Chapter Text
Alkisah di sebuah pegunungan di daerah Jawa hiduplah seorang yang sakti bernama Shen Jiu, namun masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Jiu. Untuk ratusan tahun lamanya dia hidup sendiri di gunung itu tanpa kehadiran seorang keluarga pun yang menemaninya. Walau di luar ia terlihat biasa saja tapi nyatanya ia merasa kesepian. Sangat kesepian.
Dulu setidaknya dia mempunyai seseorang yang ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Suatu hari orang itu pamit untuk bertapa agar menjadi lebih kuat dan Shen Jiu mengizinkannya. Ia menunggu dan terus menunggu kedatangannya di gunung itu sendirian.Ia terus berharap agar dia kembali.
Waktu terus bergulir dan tanpa dia sadari beberapa abad telah terlewati (Mbah Jiu benar-benar yakin dulu terdapat Kerajaan Kalingga. Namun saat ia turun dari gunung baru-baru ini ia baru tahu bahwa Kerajaan Kalingga sudah runtuh sejak dulu akibat serangan sebuah kerajaan maritim dari Sumatera dan juga sekarang terdapat kerajaan baru lagi bernama Kerajaan Majapahit. Apa-apaan ini?)
Tapi selama apapun ia menunggu,orang itu tidak pernah kembali.
Mbah Jiu pun akhirnya berhenti menunggu. Sebagai gantinya ia tanpa hentinya terus berdoa pada Tuhan agar diberikan seorang anak untuk menemani hidupnya. Sampai suatu hari, Raksasa Luo Bing-ge yang kebetulan lewat mendengar doa Mbah Jiu. Bing-ge yang mendengarnya menyeringai dan memutuskan untuk mendatanginya.
Dengan suara yang bergelegar, Raksasa Bing-ge bertanya, “Hey Simbah ! Apa kau benar-benar mendambakan seorang anak ?”
Mbah Jiu terkejut mendengar suaranya. Dengan waspada ia melihat raksasa yang berdiri di belakangnya. Simbol merah dan matanya menyala merah terang. Gigi dan kukunya tajam-tajam. Raksasa itu juga memiliki rambut hitam legam yang menutupinya. Mbah Jiu memasang muka datar, merasa biasa saja. Baginya yang sudah biasa melihat aneka ragam monster di kehidupan sehari-harinya Bing-ge hanya tampak seperti seorang gembel perundung kasar.
“Ya, saya menginginkannya,” jawabnya tegas,
“Huaa… Aku bisa mengabulkannya dengan mudah kau tahu itu ? Tapi ada syarat yang harus kau penuhi jika kamu menginginkannya !”
“Apa syaratnya ?”
“Peliharalah anak yang kuberikan padamu. Rawat dia baik-baik dan pastikan dia tumbuh besar ! Aku akan menjemputnya di saat ia menginjak 6 tahun-” belum sempat Bing-ge menyelesaikan syaratnya Mbah Jiu tiba-tiba memotong pembicaraannya. Dalam sekejap aura membunuh dapat terasa dari pertapa itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi gusar dan jijik. Huh ? Bing-ge bertanya-tanya apa yang dirinya lakukan hingga pertapa di hadapannya ini ngamuk tiba-tiba,
“Menjemputnya di usia 6 tahun ? Apa yang mau kamu lakukan padanya dasar mesum,” Mbah Jiu menatapnya dengan tatapan hina, di sisi lain Bing-ge masih mencoba memproses apa yang Mbah Jiu maksud.
…
…
…
…
Sialan. Dia harus meluruskan kesalahpahaman ini sebelum makin parah.
“Tunggu sebentar. Sepertinya kau salah paham-”
“Aku mendengar dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku punya perkiraan jelas apa niatmu wahai Raksasa Mesum,”
“Hei ! Bukan itu maksudku ! Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya !”
“Oh ya ? Lalu jelaskan padaku kenapa kau ingin menjemputnya di usia segitu breng**k. Dia bahkan belum melewati masa puber !”
“Ah bukan itu maksudku aduh…Aku hanya akan memakannya-”
“Memakannya ? ‘ MEMAKANNYA ’ KAU BILANG ? Hah, sampah masyarakat sepertimu benar-benar pantas buat dirajam sampai tewas. Tidak bisa kupercaya makhluk hina seperti ini masih ada sampai sekarang. Harusnya kaum ‘kalian’ itu di-”
Tanpa stop Mbah Jiu terus menerus mencemooh Raksasa Bing-ge tanpa ampun. Ucapan setajam silet itu memberikan serangan mental yang cukup fatal di tiap katanya pada hati rapuh (?) Bing-ge. Tidak tahan lagi dengan ejekan dan hinaan dari Mbah Jiu, Bing-ge akhirnya frustasi dan ngamuk,
“HENTIKAN ITU ! SUDAH KUBILANG BUKAN ITU MAKSUDKU !!”
“Ck, mukamu meresahkan. Selain itu kau sendiri juga tadi bilang bahwa-”
“AAARGH ! BAIKLAH KALAU BEGITU DASAR PERTAPA SIALAN!! 10 TAHUN !!”
“Itu masih masa anak-anak, Idiot. Jadikan itu 27 tahun,”
“Apa ? Itu kelamaan ! 13 tahun,”
“Masih puber, tidak mau. Buat itu 18 tahun atau aku akan pergi ke tempat lain. Dengar-dengar Nyi Roro Kidul cukup sakti. Mungkin aku akan coba ke sana-”
“IYA IYA DEH. 18 TAHUN !” geram Bing-ge. Sudah lelah dia dengan kelakuan manusia (ini).
Dan begitulah bagaimana Mbah Jiu pulang dengan perasaan riang dihatinya. Di tangannya terdapat sekantong penuh dengan biji timun. Hal yang harus ia lakukan adalah menanam biji-bijian ini dan menunggu hasilnya.
Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan buah hati barunya.
***
