Actions

Work Header

Rindu

Summary:

Aku menemukanmu di antara gemuruh aplaus dan sebulir bening air mata.

Work Text:

Aku selalu suka mendengarkan alunan melodi yang tercipta melalui denting piano. Ketika pianis menyajikan kumpulan nada dalam ritme yang memukau, aku seolah mampu membaca perasaan yang ditumpahkan dalam kepingan melodi. Peserta pertama yang tampil tadi agaknya sedang patah hati, sementara peserta kedua permainan pianonya tampak menunjukkan bahwa ia sedang kasmaran.

Kini, aku tengah mendengarkan lantunan melodi dari permainan piano peserta urutan ketiga. Untuk peserta yang satu ini, sang pembawa acara sebelumnya mengatakan bahwa sang pianis berkebutuhan khusus sehingga samar-samar tadi kurasa—aku memang kurang memperhatikan rupa fisik para peserta karena aku hanya peduli pada penampilan mereka—aku melihat ia dituntun oleh dua orang untuk menaiki podium karena tidak bisa melihat. Walau berkebutuhan khusus, aku sama sekali tak menemukan kesalahan nada maupun tempo. Lantunan melodinya terdengar indah, menggambarkan perasaan rindu yang amat mendalam. Ketika aku memejamkan mata, keempat indraku seolah-olah sepenuhnya berpusat di kedua runguku. Aku mampu merasakannya melalui denting piano yang ia lantunkan, ia amat merindukan seseorang dan sangat ingin bertemu kembali dengannya.

Kalau orang sepertiku gemar berlatih dengan tekun, maka penyandang disabilitas biasanya akan berlatih dengan lebih tekun lagi. Hasilnya, terkadang kemampuan mereka bisa jauh melampaui orang-orang yang terlahir normal.

Penampilan pun akhirnya usai setelah durasi lima menit. Sang pianis berjalan dengan langkah pelan seraya meraba-raba jalan di depannya dengan tongkat. Sementara itu, pada penonton—termasuk aku sendiri—berdiri dengan serentak seraya melantunkan aplaus. Ia menegakkan kepala, tatapannya kosong namun seulas senyum terukir di bibirnya.

"Penampilan yang amat memukau dari Xiao Xingchen! Semuanya, beri tepuk tangan sekali lagi yang meriah!"

Aku tergugu, tanganku berhenti bertepuk. Tatapanku berpusat pada sosok pianis yang disebut dengan nama Xiao Xingchen itu. Sebulir bening air mata tanpa sadar mendesak keluar. Mataku tak berkedip, dadaku nyeri oleh perasaan sesak yang timbul secara tiba-tiba.

"Xiao Xingchen ...," lirihku gemetar.

Sebilah pedang panjang menembus melalui punggung hingga membelah jantungku. Pedang itu mengalirkan es yang kemudian turut membekukan jantungku. Aku terhuyung, kemudian jatuh ke tanah. Napasku berhenti bersamaan dengan seteguk darah yang kumuntahkan melalui mulutku.

Aku selalu terlahir dengan memori di kehidupan pertamaku. Memori itu selalu kusebut sebagai mimpi buruk yang indah. Kali berapa pun aku dilahirkan ke dunia, namaku akan selalu Song Zichen. Namun, acap kali aku dilahirkan kembali, aku tidak pernah menemukan Xiao Xingchen di mana pun—sama sekali tidak.

Apakah ini adalah kehidupan keduanya? Apa ia baru saja dilahirkan kembali? Ataukah, ia juga sama sepertiku yang dilahirkan berkali-kali dan tak pernah ditakdirkan untuk bertemu kembali denganku?

Aku sangat merindukannya. Xiao Xingchen juga tengah merindukan seseorang.

Maka akan kutemui ia nanti, sekaligus berharap bahwa sosok yang ia rindukan adalah aku.


-FIN-