berhenti menyuap. “Kaveh.”
“Maafkan aku.”
“Dengar,” Alhaitham menarik napasnya. “Pengadaan senjata kali ini melalui jalur baru yang sulit, yang bahkan sulit disentuh oleh pihak berwenang. Namun orang-orang Shnezhnaya cukup menguasai lokasi itu.”
“Dan?”
“Dan tiga perintis yang kukirim semuanya mati.”
Kaveh mendengarkan.
“ Hayati , sekali adalah kesalahan. Dua kali adalah kebetulan. Tiga kali? Itu perbuatan musuh. Aku tak bisa membiarkan hal ini terus terjadi.”
Kaveh mendorong kursinya, lalu bangkit menghampiri Alhaitham. “Tak bisakah tugas ini diserahkan pada Dehya? Aaru jauh lebih dekat, dan ia lebih berpengalaman di padang pasir.” Ia memeluk suaminya dari belakang, caranya memohon akan sesuatu.
“Kaveh, aku akan baik-baik saja.”
“Atas nama siapa kau berjanji?”
“Atas namamu.” Alhaitham meraih tangan Kaveh dan menciumnya, lama. Kaveh memberinya senyuman menggoda. “Baik. Janji diterima.” Ia berputar, menyamankan dirinya di pangkuan sang suami.
“Sebelum kau pergi, berikan dulu nama untuk anakmu.”
“Namanya kelak Altan.”
Kaveh masih mengingat sorot mata Alhaitham kala itu, lembut penuh puja sekaligus keras dan menjaga. Wajah Alhaitham yang menunjukkan sedemikian banyak ekspresi dalam sekejap adalah langka, dan Kaveh merekamnya dalam ingatan seperti pahatan pada batu karang. Kekal nan abadi. Alhaitham yang mencium dahinya, Alhaitham yang berlutut kemudian, mengecup perutnya yang masih rata namun sudah mengandung nyawa, yang memandangnya seolah Kaveh adalah permata raja-raja buana, Kaveh ingin mengingatnya selamanya.
“Bagaimana jika perempuan?” masih sempat Kaveh melontar tanya sembari jemarinya menyelusupi rambut hijau suaminya.
Alhaitham menutup mata seperti berdoa. “Aisha.”
Senyum Kaveh menyeruak. Kali ini diiringi panas di mata. Ia melempar pandang jauh pada mentari yang mulai terbenam malu-malu, menorehkan merah nun di ufuk jauh.
Ia ingat betapa ia begitu bahagia pada hari itu.
Mengapa ia begitu bahagia?
Mengapa tak ia sadari sejuta pertanda yang kelak merebut segalanya?
_____
Altan terlonjak menggapai napas di tangan dingin seseorang. Langit buram di matanya dan ada dengingan tak terkendali. Butuh beberapa menit sampai ia menyadari bahwa dengingan tersebut adalah babanya menangis.
“Baba?” Ia terkejut mendapati suaranya begitu lemah. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan. Tapi ia bisa mendengar sang baba yang histeris mengguncangkan tubuhnya berhenti ketika mendengar suaranya, dan jeritannya meledak menjadi tangisan.
“Oh, Kusanali. Kukira aku juga akan kehilangan dirimu.” ia bicara dengan kecepatan tak normal. Altan mengira itu dari kepanikan. “Tighnari! Anakku sadar! Cepat kemari!”
“Baba… Apa yang terjadi?” Altan mengangkat tangannya, mengusap pipi Kaveh yang ternoda darah. Altan enggan menanyakan itu darah siapa. Mungkin darahnya, mungkin darah para penyergapnya. Wajah Kaveh melembut sesaat dalam sentuhannya.
“Tidak apa-apa, habibi . Kau akan hidup. Kau akan selamat. Aku janji. Kumohon, takkan kubiarkan siapapun merenggutmu.”
Tapi punggung Altan basah. Ia yakin sekali tak ada luka di punggungnya. Perasaan apa ini?
Tighnari muncul dengan sekotak peralatan daruratnya. Altan bisa merasakan kesadarannya timbul tenggelam, namun ia bisa mendengar Kaveh meneriakkan beberapa perintah kesana kemari. Aneh, ia merasa ada yang harus diperiksa.
“Aku sudah memberikan perawatan pertama pada kaki anda yang patah, Tuan Muda. Selain luka luar dan syok, anda baik-baik saja.” Suara Tighnari terdengar. Altan membuka matanya lagi. Matanya menyapu sekeliling. Kaveh melihatnya dan mendekatinya lagi.
“Ia akan baik-baik saja. Kita tetap harus mengoperasi kakinya segera setelah kembali.” Tighnari mengulang. Kaveh mengangguk terburu-buru. Ia memeluk Altan, mencium kedua pipinya dan memapahnya ke mobil.
“Tolong yang lain, Tighnari. Masih banyak yang terluka.” Ia berpesan, dan Tighnari segera pergi.
“Baba, apa yang terjadi kepada para penyerang?”
“Aku membunuh mereka semua.”
Altan merasakan darahnya berdesir seketika. Ada dingin yang tak ia kenali dalam intonasi baba. Apakah ini ketakutan yang dirasakan Cyno malam itu? Inikah babanya yang murka? Rasanya seluruh pelatihan yang membuatnya muntah darah tak sebanding dengan raut wajah baba sekarang.
“Oh, jangan beri aku tatapan seperti itu, anakku. Mereka layak mendapatkannya. Tidak ada yang boleh menyakitimu dan bisa hidup dengan tenang setelahnya.” dahinya berkerut tak terima. Ia mendudukkan Altan di mobil, memberinya posisi ternyaman untuk kaki kanannya dan mengeluarkan secarik saputangan untuk membersihkan sisa kotoran di wajahnya.
“Baba, apa kau baik-baik saja?’ Altan ditelan ketakutan. Ia tak tahu ketakutan akan apa, tapi ia ketakutan. Dan ini bukan ketakutan akan kematian.
“Jangan bicara, Altan. Tubuhmu masih terkejut, dan—”
Altan menyingkirkan tangan Kaveh, mengangkatnya hingga ia bisa melihat garis merah di bagian perutnya, terlalu banyak darah keluar dan ia yakin itu bukan darah orang yang ia bunuh. “Baba, kau terluka.”
Baru selesai Altan berkata, Kaveh terbatuk, memuntahkan cukup banyak darah yang tak tertampung sapu tangannya.
“Baba!”
“Jangan.” Kaveh menahan. “Jangan. Kau harus selamat terlebih dahulu. Aku akan mengatur orang di sini—”
“Tidak, Baba! Tighnari! Paman Tighnari!”
Tapi Tighnari terlalu jauh untuk mendengarnya dan suaranya begitu lemah. Altan ingin mencekik lehernya sendiri.
“Altan, Altan, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik, anakku.” Ia menangkup wajah Altan yang dingin, airmata mengambang di matanya. “Bila aku mati, setidaknya aku mati menyelamatkanmu. Setidaknya aku mati di tanganmu, sheingga kau punya tubuhku untuk dikuburkan, dan kau bisa melihatku untuk yang terakhir kali.”
“Baba, jangan bicara lagi. Kau akan diselamatkan, kumohon.”
“Aku orang tua yang buruk, Altan. Aku tak berhak dimaafkan, dan kau berhak untuk membenciku setelah aku pergi.”
“Baba, kumohon. Aku memaafkanmu. Setelah semua yang kau lakukan, aku memaafkanku. Sumpah. Tapi kumohon biarkan lukamu diobati, atau... atau...”
“Tidak apa, anakku, tidak apa-apa. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup. Tidak tanpa abatimu…”
Airmata Altan jatuh. “Bagaimana denganku?”
“Altan, jangan hidup dengan membawa duka. Kesedihanku membunuhku dari dalam, dan aku melampiaskannya kepadamu. Jangan sampai kau melakukan hal yang sama denganku.”
Altan menangkap sosok Tighnari dan meneriakkan namanya sekuat tenaga. Sang fennec menghampiri mereka berdua dan ia tak bisa menahan keterkejutannya.
“Tuan! Apa yang terjadi?”
Kaveh bahkan tak menoleh. “Jangan. Jangan lakukan apapun, Tighnari.”
“Dia terluka. Parah.”
“Sudah terlambat.”
“Tuanku—”
Kaveh mengangkat tangan. “Tighnari, ini perintah.”
“Paman Tighnari! Selamatkan baba, kumohon.”
“Nari, bila aku mati, makamkan aku di sisinya. Ini adalah perintah terakhirku, sebagai tuanmu dan sebagai temanmu.”
Tighnari menggigit bibirnya, dilema.
“Aku sudah tak sanggup hidup lagi membawa rindu ini.” Ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Altan yang terus menangis. “Biarkan aku bertemu suamiku, kumohon, anakku.” Kaveh mengakhirinya dengan senyum. Senyuman yang tak seperti foto pernikahan itu, namun tetap meremas hati Altan sampai tak berbentuk. Altan meraung. Paru-parunya terbakar. Tubuhnya nyeri luar biasa. Namun tak ada satupun yang ia rasakan selain dingin tubuh sang baba yang tak lagi bersuara.
Tighnari memalingkan muka. Kotak obatnya jatuh ke tanah.
__________________
Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.
