Chapter Text
“Tinggal bilang saja kau suka dia.” Yamasho terkekeh mendengar keluh kesah teman satu grup nya itu.
Shogo membulatkan matanya menatap Yamasho galak. “Gila kau! Sampai mati aku tidak akan bilang itu padanya.”
“Ya dari pada kau bingung begitu, lebih baik diungkapkan saja bukan?” Yamasho kembali memakan parfait jumbo dihadapannya.
Duo shogo berkumpul diakhir pekan. Tidak membicarakan pekerjaan hanya mengobrol dan bertukar pikiran saja. Kali ini pertemuan mereka dilakukan disebuah kedai yang menjadi buah bibir karena menjual parfait jumbo dengan stroberi lezat diatasnya.
Iwaya Shogo dan Yamamoto Shogo, menjadi duo Shogo yang berteman baik setelah keduanya bertemu dalam sebuah grup Bernama The Rampage. Karena memiliki nama yang sama yaitu Shogo, perlahan mereka mudah akrab walau pada awalnya sempat berebut untuk memilih nama panggung Shogo. Jika dipikir-pikir lucu juga saat itu. Mereka ribut dan harus dilerai oleh zin untuk memilih siapa yang menggunakan nama panggung Shogo.
Nyatanya memang perkelahian terkadang membawa kedekatan dalam hubungan pertemanan mereka. Yamamoto Shogo dengan nama panggung Yamasho mengalah dan memberikan nama panggung Shogo kepada Iwaya Shogo. hal ini membuat hubungan mereka klop dengan alaminya.
Shogo yang lebih muda sering kali meminta saran kepada Yamasho terkait karir maupun hobi. Namun, kali ini Shogo memberanikan diri berterus terang bahwa dia sedang jatuh cinta dan perlu solusi dari Yamasho.
Setiap orang memiliki hak untuk jatuh cinta, begitu pula Shogo yang berstatus sebagai performance di grup The Rampage. Kehidupan artis dan memiliki banyak penggemar kerap kali membuat para artis canggung untuk memiliki hubungan asmara. Shogo berpikir demikian dan bahkan perasaan yang timbul dalam hatinya dapat dikatakan tabu. Dia menyukai seorang pria, lalu dia harus apa?.
Yamasho menghabiskan Parfait Jumbo dihadapannya dengan lahap lalu mengambil tissue untuk menghilangkan sisa makanan yang menempel pada sekitar mulutnya “Shogo…Kau tidak perlu berfikir bahwa kau tidak normal atau kau aneh–.” Yamasho terdiam sebentar namun atensi Shogo menatap lurus kearah Yamasho untuk menunggu kalimatnya.
“Cinta, kematian, rezeki…kau tidak bisa mengaturnya, jadi untuk apa kau mengutuk dirimu seperti tadi? Jika kau takut menyukai seseorang seharusnya kau diam di rumah dan menjadi Hikikomori.”
“Mana mau aku mebuang hidupku yang berharga untuk menjadi Hikikomori. Aneh di kasih kebebasan dari tuhan, malah memilih mengurung diri dirumah!” seru Shogo.
“Ya itu kau sendiri bilang kebebasan dari tuhan, kau sendiri pun sama diberikan kebebasan menyukai siapapun bukan?”
Shogo terdiam menatap parfait Jumbo yang masih utuh dihadapannya. “Huftt…” Kali ini ide Yamasho tidak memberikan solusi berarti baginya. Tapi dia tidak sepenuhnya menyalahi Yamasho karena memang Yamasho pasti tidak bisa merasakan jadi dirinya. Dan itu cukup membuat Shogo frustasi untuk bercerita lebih lanjut.
Shogo mengangguk, dia memilih kondisi yang seolah-olah dia cepat mengerti saja. Toh ini tidak akan ada habisnya jika bercerita.
“Tapi Shogo, dari tadi membicarakan tuhan…memang kau percaya ada tuhan?” Shogo memberikan ekspresi tidak mengerti. Ada apa pula temannya tiba-tiba membicarakan keyakinan.
“Hehehehe…aku bercanda” Yamasho kembali terkekeh melihat ekspresi Shogo yang menatapnya dengan mulut terbuka, suka sekali dia meledek teman sekaligus adik beda satu setengah tahun itu.
Yamasho tidak menyiakan kesempatan, dia menyomot stroberi besar diatas parfait jumbo milik Shogo dan memasukkannya kedalam mulut dengan kunyahan cepat.
“KAU! KENAPA MAKAN STROBERIKU?” Shogo mengamuk, dia berdiri dan menunjuk Yamasho dengan kesal. Dia belum memakannya bukan berarti dia tidak mau bukan?.
“heheheheh…sudah habis.”
“KAUU…aishh.”
Shogo berlatih sendirian didalam ruang Latihan agensi. Berdiri didepan cermin dan mengoreksi gerakan yang dianggap salah dari koreo. Sudah 2 jam dia berlatih disana, peluh dan keringat membasahi bajunya. Merasa tidak nyaman, dia membuka baju dan melatakkannya didekat tasnya.
Shogo merasa puas dengan tubuhnya, otot abdomennya menampilkan enam potong roti diperutnya, tentu berkat latihan dan berolahraga rutin. dia berharap semoga penggemarnya senang dengan penampilannya saat tour nanti. Otot tangannya terbentuk, wah senang bukan main Shogo memperoleh otot-ototnya itu sekarang.
Puas berbangga diri dengan ototnya, Shogo kembali melanjutkan latihannya, mengingat dan mengulang setiap gerakan. Kali ini gerakannya bebas tanpa baju, tidak perlu merasa kegerahan dan ribet dengan baju kebesarannya tadi.
Terbersit sebuah ide dalam pikiran Shogo. Dia berhenti menatap jam yang tergantung dalam ruang latihan, masih ada 2 jam hingga member lain datang. Mengingat member lain padat dengan ragam kegiatan pribadi menjelang tour sepertinya mereka akan datang sejam lagi.
Shogo menjentikkan jarinya, mengambil topi, dan menghalangi matanya dengan topi. Dia akan mencoba bagaimana bila dia Latihan dengan mata tertutup. Shogo terkekeh sendiri, ini ide aneh tapi dia penasaran juga jika matanya tertutup posisi dia menari saat akhir dimana?.
Shogo memulai gerakan, mengikuti ketukan lagu dengan bersemangat. Pada akhir gerakan memberikan sedikit penutup yang dibuat seolah konser nyata. Namun Shogo tidak tau seseorang sejak tadi memperhatikannya berlatih.
Prok prok prok
Tepuk tangan ricuh membuat shogo segera memaling wajah menatap asal suara. Riku sudah berdiri persis didepannya dengan senyuman lebar.
“waaaa, giat sekali Latihan mu. Gaya terakhir tadi juga berkesan…ciat ciat ciat.” Riku mempergakan gerakan yang dibuat Shogo barusan.
Shogo yang masih kaget belum bisa menanggapi candaan Riku dengan baik. Dia hanya diam sambil memundurkan tubuhnya kebelakang.
Riku terkekeh, Shogo selalu serius berlatih bahkan tidak menyadari langkah kaki Riku yang bersuara besar.
“Wowww, apa ini?” Riku menyentuh perut Shogo yang sudah menampilkan ABS sempurna disana.
Shogo tersentak, tubuhnya merinding dan degup jantungnya membesar. Sentuhan ringan Riku di perutnya dingin dan membuatnya tidak nyaman. Sontak Shogo mundur dan segera bergegas mengambil baju dan tasnya.
Tidak ada suara dari Shogo, takut serak jika dia bersuara maka Shogo memilih diam dan bebersih diri di toilet. Riku menatap Shogo, tidak ada pertanyaan lanjut darinya.
Shogo pergi membuka pintu dan berlari menuju Toilet. Sepanjang Lorong mengutuk dirinya yang bertindak aneh dihadapan Riku. Riku yang ditinggal Shogo menghibur diri dan bersikap mengambil pikiran positif. “lagipula aku juga mengagetkannya, sepertinya nanti aku akan meminta maaf”.
Riku tidak ambil pusing, dia melanjutkan pekerjaannya untuk menata barang bawaannya dan meletakkan makanan untuk para member selama latihan. Riku menjadi kakak bagi grupnya merasa dirinya bertanggung jawab dengan kebutuhan membernya, jika Riku tidak ada jadwal dia akan datang ke tempat latihan lebih awal untuk sedikit merapihkan susunan ruang Latihan mereka.
Jam sudah menunjukkan waktu kesepakatan member The Rampage berlatih. Semua member berkumpul, menyusun formasi dan menyamakan jarak. Kini Likiya dan zin memandu diskusi untuk menyusun formasi sesuai panggung. Panggung besar dengan member the rampage di tengahnya. Ini menjadi formasi yang spektakuler dari tour-tour sebelumnya.
Riku sesekali menatap Shogo, temannya itu sepertinya agak menjauhinya hari ini. Biasanya Shogo akan duduk di sampingnya bila kumpul seperti saat ini. Tapi Shogo lebih memilih duduk di samping yamasho pada bangku sebrang dari jajaran Riku duduk bersama Rui dan Kenta.
“Riku-san?!” Zin memanggil Riku tapi sepertinya Riku tidak terlalu memperhatikan dirinya tadi.
“Riku-san!”
Rui yang disebelah Riku menyenggol lengan Riku. “Riku-san Zin sejak tadi memanggilmu.”
“Eh? Iya bagaimana?” Riku gelagapan, aduh dia tidak fokus hari ini.
“Tim vocal di panggil ke ruangan sebelah dengan manajer. Kau sudah ditinggal Hokuto dan Kazuma tuh.” Zin menunjuk pintu yang dimana Hokuto dan Kazuma sudah berdiri diluar menunggu Riku keluar.
“Eh?!” Riku segera keluar merapihkan bukunya dan membawa tasnya. Sebelum benar benar keluar, dia kembali melihat sekilas Shogo walau orang yang ditatapnya malah sibuk berbicara dengan Yamasho.
Kini Riku sudah hilang bersama pintu yang tertutup kembali. Likiya menatap Zin dan memberi sinyal untuk menyuruh zin berbicara dengan Shogo, sepertinya ada yang terjadi pada Riku hari ini. Zin tersenyum dan mengangguk. Dia akan mencoba berbicara dengan Shogo nanti.
Diskusi memakan waktu lama, banyak sekali yang perlu disiapkan. “Baiklah, sudah menjelang malam dan aku yakin kalian memiliki agenda masing-masing kembali maka besok akan kita lanjutkan kembali diskusi ini bersama tim vocal.” Ujar Likiya menutup diskusi hari ini.
Semua bertepuk tangan dan memberikan semangat dan selamat atas kerja kerasnya hari ini.
Setelah Likiya pergi lebih dahulu dari ruangan barulah semua member merapihkan barang bawaan dan satu persatu orang pergi meninggalkan ruangan.
Yamasho mendekati Shogo. “Kau sadar tidak si, sejak tadi Riku sering menatapmu?”
“Sadar.”
“Dia suka kali denganmu.”
“sembarangan.”
Shogo terus merapihkan bawaannya tanpa melihat Yamasho yang berbicara dengannya, seperrtinya mood Shogo buruk hari ini.
Zin menepuk pundak Yamasho. “Topimu baru lagi Yamasho?” tanya zin.
“hehehe, kemarin ku beli bareng Shogo.” Kekeh Yamasho sambil memegang topi barunya.
“wah Shogo jadi lebih sering pergi bersamamu ya daripada Riku?”
Baik Yamasho maupun Shogo sama-sama diam. Yamasho melirik shogo namun Shogo terus membuang muka pura-pura sibuk mengeluarkan benda dari tas yang tadi sudah ia susun.
“Eh Shogo aku duluan ya, aku mau mampir membeli sesuatu dulu.”
“Zin-san hari ini terimakasih atas kerja kerasnya.” Lalu Yamasho pergi meninggalkan Zin dan Shogo.
Zin tidak pulang, dia menunggu Shogo yang entah mencari apa di dalam tasnya.
Shogo menyerah, sepertinya Zin memang ingin berbicara dengannya. “Zin-san ada apa?”
Zin tersenyum, menyuruh Shogo duduk kembali. Mau tidak mau Shogo kembali duduk di bangkunya.
“Kau baik-baik sajakan kabarnya akhir-akhir ini?” tanya Zin.
“Hmmm, ya baik..aku sarapan, berolahraga, dan berlatih juga dirumah.”
“tapi sepertinya moodmu sedang buruk hari ini Shogo.”
“Eh?! Perasaanmu saja sepertinya.” Shogo tersenyum lebar menampilkan senyum manis yang dibuat-buat.
“Mau minum hari ini?”
“Tidak, aku akan ke tempat gym setelah ini.”
“bagaimana dengan besok?”
“Aku tidak janji, tapi sepertinya jumat bisa.”
“hmm berarti masih lima hari lagi? Oke aku juga bisa. Sampai jumpa jumat Shogo.” Seru Zin seraya bergegas meninggalkan Shogo.
Shogo masih duduk diam di bangkunya. Jadwal Gym-nya juga masih sekitar 40 menit lagi. Dia menatap keluar jendela. Rasanya tenang sekali sendirian diruangan seperti ini.
Sejak kejadian tadi pagi, rasanya perasaannya gelisah. Degup jantungnya juga berdetak kencang, tidak mau diatur dan semakin menjadi-jadi. Shogo kesal sekali dengan Riku, kenapa orang itu tidak merasakan seperti yang dia rasakan si?
Shogo menyukai Riku, lebih dari sekedar teman maupun rekan satu grup. Cerita itu bermula sebulan lalu ketika Riku mengajaknya minum seperti bulan bulan sebelumnya. Mereka memang memiliki agenda rutin untuk minum bersama setiap bulannya. Riku bilang untuk “Shogoriku yang jaya”, Shogo juga tidak ambil pusing si untuk mengerti maksud ucapan Riku.
Tapi bulan lalu berbeda. Riku mabuk dan menangis sambil curhat kepada Shogo. Bagaimana dia merasa tidak percaya diri dan suka dilupakan oleh hokuto maupun Kazuma, lalu bagaimana dia berusaha keras membentuk tubuhnya agar penggemar tetap menyukainya. Semua tercurahkan pada hari itu.
Shogo tentu akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesah Riku. Namun sebuah pernyataan membuat canggung diantara mereka.
Riku yang sudah mabuk tetap berbicara walau disertai cegukan, dia menatap Shogo lama. “Shogo… Sepertinya aku mencintaimu jika kau terus disampingku seperti ini.” Shogo hanya menatap Riku diam.
“cinta, love, ai…apalagi ya? Sepertinya Aku bisa menyebutkan semua itu untukmu kalau kau terus disampingku.” Kali ini kepala Riku sudah terkulai diatas meja, dia sudah terlalu mabuk.
Tidak ada suara lagi, dan terdengar dengkur halus dari Riku. “Riku-san?” Tidak ada jawaban. Riku tetap diam
Shogo sedikit memajukan tubuhnya dan menepuk halus pundak Riku. “Riku-san?”
Tiba-tiba riku terbangun dengan mencengkram tangan Shogo, kuat sekali hingga Shogo tidak bisa melepaskannya. “Riku-san. Sudah cukup minumnya, mari pulang dan lepaskan tangaku.”
Riku diam hanya menatap sendu Shogo. Dengan secepat kilat Riku berdiri dan menarik tengkuk Shogo untuk mendekatkan bibir Shogo padanya. Dua benda bertekstur lembek menyatu, Shogo hanya membulatkan mata, tidak mempercayai apa yang terjadi. Riku tentu saja menikmati apa yang dia lakukan, mengetahui Shogo tidak merespon, digigitnya bibir bawah Shogo dan membuat Shogo sedikit memekik berikutnya.
Riku mencium Shogo dengan kasar. Tidak ada cinta hanya ada nafsu, setidaknya itu yang dirasakan Shogo. Riku mengabsen semua gigi Shogo, berkelit dengan lidah Shogo dan terus memperdalam ciuman mereka. Shogo tidak sanggup menolak, tubuhnya juga merespon kenikmatan pada ciuman panas mereka.
Suasana kedai bir memang sepi jadi perbuatan senonoh mungkin hanya diketahui pegawai itupun jika mereka dipanggil oleh mereka.
Shogo kehabisan nafas, saliva keduanya sudah membasahi leher Shogo. Shogo mendorong agak kasar Riku hingga Riku agak terdorong ke belakang. Buru-buru Shogo mengambil Tisue dan menyeka lehernya. Nafasnya memburu, jantungnya berdegup kencang, tapi lihatlah Riku. Setelah terdorong dia malah terduduk dan tertidur pulas walau mulutnya masih banyak saliva mereka disana.
“Arghh, siyal!” Shogo bertindak cepat mengelap muka Riku hingga bersih, tak lupa dia melihat sekitar apakah ada yang menegtahui apa yang telah dilakukan mereka tadi atau tidak. Namun sepertinya tuhan masih sayang dengannya karena saat itu sudah terlalu malam dan pegawai hanya tinggal satu yang sedang pergi ke toilet.
Segera saja dia telpon Yamasho dan meminta untuk membantunya membawa Riku pulang. Dia tidak akan sanggup membopong Riku sendirian. Yamasho datang 20 menit berikutnya, membantunya memesan taksi dan membopongnya ke dalam taksi maupun apartemen Riku.
“Arigatou.. Yamasho-san.”
“Tentu, katakan saja jika butuh bantuan lagi.” Ujar Yamasho pada Shogo.
Yamasho keluar dari apartemen Riku bersama Shogo, namun ada hal ganjil bagi Yamasho saat itu. “kenapa kau keluar juga?” tanya Yamasho
“Maksudmu?”
“Biasanya kau numpang tidur di apartemen Riku jika sudah mabuk begitu.” Yamasho melihat Shogo, sebenarnya pun kondisi Shogo sudah mabuk dengan tampang yang sudah acak-acakan.
“Tidak, tidak lagi-lagi.”
Yamasho menatap punggung Shogo yang menjauh, cara berjalan Shogo agak linglung tapi dia masih sadar untuk sampai kerumahnya. Setidaknya itu menjadi usaha Shogo untuk menenangkan hatinya.
“hati-hati Shogo.” Ujar Yamasho yang dibalas lambaian tangan dari Shogo.
Drtt…Drtt…Drttt
Nada getar telpon membangunkan Shogo. Sebuah telpon tanpa dilihat penelponnya segera diangkat oleh Shogo.
/Halo.
/Pagi Shogo, ini aku zin.
/ada apa zin-san?
/aku tidak ke tempat latihan hari ini. Tapi kita tetap pergi minum ya hari ini
Shogo yang masih setengah sadar segera duduk diatas kasurnya, dia meraih kelender kecil di atas meja kecil samping tempat tidurnya. “benar juga, aku sudah membuat janji dengan zin hari ini” ucap Shogo dalam hati.
/Halo?
/Iya aku masih disini.
/Oke di tempat biasa ya.
/Hmm..
/Oke Shogo, sampai berjumpa nanti.
/Ya
Sambungan telpon berakhir. Shogo mengerjapkan matanya berkali-kali. Jika tempat langganan, berarti tempat Shogo dan Riku terakhir minum bulan lalu?.
Dengan kesal Shogo kembali melemparkan dirinya ke kasur, dia frustasi dan kesal sehingga menggigit bantalnya dengan kesal. Shogo menyerah dan berfikir Apa bisa dia lenyap saja dari dunia saat ini?. Hiks
Jadwal latihan hari ini tidak padat, Shogo sudah menghafal gerakannya dengan baik. Begitupun member lain.
Tanpa terasa waktu latihan berlalu begitu saja, degup jantung Shogo memburu ketika likiya menutup agenda latihan hari ini. Shogo mengemas barang bawaanya dengan kusut, dia tidak mau ke tempat itu lagi sampai dia siap menata hatinya.
Melihat Riku saja akhir akhir ini sudah membuat dia gelisah. Apalagi harus datang ke tempat dia berciuman lagi?. Berbicara tentang Riku, sepertinya dia cukup keterlaluan akhir-akhir ini dengan Riku. Shogo juga merasa dia kerap membuang wajah jika Riku berpapasan dengan dia. Shogo tidak ingin seperti ini namun dia juga bingung harus bagaimana karena ini jatuh cinta pertamanya selama ini. Jika dia sudah siap dengan hatinya. Dia akan segera meminta maaf dengan Riku. Tapi kapan-nya pun dia tidak tau.
Kini Shogo hanya tinggal sendiri diruang latihan, dia menatap jam dinding. Waktu temu dengan zin sekitar 15 menit lagi. Dia harus pergi sekarang. Shogo berjalan gontai meninggalkan gedung agensi. Shogo terus berjalan menuju kedai yang biasa member kunjungi. Ternyata dia pun datang lebih dahulu dari zin, dia menatap menu dan memilih dua buah odeng untuk cemilannya sambil menunggu zin datang.
5 menit berlalu, zin baru sampai dan duduk dihadapan Shogo.
“hehehehe, maaf tadi pemotretannya agak lama berakhir.” Ujar zin sambil menungkupkan kedua tangan di depan.
“Tidak apa lagipula hanya 5 menit.”
Zin tersenyum dan lanjut memesan makanan dan bir untuk keduanya. Keduanya masih saling diam, cukup canggung karena sepertinya Shogo cukup tenang memakan odeng miliknya.
“Shogo, kau yakin baik-baik saja akhir-akhir ini?”
“Memang ada apa zin-san?” Shogo menghentikan kegiatan makannya dan menatap Zin.
“Engga kau terli–.” Ucapan zin terputus saat pesanannya datang.
Setelah pegawai pergi meninggalkan mereka. Zin sibuk mengaduk ramennya.
“Zin-san khawatir sekali denganku, tapi aku baik-baik saja.” Ujar Shogo.
“likiya menitipkan kamu kepadaku, performamu bagus dan tetap fokus, tapi terlihat tidak baik baik dari tatapanmu. Kami khawatir kau ada masalah.”
“Tidak, mungkin padatnya waktu gym, membuat mataku menjadi sendu? Atau itu perasaan kalian saja si aku yakin.” Ujar Shogo meyakinkan Zin.
“matamu dan jadwal gym mana nyambung bodoh.” Seru zin sambil mengetuk dahi Shogo pelan.
“ADUH ADUH SAKIT.” Shogo berseru cukup kencang dengan berpura-pura kesakitan akibat pukulan Zin.
Zin menginjak kaki Shogo. Dan menyuruhnya untuk diam “ishhhhh diem!”.
“hehehe…” kekeh Shogo setelah puas meledek leadernya.
Pembicaraan mereka berlangsung cukup lama, hingga obrolan habis dan berakhir dengan taruhan meminum bir paling banyak.
Awalnya Shogo memuji Zin setelah meminum enam gelas bir hari ini. merasa tidak mau kalah, shogo bertaruh bisa meminum 8 gelas bir hari ini. Zin meledeknya dengan mengatakan tidak mungkin menandingi rekor minumnya.
“6 gelas sudah banyak, Kau tidak mungkin minum 8 gelas Shogo.” Seru zin yang terlihat sudah setengah teler setelah minum 6 gelas bir.
“tidak mungkin, aku pasti bisa!” dengan semangat Shogo meraih bir kelimanya. Bir itu habis dalam hitungan detik.
“bukan apa apa bukan satu gelas itu!” ucap Shogo sombong.
“Wow wow wow… baru 5 gelas belum 6 gelas, aku yakin kau kesulitan.”
Tanpa berbicara Shogo mengambil gelas ke enam dan menenggaknya hingga habis. Zin terus bertepuk tangan dan menyemangati. Tiba pada gelas ke 8, sedikit tertahan di pertengahan namun, Shogo dapat menyelesaikan gelas ke 8 walau berakhir dengan duduk diam di bangkunya.
“Shogo? ka–Kau..huk–baik-baik sa..huk sajakan ?” Tanya Zin yang melihat temannya itu sudah duduk tertunduk diam. “Shogo?” tanyanya kembali.
“Hiks…Hiks, aku tidak ingin pulang Zin-san.” Ternyata Shogo menangis, dia jarang sekali menangis. Zin bahkan sedikit tersadar dari mabuknya ketika melihat Shogo menangis.
“Shogo, kau kenapa?”
“Zin-san…hueeeee.” Pada akhirnya Shogo tidak berbicara apa-apa selain menangis hingga tertidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, kedai akan tutup dalam waktu 30 menit. Kondisi Zin juga sudah tidak baik baik saja akibat mabuk, dengan sisa tenaga dia menelpon Likiya dan Riku untuk membantu mereka pulang.
“Ya tuhan, Shogo kenapa dia basah dengan air mata begini.” Seru Likiya
“hehehehe…” Zin hanya tertawa, sudah pasti dia tidak sadar.
“Riku-san kau bawa Shogo pulang, Zin biar aku yang antar.” Ujar Likiya
Tanpa banyak bicara Riku membopong Shogo di punggungnya. Bau alcohol menyeruak diindera penciuman Riku. “astaga minum berapa gelas dia?” ujar Riku yang masih setengah sadar dari tidurnya.
“Shogo sedang banyak pikiran, jadi tidak aneh dia minum sangat banyak.” Ujar Likiya. “sudah ya aku duluan antar zin.”
“Hmm…hati-hati Likiya-san.”
Riku berjalan keluar kedai dengan Shogo dipunggungnya. Apartemen Shogo dekat dari sana, akan lebih mudah jika berjalan kaki saja.
Riku bersenandung pelan ditengah gelapnya malam, menghibur dirinya yang akhir-akhir ini cukup sedih dijauhi temannya. Tentu siapa lagi jika bukan orang yang ada dipunggungnya saat ini. hingga sebuah suara memecah senandung Riku.
“Riku-san, aku sangat suka padamu sekarang, bahkan aku sekarang bermimpi di gendong olehmu.” racauan Shogo terdengar sayup oleh Riku. Riku membeku cukup lama, mencoba mendengarkan lagi suara Shogo. Nyatanya dia tunggu 10 menit tidak ada lagi suara shogo yang terdengar.
Riku kembali melanjutkan langkahnya, walau sesekali membetulkan posisi Shogo yang ada dipunggungnya. “Riku-san, jika aku beritahu dirimu kalau aku suka dan cinta padamu. Pasti kau akan jauh dariku kan?” racauan yang cukup jelas kini terdengar oleh Riku.
Gedung apartemen Shogo sudah terlihat sekitar 30 meter di depan. Riku tidak ingin temannya malu untuk kata-kata yang dia ucapkan saat tidak sadarkan diri seperti ini, sehingga Riku segera bergegas untuk memasuki apartemen dan memencet lift untuk menuju lantai 4.
Ketika lift terbuka di lantai 4. Dengan cepat Riku segera mempercepat langkah menuju unit Shogo. Nomor sandi rumahnya tentu saja sudah dihafal Riku karena rumah Shogo sudah sering dia kunjungi.
Riku segera meletakkan Shogo di atas kasurnya. Melepaskan sepatu dan jaket Shogo agar Shogo dapat tidur dengan nyaman. Nyatanya Shogo malah menolak Riku. Dia mencengkram pergelangan tangan Riku dan menariknya duduk di samping dirinya berbaring.
“Riku-san walau ini mimpi, aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini untuk kesekian kalinya mengatakan aku suka padamu.”
Riku hanya diam, ternyata memang indera pendengarnya mendengar hal itu dari Shogo sejak tadi.
“Shogo, kau bisa katakan itu jika tidak mabuk. Aku akan menjawabnya nanti.”ujar Riku
“Riku-san ini tidak adil, kau berbicara di mimpiku.”
“Eh?!”
“Kau berbicara lagi itu.”
“lalu aku harus ap–“ belum menyelesaikan kalimatnya. Sebuah bibir mendarat tepat di bibir Riku. Riku terlalu kaget, rasanya aneh karena bibir itu beraroma bir dan pahit.
Shogo tidak melakukan apa-apa selain menempelkan bibirnya di bibir Riku. Ini pengalaman pertamanya mencium orang duluan. Pasti Riku menganggapnya amatir.
Shogo melepaskan ciuman itu, dia menatap Riku dengan senyuman lebar. “ya sudah, aku pergi ya Riku-san.”
Kini Shogo sudah terlelap namun, tidak dengan Riku yang masih diam pada posisinya. Perlahan ia raba bibirnya, masih hangat dan pahit. “Shogo, kalau kau mengetahui kejadian ini. kau akan menyesal nanti.” Ucap Riku sendu melihat wajah tertidur Shogo.
